Ode kepada Paduan Suara Mahasiswa

Agria Budapest Folklore

AgriaSwara, performing Gai Bintang (Budi Yohanes) at the 11th Budapest Choir Competition

Tinggal jauh dari tanah lahir membuat orang biasanya merindukan hal-hal kecil yang mengingatkan mereka pada rumah, pada jajanan murah pinggir jalan, pada gawir dan ceruk yang menjadi tempat bersembunyi di masa kanak-kanak. Buat gw, ada hal lain yang membuat gw rindu pulang: paduan suara, AgriaSwara salah satunya.

Selama studi di Bogor, dan lama setelah itu, AgriaSwara menjadi rumah kedua gw. Lebih dari 11 tahun gw betah bermusik di situ. Dulu sewaktu baru masuk kuliah, untuk pertama kalinya gw mendengar musik paduan suara ketika sekelompok mahasiswa menyanyikan Gaudeamus Igitur dan aransemen One Moment in Time. Mereka menamakan diri AgriaSwara, dan… ah, ah, ah, gw langsung jatuh cinta.

Jadi begitulah, masa kuliah gw di IPB yang sama sekali nggak berjalan mulus, when it came to fulus, menjadi seru dan berwarna. Meskipun awalnya paduan suara ini cuma menyanyikan lagu-lagu perjuangan, aransemen sederhana lagu rakyat dan sesekali lagu pop, waktu itu gw pikir ini adalah organisasi mahasiswa terbaik yang ada di kampus. Gw merasa kerasan di paduan suara mahasiswa karena di organisasi ini gw bisa recharge otak setelah seminggu penuh berkutat dengan kuliah dan praktikum. Kelak, belakangan gw mengangkat topik kebersamaan dalam keanekaragaman dalam AgriaSwara sebagai salah satu bahasan dalam akreditasi pembelajaran eksperiensial terdahulu (APEL) gw. Tapi itu gw bahas lain kali.

Gw kuliah di Ai Pi Bi kelamaan. 7 tahun! Sempat dua kali dapet surat cinta dari rektorat, yang sepertinya udah jengah lihat gw nggak lulus-lulus, sempat nunggak SPP pula, lol. Bukan niat hati menjadi mahasiswa abadi sih, tapi apa daya, gw mesti banting tulang (sometimes literally when I was just fed up with everything and ‘sop buntut’ was within reach :P) mendanai kuliah sendiri. Jadi begitulah, mahasiswa terbaik FMIPA 2002 ini kepayahan mencoba menyelesaikan skripsi sambil kerja paruh waktu. Kalo ada yang menyelematkan gw dari depresi dan pikiran suisidal, mungkin AgriaSwara jawabannya.

Gw harus berterima kasih pada paduan suara mahasiswa karena dari situlah gw belajar banyak tentang musik, tentunya, tapi juga berorganisasi dan bersosialisasi. Gw nih lumayan introvert. I usually hate crowds and I’d be exhausted after too much social contact. Di PSM gw secara bertahap mengurangi kecenderungan ini. Gw juga nggak selalu percaya diri sama kemampuan gw di depan publik. Di PSM gw dilatih untuk menjadi banci tampil dan menyadari kalau gw punya bakat seni. Nggak tau ye orang lain setuju apa nggak, but whatever 😛

Jaman gw kuliah dulu, AgriaSwara berada dalam fase transisi dari pelatih sepuh yang sudah menjadi dirigen berjuta-juta tahun lamanya, ke regenerasi pelatih muda yang waktu itu kita percaya bisa memberi angin baru. Dan begitulah, gw ambil bagian dalam proses ini, menjadikan pianis sebagai pelatih, mencetuskan ide konser dengan repertoar klasik, sampai mencari konduktor tetap. Dari pak Victor Purba, ke Ingrid Cahya, ke Arvin Zeinullah.

Setelah fase ini, AgriaSwara seperti tak terhentikan. Dari konser ke konser, yang hampir konsisten ditampilkan tiap tahun. Dari festival ke festival, dalam dan luar negeri. Dari Jerman hingga Italia, Swiss hingga Irlandia. Gw kadang sampai nggak habis pikir… wow! Bisa sejauh ini lho! Gw sampai terharu banget, suatu ketika gw bahkan sempat nyambangin konser mereka di Belanda. Reuni setelah sekitar 5 tahun!

Keterlibatan gw dalam paduan suara mahasiswa menjadi highlight masa kuliah gw di Ai Pi Bi. Dan gw membawa pengalaman ini kemana-mana. 11 tahun jadi penyanyi paduan suara mahasiswa. Nah, lho, gw rasa nggak banyak yang bisa bertahan selama itu 😉

Here’s to your good (old) time in your own students’ choir: Na zdravi! ^^

Polifoni dari Negeri Kumpeni

Suatu waktu di sekitar tahun 2009, AgriaSwara beroleh kesempatan menggarap sebuah komposisi polifoni dari abad XVI berjudul “Ik zeg adieu” (Kuucapkan selamat tinggal), atau dalam ejaan purbanya “Ick seg adieu”, karya Gherardus Mes, seorang komponis asal Burgundi (sekarang Belanda-Belgia). Lagu ini diambil dari buku kumpulan lagu-lagu sekular rakyat Belanda yang ia gubah ke dalam empat suara.

Ick seg adieu,
wy twee wi moeten sceiden,
tot op een nyeu;
so wil ick troost verbeyden.
Ic late bi u dat herte mijn,
want waer ghi zijt, daer sal ic zijn.
Tsi vruecht oft pijn,
altoos sal ic u vry eygen zijn.

Terjemahan

Kuucapkan selamat tinggal,
kita berdua harus berpisah,
sampai kita berjumpa lagi;
aku akan merindukan kedamaianmu.
kutinggalkan hatiku padamu,
karena di mana pun engkau, aku akan ada di situ.
Dalam suka dan luka,
aku akan selalu bersamamu.

Stanza pertama dari lagu tersebut dinyanyikan dengan baik oleh Camerata Trajectina berikut:

Sepanjang sejarah keterlibatan gw dalam paduan suara di Indonesia dari tahun 1998 hingga 2009, hanya itu komposisi berbahasa Belanda yang pernah gw nyanyikan. Paduan suara lain di Indonesia pun setahu gw sangat jarang (atau belum pernah) membawakan komposisi dari negeri kumpeni. Di antara nama-nama komponis Eropa macam Brahms, Kodaly, Elgar, Monteverdi, Poulenc, atau yang lebih modern macam Tormis, Miškinis, Tavener, dan Ešenvalds, musik paduan suara dari Belanda tampaknya belum banyak dikenal di Indonesia. 

Gw sendiri baru akhir tahun 2011 mendapat kesempatan lagi menggarap komposisi yang ditulis oleh komponis Belanda. Bersama Nederlands Studenten Kamerkoor (NSK), waktu itu kita menyanyikan “In Despair” karya Joost Kleppe (*1963), yang diangkat dari puisi Kafavis asal Yunani tentang kisah cinta antara dua lelaki, “Woord-jazz op russies gegevens” karya Jeff Hamburg (*1956) untuk paduan suara berbicara (speaking choir), dan “Situaties” karya Wim de Ruiter (*1943) untuk 16 suara yang sangat eksperimental:

NSK juga memperdanakan komposisi avant garde karya Gijs van der Heijden (*1982), “A Collapsing Wavefunction of Violence” untuk gitar listrik, tiga paduan suara, dan soundtrack, yang ajaib dan susahnya bikin pengen bunuh diri.

Sejak itu, baru dengan Hollands Vocaal Ensemble (HVE) sekitar dua tahun kemudian, gw berkesempatan lagi mendalami komposisi dari negeri sepatu kayu. Tersebutlah nama Gerard Beljon, seorang komponis kontemporer yang cukup produktif. HVE membawakan “En wat dan” yang ia tulis untuk SSAATTBB, klarinet, kuintet musik gesek dan perkusi. Beljon mempublikasikan rekaman langsung dari konser HVE di Waalse Kerk Amsterdam tersebut (dan seperti biasa, gw nggak kelihatan di situ :P).

Pengalaman gw membawakan karya-karya komponis yang masih hidup tersebut adalah sang komponis diundang datang dalam latihan untuk memberikan semacam feedback. Bagaimanapun, sang komponis lah yang paling tahu seperti apa musik yang ia tulis seharusnya berbunyi. Mereka kemudian juga diundang menonton konser dan tentunya mendapat penghormatan yang layak. Menjadi sangat spesial ketika karya mereka diperdanakan oleh paduan suara. Seperti pernah gw bahas sebelumnya di sini, premiére sebuah karya musik (paduan suara) di Eropa adalah sebuah perayaan musikal yang dinantikan banyak orang. Momen ini menjadi batu loncatan karier yang penting buat sang komponis, daya tarik konser buat publik, mendongkrak reputasi paduan suara yang memperdanakan karya tersebut, dan juga tentunya memperkaya pustaka musik paduan suara. Tidak murah meminta seorang komponis menulis musik untuk kita perdanakan.

Di Belanda, biaya penulisan sebuah komposisi baru terdiri atas honor buat penulis teks (misalnya diangkat dari puisi) atau libretis dan komponis, serta biaya pembuatan material untuk penampilan (misalnya penerbitan partitur). Tawar-menawar antara komponis dan paduan suara diizinkan, tetapi Perkumpulan Komponis Belanda (GeNeCo) memberikan kerangka dan beberapa ketentuan. Tujuannya tentunya supaya terjadi win-win situation.

Sebagai gambaran untuk tahun 2011, sebuah komposisi untuk paduan suara berdurasi sekitar 10 menit biasanya dihargai sekitar €6000 (Rp 96 juta). Kalau ditambah instrumen biaya ini akan bertambah lagi. Semakin kompleks pembagian suara, semakin tinggi harga sebuah komposisi. Bayangkan kalau untuk satu konser saja NSK memperdanakan hingga empat komposisi! Peran sponsor dan patron tetap menjadi tidak tergantikan di sini. Lebih jauh mengenai peraturan dan prosedur subsidi bisa dibaca di sini (dalam bahasa Belanda).

Gijs van der Heijden (*1982)

Musik kontemporer dari Negeri Kumpeni, sepanjang pengalaman gw, sangat eklektik. Para komponis mengambil inspirasi untuk musik mereka dari berbagai sumber: teks sastra, Google, pidato politik, bahkan perbincangan informal dua ibu-ibu di pasar ikan. Secara musikal, mereka juga sangat liberal. Mereka tidak takut membangkang, menentang kaidah-kaidah musik. Hasilnya, musik mereka sangat personal dan unik. Sejak berkenalan dengan musik atonal dan dodekafonik, gw mulai bisa mengapresiasi keindahan musik eksperimental. Atau mungkin lebih tepatnya, keunikan musik eksperimental. Sebagai penyanyi, gw dituntut sangat peka nada dan tajam intonasi (karena seringnya musik yang kita nyanyikan tidak berada dalam referensi konvensional, atau harmoni yang dinyanyikan paduan suara bertabrakan dengan harmoni musik pengiring). Modus novus harus sudah khatam deh pokoknya.

Nah, akhir bulan depan HVE akan menggelar konser yang mengangkat musik paduan suara Belanda dari awal abad XX. Kita akan membawakan beberapa karya monumental dari Jan Koetsier (1911-2006), Julius Röntgen (1855-1932), Henk Badings (1907-1987, yang lahir di Bandung), Rudolf Escher (1912-1980), Ton de Leeuw (1926-1996), dan Géza Frid (1904-1989).

Musik paduan suara Belanda dari abad ini juga memiliki karakteristik tersendiri. Escher, misalnya menulis musik dengan bahasa, tata bahasa dan bunyi yang begitu pribadi sedemikian hingga menurut Leo Samama semua pernyataan tentang pengaruh Jerman dan Perancis, tentang musik lama dan baru, tentang ruang dan waktu menjadi sia-sia dan tak berarti. Coba simak karya Escher yang sangat musikal berikut, dinyanyikan dengan penuh presisi oleh Nederlands Kamerkoor:

Atau musik Badings, sang pionir musik elektroakustik di Belanda berikut:

Dua komposisi berbahasa Perancis di atas, yang juga kental dengan pengaruh chansons Perancis, akan terdengar berbeda dengan “Concerto pour piano et choeur” yang ditulis oleh Frid, atau musik de Leeuw yang meditatif berikut:

Menarik untuk diketahui, komponis Belanda biasanya memilih untuk tidak menulis musik dengan teks berbahasa Belanda. Teks berbahasa Perancis, seperti beberapa komposisi yang baru gw sebutkan, atau berbahasa Jerman, seperti komposisi yang ditulis Koetsier dan Röntgen, biasanya lebih banyak digunakan. Dalam kasus komponis kontemporer, tentunya ada pergeseran, tapi biasanya pelaku musik di Belanda setuju kalau bahasa Belanda bukan bahasa yang sangat musikal. Pengalaman gw menyanyikan dan merekamstudio sebuah komposisi dalam bahasa Belanda, “Requiem voor de mens” (Rob Goorhuis, *1948), dengan NSK juga sepertinya mengkonfirmasi anggapan umum tersebut.

Meskipun demikian, satu hal yang menurut gw sangat bagus untuk kita pelajari adalah musik paduan suara di Belanda sangat dihargai oleh masyarakat. Tidak hanya dengan penghargaan simbolis atau retoris, tapi juga dihargai dengan uang yang layak. Selain penghargaan untuk komposisi baru seperti yang gw jelaskan di atas, partitur paduan suara, baik yang sudah diterbitkan maupun belum, juga dilindungi oleh hak cipta (dan ini bukan hanya tulisan di atas partitur yang kemudian difotokopi juga), tapi memang dipatuhi.

Sebagai pamungkas lema kali ini, silakan simak “Hymne aan Rembrandt” yang ditulis oleh Alphons Diepenbrock (1862-1921) untuk solo sopran, paduan suara perempuan dan orkestra berikut:

Buklet Konser VS Undangan Pernikahan

Musik yang baru saja kalian nyanyikan telah menyentuh rasa kemanusiaan saya. Terutama yang ini. (Ia menunjuk salah satu repertoar dalam buklet program konser) Saya menyimak dengan seksama pernyataan musikal yang kalian nyanyikan. Saya membaca dan menyelami setiap kalimat dan makna di balik bahasa yang  tidak selalu saya pahami. Sepanjang konser, saya seperti sedang trance. Saya akan menyimpan buklet ini baik-baik.

Testimonial ini gw dengar dari salah satu audiens di Waalse Kerk, Amsterdam, usai konser “Shakespeare and Songs” bersama Hollands Vocaal Ensemble beberapa waktu silam. Ia secara spesifik menunjuk pada bagian buklet konser, yaitu teks puisi Raymond Lévesque yang digubah oleh Philip Glass untuk SATB, Quand les hommes vivront d’amouryang tercetak dalam teks asli berbahasa Perancis dan terjemahannya dalam bahasa Inggris:

When men live in brotherly love
There will be no more misery
And the good days will begin
But as for us, we shall be long gone,
my brother
When men live in brotherly love
There will be peace on Earth
Soldiers will be troubadours
But as for us, we shall be long gone,
my brother

Dari sudut pandang penyanyi di atas panggung, tampak jelas bagaimana penonton yang hadir menjadikan buklet konser sebagai panduan mengapresiasi musik yang kami nyanyikan. Kekhususan tema konser kali ini, mengetengahkan syair sastra sekaliber Shakespeare, membuat buklet konser sebagai alat bantu yang sangat penting. Sebagai pelaku musik, HVE ingin agar pesan sang komponis lewat komposisinya sampai ke publik.

Empat tahun malang melintang di dunia paduan suara di sini, gw mengamati beberapa hal yang kayaknya menarik untuk kita diskusikan.

Buklet konser sebagai media pendidikan musik

Koor-koor di Belanda menganggap penting buklet konser, karena lewat buklet lah segala informasi mengenai konser dapat dibaca. Bukan hanya urutan repertoar, profil pengaba, pemusik dan penyanyi saja, tapi juga informasi terperinci mengenai setiap komponis, setiap lagu yang dinyanyikan, dan teks beserta terjemahannya. Buklet konser Kamerkoor Vocoza “Tussen mij en God” (Antara aku dan Tuhan) tahun 2011 ini misalnya. Setiap komposisi dibahas, dari sudut pandang latar belakang penciptaan dan apa relevansinya dengan tema konser yang diangkat kali itu. Entitas Tuhan menjadi tema sentral dalam konser tersebut, dan audiens bisa dengan mudah bergabung dalam proses kreatif-musikal yang kami lalui sebagai pemusik. Bahkan diskursus filosofis mengenai “Seperti apakah wujud Tuhan yang Anda percayai?” juga tertulis dalam buklet ini. Mayoritas masyarakat Belanda yang agnostik sekular sudah meninggalkan pandangan tradisional agama dan ketuhanan, tetapi spiritualitas tampaknya tetap menjadi bagian dari hidup mereka.

Kenapa sih segitu ribetnya bikin buklet konser seterperinci itu?

Konser paduan suara, menurut komunitas musik di Eropa (paling tidak yang sejauh ini gw amati), bertujuan tidak hanya sebagai ajang rekreasi dan apresiasi seni, tapi juga pendidikan musik. Di benua di mana musik paduan suara sudah mengakar dalam budaya mereka sejak ratusan tahun yang lalu, orang datang menonton konser paduan suara biasanya bukan sekedar duduk manis pasang telinga hip hip hura, tapi juga mereka biasanya ingin belajar hal baru, menemukan inspirasi musik baru, mengenal komponis dan komposisinya.

Beberapa tahun silam, Michael Allsen, seorang profesor dari sebuah universitas di AS menggagas semacam petunjuk pelaksanaan membuat buklet konser. Ia menekankan bahwa sebuah buklet konser yang bagus memiliki dua fungsi: memberikan gambaran latar belakang dan sejarah komposisi dan memberikan gambaran tentang apa yang bisa diharapkan oleh publik ketika mereka mendengarkan komposisi tersebut.

Bagian-bagian penting dalam sebuah buklet konser

Sebagai contoh, gw pake buklet konser Hollands Vocaal Ensemble yang gw bahas di awal tadi. (I know it’s in Dutch, but you can get an idea of how it looks.) Dalam buklet ini, yang seluruh isi dan layout-nya dikerjakan dengan rapi dan komprehensif oleh Marieke, salah satu penyanyi alto, penonton konser mendapatkan informasi lengkap tentang musik yang kami persembahkan. Buklet diawali dengan pengantar singkat, semacam benang merah, repertoar yang kami nyanyikan. Tidak ada basa-basi ucapan terima kasih di sini, hanya inti tema konser yang dikemas dalam semacam narasi singkat.

Kemudian dalam buklet konser ini para komponis dibahas satu persatu. Sekilas mungkin tampak seperti copy-paste dari Wikipedia, tapi kalo dibaca dengan teliti, tampak jelas kalau teks Shakespeare yang menjadi tema konser ini diberikan penekanan. Dari sekian banyak komposisi Britten, misalnya, hanya “Five Flower Songs” yang mengangkat teks penyair paling terkenal sepanjang masa ini. Dalam artikel yang ditulis Allsen tadi, dia juga mengetengahkan isu plagiarisme dalam buklet konser. Menurut dia, hal ini terjadi karena penulis buklet sekadar menyomot alias copy-paste dari sumber di internet.

Ringkasnya, sebuah buklet program yang bagus sebaiknya memuat:

  • Daftar repertoar
  • Latar belakang pemilihan repertoar dan judul konser
  • Sekilas tentang komponis dan komposisi dalam program (dan kaitannya dengan tema konser)
  • Teks lagu dan terjemahan
  • Profil pengaba dan paduan suara
  • Rencana konser berikutnya

Akhirnya, pilihan menyajikan buklet konser yang bagus (atau tidak) ada di tangan paduan suara. Kadang sumberdaya yang terbatas (baca: nggak ada yang cukup rajin meramu informasi dan menyajikannya) menjadi alasan audiens memperoleh buklet konser yang tampak seperti undangan pernikahan: mentereng, dicetak di atas kertas tebal dan mahal dengan disain menarik dan penuh warna… tapi miskin informasi. Atau mungkin konduktornya yang sekadar mencomot lagu ini dan itu tanpa ada benang merah atau tema yang jelas, sehingga sangat sulit membuat narasi yang koheren.

Jadi, pertanyaannya, lebih pilih mana? Fancy tapi miskin informasi, atau sederhana tapi kaya akan relevansi?

Perlu diingat, audiens membayar tiket bukan hanya untuk menikmati musik per se, tapi juga memperoleh informasi baru tentang musik yang mereka tonton. Selain tentunya musik dengan kualitas konser, informasi tentang musik yang dibawakan juga hak mereka.

The New Black: Ngefans sama James MacMillan

Ketika gw pertama kali menemukan musik James MacMillan di Spotify, yang dibawakan dengan penuh presisi dan keanggunan oleh The Sixteen (Harry Christopher) dalam album James MacMillan: Miserere mereka, gw langsung berpikir “This dude’s genius!”. Ada semacam pesona kebaruan dalam musik a cappella MacMillan yang ia sembunyikan dalam ornamen musikal kaya akan acciaccatura rancak dan melisma lincah. Kumpulan Strathclyde Motets-nya sangat eksperimental dan imajinatif, sementara Miserere-nya penuh perenungan dan meditatif, dan Tenebrae Responsories-nya yang ia gubah dalam kerangka modus novus menjadi ladang garapan paduan suara yang benar-benar bersahabat dengan interval-interval diabolik.

James MacMillan: Miserere

Dalam konteks lain, Stuttgart Vokalensemble (Marcus Creed) juga menunjukkan virtuositas mereka dalam album Vaughan Williams & James MacMillan, dengan O bone Jesu dan Mairi-nya yang kompleks, sulit, tapi … hhh … indah, hampir menyihir. Paduan suara mana pun yang cukup percaya diri dengan kemampuan musikalnya menurut gw seharusnya (pernah) menyertakan MacMillan dalam repertoar mereka. Sofia Vokalensemble (Bengt Ollen), yang juara European Grand Prix for Choral Singing tahun 2012 silam, Netherlands Radio Choir (Gijs Leenaars), London Symphony Chorus (Sir Collin Davis), dan BBC Singers adalah beberapa kelompok musik yang pernah menjawab tantangan musikal MacMillan.

Data est mihi omnis potestas

James MacMillan (*1959) yang lahir dan besar di Skotlandia adalah seorang komponis yang gubahannya banyak dipengaruhi oleh Katolisisme. Ia sering merujuk pada kesederhanaan bahasa musik kala Gregorian ketika menggubah. Pada saat yang sama, ia juga tidak sungkan bereksperimen dengan paradigma komposisi musik kontemporer, termasuk ya itu tadi, modus novus yang menakutkan itu. Tentang filosofinya dalam menulis musik dan kaitannya dengan keyakinan, ia berkata bahwa karena ia memiliki latar belakang keluarga Katolik kelas pekerja yang sangat tradisional, ia sulit membedakan apakah gubahannya memang secara sengaja bermuatan agama atau memang ia secara tidak sadar selalu mengacu pada nilai-nilai sakral. MacMillan tidak hanya menulis musik dengan tingkat kesulitan dan virtuositas tinggi untuk paduan suara profesional, tapi juga gubahan-gubahan sederhana tapi khas buat jemaat gereja biasa. Silakan simak apa katanya lebih lanjut di sini.

Factus est repente

Komponis yang juga konduktor ini menyelesaikan PhD-nya dari Universitas Durham pada tahun 1987, dan sejak itu banyak sekali paduan suara profesional yang memperdanakan karya-karyanya. Kalau ada yang juga tertarik untuk mengapresiasi musiknya, silakan kunjungi katalog karya MacMillan untuk paduan suara dari situs Boosey & Hawkes, lengkap dengan deskripsi mengenai setiap komposisi. Dalam katalog Boosey & Hawkes, terdapat kode tingkat kesulitan 1 – 5 dengan 5 sebagai yang tersulit. Nah, teman-teman bisa lihat kalau MacMillan menulis musik untuk tingkat kesulitan termudah (1) hingga tersulit (5), jadi rasanya paduan suara mana pun semestinya bisa. Oh ya, partiturnya beli yang asli yaaa, jangan bajakan ^^.

Di YouTube kalian bisa menemukan beberapa rekaman musik MacMillan, seperti “Dominus dabit benignitatem” dari Strathclyde Motets yang dibawakan oleh Sirventes Berlin berikut:

atau “Data est mihi omnis potestas” yang dibawakan oleh Westminster Choir College (Joe Miller) berikut:

Nah, jadi sebagai fans MacMillan, gw nih ceritanya pengeeeen banget bawain musiknya. Dalam kuesioner anggota baru Toonkunstkoor Amsterdam, gw juga sempat menyampaikan keinginan ini, ketika gw harus menjawab pertanyaan musik siapa dan yang manakah yang ingin gw nyanyikan. Gw jawab dong, Strathclyde Motets-nya MacMillan, St Luke Passion-nya Krzyszstof Penderecki, dan Path of Miracles-nya Joby Talbot.

Ternyata eh ternyata … beberapa bulan kemudian, Vrije Universiteit Kamerkoor yang dikomandani oleh Boudewijn Jansen (juga konduktor Toonkunstkoor Amsterdam) membuka lowongan untuk tenor buat program konser mereka bulan November nanti, dalam rangka memperingati hari kelahiran Benjamin Britten. Dalam program mereka gw lihat ada Strathclyde Motets. Haha! Gw langsung deh tuh sumringah. “You, milord, are mine!” VU Kamerkoor latihan Selasa malam, sementara Senen sama Rabu malam gw udah ada jadwal tetap latihan buat dua paduan suara lain. Tapi demi Pakde MacMillan, gw jabanin dah, Bang Jali. ^^

Ode kepada Musik: BMS, Kamēr, dan Pengabdian

Di tengah banjir notifikasi jejaring sosial mengenai hajatan musik paling bergengsi European Grand Prix for Choral Singing 2013, gw mengamati, menandai, dan mempelajari beberapa hal yang menarik untuk kita diskusikan. Tapi sebelumnya, dengan segala kerinduan pada musik paduan suara di Indonesia, gw ingin mengucapkan selamat atas penampilan Batavia Madrigal Singers yang sangat memukau. I’m rather shy to admit it, but I really got tears in my eyes having watched BMS perform. Sejak terakhir kali bernyanyi bersama mereka di tahun 2009, ansambel vokal yang dinilai paling berdedikasi pada artistri dan musikalitas ini sudah mengalami kemajuan yang sangat pesat. Pemilihan repertoar yang inovatif dan memperlihatkan virtuositas dan versatilitas paduan suara, perhatian nyata pada presisi (intonasi, interpretasi musik, sonoritas, olah dinamika, ritmus, dan unsur rinci lainnya), dedikasi mereka pada latihan untuk mempersiapkan lomba (yang kadang-kadang gw ikuti di mailing list BMS), semuanya membuat gw menahan napas berkali-kali dalam keterpukauan.

Di tengah kesibukan sehari-hari, senang rasanya gw sempat menyaksikan live streaming Guidoneum Festival EGP edisi ke-25 dari Arezzo. Karena keterbatasan waktu gw hanya sempat menonton penampilan BMS. Sejujurnya, gw juga tidak terlalu tertarik untuk melihat penampilan 4 peserta lain. Gw pikir, “Ah, yang lain mah paling juga ntar nongol di YouTube.” Tapi begitulah, sebagai spektator kali ini, gw menyaksikan betapa Avip Priatna, sang pengaba yang sejak tahun 1996 setia mengomandani BMS, telah menunjukkan pengabdiannya pada artistri dan musikalitas. Gw angkat topi untuk kerja keras mereka mengolah musik. Gw tahu persis betapa penampilan sekelas mereka bukanlah hasil dari santai-santai bergembira. Sekitar 2 tahun keterlibatan gw dalam BMS, gw mencermati dinamika kelompok dan hasrat bermusik yang selalu kental melayang-layang di udara ketika berlatih: Kak Avip di depan piano (waktu itu di Jalan Daksa), dan para penyanyi mengelilinginya dengan secarik partitur di tangan. Dari tahun ke tahun sejak itu, BMS semakin matang secara musikal. Mereka sama sekali tidak menunjukkan gejala ‘anget-anget t**i ayam’  seperti yang gw amati pada banyak paduan suara lain. Kontinuitas dan komitmen mereka seperti tak berujung. Untuk itu semua, gw mengangkat topi dalam kekaguman. Salut.

Lalu apatah gerangan hiruk-pikuk ‘kemenangan’ dan ‘kekalahan’ ini?

Ah, seperti Bela Bartok (1881-1945) pernah berkata, “Competitions are for horses, not artists.” Gw selalu skeptis pada nosi ‘menang’ dan ‘kalah’ dalam sebuah perlombaan artistik, baik itu musik maupun seni rupa. Keindahan dalam seni adalah sesuatu yang sangat subyektif. Pada akhirnya, akan sangat sulit membedakan mana yang lebih indah dari dua karya seni atau dua penampilan musikal ketika keduanya memang merupakan hasil dari dedikasi dan passion. Ketika gw kadang membaca papan nilai hasil perlombaan sebuah paduan suara, gw kadang suka bertanya-tanya, apalah bedanya 85 dan 87 dalam skala 0-100 ketika kita tidak membicarakan statistika dan ilmu pasti? Apalah bedanya sang juara, misalnya, yang meraih nilai 87 dari yang meraih nilai 85? Apakah selisih nilai itu berasal dari satu not yang salah dinyanyikan? Atau sekadar preferensi pribadi? Atau karena kostum yang nggak matching? … I mean, it’s not Candy Crush Saga we’re dealing with. 

Tapi baiklah, gw mengerti bahwa supremasi (lagi-lagi) yang ingin diraih melalui jalur kompetisi paduan suara memang suka tidak suka melibatkan euforia dan kekecewaan. Seandainya gw produser musik, BMS sudah dari dulu gw tawari album rekaman, biar musik mereka bisa dinikmati oleh khalayak yang lebih luas di seluruh dunia, tidak terbatas pada dinding gedung konser; supaya musik mereka bisa diakses dengan mudah di Spotify atau Deezer, sejajar dengan paduan suara hebat yang lain seperti The Sixteen, Nederlands Kamerkoor, atau Kammerchor Stuttgart. Supaya musik mereka abadi. Tapi sayangnya produser musik di Indonesia tidak ada yang segitu jatuh cintanya pada musik paduan suara sehingga dia akan dengan penuh antusiasme mempromosikan musik yang jelas-jelas lebih berkelas dan lebih bermanfaat ketimbang musik komersial. Sayangnya masyarakat kita belum menempatkan musik paduan suara pada relung budaya yang berakar kuat. Masyarakat musik di Indonesia masih lebih menyukai musik gampangcerna, daripada mencoba mengapresiasi harmoni njlimet dalam musiknya Max Reger, atau jangan jauh-jauh, ritmus rancak dalam komposisi terbaru penggubah muda kita seperti Ivan Yohan atau Budi Susanto Yohanes. Sayang seribu sayang.

Buat gw pribadi, European Grand Prix for Choral Singing bukan sebuah ajang mengenai siapa yang ‘menang’ dan ‘kalah’. (I just despise those words that I have to use quotation marks all the time.) Bahkan, gw sebenarnya tidak terlalu peduli siapa yang keluar sebagai juara. Gw mengikuti perkembangan dan perjalanan musikal peserta lain dalam EGP dari tahun ke tahun, dan gw sangat terinspirasi oleh pengabdian mereka semua pada musik. Tentu saja tingkat kemajuan mereka berbeda-beda. Ada juara EGP yang memang berasal dari budaya di mana masyarakatnya sangat mencintai paduan suara. Hal ini bisa dilihat dari sejarah musik paduan suara di negara asal mereka, jumlah komponis yang lahir dan musiknya diapresiasi di sana, pendidikan musik yang menjadi bagian integral dari kurikulum sekolah, dan lain-lain. Ada juga yang tidak.

Kalau kita berbicara mengenai juara EGP tahun ini, Youth Choir Kamēr, misalnya, kita bisa melihat bagaimana para remaja ini beruntung bisa tumbuh dan berkembang dalam tradisi bernyanyi paduan suara. Sejak usia dini, mereka sudah tidak asing lagi dengan musik paduan suara, entah itu dari liturgi gereja, atau kurikulum sekolah yang menyertakan musik klasik di dalamnya. Banyak paduan suara di Latvia, baik amatir maupun profesional, menganggap premiere (perdana) sebuah komposisi yang ditulis oleh seorang komponis Latvia sebagai sebuah hari raya. Itu sebabnya komponis demi komponis lahir dan menjadi selebritis di sana. Sebutlah Ēriks Ešenvalds, Rihards Dubra, dan Pēteris Vasks. Kalau itu tidak cukup, mereka juga beruntung dikelilingi negara-negara yang juga mencintai paduan suara, seperti Lithuania dengan Vytautas Miškinis-nya, Estonia dengan Veljo Tormis-nya, dan negara-negara Skandinavia. Tidak mengherankan, kemudian, ketika paduan suara non-profesional macam Youth Choir Kamēr pun berkesempatan masuk ke dapur rekaman. Musik mereka bisa diakses gratis di sini dan di sini. Di pihak lain, ada juga juara EGP yang tidak berasal dari budaya paduan suara yang dominan, seperti Jepang.

Tapi, rasanya terlalu menarik untuk tidak disebutkan bahwa selain budaya paduan suara yang kuat di negaranya, Youth Choir Kamēr sepertinya juga memiliki struktur organisasi yang sangat suportif bagi pencapaian musikal mereka dari waktu ke waktu. Mereka memiliki dua guru vokal tetap yang memang dibayar untuk melatih vokal setiap penyanyinya secara terpisah. Urusan dasar-dasar teknik vokal tidak dipegang oleh sang konduktor. Mereka juga memiliki departemen marketing dan PR tersendiri. Jadi urusan dana yang selalu menjadi masalah utama keberlangsungan hidup paduan suara tidak lagi membuat sang konduktor sakit kepala. Ia cukup berkonsentrasi pada musik dan para penyanyi. Berkat tim yang kuat, mereka memiliki banyak sekali patron dan sponsor tetap.

Dari sudut pandang paduan suara, Indonesia berbeda dengan Latvia, atau negara-negara lain di Eropa. Dalam hal musikalitas berpaduan suara, kita terbilang masih muda. Baru pada sekitar akhir tahun 90-an paduan suara di Indonesia, dirintis oleh Paduan Suara Universitas Parahyangan (Avip Priatna) pada waktu itu, mulai menggiatkan musik paduan suara dalam format klasik, dengan menyertakan repertoar zamani. Sejak saat itu, perlahan tapi pasti, satu persatu paduan suara lain juga mulai menunjukkan pencapaiannya, entah dari keikutsertaan dalam lomba atau konser reguler. Kita mulai bangun dari tidur panjang. Berkat kegigihan para konduktor dan para penyanyi, Indonesia mulai terdengar di panggung internasional, bukan melulu karena eksotisme musik oriental macam angklung dan gamelan Jawa, tapi benar-benar musik paduan suara yang layak disandingkan dengan paduan suara internasional. Jika budaya musik paduan suara dipertahankan seperti ini, jika gedung-gedung konser penuh dengan jadwal penampilan paduan suara, jika sekolah-sekolah dipenuhi dengan alunan harmoni musik paduan suara di samping musik populer, maka gw rasa, dalam beberapa tahun, kita juga akan memiliki budaya paduan suara tersendiri, khas Indonesia. 

Lalu, buat apa sih semua ini? Cuman buat kebanggaan menjadi bangsa Indonesia?

Well, I wonder.

Gw cenderung lebih suka meneguhkan idealisme gw murni pada perayaan musikal. Dalam dunia yang semakin mengglobal dan interkultural, rasanya jargon-jargon nasionalisme sudah tidak terlalu relevan, apalagi dalam musik. Tapi baiklah, jika itu yang menjadi opini publik, gw tidak menyalahkan. Yang jelas, musisi terbaik, pada akhirnya, adalah mereka yang mencintai musik atas nama keindahan musik itu sendiri, bukan karena tuntutan sektarianisme yang cenderung membelah bukannya menyatukan.

Untuk Batavia Madrigal Singers dan semua penggiat paduan suara, cheers!

Artistri Menurut The Sixteen dan Harry Christophers

The Sixteen dan Harry Christophers

Saat ini, tidak ada paduan suara lain yang lebih sering gw dengarkan selain The Sixteen. Berkat media penyedia musik cuma-cuma macam Spotify dan Deezer, dengan penuh ketertarikan dan keingintahuan gw menjelajahi satu per satu album rekaman ansambel vokal profesional yang dikomandoi oleh Harry Christophers ini. Sejak tahun 1979 hingga 2013, The Sixteen sudah memproduksi lebih dari 100 album rekaman musik paduan suara 600 tahun terakhir. Fantastis! Gw rasa belum ada ansambel vokal lain yang menandingi mereka. Bukan hanya kuantitas, tapi setiap album yang mereka rilis dipuji oleh banyak kritisi musik sebagai hasil seni berstandar tinggi. Mereka telah memenangi begitu banyak penghargaan tertinggi seperti Grand Prix du Disque dan Schallplattenkritik. Album “Renaissance: Music for Inner Peace” mereka memenangi Gramophone Award, sementara  album “Ikon” mereka dinominasikan untuk Grammy Award pada tahun 2007, dan album rekaman “Messiah” yang kedua mendapat penghargaan MIDEM Classical Award 2009 yang prestisius. Gw dengan penuh antusiasme mengundang teman-teman semua untuk mengapresiasi musikalitas mereka di sini.

Salah satu lagu dari album yang memenangi Gramophone Award tersebut bisa kalian nikmati di YouTube: Libera Nos gubahan komponis zaman Tudor John Sheppard. Simak bagaimana warna vokal soprano mereka yang sangat terang dan sama sekali tak bervibrato. Lalu coba juga dengarkan suara alto mereka yang seluruhnya dinyanyikan oleh para pria! Tenornya yang sorgawi, dan bassnya yang beresonansi. Ah, dengerin sendiri deh!

Dalam lema blog mengenai supremasi paduan suara, gw sempat menyebut nama The Sixteen, dalam bahasan mengenai pelbagai cara mencapai kejayaan dan nama besar paduan suara. Nah, senada dengan lema tersebut, The Sixteen juga dikenal oleh masyarakat paduan suara dunia lewat konser-konser mereka yang berkualitas. Mereka tampil di gedung-gedung konser terkemuka di pelosok Eropa, Jepang, Australia, dan benua Amerika. Gw cukup beruntung sempat menonton salah satu konser mereka di Queen Elizabeth Hall, London, pada tahun 2010. Mereka telah dengan sangat berbaik hati menjual tiket konser seharga £10. Selain menjadi bintang konser, mereka juga menjadi bintang program serial televisi Sacred Music di BBC 4, yang beberapa episodenya bisa kalian lihat di YouTube. Gw mengumpulkan beberapa episode lengkapnya di sini.

Sacred Music BBC

Ada banyak hal yang gw rasa bisa kita pelajari dari The Sixteen. Selama lebih dari 33 tahun keberadaannya, The Sixteen dikenal masyarakat paduan suara di seluruh dunia karena komitmennya pada musik. Mereka memegang reputasi untuk karya polifoni Inggris kuno, mahakarya kala Renaissance, interpretasi baru untuk musik zaman Barok dan Klasik, dan tentunya juga pelbagai gubahan musik modern dan kekinian. Pada jantung segala pencapaian ini adalah Harry Christophers, sang pendiri The Sixteen yang hingga kini masih berkomitmen pada artistri dan musikalitas ansambel yang ia pimpin.

Harry Christophers

Harry Christophers (*1953) mengawali perjalanan musikalnya sebagai anak paduan suara di Katedral Canterbury dan pemain klarinet dalam orkestra sekolahnya di King’s School, Canterbury. Segera setelah ia belajar Studi Peradaban Klasik di Universitas Oxford selama 2 tahun, Christophers langsung memulai karier musiknya. Adalah sekitar waktu itu ia mendirikan The Sixteen pada tahun 1979. Sejak itu, bersama ansambel vokal dan ansambel instrumentalis musik zamani The Sixteen, Christophers memproduksi musik berkualitas tinggi. Coba dengarkan interpretasi mereka terhadap gubahan Gregorio Allegri Miserere yang diambil dari salah satu episode Sacred Music.

Filosofi Christophers mengenai perannya sebagai pengaba menurut gw menarik. Ia bilang, sebagai konduktor, ia bertanggung jawab untuk ‘memberi makan’ para musisi yang ia aba, baik itu vokalis maupun instrumentalis, sedemikian hingga energi musik yang dibangun sampai ke audiens. Tentang rekrutmen penyanyi, ia juga memiliki pandangan tersendiri. Ia percaya bahwa selain kualitas individual para penyanyinya (kemampuan prima vista, musikalitas tinggi dan daya tanggap yang cepat, intonasi sempurna dan perasaan ritmis yang tajam), 50% sisanya adalah bahwa setiap penyanyi harus memiliki karakter yang baik. Pada akhirnya, adalah kerjasama tim yang menentukan keberhasilan mereka sebagai paduan suara. Kesediaan untuk mendengarkan satu sama lain menjadi syarat wajib.

Nah, di atas segalanya, menurut gw hal yang paling penting yang dapat kita tiru dari para musisi sejati ini adalah komitmen. Banyak penyanyi The Sixteen yang masih bernyanyi sejak grup ini didirikan. Bayangkan, lebih dari 30 tahun bernyanyi bersama. 30 tahun yang penuh musik.  Ambil contoh salah seorang kontratenornya, Chris Royall, yang bernyanyi dalam arahan Christophers sejak 1979. Atau Sally Dunkley, salah satu soprano The Sixteen, yang juga setia sejak konser pertama, sambil juga memperkuat the Tallis Scholars dan Gabrielli Consort yang mengkhususkan diri pada musik kuno dan kala Renaissance. Sally mengaku bahwa salah satu hal yang membuatnya betah bernyanyi dalam ansambel vokal ini adalah atmosfer kerjasama dalam tim yang selalu hangat dan penuh keramahan. Sang konduktor, menurut Sally, juga selalu memberi kesempatan para penyanyinya menjelajahi berbagai kemungkinan, termasuk mengembangkan karier sebagai penyanyi solo. Salah satu sopranonya yang lain, Elin Manahan Thomas, hingga kini telah mengukir karier solo tersendiri.

Nah, The Sixteen mungkin memang berada dalam tingkat musikalitas yang berbeda dari kebanyakan paduan suara, karena mereka profesional. Setiap penyanyinya menempuh pendidikan musik formal dan menjadikan musik sebagai mata pencaharian hidup. Tapi, coba renungkan, kecintaan dan komitmen mereka pada musiklah yang pada akhirnya membedakan mereka dari yang lain. Dan itu dengan mudah bisa kita dengarkan ketika mereka bernyanyi. Untuk para penyanyi paduan suara amatir seperti gw, rasanya kecintaan dan komitmen ini juga penting, karena hanya dengan itulah sebagai musisi kita terus mempertajam dan mengembangkan artistri dan musikalitas kita.

Semoga menginspirasi.

Pusaka Musik Kontemporer Stravinsky

Stravinsky

Igor Stravinsky (1882-1971) dipandang sebagai komponis paling orisinil dan berpengaruh abad ke-20. Ia belajar musik di bawah bimbingan Rimsky Korsakov di St Petersburg. Beberapa gubahannya untuk musik balet, yaitu The Firebird, Petrushka dan The Rite of Spring memperlihatkan bagaimana Stravinsky berevolusi secara musikal dari nasionalis menjadi modernis. Stravinsky lahir di Rusia, kemudian beremigrasi ke Perancis, kemudian ke Amerika. Hidupnya yang kosmopolitan dan mendunia tercermin dalam gubahan-gubahannya. Ia menulis musik liturgi gereja ortodoks Rusia, tapi juga musik balet dalam bahasa Perancis, dan belakangan mengangkat banyak teks puisi berbahasa Inggris.

Musik Stravinsky pertama kali gw dengar pada tahun 2011, dalam sebuah konser kelulusan MaNOj Kamps, seorang mahasiswa Konservatorium Den Haag asal Sri Lanka. Sebagai syarat memperoleh gelar Sarjana Musik dalam bidang conducting, MaNOj menggelar sebuah program konser berjudul “Liberté” (kebebasan). Untuk hari yang sangat menentukan itu, MaNOj secara cerdas dan teliti memilih repertoar konser yang ia aba sendiri. Tersebutlah, Glaubst du an die Unsterblichkeit der Seele (Claude Vivier, 1948-1984), In Memoriam Dylan Thomas (Igor Stravinsky, 1882-1971), Nach dir, Herr, verlanget mich (Johann Sebastian Bach, 1685-1750), Figure Humaine (Francis Poulenc, 1899-1963), dan perdana dunia Libera Me yang digubah sendiri oleh MaNOj (*1988). Sebuah program yang sangat ambisius. Gw sendiri ambil bagian dalam konser tersebut sebagai salah satu penyanyi paduan suara. Kita kebagian mengeksekusi gubahan Poulenc untuk paduan suara ganda yang sangat menantang itu, Figure Humaine (1943)

Sementara itu, Marcel Beekman, seorang tenor mapan menyanyikan gubahan Stravinsky untuk solo tenor, kuartet musik gesek dan kuartet trombon, In Memoriam Dylan Thomas (1954). Gubahan sepanjang lebih dari 6 menit ini ia abdikan sepenuhnya kepada Dylan Thomas sendiri, yang mangkat secara mengejutkan, padahal Stravinsky berniat bekerja sama dengan Thomas untuk menulis sebuah opera. Dengan penuh intensitas emosi, Stravinsky merangkai puisi Thomas “Do not go gentle into that good night” dengan “Rage, rage against the dying of the light”. Kelak, Eric Walter White memuji gubahan ini sebagai salah satu gubahan paling mengharukan yang ditulis Stravinsky sepanjang kariernya.

Persepsi gw ketika mendengarkan musik Stravinsky untuk pertama kali mungkin terlalu rendah hati. Ada semacam keindahan misterius dalam progresi harmoni yang diawali dirge 4 trombon ini. Dan gw yang nggak terlalu cerdas musik modern ini tidak serta-merta menangkap esensi musikal yang ia gubah dalam bingkai teknik komposisi duabelas-nada (dodekafoni), yaitu metode komposisi musik yang memastikan bahwa seluruh 12 nada kromatik digunakan secara merata.

Tangga nada dodekafonik

Tapi begitulah, musik Stravinsky ternyata sangat adiktif. Sekalinya kita bisa menangkap esensi musikal tersebut, keindahan musik Stravinsky barulah mengemuka. Mereka yang terbiasa mendengarkan, menyanyikan atau memainkan musik konvensional dalam tangga nada diatonik (do-re-mi-fa-so-la-si-do) akan harus mengerutkan dahi berkali-kali untuk bisa mengapresiasi musik dodekafonik. Dan itulah yang terjadi pada gw.

Tapi mungkin gw berjodoh dengan Stravinsky. Dua tahun kemudian, gw berkesempatan menyanyikan sendiri musiknya yang fenomenal itu. Dalam sebuah festival musik kontemporer di Den Haag, gw bersama Toonkunstkoor Amsterdam membawakan Symphony of Psalms yang dilaras ulang untuk dua piano, dirangkai kemudian dengan tiga gubahan liturgi Rusia akapela Bogoroditse Djevo, Veruyudan Otche Nash.

Gubahan dan larasan yang mengangkat teks mazmur mungkin sering sekali kita dengar. Tapi Simfoni Mazmur-nya Stravinsky sama sekali lain. Ia mengaku bahwa ia tidak berniat menggubah musik simfonik dengan menyertakan teks mazmur di dalamnya. Alih-alih, gubahan ini adalah nyanyian mazmur yang ia simfonikan. Coba dengarkan Monteverdi Choir (John Gardiner) dan London Symphony Orchestra dengan sempurna mengeksekusi Symphony of Psalms di Spotify (track nomor 5-7). Gubahan ini ia bingkai dalam sistem oktatonik (nah lho, apaan lagi tuh?), yaitu tangga nada yang terdiri atas 8 nada, tapi biasanya merupakan pergantian interval penuh dan paruh. Nah, gw nggak berniat membahas teori musik, tapi rasanya teks mazmur yang diangkat Stravinsky dalam gubahan ini menarik untuk gw sarikan.

Dari bagian pertama:

Exaudi orationem meam, Domine, et deprecationem meam. Auribus percipe lacrimas meas. Ne sileas.
Quoniam advena ego sum apud te et peregrinus, sicut omnes patres mei.
Remitte mihi, ut refrigerer prius quam abeam et amplius non ero.

Dengarkanlah doaku, ya TUHAN, dan berilah telinga kepada teriakku minta tolong, janganlah berdiam diri melihat air mataku!
Sebab aku menumpang pada-Mu, aku pendatang seperti semua nenek moyangku.
Alihkanlah pandangan-Mu dari padaku, supaya aku bersukacita sebelum aku pergi dan tidak ada lagi!

(Mazmur 39:12-14)

Musik oktatonik ini akan terdengar sama sekali berbeda dengan gubahan liturgi Rusia berikut. Stravinsky menulis 3 gubahan sakral pendek yang dianggap oleh para terpelajar musik sebagai manifestasi spiritualitas Stravinsky yang sempat pudar pada usia mudanya. Ketiga karya pendek ini, yaitu Doa Bapa Kami, Salam Maria, dan Kredo, digubah dalam kerangka musik yang lebih konvensional dan ‘ramah-penyanyi’. Selain pelafalan bahasa Rusia dalam Kredo yang rancak, tidak ada kesulitan berarti dalam mengolah lagu-lagu ini. Coba simak The Gregg Smith Singers (Robert Craft) membawakan 3 Russian Sacred Choruses.

Selain komposisi di atas, akhir tahun ini, sebagai bagian dari program musik Rusia, Toonkunstkoor Amsterdam juga akan membawakan gubahan Stravinsky yang sama sekali lain, Les Noces, sebuah musik balet yang berkisah seputar pesta pernikahan a la  Rusia. Yang ini lain kali deh gw bahas. Musik balet yang ajaib ini bisa kalian lihat di YouTube. TKA akan menyanyikannya dalam bahasa Perancis.

In Stravinsky’s words:

‘Music is given to us specifically to make order of things, to move from an anarchic, individualistic state to a regulated, perfectly conscious one, which alone ensures vitality and durability.’

— Igor Stravinsky