Artistri Menurut The Sixteen dan Harry Christophers

The Sixteen dan Harry Christophers

Saat ini, tidak ada paduan suara lain yang lebih sering gw dengarkan selain The Sixteen. Berkat media penyedia musik cuma-cuma macam Spotify dan Deezer, dengan penuh ketertarikan dan keingintahuan gw menjelajahi satu per satu album rekaman ansambel vokal profesional yang dikomandoi oleh Harry Christophers ini. Sejak tahun 1979 hingga 2013, The Sixteen sudah memproduksi lebih dari 100 album rekaman musik paduan suara 600 tahun terakhir. Fantastis! Gw rasa belum ada ansambel vokal lain yang menandingi mereka. Bukan hanya kuantitas, tapi setiap album yang mereka rilis dipuji oleh banyak kritisi musik sebagai hasil seni berstandar tinggi. Mereka telah memenangi begitu banyak penghargaan tertinggi seperti Grand Prix du Disque dan Schallplattenkritik. Album “Renaissance: Music for Inner Peace” mereka memenangi Gramophone Award, sementara  album “Ikon” mereka dinominasikan untuk Grammy Award pada tahun 2007, dan album rekaman “Messiah” yang kedua mendapat penghargaan MIDEM Classical Award 2009 yang prestisius. Gw dengan penuh antusiasme mengundang teman-teman semua untuk mengapresiasi musikalitas mereka di sini.

Salah satu lagu dari album yang memenangi Gramophone Award tersebut bisa kalian nikmati di YouTube: Libera Nos gubahan komponis zaman Tudor John Sheppard. Simak bagaimana warna vokal soprano mereka yang sangat terang dan sama sekali tak bervibrato. Lalu coba juga dengarkan suara alto mereka yang seluruhnya dinyanyikan oleh para pria! Tenornya yang sorgawi, dan bassnya yang beresonansi. Ah, dengerin sendiri deh!

Dalam lema blog mengenai supremasi paduan suara, gw sempat menyebut nama The Sixteen, dalam bahasan mengenai pelbagai cara mencapai kejayaan dan nama besar paduan suara. Nah, senada dengan lema tersebut, The Sixteen juga dikenal oleh masyarakat paduan suara dunia lewat konser-konser mereka yang berkualitas. Mereka tampil di gedung-gedung konser terkemuka di pelosok Eropa, Jepang, Australia, dan benua Amerika. Gw cukup beruntung sempat menonton salah satu konser mereka di Queen Elizabeth Hall, London, pada tahun 2010. Mereka telah dengan sangat berbaik hati menjual tiket konser seharga £10. Selain menjadi bintang konser, mereka juga menjadi bintang program serial televisi Sacred Music di BBC 4, yang beberapa episodenya bisa kalian lihat di YouTube. Gw mengumpulkan beberapa episode lengkapnya di sini.

Sacred Music BBC

Ada banyak hal yang gw rasa bisa kita pelajari dari The Sixteen. Selama lebih dari 33 tahun keberadaannya, The Sixteen dikenal masyarakat paduan suara di seluruh dunia karena komitmennya pada musik. Mereka memegang reputasi untuk karya polifoni Inggris kuno, mahakarya kala Renaissance, interpretasi baru untuk musik zaman Barok dan Klasik, dan tentunya juga pelbagai gubahan musik modern dan kekinian. Pada jantung segala pencapaian ini adalah Harry Christophers, sang pendiri The Sixteen yang hingga kini masih berkomitmen pada artistri dan musikalitas ansambel yang ia pimpin.

Harry Christophers

Harry Christophers (*1953) mengawali perjalanan musikalnya sebagai anak paduan suara di Katedral Canterbury dan pemain klarinet dalam orkestra sekolahnya di King’s School, Canterbury. Segera setelah ia belajar Studi Peradaban Klasik di Universitas Oxford selama 2 tahun, Christophers langsung memulai karier musiknya. Adalah sekitar waktu itu ia mendirikan The Sixteen pada tahun 1979. Sejak itu, bersama ansambel vokal dan ansambel instrumentalis musik zamani The Sixteen, Christophers memproduksi musik berkualitas tinggi. Coba dengarkan interpretasi mereka terhadap gubahan Gregorio Allegri Miserere yang diambil dari salah satu episode Sacred Music.

Filosofi Christophers mengenai perannya sebagai pengaba menurut gw menarik. Ia bilang, sebagai konduktor, ia bertanggung jawab untuk ‘memberi makan’ para musisi yang ia aba, baik itu vokalis maupun instrumentalis, sedemikian hingga energi musik yang dibangun sampai ke audiens. Tentang rekrutmen penyanyi, ia juga memiliki pandangan tersendiri. Ia percaya bahwa selain kualitas individual para penyanyinya (kemampuan prima vista, musikalitas tinggi dan daya tanggap yang cepat, intonasi sempurna dan perasaan ritmis yang tajam), 50% sisanya adalah bahwa setiap penyanyi harus memiliki karakter yang baik. Pada akhirnya, adalah kerjasama tim yang menentukan keberhasilan mereka sebagai paduan suara. Kesediaan untuk mendengarkan satu sama lain menjadi syarat wajib.

Nah, di atas segalanya, menurut gw hal yang paling penting yang dapat kita tiru dari para musisi sejati ini adalah komitmen. Banyak penyanyi The Sixteen yang masih bernyanyi sejak grup ini didirikan. Bayangkan, lebih dari 30 tahun bernyanyi bersama. 30 tahun yang penuh musik.  Ambil contoh salah seorang kontratenornya, Chris Royall, yang bernyanyi dalam arahan Christophers sejak 1979. Atau Sally Dunkley, salah satu soprano The Sixteen, yang juga setia sejak konser pertama, sambil juga memperkuat the Tallis Scholars dan Gabrielli Consort yang mengkhususkan diri pada musik kuno dan kala Renaissance. Sally mengaku bahwa salah satu hal yang membuatnya betah bernyanyi dalam ansambel vokal ini adalah atmosfer kerjasama dalam tim yang selalu hangat dan penuh keramahan. Sang konduktor, menurut Sally, juga selalu memberi kesempatan para penyanyinya menjelajahi berbagai kemungkinan, termasuk mengembangkan karier sebagai penyanyi solo. Salah satu sopranonya yang lain, Elin Manahan Thomas, hingga kini telah mengukir karier solo tersendiri.

Nah, The Sixteen mungkin memang berada dalam tingkat musikalitas yang berbeda dari kebanyakan paduan suara, karena mereka profesional. Setiap penyanyinya menempuh pendidikan musik formal dan menjadikan musik sebagai mata pencaharian hidup. Tapi, coba renungkan, kecintaan dan komitmen mereka pada musiklah yang pada akhirnya membedakan mereka dari yang lain. Dan itu dengan mudah bisa kita dengarkan ketika mereka bernyanyi. Untuk para penyanyi paduan suara amatir seperti gw, rasanya kecintaan dan komitmen ini juga penting, karena hanya dengan itulah sebagai musisi kita terus mempertajam dan mengembangkan artistri dan musikalitas kita.

Semoga menginspirasi.

Advertisements

Pusaka Musik Kontemporer Stravinsky

Stravinsky

Igor Stravinsky (1882-1971) dipandang sebagai komponis paling orisinil dan berpengaruh abad ke-20. Ia belajar musik di bawah bimbingan Rimsky Korsakov di St Petersburg. Beberapa gubahannya untuk musik balet, yaitu The Firebird, Petrushka dan The Rite of Spring memperlihatkan bagaimana Stravinsky berevolusi secara musikal dari nasionalis menjadi modernis. Stravinsky lahir di Rusia, kemudian beremigrasi ke Perancis, kemudian ke Amerika. Hidupnya yang kosmopolitan dan mendunia tercermin dalam gubahan-gubahannya. Ia menulis musik liturgi gereja ortodoks Rusia, tapi juga musik balet dalam bahasa Perancis, dan belakangan mengangkat banyak teks puisi berbahasa Inggris.

Musik Stravinsky pertama kali gw dengar pada tahun 2011, dalam sebuah konser kelulusan MaNOj Kamps, seorang mahasiswa Konservatorium Den Haag asal Sri Lanka. Sebagai syarat memperoleh gelar Sarjana Musik dalam bidang conducting, MaNOj menggelar sebuah program konser berjudul “Liberté” (kebebasan). Untuk hari yang sangat menentukan itu, MaNOj secara cerdas dan teliti memilih repertoar konser yang ia aba sendiri. Tersebutlah, Glaubst du an die Unsterblichkeit der Seele (Claude Vivier, 1948-1984), In Memoriam Dylan Thomas (Igor Stravinsky, 1882-1971), Nach dir, Herr, verlanget mich (Johann Sebastian Bach, 1685-1750), Figure Humaine (Francis Poulenc, 1899-1963), dan perdana dunia Libera Me yang digubah sendiri oleh MaNOj (*1988). Sebuah program yang sangat ambisius. Gw sendiri ambil bagian dalam konser tersebut sebagai salah satu penyanyi paduan suara. Kita kebagian mengeksekusi gubahan Poulenc untuk paduan suara ganda yang sangat menantang itu, Figure Humaine (1943)

Sementara itu, Marcel Beekman, seorang tenor mapan menyanyikan gubahan Stravinsky untuk solo tenor, kuartet musik gesek dan kuartet trombon, In Memoriam Dylan Thomas (1954). Gubahan sepanjang lebih dari 6 menit ini ia abdikan sepenuhnya kepada Dylan Thomas sendiri, yang mangkat secara mengejutkan, padahal Stravinsky berniat bekerja sama dengan Thomas untuk menulis sebuah opera. Dengan penuh intensitas emosi, Stravinsky merangkai puisi Thomas “Do not go gentle into that good night” dengan “Rage, rage against the dying of the light”. Kelak, Eric Walter White memuji gubahan ini sebagai salah satu gubahan paling mengharukan yang ditulis Stravinsky sepanjang kariernya.

Persepsi gw ketika mendengarkan musik Stravinsky untuk pertama kali mungkin terlalu rendah hati. Ada semacam keindahan misterius dalam progresi harmoni yang diawali dirge 4 trombon ini. Dan gw yang nggak terlalu cerdas musik modern ini tidak serta-merta menangkap esensi musikal yang ia gubah dalam bingkai teknik komposisi duabelas-nada (dodekafoni), yaitu metode komposisi musik yang memastikan bahwa seluruh 12 nada kromatik digunakan secara merata.

Tangga nada dodekafonik

Tapi begitulah, musik Stravinsky ternyata sangat adiktif. Sekalinya kita bisa menangkap esensi musikal tersebut, keindahan musik Stravinsky barulah mengemuka. Mereka yang terbiasa mendengarkan, menyanyikan atau memainkan musik konvensional dalam tangga nada diatonik (do-re-mi-fa-so-la-si-do) akan harus mengerutkan dahi berkali-kali untuk bisa mengapresiasi musik dodekafonik. Dan itulah yang terjadi pada gw.

Tapi mungkin gw berjodoh dengan Stravinsky. Dua tahun kemudian, gw berkesempatan menyanyikan sendiri musiknya yang fenomenal itu. Dalam sebuah festival musik kontemporer di Den Haag, gw bersama Toonkunstkoor Amsterdam membawakan Symphony of Psalms yang dilaras ulang untuk dua piano, dirangkai kemudian dengan tiga gubahan liturgi Rusia akapela Bogoroditse Djevo, Veruyudan Otche Nash.

Gubahan dan larasan yang mengangkat teks mazmur mungkin sering sekali kita dengar. Tapi Simfoni Mazmur-nya Stravinsky sama sekali lain. Ia mengaku bahwa ia tidak berniat menggubah musik simfonik dengan menyertakan teks mazmur di dalamnya. Alih-alih, gubahan ini adalah nyanyian mazmur yang ia simfonikan. Coba dengarkan Monteverdi Choir (John Gardiner) dan London Symphony Orchestra dengan sempurna mengeksekusi Symphony of Psalms di Spotify (track nomor 5-7). Gubahan ini ia bingkai dalam sistem oktatonik (nah lho, apaan lagi tuh?), yaitu tangga nada yang terdiri atas 8 nada, tapi biasanya merupakan pergantian interval penuh dan paruh. Nah, gw nggak berniat membahas teori musik, tapi rasanya teks mazmur yang diangkat Stravinsky dalam gubahan ini menarik untuk gw sarikan.

Dari bagian pertama:

Exaudi orationem meam, Domine, et deprecationem meam. Auribus percipe lacrimas meas. Ne sileas.
Quoniam advena ego sum apud te et peregrinus, sicut omnes patres mei.
Remitte mihi, ut refrigerer prius quam abeam et amplius non ero.

Dengarkanlah doaku, ya TUHAN, dan berilah telinga kepada teriakku minta tolong, janganlah berdiam diri melihat air mataku!
Sebab aku menumpang pada-Mu, aku pendatang seperti semua nenek moyangku.
Alihkanlah pandangan-Mu dari padaku, supaya aku bersukacita sebelum aku pergi dan tidak ada lagi!

(Mazmur 39:12-14)

Musik oktatonik ini akan terdengar sama sekali berbeda dengan gubahan liturgi Rusia berikut. Stravinsky menulis 3 gubahan sakral pendek yang dianggap oleh para terpelajar musik sebagai manifestasi spiritualitas Stravinsky yang sempat pudar pada usia mudanya. Ketiga karya pendek ini, yaitu Doa Bapa Kami, Salam Maria, dan Kredo, digubah dalam kerangka musik yang lebih konvensional dan ‘ramah-penyanyi’. Selain pelafalan bahasa Rusia dalam Kredo yang rancak, tidak ada kesulitan berarti dalam mengolah lagu-lagu ini. Coba simak The Gregg Smith Singers (Robert Craft) membawakan 3 Russian Sacred Choruses.

Selain komposisi di atas, akhir tahun ini, sebagai bagian dari program musik Rusia, Toonkunstkoor Amsterdam juga akan membawakan gubahan Stravinsky yang sama sekali lain, Les Noces, sebuah musik balet yang berkisah seputar pesta pernikahan a la  Rusia. Yang ini lain kali deh gw bahas. Musik balet yang ajaib ini bisa kalian lihat di YouTube. TKA akan menyanyikannya dalam bahasa Perancis.

In Stravinsky’s words:

‘Music is given to us specifically to make order of things, to move from an anarchic, individualistic state to a regulated, perfectly conscious one, which alone ensures vitality and durability.’

— Igor Stravinsky

Mengapa semua orang seharusnya berpaduan suara, kata ilmuwan

Sejatinya, blog ini ditulis untuk berbagi pengalaman, wawasan, gagasan, dan keberagaman musik paduan suara. Tetapi lebih dari itu, juga supaya semua orang tertarik untuk bernyanyi di paduan suara. Mengapa? Ini argumentasinya.

Pada tahun 2010, sebagai bagian dari mata kuliah Akreditasi Pembelajaran Eksperiensial Lampau (Accreditation of Prior Experiential Learning, APEL), gw menulis portofolio akademik mengenai musik paduan suara dalam kaitannya dengan pencapaian ilmiah. Esai sepanjang 5000 kata ini memuat analisis biografis gw sendiri, sejak masa kecil yang gw habiskan di Tanah Parahyangan hingga masa tinggal sebagai mahasiswa pascasarjana di Negeri Antah Berantah pada waktu itu. Pertanyaan inti yang ingin gw selidiki dalam tulisan tersebut adalah: Bagaimana musik memberi pengaruh positif dalam pencapaian ilmiah? Nah, sebagai bagian dari proses tinjauan pustaka, gw menemukan banyak sekali kajian, penelitian, dan penemuan saintifik yang ternyata menjelaskan mengapa selama ini gw hanya merasakan manfaat dari musik paduan suara. Gw pengen banget berbagi hasil kajian ini karena gw rasa ini penting dan sangat menarik.

Bernyanyi dalam paduan suara itu menyehatkan

Sebuah studi oleh sekelompok ilmuwan dari Inggris dan Australia (Clift et al., 2007) menunjukkan bagaimana nyanyi paduan suara berdampak positif terhadap kualitas hidup, kesejahteraan, dan kesehatan. Riset yang melibatkan lebih dari 600 penyanyi paduan suara dari seantero Inggris tersebut memberikan akun empiris bagaimana mereka yang kesehatan psikologisnya relatif rendah memperoleh manfaat dari nyanyi paduan suara. Secara spesifik, empat kelompok berikut memperoleh manfaat paling besar dari nyanyi paduan suara:

  1. Mereka yang memiliki masalah kesehatan mental berkepanjangan
  2. Mereka yang memiliki masalah signifikan dalam hubungan/keluarga
  3. Mereka yang memiliki masalah kesehatan fisik
  4. Mereka yang sedang berduka karena kematian seseorang

Lebih jauh, penelitian ini juga menjelaskan bagaimana persisnya manfaat ini bekerja pada penyanyi. Para ilmuwan dari Universitas Canterbury Christ Church, Kolese Musik Royal Northern dan Universitas Griffith ini mengungkap enam “mekanisme membangun” dalam proses nyanyi paduan suara, yaitu:

  • efek positif
  • perhatian yang terfokus
  • pernapasan mendalam
  • dukungan sosial
  • rangsangan kognitif
  • komitmen teratur

Bernyanyi dalam paduan suara itu bermanfaat untuk kestabilan emosi

Dalam konteks yang berbeda, lima ilmuwan dari Jurusan Pendidikan Musik dan Jurusan Psikologi Universitas Johann Wolfgang Goethe di Jerman (Kreutz et al., 2004) juga mengungkap manfaat nyanyi paduan suara bagi kestabilan emosi. Berbeda dengan studi di atas yang lebih mengandalkan pengalaman anekdotal, studi para ilmuwan Jerman ini juga menyelidiki mekanisme fisiologis tubuh manusia dalam hubungannya dengan nyanyi paduan suara. Secara terperinci dan meyakinkan, para peneliti ini memaparkan bagaimana sekresi hormon Imunoglobulin A dan kortisol yang bertanggung jawab untuk kestabilan emosi bekerja ketika kita bernyanyi dalam paduan suara. Klaim mereka adalah berikut:

Nyanyi paduan suara menyebabkan peningkatan sekresi hormon S-Ig A, sementara efek negatif berkurang.

Menarik untuk diketahui, Kreutz dan rekan juga meneliti bagaimana mendengarkan musik paduan suara juga memberikan manfaat positif, yang ditunjukkan oleh menurunnya sekresi hormon kortisol, yang diproduksi oleh tubuh ketika kita mengalami stres. Secara konklusif, penelitian ini menemukan hubungan antara nyanyi paduan suara dengan kesehatan emosional dan kekebalan tubuh, yang ditandai oleh perubahan sekresi hormonal.

Bernyanyi paduan suara itu meningkatkan kecerdasan interpersonal

Kita mungkin pernah mendengar istilah kecerdasan majemuk (multiple intelligence) yang digagas oleh Howard Gardner pada tahun 1980-an. Dalam argumennya, Gardner menantang kepercayaan lama yang cenderung menyederhanakan istilah kecerdasan hanya berdasarkan IQ saja. Ia menegaskan bahwa kecerdasan seyogyanya ditinjau dari pelbagai sudut pandang, yaitu: linguistik, logis-matematis, spasial, kinestetik, musikal, interpersonal, intrapersonal and naturalis. Gw tentunya tidak berniat menjabarkan teori ini satu per satu, tetapi kita dengan segera dapat mengenali kecerdasan musikal dan berasumsi bahwa nyanyi paduan suara tentunya berhubungan langsung dengan salah satu dimensi tersebut. Tetapi ada yang lain.

Pada tahun 2005, Bailey & Davidson dari Jurusan Musik Universitas Sheffield di Inggris menerbitkan hasil penelitian mereka. Kedua ilmuwan ini memfokuskan diri pada sekelompok tuna wisma terpinggirkan dan sekelompok penyanyi dari masyarakat kelas menengah. Seperti kedua hasil penelitian di atas, studi ini juga mengkonfirmasi efek positif nyanyi paduan suara terhadap kestabilan emosi. Tapi lebih dari itu, kelompok pertama menganggap bahwa bernyanyi dalam paduan suara telah membantu mereka dalam berhubungan sosial dan interpersonal. Hasil penelitian ini menyiratkan bahwa musik paduan suara, yang mungkin oleh beberapa orang dianggap sebagai musik elitis dan eksklusif, yang hanya bisa dinikmati dan digeluti oleh orang-orang tertentu saja (masyarakat gereja? mahasiswa? murid-murid sekolah vokal? orang kota? orang Eropa? dsb.), sejatinya juga bermanfaat untuk semua orang, tak terkecuali.

Dalam untaian kata sendiri:

When all of them seemed to turn out uneventful, I fell into the depth of despair. Fortunately enough for me, all through those uncertain times, music had always been my way of seeking refuge from the pressure of my goals and, thus, resuming the balance, the equilibrium. (Agustian 2010)

Kutipan tersebut diambil dari portofolio yang gw sebutkan di atas. Diawali dengan beberapa kali tatapmuka dengan Anz Buzzoni, dosen di universitas yang di Belanda, dimatangkan selama masa tinggal singkat di Republik Ceko, esai ini baru selesai ketika gw kembali ke Inggris tahun 2010. Dr Sulochini Pather, programme convener gw dari Roehampton University, memberi gw nilai A gendut untuk esai ini ^^. Dia membacakan sepenggal esai ini pada malam terakhir konferensi internasional mengenai pendidikan inklusif di Grove House, gedung yang sama tempat gw ujian sidang disertasi. Tiap kali gw mengingat momen ini, gw selalu terharu, karena musik telah menjadi bagian yang sangat penting dalam hidup gw. Meskipun gw nggak pernah berniat mengambil pendidikan formal dalam bidang musik, atau menjadikan musik sebagai mata pencaharian, gw tahu bahwa kecintaan gw pada musik paduan suara menjadi alasan yang cukup untuk gw meluangkan waktu ekstra di luar pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Dalam untaian kata Paul McCartney:

I love to hear a choir. I love the humanity to see the faces of real people devoting themselves to a piece of music. I like the teamwork. It makes me feel optimistic about the human race when I see them cooperating like that.

-Paul McCartney

Nah, silakan sebarkan kabar gembira ini: nyanyi di paduan suara yuuuuuuuu.

Verdi dan “Setannya Misa”

Giuseppe Verdi dikenal sebagai komponis Italia kala Romantik yang banyak sekali menggubah musik opera. Sebut saja judul-judul opera heroik macam Rigoletto dan Aida. Atau yang sangat sensual dan profan macam La Traviata. Kalau judul-judul tersebut terdengar terlalu kolosal, mungkin lagu riang gembira seperti Libiamo ne’ lieti calici atau La donna è mobile setidaknya pernah kita dengar dinyanyikan oleh Aning Katamsi dan Christopher Abimanyu dengan iringan Twilite Orchestra (Addie MS). Verdi dianggap sebagai salah satu komponis opera paling berpengaruh pada abad ke-19. Tidak hanya itu, Verdi juga berperan aktif secara politik dalam penyatuan kembali semenanjung Italia (Risorgimento).

Sebagai seorang agnostik cenderung ateis, Verdi menggubah nyaris hanya musik sekuler saja. Terdapat sangat sedikit referensi religiusitas dalam karya-karyanya. Salah satu dari sedikit gubahan sakral Verdi adalah Messa da Requiem, yang ia tulis untuk mengenang kepergian Alessandro Manzoni, seorang penyair dan politikus Italia yang sangat ia kagumi. Demikianlah, sebuah musik kolosal misa pemakaman sepanjang 1.5 jam lahir dari tangan seorang komponis besar dari kampung Le Roncole ini. Sebuah musik kolosal yang oleh sang komponis sendiri disebut sebagai “that devil of a Mass”.

Premier “Messa da Requiem” di Teater La Scala, 1874, dengan Verdi sendiri sebagai pengaba

Requiem Verdi ditampilkan untuk pertama kalinya di sebuah gereja di Milan pada 22 Mei 1874. Tiga hari kemudian, konser yang sama diulang di Teater La Scala, diaba langsung oleh sang komponis. Setelah itu, komposisi untuk 4 solois, paduan suara dan orkestra ini lebih banyak ditampilkan di teater dan gedung konser ketimbang gereja, sehingga masyarakat musik cenderung menganggap premier Requiem Verdi adalah penampilan di Teater La Scala, yang diabadikan oleh Osvaldo Tofani dalam ilustrasi di atas.

Para terpelajar musik beranggapan bahwa Verdi berniat untuk memperkenalkan musik opera ke dalam musik gereja melalui Messa da Requiem. Lebih dari itu, ia juga membuat semacam pernyataan musikal terhadap rasa kebangsaannya sebagai seorang Italia. Namun, ada semacam pertentangan yang bisa kita telusuri dalam gubahan ini: antara sakrilegi dan profanitas, antara harapan kedamaian abadi khas musik pemakaman dan teror mengerikan Hari Penghakiman dalam Dies Irae. Verdi tampaknya tidak berniat menciptakan suasana wingit penuh janji manis akan kehidupan setelah mati. Alih-alih, ia melukiskan kematian itu sendiri sebagai sesuatu yang sama sekali tidak menenangkan.

(cuplikan dari BBC Proms 2011: Semyon Bychkov mengaba BBC Symphony Chorus, BBC National Chorus of Wales, London Philharmonic Choir, dan BBC Symphony Orchestra)

Verdi tanpa sungkan menggunakan ritmus yang sangat kuat menghentak. Pada bagian lain, kita juga disuguhi garis melodi yang begitu indah. Pertentangan antara dua kekuatan emosi ini menjadi salah satu ciri khas opera Verdi yang juga kita temukan pada Requiem-nya.  Coba simak Lacrimosa dinyanyikan oleh mezzosoprano Fiorenza Cossotto, bass Nikolai Ghiaurov, tenor Luciano Pavarotti, soprano Leontyn Price, dan Chorus of La Scala Milan, di bawah baton konduktor fenomenal Herbert von Karajan pada tahun 1967 berikut.

Pada bagian Sanctus, Verdi mengedepankan hanya paduan suara, dalam larasan kompleks fuga untuk 8 suara. Dirangkai kemudian dengan Agnus Dei yang surgawi. Kedua bagian ini akan sangat kontras jika dibandingkan dengan Libera Me yang menjadi pamungkas keseluruhan gubahan akbar ini. Mereka yang berharap Libera Me menjadi sebuah penutup Requiem yang memerdekakan mungkin akan harus kecewa dengan ambiguitas Verdi. Harapan akan kebebasan dari maut yang menyakitkan mungkin akan menjadi sebuah ilusi kabur ditelan kabut, ketika kita dihadapkan pada komposisi ini. Soprano jelita Angela Gheorghiu membawakan keserbatakpastian ini dengan sangat baik:

Nah, demikianlah. Sebuah gubahan musik yang sama sekali tidak sederhana, tidak biasa, tetapi indah luar biasa. Untuk mereka yang mendalami ilmu vokal atau mengkhususkan diri dalam musik opera, rasanya Messa da Requiem Verdi sangat relevan untuk dimasukkan ke dalam repertoar. Gw seneng banget berkesempatan mengapresiasi gubahan ini bersama Toonkunstkoor Amsterdam dan Philharmonischer Chor Duisburg September mendatang di Jerman, diaba oleh Giordano Bellincampi. Bernyanyi bersama kami empat solis Maria Jose Siri, Susanne Resmark, Antonello Palombi, dan Stephen Milling.

Di YouTube kita bisa menemukan cukup banyak video konser utuh Requiem Verdi. Gw pilihin deh satu ^^ dari sang Herbert von Karajan dan Pavarotti waktu masih muda. Enjoy!