Konser Kedua bersama Kamerkoor Vocoza

Vocoza

Vocoza

Mo cerita dikit ya. ^^ Jadi, seperti beberapa temen tau, di sini gue gabung sama paduan suara kecil (sekitar 30 penyanyi), namanya Kamerkoor Vocoza (singkatan Vondelpark Concertgebouw Zangers) di bawah direksi Sanne Nieuwenhuijsen. Nah, hari ini kita baru aja selesai Repetitieweekend (Latihan Akhir Minggu). Setiap tahun sekitar awal musim semi, Vocoza sengaja menyewa sebuah hall untuk dipakai latihan seharian selama dua hari berturut-turut. Total jam tatap muka sekitar 15 jam. Kejar tayang deh. Tapi gue suka pisan sama program Latihan Akhir Minggu ini, karena kalau latihan seharian kayak gini, semua repertoar untuk konser kami bulan Mei nanti terbahas.

Tahun ini Vocoza mengadakan Latihan Akhir Minggu di Drommedaris (www.drom.nl), sebuah bangunan monumental dari abad ke 16 di Enkhuizen, kota pelabuhan kecil di tepi IJsselmeer (salah satu danau bikinan orang Belanda, yang sebenarnya bagian dari Laut Utara itu). Beberapa dari kami menginap di Enkhuizen malam ini, tapi gue memilih untuk pulang ke Amsterdam karena Senen gue ada konsultasi riset.

Untuk konser bulan Mei nanti, yang judulnya terdengar sangat manis, “M&M’s” (ya, as in M&M’s chocolate ^^ mmm… yummy). Dinamai begitu karena konser ini menampilkan 4 komposer yang nama (belakang-) nya dimulai dengan huruf M: Frank MARTIN, Gustav MAHLER, Bohuslav MARTINU, dan Felix MENDELSSOHN. (Belakangan judul tersebut diganti menjadi “Tussen mij en God”) Konser kali ini bertema sakral, dengan Misa untuk Paduan Suara Ganda-nya Martin yang spektakuler itu; aransemen Mahler untuk 16 suara; 4 lagu tentang Maria dalam bahasa Ceko; dan 3 mazmur-nya Mendelssohn. Repertoarnya gue banget deh. Tentunya, beberapa lagu pernah gue konserin sama padsu di Indonesia sebelumnya (Twilite Chorus tahun 2005 lalu, sama BMS tahun 2008, dan sama AgriaSwara di Jerman –tapi nggak jadi dinyanyiin karena kita nggak masuk final :P). Ayo, ayo, siapa yang tahu judulnya apa? ^^

Kamerkoor Vocoza: Kyrie (Frank Martin)

Dari konser ke konser, Vocoza gue bilang sangat kreatif, berani bereksperimen, meskipun beberapa orang bilang agak ambisius. Gue sih suka. Terus, yang paling gue suka dari format konser mereka adalah mereka sangat menaruh perhatian pada detail. Setiap lagu dibahas dari sudut pandang filosofis. Konduktornya bercerita tentang sejarah komposer dan komposisi. SEMUA lagu selalu diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, sehingga semua penyanyi tau apa yang dinyanyiin. Sering, terjemahan syair ini juga dinyanyikan dalam latihan. Dalam padsu-padsu yang pernah gue ikutin, detail ini tidak pernah bener-bener digarap. Hal lain yang juga sangat gue suka adalah sang konduktor bener-bener punya konsep yang solid mengenai tema konser. Ia bisa dengan sangat fasih menggambarkan repertoar konser sebagai lukisan; yang kemudian juga ditulis dalam buku program. Jadi, buku program konser Vocoza bukan cuma kasi liat profil paduan suara, judul lagu dan nama-nama penyanyi saja. Tapi juga artikel singkat mengenai keseluruhan program sebagai sebuah cerita yang hidup. Gue sampe nggak habis pikir, kreatif bener ya orang-orang ini berimajinasi.

Vocoza secara rutin mengadakan konser minimal 2 kali setahun. Vocoza, dan juga kebanyakan paduan suara di Belanda, tidak tertarik mengikuti kompetisi paduan suara, seperti yang kita amati di Indonesia. Tema konser berikutnya sudah dipikirkan dari sekarang. Kata sang konduktor sih, akhir tahun nanti kami konser lagi, bawain komposisi kontemporer yang memakai syair-syair Shakespeare dan Goethe. Hmmm… sounds yummy! ^^

Segitu dulu yaaa, ceritanya. Kembali ke proposal penelitian. Yuk mariiii.

Advertisements

Tanggapi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s