Pamit

Dari milis AgriaSwara IPB (18 Juni 2009)

Until we meet again

Until we meet again

Dear Folks,

Senang yaaah, Konser Tahunan 2009 “Eulogy to the Joy of Singing” udah kita tampilkan dengan cukup baik. Pastinya masih ada kurang di sana-sini. Tapi, jangan khawatir, kesenangan bernyanyi gak akan berkurang kok selama kalian terus menjaga antusiasme kalian untuk terus memperbaiki diri. Selama kalian mencintai apa yang kalian lakukan, kekurangan dari setiap penampilan akan jadi pelajaran berharga buat penampilan berikutnya kok. Kan masih ada konser tahun depan. Masih ada kompetisi di Italia. Masih ada konser tahun depannya lagi. Mungkin masih ada konser di luar negeri yang lainnya. Hawaii mungkin? ^-^

Kemaren malem Pak Victor dateng. Senangnya bertemu dia lagi setelah sekitar 7 tahun gak pernah ketemu. Dia agak ragu mengenali gw. Tapi, ternyata dia masih inget, gw pernah menjadi DIVO tenor pada zamannya. Hehehehehe.

Hingga konser kemaren, gw gak pernah sekalipun melewatkan konser tahunan AgriaSwara. Mulai dengan proyek rintisan konser paduan suara berformat klasik pada tahun 2002 (The Odyssey) bersama Ingrid, lalu secara anual, kita mulai menyelenggarakan konser yang boleh dibilang mengikuti format yang bisa dibandingkan dengan paduan suara lain. Tersebutlah kemudian Chantelier Charms (2003), by Courtesy of… (2003), Fruehlingsstimmen (2004), Euphony (2004), A Souvenir from Germany (2005), Vox Versatilus (2006), GOLDen Journey (2007), Rhine-Danubian Cruise (2008). Wah! Gw bisa bilang, gw bangga bertumbuh dan berkembang bersama AgriaSwara. Gw belajar dari NOL. Dari gak bisa baca not angka sama sekali, lalu mulai belajar baca not balok dari dasar, sampai bisa prima vista sekarang ini. Wah! Perjalanan musikal yang sangat membebaskan. Gw sebut membebaskan, karena gw nih tipe orang yang menjadikan musik (dan seni pada umumnya) sebagai alat bantu menyeimbangkan psike gw.

Musik adalah homeostasis gw.

Untuk semua ini, gw berterima kasih pada musik. Rasanya, untuk sekitar 50 tahun ke depan, gw akan terus melakukan ini.

Tapi, untuk sementara, gw mo off dulu nih dari hingar bingar dunia pertunjukan.

Jadi, ceritanya mo pamitan.

Beberapa temen-temen mungkin dah tahu. Selama setahun ke depan, mulai Agustus 2009, gw akan kembali menjadi mahasiswa lagi, duduk di bangku kuliah, memegang catatan dan menyimak kuliah seorang profesor dengan penuh perhatian. [emang iya? hehehe]

AlhamduliLlah, tahun ini, aplikasi beasiswa gw lolos juga. Dengan semangat 45, gw akan mendalami bidang Pendidikan Kebutuhan Khusus (spesialisasi untuk anak-anak yang mengalami kesulitan belajar dan bersosialisasi, termasuk anak-anak autis, ADHD, penyandang cacat, dan teman-temannya) . Gw akan sekolah pada konsorsium universitas- universitas di London, Inggris (Roehampton University), Tilburg, Belanda (Fontys Hogescholen) dan Praha, Republik Ceko (Univerzita Karlova). Penyandang dana adalah Erasmus Mundus (Komisi Uni Eropa).

Sekarang lagi riweuh ngurus dokumen perjalanan dan persiapan sebelum keberangkatan. Mohon doa dari teman-teman semuanya yaaaah.

Sudah dulu. Lain kali disambung lagi.

Sukses buat kompetisi di Italia. Tahun ini Hendra absen dulu yah. [Seneng dooong, jatah tenor 1 lowong 1, hehehehhe… . Becanda ding. Gw belum tentu lolos audisi juga kok 😉 ]

Udah ah, mo ngeprint Accomodation Form dulu.

Daaaag

Jurnal Perjalanan BMS 2009 (Austria, Slovenia, Hongaria)

Menikmati lezatnya gado-gado pada malam hari bertabur bintang gemintang di pelataran Neue Hofburg (Imperial Palace), Wina, Austria, bukanlah pengalaman menakjubkan yang bisa kita alami setiap hari. Lezat, tak terkira. Apalagi mengetahui bahwa akhirnya, setelah berhari-hari bergulat dengan kerja keras demi sebuah kesempurnaan artistik, selesailah rangkaian tur konser dan kompetisi Batavia Madrigal Singers di Eropa tahun ini. Tiga program kompetisi, tiga negara, kami – atau paling tidak, aku – belajar banyak hal bagaimana menyatukan visi 35 orang penyanyi dengan isi kepala yang berbeda-beda bukanlah perkara gampang. Ada banyak sekali momen pemacu adrenalin yang kemudian membawaku secara pribadi pada kematangan dan ketercapaian. Inilah sepenggal cerita yang akan menjadi bagian dari ‘buku besar’ perjalananku. Bermula di Jakarta.

400 Hingga 1100 Dollar Amerika … Sanggup?

Rencana BMS mengikuti kompetisi di Eropa tahun 2009 sudah terendus dari tahun lalu. Pascakonser “Eternal Light” di Jakarta pada akhir Oktober 2008, barulah terang bagi kami bahwa Slovenia adalah target BMS tahun ini.

Semangat dan gelegak untuk berkompetisi mulai menyelusup aliran darah kami. Namun, ketika email pertama dating dari project manager kami, aku tidak lantas berjingkrak sambil berteriak “Iya!”. Isinya lumayan jelas, tegas dan ringkas: Program Kompetisi di Slovenia dan Tur Konser di Hongaria dan Austria… total jendral, USD 400-1100 per penyanyi, bergantung pada hasil audisi dan jam terbang menjadi anggota aktif BMS.

Waduh! Cukup nggak ya?

Terdengar agak skeptis pada awalnya, tapi jujur saja, buat aku pada saat ini, dengan rencana dan prioritasku hingga lima bulan ke depan, jumlah sebesar itu agak-agak unaffordable. Apalagi mengingat bahwa seharusnya ada pihak ketiga yang menanggung itu semua (baca: sponsor dan patron). Tapi, mau bagaimana lagi, BMS tidak bisa disamakan dengan AgriaSwara yang secara organisatoris berada di bawah institusi yang lebih punya taring menggigit sponsor. Dan pada saat-saat seperti itulah aku benar-benar merasa betapa kurangnya perhatian pemerintah (secara finansial, tegas saja) pada pekerja-pekerja seni lepasan macam kami. Padahal, judulnya tetap koq, membawa nama Negara Indonesia di kancah antarbangsa, bukan hanya Negara Daksa (tempat kami latihan, di daerah Senopati, Jakarta Selatan). Kelak, dalam nada guyon, kadang kami bilang saja kalau kami adalah perwakilan Negara Daksa, saking sebelnya sama ketidakpedulian orang-orang pemerintahan Negara Indonesia itu. Huh!

Tapi, apalah, aku putuskan juga untuk menjajal kemampuanku di kompetisi ini. Dengan ancer-ancer bayangan uang partisipasi yang harus aku bayar, aku mulai ikut latihan dari bulan Januari. Sangat, sangat mendesak, memang. Aku sampai heran sendiri, apakah BMS selalu seperti ini. Persiapan hanya 3 bulan untuk kompetisi setaraf Slovenia.

10. mednarodno zborovsko tekmovanje maribor 2009 – Apaan tuh?

Inilah nama kompetisi yang kami ikuti tahun ini: 10th International Choir Competition Maribor 2009. Kompetisi ini adalah salah satu dari rangkaian kompetisi paling prestisius di Eropa saat ini, yaitu European Grand Prix for Choral Singing. Bersama kompetisi Maribor, Slovenia, tersebutlah juga Concorso Polifonico Guido d’Arezzo, Arezzo, Italia; Bela Bartok Nemzetkozi Korusverseny, Debrecen, Hongaria; Florilege Vocal de Tours, Tours, Perancis; G. Dimitrov May Choir Competition, Varna, Bulgaria; dan Certamen Coral de Tolosa, Negeri Bask, Spanyol.

10th Maribor International Choir Competition

10th Maribor International Choir Competition

Berbeda dengan kompetisi Musica Mundi yang boleh dibilang tak membatasi jumlah dan kualifikasi peserta, kompetisi-kompetisi European Grand Prix terkenal sangat demanding. Mereka hanya memilih sekitar 8 hingga 12 peserta saja dari seluruh dunia yang  mereka perbolehkan ikut. Untuk kompetisi Maribor Slovenia tahun ini, BMS adalah satu-satunya perwakilan dari negara-negara Asia. Berikut adalah seluruh pesertanya:

  1. Coro feminile EOS (female choir), Italia
  2. Akademiska Sängföringen (male choir), Finlandia
  3. Batavia Madrigal Singers, Indonesia
  4. The Mornington Singers, Irlandia
  5. Sõla, Latvia
  6. Canticum Novum Chamber Choir, Hongaria
  7. Victoria Chamber Choir, Hongaria
  8. The Academic Choir »Divina armonie«, Romania
  9. Komorni zbor AVE, Slovenia
  10. Zbor sv. Nikolaja, Slovenia
  11. KUP Taldea, Spanyol
  12. Falu Kammarkör, Swedia

Melihat profil masing-masing peserta saja, wah! Rasanya sudah membuat keringat dingin. Kebanyakan dari mereka memang sudah sangat established sebagai paduan suara (dengan anggota yang solid, nyaris tidak berganti-ganti) selama bertahun-tahun bahkan lebih dari seratus tahun. Mereka sudah merilis banyak CD rekaman yang dijual secara bebas. Dan tentunya, langganan juara di mana-mana dan tur konser keliling dunia.

Jadi, boleh dibayangkan bagaimana pressure kami selama mengikuti kompetisi ini. Setiap menit adalah siksaan. Siksaan yang nikmat! Sebab begitulah, kami dituntut untuk mencapai kesemperunaan musikal dan artistik dari latihan ke latihan. Tetapi, sekali kesempurnaan itu tercapai, reward-nya tak terkira. Dan terbayarlah seluruh keluh kesah, kerja keras kami untuk mencapai itu.

Kalian harus merasakan sendiri bagaimana ekstasi kosmik itu terjadi. Seperti orgasme! Mungkin lebih dahsyat dari itu. Ah, nikmat sangat lah!

Who’s Who

Ini adalah program BMS untuk kompetisi kali ini:

Konser Pembukaan

  • Pontas Purba (1953) – Sin Sin Sibatu Manikam
  • Avip Priatna (1964) & Ivan Yohan (1975) – Yamko Rambe Yamko

Program Wajib

  • Iacobus Handl-Gallus (1550-1591) – Sancta et immaculata virginitas
  • Josef Rheinberger (1839-1901) – Salve Regina
  • Lojze Lebič (1934) – Vem, da je zopet pomlad

Program Bebas

  • Claudio Monteverdi (1567-1643) – A un giro sol de begl’occhi
  • Eric Whitacre (1970) – Hope, faith, life, love…
  • Ryan Cayabyab (1954) – Gloria

Grand Prix (jika lolos ke lima besar)

  • Johannes Brahms (1933-1897) – Nachtwache II, Op. 104 Nr. 2
  • Claude Debussy (1862-1918) – Dieu! Qu’il la  fait bon regarder
  • Morten Lauridsen (1943) – Ov’e Lass, il bel viso?
  • Paul McCartney (1942) & John Lennon (1940-1980) – Honey Pie
  • Avip Priatna (1964) & A Bambang Jusana (1970) – Janger

Dan ini adalah para penyanyi yang berangkat:

Soprano

  1. Fitri, Obi, Heidy, Tina, Deasy, Jeje
  2. Agnes, Ines, Devi, Christine, Renna

Alto

  1. Lia, Dosma, Tanti, Nuniek
  2. Joyce, Noni, Veby, Stella

Tenor

  1. Ipul, Arvin, Ocep, Hendra, Yosef, Anton
  2. Adri, Cahyo, Michael

Bass

  1. Harry, Adit, Aldy
  2. Pepi, Harland, Charles, Reyhan

Lebih dari setengahnya adalah anak baru (termasuk yang nulis). Semua penyanyi berasal dari latar belakang yang sama sekali beda! Beda alma mater PSM (Unpar, UI, IPB, ITB, UPH, Unpad, Atamajaya, Brawijaya, Binus, Perbanas, Gunadarma, Maranatha), beda usia (20 hingga 40 tahun), hingga beda profesi (dokter, IT, dosen, koordinator Matematika <– narsis, hehehe, guru vokal, pegawai bank swasta, kontraktor, mahasiswa, bahkan ibu rumah tangga). Beda agama dan beda suku mah udah biasa kali ya. Tapi, lihatlah peta kekuatan tim ini. Sangat beragam!

Dan begitulah, dari hari ke hari, kami benar-benar ditempa, persis seperti besi tuang yang sudah berbentuk namun belum halus pahatannya. Seperti batu permata yang sudah berkilauan pada hakikatnya, tapi masih harus digosok… berkali-kali… dan berkali-kali.

Ngamen di Jakarta Demi Sepeser Euro

Perhitungan anggaran menurut manajemen BMS adalah USD 60 000. Sekitar sepertiganya adalah urunan penyanyi dan konduktor, subsidi silang. (Fewwh! Banyak yah?) Sisanya? Patron, sponsor dan donatur. Sekedar mengemis? Tidak juga. Kami ngamen. Dari tempat ke tempat, sekalian uji coba repertoar dan mempertinggi jam terbang manggung tim kompetisi.

Itu penting, sebab seringkali tim kompetisi gagal karena mereka (sebagai tim yang berangkat) jarang memonitor kemajuan tim dengan manggung dan merekam hasil penampilannya. Dari konser-konser prakompetisi inilah kami tahu sejauh apa kami telah mencapai choral soundingbalancing antarsuara, intonasi, keseragaman dinamika, hingga kekompakan koerografi. Tanpa konser-konser prakompetisi, entah apalah jadinya ketika kami harus tampil di depan juri nanti.

Dan, tentunya, ada laaah hasilnya. Lumayan, buat nambah-nambah beliin pisang Cavendish buat tim di Eropa nanti, atau beliin kebab di Slovenia ^-^. Yang jelas, satu konser di gereja Mathias Cinere, satu di GKI Kwitang, satu di Djakarta Theater, satu di mansion mewahnya boss PT Djarum, dan satu di GoetheHaus, telah membantu kami menakar sesiap apa kami untuk kompetisi dan tur konser ini.

Urusan Kecil di Tempat Kerja

Ada banyak pertanyaan mengenai bagaimana para penyanyi yang sebenarnya berprofesi bukan penyanyi ini menyelesaikan urusan kecilnya di tempat kerja, berkaitan dengan 7 hari kerja (atau lebih buat yang extend tinggal lebih lama di Eropa) yang harus mereka tinggalkan.

Aku tidak punya jawaban yang sama untuk setiap penyanyi, karena profesi kami juga tidak sama. Tapi buat aku sendiri, sesederhana ini: potong gaji.

(And yet… another sacrifice.)

Mekanisme ini harus aku tempuh karena di sekolah, aku sebenarnya memiliki jatah 11 hari cuti dalam setahun, tapi alokasinya adalah untuk compassionate leave (sakit, dukacita, dan urusan keluarga). Jadi, terpaksalah, jauh-jauh hari aku harus mengurus hal ini dengan HRD. Dengan mekanisme seperti ini pulalah dulu aku menyelesaikan urusan kecilku dengan Sevilla School waktu pergi dengan AgriaSwara ke Budapest dua tahun yang lalu.

Lucunya, tidak semua orang di sekolahku mengetahui situasi ini. Dan ketika ada omongan-omongan miring nggak penting di belakangku, aku meradang juga.

“Eh, gue pergi ke Eropa bukan buat santai-santai juga, tau? Gue pertaruhin nama baik bangsa! Gue nggak makan gaji buta!”

Agak norak juga memang, orang-orang yang hanya mengetahui cerita dari satu sisi ini saja. Tapi, sudahlah, kadang, dalam situasi seperti inilah kesabaran dan kedewasaan kita diuji.

Tantangan Musikal: Gallus vs Brahms, Cayabyab vs The Beatles

Sebagai penyanyi, anggota BMS dituntut untuk menjadi versatile alias serba bisa. Kendatipun mengusung nama Madrigal Singers, kami tidak hanya menyanyikan madrigal. Repertoar kami juga mencakup motet, misa, oratorio, opera,partsongs kala Romantik, komposisi kontemporer paling menantang, Broadway musicals, lagu-lagu jazz dan blues, gospel dan Negro spiritual, hingga folksong dari berbagai belahan dunia. Oleh sebab itulah, ketika program kompetisi dan tur konser ini diberikan kepada kami, konduktor selalu mengingatkan kami untuk mengetahui lebih dulu konsep vokal yang harus kami capai untuk setiap lagu.

Pada lagu pilihan wajib, Sancta et immaculata virginitas, misalnya. Sebelum mengeluarkan bunyi apa pun, kami sudah harus tahu bahwa pada lagu ini, suara harus terdengar ‘selangsing’ mungkin, sederhana, tanpa vibrato sama sekali. Beberapa penyanyi yang kebanyakan makan ular dan mie keriting agak kesulitan menekan ambisi vibrato mereka, hehehe. Pengalimatan yang sempurna membentuk pola-pola sinusoidal juga merupakan esensi lagu-lagu pada zaman ini. Baru tahu juga, karena Gallus adalah komposer berdarah Jermanik, kami tidak membaca ‘virGInitas’ sebagai‘virJInitas’, tapi tetap ‘virGInitas’, sesuai dengan pelafalan bahasa Jerman. Begitupun vokal oe dibunyikan seperti odengan umlaut dalam bahasa Jerman.

Hal yang sama berlaku pada repertoar Romantik wajib yang kami pilih, yaitu Salve Regina. Meskipun syair berbahasa Latin, tapi karena Rheinberger adalah komposer Jerman, semua sukukata ‘ge’ dan ‘gi’ dibaca seperti tulisannya. Bedanya, pada lagu ini, kontrasnya dinamik khas abad Romantik sangat dikedepankan.

Terlebih lagi di lagu Nachtwache II. Konsep bunyi pada karya-karya Brahms sudah jelas: sangat romantik, tapi tetap mengutamakan karakteristik melodinya yang songful; harmoni kaya gradasi di atas fondasi suara bass yang mapan dan bervolume.

Buat aku, tantangan terberat adalah lagu Gloria. Lagu ini sangat megah, dengan rentang dinamika dari ppp hingga fff. Harmoni merapat pada banyak bagian paling indah dalam lagu ini. Ornamen-ornamen acciacatura menambah ritmus rancak bernuansa Asia yang, celakanya, cenderung rawan labilitas nada. Terlebih pada bagian tengah, solo tenor (dinyanyikan dengan penuh tanggung jawab oleh Farman Purnama), menabrak progresi melodi bass yang berada di tangga nada mayor dengan melodinya sendiri yang meliuk-liuk di tangga nada minor. Seringkali kami gagal mempertahankan nada dasar tetap di tempatnya. Tapi begitulah, BMS memilih lagu ini sebagai highlight untuk program bebas.

Sistem kompetisi ini demikian menantang karena dari awal setiap peserta harus sudah menyiapkan 15 menit program musik a cappella untuk babak Grand Prix. Artinya, masuk atau pun tidak masuk 5 besar (finalis), kami tetap harus melatih repertoar untuk babak ini. Yang tidak masuk 5 besar tentunya akan merasa sedih karena mereka tidak berkesempatan menampilkan lagu-lagu mereka.

Konduktor kami sepertinya cukup adventuresome dalam hal memililh repertoar untuk program Grand Prix. Kelima lagu sama sekali berlainan. Brahms yang sangat romantik, dirangkai dengan Debussy (Dieu! Qu’il la fait bon regarder) yang manis sekali, khas komposisi Perancis akhir abad 19. Kemudian sebuah komposisi modern karya Lauridsen (Ov’e Lass, il bel viso?) yang sangat dramatis dan operatik. Lalu kami harus mengeset vokal kami menjadi jazzy pada lagu Beatles (Honey Pie). Terakhir, mungkin untuk alasan keberagaman repertoar DAN kemudahan latihan, Avip memilih Jangeraransemennya sendiri sebagai finale program ini. Tentu saja dengan koreografi, seperti biasa.

Tantangan berikutnya adalah bahasa. Keseluruhan program kompetisi yang dibawakan BMS mencakup 9 bahasa berbeda. Dan yang paling sulit adalah bahasa Slovenia! Apatah gerangan caranya membaca ‘Vzcve-‘ dalam satu suku kata? Untungnya, salah satu pasien dr Joyce (alto 2), adalah mantan duta besar yang kebetulan pernah tinggal di Slovenia. Dan didaulatlah beliau untuk mengajari kami lafal bahasa yang menarik tapi sulit itu.

Na vr tu je češnja vzcvetela.

Vse žarke je vase ujela.

Vem, da je, vem, prišla pomlad!

Pelacur Seni Berkostum Seksi… Yee-ha!

Malam terakhir sebelum keberangkatan BMS ke Eropa, kami dikumpulkan di negeri Daksa tercinta, untuk mengambil kostum konser dan kompetisi. Ada 3 kostum berbeda yang harus kami bawa dalam kabin, satu kostum ungu rancangan Musa Widyatmoko yang kami pakai untuk Konser Prakompetisi “Sanguinis choraliensis!” di GoetheHaus. Satu kostum Bali. Dan satu kostum Dayak yang… aduh… seksi.

Agak-agak risih juga euy! Secara gue bukan golongan Adonis yang mendevosikan dirinya untuk workout di gym lima kali seminggu; yang suka menciumi lekukan bisep dan trisepnya setiap kali berdiri di depan cermin. Tapi, ya sudahlah, demi kemasan penampilan yang menarik, hajar aja broer!

Yang mengesankan dari proses pembuatan kostum ini adalah, sang konduktor, Avip Priatna, turun tangan susah payah mencarikan kain Bali dan velvet buat kami ke Tanah Abang, mencarikan bulu-bulu (entah ayam atau kalkun) buat hiasan kepala kami. Dengan bantuan Ipul juga, selesailah Mission Impossible membuat kostum etnik penuh detail dalam seminggu terakhir. Konsepnya cukup idealistis: festive, glamour, sexy… low cost.

Buset dah! Toronto Fashion Week lewat tuh!

Entahlah apa idealisme itu tercapai atau tidak, tapi aku sangat menghargai keterlibatan penuh konduktor dalam hal kecil seperti kostum. Bagaimana pun, kita tidak hanya ingin didengar, tapi juga dilihat.

Keberangkatan yang Tergesa-Gesa

Hari terakhir sebelum berangkat pada malam harinya, aku dimarahi di sekolah. Hiks hiks! Tapi, ya udah deh, beberapa orang memang SAMA SEKALI tidak bisa diharapkan dukungannya. Beruntung karena teman-teman dekatku di sekolah bersedia membantu situasiku saat itu. Untuk mereka, biasanya aku menyisihkan beberapa Euro-ku (yang tidak seberapa), untuk kubelikan oleh-oleh.

Pulang dari sekolah, setelah malam sebelumnya baru tidur jam 2 pagi untuk packing semua barang yang harus dibawa, dengan tergesa aku langsung berangkat menuju bandara.

Horee! Naik pesawat lagi!

Kegembiraan kanak-kanak seperti itu masih tak tertahankan meledak begitu saja setiap kali aku tebang dengan pesawat. Rasanya seperti kembali ke dalam ruang dan waktu, seperti ketika da Vinci mencoba mesin terbangnya untuk pertama kali.

Dengan penerbangan Emirates EK 357, berangkatlah tim penyanyi Batavia Madrigal Singers sebanyak 35 orang, plus konduktor, plus project manager, plus wartawan Kompas, plus dua penggembira ^-^ (Binu Sukaman dan A Hwa) menuju Eropa, lewat Dubai (transit selama 5 jam), mendarat di Wina, kemudian langsung berangkat ke Selatan menuju Maribor. Total, 24 jam perjalanan. Cape? Hyaeyyallaaaah!

Untungnya, di pesawat ada sistem ICE (information, communication, entertainment) yang cukup bisa membuat kami terhibur di antara waktu tidur kami yang terampas perbedaan zona waktu. Bisa nonton acara TV favorit, film-film dari zaman kakek-nenek hingga BlockBuster terbaru, mendengarkan musik dari segala genre, sampai telpon-telponan antarseat penumpang. Emirates OKeh banget deh!

Belum lagi perjalanan daratnya!

Somewhere between Vienna and Maribor

Somewhere between Vienna and Maribor

Bepergian di Eropa memang paling seru lewat jalan darat. Aku dengan penuh keingintahuan dan keriangan melewati bukit-bukit hijau dengan menara-menara katedral di kejauhan, melintasi perbatasan antarnegara, jembatan-jembatan dengan jurang dan ngarai yang dalam, melalui ladang gandum dan perkebunan kanola yang menguning. Spektakuler! Sepanjang jalan, theme song kami adalah:

“The hills are alive, with the Sound of Music…”

Kemudian, si kembar Agnes-Ines akan memecah keheningan sakral saat kami mengagumi penciptaan Tuhan itu dengan theme song mereka sendiri:

“Tanah airku Sloveniiiiaaaa, negeri elok amat kuuucintaaa…”

GRRR! Ketawa lagi. Sampai sakit perut menghadapi tingkah polah mereka yang tak pernah ada matinya.

Akan lekat dalam ingatanku seumur hidup, bahwa seringkali ada yang lebih berharga dalam hidup ketimbang pencapaian pribadi: kebersamaan untuk meraih sebuah tujuan.

Tidak setiap saat aku bisa merasakan hal itu. Dan untuk setiap detik yang terasa mencerahkan itu, aku mengucap syukur.

Kota Sepi yang Aneh

Diceritakanlah bahwa Maribor adalah kota terbesar kedua di Slovenia setelah Ljubljana, ibukotanya. Mohon jangan dibandingkan dengan, misalnya, Bandung adalah kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Terdapat hanya sekitar 2 juta populasi penduduk di keseluruhan Slovenia. Jadi, yang namanya kota terbesar kedua di sana lebih tampak seperti Sukabumi, atau, entahlah, mungkin seperti Cipanas, my lovely hometown. ^-^

Menurutku, kota ini aneh, karena semuanya tampak begitu muram. Bangunan-bangunannya banyak yang sudah tua dan kurang terawat. Wajah Eropa yang klasik, genit dan gemar bersolek tak tampak di sini. Dalam desau angin musim semi yang sama sekali tidak hangat, aku menemukan kesedihan dan ketidakpastian pada wajah kota yang menua. Jejak-jejak rejim komunis mengintip di berbagai sudut, dengan tatapan jahat yang seolah ingin bangkit dari tidur panjangnya.

Drava River, Maribor

Drava River, Maribor

Pemandangan cukup impresif dari arah Sungai Drava yang membelah kota. Kami tinggal di penginapan Lizike Jančar di Titova cesta 24a, selatan sungai. Belakangan kami tahu bahwa hostel ini sebenarnya adalah asrama putri salah satu universitas di sana. Maribor terkenal sebagai kota universitas. Di dekat penginapan kami juga terdapat sebuah Klinik Psikiatri. Yang stres karena tidak dapat kursi di DPR dan DPRD mungkin boleh berkunjung ke klinik itu.

Asylum fugitive, hehehe

Asylum fugitive, hehehe

Hari kedua di Maribor, Jumat 17 April 2009, kami mulai cek panggung. Seluruh rangkaian acara berlangsung di Union Hall, sebuah gedung serbaguna dengan akustik yang sangat baik. Disain interiornya ternyata cukup mengesankan, tidak seperti tampilan luarnya yang biasa saja. Dalam ruangan itu, satu penyanyi saja nadanya tidak tepat, langsung ketahuan. Menurut penonton setia kami, Mbak Binu, vibrato berlebihan juga terdengar sangat mengganggu dalam ruangan seperti itu. Kami langsung adjust suara kami di situ. Tapi, Avip sepertinya tidak cukup puas.

Diomelin Habis-Habisan di Maribor

Adik-adikku, teman-temanku, brondong-brondong dan para abege, terutama, ini adalah pelajaran yang sebaiknya kalian kuasai DAN praktikkan ketika kalian ikut kompetisi di luar negeri:

1.    Stick to the main cause you are here!

Banyak yang berpikir bahwa ikut kompetisi di luar negeri berarti kesempatan untuk jalan-jalan. Well, tidak sepenuhnya salah sih. Tapi aku bisa bilang kalau itu tidak benar. Tujuan kita pergi adalah untuk MENANG di kompetisi, bukan cuma ikut, doremifasolasido, haha hihi, terus pulang, nggak dapat juara sama sekali. Untuk mereka yang otaknya hanya berisi acara jalan-jalan, mendingan berangkat tur sendiri saja deh, atau liburan sama keluarga. Jangan nebeng tim kompetisi. Itu tidak adil. Karena kami pergi untuk kompetisi.

2.    Time is of the essence!

Ada waktu buat foto-foto dan jalan-jalan. Ada waktu buat latihan. Sekali kalian melanggar garis demarkasi di antaranya, kalian mencari mati. Apalagi dengan konduktor sekelas Avip Priatna. Apalagi dengan kompetisi setaraf Maribor. Kak Avip tidak pernah tedeng aling-aling menegur nama para pendosa selama waktu kompetisi, dan tidak berkompromi dengan ketidakdisiplinan. Kalimat beliau yang akan selalu aku ingat adalah “Kemenangan tidak dicapai dengan santai-santai. Semua harus kerja keras. Disiplin!” Dan dengan nada tinggi seperti itu, kami tahu bahwa ia benar-benar serius. Itu terjadi ketika latihan ngaret pada hari kedua gara-gara banyak yang kecentilan foto-foto dulu setiap 5 meter sekali dalam perjalanan pulang ke penginapan.

3.    Nobody is perfect, but music HAS TO be perfect, uncompromisingly!

Ini terdengar sangat menuntut, atau menakutkan, tapi demikianlah standar yang harus kami capai untuk sebuah kompetisi. Good enough is never enough. Tapi, kembali lagi, sekali kesempurnaan itu tercapai, reward-nya buat kita juga.

4.    Once everything is sung and done, you may have your yuletide of joyful ride.

Aku selalu membayangkan, betapa sebuah perjalanan menempuh ribuan mil akan terasa sangat berarti jika kita telah menampilkan yang terbaik (dan menang) baru kemudian kita menghabiskan sisa waktu dengan bersenang-senang. Dalam peribahasaku, menang dahulu, bersenang-senang kemudian. Tenang aja, ada koq waktunya buat perayaan, asal menang dulu.

Stres Menjelang Konser Pembukaan

Maka tersebutlah, sesaat setelah kami diomeli habis-habisan itu, sang solis sempat stres sambil melempar bundel partiturnya. Reaksi para pendosa juga beragam. Ada yang ketakutan. Ada yang merasa tidak enak badan. Ada yang tidak terima. Ini biasanya yang jam terbang kompetisinya masih rendah. Kepada mereka biasanya para senior mencoba menyabarkan. Namanya juga kompetisi, pressure-nya memang begitu. Tuntutannya jelas tidak seperti tur konser yang masih mengizinkan penyanyi haha hihi. “So, either you get used to it… or just go home tomorrow first time in the morning!” Setegas itu. Sesederhana itu.

Bukan petarung sejati namanya kalau tidak bangkit dan belajar dari kesalahan. Sebagai penampil terakhir dalam konser pembukaan, penampilan kami dinilai cukup mengejutkan (dalam konotasi positif). Katanya sih, yang lain lagu-lagu rakyatnya semua bertema dan berwujud klasik. Hyaeyyalayyaaah! Namanya juga negara Eropa, yang namanya folk song, pastinya berbau klasik. Sementara kita? Ya owli! Dengan kostum Dayak yang rada-rada seronok itu berjingkrak-jingkrak garang, teriak-teriak menabuh genderang perang, melengking hingga nada C#3. Dari mana lagi kalau bukan dari Indonesia?

Sayangnya, salah satu solis tenor (yang lain) berdosa di lagu ini, dengan melewati dua bar bagiannya, dan salah masuk barisan. Untung babak ini tidak masuk penilaian!

Hari Pembantaian Massal

Sabtu, 18 April 2009, adalah hari pembantaian massal 35 penyanyi BMS dengan cara yang sangat keji. Mereka dibunuh satu persatu hingga otak dan usus mereka terburai…

Woyyy!!! Apaan nih? Koran Lampu Merah?

Ulang!

Sabtu, 18 April 2009, adalah hari-H kompetisi, di mana setiap peserta harus menampilkan dua program sekaligus (compulsory & free programs). Setiap program dibagi ke dalam dua sesi. Waktu antaranya sebisa mungkin kami manfaatkan untuk latihan, memperbaiki kekurangan kami pada setiap lagu, menyempurnakan intonasi dan dinamika, serta mengingatkan semua hal yang sudah diajarkan sang konduktor kepada penyanyi tiga bulan terakhir ini.

Semua peserta ditempatkan dalam ruang-ruang kelas sebuah sekolah (yang sedang libur) di Razlagova ulica. Sebelah-sebelah kami, Zbor sv. Nikolaja (Slovenia) dan Victoria Chamber Choir (Hongaria) saling adu vibrato. Yah, maklum, doyan makan ular dan mie keriting, hehehe…

Saat kami tampil untuk program wajib, lagu pertama aku nilai kurang sempurna. Sancta et immaculata viriginitas, quibus te laudibus, efferam, nescio. Kalimat-kalimat itu. Ahhh! Sebenarnya bisa lebih berbentuk lagi. Waktu latihan, kami sering lebih bagus dari itu. Untungnya, lagu kedua, Salve Regina, yang menjadi andalan kami, sepertinya cukup mulus. Konon kabarnya, ada penonton yang dibuat sangat terharu dengan keindahan lagu ini, sampai menitikkan air mata.Salve regina mater misericordiae, vita dulcedo et spes nostra salve. Itu ia ungkapkan setelah menyaksikan babak ini. Begitu terharunya mungkin, sampai beliau berniat mengundang kami kembali ke Eropa tahun depan. Well, we’ll see lah. *SINGLISH MODE ON*

Nine Tenors, when One is not enough

Nine Tenors, when One is not enough

Dari dulu, aku selalu percaya bahwa untuk sebuah kompetisi (atau sekedar konser biasa) kamu harus siap 150%. Kenapa? Karena yang 50% akan habis untuk stage fright alias demam panggung.

Lagu Gloria pada program bebas kami jelas belum sesiap itu, karena entah bagaimana, pada bagian ketika bass bernyanyi sendiri, sempat terdengar disonansi yang tidak pada tempatnya. Argghh!!! Gemes rasanya, karena dari telingaku sendiri aku bisa menangkap kalau itu nadanya ada yang salah. Kenapa nggak langsung nyetem sih?

Ternyata menurut analisis Harland Hutabarat, yang membantu memperkuat bass 2 di tim konser ini, sangat sulit membuat bass benar-benar menyatu di lagu ini karena nadanya dibuat staccato sepanjang bagian itu, dan hanya dalam dinamika piano. Celakanya, blocking penyanyi pada keseluruhan program dibuat campur baur. Sebelah kiri-kanan, depan-belakang, tidak boleh suara yang sama. Ibaratnya, setiap penyanyi memang harus benar-benar mandiri untuk bersama-sama menjaga nada dan nuansa sepanjang lagu tetap pada kesepakatan semula. Stabil dan serempak.

Benar-benar tidak mudah.

Pada lagu Monteverdi dan Whitacre, untungnya kami lebih bisa menjaga kesempurnaan vokal, meskipun tetap saja, aku merasa lagu Hope, faith, life, love… sedikit turun di bagian akhir.

Setelah selesai dengan kedua program itu, rasanya aku belum bisa bernafas lega. Masih terasa ada banyak kupu-kupu yang mendesak ingin keluar dari dalam perutku. Aduh! Masuk 5 besar gak ya? Perkiraanku, Victoria Chamber Choir dan Mornington Singers pastilah masuk, melihat profil mereka.

Ternyata aku salah besar.

Dua-duanya tidak masuk. Yang masuk adalah KUP Taldea (Spanyol), Sõla (Latvia), Komorni Zbor AVE (Slovenia), Zbor sv. Nikolaja (Slovenia) dan… Batavia Madrigal Singers (Indonesia). Ah, syukurlah.

Berarti kami berkesempatan menyanyikan lagu the Beatles itu.

Esok harinya, kami langsung bekerja keras lagi untuk babak Grand Prix. Avip sempat menegur keras salah seorang sopran karena ketika cek panggung (lagi), matanya belanja ke mana-mana (padahal belum ada penonton juga).

Bolak-balik dari penginapan ke Union Hall ke Dressing Room ke tempat makan membuatku lumayan pegal juga. Tapi, pikirku, mending habis-habisan sekarang daripada menyesal nanti. Sudah bagus kita diberi kesempatan untuk maju ke babak final. Jangan sampai ini semua sia-sia.

Makan Sayuran Basi? Ewwh!!!

Dari dulu, aku kurang bisa beramah tamah dengan yang namanya salad. I mean, I’m fine with salad, but not with that stinky dressing and freaking sour taste. That was just hideous!

Selama aku di Slovenia, rasanya makanan di 3 tempat yang berbeda pada dasarnya sama saja. Diawali dengan ritual salad sayuran berbau dan berasa basi itu, yang pasti langsung aku singkirkan. Kemudian sup (yang aku sebut maggot soup karena tampak seperti ulat-ulat kecil berwarna kuning – sebenarnya cukup enak asal imajinasinya jangan kelewat liar kayak gue aja!). Lalu, biasanya mereka menghidangkan ayam (karena project manager kami meminta panitia menyediakan hidangan ‘no pork & no alcohol’, mengingat cukup banyak di antara kami yang muslim). Biasanya menu ditutup dengan apple strudel atau cake.

Untuk urusan kuliner, maaf-maaf saja, pecel ayam sama tongseng kambing Benhil masih jauh lebih enak. Lebih maknyus! Sambal botolan cap “Dua Iblis” yang aku bawa menjadi tambahan citarasa pelipur lara di sana. Sayang sekali, kelak, petugas airport di Austria merebut saos botolan itu dari tanganku. “Serahkan saos itu padaku, Reynaldo!” “Tidak, Maria Elena. Saos ini adalah hidup dan jiwaku.”

Hallah!

Ngarakijang di Grand Prix

Minggu siang, berbusana Roberto Cavalli dan bersepatu Jimmy Choo (Yea, right! Hehehe), dengan nuansa Bali warna-warni (kuning dan pink buat soprano-alto, ungu dan hijau buat tenor-bass), kami berarak-arak tebar-tebar pesona di sepanjang jalan Partizanska cesta. Setelah sepanjang pagi kami dipingit di hostel demi sebuah kesempatan kedua bernama Grand Prix, dan setelah (aku) hanya menyantap sereal biji-bijian (makanan hamsterku) untuk sarapan pagi, kami menuju Union Hall. Lily, choir guide kami yang bergaya rambut gimbal ala rastafarian itu dengan setia memandu kami dari dan ke tempat latihan, restoran, dan gedung konser.

BMS Maribor

BMS Maribor

Tentunya tidak setiap hari bule-bule itu melihat pemandangan Oriental di jalan raya mereka, dan tentunya tidak setiap hari pula kami dengan tak tahu dirinya bergerombol di pedestrian sambil bernyanyi-nyanyi Honey Pie. Ketika pandangan orang-orang tertuju pada keanehan yang menarik itu, kami tak lupa mengumbar senyum, sambil berharap bahwa mereka menangkap imagi tentang keramahan budaya Timur.

Kami melewati jalan yang sama, dan itu berarti melewati godaan yang sama: ES KRIM! Demi melihat mata para penyanyinya kelap-kelip memandang es krim yang tampak sangat lezat itu, konduktor kami langsung wanti-wanti supaya kami menahan diri. Tidak ada es krim sampai seluruh rangkaian program kompetisi dan tur konser berakhir! Di sebelah tukang es krim itu, ada juga tukang kebab yang tersenyum sumringah sambil menyapa kami saat kami lalu di depannya. Belakangan aku tahu alasan di balik senyuman si tukang kebab itu: Mbak Mita, project manager kami, membeli kebab 3-Euroan sebanyak sekitar 30-an porsi untuk seluruh penyanyi. Mungkin kami dia anggap penglaris jualannya hari itu. Aku ingat, dia bahkan mengucapkan “Good Luck!”

Dengan keberuntungan kebab Slovenia, beserta seluruh kemampuan tim, tampillah Batavia Madrigal Singers sebagai peserta undian pertama siang itu. Selalu ada perasaan gugup bercampur khawatir menjadi peserta pertama, karena biasanya juri belum memiliki standar penilaian yang dapat dijadikan bahan referensi mengenai penampilan seperti apa yang layak mendapatkan nilai, misalnya, 91. Tapi, menurut konduktor kami, ada bagusnya juga menjadi penampil pertama, karena itu berarti kami bisa segera menyelesaikan seluruh babak kompetisi ini. Setelah itu, paling tidak kami bisa sedikit bernafas… (padahal belum bisa lega juga sampai dengan pengumuman pemenang pada malam harinya).

Honey Pie ^-^

Honey Pie ^-^

Dengan nyaris tanpa dosa yang berarti, tiga lagu pertama, Nachtwache II, Dieu! Qu’il la fait bon regarder, dan Ov’e lass, il bel viso? kami tampilkan dengan sebaik-baiknya. Ada bagian di lagu Lauridsen yang sangat memerlukan konsentrasi penuh pada gerakan tangan konduktor, jika tidak ingin ritmus lagu menjadi berantakan. Aku sempat agak khawatir juga, tapi syukurlah seluruh penyanyi kelihatannya memang sudah cukup bisa menghafalkan lagu ini, sehingga mereka tidak terlalu terpaku pada partitur. Dari jauh-jauh hari, Kak Avip meminta kami menghafal seluruh lagu, supaya kami lebih bisa mengikuti arahan beliau.

Dengan blocking yang berbeda, lagu Honey Pie dinyanyikan. Para tenor sudah diperingatkan untuk memperhatikanrelease pada akhir kalimat yang cenderung suka turun. Ya, begitulah, ada tantangan tersendiri menyanyikan lagu-lagujazz, karena alih-alih memperhatikan intonasi, penyanyi lebih sering tergoda pada style bernyanyi, berikut bagian-bagianportamento dan glissando yang bertebaran di sepanjang lagu. Dan dengan rahmat dan berkat merekalah kemudian intonasi lagu suka turun. Sedikit akting di ujung lagu pada bagian ini (kebetulan salah satu penyanyi adalah bintang sinetron juga ^-^ –> bang Harland), membuat lagu ini memberikan nuansa tersendiri di antara program Grand Prix finalis lain yang melenggang dengan repertoar sakral penuh kekhidmatan.

Menutup program kami adalah ‘lagu kebangsaan’ Batavia Madrigal Singers, yaitu Janger, aransemen Avip Priatna dan Bambang Jusana. Dikomisi oleh PSM Universitas Parahyangan pada sekitar tahun 2000 di Linz, lagu ini tampaknya masih menjadi pilihan banyak paduan suara lain untuk mengetalasekan akar budaya Indonesia, khususnya Bali. Mengapa selalu Janger? Karena lagu ini begitu saja memungkinkan banyak variasi koreografi. Dan dengan sendirinya, lagu ini masih memiliki daya tarik audiovisual untuk waktu yang tak terbatas. Di antara seluruh repertoar para finalis Grand Prix, rasanya hanya lagu ini yang secara musikal berbeda sendiri. Unik. Masih menarik.

Kasusnya tentu berbeda seandainya lagu ini ditampilkan di Indonesia, saking sudah terlalu seringnya lagu ini dibawakan oleh paduan suara lokal. Kami, meskipun demikian, tetap membawakan lagu ini dalam nuansa kesalihan para penari Bali yang dengan rendah hati menghibur para penonton. Aku rasa, bagi mereka, lagu ini masih memiliki charm. Timeless beauty!

3: Terbaik untuk Tahun Ini

Menunggu hasil adalah saat-saat paling menyebalkan. Lima tahun terakhir ini, aku tahu benar betapa menunggu hasil adalah saat-saat paling menyebalkan. Kendatipun begitu, para pencari kenikmatan musik ini memang tidak pernah mati gaya mencari cara membunuh waktu. Sambil menunggu hasil pemenang Grand Prix, satu per satu paduan suara memprovokasi anggotanya untuk bernyanyi di Union Hall, di antara wajah-wajah penuh ketegangan para konduktor dan wajah sungguh-enak-dipandang sang Master of Ceremony, hehehehe.

Dari sayap sebelah kiri, terdengar lagu Zum Tanze da geht ein Maedel dalam versi bahasa Swedia dinyanyikan. Dari belakang, terdengar lagu rakyat Slovenia, atau entah dari mana, mungkin dari negeri Genovia ^-^ juga dinyanyikan penuh kecintaan. Dari Batavia Madrigal Singers… ah, kami terlalu pemalu untuk pamer suara :P , atau mungkin memang sudah pada kecapaian. Entahlah, tapi yang jelas, ketika satu per satu konduktor 12 peserta kompetisi dipanggil ke panggung, konduktor kami tampak agak tense. Aku mencoba membayangkan bagaimana rasanya jika aku harus berada di sana. Wah, pasti langsung mencoba mencari perlindungan. God, I don’t wanna be famous! :P

Satu per satu plakat keikutsertaan diumumkan. Menyusul kemudian penghargaan-penghargaan khusus untuk beberapa kategori. Dan, akhirnya, pengumuman untuk kelima finalis Grand Prix.

Ketika nama Sõla dan Zbor sv. Nikolaja meluncur manis dari mulut sang MC, kami langsung tahu bahwa kami masuk tiga besar. Wah! Senangnya. Ekspektasiku sendiri saat itu memang, jujur saja, tidak terlalu tinggi, karena menilai penampilan diri sendiri, aku tahu bahwa BMS bisa tampil lebih baik dari itu. Benar juga. Kami juara 3.

Terbaik untuk tahun ini.

Kami bersyukur bahwa sebagai peserta satu-satunya dari Asia tahun ini, terjauh dan tertampan (hallah!), kami berhasil menaklukkan kompetisi ini. Aku bilang menaklukkan karena kompetisi ini benar-benar tidak mudah. Dengan peta kekuatan tim saat ini, inilah yang terbaik yang bisa kami persembahkan untuk dunia paduan suara tanah air. Dengan prestasi ini, kami berharap yang lain juga tergerak untuk meraih pencapaian yang bahkan lebih baik lagi. Akan sangat membanggakan melihat nama paduan suara dari Indonesia sebagai pemenang salah satu kompetisi European Grand Prix, entah yang diselenggarakan di Perancis, Bulgaria, Italia, Hongaria, Spanyol, atau yang di Slovenia ini. Mari kita gulingkan kekuasaan Filipina sebagai goliath kompetisi Eropa yang berasal dari Asia! *CHE GUEVARA MODE ON*

Singing Gangsta

Desaku yang Kucinta, Ljutomer Namanya

Pulang dari Union Hall, tanpa banyak ba-bi-bu, kami langsung berangkat untuk rangkaian Tur Konser kami. Program pertama adalah konser di sebuah desa kecil bernama Ljutomer, sekitar 2 jam dari Maribor. Desa ini tampak bagi kami seperti tanah yang terlupakan di sisi entah-sebelah-mana dunia. Tapi orang-orang yang kami temui di sana, alamaaak!ramahnya.

Tersebutlah Komorni zbor Orfej, sebuah paduan suara lokal di sana, sedang memperingati 20 tahun berdirinya komunitas musik itu. Kedatangan kami ke sana mungkin sebenarnya dimaksudkan sebagai sebuah wahana studi banding buat mereka. Aku sempat takjub, di desa sekecil itu, apresiasi para penduduknya terhadap paduan suara sangat kentara. Apalagi begitu konser dimulai, dengan program gabungan antara Eternal Light dan Sanguinis choraliensis! mereka benar-benar menunjukkan antusiasme mereka pada musik kami.

Setiap kali lagu selesai dibawakan, tepuk tangan meriah mereka juga sepanjang lagu itu. Kami sampai sempat menyebut mereka audiens yang gemar sekali bertepuk tangan. Lama sekali. Seorang MC, mungkin semacam Pak Lurah di sana, membacakan profil kami, dan pengantar di setiap sekuens konser. Program kami sendiri memang, menurut kodratnya, terbagi ke dalam beberapa kelompok genre: sakral klasik, komposisi kontemporer, lagu pop, jazz, dan folksong.

Dalam ruang gymnasium berakustik indah itu, kami benar-benar merasa bahwa orang-orang ini, dalam kesederhanaan hidup pedesaan ala Eropa timur, sangat menghargai keragaman budaya dalam bentuk paduan suara. Mungkin begitulah, karena musik paduan suara memang lahir dan berakar kuat di Eropa, tampaknya mereka tidak kesusahan mencerna musik kami, kendatipun mereka tidak selalu mengerti bahasanya.

Sangat berkesan.

Ada tapinya lhoo…. Waktu bernyanyi lagu Janger, ada bolpoin salah seorang sopran yang jatuh. Dan kami semua tak sanggup menahan rasa ingin tertawa, sehingga encore yang seharusnya sakral-khidmat itu menjadi agak terlalu ‘riang’.

Habis konser, baru meledaklah tawa kami, berderai tak kunjung henti hingga sekitar 20 menit kemudian.

Pulang konser, kami dijamu di sebuah Rumah Makan “Sederhana”. Yang ini bukan masakan Padang lho yaaa, tapi, memang sebuah rumah makan yang berada dalam setting peternakan yang sederhana dan bersahaja. Begitu turun dari bus, kami langsung disambut aroma kandang. Sampai tidak enak, mau tutup hidung, takut dianggap kurang sopan. Tidak tutup hidung, aduuh, baunya. Salah seorang pemuda berpenampilan hick berkelakar memaklumi kekikukanku. Ini jadinya aku atau dia yang hick?

Midnight dinner at the village

Midnight dinner at the village

Saat ini, suaraku mulai terasa tidak enak. Stamina vokal terasa sekali turun ketika jarum jam mendekat ke angka 12 tengah malam. Ritual makan seperti biasanya juga berlaku di sini, dengan salad sayuran, sup jamur, ayam-ayam, danapple strudel. Tapi aku tidak terlalu berselera, karena rasa ngantuk yang tak tertahankan. Ingin rasanya jatuh ke pelukan bantal-bantal berbulu angsa sambil dinyanyikan lagu Wiegenlied.

Magyarorszag!

Tur konser berlanjut ke kota lain, negara lain, keesokan harinya. Budapest.

Memasuki kota penuh pesona mistis dari arah Buda (belakang Royal Palace), aku merasakan kesan berbeda dibandingkan ketika aku mengunjungi kota ini bersama AgriaSwara 2 tahun yang lalu. Ternyata Budapest tidak seasing yang aku kira. Dulu aku sempat tersesat jam 10 malam sendirian di salah satu lorong gelap kota ini, mencoba mencari penginapan bernama Marcopolo Hostel. Dulu aku tak bisa memindai peta kota ini ke dalam otakku sampai-sampai mencari stasiun Astoria dan Blaha Lujza ada di mana saja butuh waktu. Padahal dua-duanya tepat lurus saja dari Erszebet hid. Kemampuan spasial-direksionalku yang tidak terlalu bagus sering membuatku tidak bisa langsung mengetahui medan tempat aku berada. Gawat juga kalau aku jadi anak milyuner, bisa-bisa setiap saat jadi korban penculikan.

“Jose Fernando, suamiku… anak kita Reynaldo diculik lagi!”

Sesuai jadwal, kami konser di Tivoli Museum tak begitu jauh dari Opera House Budapest. Dengan program konser yang dipilih berdasarkan kesepakatan bersama, atas dasar suka-sama-suka, tampillah kami di sebuah ruangan yang mirip Teater Salihara, Pejaten, dengan akustik yang tidak bagus sama sekali. Aku merasa, banyak lagu gagal kami tampilkan maksimal gara-gara urusan akustik, plus stamina vokal banyak penyanyi, termasuk aku, yang mulai turun. Benar-benar tidak enak bernyanyi saat itu. Sebagai penyanyi di barisan Tenor 1, tersiksa benar rasanya saat suara kamu menjadi parau, sampai nada E saja harus pakai falsetto. Itu pun terdengar kurang bagus. Ah! Rasanya ingin jadi penonton saja.

Bermalam di Metropol Hotel Budapest, para Miss Jinjing dan Miss Shopping mulai tak tahan menyalurkan bakat-bakat terpendam mereka membeli barang-barang bagus dengan harga terbaik. Selama di Slovenia, kami sama sekali tidak diizinkan berbelanja, atau pun jalan-jalan, saking penuhnya jadwal kompetisi. Di Budapest, semuanya membludak begitu saja.

Aku sendiri mencoba untuk tetap waras mengatur budget, karena masih ada satu negara lagi yang harus kami datangi. Dengan anggaran terbatas, tentunya aku lebih tahu diri. Tapi, untuk melewatkan kesempatan menjelajahi sudut-sudut kota ini tentunya tak aku lewatkan.

Aku tidak sempat mendatangi beberapa situs menarik di Budapest tahun 2007, maka kali itu aku bertekad akan menyelesaikan eksplorasi kota yang menggembar-gemborkan julukan “City of Senses” ini.

Tapi, lagi-lagi, karena keterbatasan waktu juga, aku tetap saja tidak sempat mengunjungi Basilika Szent Istvan, tidak sempat menyeberangi Danube untuk melihat Máttyás Templom yang sepertinya sudah selesai direstorasi. Teman sekamarku sepertinya malah lebih beruntung karena dia sempat mengunjungi Gellert Hill. Ketika aku hanya bisa melihat foto-fotonya, aku hanya mengatakan ini pada diriku sendiri. “I’ll sure be back here some other day.”

Stadion Hotel, second entry

Stadion Hotel, second entry

Esok harinya, kami dijadwalkan konser di Istana Ratu Elisabeth di Gödöllö. Seperti ketika tahun 2007 aku konser bersama AgriaSwara di sini, istana ini masih memiliki kecantikan arsitektur Barok yang penuh lekuk sensual, seolah setiap malam ia didandani habis-habisan supaya tetap terlihat… fabulous. Dan ruangan itu pun masih tetap sama. Akustiknya yang indah, ornamennya yang cantik, dan orang-orangnya yang antusias.

Goedoelloe Palace

Goedoelloe Palace

BMS agak kesulitan mengatur formasi lagu Immortal Bach (Knut Nystedt), karena ruangan tidak terlalu besar. Ini adalah lagu di mana 35 penyanyi dibagi ke dalam 5 kelompok kecil yang bernyanyi mengelilingi penonton, membangun efek bunyi diskordan yang agung, masif, dan menggetarkan. Selalu menyenangkan menyanyikan lagu ini, meskipun kami harus susah payah membangun kontinuitas bunyi yang bisa mencapai 24 beat setiap suku kata. 24 ketukan! Yang hamil bisa langsung melahirkan kalau menyanyikan lagu ini. ^-^

Eine schöne Erinnerung

One sweet memory. Dan seperti itulah manisnya es krim Zanoni yang AKHIRNYA kami nikmati juga.

Kami berada di Wina, Austria, menutup perjalanan kami yang penuh petualangan musikal di Eropa. Kami berada di kota tempat konduktor kami menghabiskan waktu sekitar 6 tahun untuk belajar musik dan choir conducting. Di kota ini, beliau dengan antusiasnya menunjukkan pada kami ini dan itu. Gedung rektorat universitasnya, Istana Belvedere yang menawan, Museum Kembar di Maria-Theresien Platz, Gedung Opera, Stephansdom yang tampak bagai katedral raksasa berjelaga, dan tentu saja, Neue Hofburg yang spektakuler.

Kami konser di salah satu bagian Hofburg, yaitu Völkerkunde Museum, sayap sebelah kanan. Duduk di antara kursi penonton adalah profesor kak Avip sendiri, beserta kolega-koleganya di Wina. Gaung ruangan yang agak berlebihan tidak menyurutkan niat kami untuk mengakhiri tur konser ini dengan penampilan terbaik. Aku bersyukur karena suaraku sudah mulai kembali normal. Dan kami dihadiahi makanan yang sudah lama kami nantikan.

Makanan Indonesia!

Tante Lena, salah satu kolega konduktor kami yang tinggal di sana, menjamu kami dengan gado-gado yang, sebenarnya sudah dimodifikasi, namun tetap lezat. Jarang, saya ulangi, jarang, saya menambah porsi makanan. Tapi kali itu dengan malu-malu aku bilang, “Tante, gado-gadonya boleh nambah nggak?” ^-^

Di sini, di antara gemerlap lampu kota, aku menemukan diriku bersenda gurau dengan impian dan masa depan. Aku senang karena aku masih diberi kesempatan untuk menikmati saat-saat seperti ini. Saat dirimu merasa lengkap sebagai manusia. Aku rasa aku akan terus melakukan hal ini untuk waktu yang lama ke depan. Musik membuat segalanya menjadi mungkin!

Meskipun kamera yang aku bawa rusak sehingga aku tidak sempat bergabung dengan proyek Narsis para pelacur seni ini, aku tidak sedih sama sekali. Aku akan kembali lagi ke kota ini, suatu hari nanti. Aku akan menonton salah satu (atau siapa tahu, mungkin beberapa) konser Wiener Saengerknaben yang sejauh ini hanya aku dengarkan dari koleksi CD Boys Choir-ku. Aku akan menonton opera di salah satu gedung opera paling terkenal di dunia ini. Aku akan menghabiskan waktu lebih lama menikmati keindahan kreasi manusia yang tak lekang oleh waktu di Wina. Aku akan berkunjung ke Salzburg, ke kota kelahiran Mozart! Aku akan… wah, banyak deh!

Dan begitulah, seperti sebuah prelude singkat, aku menghabiskan 8 hari di Eropa senilai pengalaman seumur hidup. Menghargai sesama teman, menghargai keragaman, menghargai pencapaian, sekecil apa pun.

Semoga menjadi inspirasi ^-^

Wina, 24 April 2009 

Magyarorszag! Jurnal Perjalanan Kompetisi Hongaria 2007

Dear Earthlings,

Here I am again, with a handful of delightful story to be told. I just finally found a decent time to write the whole story, now that I’m in a looooong holiday. So if you care to be my saint for a while, you may kindly relax and have a cup of your favourite drink while reading this. I’ll have my Ambrosia ^-^.

It began with the major plan of the second participation in an international choir competition in Europe. After 4. Internationales Johannes-Brahms Chorfestival & Wettbewerb, Wernigerode, Germany, July 2005, we promptly arranged our next involvement in the similar event the following year. The 4th Tonen International Choir Competition, Puldijk, The Netherlands, September 2006 came into light and everything was endeavoured for that goal.

Unfortunately, we failed our Netherlands scheme, due to the lack of preparation. That might count insufficiency of budget and un-readiness of the team, in terms of singing technical aspects. There was a huge disappointment at the time we decided altogether that we were not leaving for the competition, but bitter as it might be, we took it as it was: Let’s not let the sun go down on us.

Refusing to give up, we persevered on reaching to the top. And learning from the previous mistakes, we began to work hard on other international competition. We decided that it would be the best for the choir to join another Musica Mundi event, the same organizer as the first competition. So this was the deal: 11.Budapesti Nemzetkoezi Korusverseny, Budapest, 1-5 April 2007. We were heading to Hungary!

11th Budapest International Choir Competition 2007

Raising fund of approximately half a milliard rupiahs has never been easy.

But guess what, we DID it again!

And just like magic, I suddenly found myself there, cornered at the window seat of the aeroplane that took me to Budapest. I then savoured the sensation, like orgasm, getting off the earthly profanity. It felt like I was going back to where I belonged ere this world. I was so grateful that I could somehow find my inner peace. Life could never be so rewarding when you had found that peace. I found it there. In the air.

From Jakarta to Singapore, to Budapest via Istanbul, I found myself in a frenzy trying to keep up with the biorhythm of my body. Waiting indeed sucks. Especially when we are bound in a place called airport where the only thing we see is hustle-and-bustle. Luckily we had an opportunity to get the heaven out of Changi airport for a go-for-a-stroll. Like a sweet memory, I recalled my time in Singapore two years ago, when I was just an eighty dollar none the richer boy, lost along the road to Esplanade Drive, Marina Bay.

There, then, I was lost again. The once vivid images of yesteryears were gradually fading into mist. But time wouldn’t wait. And I was unconsciously sunk in the chaos of flight schedules. Again I had to spend hours of desperate waiting in Attaturk Airport, Istanbul, where temp dropped ’till 10 degrees, tops. Shame on us, singers, that even in such situation, we strove to get a place for rehearsing. As luck would have it, we made a gig right in front of a boarding gate, the most remote and silent one. Stewards and pilots might come and go, but we kept on tuning the tune. Hello, there, Turks!

When the next charm was spelled, I reached Ferihedgy International Airport, Budapest, ten hours later.

Hungary at last

In remembrance of love, I saw the blue Hungarian sky as it was: cold and uninviting. I should have known that spring could be so boring. But I so loved the smell of European air, still.

By the time I arrived, with two big and small suitcases handy, I searched for something that I usually called ‘first fountain’, namesake of any source of water that I can drink directly.

“Wow! I’m in Hungary!”

During the course of 5-day competition period, we stayed in a hotel that located somewhat distant from the centre of the city. There we spent most of the time by rehearsing. When I say it’s rehearsing, please don’t imagine that the venue is a fancy, comfy, and cozy rehearsal hall. We rehearsed outdoor. And to be fair I have to say that the temperature there was not always kind. Sometimes we had to fight the cold air while trying hard to focus on the vocal production, synchronized coreography, and choral harmony. It was never easy, indeed.

From time to time I managed to stick to the purpose of my being there. So, I just practiced one of the virtues that I always teach to my kiddos: Joyfulness. Tadaaaa! ^-^

Will you be a saint and be my company? ^-^

Don’t be deluded, my feet were shaky on those pics. Darn, it was chilly!

There was time when we rehearsed in the city park next to Magyar Sport Haza, where lovers kissed under the trees, or just peeked-a-boo like this. ^-^

Peek-a-boo! Pick-my-poo! Muahahahahaha

Another time, we rehearsed first time in the morning at Budapesti Olimpiai Koezpoent, where joggers ran to and fro… and choristers (or was it only me? ^-^) kept an eye on them, hehehehe….

The whole gang at Budapesti Olympiai Koezpont

Or just here, next to the fitness centre, at the basement of Hotel Stadion. Guess there was too much distraction going on there. Somehow we managed to focus. All right, Guyz! Focus! Focus!

Stop or I will shoot!

Stop or I will shoot!

Anyway, we choristers got along… well, kind of, until the Day of Competition. The venue was at Muveszetek Palotaja, or Palace of Arts, one of the most distinctive contemporary buildings in Budapest. Mixed choir without compulsory piece, was the first category we went for.

Anxiously of being aggravated, we performed our three choral works consecutively for this category: “A’un giro sol”(Claudio Monteverdi), “Justorum animae” (Charles Stanford), and “Gloria 3″ (Woo Hyo-won).

Banner, banner, banner

I can remember how it was coming back to me… singing in front of an array of internationally reputable juries. It felt like deja vu, actually, because some of the jurors were old names such as Gabor Hollerung and Dr Ralf Eisenbeiss. Our program, as a matter of fact, was more challenging, and was, in many ways, more sophisticated compared to the previous competition in Germany. And, oh! Seemed like the audience was fond of our last song of that Korean young composer. They sure was. After the premiere by Parahyangan Catholic University Choir back in 2002, this ‘chang’ style sacred contemporary work has still got the charm, when it is sung according to the artistic demand, certainly. Ewww! The audience likey! Could it be that…. Awww I hate assumption. Let’s just get the hell off the stage, Girls!

By the time we got off the stage, we rhetorically asked that same stupid question. That’s all? Was that the ten minutes of our life that was worth all those enormous efforts of polishing the artistry and musicality? Damn it sure was short! Supposing we made some flaws in some parts of the singing, which I believed was true, could we ever have a second chance to fix it? God! I wish I could turn back the hands of time.

But hell! Show’s over, for today. Now let’s get cranky again! Huhahahahha….

Drug dealers in suit

Back in the hotel, we hurried for the next program on that day: Friendship Concert. This might be a kind of non-competition part of the program, where the participants can join in an amicable atmosphere of sharing each other’s fondness and passion for choral singing.

Dressed up in simple javanese outfits, we headed to ELTE-Zeneterem, near Blaha Lujza ter. We took city tram, and for the second time in Europe, I was amazed, and envious perhaps, by the cleanliness of public transportation there. Budapest was indeed clean, which made me wonder where the trashes went. Evaporated? Daaah!

When we reached the venue, the day was getting dark. There had been three other choirs, to mention Maennerchor des N.-Kistner-Gymnasiums Mosbach from Germany, Univers from Siberia, and Adolf Fredriks Juniorkoer from Sweden. It was such a lovely thing to be among them in time like that, when we didn’t have to compete but sing. Just sing, and a bit dance. Daaah! We’re dancing singers, so to speak…. Or singing dancers? Hmmm… I do the juxtaposition, you do the poll. ^-^

The night we were back in the hotel, we had some serious talk regarding some ‘incident’ happened in the previous day. I don’t think I like to talk about it here, because it’s sort of sickening. So I just leap to the time when we were exiled from the hotel. No, I don’t mean the ass-kicking, though we kind of expected to, heheheh. We rehearsed outdoor again, and this time we did it at 10.30 p.m., at a temperature of approximately 8 degrees. Fhewwwh! So much for the glorious victorious fabulous gig!

At the balcony of hotel

At the balcony of hotel

In time like that, I reckoned I probably needed something (or someone? dunno) to warm me up. It was freaking cold, man! I didn’t want to turn into Jackfrost that soon. Not until December!

On the following day we went for the next category, the committee sent us a thrilling news. We won the B1 Category!

….
…….

What the...?

What the…?

And then for the next one second, everybody shut up.

“Yea, gimme a break!”

They confirmed, they affirmed, they INSISTED that we did win.

Then, there… we screamed like crazy. We won? Really? Are you freaking kidding me? Yesterday was not really our best performance. Wow! I honestly couldn’t grasp my sanity until some moments afterwards. Gee, that Gloria charm really did still work, didn’t it. Danke Gott!

So then we were back in track, more dignified now, more confident, and more graceful when walking… daaah!

Suited in an array of traditional Indonesian costumes, we walked our path towards the stage of Festival Theatre, Palace of Arts. As for me, showcasing every colour of Indonesian heritage is always soul-sustaining. There is no other moment, I’m telling you, when you can be purely proud of being an Indonesian. [This statement is of course arguable. If you disagree, you are very welcome to fight me back. But please, no bullying…. Man, I had enough!]

For this folklore category, we sang-and-danced three Indonesian folk songs: “Tanduk Majang” (arr. by Solly Pigawahi),“Soleram” (arr. by Ivan Yohan), and “Gai Bintang” (arr. by Budi Yohanes). I so looooove every folkloric gig. It always turns the beat around; one that is typical only to this genre of music.

AgriaSwara: Gai Bintang (Budi Yohanes)

AgriaSwara: Gai Bintang (Budi Yohanes)

Winning one category can only mean one thing. We have to go for the final round of the competition: Grand Prix. To tell you the truth, we kind of didn’t anticipate this. The last time we prepared “Richte mich, Gott” (Felix Mendelssohn) for the final round in German competition two years before, we didn’t make it to Grand Prix. So we were not really expecting too much from this Hungarian competition. But God was indeed funny. He made us win this time.

We gotta be quick. Haste, ye, maidens. Chop chop, Girls.

Within the course of about five hours after the performance in folklore category, we did our best to effectively prepare for Grand Prix. Again, expectation was put somewhat in modest range. Five hours! They wanted a thoroughly different program. Kyrie eleison!

As if lit by salvation, the conductor decided that it would be the most feasible for us to choose “Janger” (arr. by Avip Priatna and Agustinus Jusana), the same piece that was performed in Germany 2005, and “Si ch’io vorrei morire”(Claudio Monteverdi) as the program for the Grand Prix. Maaan… we just worked on it.

That well-known Janger dance

The Grand Prix and Ceremony of Awards were held in the same building, but different concert hall. This time the committee proudly showcased one of the best concert halls in Hungary: Bela Bartok International Concert Hall. If you happen to know acoustics, I guess you should give this hall an eight out of ten for its acoustic quality. God I was so delighted that I had the chance to sing in such a sophisticated concert hall. Fifteen minutes in your life that truly belonged to you. I prayed that everything would be great.

AgriaSwara: Janger (Avip Priatna & A Bambang Jusana)

By the time I entered the stage, barefooted and warm-smiled, and unintentionally wicked-eyed ^-^, I caressed this unforgettable moment of my life: being appreciated for what we are and do. It felt like… ethereal breeze. It made you want to stop the cosmic time for just a while so you can be overwhelmed with this feeling for just a little longer. It alleviated your sense of being worthy of anything or anyone you are faithful to. It drove you… to sing only for the sake of your audience.

This feeling could be dangerous, I’m telling you, but for all its risk, it was f***king great!

In this competition, we reckoned we had achieved our goal: gaining two gold medals from the two categories we followed. God save George Clooney, we also won the mixed choir without compulsory piece (B1) category. Our conductor, Arvin Zeinullah, was also awarded a prize for young conductor with the best artistic achievement. The Grand Prix was awarded to Magnificat Gyermekkar, a children choir from Hungary.

Prize giving ceremony

Prize giving ceremony

Rejoicing in the achievements, we joined our beloved company during our time in Budapest: the Indonesian Embassy officials. They had been very much helpful. I have to thank them for all the virtues they had done for us.

Mission accomplished, you guys!

Now let’s come to another fun part of the trip. City tour!

Marcopolo Hostel, at Nyar utca, Budapest, was my shelter for the remaining days in Hungary. Here downtown Budapest my curiosity grew wildly. Every cubic corner, every tall-building-fenced alley, every magnificent bridge, every palace and cathedral, every side of Danube River that crosses through, every twinkling light of its night, every scoop of ice cream for 260 forints, they all evoked my craving eagerness.

Here, downtown Budapest, I was fined 2500 forints for being naughty, not stamping the subway train ticket. Here I had an hour of desperation when I was literally lost trying to find Dohany street. Here I bought a collection of ten opera CDs for only 1000 forints. And here, too, my secured aloneness dissipated into poignant loneliness….

But time flew, uncompromisingly. And I had to drag my tired feet to the next destination.

Pfiat Gott, liabe Alm: Jurnal Perjalanan Kompetisi Jerman 2005

(I wrote this for my personal blog back in 2005. It’s in English… please bear with me for a while.)

 

Schloß Wernigerode

How jubilant was I to touch the sky (again). Felt like a long-schemed reunion. I left my debris in heaven. And I took a chance to recollect them.

I had this sort of old-fashioned excitement when it comes to… flying with an aeroplane. I was as if rediscovered my long-lost-forgotten childhood. I so loved aeroplane, then. And I love it now, still. So to get a ticket for the second ride, I was beyond any happiest fairy-tale prince ever told. I was more than that. I was bloody-happy. And this time, I took even a farther and longer journey.

Nach Deutschland!

We took off on Tuesday, July 5; 36 choristers in Malaysian Airlines flight. Unbelieving feeling still remained, but look at us, we did it! We made our way to Germany! All those efforts, unbelievably great efforts, were finally paid off. We went for it.

As for me, I was vanished in my own excitement. I did my best to get a window seat, as I’ve always loved to sit by the window, of whatever that provides beautiful vista when I look through it.

So, I turned back to the time when I gaily played among bushes and bamboos, mud and dirt, carrying my own aeroplane made of paper. I held the time as if forever. Then, when I looked down at the hemisphere, as the plane was taking off or about to land, that was… amazing. I loved it when that huge, rigid, steel body, gracefully flew into the cirrus clouds. Felt like I could kiss the deep confines of those cotton-like clouds. Felt like I could dive within, and taste it like marshmallows.

And I thought a lot about me, bygones, and tomorrows. I looked at my hands, chilly and pale, and I felt a sudden loneliness. Even amidst the fuss and laugh of my friends, I was remote in my own blue universe. My eyes began to glisten, but somehow I tried to hold on to my logical consciousness. Then I scolded. I was angry with myself for letting me carried over into another moments of sorrow. I hate sorrow, but it’s always been my shadow.

The sun saved me. As I caught its ray of light, I came back to the earth. And there outside, Frankfurt am Main Flughafen came into view.

Frankfurt Airport... or is it?

We were landing in Germany!

Gosh, I wish I could rewind that moments. After sixteen hours flight, we succeeded among nations, to be the future winners, conqueror-to-bes.

It was 6 in the morning. Summer morning. Yet the temperature didn’t even reach the coolest morning here in Indonesia. As for me, I didn’t mind. I melted in joy. I screamed in whispers, “I land on Europe!”

I guessed only a lark could hear it. ^-^

Thence, Herr Andreas, the bus driver, took us to the main cause of we being in Germany: Wernigerode. Herr Andreas was a nice person. Unfortunately he understood only a little of English. And we knew only a little of German. Yet somehow, communication between us existed, albeit much of it took form in body language… and sign language.

^-^

I sat by the window again, enjoying every scenery that was captured all around me. Woods along the road, wheat plantations, farming land, doom-like hills, church tower at the line of horizon…. I can recall it very vividly even now. Beautiful.

Along the way to Wernigerode

 

After a stop at Kassel, we arrived at Wernigerode, 11 o’clock.

Die bunte Stadt am Harz… how I long to see it

There, at the very first sight, of the town, I was bursting with exultation. The town looked like in the story of Andersen’s “Matchbox Girl”. It was marvellous. Wernigerode is not a big city. The town covers an area probably to the extent of Bogor. But it is much more beautiful. Half-timbered houses, flowerful yards, clean and neat alleys. Seemed to me that the town was built with a profound sense of art and harmony. It didn’t look luxurious, but my eyes felt at ease to have it in view. I so loved the town.

The streets of Wernigerode

 

I couldn’t hide my awe when we drove along Friedrichstrasse. That houses…. “Dolls must dwell inside those cute dens,” I thought.

We were driven to Freizeithaus Arche, the place where we would stay for the next 5 days. Arche located at Flossplatz, in Hasserode area that was quiet far from the town centre. The temperature dropped here. No wonder, cause the hostel was surrounded by hills and woods. The situation pretty much reminded me of a Mendelssohn’s song “Im Walde”.

Freizeithaus Arche at dusk

 

The owners, Herr and Frau Harold, were two nice people. They were very much welcoming. And the hostel itself was comfortable to live in. It was warm inside. And there was a fireplace!

Argh! Luv it!

Freizeithaus Arche is a hostel which is usually a place for youth retreat programs or tour travels. The building looked humble from outside, but it provided us with modern and complete equipments inside. There was a large room for casual meeting by the fireplace, hot-watered bathrooms, a well-equipped kitchen, a dining place, and comfortable bedrooms. Out at the backyard, there was a greenfield with needle-leaved trees surrounding. Also a place for raking fire in the night.

Friedrichstrasse, in front of Rathaus miniature

 

First day in Wernigerode, we were taken to Zum Salzbergtal to have our first lunch in Germany. We had some problem with the ‘agonizing’ taste of the food, but we had no choice. Eat it, or you’ll die starving ^-^. Well, the food was not that bad, actually. Mashed potato with sauerkraut, porky sausage with pasta, forest mushroom with 0.3-cm-diametered noodle, or bakpau with ablazing red sauerkirsche sauce.

Wow! Guess we would still choose ‘gado-gado’ and ‘pecel ayam’ as our favourite menu.

Afterwards, Marcus, Stefan, and Katja, our choir guides, took us to the town centre, Marktplatz.

We saw it! We saw it! Hurray! Perfectly like the picture sent by the festival committee. Rathaus, with its unique witch’s-house-like architecture. Indeed, this town smelled of witches and wizards… but that was cool anyhow.

Rathaus and Gothisches Haus

Meet between Nations

The next day, Thursday, July 7, we were scheduled to follow the opening ceremony at Stadtfeldhalle.

It was very lively inside. Thousands of people crowded in the hall. Every choir showed very much enthusiasm, energy, and friendship atmosphere. KwaZulu Natal Youth Choir from South Africa, Srbadija from Bosnia Herzegovina, Raffles Voices from Singapore, Gaudeamus from Russia, and of course, AgriaSwara from Indonesia. And still, many other choirs from 13 countries.

When the ceremony began, with a line of flag holders stepping slowly onto the stage, I was overwhelmed with (rarely-felt) pride of being an Indonesia. Yes, truly, that time, when I saw that we made through it all, being representative of our country, somehow, the feeling invaded me, inevitably. Our red-and-white, hailed in front of hundreds of eyes watching… unbelievable.

A walk down Friedrichstrasse

Back at Arche, we had to rehearse for the following day. The Day of Competition. Since the beginning, we all knew that the competition is our main duty. We didn’t come to Germany for leisure, we went there for the competition. And we did struggle for that.

So, although most of us still had problem with jet lag, we tried hard to focus on and concentrate. It was a weird feeling, however, to see the sun still shining at 9 p.m. and think that it would be 2 a.m. in Indonesia.

First day competition. We performed for the Mixed Choirs Category (B1). Last minutes before performance, we felt our adrenalin increasing. We’re not an experienced choir to follow such a big event, not to mention international level. But we somehow believed that we will make it. Flashing back, we succeeded every hard obstacle. We stood up right after every painful stumble. This time, too, we would be striving for another challenge. We’ve GOTTA make it.

Four songs of this category: a sacred Renaissance polyphonic song by Antonio Lotti, a secular Romantic song by Robert Schumann, a piece by an Indonesian modern composer, and a Philippine folksong.

Mixed Choir Category

Done.

This 4th International Johannes Brahms Choir Festival and Competition that was held by Musica Mundi (www.musica-mundi.com) and Fordeverein INTERKULTUR involved some highly reputable choral experts from Germany, Hungary, Croatia, the Philippines, South Africa, and Russia. Thus, the judgment will be of high significance and recognition.

After judging session, we performed again in the afternoon at Marktplatz, singing some traditional songs. Thankfully, we were so much appreciated. The audience WERE appreciative. Even in the rain, they were enthusiastic to be our spectators.

Unexpectedly, an old man came on over after the show. He told us that long, long ago, he was a 4-year military internee while the Netherlands took over Indonesia in 1940′s. That was cool, I thought. The old man must be a living historic witness of western imperialism in Indonesia. Wow! What a tale.

The following day, Saturday, July 9, we were heading to another competition, Folklore Category (F). We had to make a special preparation for this category because we were going to wear traditional costumes, complete with its accessories. And, it was not just that. We wore miscellaneous costumes from almost every province in Indonesia.

You must know, how diverse Indonesia is in ethnicity, language, and culture. Therefore, we decided to display a kind of mini-Indonesia in our folklore performance. You’ve gotta see us. Very festive. Very colourful. Dayak, Bali, Toraja, Madura, Betawi, Batak, Java, Nusa Tenggara, Manado, Sunda, Ambon. You name it.

Folkloric Entourage

 

Though it took a long time to prepare those stuffs, we had soooo much fun wearing our own traditional wardrobe. I had never felt a soul and spirit of that much Indonesia. Never. I even didn¡¯t care that Indonesia ranks on top positions when it comes to corruption and national debt. I forgot for a while those crazy issues about violence and terrorism. That moments, I can only feel proud of being “orang Indonesia”.

So, on barefoot, we stepped onto the stage and performed our celebration of diversity. One hilarious Batavian song, “Ondel-Ondel”; a solemn and melodious Minahasa song, “O Ina Ni Keke”; and a mystic-exotic Balinese song and dance, “Janger”.

Done.

Then they gave us standing ovation.

Wow! That was amazing.

Later on that day, the organizer held choir parade. It was an unforgettable experience, to mingle around among the rich of cultures and civilization. I was a witness of how culture indeed creates tolerance. I saw before my very eyes that tolerance had broken through boundaries of country, race, and religion.

Being different in appearance, we couldn’t hide from those people’s curious gaze. Some of them smiled keenly. Some others seemed to be questioning, “Where on earth did this circus entourage come from?” …. hehehhehe…..

All of the choirs marched down the roads that surrounded the Market Place. We hailed our flags. We sang our national anthems. We were much of different backgrounds and characters, but we agreed in one universal language: Choral Music. And it was translated into one word: Peace.

In the afternoon, the organizer announced the result of the competition.

We won Gold and Silver Diplomas! We won the medals!!!

YEAAAAAAAAAAA!!!

We screamed in excitement as we heard our choir and our country spoken by Stefan Simon, the announcer, along with the awards we received.

Me? I was more than happy. I was moved, touched. I had been with this musical organization since the first year of my college attendance. I’d been through the ups and downs. I knew the tears and struggles. And that day, I felt like… rewarded. The joy was so abundant I thought it was overflowing.

Then I searched for someone that I can hold and hug, but I didn’t find one, so I just clutched my own hands and sighed….

Driving back to the hostel, I still had that yearning melancholy. That night, I sat by the window of Arche, next to the raked fireplace, and wrote down some lines.

Sunday morning, we had our last breakfast in Zum Salzbergtal. Still had to follow two last programs in the schedule: Closing Ceremony at Stadtfeldhalle and Friendship Concert at Glassh¨¹tte, Derenburg. At theend of the day, we visited another landmark of the town, Schloss Wernigerode.

We took a flight back to Indonesia on Wednesday, July 13, after two-day stay at Frankfurt.

All was memorable. I could never erase every single moment from my mind. I had seen it! The land of wizards.