Partitur: Provisi, Legalitas, dan Hak Cipta

Organ Vokal

Kalau kita ditanya apa yang paling berharga buat seorang penyanyi paduan suara, mungkin kita akan menjawab, tentunya organ vokal. Itu adalah kapital terbesar kita sebagai seorang penyanyi. Segala cara, segala daya dan upaya kita lakukan untuk membentuk, membangun, dan menjaga organ vokal kita. Kita ingin organ vokal kita juga tetap sehat, dengan hanya bernyanyi menurut teknik vokal yang sehat. Dulu gw nggak ngerti apa maksud dari pernyataan ‘bernyanyi dengan sehat’. Bernyanyi sambil makan buah-buahan gitu? Atau sambil olahraga? Belakangan gw mulai memahami bahwa teknik vokal yang sehat adalah cara bernyanyi yang sebenarnya sederhana: tidak merusak organ vokal. Apakah kemudian teknik tersebut membuat kita terdengar seperti Joan Sutherland atau malah terdengar seperti Miley Cyrus, itu bisa diperdebatkan. Tapi yang jelas, kalau kita bernyanyi dengan sehat, maka kita bisa tetap bernyanyi dengan kualitas vokal yang sama atau bertahap membaik untuk puluhan tahun ke depan. Coba lihat Edita Gruberova, seorang soprano asal Slovakia yang hingga usianya yang 66 tahun sekarang masih bernyanyi dengan indah. Lalu coba bandingkan dengan beberapa penyanyi pop yang kualitas vokalnya memudar ketika mereka mulai memasuki usia 40-50 tahun.

Lalu apa lagi dong, yang paling berharga buat seorang penyanyi paduan suara?

Buat gw, partitur adalah harta paling berharga setelah organ vokal. Mengapa? Karena dengan medium itulah gw menjelajahi segala kemungkinan dalam bermusik. Pada partiturlah segala rambu-rambu musik, ekspektasi komponis, dan proses kreatif bermusik tercetak. Kita mungkin bisa saja belajar sebuah komposisi sepenuhnya dari mendengarkan dan meniru apa yang kita dengarkan. Tapi coba bayangkan kalau sebuah paduan suara harus belajar motet “Spem in alium” (Thomas Tallis) yang ditulis untuk 8 paduan suara, masing-masing terdiri atas 5 suara. Sebuah motet untuk 40 suara! Nah lho, mungkin akan butuh waktu 40 tahun untuk bisa menyanyikan musik seekspansif itu.

Setiap kali gw dapet partitur baru, pasti itu partitur gw sayang-sayang. Apalagi kalo partiturnya berbentuk buku, macam kompilasi “Madrigals” (Claudio Monteverdi) atau “Messa de Requiem” (Giuseppe Verdi) yang nangkring di rak buku gw. Segitu sayangnya gw sama partitur, kadang-kadang gw kasi sampul. Partitur harus kita jaga dengan baik karena dua alasan:

  1. Selalu ada kemungkinan kita menyanyikan sebuah komposisi lebih dari satu kali. Mungkin dengan paduan suara yang sama, atau mungkin dengan paduan suara lain. Buku partitur “Matthäuspassion” (Johann Sebastian Bach) misalnya, gw jaga dengan baik karena setiap tahun di bulan Maret gw akan menyanyikan karya monumental ini. Atau, siapa tahu, “Vinamintra Elitavi” (Thomas Jennefelt) yang gw nyanyikan tahun lalu dengan Nederlands Studenten Kamerkoor juga akan gw nyanyikan dengen Hollands Vocaal Ensemble.
  2. Partitur itu nggak murah, dan gw berbicara tentang partitur asli, yang biasanya gw beli sendiri di toko musik, atau dikoordinasi oleh seksi repertoar TKA.

Oh… partitur mesti beli yah?

Ada terlalu banyak paduan suara yang tidak memakai partitur asli dalam latihan. Biasanya seksi latihan membagikan fotokopian partitur lagu baru pada waktu latihan. Di Indonesia mungkin seringnya partitur not angka. Kadang-kadang mungkin fotokopi partitur yang dibagikan sebelumnya sudah difotokopi beberapa kali. Tulisannya sudah nggak jelas, nggak karu-karuan. Kadang mungkin sang seksi latihan yang malang tersebut mesti nulis ulang keseluruhan partitur atau transkripsi dari not balok ke not angka sebelum difotokopi. Atau belakangan ini pada sibuk tukar-menukar partitur lewat email atau Facebook. Apa pun prosesnya, biasanya penyanyi mendapatkan partitur secara cuma-cuma.

Kita lalu dihadapkan pada dilema para penyanyi dan pelatih paduan suara yang sering kita dengar, belakangan kemudian dikeluhkan para komponis dan penggubah: boleh nggak sih pake partitur fotokopian?

Kalau gw harus membahas masalah ini hanya dari sudut pandang hukum, jawabannya jelas dan ringkas: NGGAK BOLEH.

Tapi toh, ini terjadi juga. Bahkan ketika gw sibuk menulis lema blog ini, ada bejibun-jibun paduan suara di luar sana yang sedang memfotokopi partitur baru untuk latihan nanti malam, misalnya. Ini, harus diakui, juga sangat banyak terjadi di tanah air.

Terus gimana dong Bang Jali?

Nah, gw akan mencoba sebijak mungkin membahas persoalan ini.

Gw akan harus membuat pernyataan ini dulu:

Setiap penyanyi paduan suara seharusnya hanya menggunakan partitur asli yang diperoleh secara legal dari sebuah penerbit musik, toko partitur, situs di internet, atau langsung dari sang komponis.

Hendra Agustian (2013)

Seperti halnya dengan isu hak cipta lain dalam dunia musik, hal ini penting supaya para komponis paduan suara yang sudah bekerja keras pontang-panting menulis musik juga bisa terus menulis musik. Jika para komponis menerima upah dari usahanya menulis musik sebagaimana mestinya, maka proses kreatif mereka akan terus berjalan. Mungkin ada saja orang yang memang iseng menulis lagu lalu membagi-bagikan karyanya secara cuma-cuma, tapi untuk kebanyakan komponis profesional, ini adalah sumber mata pencaharian mereka. Seluruh pelaku paduan suara yang bijak seharusnya mengetahui hal ini.

Strathclyde Motets (James MacMillan)

Apa yang terjadi kalau kerja keras para komponis ini tidak dihargai sebagaimana mestinya? Mereka akan berhenti menulis musik. Kalau mereka berhenti menulis musik, tidak ada lagi perkembangan baru dalam dunia paduan suara. Tidak ada premiér karya barunya Ronald Pohan, misalnya. Atau yang juga sekarang terjadi (dan sebenarnya sangat memalukan) adalah, seorang komponis Filipina, John Pamintuan, tidak mengizinkan pembelian partitur yang ia komposisi oleh siapa pun dari Indonesia. Ia berargumen bahwa ada terlalu banyak paduan suara di Indonesia yang telah memakai musiknya secara ilegal. Nah, kalau sudah begini kan repot.

Lalu bagaimana dong? Kita pengen tetep nyanyi paduan suara, tapi kita hanya memiliki dana yang terbatas?

BISA.

Ada banyak cara untuk melakukan hal ini. Yang paling mudah dan murah tentunya mengunduh langsung dari internet. Beberapa situs di internet memang dibuat sebagai open source. Coba kunjungi beberapa situs berikut. Kalau ada yang juga memiliki informasi lain, gw mengundang teman-teman semua untuk juga berbagi di sini.

  1. Petrucci Music Library
  2. ChoralWiki
  3. Choralnet
  4. Free Scores
  5. Hear Choirs
  6. Cipoo
  7. Werner Icking

Perlu diketahui, ada lebih dari cukup koleksi musik yang bisa kita nyanyikan dalam situs-situs gratis tersebut. Kalau memang dana untuk membeli partitur asli tidak ada, ya sudah, berkreasilah dengan yang gratis-gratis saja. Gw dulu suka iseng membuat semacam program konser hanya dengan memanfaatkan partitur gratis yang ada di CPDL. Kenapa nggak?

Cara lain, yang baru gw alami selama bergabung di Belanda sini, adalah dengan menyewa partitur. Ini juga legal. Di Belanda ada beberapa perpustakaan musik dan perpustakaan umum yang menyewakan partitur untuk paduan suara. Misalnya untuk program konser bulan Juni nanti, Hollands Vocaal Ensemble (HVE) menyewa partitur “Five Flower Songs” (Benjamin Britten) dari Bibliotheek KCZB di Voorschoten. Sementara itu, rupanya HVE memiliki sekitar 30 partitur asli “Songs of Ariel” (Frank Martin) yang dipinjamkan kepada penyanyi. Nah, ini dulu gw alami juga dengan BMS. Gw inget dulu gw dipinjami BMS partitur “Vem da je zopet” (Lojze Lebič). Begitu program konser selesai, partitur diserahkan kembali dalam keadaan masih bagus, bersih dari coretan.

Nah, menjadi masalah besar kemudian, ketika sebuah paduan suara keukeuh alias bersikeras ingin menggarap sebuah komposisi paduan suara karya seorang komponis (yang seringnya masih hidup), tapi tidak mau berinvestasi dalam partitur asli. Ini biasanya karena mereka latah “pengen bawain Whitacre”, misalnya. Atau karena paduan suara yang baru pulang kompetisi di luar negeri bawain sebuah komposisi baru dari Budi Susanto Yohanes. Lalu pada sibuk minta fotokopian partitur itu.

Menurut gw ini seharusnya tidak terjadi. Kita ingin para komponis, terutama yang masih mengawali karier mereka, terus berkarya. Kita ingin mereka mendapatkan kompensasi yang semestinya untuk apa yang telah mereka usahakan. Kreativitas dalam seni tidak ada batasnya, dan kita ingin mendengarkan karya baru dari para komponis, baik yang muda maupun yang sudah mapan. Kalau gw memperoleh kesempatan, gw akan dengan senang hati mempremiérkan sebuah komposisi Budi Susanto Yohanes, misalnya, di Belanda. Mengapa tidak? Publik paduan suara di sini rasanya masih rada awam dengan musik paduan suara dari Indonesia.

Demi kejayaan musik, mulai sekarang, mari kita lebih menghargai hak cipta dalam dunia paduan suara.

Advertisements

4 thoughts on “Partitur: Provisi, Legalitas, dan Hak Cipta

  1. komponis dsni apakah jg sama halnya dg arranger??
    misal, saya mengaransemen sebuah lagu pop dr sebuah band, misal peterpan (noah),, apakah lagu tsb sesuatu yang legal?? apakah saya harus meminta ijin Ariel sebagai komponis??

    mohon jawabnnya, krna saya blm paham….

    • Seperti yang saya jawab di inbox FB, silakan mengacu pada Undang-Undang RI No 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta.
      http://id.wikisource.org/wiki/Undang-Undang_Republik_Indonesia_Nomor_19_Tahun_2002
      Di situ ada batasan mengenai siapa pemegang hak cipta lagu (pop) dan lisensinya.

      Saya mengerti masalah hak cipta ini memang seringnya berada dalam daerah abu-abu. Faktanya adalah, pelanggaran hak cipta terjadi setiap hari, tapi kita sepertinya tidak banyak melihat konsekuensi hukum dari pelanggaran ini. Lema blog ini lebih bersifat himbauan, dengan argumen dan informasi terkait. Pada akhirnya, segala risiko hukum berada di tangan masing-masing.

      Having said that, keep exploring your skills in arranging music. Just keep in mind that there could be some legal issues here.

      Selamat bermusik.

  2. Pembahasan menarik mas. Kelegalan partitur memang selalu jdi perdebatan. Agak panjang klo ngebahas partitur. Hihihi
    tp saya sedikit bingung mas sebnrny. Scr hukum sudah jelas mengenai hak cipta. Namun spnjng sy mengikuti konser sprtny hampir semua lagu yg sy nyanyikan bkn dr partitur asli (fotokopi). Sy smpt nanya k pelatih apa boleh konser tidak menggunakan partitur asli? Beliau mnjwb untk konser boleh2 saja. Bkn hny krna keterbatasan sbg psm ttpi jg krn kalangan penonton yg tidak seperti negara2 eropa.
    Klo menurut mas hendra sendiri bagaimana?

    Makasih mas hen… 🙂

    • Iya, itu dia dilemanya. Makanya gw juga harus menjelaskan duduk persoalan ini dari pelbagai sisi: hukum, kenyataan di lapangan, dan pengaruhnya pada komponis.

      Secara yuridis, sayangnya memang fotokopian partitur yang tidak sah tetap dianggap ilegal. Undang-undang yang sudah ada belum memberikan elaborasi dan spesifikasi mengenai apakah fotokopi partitur bisa menjadi legal jika hanya digunakan untuk kepentingan konser. Makanya gw juga nggak bisa kasi argumen yang bener-bener terperinci mengenai ini. Instrumen legalnya belum spesifik. Sehingga gw harus memposisikan dilema partitur ini pada daerah abu-abu. Tetapi pada dasarnya, fotokopi, untuk keperluan apa pun, adalah ilegal.

      Kenyataan di lapangan adalah persis seperti yang terjadi di AgriaSwara dan banyak sekali paduan suara lainnya di Indonesia. Kita masih pake fotokopi partitur. Alasan utamanya tentu bisa dimengerti, keterbatasan dana. Secarik partitur lagu berdurasi 3-4 menit biasanya berkisar antara €2-5 Euro (Rp 20-60 ribu). Kalo kalian harus menampilkan 15 lagu dalam sebuah konser, setiap anggota harus mengeluarkan Rp300-900 ribu hanya untuk partitur saja. Ini bakal terasa berat banget tentunya buat kebanyakan penyanyi. Jadi, gw ngerti banget kok kalo ini menjadi dilema. Makanya, gw juga memberikan alternatif jalan keluarnya: pake partitur gratisan.

      Kemudian, seperti gw kemukakan, kita juga harus adil sama para komponis (terutama yang masih memulai karier mereka). Kasian atuh, udah pada jungkir balik nulis lagu, mereka nggak dapet upah sepeserpun, karena kita maen pake begitu saja tanpa kasi kompensasi. Coba kalian bayangkan kalo kalian juga kerja tapi nggak dapet gaji. Kalo kalian niatnya kerja sukarela lillahi ta’ala sih itu lain cerita. Tapi kalo kalian mencari sesuap nasi dari menulis lagu, terus nggak dapet upah, lama-lama komponis berhenti berkreasi. Sayang kan, bakat-bakat musikal harus terpaksa berhenti hanya karena mereka tidak mendapatkan apa yang seharusnya mereka terima.

      Gw sendiri berpikir, kan masih ada banyak tuh partitur yang sudah menjadi public domain, open source, gratis. Cobalah manfaatkan itu dulu. Cuma masalah kreativitas kok. Kita bisa bikin program konser yang bagus dengan hanya mengandalkan partitur gratis, tanpa harus berurusan dengan legalitas dan hak cipta, tanpa harus makan gaji para komponis (yang kebanyakan juga bukan orang kaya lho).

Tanggapi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s