Pusaka Musik Kontemporer Stravinsky

Stravinsky

Igor Stravinsky (1882-1971) dipandang sebagai komponis paling orisinil dan berpengaruh abad ke-20. Ia belajar musik di bawah bimbingan Rimsky Korsakov di St Petersburg. Beberapa gubahannya untuk musik balet, yaitu The Firebird, Petrushka dan The Rite of Spring memperlihatkan bagaimana Stravinsky berevolusi secara musikal dari nasionalis menjadi modernis. Stravinsky lahir di Rusia, kemudian beremigrasi ke Perancis, kemudian ke Amerika. Hidupnya yang kosmopolitan dan mendunia tercermin dalam gubahan-gubahannya. Ia menulis musik liturgi gereja ortodoks Rusia, tapi juga musik balet dalam bahasa Perancis, dan belakangan mengangkat banyak teks puisi berbahasa Inggris.

Musik Stravinsky pertama kali gw dengar pada tahun 2011, dalam sebuah konser kelulusan MaNOj Kamps, seorang mahasiswa Konservatorium Den Haag asal Sri Lanka. Sebagai syarat memperoleh gelar Sarjana Musik dalam bidang conducting, MaNOj menggelar sebuah program konser berjudul “Liberté” (kebebasan). Untuk hari yang sangat menentukan itu, MaNOj secara cerdas dan teliti memilih repertoar konser yang ia aba sendiri. Tersebutlah, Glaubst du an die Unsterblichkeit der Seele (Claude Vivier, 1948-1984), In Memoriam Dylan Thomas (Igor Stravinsky, 1882-1971), Nach dir, Herr, verlanget mich (Johann Sebastian Bach, 1685-1750), Figure Humaine (Francis Poulenc, 1899-1963), dan perdana dunia Libera Me yang digubah sendiri oleh MaNOj (*1988). Sebuah program yang sangat ambisius. Gw sendiri ambil bagian dalam konser tersebut sebagai salah satu penyanyi paduan suara. Kita kebagian mengeksekusi gubahan Poulenc untuk paduan suara ganda yang sangat menantang itu, Figure Humaine (1943)

Sementara itu, Marcel Beekman, seorang tenor mapan menyanyikan gubahan Stravinsky untuk solo tenor, kuartet musik gesek dan kuartet trombon, In Memoriam Dylan Thomas (1954). Gubahan sepanjang lebih dari 6 menit ini ia abdikan sepenuhnya kepada Dylan Thomas sendiri, yang mangkat secara mengejutkan, padahal Stravinsky berniat bekerja sama dengan Thomas untuk menulis sebuah opera. Dengan penuh intensitas emosi, Stravinsky merangkai puisi Thomas “Do not go gentle into that good night” dengan “Rage, rage against the dying of the light”. Kelak, Eric Walter White memuji gubahan ini sebagai salah satu gubahan paling mengharukan yang ditulis Stravinsky sepanjang kariernya.

Persepsi gw ketika mendengarkan musik Stravinsky untuk pertama kali mungkin terlalu rendah hati. Ada semacam keindahan misterius dalam progresi harmoni yang diawali dirge 4 trombon ini. Dan gw yang nggak terlalu cerdas musik modern ini tidak serta-merta menangkap esensi musikal yang ia gubah dalam bingkai teknik komposisi duabelas-nada (dodekafoni), yaitu metode komposisi musik yang memastikan bahwa seluruh 12 nada kromatik digunakan secara merata.

Tangga nada dodekafonik

Tapi begitulah, musik Stravinsky ternyata sangat adiktif. Sekalinya kita bisa menangkap esensi musikal tersebut, keindahan musik Stravinsky barulah mengemuka. Mereka yang terbiasa mendengarkan, menyanyikan atau memainkan musik konvensional dalam tangga nada diatonik (do-re-mi-fa-so-la-si-do) akan harus mengerutkan dahi berkali-kali untuk bisa mengapresiasi musik dodekafonik. Dan itulah yang terjadi pada gw.

Tapi mungkin gw berjodoh dengan Stravinsky. Dua tahun kemudian, gw berkesempatan menyanyikan sendiri musiknya yang fenomenal itu. Dalam sebuah festival musik kontemporer di Den Haag, gw bersama Toonkunstkoor Amsterdam membawakan Symphony of Psalms yang dilaras ulang untuk dua piano, dirangkai kemudian dengan tiga gubahan liturgi Rusia akapela Bogoroditse Djevo, Veruyudan Otche Nash.

Gubahan dan larasan yang mengangkat teks mazmur mungkin sering sekali kita dengar. Tapi Simfoni Mazmur-nya Stravinsky sama sekali lain. Ia mengaku bahwa ia tidak berniat menggubah musik simfonik dengan menyertakan teks mazmur di dalamnya. Alih-alih, gubahan ini adalah nyanyian mazmur yang ia simfonikan. Coba dengarkan Monteverdi Choir (John Gardiner) dan London Symphony Orchestra dengan sempurna mengeksekusi Symphony of Psalms di Spotify (track nomor 5-7). Gubahan ini ia bingkai dalam sistem oktatonik (nah lho, apaan lagi tuh?), yaitu tangga nada yang terdiri atas 8 nada, tapi biasanya merupakan pergantian interval penuh dan paruh. Nah, gw nggak berniat membahas teori musik, tapi rasanya teks mazmur yang diangkat Stravinsky dalam gubahan ini menarik untuk gw sarikan.

Dari bagian pertama:

Exaudi orationem meam, Domine, et deprecationem meam. Auribus percipe lacrimas meas. Ne sileas.
Quoniam advena ego sum apud te et peregrinus, sicut omnes patres mei.
Remitte mihi, ut refrigerer prius quam abeam et amplius non ero.

Dengarkanlah doaku, ya TUHAN, dan berilah telinga kepada teriakku minta tolong, janganlah berdiam diri melihat air mataku!
Sebab aku menumpang pada-Mu, aku pendatang seperti semua nenek moyangku.
Alihkanlah pandangan-Mu dari padaku, supaya aku bersukacita sebelum aku pergi dan tidak ada lagi!

(Mazmur 39:12-14)

Musik oktatonik ini akan terdengar sama sekali berbeda dengan gubahan liturgi Rusia berikut. Stravinsky menulis 3 gubahan sakral pendek yang dianggap oleh para terpelajar musik sebagai manifestasi spiritualitas Stravinsky yang sempat pudar pada usia mudanya. Ketiga karya pendek ini, yaitu Doa Bapa Kami, Salam Maria, dan Kredo, digubah dalam kerangka musik yang lebih konvensional dan ‘ramah-penyanyi’. Selain pelafalan bahasa Rusia dalam Kredo yang rancak, tidak ada kesulitan berarti dalam mengolah lagu-lagu ini. Coba simak The Gregg Smith Singers (Robert Craft) membawakan 3 Russian Sacred Choruses.

Selain komposisi di atas, akhir tahun ini, sebagai bagian dari program musik Rusia, Toonkunstkoor Amsterdam juga akan membawakan gubahan Stravinsky yang sama sekali lain, Les Noces, sebuah musik balet yang berkisah seputar pesta pernikahan a la  Rusia. Yang ini lain kali deh gw bahas. Musik balet yang ajaib ini bisa kalian lihat di YouTube. TKA akan menyanyikannya dalam bahasa Perancis.

In Stravinsky’s words:

‘Music is given to us specifically to make order of things, to move from an anarchic, individualistic state to a regulated, perfectly conscious one, which alone ensures vitality and durability.’

— Igor Stravinsky

Advertisements