Ode kepada Musik: BMS, Kamēr, dan Pengabdian

Di tengah banjir notifikasi jejaring sosial mengenai hajatan musik paling bergengsi European Grand Prix for Choral Singing 2013, gw mengamati, menandai, dan mempelajari beberapa hal yang menarik untuk kita diskusikan. Tapi sebelumnya, dengan segala kerinduan pada musik paduan suara di Indonesia, gw ingin mengucapkan selamat atas penampilan Batavia Madrigal Singers yang sangat memukau. I’m rather shy to admit it, but I really got tears in my eyes having watched BMS perform. Sejak terakhir kali bernyanyi bersama mereka di tahun 2009, ansambel vokal yang dinilai paling berdedikasi pada artistri dan musikalitas ini sudah mengalami kemajuan yang sangat pesat. Pemilihan repertoar yang inovatif dan memperlihatkan virtuositas dan versatilitas paduan suara, perhatian nyata pada presisi (intonasi, interpretasi musik, sonoritas, olah dinamika, ritmus, dan unsur rinci lainnya), dedikasi mereka pada latihan untuk mempersiapkan lomba (yang kadang-kadang gw ikuti di mailing list BMS), semuanya membuat gw menahan napas berkali-kali dalam keterpukauan.

Di tengah kesibukan sehari-hari, senang rasanya gw sempat menyaksikan live streaming Guidoneum Festival EGP edisi ke-25 dari Arezzo. Karena keterbatasan waktu gw hanya sempat menonton penampilan BMS. Sejujurnya, gw juga tidak terlalu tertarik untuk melihat penampilan 4 peserta lain. Gw pikir, “Ah, yang lain mah paling juga ntar nongol di YouTube.” Tapi begitulah, sebagai spektator kali ini, gw menyaksikan betapa Avip Priatna, sang pengaba yang sejak tahun 1996 setia mengomandani BMS, telah menunjukkan pengabdiannya pada artistri dan musikalitas. Gw angkat topi untuk kerja keras mereka mengolah musik. Gw tahu persis betapa penampilan sekelas mereka bukanlah hasil dari santai-santai bergembira. Sekitar 2 tahun keterlibatan gw dalam BMS, gw mencermati dinamika kelompok dan hasrat bermusik yang selalu kental melayang-layang di udara ketika berlatih: Kak Avip di depan piano (waktu itu di Jalan Daksa), dan para penyanyi mengelilinginya dengan secarik partitur di tangan. Dari tahun ke tahun sejak itu, BMS semakin matang secara musikal. Mereka sama sekali tidak menunjukkan gejala ‘anget-anget t**i ayam’  seperti yang gw amati pada banyak paduan suara lain. Kontinuitas dan komitmen mereka seperti tak berujung. Untuk itu semua, gw mengangkat topi dalam kekaguman. Salut.

Lalu apatah gerangan hiruk-pikuk ‘kemenangan’ dan ‘kekalahan’ ini?

Ah, seperti Bela Bartok (1881-1945) pernah berkata, “Competitions are for horses, not artists.” Gw selalu skeptis pada nosi ‘menang’ dan ‘kalah’ dalam sebuah perlombaan artistik, baik itu musik maupun seni rupa. Keindahan dalam seni adalah sesuatu yang sangat subyektif. Pada akhirnya, akan sangat sulit membedakan mana yang lebih indah dari dua karya seni atau dua penampilan musikal ketika keduanya memang merupakan hasil dari dedikasi dan passion. Ketika gw kadang membaca papan nilai hasil perlombaan sebuah paduan suara, gw kadang suka bertanya-tanya, apalah bedanya 85 dan 87 dalam skala 0-100 ketika kita tidak membicarakan statistika dan ilmu pasti? Apalah bedanya sang juara, misalnya, yang meraih nilai 87 dari yang meraih nilai 85? Apakah selisih nilai itu berasal dari satu not yang salah dinyanyikan? Atau sekadar preferensi pribadi? Atau karena kostum yang nggak matching? … I mean, it’s not Candy Crush Saga we’re dealing with. 

Tapi baiklah, gw mengerti bahwa supremasi (lagi-lagi) yang ingin diraih melalui jalur kompetisi paduan suara memang suka tidak suka melibatkan euforia dan kekecewaan. Seandainya gw produser musik, BMS sudah dari dulu gw tawari album rekaman, biar musik mereka bisa dinikmati oleh khalayak yang lebih luas di seluruh dunia, tidak terbatas pada dinding gedung konser; supaya musik mereka bisa diakses dengan mudah di Spotify atau Deezer, sejajar dengan paduan suara hebat yang lain seperti The Sixteen, Nederlands Kamerkoor, atau Kammerchor Stuttgart. Supaya musik mereka abadi. Tapi sayangnya produser musik di Indonesia tidak ada yang segitu jatuh cintanya pada musik paduan suara sehingga dia akan dengan penuh antusiasme mempromosikan musik yang jelas-jelas lebih berkelas dan lebih bermanfaat ketimbang musik komersial. Sayangnya masyarakat kita belum menempatkan musik paduan suara pada relung budaya yang berakar kuat. Masyarakat musik di Indonesia masih lebih menyukai musik gampangcerna, daripada mencoba mengapresiasi harmoni njlimet dalam musiknya Max Reger, atau jangan jauh-jauh, ritmus rancak dalam komposisi terbaru penggubah muda kita seperti Ivan Yohan atau Budi Susanto Yohanes. Sayang seribu sayang.

Buat gw pribadi, European Grand Prix for Choral Singing bukan sebuah ajang mengenai siapa yang ‘menang’ dan ‘kalah’. (I just despise those words that I have to use quotation marks all the time.) Bahkan, gw sebenarnya tidak terlalu peduli siapa yang keluar sebagai juara. Gw mengikuti perkembangan dan perjalanan musikal peserta lain dalam EGP dari tahun ke tahun, dan gw sangat terinspirasi oleh pengabdian mereka semua pada musik. Tentu saja tingkat kemajuan mereka berbeda-beda. Ada juara EGP yang memang berasal dari budaya di mana masyarakatnya sangat mencintai paduan suara. Hal ini bisa dilihat dari sejarah musik paduan suara di negara asal mereka, jumlah komponis yang lahir dan musiknya diapresiasi di sana, pendidikan musik yang menjadi bagian integral dari kurikulum sekolah, dan lain-lain. Ada juga yang tidak.

Kalau kita berbicara mengenai juara EGP tahun ini, Youth Choir Kamēr, misalnya, kita bisa melihat bagaimana para remaja ini beruntung bisa tumbuh dan berkembang dalam tradisi bernyanyi paduan suara. Sejak usia dini, mereka sudah tidak asing lagi dengan musik paduan suara, entah itu dari liturgi gereja, atau kurikulum sekolah yang menyertakan musik klasik di dalamnya. Banyak paduan suara di Latvia, baik amatir maupun profesional, menganggap premiere (perdana) sebuah komposisi yang ditulis oleh seorang komponis Latvia sebagai sebuah hari raya. Itu sebabnya komponis demi komponis lahir dan menjadi selebritis di sana. Sebutlah Ēriks Ešenvalds, Rihards Dubra, dan Pēteris Vasks. Kalau itu tidak cukup, mereka juga beruntung dikelilingi negara-negara yang juga mencintai paduan suara, seperti Lithuania dengan Vytautas Miškinis-nya, Estonia dengan Veljo Tormis-nya, dan negara-negara Skandinavia. Tidak mengherankan, kemudian, ketika paduan suara non-profesional macam Youth Choir Kamēr pun berkesempatan masuk ke dapur rekaman. Musik mereka bisa diakses gratis di sini dan di sini. Di pihak lain, ada juga juara EGP yang tidak berasal dari budaya paduan suara yang dominan, seperti Jepang.

Tapi, rasanya terlalu menarik untuk tidak disebutkan bahwa selain budaya paduan suara yang kuat di negaranya, Youth Choir Kamēr sepertinya juga memiliki struktur organisasi yang sangat suportif bagi pencapaian musikal mereka dari waktu ke waktu. Mereka memiliki dua guru vokal tetap yang memang dibayar untuk melatih vokal setiap penyanyinya secara terpisah. Urusan dasar-dasar teknik vokal tidak dipegang oleh sang konduktor. Mereka juga memiliki departemen marketing dan PR tersendiri. Jadi urusan dana yang selalu menjadi masalah utama keberlangsungan hidup paduan suara tidak lagi membuat sang konduktor sakit kepala. Ia cukup berkonsentrasi pada musik dan para penyanyi. Berkat tim yang kuat, mereka memiliki banyak sekali patron dan sponsor tetap.

Dari sudut pandang paduan suara, Indonesia berbeda dengan Latvia, atau negara-negara lain di Eropa. Dalam hal musikalitas berpaduan suara, kita terbilang masih muda. Baru pada sekitar akhir tahun 90-an paduan suara di Indonesia, dirintis oleh Paduan Suara Universitas Parahyangan (Avip Priatna) pada waktu itu, mulai menggiatkan musik paduan suara dalam format klasik, dengan menyertakan repertoar zamani. Sejak saat itu, perlahan tapi pasti, satu persatu paduan suara lain juga mulai menunjukkan pencapaiannya, entah dari keikutsertaan dalam lomba atau konser reguler. Kita mulai bangun dari tidur panjang. Berkat kegigihan para konduktor dan para penyanyi, Indonesia mulai terdengar di panggung internasional, bukan melulu karena eksotisme musik oriental macam angklung dan gamelan Jawa, tapi benar-benar musik paduan suara yang layak disandingkan dengan paduan suara internasional. Jika budaya musik paduan suara dipertahankan seperti ini, jika gedung-gedung konser penuh dengan jadwal penampilan paduan suara, jika sekolah-sekolah dipenuhi dengan alunan harmoni musik paduan suara di samping musik populer, maka gw rasa, dalam beberapa tahun, kita juga akan memiliki budaya paduan suara tersendiri, khas Indonesia. 

Lalu, buat apa sih semua ini? Cuman buat kebanggaan menjadi bangsa Indonesia?

Well, I wonder.

Gw cenderung lebih suka meneguhkan idealisme gw murni pada perayaan musikal. Dalam dunia yang semakin mengglobal dan interkultural, rasanya jargon-jargon nasionalisme sudah tidak terlalu relevan, apalagi dalam musik. Tapi baiklah, jika itu yang menjadi opini publik, gw tidak menyalahkan. Yang jelas, musisi terbaik, pada akhirnya, adalah mereka yang mencintai musik atas nama keindahan musik itu sendiri, bukan karena tuntutan sektarianisme yang cenderung membelah bukannya menyatukan.

Untuk Batavia Madrigal Singers dan semua penggiat paduan suara, cheers!

Artistri Menurut The Sixteen dan Harry Christophers

The Sixteen dan Harry Christophers

Saat ini, tidak ada paduan suara lain yang lebih sering gw dengarkan selain The Sixteen. Berkat media penyedia musik cuma-cuma macam Spotify dan Deezer, dengan penuh ketertarikan dan keingintahuan gw menjelajahi satu per satu album rekaman ansambel vokal profesional yang dikomandoi oleh Harry Christophers ini. Sejak tahun 1979 hingga 2013, The Sixteen sudah memproduksi lebih dari 100 album rekaman musik paduan suara 600 tahun terakhir. Fantastis! Gw rasa belum ada ansambel vokal lain yang menandingi mereka. Bukan hanya kuantitas, tapi setiap album yang mereka rilis dipuji oleh banyak kritisi musik sebagai hasil seni berstandar tinggi. Mereka telah memenangi begitu banyak penghargaan tertinggi seperti Grand Prix du Disque dan Schallplattenkritik. Album “Renaissance: Music for Inner Peace” mereka memenangi Gramophone Award, sementara  album “Ikon” mereka dinominasikan untuk Grammy Award pada tahun 2007, dan album rekaman “Messiah” yang kedua mendapat penghargaan MIDEM Classical Award 2009 yang prestisius. Gw dengan penuh antusiasme mengundang teman-teman semua untuk mengapresiasi musikalitas mereka di sini.

Salah satu lagu dari album yang memenangi Gramophone Award tersebut bisa kalian nikmati di YouTube: Libera Nos gubahan komponis zaman Tudor John Sheppard. Simak bagaimana warna vokal soprano mereka yang sangat terang dan sama sekali tak bervibrato. Lalu coba juga dengarkan suara alto mereka yang seluruhnya dinyanyikan oleh para pria! Tenornya yang sorgawi, dan bassnya yang beresonansi. Ah, dengerin sendiri deh!

Dalam lema blog mengenai supremasi paduan suara, gw sempat menyebut nama The Sixteen, dalam bahasan mengenai pelbagai cara mencapai kejayaan dan nama besar paduan suara. Nah, senada dengan lema tersebut, The Sixteen juga dikenal oleh masyarakat paduan suara dunia lewat konser-konser mereka yang berkualitas. Mereka tampil di gedung-gedung konser terkemuka di pelosok Eropa, Jepang, Australia, dan benua Amerika. Gw cukup beruntung sempat menonton salah satu konser mereka di Queen Elizabeth Hall, London, pada tahun 2010. Mereka telah dengan sangat berbaik hati menjual tiket konser seharga £10. Selain menjadi bintang konser, mereka juga menjadi bintang program serial televisi Sacred Music di BBC 4, yang beberapa episodenya bisa kalian lihat di YouTube. Gw mengumpulkan beberapa episode lengkapnya di sini.

Sacred Music BBC

Ada banyak hal yang gw rasa bisa kita pelajari dari The Sixteen. Selama lebih dari 33 tahun keberadaannya, The Sixteen dikenal masyarakat paduan suara di seluruh dunia karena komitmennya pada musik. Mereka memegang reputasi untuk karya polifoni Inggris kuno, mahakarya kala Renaissance, interpretasi baru untuk musik zaman Barok dan Klasik, dan tentunya juga pelbagai gubahan musik modern dan kekinian. Pada jantung segala pencapaian ini adalah Harry Christophers, sang pendiri The Sixteen yang hingga kini masih berkomitmen pada artistri dan musikalitas ansambel yang ia pimpin.

Harry Christophers

Harry Christophers (*1953) mengawali perjalanan musikalnya sebagai anak paduan suara di Katedral Canterbury dan pemain klarinet dalam orkestra sekolahnya di King’s School, Canterbury. Segera setelah ia belajar Studi Peradaban Klasik di Universitas Oxford selama 2 tahun, Christophers langsung memulai karier musiknya. Adalah sekitar waktu itu ia mendirikan The Sixteen pada tahun 1979. Sejak itu, bersama ansambel vokal dan ansambel instrumentalis musik zamani The Sixteen, Christophers memproduksi musik berkualitas tinggi. Coba dengarkan interpretasi mereka terhadap gubahan Gregorio Allegri Miserere yang diambil dari salah satu episode Sacred Music.

Filosofi Christophers mengenai perannya sebagai pengaba menurut gw menarik. Ia bilang, sebagai konduktor, ia bertanggung jawab untuk ‘memberi makan’ para musisi yang ia aba, baik itu vokalis maupun instrumentalis, sedemikian hingga energi musik yang dibangun sampai ke audiens. Tentang rekrutmen penyanyi, ia juga memiliki pandangan tersendiri. Ia percaya bahwa selain kualitas individual para penyanyinya (kemampuan prima vista, musikalitas tinggi dan daya tanggap yang cepat, intonasi sempurna dan perasaan ritmis yang tajam), 50% sisanya adalah bahwa setiap penyanyi harus memiliki karakter yang baik. Pada akhirnya, adalah kerjasama tim yang menentukan keberhasilan mereka sebagai paduan suara. Kesediaan untuk mendengarkan satu sama lain menjadi syarat wajib.

Nah, di atas segalanya, menurut gw hal yang paling penting yang dapat kita tiru dari para musisi sejati ini adalah komitmen. Banyak penyanyi The Sixteen yang masih bernyanyi sejak grup ini didirikan. Bayangkan, lebih dari 30 tahun bernyanyi bersama. 30 tahun yang penuh musik.  Ambil contoh salah seorang kontratenornya, Chris Royall, yang bernyanyi dalam arahan Christophers sejak 1979. Atau Sally Dunkley, salah satu soprano The Sixteen, yang juga setia sejak konser pertama, sambil juga memperkuat the Tallis Scholars dan Gabrielli Consort yang mengkhususkan diri pada musik kuno dan kala Renaissance. Sally mengaku bahwa salah satu hal yang membuatnya betah bernyanyi dalam ansambel vokal ini adalah atmosfer kerjasama dalam tim yang selalu hangat dan penuh keramahan. Sang konduktor, menurut Sally, juga selalu memberi kesempatan para penyanyinya menjelajahi berbagai kemungkinan, termasuk mengembangkan karier sebagai penyanyi solo. Salah satu sopranonya yang lain, Elin Manahan Thomas, hingga kini telah mengukir karier solo tersendiri.

Nah, The Sixteen mungkin memang berada dalam tingkat musikalitas yang berbeda dari kebanyakan paduan suara, karena mereka profesional. Setiap penyanyinya menempuh pendidikan musik formal dan menjadikan musik sebagai mata pencaharian hidup. Tapi, coba renungkan, kecintaan dan komitmen mereka pada musiklah yang pada akhirnya membedakan mereka dari yang lain. Dan itu dengan mudah bisa kita dengarkan ketika mereka bernyanyi. Untuk para penyanyi paduan suara amatir seperti gw, rasanya kecintaan dan komitmen ini juga penting, karena hanya dengan itulah sebagai musisi kita terus mempertajam dan mengembangkan artistri dan musikalitas kita.

Semoga menginspirasi.

Verdi dan “Setannya Misa”

Giuseppe Verdi dikenal sebagai komponis Italia kala Romantik yang banyak sekali menggubah musik opera. Sebut saja judul-judul opera heroik macam Rigoletto dan Aida. Atau yang sangat sensual dan profan macam La Traviata. Kalau judul-judul tersebut terdengar terlalu kolosal, mungkin lagu riang gembira seperti Libiamo ne’ lieti calici atau La donna è mobile setidaknya pernah kita dengar dinyanyikan oleh Aning Katamsi dan Christopher Abimanyu dengan iringan Twilite Orchestra (Addie MS). Verdi dianggap sebagai salah satu komponis opera paling berpengaruh pada abad ke-19. Tidak hanya itu, Verdi juga berperan aktif secara politik dalam penyatuan kembali semenanjung Italia (Risorgimento).

Sebagai seorang agnostik cenderung ateis, Verdi menggubah nyaris hanya musik sekuler saja. Terdapat sangat sedikit referensi religiusitas dalam karya-karyanya. Salah satu dari sedikit gubahan sakral Verdi adalah Messa da Requiem, yang ia tulis untuk mengenang kepergian Alessandro Manzoni, seorang penyair dan politikus Italia yang sangat ia kagumi. Demikianlah, sebuah musik kolosal misa pemakaman sepanjang 1.5 jam lahir dari tangan seorang komponis besar dari kampung Le Roncole ini. Sebuah musik kolosal yang oleh sang komponis sendiri disebut sebagai “that devil of a Mass”.

Premier “Messa da Requiem” di Teater La Scala, 1874, dengan Verdi sendiri sebagai pengaba

Requiem Verdi ditampilkan untuk pertama kalinya di sebuah gereja di Milan pada 22 Mei 1874. Tiga hari kemudian, konser yang sama diulang di Teater La Scala, diaba langsung oleh sang komponis. Setelah itu, komposisi untuk 4 solois, paduan suara dan orkestra ini lebih banyak ditampilkan di teater dan gedung konser ketimbang gereja, sehingga masyarakat musik cenderung menganggap premier Requiem Verdi adalah penampilan di Teater La Scala, yang diabadikan oleh Osvaldo Tofani dalam ilustrasi di atas.

Para terpelajar musik beranggapan bahwa Verdi berniat untuk memperkenalkan musik opera ke dalam musik gereja melalui Messa da Requiem. Lebih dari itu, ia juga membuat semacam pernyataan musikal terhadap rasa kebangsaannya sebagai seorang Italia. Namun, ada semacam pertentangan yang bisa kita telusuri dalam gubahan ini: antara sakrilegi dan profanitas, antara harapan kedamaian abadi khas musik pemakaman dan teror mengerikan Hari Penghakiman dalam Dies Irae. Verdi tampaknya tidak berniat menciptakan suasana wingit penuh janji manis akan kehidupan setelah mati. Alih-alih, ia melukiskan kematian itu sendiri sebagai sesuatu yang sama sekali tidak menenangkan.

(cuplikan dari BBC Proms 2011: Semyon Bychkov mengaba BBC Symphony Chorus, BBC National Chorus of Wales, London Philharmonic Choir, dan BBC Symphony Orchestra)

Verdi tanpa sungkan menggunakan ritmus yang sangat kuat menghentak. Pada bagian lain, kita juga disuguhi garis melodi yang begitu indah. Pertentangan antara dua kekuatan emosi ini menjadi salah satu ciri khas opera Verdi yang juga kita temukan pada Requiem-nya.  Coba simak Lacrimosa dinyanyikan oleh mezzosoprano Fiorenza Cossotto, bass Nikolai Ghiaurov, tenor Luciano Pavarotti, soprano Leontyn Price, dan Chorus of La Scala Milan, di bawah baton konduktor fenomenal Herbert von Karajan pada tahun 1967 berikut.

Pada bagian Sanctus, Verdi mengedepankan hanya paduan suara, dalam larasan kompleks fuga untuk 8 suara. Dirangkai kemudian dengan Agnus Dei yang surgawi. Kedua bagian ini akan sangat kontras jika dibandingkan dengan Libera Me yang menjadi pamungkas keseluruhan gubahan akbar ini. Mereka yang berharap Libera Me menjadi sebuah penutup Requiem yang memerdekakan mungkin akan harus kecewa dengan ambiguitas Verdi. Harapan akan kebebasan dari maut yang menyakitkan mungkin akan menjadi sebuah ilusi kabur ditelan kabut, ketika kita dihadapkan pada komposisi ini. Soprano jelita Angela Gheorghiu membawakan keserbatakpastian ini dengan sangat baik:

Nah, demikianlah. Sebuah gubahan musik yang sama sekali tidak sederhana, tidak biasa, tetapi indah luar biasa. Untuk mereka yang mendalami ilmu vokal atau mengkhususkan diri dalam musik opera, rasanya Messa da Requiem Verdi sangat relevan untuk dimasukkan ke dalam repertoar. Gw seneng banget berkesempatan mengapresiasi gubahan ini bersama Toonkunstkoor Amsterdam dan Philharmonischer Chor Duisburg September mendatang di Jerman, diaba oleh Giordano Bellincampi. Bernyanyi bersama kami empat solis Maria Jose Siri, Susanne Resmark, Antonello Palombi, dan Stephen Milling.

Di YouTube kita bisa menemukan cukup banyak video konser utuh Requiem Verdi. Gw pilihin deh satu ^^ dari sang Herbert von Karajan dan Pavarotti waktu masih muda. Enjoy!