Ode kepada Paduan Suara Mahasiswa

Agria Budapest Folklore

AgriaSwara, performing Gai Bintang (Budi Yohanes) at the 11th Budapest Choir Competition

Tinggal jauh dari tanah lahir membuat orang biasanya merindukan hal-hal kecil yang mengingatkan mereka pada rumah, pada jajanan murah pinggir jalan, pada gawir dan ceruk yang menjadi tempat bersembunyi di masa kanak-kanak. Buat gw, ada hal lain yang membuat gw rindu pulang: paduan suara, AgriaSwara salah satunya.

Selama studi di Bogor, dan lama setelah itu, AgriaSwara menjadi rumah kedua gw. Lebih dari 11 tahun gw betah bermusik di situ. Dulu sewaktu baru masuk kuliah, untuk pertama kalinya gw mendengar musik paduan suara ketika sekelompok mahasiswa menyanyikan Gaudeamus Igitur dan aransemen One Moment in Time. Mereka menamakan diri AgriaSwara, dan… ah, ah, ah, gw langsung jatuh cinta.

Jadi begitulah, masa kuliah gw di IPB yang sama sekali nggak berjalan mulus, when it came to fulus, menjadi seru dan berwarna. Meskipun awalnya paduan suara ini cuma menyanyikan lagu-lagu perjuangan, aransemen sederhana lagu rakyat dan sesekali lagu pop, waktu itu gw pikir ini adalah organisasi mahasiswa terbaik yang ada di kampus. Gw merasa kerasan di paduan suara mahasiswa karena di organisasi ini gw bisa recharge otak setelah seminggu penuh berkutat dengan kuliah dan praktikum. Kelak, belakangan gw mengangkat topik kebersamaan dalam keanekaragaman dalam AgriaSwara sebagai salah satu bahasan dalam akreditasi pembelajaran eksperiensial terdahulu (APEL) gw. Tapi itu gw bahas lain kali.

Gw kuliah di Ai Pi Bi kelamaan. 7 tahun! Sempat dua kali dapet surat cinta dari rektorat, yang sepertinya udah jengah lihat gw nggak lulus-lulus, sempat nunggak SPP pula, lol. Bukan niat hati menjadi mahasiswa abadi sih, tapi apa daya, gw mesti banting tulang (sometimes literally when I was just fed up with everything and ‘sop buntut’ was within reach :P) mendanai kuliah sendiri. Jadi begitulah, mahasiswa terbaik FMIPA 2002 ini kepayahan mencoba menyelesaikan skripsi sambil kerja paruh waktu. Kalo ada yang menyelematkan gw dari depresi dan pikiran suisidal, mungkin AgriaSwara jawabannya.

Gw harus berterima kasih pada paduan suara mahasiswa karena dari situlah gw belajar banyak tentang musik, tentunya, tapi juga berorganisasi dan bersosialisasi. Gw nih lumayan introvert. I usually hate crowds and I’d be exhausted after too much social contact. Di PSM gw secara bertahap mengurangi kecenderungan ini. Gw juga nggak selalu percaya diri sama kemampuan gw di depan publik. Di PSM gw dilatih untuk menjadi banci tampil dan menyadari kalau gw punya bakat seni. Nggak tau ye orang lain setuju apa nggak, but whatever 😛

Jaman gw kuliah dulu, AgriaSwara berada dalam fase transisi dari pelatih sepuh yang sudah menjadi dirigen berjuta-juta tahun lamanya, ke regenerasi pelatih muda yang waktu itu kita percaya bisa memberi angin baru. Dan begitulah, gw ambil bagian dalam proses ini, menjadikan pianis sebagai pelatih, mencetuskan ide konser dengan repertoar klasik, sampai mencari konduktor tetap. Dari pak Victor Purba, ke Ingrid Cahya, ke Arvin Zeinullah.

Setelah fase ini, AgriaSwara seperti tak terhentikan. Dari konser ke konser, yang hampir konsisten ditampilkan tiap tahun. Dari festival ke festival, dalam dan luar negeri. Dari Jerman hingga Italia, Swiss hingga Irlandia. Gw kadang sampai nggak habis pikir… wow! Bisa sejauh ini lho! Gw sampai terharu banget, suatu ketika gw bahkan sempat nyambangin konser mereka di Belanda. Reuni setelah sekitar 5 tahun!

Keterlibatan gw dalam paduan suara mahasiswa menjadi highlight masa kuliah gw di Ai Pi Bi. Dan gw membawa pengalaman ini kemana-mana. 11 tahun jadi penyanyi paduan suara mahasiswa. Nah, lho, gw rasa nggak banyak yang bisa bertahan selama itu 😉

Here’s to your good (old) time in your own students’ choir: Na zdravi! ^^

Advertisements

Polifoni dari Negeri Kumpeni

Suatu waktu di sekitar tahun 2009, AgriaSwara beroleh kesempatan menggarap sebuah komposisi polifoni dari abad XVI berjudul “Ik zeg adieu” (Kuucapkan selamat tinggal), atau dalam ejaan purbanya “Ick seg adieu”, karya Gherardus Mes, seorang komponis asal Burgundi (sekarang Belanda-Belgia). Lagu ini diambil dari buku kumpulan lagu-lagu sekular rakyat Belanda yang ia gubah ke dalam empat suara.

Ick seg adieu,
wy twee wi moeten sceiden,
tot op een nyeu;
so wil ick troost verbeyden.
Ic late bi u dat herte mijn,
want waer ghi zijt, daer sal ic zijn.
Tsi vruecht oft pijn,
altoos sal ic u vry eygen zijn.

Terjemahan

Kuucapkan selamat tinggal,
kita berdua harus berpisah,
sampai kita berjumpa lagi;
aku akan merindukan kedamaianmu.
kutinggalkan hatiku padamu,
karena di mana pun engkau, aku akan ada di situ.
Dalam suka dan luka,
aku akan selalu bersamamu.

Stanza pertama dari lagu tersebut dinyanyikan dengan baik oleh Camerata Trajectina berikut:

Sepanjang sejarah keterlibatan gw dalam paduan suara di Indonesia dari tahun 1998 hingga 2009, hanya itu komposisi berbahasa Belanda yang pernah gw nyanyikan. Paduan suara lain di Indonesia pun setahu gw sangat jarang (atau belum pernah) membawakan komposisi dari negeri kumpeni. Di antara nama-nama komponis Eropa macam Brahms, Kodaly, Elgar, Monteverdi, Poulenc, atau yang lebih modern macam Tormis, Miškinis, Tavener, dan Ešenvalds, musik paduan suara dari Belanda tampaknya belum banyak dikenal di Indonesia. 

Gw sendiri baru akhir tahun 2011 mendapat kesempatan lagi menggarap komposisi yang ditulis oleh komponis Belanda. Bersama Nederlands Studenten Kamerkoor (NSK), waktu itu kita menyanyikan “In Despair” karya Joost Kleppe (*1963), yang diangkat dari puisi Kafavis asal Yunani tentang kisah cinta antara dua lelaki, “Woord-jazz op russies gegevens” karya Jeff Hamburg (*1956) untuk paduan suara berbicara (speaking choir), dan “Situaties” karya Wim de Ruiter (*1943) untuk 16 suara yang sangat eksperimental:

NSK juga memperdanakan komposisi avant garde karya Gijs van der Heijden (*1982), “A Collapsing Wavefunction of Violence” untuk gitar listrik, tiga paduan suara, dan soundtrack, yang ajaib dan susahnya bikin pengen bunuh diri.

Sejak itu, baru dengan Hollands Vocaal Ensemble (HVE) sekitar dua tahun kemudian, gw berkesempatan lagi mendalami komposisi dari negeri sepatu kayu. Tersebutlah nama Gerard Beljon, seorang komponis kontemporer yang cukup produktif. HVE membawakan “En wat dan” yang ia tulis untuk SSAATTBB, klarinet, kuintet musik gesek dan perkusi. Beljon mempublikasikan rekaman langsung dari konser HVE di Waalse Kerk Amsterdam tersebut (dan seperti biasa, gw nggak kelihatan di situ :P).

Pengalaman gw membawakan karya-karya komponis yang masih hidup tersebut adalah sang komponis diundang datang dalam latihan untuk memberikan semacam feedback. Bagaimanapun, sang komponis lah yang paling tahu seperti apa musik yang ia tulis seharusnya berbunyi. Mereka kemudian juga diundang menonton konser dan tentunya mendapat penghormatan yang layak. Menjadi sangat spesial ketika karya mereka diperdanakan oleh paduan suara. Seperti pernah gw bahas sebelumnya di sini, premiére sebuah karya musik (paduan suara) di Eropa adalah sebuah perayaan musikal yang dinantikan banyak orang. Momen ini menjadi batu loncatan karier yang penting buat sang komponis, daya tarik konser buat publik, mendongkrak reputasi paduan suara yang memperdanakan karya tersebut, dan juga tentunya memperkaya pustaka musik paduan suara. Tidak murah meminta seorang komponis menulis musik untuk kita perdanakan.

Di Belanda, biaya penulisan sebuah komposisi baru terdiri atas honor buat penulis teks (misalnya diangkat dari puisi) atau libretis dan komponis, serta biaya pembuatan material untuk penampilan (misalnya penerbitan partitur). Tawar-menawar antara komponis dan paduan suara diizinkan, tetapi Perkumpulan Komponis Belanda (GeNeCo) memberikan kerangka dan beberapa ketentuan. Tujuannya tentunya supaya terjadi win-win situation.

Sebagai gambaran untuk tahun 2011, sebuah komposisi untuk paduan suara berdurasi sekitar 10 menit biasanya dihargai sekitar €6000 (Rp 96 juta). Kalau ditambah instrumen biaya ini akan bertambah lagi. Semakin kompleks pembagian suara, semakin tinggi harga sebuah komposisi. Bayangkan kalau untuk satu konser saja NSK memperdanakan hingga empat komposisi! Peran sponsor dan patron tetap menjadi tidak tergantikan di sini. Lebih jauh mengenai peraturan dan prosedur subsidi bisa dibaca di sini (dalam bahasa Belanda).

Gijs van der Heijden (*1982)

Musik kontemporer dari Negeri Kumpeni, sepanjang pengalaman gw, sangat eklektik. Para komponis mengambil inspirasi untuk musik mereka dari berbagai sumber: teks sastra, Google, pidato politik, bahkan perbincangan informal dua ibu-ibu di pasar ikan. Secara musikal, mereka juga sangat liberal. Mereka tidak takut membangkang, menentang kaidah-kaidah musik. Hasilnya, musik mereka sangat personal dan unik. Sejak berkenalan dengan musik atonal dan dodekafonik, gw mulai bisa mengapresiasi keindahan musik eksperimental. Atau mungkin lebih tepatnya, keunikan musik eksperimental. Sebagai penyanyi, gw dituntut sangat peka nada dan tajam intonasi (karena seringnya musik yang kita nyanyikan tidak berada dalam referensi konvensional, atau harmoni yang dinyanyikan paduan suara bertabrakan dengan harmoni musik pengiring). Modus novus harus sudah khatam deh pokoknya.

Nah, akhir bulan depan HVE akan menggelar konser yang mengangkat musik paduan suara Belanda dari awal abad XX. Kita akan membawakan beberapa karya monumental dari Jan Koetsier (1911-2006), Julius Röntgen (1855-1932), Henk Badings (1907-1987, yang lahir di Bandung), Rudolf Escher (1912-1980), Ton de Leeuw (1926-1996), dan Géza Frid (1904-1989).

Musik paduan suara Belanda dari abad ini juga memiliki karakteristik tersendiri. Escher, misalnya menulis musik dengan bahasa, tata bahasa dan bunyi yang begitu pribadi sedemikian hingga menurut Leo Samama semua pernyataan tentang pengaruh Jerman dan Perancis, tentang musik lama dan baru, tentang ruang dan waktu menjadi sia-sia dan tak berarti. Coba simak karya Escher yang sangat musikal berikut, dinyanyikan dengan penuh presisi oleh Nederlands Kamerkoor:

Atau musik Badings, sang pionir musik elektroakustik di Belanda berikut:

Dua komposisi berbahasa Perancis di atas, yang juga kental dengan pengaruh chansons Perancis, akan terdengar berbeda dengan “Concerto pour piano et choeur” yang ditulis oleh Frid, atau musik de Leeuw yang meditatif berikut:

Menarik untuk diketahui, komponis Belanda biasanya memilih untuk tidak menulis musik dengan teks berbahasa Belanda. Teks berbahasa Perancis, seperti beberapa komposisi yang baru gw sebutkan, atau berbahasa Jerman, seperti komposisi yang ditulis Koetsier dan Röntgen, biasanya lebih banyak digunakan. Dalam kasus komponis kontemporer, tentunya ada pergeseran, tapi biasanya pelaku musik di Belanda setuju kalau bahasa Belanda bukan bahasa yang sangat musikal. Pengalaman gw menyanyikan dan merekamstudio sebuah komposisi dalam bahasa Belanda, “Requiem voor de mens” (Rob Goorhuis, *1948), dengan NSK juga sepertinya mengkonfirmasi anggapan umum tersebut.

Meskipun demikian, satu hal yang menurut gw sangat bagus untuk kita pelajari adalah musik paduan suara di Belanda sangat dihargai oleh masyarakat. Tidak hanya dengan penghargaan simbolis atau retoris, tapi juga dihargai dengan uang yang layak. Selain penghargaan untuk komposisi baru seperti yang gw jelaskan di atas, partitur paduan suara, baik yang sudah diterbitkan maupun belum, juga dilindungi oleh hak cipta (dan ini bukan hanya tulisan di atas partitur yang kemudian difotokopi juga), tapi memang dipatuhi.

Sebagai pamungkas lema kali ini, silakan simak “Hymne aan Rembrandt” yang ditulis oleh Alphons Diepenbrock (1862-1921) untuk solo sopran, paduan suara perempuan dan orkestra berikut:

Buklet Konser VS Undangan Pernikahan

Musik yang baru saja kalian nyanyikan telah menyentuh rasa kemanusiaan saya. Terutama yang ini. (Ia menunjuk salah satu repertoar dalam buklet program konser) Saya menyimak dengan seksama pernyataan musikal yang kalian nyanyikan. Saya membaca dan menyelami setiap kalimat dan makna di balik bahasa yang  tidak selalu saya pahami. Sepanjang konser, saya seperti sedang trance. Saya akan menyimpan buklet ini baik-baik.

Testimonial ini gw dengar dari salah satu audiens di Waalse Kerk, Amsterdam, usai konser “Shakespeare and Songs” bersama Hollands Vocaal Ensemble beberapa waktu silam. Ia secara spesifik menunjuk pada bagian buklet konser, yaitu teks puisi Raymond Lévesque yang digubah oleh Philip Glass untuk SATB, Quand les hommes vivront d’amouryang tercetak dalam teks asli berbahasa Perancis dan terjemahannya dalam bahasa Inggris:

When men live in brotherly love
There will be no more misery
And the good days will begin
But as for us, we shall be long gone,
my brother
When men live in brotherly love
There will be peace on Earth
Soldiers will be troubadours
But as for us, we shall be long gone,
my brother

Dari sudut pandang penyanyi di atas panggung, tampak jelas bagaimana penonton yang hadir menjadikan buklet konser sebagai panduan mengapresiasi musik yang kami nyanyikan. Kekhususan tema konser kali ini, mengetengahkan syair sastra sekaliber Shakespeare, membuat buklet konser sebagai alat bantu yang sangat penting. Sebagai pelaku musik, HVE ingin agar pesan sang komponis lewat komposisinya sampai ke publik.

Empat tahun malang melintang di dunia paduan suara di sini, gw mengamati beberapa hal yang kayaknya menarik untuk kita diskusikan.

Buklet konser sebagai media pendidikan musik

Koor-koor di Belanda menganggap penting buklet konser, karena lewat buklet lah segala informasi mengenai konser dapat dibaca. Bukan hanya urutan repertoar, profil pengaba, pemusik dan penyanyi saja, tapi juga informasi terperinci mengenai setiap komponis, setiap lagu yang dinyanyikan, dan teks beserta terjemahannya. Buklet konser Kamerkoor Vocoza “Tussen mij en God” (Antara aku dan Tuhan) tahun 2011 ini misalnya. Setiap komposisi dibahas, dari sudut pandang latar belakang penciptaan dan apa relevansinya dengan tema konser yang diangkat kali itu. Entitas Tuhan menjadi tema sentral dalam konser tersebut, dan audiens bisa dengan mudah bergabung dalam proses kreatif-musikal yang kami lalui sebagai pemusik. Bahkan diskursus filosofis mengenai “Seperti apakah wujud Tuhan yang Anda percayai?” juga tertulis dalam buklet ini. Mayoritas masyarakat Belanda yang agnostik sekular sudah meninggalkan pandangan tradisional agama dan ketuhanan, tetapi spiritualitas tampaknya tetap menjadi bagian dari hidup mereka.

Kenapa sih segitu ribetnya bikin buklet konser seterperinci itu?

Konser paduan suara, menurut komunitas musik di Eropa (paling tidak yang sejauh ini gw amati), bertujuan tidak hanya sebagai ajang rekreasi dan apresiasi seni, tapi juga pendidikan musik. Di benua di mana musik paduan suara sudah mengakar dalam budaya mereka sejak ratusan tahun yang lalu, orang datang menonton konser paduan suara biasanya bukan sekedar duduk manis pasang telinga hip hip hura, tapi juga mereka biasanya ingin belajar hal baru, menemukan inspirasi musik baru, mengenal komponis dan komposisinya.

Beberapa tahun silam, Michael Allsen, seorang profesor dari sebuah universitas di AS menggagas semacam petunjuk pelaksanaan membuat buklet konser. Ia menekankan bahwa sebuah buklet konser yang bagus memiliki dua fungsi: memberikan gambaran latar belakang dan sejarah komposisi dan memberikan gambaran tentang apa yang bisa diharapkan oleh publik ketika mereka mendengarkan komposisi tersebut.

Bagian-bagian penting dalam sebuah buklet konser

Sebagai contoh, gw pake buklet konser Hollands Vocaal Ensemble yang gw bahas di awal tadi. (I know it’s in Dutch, but you can get an idea of how it looks.) Dalam buklet ini, yang seluruh isi dan layout-nya dikerjakan dengan rapi dan komprehensif oleh Marieke, salah satu penyanyi alto, penonton konser mendapatkan informasi lengkap tentang musik yang kami persembahkan. Buklet diawali dengan pengantar singkat, semacam benang merah, repertoar yang kami nyanyikan. Tidak ada basa-basi ucapan terima kasih di sini, hanya inti tema konser yang dikemas dalam semacam narasi singkat.

Kemudian dalam buklet konser ini para komponis dibahas satu persatu. Sekilas mungkin tampak seperti copy-paste dari Wikipedia, tapi kalo dibaca dengan teliti, tampak jelas kalau teks Shakespeare yang menjadi tema konser ini diberikan penekanan. Dari sekian banyak komposisi Britten, misalnya, hanya “Five Flower Songs” yang mengangkat teks penyair paling terkenal sepanjang masa ini. Dalam artikel yang ditulis Allsen tadi, dia juga mengetengahkan isu plagiarisme dalam buklet konser. Menurut dia, hal ini terjadi karena penulis buklet sekadar menyomot alias copy-paste dari sumber di internet.

Ringkasnya, sebuah buklet program yang bagus sebaiknya memuat:

  • Daftar repertoar
  • Latar belakang pemilihan repertoar dan judul konser
  • Sekilas tentang komponis dan komposisi dalam program (dan kaitannya dengan tema konser)
  • Teks lagu dan terjemahan
  • Profil pengaba dan paduan suara
  • Rencana konser berikutnya

Akhirnya, pilihan menyajikan buklet konser yang bagus (atau tidak) ada di tangan paduan suara. Kadang sumberdaya yang terbatas (baca: nggak ada yang cukup rajin meramu informasi dan menyajikannya) menjadi alasan audiens memperoleh buklet konser yang tampak seperti undangan pernikahan: mentereng, dicetak di atas kertas tebal dan mahal dengan disain menarik dan penuh warna… tapi miskin informasi. Atau mungkin konduktornya yang sekadar mencomot lagu ini dan itu tanpa ada benang merah atau tema yang jelas, sehingga sangat sulit membuat narasi yang koheren.

Jadi, pertanyaannya, lebih pilih mana? Fancy tapi miskin informasi, atau sederhana tapi kaya akan relevansi?

Perlu diingat, audiens membayar tiket bukan hanya untuk menikmati musik per se, tapi juga memperoleh informasi baru tentang musik yang mereka tonton. Selain tentunya musik dengan kualitas konser, informasi tentang musik yang dibawakan juga hak mereka.

3: Terbaik untuk Tahun Ini

Dari milis AgriaSwara IPB (20 April 2009)

Dear Choristers,

 

Aku mau bawa berita baik dulu yaaah. Kami berhasil meraih posisi 3 pada 10. mednarodno zborovska tekmovanje maribor (10th International Choir Competition Maribor) 2009. AlhamduliLlah. Berkat kerja keras dan disiplin (mengutip jargon konduktor kami), inilah hasil terbaik yang bisa kami persembahkan tahun ini.

Sedikit mengenai hasil kompetisi, sebenarnya juara satunya ada dua, karena nilai mereka sama, yaitu Komorni Zbor Ave (tuan rumah) dan KUP Taldea dari Tolosa, Basque (Spanyol). Dari kedua padsu itu, langsung ke BMS. Jadi, secara hierarki, yaaah… boleh dibilang BMS juara 2 juga sih sebenernya. Tapi, terserah panitia lah, itu toh hanya sekedar label, karena bagaimana pun, akhirnya BMS berhasil menaklukkan salah satu kompetisi paling sulit pada level internasional saat ini di Eropa. Pada level yang sama, kompetisi-kompetisi lain di Tours (Perancis), Debrecen (Hongaria), Arezzo (Italia), Tolosa (Spanyol), dan Varna (Bulgaria) bergabung bersama Maribor (Slovenia) dalam The European Grand Prix for Choral Singing, kompetisi paduan suara paling prestisius saat ini di Eropa. Untuk bisa ikut kompetisi ini aja susah banget, karena setiap tahun, panitia hanya memilih sedikit paduan suara dari seluruh dunia yang bisa bertanding, berdasarkan audisi rekaman dan profil paduan suara. Untuk ikut dalam Grand Prix sendiri, hanya juara satunya saja yang bisa ikut. Boleh dibayangkan (dan dibaca) bagaimana profil setiap paduan suara yang ikut dalam kompetisi-kompetisi tersebut.

Lawan kami kali ini, buset dah! Bukan main kuatnya!!! Dari Slovenia sendiri (Komorni Zbor Ave), emang langganan menang di mana-mana. Langganan tur konser keliling dunia. Lalu dari Irlandia (Mornington Singers), juga langganan menang Cork Competition. Belum lagi Victoria Chamber Choir dari Hongaria. Pernah menang juara satu dalam Harald Andersen Choir Competition (Finlandia) yang diklaim sebagai kompetisi paduan suara paling menantang saat ini.

Komorni zbor AVE: Ich bin der Welt abhanden gekommen (Gustav Mahler) ditata untuk 16 suara oleh Clytus Gottwald

KUP Taldea

Dugh! Mau nulis lebih panjang, tapi jatah internet di Metropol Hotel Budapest ini cuman 20 menit. Nanti deh sambung lagi yah, detail perjalanan hari ke hari kompetisi plus intrik-intrik spionase penuh konspirasi (hallah!) selama kami di sini. Mo bobo dulu ah. Udah tengah malam nih. Oh ya, barusan pulang ngamen di Tivoli Museum, kita diajak sightseeing Budapest di malam hari yang tidak pernah kehilangan pesona mistis eksotisnya. I so love this city!

Besok rekaman, terus konser, terus sightseeing lagi bentar, terus ciao ke Wina. Sampe ketemu di sana yaaaah.

Btw, pantengin KOMPAS dalam minggu ini yah, ada wartawan kompas yang menemani perjalanan kami selama di Eropa. Gak tau beritanya udah turun apa belum.

3 Hari Hitung Mundur Menuju Slovenia

Dari milis AgriaSwara IPB (12 April 2009)

3 hari lagi….

Seminggu terakhir ini stripping latihan kejar tayang setiap hari, bolak-balik Jakarta-Bekasi, kepala jadi kaki, kaki jadi kepala….

Ffffhhhhh…..

Cape juga yah.

Tapi adaaaa saja saat-saat yang bikin gw gak pernah merasa salah mengambil keputusan ketika gw ikut audisi untuk kompetisi ini. Kak Avip yang selama ini orang pikir galak, ternyata paling bisa bikin suasana latihan tetap terjaga keseriusannya, tanpa mengurangi kesempatan penyanyi untuk bernafas dengan banyolan-banyolan spontannya, plus ditingkahi candaan lucu-lucu-nyinyir khas si kembar Inez-Anyes, plus candid moments yang tak pernah direncanakan terjadi, namun begitu renyah tergigit.

Adaaaa saja saat ketika gw ngerasa bahwa ketidakpercayaan diri gw selama ini [bahwa gw gak bisa mencapai nada Bes pada dinamika forte]… ternyata tidak beralasan. Gw bisa! Dengan support teknik maksimal dan stabilitas fokus terjaga, tentunya. Dan akhirnya lagu GLORIA (Cayabyab) yang meliuk-liuk, melengking-lengking, serta menggelegar itu bukan lagi jadi mimpi buruk setiap kali latihan.

Dan ketika gw melihat ke belakang, rasanya gw bisa bilang kalo… mungkin ini kali yah yang menjadi alasan mengapa gw masih bela-belain, toh-tohan ngeluarin energi ekstra, ngurangin jatah berleha-leha di waktu luang, ngalokasiin dana buat transpor Jakarta-Bekasi yang tidak sedikit. Dan gw masih bisa bilang kalo… gw mencintai apa yang gw lakukan.

3 hari lagi…

Lagi-lagi membawa dan mempertaruhkan nama baik bangsa di ajang dunia, tanpa banyak propaganda politis berbau kepentingan pribadi. Dan lihatlah sudah sebesar apa dukungan dan perhatian pemerintah sama pelacur-pelacur seni macam kami… [sambil memandang iri para olahragawan yang dimanjakan dengan ini dan itu asal berprestasi].

Tapi, gak apa-apalah. Dari dulu gw percaya bahwa pengalaman seperti ini gak semua orang bisa dapet. Bahwa pengalaman seperti ini memperkaya gw secara personal, bahkan ketika gw harus merogoh kantong dalam-dalam untuk partisipasi keberangkatan ke luar negeri kali ini. Gw pikir, gapapa lah, pada waktunya, ini semua akan kembali ke gw dalam bentuk lain. Dan, pada waktunya juga, ternyata pemburuan beasiswa gw goal juga, mungkin salah satunya karena keterlibatan gw dalam aktivitas macam gini 😛 –> tapi yang ini mah lain cerita, hehehe.

Sekarang, gw akan menikmati saja detik-detik melelahkan menjadi seorang pelacur seni di negeri orang. Dan gw cuman akan berharap bahwa apa pun hasilnya, menang (semoga) atau pun tidak menang (gak mau ah), gw sudah selangkah lebih maju dari mereka yang hanya bisa bilang “Ngapain si lo bela-belain ikut kayak begituan, udah bayar, cape, ngabisin waktu, diomelin melulu, kurang kerjaan lo!”

Gw selangkah lebih maju dari mereka, karena mereka masih di situ aja tuh dari dulu.

La vita e bella!
Life’s beautiful!
(termasuk nangis-nangis darahnya)

Review Konser “Meet the Choirs!”

Dari milis AgriaSwara IPB (20 Februari 2004)

 

(Link YouTube hanya sebagai referensi)

 

Dengan ‘perjuangan’ dan sedikit ‘kenekatan’, akhirnya los muchachos-duo AgriaSwara berhasil juga mendapatkan reservasi di konser Meet the Choirs! yg kabarnya udah out of ticket itu. Posting el primo yang bilang bahwa tiket udah abis pada awalnya bener-bener bikin el secondo bete banget, soalnya, semanget buat nonton udah kadung berkobar-kobar. Trus pas el primo nelpon el secondo bahwa kata sang shahibul hajat sebenernya tanpa tiket pun kita (note: kita = nggak lebih dari 2 org) masih bisa nonton… berdiri (hiks hiks)… dan ada kemungkinan nontonnya di luar (hiks hiks lagi ah), el secondo bilang, “Udah, tancep aja. Berdiri juga kagak nape. Nyang penting bisa nonton, man.”

Dan berangkatlah los muchachos-duo ke Jakarta.

Eeeeeeeh, di bis kita ketemu Paul (terlahir dengan nama: Paulina Rosari, entah kenapa jadi mendapat gelar kehormatan Paul McCartney, heheheheheh….). Doi mo balik ke Jakarte. Nah, ini org yg di posting bilang kalo rumah die tuh di daerah venue konser juga. Ya udin… kita yg tadinya bedua ngajak dia. “Paul, ikut nyok. Tapi berdiri, ghimana?”

Saat itu Paul membawa pulang gaun dan busana haute coutoure-nya yg udah pada kotor, musti dicuci di Jakarta (qeqeqeqeqs….)

Eh, dienye mau dah.

Seneng dong kita, karena pada dasarnya kita kan emang pengen ngajak az many az pozzible buat nongkrong di MTC (Music Telecision, ^-^… bukan deng, Meet the Choirs).

Di venue konser, ternyata udah banyak banggets org yg dateng. Padahal dibilangnya kan konser jam ½ 8 malem. Kita tuh nyampe di situ baru jam 7 kurang ¼ gitu kali. Trus, gate controlnya periksa tiket tuh. Naaah… pas giliran kita, 😦 “Nggak ada tikeeeet, Pak” (mukanya kayak Shinchan lagi memelas). Bapak sama Ibunya nanya, “Kalian dari mana?”. Trus, begitu denger kita tuh dateng jauh-jauh dari Bogor, plus liat tampang kita yg emang dibikin sememelas mungkin, hehhehhe… rada didramatisir gitu, Bos. Eh, Ibunya bilang, “Berapa orang? Oh, tiga, tunggu, kayaknya saya masih ada dua tiket lagi deh.” Bapaknya ngasih satu dulu. “Ini saya punya satu. Mau dipegang dulu?”

Langsung deh disamber sama Ewinx.

Beberapa saat kemudian, Ibu itu juga balik lagi bawa dua tiket. Aaaah… leganya. Nggak jadi dong, standing party-nya, ^-^

Yeaah… now, ‘tis the time for… BRINGIN’ DOWN DA HOUZ.

GLEK! Nunggu konsernya lama. Trus gitu, emsinya rada-rada ca-ur, hehehehhe…. Tapi ya udin lah. Pokoke…. here comes the first
contestant…. MISS ATMAJAYA…. Atmajaya nyanyiin 4 lagu. Yg conduct namanya Paulus Chandra. Masih muda.

Mungkin seangkatannya Arvin juga. Kalo ketawa, matanya ilang ^-^.

Dibuka dengan lagu Many Gifts One Spirit-nya Allen Pote, Alleluia-nya entah siapa (di program salah tulis), dan Tuhan adalah Gembalaku-nya Ronald Pohan. Menurut gw (Agustian 2004 ;), choral sounding mereka udah cukup bagus, meskipun tenornya kadang masih terdengar ngeleher. (tau banget deh, soalnya diriku pun kadang masih suka begitu). Soprannya cukup bright, clear. Hanya mungkin terkesan kekuatan soprannya terpusat di beberapa org cewek ‘based on’ di baris dua aja (‘based on’ itu istilah Agria, definisi bisa dikonfirmasi di nomor 0856… ayyakh!). Basnya bagus! Sebagai fondasi di sebuah padsu, mereka sudah memadai. Mungkin altonya saja yang rasanya masih biasa-biasa aja. Tapi, kalo dilihat secara keseluruhan, interpretasi tiga lagu pertama bagus kok.

Udah gitu, entah emang karena format konsernya yang dibikin edukatif-interaktif atau apa, udah itu ada sesi tanya jawab segala.
Agak-agak mengganggu enjoyment sih, tapi, ya udin lah, mungkin emang begitu formatnya.

Yang jawab ketua PS-nya, ngerangkap pianis juga. Paulus malu-malu. Dan mulailah mata sang konduktor ilang lagi. Lagi, lagi, dan laaaaagi.

Penampilan Atmajaya ditutup dengan Thanks be to God-nya Noble Cain. Kalo diliat sih, repertoar yang mereka pilih belon ada yang bikin gw bener-bener stunned. Bikin gw terengah-engah (ngapain?) nahan nafas buat ngedengerin setiap nada, saking terpukaunya. Belon.

NEXT.

Proudly presents… Penabur Children Chorus.

Iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii temen-temen kok nggak ngajak aku?

GUBRAK!

heheheheh….

Ya ampuuuun… lucu-lucu banget. Ada yang mukanya kayak Sadako, ada yang kayak Daveigh Chase di film the Ring, ada yang kayak Tsubasa, ada yang kayak Nikita ;), (kecengan Ewinx, qeqeqeqeqs). Pokoknya kalo liat mereka, jadi inget cinta pertama di kelas 3 SD deh. huhahahahhahahah…. It’s my first luv….

Trusnya lagi, mereka tuh ternyata segambreng-gambreng gitu. Ada kali 70-an anak. Cuman, mereka teh ganti-ganti pormasi terus, nya? Kunaon eta geura?

Lagu pertama yang mereka tampilin adalah Burket (no, no, not THAT burket) alias Burung Ketilang, trus dilanjutin sama Burkat alias Burung Kakaktua ^-^. Formasi penyanyinya dikitan, cuman sekitar 20 anak, trus ada dua solis maju. Hehehehhehe…. temen-temen pada grogi semua ya? Suaranya nyaris nggak keluar. Udah gitu beberapa nada kentara banget nggak nyampe, karena takut. “Mama, Mama… kok di sini banyak orang ya, Mama.”

Sepanjang lagu pertama, los muchachos-duo + Paul McCartney merhatiin si Nikita kecil. Imuuut banget. Eh, fssssst…. anak cowok paling kiri kayaknya nggak nyanyi tuh. Takut banget kali ya?

Udah dua lagu itu, terus lagu ketiga Sekuntum Bunga-nya Ronald Pohan, dan As Long As I Have Music-nya Besig & Price. Lagu yg terakhir bagus banget. Formasinya juga formasi (nyaris) penuh, jadinya lebih gede lah powernya. Syair lagu As Long … itu aku bilang bagus banget, boleh tuh dicari partiturnya, ntar diadaptasi ke aransemen SATB. The music will set my spirit FREE…. Duh, suara-suara bening anak-anak kecil itu baru bener-bener kerasa di lagu itu. Jadi terharu dengerinnya. Jadi pengen mandi. (what?)

Lagu mereka yang kelima adalah lagu yg di FPS ITB kemaren dinyanyiin juga. Solfa Calypso. Tiga cewek di lagu ini harus rela nyambi dulu jadi tukang siomay sama pengamen jalanan, soale ketiganya musti pegang perkusi sederhana. Yang satu kayak kentongan gitu kali ya (tanyalah Nina, ahlinya, ^-^), yang satu kayak double stick (mo duel?), yang satu lagi ya… yang kayak pengamen jalanan itu, cuman yg semalem isinya bukan beras. Do mi sol do mi sol laaaa sol. (Solfanya sebelah mana yak?)

Trus, masuklah ke lagu sakral mereka. Tk tk tk… satu orang solis cewek maju ke depan kiri koor. Nyolo beneran, man. Lagunya Laudate Dominum-nya Mozart (TE-O-PE BE-GE-TE). Seperti kebanyakan karya Mozart yg laen, gw suka banget musiknya. Nah, ada yang menarik banget di lagu ini. Si solis soprano yang gw bilang tadi tuh nyanyi sendirian (utterly alone) di bagian awal lagu. Hhhhh…. di sini gw musti bilang kalo suara si solis emang clear&bright buanget. Nada-nada rendah pertamanya sih memang masih kurang sokongan power, tapi begitu mulai naek ke bagian-bagian nada register kepala, telinga gw seperti dimanjain gitu. Enaaaak banget, kedengerannya. Terus lagi, yang penting juga, sikap bernyanyi si solis kayaknya tenang banget. Pun begitu, dia bernyanyi juga dengan body and facial language. Seluruh badannya seperti ikut bernyanyi. Jadi inget Charlotte Church. Seneng deh mengetahui di Indonesia juga ada potensi kayak dia.

Udah itu, mereka nyanyiin lagu Indonesia, Tanah Pusaka Nusantara. No comment ah. Nothing’s particularly astonishing.

Baru deh, di lagu selanjutnya. From the Lion King, nicely composed by Elton John, Can You Feel the Love Tonight. Si solis soprano tadi nyolo lagi, bedua sih, sama temennya yg tampangnya kayak nerd girl di film Jepang gitu. Di lagu ini, si solis di Laudate Dominum berjaya lagi. Gw gak ngerti, kenapa juga Rizal Tandrio si konduktor mesti bikin solisnya jadi dua. Soalnya si solo yg satu lagi itu gw bilang nyanyinya kurang stylish. Kurang ngepop. Beda banget sama yg pertama. Aransemen koornya agak-agak dibikin minimalis (lebih seperti backing choir), tapi te-o-pe deh. A cappella pula. Siiip tenan.

Trus, lagu sebelum sesi tanya jawab adalah Rasa Sayange. No comment.

Di sesi tanya jawab, Rizal lebih banyak memberikan jawaban yang singkat, padat, … nggak jelas, hehehehe. Nggak ding. Cuman di pertanyaan terakhir aja dia jawab panjang lebar. “Mas Rizal, Mas Rizal. Itu gimana ya prosesnya ngelatih anak-anak seumuran gitu, yg buandelnya minta ampun itu, biar bisa jadi paduan suara yg bagus seperti ini?” Dengan suaranya yang ngebas –Rizal banget– dia jawab. Keluar deh, kocaknya Rizal. ^-^ Dia bilang, “Ya… namanya juga ngelatih anak-anak, mesti banyak sabarnya. Awal-awal mungkin anaknya masih buta nada, tapi terus dilatih, seminggu, sebulan, setahun, baru bisa keliatan. Udah gitu, mereka emang musti dibudayain disiplin latian. Libur sekolah berarti latihan. Dan itu bener-bener bukan proses yang instan. Kalo ada Bapak-Bapak pengen masukin anaknya, ‘Mas Rizal, tolong ini anak saya dibimbing, besok musti udah bisa nyanyi [Rizal menyanyikan sampel vokal sopran ‘uuu’] kayak gitu.’ Lha, ya nggak bisa tho.”

Penampilan PCC ditutup dengan I Will Follow Him. Atraktif, pake gerakan segala. Meskipun agak-agak nyelip-nyelip di antara. Abis, bocahnya banyak bener yak. Tempatnya gak semua mua muaaaat.

Terus mereka pun off stage. Daaaaag temen-temen, besok ketemu yach di sekolah. (kata Nikita kecil, yeee… sekolah eyang lo? hehehehheeh)

Trus, penampil ketiga adalah Caecilia Chorus. Kali ini Caecilia tidak didampingi Tuan de Larios dan si imut Dulce Maria. Juga tidak ada Tante Rambut Palsu… (ya iya laaah…)

Lagu pertama mereka A Prayer of St. Patrick-nya Rutter. No comment. Gw gak tau lagunya soale. Sorry, coy.

Tau gak sih lo, lagu kedua apa?

Irreprehensibilis est…

Yak! Anda benaaar. Locus Iste-nya Anton Bruckner. Ehem, ehem, pada zaman dahulu Agria pernah nyanyiin lagu ini, dan … uhuk, uhuk, bagian tengahnya soprannya …. TIIIIIT (censored).

Sumpeh deh. Gw jadi keder dengerin mereka nyanyiin lagu ini. Akang-akang di bass Agria Swara, bas-nya Caecilia top lho. Bagus! Bagian-bagian yg mereka kedengeran sendirian itu bener-bener bisa cover koor secara keseluruhan. Juga di seluruh badan lagu. Dulu waktu kita nyanyi ini, basnya masih kurang banget yach? Kurang power dan kurang sonoritas. Trus, karakter profound bassnya juga yg semalem gw dengerin keluar banget. Ah, jadi penasaran pengen nyanyiin lagu itu lagi. Tapi, kumaha atuh, kalo bass di Agria masih seuprit-uprit kayak sekarang mah, go to sea dah. Kelelep aja di Atlantik.

Soprannya cukup bagus, meskipun di bagian piano Locus Iste, mereka terkesan sedikit desperado karena musti nahan power di nada tinggi. Secara keseluruhan, pengolahan dinamikanya lebih berani. Range dari pp ke ff beda banget. Kalo kita? 😉 masih nanya, lagi.

Selanjutnya masih dari Bruckner. Ave Maria. Nah, yg ini gw suka banget. Dulu konser Unpad yg A Touch of Melody, lagu ini dibawain juga. Nada A sopran-sopran Caecilia berjaya di sini. Powernya juga gak tanggung-tanggung. Yg bikin kesel apa coba? Itu penonton… tepuk tangan di tengah-tengah lagu. Ca-ur gak tuh? Semalem tuh penontonnya emang mungkin terlalu serbaneka. Jadinya, yg baru pertama nonton konser padsu juga banyak kali. Jadinya, tiap-tiap lagu terdengar berhenti, prok-prok. Kontan aja penonton laen pada ketawa. (Gw juga sih, abis, konyol banget.) Akhirnya itu konser kan jadi kayak konser parodi. Emangnya Patrio in Concert?

Penampilan mereka ditutup dengan satu karya Beethoven.

Tet tereeereet…

Finally, the Choir of the Night, is about to give you the best of their performance tonight. Ladies and Gentlemen……………….. tepuk
tangannya manna? ^-^ ( kok emsinya jadi Cucu Cahyati? hehehheeh…. ) Emangya Cabidut?

BATAVIA MADRIGAL SINGERSSSSSSS (s-nya ber-echo)

Wuih, heboh dah. Avip jadi syah alam tadi malam. Dielu-elu (maksudnya ngomong elu-gue, gitu ^-^).

Ada Arviiiiin, di barisan depan paling kanan. Bawa chandelier. Trus ada Ivan Yohan. Ada Pepi juga. Ada Henri juga (anak TC), ada Harry (TC), ada si Gadis Bertato, ada Mirta Hartono (who looked pretty much like her idol, Suzanna ^^), ada Stefani, ada Ros (keempatnya anak JCVE juga). Semalem rambut si Ivan dibikin kayak Won Bin, nggak kayak waktu konser JCVE kemaren, dibikin kayak Indy Barends. Pepi masih dengan Prince-Charming smiley-nya. Mirta masih dengan tatapan sadisnya. Nggak ada yang berbeda.

Lagu pertama mereka adalah Geistlieche Lied (Brahms). Sebelum nyanyi, seorang anak alto bacain terjemahan syair itu dalam Bahasa Indonesia. Di lagu ini, Avip nggak conduct, bahkan emang tanpa konduktor. Avip di piano. Duh, selalu deh. Kalo gw dengerin padsu yg udah mapan kayak BMS, gw suka terengah-engah. Waiting in exhale. Intonasinya, harmoninya, mmmm…. Delicate. Kalo soal interpretasi, apalagi karya-karya macam Brahms, BMS mah udah gak usah didebat lagi deh. Lagu kedua mereka adalah Blazhen muzh karya Sergei Rachmaninoff. Sebelumnya juga dibacain terjemahan syair dalam Bahasa Indonesia. Di lagu ini, kentara banget ciri karya Rachmaninoff yg (seperti yg dibilang Ci Ingrid) menonjolkan alto dan tenor. Selama lagu dinyanyiin, semua suara seperti saling berkomunikasi. Maksudnya, si sopran tau kapan tenor dan alto musti ‘muncul’. Begitu juga bas. Padahal, kecuali Pepi yg sepertinya  memilih menghafal lagu, penyanyinya nggak selalu ngelihat ke konduktor. Udah canggih kali ya, hearing dan feeling mereka. Atau pake telepati lagi jangan-jangan. Dari ujung kiri, Mirta tetap dengan ekspresinya yang seperti orang yg cuman mangap-mangap doang. Abis, kayaknya tuh, nyanyinya bener-bener tanpa beban. Tadi malem, Arvin nggak seperti waktu di konser JCVE kemaren. Dia lebih banyak berkomunikasi dengan konduktor.

Seneng banget deh ngeliat bahasa wajah mereka ketika nyanyi. Kesannya tuh emang profesional banget. Udah nggak ada kerut-kerut di wajah (kecuali yg emang bermasalah dengan penuaan dini, ^-^). Produksi vokal tiap suara juga sangat seragam. Kata Ewinx sih di lagu pertama Ivan terdengar agak dominan. Tapi, di telinga gw sih, gw udah nggak kenal lagi suara Ivan sama Arvin yg mana. Trus, suara Stefani sama Mirta yg mana. Mungkin karena posisi beberapa penyanyi juga yang lebih deket ke kita sehingga kita berpikiran bahwa suara yg keluar itu adalah suara si A atau si B.

BMS menutup penampilan luar biasa mereka tadi malam dengan satu karya lagi dari Rachmaninoff. I love this work! Tenor dan alto berjaya lagi di sini. Intonasinya nyaris sempurna. Flawless.

Oh ya, info. Pas sesi tanya jawab, Avip bilang kalo dalam satu atau dua bulan ini, Avip bakalan buka tempat les vokal dan conducting juga di Jakarta. Konfirmasi musti ke dia langsung. Ayo, buat yang berminat.

Panjang yach, Lapdangmatnya. Edan gak tuuuh?

Pokoke, nggak nyesel deh, nekat-nekatin diri pegi ke Jakarta dengan risiko gak dapet tempat duduk. Paul, kebetulan yang menyenangkan yach?

Udin ah. Belon mandi neh, Malih. (mandi ono, Bang Jali….)

Sabtu depan, konser Paragita di BPPT, apa kabar? Ada yg mo nonton juga? Ayo, dua kali nonton di Galaxy ditangguhin dulu deeeh. C’m oooooon. Taun depan Arvin udah mo fasilitasin kita lho buat yg mo audisi AYC. Banyak-banyak liat yg bagus dulu dong. Biar termotivasi terus. OK, coy?

Salam Anget Banget,
HENDRA