Audisi Toonkunstkoor Amsterdam dan Hollands Vocaal Ensemble

Setelah beberapa bulan absen nyanyi, karena urusan penelitian yang cukup menyita waktu, akhir tahun 2012 ini akhirnya gw memutuskan untuk bernyanyi lagi (dalam paduan suara, bukan di kamar mandi). Setelah penelitian kecil-kecilan padsu mana yang kira-kira mau gw ikuti (di sini gampang, mulai aja dari database semua padsu di Belanda), akhirnya gw memutuskan untuk coba audisi buat sebuah ansambel vokal, namanya Hollands Vocaal EnsembleHVE (Fokko Oldenhuis, pengaba). HVE ini biasanya bawain karya-karya untuk paduan suara kecil dari kala Renaissance sampai kekinian. HVE sering juga dipercaya untuk mempremiérkan komposisi baru.

Ini ada sampel live recording konser HVE, bawain ‘Christus Vincit‘-nya James Macmillan, salah satu komposer favorit gw ^^

Nah, email sudah gw layangin dong untuk ‘melamar’ mau audisi.

Ternyata jawabannya agak lama. Ya udah akhirnya gw juga coba audisi buat padsu lain, namanya Toonkunstkoor (Boudewijn Jansen, pengaba). Ini adalah salah satu paduan suara tertua di Negeri Kumpeni. Kalo AgriaSwara umurnya belum 30 tahun, Toonkunstkoor ini umurnya udah nyaris 200 tahun. Sepuh banget. Kalo ditotal, jumlah penyanyinya ada lebih dari 100 orang, dan nyaris semuanya aktif. Mesti banyak, karena paduan suara ini spesialis bawain karya-karya kolosal macam Gurrelieder-nya Schönberg atau Matthäus Passion-nya Bach. Bahkan, Toonkunstkoor ini dipercaya jadi penampil tetap Matthäus Passion setiap tahun di gedung konser monumental Concertgebouw.

Lamaran gw dijawab dalam minggu yg sama. Jadi, gw harus audisi buat dua-duanya. Gw pikir, aduh, apa gw batalin aja ya yg satu. Tapi dua-duanya bagus. Ah, ya udin lah, karena kebetulan juga penelitian lagi rada-rada luang, akhirnya gw putuskan untuk audisi buat kedua padsu tersebut.

So, minggu ini gw audisi dua kali. Belom pernah seumur-umur gw audisi dua kali dalam seminggu. Tapi karena kerinduan nyanyi udah di ubun-ubun, akhirnya gw jabani.

Audisi pertama dengan HVE gw bawain lieder-nya Schumann (In der Fremde).

Audisi kedua Toonkunstkoor gw bawain aria-nya Händel (Where e’er you walk).

Lolos. ^^

Senangnyaaaaaaaaaaaaaa.

So, here I am again, back into business. Setahun ke depan bakal heboh manggung lagi di 5 konser (setiap konser biasanya dipertunjukkan 2-4 kali di kota yang berbeda). Untuk pertama kalinya gw bakal garap karya Bach yang monumental itu, Matthäus Passion. Lalu juga Symphony of Psalms dan Les Noces-nya Stravinsky. Akhir tahun dengan Toonkunstkoor bawain Requiem-nya Verdi di Duisburg. Sementara dengan HVE bawain repertoar yang lebih ‘ramah’, macam Mendelssohn, Schütz dan Distler.

Nah, sementara kalian juga bakal menyongsong kepengurusan baru, gw juga dengan penuh antusiasme meneruskan perjalanan musikal gw yang sekarang udah masuk tahun ke-14.
Segitu dulu. Salam paduan suara!

Ada Apa dengan Kompetisi dan Supremasi?

Belakangan ini di Indonesia ada semakin banyak paduan suara yang rame-rame ikutan lomba paduan suara tingkat internasional. Nyaris semuanya pulang membawa predikat kemenangan, baik dalam bentuk diploma, medali, maupun peringkat. Semuanya sepertinya sepakat bahwa kemenangan dalam kompetisi internasional menjadi syarat mutlak untuk sebuah paduan suara diperhitungkan dalam dunia musik. Gw punya pandangan yang sedikit berbeda mengenai ini. Menurut gw, supremasi paduan suara itu bisa dicapai dengan berbagai cara.

Pertama, paduan suara (kebanyakan profesional) meraih supremasi mereka dengan merilis album rekaman yang mereka jual. Contohnya adalah nama-nama besar macam The Sixteen (Harry Christopher), Polyphony (Stephen Layton), dan Tenebrae (Nigel Shorts), yang semuanya berbasis di Inggris. The Sixteen yang didirikan tahun 1979 sampai sekarang sudah merilis lebih dari 90 album rekaman. Kalian bisa cek (nyaris) semua album ini gratis di Spotify. Apa mereka pernah ikut kompetisi? Nggak pernah sama sekali. Tapi mereka punya jadwal konser, rekaman, dan program edukatif yang sangat padat. Begitu pun Polyphony, yang diklaim sebagai ansambel vokal dengan musikalitas terbaik di dunia (menurut Encore Magazine, USA). Menurut gw sejauh ini belum ada yang menandingi kejernihan vokal dan intonasi mereka.

The Sixteen: Miserere mei Deus (Gregorio Allegri)

Polyphony: Les chansons des roses (Morten Lauridsen)

Tenebrae: Après un Rêve (Gabriel Fauré; arr. Alexander L’Estrange)

Kedua, paduan suara juga bisa meraih supremasi dengan menggelar konser berkualitas secara berkala. Kebanyakan paduan suara profesional menempuh cara ini, di samping merilis album rekaman. Nederlands Kamerkoor (Risto Joost) contohnya, mereka bisa sampai 10 kali per bulan gelar konser, di samping lebih dari 80 album rekaman). Banyak paduan suara yang menggelar konser tematis, misalnya membawakan komposisi sakral karya Poulenc, itu sudah bisa jadi satu konser. Atau membawakan komposisi tentang Perang Dunia II (misalnya bawain Penderecki). Atau tentu saja berdasarkan periode musik (Renaissance, zaman Tudor di Inggris, atau kontemporer).

Nederlands Kamerkoor: Curse upon Iron (Veljo Tormis)

Ketiga, paduan suara bisa meraih ketenaran di mata publik yang lebih luas dengan mengikuti festival non kompetitif. Di Indonesia nggak banyak event semacam ini, tapi di luar negeri ada banyak kesempatan untuk menggelar konser sebagai bagian dari sebuah festival. Polyfollia Festival di Normandia dan Europa Cantat adalah contohnya. BMS pernah 2 x ikut Polyfollia, sementara proyek tahunan Nederlands Studenten Kamerkoor (Kurt Bikkembergs) yang gw ikuti tahun lalu juga udah 2 x ikutan Europa Cantat. Yang kalian sebut-sebut sebagai FLN (festival luar negeri) menurut hemat gw, seharusnya mengacu pada festival non kompetitif, karena festival paduan suara lebih bermuatan perayaan ketimbang pertandingan.

Nederlands Studenten Kamerkoor: Tempus Fugit (Edwig Abrath)

Batavia Madrigal Singers: Salve Regina (Josef Rheinberger)

Keempat, supremasi paduan suara bisa juga diraih dengan menjuarai kompetisi. Nah, ini yang gw amati belakangan menjadi tren di Indonesia dan Asia secara umum. Kalau kompetisi nasional dulu menjadi hajatan besar paduan suara, sekarang kompetisi internasional seperti menjadi proyek wajib, mulai yang berbasis perguruan tinggi sampai paduan suara rohani. Salah satu pionirnya siapa lagi kalo bukan Philippine Madrigal Singers (Marc Anthony Carpio). Di Indonesia PSM Unpar menjadi salah satu paduan suara Indonesia pertama yang menjuarai kompetisi internasional tahun 1995 dulu. Sejak awal 2000an, tiba-tiba semua paduan suara pada latah ikutan kompetisi internasional. Rasanya kalo belum jadi juara, atau merebut diploma tertentu, pada sebuah kompetisi internasional di negara anu, kayaknya tuh belum lengkap aja. Dan orang biasanya akan bertanya, “Udah menang di mana aja mereka?” atau kadang dengan nada agak sinis “Oh, juara, dapet urutan berapa?” atau “Medali perunggu doang?”. (I actually read these sort of nasty comments on several online choral forums.)

Philippine Madrigal Singers: We beheld once again the stars (Randall Stroope)

Paduan Suara Mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan: Luk Luk Lumbu (arr. Budi Yohanes)

Nah, gw sendiri berpendapat sebenarnya paduan suara nggak perlu ikutan kompetisi untuk membuktikan diri kalau mereka bisa dan luar biasa. Kebesaran nama bisa juga kok ditempuh dengan menempuh tiga cara pertama di atas.

Kalau memang sebuah paduan suara memutuskan untuk mengikuti sebuah kompetisi, gw cenderung berpikir, ya udah, “If you want to do it, make sure you do it right.”

Yang namanya kompetisi, aturan mainnya pasti sama: ada yang menang, ada yang kalah. Kita tentu saja bisa selalu beranggapan, yang penting pengalaman, menang atau kalah nomor sekian. Well, siapa pun tentu boleh berpendapat begitu. Tapi menurut gw, sponsor, donatur, dan publik secara umum tentunya tetap berharap tim pulang dengan membawa kemenangan. Nah, di sinilah titik di mana kompetisi menjadi sebuah ‘tugas’ yang nggak bisa dianggap sembarangan. Kenapa? Karena keberangkatan tim ke sebuah kompetisi melibatkan banyak kepentingan, yang seringnya berbentuk materi (baca: duit). Belum lagi pengorbanan waktu, tenaga, dan pikiran, yang semuanya bermuara pada sebuah tujuan: “Kita harus menang.”

Terus gimana dong?

Setelah sekitar 14 tahun aktif ikut ambil bagian dalam dunia padsu, gw sedikit banyak mengerti bagaimana  kualitas padsu ditentukan oleh banyak faktor: penyanyi, pelatih, dan sistem latihan. Dalam kasus padsu profesional, mereka tentunya memang dituntut untuk selalu memberikan performa terbaik, karena mereka dibayar. Setiap penyanyinya hampir bisa dipastikan memang menempuh pendidikan musik formal, dan memiliki jejak rekam karier tersendiri sebagai seorang solo. Siapa pun pelatihnya, seperti Nederlands Kamerkoor yang gw sebut tadi, padsu profesional biasanya tetap bagus, karena mereka tidak berkutat dengan ‘pembinaan’ anggota. Pelatih dan/atau konduktor cuma tinggal nyamain interpretasi dan mastiin kalo sonoritas tercapai. Ini juga kadang nggak mudah karena penyanyi profesional cenderung berjiwa solo, jadinya butuh waktu dan usaha juga untuk mencapai sonoritas (keseragaman vokal). Sistem latihan juga pastinya padsu profesional lebih established. Buat mereka, kalo anggotanya madol latihan, ya udah, pecat aja, buka audisi buat anggota baru.

Nah, kalo PSM (dan padsu amatir pada umumnya) gimana tuh ceritanya?

Suka atau tidak suka, kita tentunya nggak bisa disamain sama padsu profesional. Dari segi anggota, kita terdiri dari mahasiswa yang mungkin sama sekali nggak berlatar belakang musikal. Gw sendiri waktu masuk Agria dulu punya pengalaman nol besar dalam musik klasik, apalagi paduan suara. Belum lagi masalah regenerasi anggota yang pastinya berkisar setiap 1-4 tahun. Yang masih aktif mahasiswa juga belum tentu aktif selama masa kuliah di IPB. Yang sudah alumni pasti punya komitmen lain, belum lagi yang udah berkeluarga dan punya anak. Ini pada akhirnya juga mempengaruhi sistem latihan yang ujung-ujungnya berpengaruh besar pada kualitas padsu.

Kenyataan yang kita hadapi adalah, formasi dan komposisi tim (inti) padsu yang berangkat kompetisi itu selalu berubah, sehingga kualitas padsu nggak pernah sama. Setiap kali harus mulai dari awal, atau paling tidak, mundur beberapa langkah lalu maju lagi. Nah, karena keadaannya seperti ini, padsu harus memiliki pertimbangan yang sangat matang dalam mengikuti kompetisi.

Mungkin sebaiknya gw bikin statement aja kali ya, “Ikut kompetisi untuk menang, ikut festival untuk pengalaman.”

Apa saja yg perlu dipertimbangkan sebelum ikut kompetisi?

1. Menyadari dan melihat dengan kritis sebaik apa kualitas paduan suara kalian sekarang.

Segera setelah setiap konser (juga kalo bisa setiap latihan dengan pelatih di BS misalnya), dengerin live recordingnya, lalu nilai sama-sama. Bisa pake game kayak di American Idol, kalian yg jadi juri penampilan kalian sendiri. Abis itu terus bandingkan sama rekaman repertoar yang sama dari padsu lain (kalo bisa yg emang bener2 bagus) yg bisa kalian temukan di YouTube atau Spotify. Jadilah pendengar yg kritis. Menjadi kritis terhadap performance diri sendiri itu penting, karena hanya dengan cara itulah kita bisa terus menjadi lebih baik.

2. Mengetahui peta kesulitan kompetisi yang akan diikuti.

Anggaplah dari hasil pertimbangan pertama, kita berpikir, “Hmm… Agria masih harus banyak belajar, tapi kita pengen banget ikut kompetisi tahun ini/tahun depan.” Nah, selanjutnya yg sebaiknya kita lakukan adalah mencari kompetisi yang kira-kira berada dalam level kita.

Apa semua kompetisi padsu (internasional) itu sama?

Sama sekali nggak. Perbedaan ini bisa kita lihat dari tuntutan artistik kompetisi, kompetitor yang biasanya ikutan, dan sistem kejuaraan. Sejauh ini menurut gw yg berada di level paling sulit adalah European Grand Prix for Choral Singing. Why? Karena untuk jadi juara EGP, sebuah padsu harus jadi juara 1 (grand prix) pada kompetisi setahun sebelumnya. Ada 6 kompetisi yg termasuk dalam EGP, kalian bisa lihat di websitenya. Tahun ini BMS akhirnya jadi juara 1 salah satu kompetisi tersebut (Varna). Artinya, tahun depan mereka tanding lagi untuk memperebutkan gelar juara EGP. Padsu yang sekelas BMS pun (sepengamatan gw mereka adalah yang terbaik di Indonesia saat ini), nggak langsung berhasil jadi juara 1. Dulu tahun 2001 di Tours, mereka belum berhasil juara umum, tapi tentunya dapet gelar juara lainnya. Tahun 2006 di Tolosa, baru sempet jadi finalis. Tahun 2009 di Maribor, baru sempet jadi juara 3. Tahun 2010 di Arezzo juga belum berhasil juara 1. Baru tahun ini akhirnya mereka menang. Tahun yg sama Paragita UI dan Gracioso Sonora juga mencoba kompetisi EGP (Debrecen), tapi dua2nya juga belum berhasil.

Di bawah EGP, menurut gw yang juga sangat menantang adalah kompetisi-kompetisi berikut:

  • Llangollen International Musical Eisteddfod, UK. Kalo juara, gelarnya juga nggak tanggung2, Choir of the World. Univ. of Santo Tomas Singers dari Filipina udah pernah 2x merebut gelar tertingggi ini. Unpar nyoba tanding tahun 2010, tapi sayang belum berhasil.
  • Cork International Choral Festival, Irlandia, juga sangat sulit. Kompetisi ini merupakan salah satu kompetisi internasional tertua di dunia. Tuntutan artistiknya sangat tinggi. Tapi selain gelar juara 1,2,3, ada juga tropi2 tertentu. Istilahnya, kalo nggak juara, mungkin salah satu tropi ini bisa dibawa pulang.
  • The International Harald Andersén Chamber Choir Competition , Finlandia. Yes, ini juga merupakan salah satu kompetisi tersulit selain EGP. Selain karena tuntutan artistik yang sangat tinggi (mereka nggak mau kasi juara 1 kalo emang padsu yang menang nggak memenuhi standar artistik mereka), kompetisi ini juga digelar 3 tahun sekali. Artinya, semua kompetitor hanya punya kesempatan setiap 3 tahun untuk mencoba.

Selain kompetisi2 tersebut, International Chamber Choir Competition Marktoberdorf, Jerman dan International Competition for Choirs, Spittal an der Drau, Austria juga terkenal sulit.

University of Santo Tomas Singers: Gabaq An

Nah, di bawah kompetisi-kompetisi tersebut, ada juga kompetisi yang relatif belum begitu dikenal, tapi juga memakai sistem kejuaraan 1,2,3, macam kompetisi di Internationaler Chorwettbewerb Miltenberg, Jerman, dan Festival Internacional de Musica Cantonigros, Spanyol. Ini juga dianggap sulit karena hanya 3 paduan suara yang pulang membawa gelar juara.

Yang relatif mudah tentunya kompetisi-kompetisi Musica Mundi (Interkultur Foundation). Di antaranya adalah yang kita ikuti dulu di Jerman dan di Hongaria. Semua padsu pasti pulang bawa gelar. Kalo pun nggak juara 1, 2 atau 3, paling nggak bawa pulang diploma (Emas, Perak, Perunggu). Kompetisi-kompetisi Musica Mundi dianggap cetek, tapi menurut gw, masih lebih baik mengumpulkan juara-juara 1 dari kompetisi tersebut, daripada ikut kompetisi tapi sama sekali nggak dapet predikat. Boleh lihat Elfa’s Singers. Mereka nyaris eksklusif hanya ikut World Choir Games, salah satu kompetisi Musica Mundi, tapi mereka menjadi legenda di sana, karena setiap kali ikut kompetisi, pasti gemilang: selalu jadi juara 1, dengan nilai nyaris sempurna. Kompetisi Rimini, Italia, yg kalian ikuti tahun 2009 dulu juga memakai sistem juara dan diploma.

Elfa’s Singers: Medley (arr. Elfa Secioria)

Nah, itu kira-kira gambaran peta kesulitan kompetisi internasional. Ini tentunya pengamatan gw, dan setiap tahun, profil kompetisi internasional berubah dan berkembang. Jadi sebelum memutuskan ikut kompetisi yang mana, peta kesulitan ini harus dipertimbangkan. Kita nih sebagai PSM yang formasi, komposisi, dan kualitasnya nggak pernah konsisten, sebaiknya nggak langsung milih ikut kompetisi di kelompok pertama atau kedua. Coba jajali dulu kompetisi-kompetisi di level ketiga dan keempat. Jadi juara 1 dulu berturut-turut di situ, sampai kita menemukan ‘ritme prestasi’ kita. Maksud gw, sampai Agria secara artistik terbiasa dengan tuntutan sebuah kompetisi internasional. Setelah itu baru coba yg lebih sulit.

Tapi kan yang penting pengalaman bertanding?

Iya dan tidak. Seperti tadi gw bilang, kalo cuma mau cari pengalaman, mendingan ikut festival non kompetitif aja. Nggak ada ekspektasi menang dari sponsor, nggak ada beban harus juara dari kampus.

Yang penting kan tampil yang terbaik?

Iya. Tentu saja. Tapi ya itu dia, terbaiknya kita berbeda dengan terbaiknya kompetitor lain, dan berbeda dengan terbaiknya tuntutan artistik juri. Jadi, ungkapan tampil yang terbaik ini menurut gw sering disalahgunakan. Kalo kalian ikut festival non kompetitif, statement ini tentu masih sah-sah saja.

Setelah pertimbangan ini diambil dan sebuah kompetisi diputuskan untuk diikuti, barulah perjuangan sebenarnya dimulai. Saran dari gw, sesuai dengan yang gw denger dari padsu-padsu yang langganan menang kompetisi internasional, adalah:

  • Tim kompetisi harus sudah jadi paling lambat setahun sebelumnya. Artinya, padsu punya ruang yang cukup untuk membentuk karakter suara, musikalitas, dan artistri yang benar-benar mantap. Persiapan setahun juga tentunya untuk mengumpulkan dana yang nggak sedikit. Akan terdengar sangat naif kalo padsu berharap menang, apalagi pada kompetisi-kompetisi sulit, kalo mereka baru mulai audisi untuk tim 6-7 bulan sebelumnya.
  • Pemilihan repertoar juga sangat penting. Untuk sebuah kompetisi internasional, sebaiknya padsu (utamanya pelatih) selalu berpikir inovatif. Tampilkan program yang baru (biasanya kontemporer lebih disukai), yang jarang didengar publik, beragam (genre? periode musik? negara asal komposer? dll), dan repertoar yang bisa menunjukkan versatilitas atau kesegalabisaan padsu dalam mengolah musik.
  • Interpretasi yang benar. Setiap periode musik, setiap komposer, bahkan setiap karya paduan suara, memiliki tuntutan interpretasi yang berbeda-beda. Musiknya Monteverdi beda sama musiknya Wylkynson, meskipun mereka berasal dari periode yang sama. Interpretasi musik semacam ini sebaiknya dikonsultasikan dengan musikolog, karena para juri kompetisi adalah orang-orangyang memang punya pengetahuan formal mengenai ini. Jadi sebisa mungkin, kita harus berpikir bagaimana juri kira-kira nanti menginterpretasi repertoar kompetisi yang kita pilih.
  • Sepengamatan gw, adalah lebih baik kalo tim padsu menghafal semua repertoar yang ditandingkan. Boleh coba amati juara2 EGP pas tampil. Nyaris semuanya lepas partitur. Kenapa ini penting? Karena disadari atau tidak, setiap penyanyi akan lebih fokus ke musik dan ke konduktor kalo mereka nggak memegang partitur. Juri juga tentunya akan melihat kalo tim benar-benar menguasai musik secara utuh.
  • Jam terbang, jam terbang, jam terbang. Ini sangat penting, karena keterbiasaan tampil membawakan program kompetisi dengan tim yang sama akan membantu internalisasi musik dalam setiap penyanyi. Kalo kalian dengar The Madz nyanyi, kentara banget kalo mereka udah sangat terbiasa dengan ‘cue’ musik, meskipun konduktornya cuma kasi aba-aba dengan mata, anggukan wajah, dan gerakan bahu.
  • Penampilan pada kompetisi, yang biasanya nggak lebih dari 15 menit, tentunya menjadi ultimatum segala usaha dan kerja keras semua pihak. Nah, yg ini si rasanya gw nggak perlu banyak komentar. Gw pikir semua juga udah pada tahu harus ngapain. Tapi yang sering dilupakan adalah kesehatan. Stamina fisik, mental, dan terutama vokal, harus maksimal dalam 15 menit ini yang nggak bisa diulang atau diperbaiki ini.

Wow! Jadi panjang banget ya. Nggak apa-apa deh. Gw pikir, ini penting. Semoga bisa menjadi ‘food for thought’ buat semuanya lain kali kalian memutuskan pengen ikut kompetisi lagi.

Salam Musikal,

Hendra

twitter: @HendraAgustian

PSM Negeri Kumpeni

Dari milis AgriaSwara IPB (9 Januari 2012)

NSK Staircse

Nederlands Studenten Kamerkoor (Maria van Nieukerken)

Apa kabar semuanya? Ade-ade, kakak-kakak, mahasiswa dan alumni? Semoga sehat-sehat ya. Januari biasanya musim hujan, denger kabar Jakarta kemaren sempet banjir juga. Di sini juga lagi musim orang sakit flu. Salju enggan turun tahun ini, yang ada malah katanya tahun ini musim semi udah datang jauh-jauh hari di awal Januari.

Denger dari bisik-bisik tetangga katanya udah mau konser tahunan lagi ya? Ketuanya beberapa kali kontak gw di Kitabmuka, seperti biasa, minta usulan judul konser. Nah lho ^^.

Belum ada kabar-kabar program tur konser atau ikut kompetisi lagi kah setelah Busan kemarin gagal ikut?

Terus program presidium yang baru terpilih apa aja? Maksud gw, program konkretnya.

Nah, seperti biasa, sekali-sekali gw juga update kabar dari sini. Selain untuk menjaga komunikasi, gw juga berharap ada yg bisa kita sama-sama petik dari pengalaman menakjubkan gw (menurut gw sih ^^) hidup di daratan Eropa.

Yg pertama dan utama, gw pengen berbagi cerita musikal kali ya. Oktober tahun lalu gw memutuskan untuk ikut audisi Paduan Suara Kamar Mahasiswa Belanda (Nederlands Studenten Kamerkoor, NSK) di bawah direksi Maria van Nieukerken. Gw udah pengen ikut proyek NSK dari tahun lalu, tapi waktu itu karena belom settled dengan studi dan imigrasi, gw nggak jadi ikutan.

NSK

Cowok-cowok NSK nyanyi Girl from Ipanema (Jobim)

Nah, NSK ini adalah proyek tahunan yg terdiri dari sekitar 35 penyanyi yang diaudisi dari seluruh pelosok Belanda. Para penyanyi ini adalah mahasiswa usia 19-32 tahun (dari S1 sampai pascadoktoral). Dalam periode latihan intensif yang terdiri dari 1 hari, 3 akhir minggu, dan 1 minggu penuh, NSK bekerja sama dengan penuh antusiasme untuk menampilkan sebuah program musik ambisius dan tur konser keliling Belanda. Setiap tahun, NSK menampilkan sekitar 12 lagu, 2-4 di antaranya adalah premiére, artinya NSK adalah yang dipercaya oleh sang komposer untuk menampilkan sebuah komposisi musik untuk pertama kalinya di dunia (atau di Belanda). Tahun ini kita mem-premiér-kan 2 komposisi, satu dari Gijs van der Heijden (komponis Belanda yang juga pernah menjadi salah satu penyanyi NSK), dan Gustavo Trujillo (komponis Spanyol yang bermukim di Belanda, juga pernah bernyanyi di NSK). Dua komposisi lain juga akan ditampilkan untuk pertama kalinya di Belanda. Karena kesempatan latihan yang sangat terbatas dan programnya banyak yang susah, setiap penyanyi dituntut untuk bisa latihan sendiri sebelum datang latihan bersama. Pokoknya begitu latihan bareng, not udah nggak boleh salah-salah lagi.

Nah, di antara kesibukan gw penelitian, terdengarlah interval-interval menakutkan tipikal musik kontemporer dari meja kerja gw. Dengan bantuan Sibelius, online metronome, online tuning fork, dan digital recorder, gw kerja keras berusaha menguasai repertoar konser.

Kita baru tiga kali latihan sejauh ini. Tapi ya itu, sekalinya latihan 12 jam di hari Sabtu dan 7 jam di hari Minggu. Pulang-pulang udah kayak orang hang-over habis mabuk semalaman, hehehehe, dengan kutipan-kutipan melodi yang menghantui pikiran “Daemon, daemon, daemon fraudes inter cantus saltus!”

The tenors

The tenors

Tapi gw sangat menikmati kesibukan baru ini. Seperti juga waktu gw gabung AgriaSwara, dengan NSK gw menemukan dinamika dan keceriaan masa kuliah, karena para penyanyinya praktis mahasiswa semua.

Yang gw cermati dan pelajari dari koor baru ini adalah organisasi dan manajemen koor yang menurut gw … sempurna! Jauuuuuh sebelum proyek ini dimulai (1 tahun sebelumnya), panitia yang hanya terdiri dari 6 panitia harian dan 5 panitia umum bersama konduktor, sudah mulai sibuk menyiapkan konsep konser, tema, program, dan tentunya segala urusan cari dana. Panitianya juga seperti AgriaSwara, mahasiswa semua. Ke-6 org panitia harian juga ikutan nyanyi di batch tahun ini. Mereka dipilih dari batch tahun lalu, dan mereka belajar bagaimana caranya menyukseskan proyek ini dari panitia tahun lalu. Begitu seterusnya. Tidak pernah dalam perjalanan gw bermusik gw menemukan proses regenerasi tahunan sebagus ini. Padahal NSK proyek tahunan. Setiap tahun anggotanya ganti-ganti, mungkin ada beberapa orang yang ikutan lagi di tahun berikutnya. Tapi cuman satu atau dua. Nggak ada istilah generasi yang hilang, atau angkatan yang setelah 1 kali konser atau 1 kali ikut festival nggak pernah kelihatan lagi batang hidungnya.

Bukti dari kesolidan organisasi dan manajemen ini adalah ketika bulan lalu NSK mendapat kabar buruk bahwa salah satu patron NSK yang selama ini menjadi penyandang dana terbesar tiba-tiba mengundurkan diri dari sponsorship, kita nggak lantas kolaps dan membatalkan proyek tahun 2012. Langsung deh tuh jor-joran publikasi di website dan melalui pesan berantai, “Selamatkan NSK!” Ditulis di situ siapa NSK, apa sumbangsih NSK bagi perkembangan musik, berapa yang diperlukan (sekitar 28000 Euro), dan bagaimana orang bisa membantu. Berkat organisasi yang bagus, dapet lho, 28000 Euro (sekitar 320 juta rupiah) dalam satu bulan. Sulit dipercaya, di tengah krisis Euro dan pemotongan anggaran budaya di mana-mana.

Hal lain yang juga gw pelajari adalah proses latihan. Seperti temen-temen mungkin tahu, orang-orang Eropa Utara terkenal sangat disiplin waktu (hal yang juga menentukan keberhasilan ekonomi mereka). Ini tercermin juga dalam latihan. Semua anggota tertib datang 15-5 menit sebelum jam 10 pagi. Setiap 1.5-2 jam selalu ada jeda istirahat minum teh dan meregangkan otot. Waktunya makan ya makan. Dibilang latihan selesai jam 10 malam ya udah, nggak ada ekstra-ekstraan. Setiap anggota yang terlibat menghargai kesepakatan ini.

"Situaties" (Wim de Ruiter) untuk 4 paduan suara (2 di antaranya berperan sebagai aktor)

“Situaties” (Wim de Ruiter) untuk 4 paduan suara (2 di antaranya berperan sebagai aktor)

NSK dilatih oleh tim artistik yang terdiri dari 3 orang: 1 konduktor (Maria), 1 chorus master (Ruben), dan 1 guru vokal (Merel). Konduktor tentunya yang nanti pada akhirnya memimpin kita di konser. Si chorus master nih yang membantu menyempurnakan intonasi, dan memperbaiki kesalahan-kesalahan kecil terutama di modulasi tempo dan birama yang terjadi di mana-mana, macam 3/8 tiba-tiba ke 4/4 terus ke 7/8 terus ke 3/2 dst. Sang guru vokal akan menculik satu per satu penyanyi untuk ia latih selama 15 menit. Kadang-kadang ada juga sesi grup per suara bersama Merel atau Ruben. Tim artistik ini semuanya pemusik dan penyanyi profesional, jadi kalo latihan sama mereka rasanya mantap aja, karena mereka kalo ngasi nada atau ngebimbing kita latihan langsung ngasi untuk semua suara. Persis kayak K Avip kalo ngelatih BMS.

Oh ya, satu hal lagi. NSK hanya membolehkan penggunaan partitur asli. Jadi dari kontribusi yang setiap anggota bayar untuk proyek ini, sebagian untuk membeli partitur asli. Gw sayang-sayang deh tuh partitur asli, karena nggak murah. Di Eropa, terutama mereka yang berlatarbelakang akademik, sangat menghargai hak cipta intelektual. Jadi mereka pake partitur asli. Tapi nggak semua. Koor-koor gereja biasa masih sama kayak di Indonesia kok, potokopian pake p :).

Segitu dulu kali ya, bagi-bagi ceritanya. Kapan-kapan gw sambung lagi. Semoga ada yang relevan untuk temen-temen. Sukses buat konsernya. Ditunggu kabar dan aplotan pidionya di Kamutabung ^^

Konser Kedua bersama Kamerkoor Vocoza

Vocoza

Vocoza

Mo cerita dikit ya. ^^ Jadi, seperti beberapa temen tau, di sini gue gabung sama paduan suara kecil (sekitar 30 penyanyi), namanya Kamerkoor Vocoza (singkatan Vondelpark Concertgebouw Zangers) di bawah direksi Sanne Nieuwenhuijsen. Nah, hari ini kita baru aja selesai Repetitieweekend (Latihan Akhir Minggu). Setiap tahun sekitar awal musim semi, Vocoza sengaja menyewa sebuah hall untuk dipakai latihan seharian selama dua hari berturut-turut. Total jam tatap muka sekitar 15 jam. Kejar tayang deh. Tapi gue suka pisan sama program Latihan Akhir Minggu ini, karena kalau latihan seharian kayak gini, semua repertoar untuk konser kami bulan Mei nanti terbahas.

Tahun ini Vocoza mengadakan Latihan Akhir Minggu di Drommedaris (www.drom.nl), sebuah bangunan monumental dari abad ke 16 di Enkhuizen, kota pelabuhan kecil di tepi IJsselmeer (salah satu danau bikinan orang Belanda, yang sebenarnya bagian dari Laut Utara itu). Beberapa dari kami menginap di Enkhuizen malam ini, tapi gue memilih untuk pulang ke Amsterdam karena Senen gue ada konsultasi riset.

Untuk konser bulan Mei nanti, yang judulnya terdengar sangat manis, “M&M’s” (ya, as in M&M’s chocolate ^^ mmm… yummy). Dinamai begitu karena konser ini menampilkan 4 komposer yang nama (belakang-) nya dimulai dengan huruf M: Frank MARTIN, Gustav MAHLER, Bohuslav MARTINU, dan Felix MENDELSSOHN. (Belakangan judul tersebut diganti menjadi “Tussen mij en God”) Konser kali ini bertema sakral, dengan Misa untuk Paduan Suara Ganda-nya Martin yang spektakuler itu; aransemen Mahler untuk 16 suara; 4 lagu tentang Maria dalam bahasa Ceko; dan 3 mazmur-nya Mendelssohn. Repertoarnya gue banget deh. Tentunya, beberapa lagu pernah gue konserin sama padsu di Indonesia sebelumnya (Twilite Chorus tahun 2005 lalu, sama BMS tahun 2008, dan sama AgriaSwara di Jerman –tapi nggak jadi dinyanyiin karena kita nggak masuk final :P). Ayo, ayo, siapa yang tahu judulnya apa? ^^

Kamerkoor Vocoza: Kyrie (Frank Martin)

Dari konser ke konser, Vocoza gue bilang sangat kreatif, berani bereksperimen, meskipun beberapa orang bilang agak ambisius. Gue sih suka. Terus, yang paling gue suka dari format konser mereka adalah mereka sangat menaruh perhatian pada detail. Setiap lagu dibahas dari sudut pandang filosofis. Konduktornya bercerita tentang sejarah komposer dan komposisi. SEMUA lagu selalu diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, sehingga semua penyanyi tau apa yang dinyanyiin. Sering, terjemahan syair ini juga dinyanyikan dalam latihan. Dalam padsu-padsu yang pernah gue ikutin, detail ini tidak pernah bener-bener digarap. Hal lain yang juga sangat gue suka adalah sang konduktor bener-bener punya konsep yang solid mengenai tema konser. Ia bisa dengan sangat fasih menggambarkan repertoar konser sebagai lukisan; yang kemudian juga ditulis dalam buku program. Jadi, buku program konser Vocoza bukan cuma kasi liat profil paduan suara, judul lagu dan nama-nama penyanyi saja. Tapi juga artikel singkat mengenai keseluruhan program sebagai sebuah cerita yang hidup. Gue sampe nggak habis pikir, kreatif bener ya orang-orang ini berimajinasi.

Vocoza secara rutin mengadakan konser minimal 2 kali setahun. Vocoza, dan juga kebanyakan paduan suara di Belanda, tidak tertarik mengikuti kompetisi paduan suara, seperti yang kita amati di Indonesia. Tema konser berikutnya sudah dipikirkan dari sekarang. Kata sang konduktor sih, akhir tahun nanti kami konser lagi, bawain komposisi kontemporer yang memakai syair-syair Shakespeare dan Goethe. Hmmm… sounds yummy! ^^

Segitu dulu yaaa, ceritanya. Kembali ke proposal penelitian. Yuk mariiii.

Konser Vocoza “Zomer Herfst”

Dari milis AgriaSwara IPB (27 November 2010)

Kamerkoor Vocoza Amsterdam

Kamerkoor Vocoza Amsterdam

Seneeeeeeng banget, akhirnya bisa konser lagi. Diterima jadi anggota sekitar akhir September, tadi malem kami konser di Groenmarktkerk, Haarlem. Seperti biasa, Vocoza menampilkan konser di dua venue. Hari ini kami akan konser lagi di Mozes en Äaronkerk, Amsterdam.

Venue tempat kami konser tadi malam adalah sebuah gereja yang akustiknya, menurut gw, salah satu yang terbaik untuk konser paduan suara dan musik kamar yang pernah gw alami. Kami tampil dalam sebuah format konser bersama empat orang pemusik dengan instrumen autentik zaman Barok: continuo, theorbe, violoncello, dan violon. Bersama kami, juga tampil seorang soprano (mantan penyanyi Vocoza di tahun 80an yang sekarang berkarier internasional), Johannette Zomer. Ini adalah kali pertama gw terlibat dalam konser musik kamar seperti ini. Dan kesan gw, konser ini sangat intim, dan audiens-nya sangat atentif.

Konser kami buka dengan Jesu, meine Freude (Bach), dengan format lengkap paduan suara dan semua instrumen, tanpa Johannette. Karya monumental Bach yang satu ini adalah motet terpanjang dan paling terkenal dari 6 motet untuk paduan suara yang ditulis Bach untuk 5 suara. I’m a Bach enthusiast, so I find this piece simply irresistible. Apalagi dengan iringan instrumen yang emang berasal dari zamannya Bach. Gw bisa bilang, gw merasa kembali ke Leipzig, tahun 1723, ketika karya ini di-premiere-kan. Tapi yang paling gw suka dari bagian ini adalah bagaimana Sanne, konduktor kami, berhasil mengolah musik Bach yang penuh detail menjadi sebuah penampilan yang mengadiluhungkan presisi dan artistri. Dari sudut penyanyi, gw bisa menyelami bagaimana teks biblikal dalam motet ini diterjemahkan ke dalam musik yang berbicara. Bukan hanya bernyanyi, tapi juga menyampaikan pesan.

IMG_2842

Setelah Bach, paduan suara silam. Kemudian Johannette naik panggung, membawakanDeuxieme Leçons de Tenebres (Couperin). Ini adalah sebuah karya yang menggambarkan refleksi dan kontemplasi atas dosa, seperti dalam cerita di Perjanjian Baru, tentang kehancuran Jerusalem pada abad ke 6 sebelum Masehi. Johannette tampil sangat memukau. Dari kursi penonton paling belakang, gw mencerap keindahan sebuah karya musik Barok Perancis yang memiliki karakteristik berbeda dari musik barok Jerman, macam Bach dan Händel. Pada awal setiap ayat, Couperin menyulap huruf dari abjad Iberani menjadi sebuah melisma yang sangat indah, kemudian diakhiri dengan kalimat Jerusalem, Jerusalem, Dominum Deum tuum ad convert.

Sama sekali berbeda dari dua karya pertama, pada karya ketiga, kami tampil a cappella, membawakan Fünf Gesange (Brahms). Temen-temen angkatan 41 ke atas mungkin ingat AgriaSwara pernah membawakan salah satu dari 5 lagu Brahms ini: Verlorene Jugend. Tadi malam kami menampilkan karya ini secara utuh. Well, biasanya Vocoza memang menampilkan semua nomor dari sebuah opus. Kelima lagu Bramhs ini menggambarkan serbaneka atmosfer musim gugur: dedaunan yang terserak di atas tanah, melankoli bunga-bunga yang layu oleh dinginnya udara, tapi juga pengharapan akan datangnya kedamaian dan sinar matahari. Karya nomor 4, Verlorene Jugend, Brahms membuat lukisan alam dalam musiknya, tentang energi masa muda yang tersisa setelah musim berlalu. Keseluruhan karya ini terkesan melankolis, padahal Brahms menulisnya di musim panas, sekitar tahun 1887.

Tiga karya pertama ternyata memakan waktu cukup panjang, setelah itu kami rehat.

Babak kedua konser dibuka dengan tiga karya epik komponis kontemporer Estonia, Veljo Tormis, yang datang melatih kami awal November lalu, sebagai bagian dari Tormis Festival yang diadakan di Amsterdam, mengumpulkan paduan suara-paduan suara amatir dari seluruh pelosok Belanda. Dalam masterclass bersama Tormis, katanya sih, disamping pengolahan musik yang bagus, pelafalan bahasa Estonia kami nyaris sempuna ^^. Beliau mengundang kami untuk konser di Estonia karenanya. Buat gw, ini pengalaman pertama terlibat dalam sebuah produksi musik di mana komposernya sendiri turun tangan dan melihat sendiri bagaimana musik yang dia tulis diinterpretasikan oleh sebuah paduan suara yang bukan dari negerinya sendiri. Dalam 3 Laulu eeposest Kalevipoeg, Tormis menghidupkan kembali musik rakyat dan sejarah Estonia dalam sebuah kisah tentang kehilangan dan perjuangan. Puisi dalam teks Kalevipoeg bercerita tentang Kalevipoeg (Anak Lelaki Kalev). Salah satu lagu dari Kalevipoeg ditulis Tormis ketika ia kehilangan ibundanya pada sekitar tahun 50an, waktu ia masih menjadi siswa Konservatorium Moskow. Pada lagu terakhir, Tormis membuat lukisan alam tentang ombak di lautan. Pada nomor ini, para bass 2 meluncur ke bawah sampai C2.

IMG_2834

Dari abad kontemporer, kami kembali ke awal zaman Barok, membawakan Lamento d’Ariannabersama Johannette dan instrumen Barok. Sebagai penggemar berat Monteverdi, gw menemukan nuansa baru dalam musik lamento ini. Monteverdi bercerita tentang Ariadna, yang menolong Theseus keluar dari labirin yang dibuat oleh ayahnya, Raja Minos dari Kreta. Setelah Theseus, membantai Minotaur, ia ternyata mengingkari janjinya menikahi Ariadna. Opera ini bercerita tentang kesedihan Ariadna.

Terakhir, kami membawakan Hör mein Bitten (Mendelssohn). Untuk lagu ini, kami turun dari altar dan naik ke mezanin di lantai tiga, di bawah orgel besar yang menutupi nyaris seluruh dinding di bagian façade gereja. Sang musisi kontinuo kali ini mengiringi kami dengan orgel, dengan Johannette sebagai solis. Lagu ini, yang berarti Dengarlah Doaku, adalah salah satu karya favorit sang komposer sendiri yang ia tulis pada zaman Victoria. Selang seling solo dan paduan suara pada karya Mendelssohn ini mengingatkan kita pada lagu-lagu patriotik Inggris. Oleh karena itulah, versi Inggris dari lagu ini, Hear My Prayer, adalah salah satu karya paling terkenal dan paling banyak dinyanyikan yang pernah ditulis Mendelssohn. Efek akustik dengan bernyanyi di atas mezanin ternyata cukup dramatis, karena audiens mendengar suara kami seperti dari langit ^^.

Keseluruhan konser ternyata cukup panjang. Lebih dari 2 jam. Cape juga. Tapi seneeeeng banget. Gw belajar banyak dari pengalaman gw bermusik bersama teman-teman di Vocoza. Salah satu yang gw pelajari adalah, Vocoza tampaknya perencana yang baik. Program konser berikutnya sudah dipublikasikan dari konser kali ini. Bukan hanya publikasi tanggal dan tempat, tapi juga program yang akan kami bawakan berikutnya. Bulan Mei tahun depan. Dan, gw melihat ada Missa for double choir (Frank Martin) yang pernah gw bawakan bersama Twilite Chorus tahun 2005 lalu. ^^

Segitu dulu yah, semoga lapdangmatnya bermanfaat.

Audisi Kamerkoor Vocoza

Dari milis AgriaSwara IPB (11 Oktober 2010)

Hallo.

Pengen sedikit bagi cerita sama kalian. Jadi begini, sambil ngurusin masa transisi gw di sini, gw iseng tuh kirim lamaran gabung paduan suara di sini. Berhubung hampir semua padsu di sini punya website sendiri, dan setiap website itu dikelola dalam sebuah direktori padsu di seluruh negeri kumpeni, nah, mulai lah gw research kecil-kecilan. Kutahu yang kumau:
paduan suara semi profesional, kalo bisa yang penyanyinya gak lebih dari 25 orang (di sini dibilangnya Kamerkoor, alias chamber choir, alias paduan suara ngamar, eh, kamar) jangan jauh-jauh dari rumah, mesti sekitaran lingkar kanal Prinsegracht yang oke punya tentunya ^^

Nah, dapet deh tuh, dua kandidat, Kamerkoor Vocoza dan Lorca Kamerkoor. Berbeda dengan proses rekrutmen di Indonesia, di sini biasanya orang kirim resume (short CV) untuk gabung padsu. Gw kirim lah lamaran gw, beserta resuma musikal gw yang merekam 11 tahun keterlibatan gw dalam dunia musik di Indonesia: 6 kelompok vokal dan paduan suara, sekitar 30 produksi musikal termasuk tur konser dan kompetisi, dan sekitar 50 komposer yang karyanya pernah gw nyanyiin. Buset dah. Gw aja sampe terheran-heran sendiri waktu gw bikin resume musikal gw. Padahal sampe gw SMA, pengalaman musik gw NOL besar. But anyway, choir yg pertama, Kamerkoor Vocoza, merespons.

Dari komunikasi by email, PR Vocoza setuju untuk gw ikut latihan bersama mereka, dan melihat apakah Vocoza sesuai dengan apa yg gw inginkan. Berdasarkan resume gw, mereka tau kalo gw bisa prima vista, jadilah… latihan pertama langsung dikasi Bach (Jesu, meine Freude), Brahms (Fünf Gesange) dan komposisi Estonia Veljo Tormis. Buset! Prima vista si prima vista, tapi komposisi seberat itu? Tapi ya sutralah… gw kunyah juga tuh Bach, Brahms dan Tormis. By the way, dari awal latihan, semua direksi dan interpretasi, semua dalam bahasa Belanda. Yuk mari. Bahasa Belanda gw masih terbata-bata, tapi gw ngerti kalo orang ngomong. Jadi, ya sudah, terima saja. Lagipula, gw sudah mengantisipasi ini dari awal. Unless ada padsu internasional di sini, gw harus siap dengan medium bahasa penjajah. Nasib 😛

Habis latihan, konduktornya (Sanne Nieuwenhuijsen, cantik, masih muda, umur 31) nanya, “Gimana, gimana? Bagus gak? Tertarik untuk audisi?”

Well, gw bisa bilang kalo dari impresi 2 jam latihan bersama Vocoza, dengan sekitar 24 penyanyinya, gw bisa bilang kalo gw suka. Semua penyanyi kentara banget sangat musikal. Hampir semua penyanyi punya pengetahuan baca not. Konduktornya cerdas, menurut gw, karena dia menginterpretasikan musik yang kita nyanyiin sebagaimana mestinya (at least dari sudut pandang gw). Soprannya bagus. Altonya juga. Bassnya sangat berkarakter, meskipun menurut gw masih perlu olah sonoritas. Tenornya OK juga, meskipun ada satu dua yang menurut gw perlu lebih mendengar suara tenor lain. Tapi overall, gw suka banget, dan gw merasa gw bisa fit in di antara mereka (satu-satunya orang Asia di antara bule-bule Belanda, seorang Jerman, seorang Islandia, dan (mungkin) seorang Surinam). Baiklah, mari kita audisi.

Minggu depannya audisi deh tuh. Rada gugup juga. Secara, terakhir latihan nyenyong waktu gw di kampus yang di London, sama Roehampton Chamber Singers, which is sekitar 3 bulan lalu. Sebelum audisi, konduktornya nanya dulu kenapa gw milih Vocoza, dulu sempet belajar vokal di mana sama siapa, di Belanda rencananya buat apa dan berapa lama. Gitu-gitu deh. Nah, format audisinya persis seperti waktu gw audisi BMS dulu:

  • Ambitus atas bawah (karena gw bilang kalo dulu jg gw nyanyi di register countertenor, dicoba juga deh tuh, gw bersolfegio dari bass 1 sampe register alto) –> Menurut konduktornya, timbre alto gw bagus ^^, dia bilang kalo bisa nyanyi di dua register kayak gini, di Belanda itu berarti tambang emas, hehehe… Dia nawarin, mo nyanyi di alto apa di tenor. Gw jawab, tenor aja deh.
  • Ritmik (yg ini lancar, car, carrrr)
  • Sight-singing, lengkap dengan dinamika dan interpretasi frasering (repetisi, echo, crescendo, subito forte, all those stuffs)
  • Nyanyi lagu solo… yg standar aja deh, Caro mio ben (Giordani)…. pake acara lupa syair lagi, wkwkwkwk dan
  • Sense of harmony. Yg ini gw gak pernah sama sekali, makanya gw kaget pas ada bagian ini. Jadi, konduktornya maenin akord di piano…. Jreng! Terus dia minta, nyanyiin nada tengahnya, atau nyanyiin nada keempat (kalo misalkan akornya semacam C7 atau Dmin6). Haduuuuh…. meneketehe? Gw kan nggak punya dasar instrumen. Tapi gw coba juga deh tuh. Konsentrasi, sempet salah-salah, tapi akhirnya ternyata gw bisa juga 😛

Well, setelah mereka meminta gw keluar, diskusi sebentar, terus gw dipanggil lagi.
Daaaan….

Konduktornya nyalamin gw, sambil bilang “Selamat bergabung dengan Vocoza.”

Cihuyyyy! Seneng banget! Akhirnya, gw kembali dalam bisnis pertunjukan 😀 setelah sekitar setahun nyaris absen sama sekali dari dunia musik.

Ya… gitu deh. Sekarang, saban kamis malam, dari jam 8 sampe 10.15 malam, gw latihan paduan suara lagi. ^^

Gitu, ceritanya. ^^ Makasyi dah baca yaaaah. Posting di sini juga dong, atau di Bukuwajah itu, gimana malam pertama bersama 415 bocah-bocah itu 😀

Kok ya bisa, Filipina?

Dari milis AgriaSwara IPB (21 Juli 2010)

Dear Choral Lovers,
Mengamati dan mengikuti perkembangan dunia paduan suara membuat saya berpikir mengenai banyak hal, dan di antara kesibukan studi, saya cukup senang menjadikan dunia paduan suara sebagai hiburan yang mencerdaskan ^^. Sekedar ingin berbagi dan tukar pikiran dengan teman-teman semua.

Tahun ini sepertinya dunia kompetisi internasional paduan suara menjadi semakin populer dengan diselenggarakannya banyak sekali kompetisi pada waktu yang hampir bersamaan. Indonesia juga tampaknya meraup banyak medali emas dan kemenangan di berbagai negara. Paduan Suara Universitas Parahyangan di Inggris, PSM Maranatha di Austria, Gracioso Sonora di Jerman dan Spanyol, Voca Erudita dan beberapa paduan suara dari Indonesia di China. (Mungkin ada lagi yang saya lewatkan.) Tentunya semua prestasi yang membanggakan ini layak kita apresiasi setinggi-tingginya sebagai bentuk sumbangsih kita untuk kejayaan musik. Saya lebih suka mengacu pada kejayaan musik sebagai sebuah nilai universal ketimbang nilai-nilai nasionalistik. Tentunya saya juga yakin bahwa pencapaian kolektif ini pada hakikatnya juga merupakan bentuk rasa cinta tanah air. Jika kita amati, semua tim paduan suara yang maju ke ‘medan laga’ ini dengan bangganya memaparkan kekayaan budaya Indonesia. Dan saya sangat menghargai itu.

Yang menarik untuk dibahas di sini adalah: tampaknya paduan suara dari Filipina, University of Santo Tomas Singers, menjadi fenomena yang mendunia. Saya mengikuti berita keterlibatan mereka dalam banyak kompetisi dan tur konser langlang buana sejak mereka didirikan (belum lama) pada tahun 1993. Saya terhenyak demi mengetahui bahwa mereka memenangi kompetisi paduan suara tertua di dunia Llangollen Eisteddfod Music Festival pada tahun 1995. Hanya 2 tahun sejak mereka didirikan, dan mereka langsung meraih titik kulminasi setinggi itu. Saya jadi berpikir, dengan membuat semacam ekstrapolasi pada konteks paduan suara Filipina, kita mungkin bisa mempelajari sesuatu yang boleh jadi memberikan kita wahana baru untuk juga mencapai tingkat artistri setinggi itu. Ambil contoh, Philippine Madrigal Singers, yang akan keliling Indonesia menemui para audiens mereka. Seperti UST Singers, the Madz juga kelihatannya menjadi sebuah ikon yang begitu solid. Dua kali kemenangan di European Grand Prix for Choral Singing mengukuhkan posisi mereka sebagai ikon paduan suara Filipina. Belakangan saya lihat mulai ada gontok-gontokan antara fans Madz versus fans UST Singers, meributkan siapa yang lebih baik. Ini tentunya tampak bodoh untuk diperdebatkan, tapi, bagi saya, ada sesuatu yang lebih menarik untuk menjadi bahan diskusi: Kok bisa ya mereka sebagus itu?

Mari kita bicara. ^^