Konser Twilite Chorus “Musical Moment”

Dari milis AgriaSwara IPB (9 Agustus 2006)

(Pranala YouTube hanya sebagai referensi)

Sabtu malam kemarin, untuk keempat kalinya konser Musical Moment kembali ditampilkan oleh Twilite Chorus. Mengusung spirit hingar-bingar panggung Broadway, paduan suara profesional (so called, so claimed) ini mencoba menampilkan yang terbaik sebuah paket konser yang menempatkan paduan suara (tim penuh) pada babak kedua (saja). Babak pertama melulu solis dan duet.

Berbicara tentang Twilite Chorus, hampir bisa dipastikan bahwa dalam beberapa hal, komunitas musik paduan suara ini memang ‘berbeda’. Repertoar yang menjadi andalan mereka memang cenderung berasal dari musik pertunjukan (opera, broadway, film). Tidak heran, kali ini mereka (baca: para penyanyi bermarga Twilite) pun menawarkan excerpts musik Broadway yang tersohor, mulai dari Jekyll and Hyde, Les Miserables, Phantom of the Opera, sampai Joseph and The Amazing Color Coat. Mencoba tampil beda, mereka mengemas konser dalam sebuah pertunjukan akustik dan visual, dengan koreografi dan sedikit dramatisasi.

Apa yang menarik dari konser ini (saya tahu persis karena saya pernah ikut latihan untuk konser ini di awal, tapi kemudian resign karena satu dan sejuta hal ^-^), TC tidak sekedar membawakan musik secara asali. Terdapat banyak modifikasi dan rearansemen pada repertoarnya, terutama yang dinyanyi-tari-dramakan oleh tim penuh. Sang penggubah, siapa lagi kalo bukan Benjamin Manumpil himself, sang konduktor. This way, musik TC pada konser kemarin boleh dibilang merupakan premier aransemen lagu-lagu programnya. Sempat beberapa kali menyanyikan aransemen Benny, saya mulai bisa mencerapi kekhasan gubahannya: tidak pernah biasa-biasa saja. Entah itu pada progresi harmoni, atau permainan nilai nada dan aksentuasi. Musik Benny itu… Benny banget.

Babak 1, yang dibuka dengan penampilan solo sang konduktor, membuka konser ini. Dengan timbre vokalnya yang memang seperti itu, Benny membawakan lagu This is the Moment. Teridentifikasi sebagai seorang penyanyi Bass, nada tingginya terdengar kurang santai. Toh, lagu itu berhasil membuka konser malam itu dengan spirit Broadway yang penuh kebancitampilan.

Susul-menyusul kemudian, duet-duet antara Dosma (alto) dan Brigitta (soprano) dengan In His Eyes, Benny dan Brigitta dengan Take Me as I am, Benny dan Dosma dengan One Hand One Heart dari West Side Story, Daniel (baritone) dan Imed (soprano) dengan Sun & Moon dari Miss Saigon, dan penampilan solis Dani (tenor) dengan Maria dari West Side Story, Meta (alto) dengan On My Own dari Les Miserables, Daniel dengan On This Night of a Thousand Star, dan Meta dengan Don’t Cry for Me Argentina; keduanya dari Evita, dan ditutup dengan ansambel vocal para solis menyanyikan Tomorrow dari Annie.

Secara keseluruhan, penampilan paling menonjol pada babak pertama ini adalah duet Daniel dan Imet, who have been unintentionally not worrying about reaction possibly coming from we-know-what religious organization in IPB. Maksud saya, dengan acara pegang2an dan peluk-pelukan itu­. Hehehehhe. Tapi, it’s OK lah, mungkin BKIM juga nggak kepikiran nonton konser Broadway. Otherwise they’ll have to compromise with so many things. Warna dan teknik Imet terdengar matang dan jernih, mengimbangi kapasitas Daniel yang memang sudah level solis opera.

Babak dua, baru deeeeeh. Medley Phantom of The Opera secara atraktif membuka babak ini. Waktu gw sempet latihan lagu ini, nggak nyangka lho, jadinya kayak gini. Lutchu. Hehehehhe­. Sayang disayang, solo Christine yang dinyanyikan Dian selalu terdengar under-pitched. Sepanjang lagu, saya mengerutkan dahi. “Aduuuuuh,­ kurang tinggi”. Tapi, bagian choir-nya OK lho. Apalagi waktu digabung sama tarian-tariannya. Beberapa orang kentara banget kurang latihan, tapi, boleh lah ya. Cukup inovatif. Jadi terprovokasi nih, pengen konser Broadway di Albert Hall. Hyuuuk. Season of Love-nya cukup bagus. Tapi, masih belum cukup terdengar jazzy. I loved this song the most. Yang paling memukau dari babak ini mungkin adalah medley lagu ketiga, diambil dari Joseph and The Amazing Technicolor Dreamcoat. Ide slayer warna-warninya bolsjug. We like that.

Overall, konser ini sangat provokatif. In a sense that…. choral concert can INDEED take this form. Nggak mesti kali yah, setiap konser view-nya selalu seperti orang lagi upacara bendera. Berdiriiiiii… melulu. Udah gitu nggak ada motion-nya sama sekali. Terus lagi. SINGLE THEME. Agria sendiri udah berkali-kali konser dan temanya masih selalu gado-gado. Ke depan, rasanya kita sudah harus mulai memikirkan konser bertema tunggal. Kalo mo jazz, yaaa… jazz semua. Kalo mo madrigal, mendingan madrigal semua. Kalo mo karyanya Schubert aja, yo wis, lagu2nya Schubert aja. Yeah… mudah2an aspirasi bawah tanah ini sampai ke konduktor yah… ^-^

I’m outta here.
Class dismiss.
H

Advertisements

Tanggapi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s