Konser Musicanova “Odyssey”

Dari milis AgriaSwara IPB (23 Oktober 2007)

Laporan Pandangan Mata
Konser ODYSSEY
Musicanova Chamber Choir
Ivan Yohan, pengaba
GoetheHaus, 21 October 2007

(Link YouTube hanya sebagai referensi)

Musicanova

Musicanova

Rindu akan keajaiban penciptaan suara manusia yang paripurna, gw nengokin concert hall lagi. Kapan yah terakhir nonton konser paduan suara? Hmmm… udah lupa. Berarti udah cukup lama. Nah, konser yang semalem gw nonton jelas bukan sembarang konser, secara gw bela-belain datang padahal sebenernya hari Senen besoknya, hari pertama kerja, gw juga mesti presentasi buat sebuah tawaran kerja part time di salah satu kantor di Slipi. Nah, berarti kesibukan baru tuh. Tapi, demi kesenangan satu malam, gw tonton juga tuh ODYSSEY Concert, Musicanova Chamber Choir.

Ngomong-ngomong, judul konsernya sama yah sama judul konser AgriaSwara 2002 dulu ^^.

Konser dibuka dengan lagu pertama Gloria In Excelsis Deo (Thomas Weelkes), yang gw lewatin karena gw masih di taksi dari Harmoni menuju GoetheHaus. Tapi gw tau banget lagu ini karena pernah juga nyanyiin lagu ini sama NYCI dulu. Jadi, ya udin lah, gapapa.

King’s College Choir Cambridge: Gloria in excelsis Deo (Thomas Weelkes)

Pas lagu kedua, gw masuk. Exultate Iusti in Domino (Andreas Hakenberger). Dan kenangan tentang kejernihan vokal para penyanyi Musicanova kembali ke ingatan gw. Sopran-soprannya yang begitu rileks bernyanyi di semua register dan pitch, di semua dinamika khas lagu Renaissance. Tenor-tenornya yang sangat resonan. Basnya yang begitu profound dan bervolume. Juga altonya yang terdengar sangat alami tanpa banyak mengandalkan register dada.

Salt Lake Vocal Artists: Exultate Iusti in Domino (Andreas Hakenberger)

Kemudian ketika lagu berikutnya Voi Pur Da Me Excite (Claudio Monteverdi) terdengar, semakin jelas deh virtuosity para penyanyinya ketika bagian-bagian leggiero dari lagu-lagu khas abad Renaissance dinyanyikan. Their legato passagio was awesome. Dan semua penyanyi secara berimbang melakukan hal yang sama. Ketika menembak sebuah nada, ketika menyanyikan interval yang lebar, semuanya terdengar mantap. Mezza di voce yang mereka nyanyikan sangat rapi dan seragam. Warna vokal mereka juga sempurna mewakili zaman lagu ini.

Lagu yang mereka nyanyikan berikutnya, adalah sebuah karya awal abad modern dari Hubert Parry, O Lord, They Wrong Thee Much. Secara musikal, Musicanova terdengar tanpa cela, tapi sayangnya, pelafalan British English mereka (dalam pendengaran gw) masih kurang kental. Kayaknya sih perlu pembahasan tambahan dalam hal linguistik dan fonetik ketika mereka berlatih lagu ini. Dua lagu pendek dari “Figure Humaine” komposisi Francis Poulenc menyambung lagu Parry: Riant Du Ciel Et Des Planettes & Le Jour M’Etonne. Ada yang salah mengucapkan ‘ciel’ seperti kata yang sama dalam bahasa Italia. (Aduh! Sebenernya ini sih sama sekali nggak berdampak besar pada kenikmatan mendengarkan mereka bernyanyi, tapi nggak tau kenapa, bagi gw itu… mengusik ^-^) Gapapa lah, kan yang menyanyi juga bukan orang Perancis. Bahasa Perancis memang salah satu bahasa yang paling sulit dilafalkan dalam nyanyian. Gw sendiri berpikir kalo bahasa ini lebih mudah digunakan dalam percakapan ketimbang dalam syair musik.

Estudio Coral de Buenos Aires: Riant du ciel et des planétes (Francis Poulenc)

Sesi satu mengemukakan tiga komposisi sang konduktor, yaitu Kyrie dan Agnus Dei (dari “Indonesian Mass”, Ivan Yohan) dan Ave Maria. Dua lagu Ivan yang pertama kentara sekali berusaha untuk menggelar nuansa tradisional pentatonis sebagai setting musik dari syair “Kyrie eleison, Christe eleison” dan “Agnus Dei qui tollis peccata mundi, Miserere nobis, dona nobis pacem”. Acciaccatura pada beberapa bagian di lagu ini dinyanyikan dengan ‘gurih’ oleh Musicanova, meskipun teknik acciaccatura tenor dan soprannya sedikit berbeda. (Gw lebih prefer cara tenor menyanyikan ornamen musik itu ketimbang sopran). Sebagai catatan, Ave Maria-nya Ivan juga pernah dinyanyiin sama Maranatha di Kompetisi Padsu Unpar 2007 kemaren. Dan gw bisa bilang Musicanova menyanyikannya dengan berbeda. Dan gw lebih suka bagaimana lagu ini dinyanyikan oleh Musicanova. Karena jumlah mereka sedikit, pertama, lagu ini jadi terdengar lebih `bersahabat’ dengan telinga. Dinamika piano ke fortenya memang tidak sedramatis Maranatha. Tapi itu cuma karena mereka cuma ber-26 sementara Maranatha bergambreng-gambreng. Kedua, gw sangaaaat suka bagaimana diva-diva sopran itu
bernyanyi dengan muka seperti tanpa usaha sama sekali sementara nadanya setinggi langit. Aduuuh… apa mungkin mereka lip synch? (nggak mungkin banget dong)

Maranatha Christian University Choir: Ave Maria (Ivan Yohan)

Pamungkas sesi satu, Musicanova nyanyiin Suscepit Israel (Einojuhanni Rautavaara), sebuah karya kontemporer dari seorang komposer asal Eropa Timur. Dan… ya… harmoni rapat khas karya kontemporer mereka nyanyikan dengan akurat. Trus bagian chant dari lagu ini juga bikin bulu kuduk merinding, serem-serem enak gitu. Heheheheh… apaan coba.

Vox Animae: Suscepit Israel (Einojuhanni Rautavaara)

Waktu intermisi, gw baru tau kalo ada dua anak AgriaSwara yang nonton juga. Bhaskoro sama Imam. Tapi kok… cuman 2? Yang lain mana? Gw pengen bahas sedikit tentang ini, tapi ntar ya, di ujung tulisan ini. Ada banyak anak-anak paduan suara lain yang datang. Gw ketemu anak-anak Unpad (ada Iko), anak-anak Maranatha (ada Patty), Terra Voce (Astri, yang kebetulan kemaren nyanyi bareng gw juga di Sanctus pas KPS), Unpar tentunya, anak-anak Binus, dan BMS. Ada Ocep TC yang nanyain apa gw ikut konser Gloria Poulenc bareng TC apa nggak. Gw bilang gw gak diajak tuh. Tapi gw juga belum tentu bisa ikut ding. BMS aja jadwalnya udah cukup bikin gw occupied. Blm lagi Cavallero yg mo konser lagi bulan Desember dan Januari. Udah lah, satu-satu aja. Lagian gw mesti mikirin kerjaan paruh waktu tambahan gw. Hhhh… kapan gw bisa nafas ya?

Membuka sesi 2, Musicanova nyanyiin lagu yang sudah sangat tidak asing lagi: Soleram-nya Ivan Yohan. Yuk mari. Tau dong gimana kita pernah nyanyiin lagu yang sama di Budapest kemaren. Nah, Musicanova punya interpretasi yang beda tentang lagu ini di banyak bagian. Bagian “Oh aduhai!!!” yang tiba-tiba fortissimo itu mereka bikin tak banyak berbeda dengan keseluruhan lagu. Artinya, aksentuasinya nggak dibikin ekstrem kayak Agria. Gw gak bilang satu lebih baik dari yang lain sih. Sah-sah aja kok Arvin menginterpretasikan lagu ini beda dari Ivan. Pada akhirnya, justru itu memperkaya pendengar dengan interpretasi lagu yang berbeda.

Terus mereka nyanyiin Arirang (lagu Korea). Kitty (anak Maranatha) jadi solis di lagu ini. Gw suka suara altonya Kitty. Empuk dan ringan, tapi tetep tebel. Timbre alto Kitty beda sama… Paulina, diva altonya AgriaSwara, hehehhe…. Dan dua-duanya menurut gw si punya taring masing-masing. Taring… serigalaaaa kali.

Berikutnya Musicanova nyanyiin lagu Jepang yang gak terlalu gw tau. Gw gak punya catatan khusus tentang lagu ini. Gak terlalu suka juga. Terus mereka nyanyiin Sakura aransemen Ivan Yohan lagi. Nah, gw sukaaa banget lagu ini. Lagu ini bener-bener memamerkan lebarnya register vokal penyanyi Musicanova. Kayaknya tuh dari C bawah Bass 2 sampe C6 Sopran 1 semuanya dilahap dengan entengnya. Dan tiga diva sopran satu lagi-lagi bikin gw iri. Bukannya pengen bisa nyanyi setinggi itu si, hehehe… (Secara gw nyadar kalo pun gw ambil part kontratenor di Cavallero Male Singers, palingan cuman sampe G5. Ya iyyaalaaaah… orang gw tenor.) Mereka menutup bagian folklorik dari sesi dua dengan Dravidian Dithyramb, sebuah lagu rakyat India. Gw inget banget lagu ini waktu konser sama NYCI 2005 dulu. Waaah… lagu yang sangat dangdut.

Berikutnya Musicanova nyanyiin tiga lagu negro spiritual: Deep River, Ev’rytime I Feel The Spirit, dan Go Tell It On The Mountain. Tiga lagu ini diiringi piano Yohanes Siem dengan nyaris tanpa cacat musikal. Musicanova mungkin tidak begitu mengesankan dalam lagu-lagu gospel seperti ini. Timbrenya menurut gw sih masih terlalu rapi, masih terlalu Renaissance. Trus dinamika fortenya kurang menggerakkan hati. Padahal lagu-lagu gospel macem gini, yang biasa dinyanyiin sama gospel choir penyanyi-penyanyi kulit hitam gitu, mestinya terdengar lebih powerful, lebih banyak improvisasi dengan melodi dan teknik. Seringkali mereka harus menggunakan suara-suara leher yang tetap terdengar ‘cerdas’. Coba aja dengerin Take 6 nyanyiin O Thou Who Tellest Good Tidings, atau Moses Hogan Choir nyanyiin My Soul’s Been Anchored In The Lord. But anyway, it’s nice to hear their rendition.

Trus, encorenya… yahhh… negro spiritual lagi, Elijah Rock. Begitulah.

Baiklah. Overall, gw puas dengan konser Musicanova kemaren malem. Meskipun setelah pulang dari konser gw masih harus lembur sampe jam 12 malem buat ngerjain presentasi, tapi it was worth all the rain.

Nah, seperti gw bilang tadi, gw pengen bahas sedikit topik mengenai Perlu Tidaknya Menonton Konser Bagi Penyanyi Paduan Suara: Studi Kasus Paduan Suara Mahasiswa AgriaSwara IPB Hyuk Mari. Gw mungkin akan mengalamatkan ini buat anak baru, tapi sebenernya sih buat semua anggota yang masih pengen mempertahankan bahkan membuat kualitas paduan suara ini lebih baik lagi.

Menonton konser (paduan suara) itu perlu.

Gw bisa bilang, itu tidak terbantahkan. Temen-temen boleh nanya pelatih mana pun pasti bilang begitu. Yaa… kecuali yang gak berniat membuat paduan suaranya lebih baik dalam hal kualitas.

Terutama untuk anggota aktif Agria, gw rasa ini perlu dijadiin sebuah kultur bahwa nonton konser paduan suara itu adalah sebuah rekreasi yang menyenangkan sekaligus mendidik. Gw bilang menyenangkan, memang iya. Gak tau deh kalo seorang penyanyi paduan suara yang gak bisa menemukan kesenangan itu mungkin dia perlu mempertimbangkan lagi keberadaan dia di dunia paduan suara. Mungkin mestinya berada di dunia yang lain saja. Dunia gaib boleh juga tuh. Atau Dunia Fantasi mungkin yah, sambil naek Tornado. Hehehehe…

Nah, konkretnya adalah, gw saranin pengurus aktif sekarang bikin semacam program WAJIB NONTON KONSER PADUAN SUARA buat anggotanya. Paling tidak satu semester sekali lah. Atau mungkin setaon sekali…. which is very minimalist. Sebagai perbandingan, di UPH ada kewajiban nonton konser musik (gak hanya padsu) 6 kali satu semester. Setiap nonton konser, mereka mesti dapet tanda tangan salah satu penyanyi atau pemusiknya, plus laporan singkat apa yang mereka pelajari dari konser tersebut. Nah, kalo 6 kali mungkin kebanyakan, karena tentunya mesti dipertimbangkan biaya yang harus dikeluarkan untuk itu. Tapi kan konser paduan suara juga tidak selalu mesti bayar. Ada aja kok yang gratis. Tapi biasanya yang gratis tuh konsernya di gereja. Nah, itu balik ke pilihan masing-masing. Yang jelas, cukup banyak konser paduan suara yang `layak-tonton’. Kalo bisa kalian memang selektif dalam memilih paduan suara mana yang mau kalian tonton. Tapi YANG PENTING NONTON. Itu aja dulu. Lainnya menyusul.

Gw sempet ngobrol sama Kang Arvin tentang soal ini. Menurutnya, wawasan (terutama anak baru) anggota AgriaSwara masih sangat terbatas. Itu sebagian besar disebabkan oleh `kurang gaulnya’ Agria di dunia paduan suara. Kita memang di Bogor sih, bukan di Jakarta atau di Bandung yang jadi pusat perkembangan paduan suara di bagian barat Pulau Jawa ini. Tapi kan bukan berarti itu tidak bisa diusahakan. Nah, gaulnya anak-anak paduan suara tuh yaaaa… di mana lagi kalo bukan di konser paduan suara lain. Selain wawasan, nonton konser juga tentunya bermanfaat sebagai bahan studi banding kalian dalam menilai dan menerapkan apa yang baik dari sebuah paduan suara. Trus kalian pakai di paduan suara sendiri. Bukan berarti kita ngekor atau imitasi paduan suara, tapi bagaimana kita tau kalo yang benar itu benar kalo kita tidak punya pembanding. Iya gak? Seseorang bisa aja bilang kalo cara nyanyi yang seperti ini benar untuk lagu tertentu. Tapi mana kita tahu kalo nggak ada contoh?

Gitu lho, jadi ini jadi concern gw sebagai anggota yang setengah- aktif di AgriaSwara. Ini buat kita juga kok. Bukan berarti gw propose kalian untuk spend money buat hal-hal yang gak berguna. Ini berguna. You can rest assure.

Tolong yaaah… ini dipikirkan. Trus direalisasikan. Inget, HARUS ADA KONTINUITAS dalam hal KUALITAS di AgriaSwara. Kita udah dapet dua medali emas di Budapest kemaren. Trus mo berhenti di situ doang? We haven’t even won the Grand Prix. Kita bahkan belom coba kompetisi lain selain Musica Mundi yang pastinya lebih sulit dan lebih menantang. Kita belum sampai di sana. Dan jangan pernah bilang kalo Agria mo berhenti di dua medali emas. Kita yang sudah pernah bekerja keras untuk itu tidak berniat untuk membuat prestasi terakhir kemarin sebagai prestasi puncak. Masih harus ada prestasi lain yang lebih tinggi ditulis dengan tinta emas dalam sejarah AgriaSwara. Dan kalian (terutama) yang mendapat tanggung jawab itu. Tanggung jawab.

Berat nggak? Nggak kok. Kita bisa menjalani semua itu dengan KECINTAAN. Itu aja kok kuncinya. Kalo itu udah kalian temukan dulu. Semua usaha, semua kerja keras, semua pengorbanan kalian untuk AgriaSwara akan berbuah manis.

Gw sudah merasakan itu. Dan gw percaya, setiap orang juga mestinya bisa. Terakhir, gw pengen encourage kalian juga untuk tidak pernah berpikir bahwa kalian berada di bawah bayang-bayang senior kalian. Kalian juga bisa mencapai keberhasilan yang kalian ukir sendiri. Asal: Lakukan dengan kecintaan.

Oke, Bang Jali?

Advertisements

Tanggapi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s