Audisi Kamerkoor Vocoza

Dari milis AgriaSwara IPB (11 Oktober 2010)

Hallo.

Pengen sedikit bagi cerita sama kalian. Jadi begini, sambil ngurusin masa transisi gw di sini, gw iseng tuh kirim lamaran gabung paduan suara di sini. Berhubung hampir semua padsu di sini punya website sendiri, dan setiap website itu dikelola dalam sebuah direktori padsu di seluruh negeri kumpeni, nah, mulai lah gw research kecil-kecilan. Kutahu yang kumau:
paduan suara semi profesional, kalo bisa yang penyanyinya gak lebih dari 25 orang (di sini dibilangnya Kamerkoor, alias chamber choir, alias paduan suara ngamar, eh, kamar) jangan jauh-jauh dari rumah, mesti sekitaran lingkar kanal Prinsegracht yang oke punya tentunya ^^

Nah, dapet deh tuh, dua kandidat, Kamerkoor Vocoza dan Lorca Kamerkoor. Berbeda dengan proses rekrutmen di Indonesia, di sini biasanya orang kirim resume (short CV) untuk gabung padsu. Gw kirim lah lamaran gw, beserta resuma musikal gw yang merekam 11 tahun keterlibatan gw dalam dunia musik di Indonesia: 6 kelompok vokal dan paduan suara, sekitar 30 produksi musikal termasuk tur konser dan kompetisi, dan sekitar 50 komposer yang karyanya pernah gw nyanyiin. Buset dah. Gw aja sampe terheran-heran sendiri waktu gw bikin resume musikal gw. Padahal sampe gw SMA, pengalaman musik gw NOL besar. But anyway, choir yg pertama, Kamerkoor Vocoza, merespons.

Dari komunikasi by email, PR Vocoza setuju untuk gw ikut latihan bersama mereka, dan melihat apakah Vocoza sesuai dengan apa yg gw inginkan. Berdasarkan resume gw, mereka tau kalo gw bisa prima vista, jadilah… latihan pertama langsung dikasi Bach (Jesu, meine Freude), Brahms (Fünf Gesange) dan komposisi Estonia Veljo Tormis. Buset! Prima vista si prima vista, tapi komposisi seberat itu? Tapi ya sutralah… gw kunyah juga tuh Bach, Brahms dan Tormis. By the way, dari awal latihan, semua direksi dan interpretasi, semua dalam bahasa Belanda. Yuk mari. Bahasa Belanda gw masih terbata-bata, tapi gw ngerti kalo orang ngomong. Jadi, ya sudah, terima saja. Lagipula, gw sudah mengantisipasi ini dari awal. Unless ada padsu internasional di sini, gw harus siap dengan medium bahasa penjajah. Nasib 😛

Habis latihan, konduktornya (Sanne Nieuwenhuijsen, cantik, masih muda, umur 31) nanya, “Gimana, gimana? Bagus gak? Tertarik untuk audisi?”

Well, gw bisa bilang kalo dari impresi 2 jam latihan bersama Vocoza, dengan sekitar 24 penyanyinya, gw bisa bilang kalo gw suka. Semua penyanyi kentara banget sangat musikal. Hampir semua penyanyi punya pengetahuan baca not. Konduktornya cerdas, menurut gw, karena dia menginterpretasikan musik yang kita nyanyiin sebagaimana mestinya (at least dari sudut pandang gw). Soprannya bagus. Altonya juga. Bassnya sangat berkarakter, meskipun menurut gw masih perlu olah sonoritas. Tenornya OK juga, meskipun ada satu dua yang menurut gw perlu lebih mendengar suara tenor lain. Tapi overall, gw suka banget, dan gw merasa gw bisa fit in di antara mereka (satu-satunya orang Asia di antara bule-bule Belanda, seorang Jerman, seorang Islandia, dan (mungkin) seorang Surinam). Baiklah, mari kita audisi.

Minggu depannya audisi deh tuh. Rada gugup juga. Secara, terakhir latihan nyenyong waktu gw di kampus yang di London, sama Roehampton Chamber Singers, which is sekitar 3 bulan lalu. Sebelum audisi, konduktornya nanya dulu kenapa gw milih Vocoza, dulu sempet belajar vokal di mana sama siapa, di Belanda rencananya buat apa dan berapa lama. Gitu-gitu deh. Nah, format audisinya persis seperti waktu gw audisi BMS dulu:

  • Ambitus atas bawah (karena gw bilang kalo dulu jg gw nyanyi di register countertenor, dicoba juga deh tuh, gw bersolfegio dari bass 1 sampe register alto) –> Menurut konduktornya, timbre alto gw bagus ^^, dia bilang kalo bisa nyanyi di dua register kayak gini, di Belanda itu berarti tambang emas, hehehe… Dia nawarin, mo nyanyi di alto apa di tenor. Gw jawab, tenor aja deh.
  • Ritmik (yg ini lancar, car, carrrr)
  • Sight-singing, lengkap dengan dinamika dan interpretasi frasering (repetisi, echo, crescendo, subito forte, all those stuffs)
  • Nyanyi lagu solo… yg standar aja deh, Caro mio ben (Giordani)…. pake acara lupa syair lagi, wkwkwkwk dan
  • Sense of harmony. Yg ini gw gak pernah sama sekali, makanya gw kaget pas ada bagian ini. Jadi, konduktornya maenin akord di piano…. Jreng! Terus dia minta, nyanyiin nada tengahnya, atau nyanyiin nada keempat (kalo misalkan akornya semacam C7 atau Dmin6). Haduuuuh…. meneketehe? Gw kan nggak punya dasar instrumen. Tapi gw coba juga deh tuh. Konsentrasi, sempet salah-salah, tapi akhirnya ternyata gw bisa juga 😛

Well, setelah mereka meminta gw keluar, diskusi sebentar, terus gw dipanggil lagi.
Daaaan….

Konduktornya nyalamin gw, sambil bilang “Selamat bergabung dengan Vocoza.”

Cihuyyyy! Seneng banget! Akhirnya, gw kembali dalam bisnis pertunjukan 😀 setelah sekitar setahun nyaris absen sama sekali dari dunia musik.

Ya… gitu deh. Sekarang, saban kamis malam, dari jam 8 sampe 10.15 malam, gw latihan paduan suara lagi. ^^

Gitu, ceritanya. ^^ Makasyi dah baca yaaaah. Posting di sini juga dong, atau di Bukuwajah itu, gimana malam pertama bersama 415 bocah-bocah itu 😀

Advertisements

One thought on “Audisi Kamerkoor Vocoza

Tanggapi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s