Konser PSM Maranatha “Colour of Voices”

Dari milis AgriaSwara IPB (7 Juni 2004)

LapDangMat Konser “Colour of Voices”
PSM UK Maranatha
Goethe Haus, 6 Juni 2004

(Link YouTube hanya sebagai referensi)

Dari Facebook PSM Maranatha

Dari Facebook PSM Maranatha

Senang rasanya menyaksikan sebuah konser paduan suara yang dikemas dalam ‘look’ yang elegan dan ‘chic’. Paling tidak, untuk kepuasan visual.

Seperti tadi malam.

Tadi malam adalah pertama kalinya (Malam Pertama ^-^) aku nonton konser di Goethe Haus. Dan aku bisa bilang, “I love the place!” Sangat cozy. Desain interior concert hall-nya juga unik. Tipikal. Tidak seperti di Erasmus, view ke panggung dibuatsatu arah. Jadi formasi penonton tidak menyudut. Lalu ada semacam balkon (atau mezanin?) di belakang. Kira-kira sih, kayak di bioskop deh.

Above all, akustiknya BAGUS. FYI, sepertinya ada kecenderungan orang mulai berpaling dari Erasmus Huis untuk menggelar sebuah konser yang butuh akustik kelas Mercy. Penyebabnya apa lagi kalau bukan penurunan ‘kemampuan akustik’ Erasmus. Katanya sih, gara-gara auditorium Erasmus sempat ‘diapa-apain’.

Choir notes konsernya juga lucu. Bentuknya kayak CD (compact disc, Red.). Menariknya lagi, ada slide show. Ide bagus tuh, soalnya Maranatha dengan cerdasnya membuat slide show tersebut jadi sebuah media iklan dan semacam ‘panduan program’ selama konser berlangsung. Dan, untuk Anda ketahui, sponsornya banyak. Ampir sebanyak Unpad kemaren. Gile, ye, kapan dong Agrie bise dapet gebetan sejibun-jibun kayak ntu?

Warna kostumnya (ladies) anak Maranatha mengingatkan daku pada kenangan pesona jumbai-jumbai Maghenta choir kemaren! Lucu sih, two-piece gitu. Tapi beberapa orang sepertinya kurang begitu memperhatikan estetika. Masak ada yang pake sendal teplek??? Aturan mah, gaun cantik, sepatu atau sandal juga cantik dong…. Dugh! Sedikit sih, tapi tetep aja mengganggu. Udah gitu, ada yang gaunnya ngatung pula. Tapi ya udinlah, that’s not so essential. Kostum cowoknya lucu juga. Jas potongan one-chest hitam-hitam. Dalemannya juga hitam. Dasinya putih.

Kalau tentang segi musikalnya sendiri…. gw cuman bisa bilang…. GOSH! What an effort! Frenz… buku partiturnya… itu kira-kira setebel bahan kuliah satu semester. Gw jadi inget waktu TPB, diktat Kimia Dasar kayaknya masihkalah tebel tuh. Jujur, menurut gw, repertoar mereka sangat berat. Kira-kira… begini ceritanya… (duduk yang manis ya…..)

Repertoar mereka meliputi zaman Renaissance sampai Modern. Dari Monteverdi sampai Beatles-nya King’s Singers. Sesi I semuanya sacred, semua zaman tercakup kecuali klasik. Sesi II semuanya English, secular.

In my opinion, pemilihan repertoar seperti itu berat lho. Artinya adalah kita harus menguasai teknik dan karakteristik lagu per zaman, bahkan per komposer, karena teknik dan karakteristik lagu zaman Renaissance itu beda dengan zaman Klasik atau Barok, apalagi dengan zaman Romantik, let’s not mention Modern Age. Ciri vokal yang tipis dan terang di lagu Renaissance NGGAK bisa masuk di lagu romantik, dan sebaliknya.

To be honest, humbly saying, Maranatha belum terdengar ‘peka zaman’ dalam hal ini. Monteverdi dan Brahms-nya (Renaissance VS Romantik) masih terdengar satu warna. Aku gak bisa bilang vokal mereka lebih ke Renaissance atau Romantik, tapi lagu-lagu dari kedua zaman yang berbeda itu terdengar sama.

Dua lagu pertama mereka, Beatus Vir dan Cantate Domino langsung familiar di telinga karena JCVE bawain itu di konser O Magnum Mysterium.

Lagu Brahms mereka juga membawa ingatan ke zaman baheula (ck… ck… ck… kesannya gw udah idup 100 taun gitulloh!). Waktu Stuband ke UI, Paragita nyanyiin lagu ini, Schaffe in mir Gott-nya Brahms. No comment ah, gw kan belon ngerti begitu-begituan waktu itu (emang sekarang udah?). Tapi, gw bisa bilang, Unpad masih lebih unggul di lagu-lagu romantik.

Tapi, menariknya, lagu Lotti Vere Languores Nostros yang dibawain sama male choir-nya bagus. Tiba-tiba mood gw beralih ke zaman Gregorian gitu. Female choirnya juga bagus pas lagu Nigra Sum. Tapi di Sesi I, lagu favorit gw adalah Arma Lucis. Meskipun sempet ada yang kurang beres di bagian tengahnya, tapi dasar lagunya emang bagus, gw suka.

Secara keseluruhan sih, sesi I bagus. Meskipun attack dan release-nya kadang masih belum kompak, tapi gw salut sama kesisiplinan mereka sama conductor. Itu tuh bener-bener yang gw bilang di Lapdangmat JCVE, seolah-olah mereka menyerahkan seluruh jiwa dan nyawanya di tangan konduktor. Disuruh kenceng, keras, nurut. Disuruh lemes, kecil, nurut. Disuruh piano, tiba-tiba forte, lalu perlahan diminuendo… nurut. Beda yah, sama AquaSwara (bukan, bukan PSM IPB kok… ), yang masih suka ngeyel. Suruh pelan, kegedean, terlalu semangat, giliran crescendo, kagak ade tenage. Susye ye, nyanyi? Hehehehe… tapi, percaya deh, kata Kang Arvin juga: “Kalian bisa bagus kok.”

Duh, senengnya daku (dan qta semua kan?) dikatain gitu sama Kang Arvin kemaren pas latian. C’m on, guyz, let’s get it ON. Pelatih qta bilang, kemajuan qta, individual maupun keseluruhan, keliatan koq. Meskipun… tetep…

WE ARE STILL CRAVING FOR BASSES and sopranos.

Ayo dong, Bass-nya masih kurang buanget neeeh.

Back to the show, ah. Sesi II-nya kebanyakan lagu-lagu yang udah pernah aku denger dan nyanyiin. Ada Lay a Garland (Mbak Maureen, Mbak Eno, inget gak sih?), ada 2 lagu Parry yang dibawain JCVE kemaren, ada As Torrents in Summer, dan satu lagu Bennet. Well, karena pernah denger Impromptu nyanyiin Lay a Garland, jadi bisa bandingin deh. Lagu ini dinyanyiin dalam formasi small choir. Cukup bagus kok, meskipun kadang suara Tenor II atau Bass I-nya… lho? As Torrents in Summer-nya lebih bagus dari Agria :).

Setelah lagu-lagu Inggris itu…. e-e-e-ee… ada Teddy Panelewen. Ta’ pikir yang namanya Teddy itu orangnya ‘besar’. Eh, ternyata… (kostumnya…  Hehehehe… ). Habis, di CD Unpar Around The World, suara dia kan terdengar sangat berat dan penuh. Pokoknya suaranya GENDUT deh. Ternyata Teddy tuh mirip-mirip sama Ivan gitu deh.

Tapi, Bang, suaranya… mmm… Tasty! Luv it, luv it, luv it.

Teddy dan koor bawain 3 lagu Beatles plus encore dari koleksi King’s Singers. Ada And I Love Her, Michelle, dan Yesterday (sounds familiar, huh?). Lalu satu encore manis Here, There, and Everywhere. I always love this one, howsoever arranged. Apalagi seandainya yang tadi malem itu aransemen yang dibawain sama Neri Per Caso… wah… gw bakal jatuh cinta dah.

OKs deh. Secara keseluruhan, gw mah sebisa mungkin tetap bisa menikmati konser. Ada sih, saat-saat di mana dahi gw secara refleks (bawah sadar lho) berkerut… “Itu tadi ada nada yang aneh deh.” atau “Yah, lagu Beatles-nya padahal bisa dibikin lebih stylish lagi tuh.” Tapi, ya… Maranatha juga kan bilang ke qta waktu Stuband dulu, mereka juga masih belajar. Sama lah, kayak qta (PD banget, gw).

Trus, sekedar saran buat diri sendiri, sebenernya kalo bikin konser itu repertoarnya gak usah banyak-banyak kok. Gak perlu kallle bahan kuliah satu semester DIKONSERIN. Ada 3 alasan:

  1. Berat bhuanggheutdzh!
  2. Konsernya jadi kayak choky choky, panjang dan lama. OMG, siapa itu yang tertidur dengan pulasnya di bangku kiri atas?
  3. Penonton biasanya menilai konser bukan dari lamanya, tapi dari kesan yang dibawa pulang ke rumah. Dan penilaian akhirnya sih sama: panjang-pendek, lama-singkat, yang penting kebutuhan artistik terpenuhi.

Terus juga, menampilkan lagu dari zaman yang berbeda-beda juga gak gampang lho. Bukan sekedar menyanyikan SATB, tapi yang penting adalah CIRI yang membedakan tiap zaman, lebih jauh lagi, tiap genre, bahkan tiap komposer.

So, BERANIKAH ANDA MENANTANG DIRI SENDIRI UNTUK MENJADI LEBIH BAIK DARI MEREKA?

(Provokatif banget gak tuh? heheheh… habis…)

Dari rumah sendiri dilaporkan, WE ARE GETTING BETTER (and better). Kalau dulu tenornya… Allamaaak… gelapnya (Cidangiang jam 12malem aja kalah gelap tuh, hehehehe….), sekarang Kang Arvin bilang sih lebih terang. Bright gitulloh…bercahaya (Apa coba?). Lebih rileks, meskipun belum benar-benar rileks, dan belum semuanya. Altonya jauh lebih bagus. Kata pelatih qta sih, warnanya nge-fit banget buat lagu-lagu Romantik. Nanti qta bikin konser ini aja: Romantik Asyik qeqeqeqeqs…

Advertisements

Tanggapi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s