Konser Vocoza “Zomer Herfst”

Dari milis AgriaSwara IPB (27 November 2010)

Kamerkoor Vocoza Amsterdam

Kamerkoor Vocoza Amsterdam

Seneeeeeeng banget, akhirnya bisa konser lagi. Diterima jadi anggota sekitar akhir September, tadi malem kami konser di Groenmarktkerk, Haarlem. Seperti biasa, Vocoza menampilkan konser di dua venue. Hari ini kami akan konser lagi di Mozes en Äaronkerk, Amsterdam.

Venue tempat kami konser tadi malam adalah sebuah gereja yang akustiknya, menurut gw, salah satu yang terbaik untuk konser paduan suara dan musik kamar yang pernah gw alami. Kami tampil dalam sebuah format konser bersama empat orang pemusik dengan instrumen autentik zaman Barok: continuo, theorbe, violoncello, dan violon. Bersama kami, juga tampil seorang soprano (mantan penyanyi Vocoza di tahun 80an yang sekarang berkarier internasional), Johannette Zomer. Ini adalah kali pertama gw terlibat dalam konser musik kamar seperti ini. Dan kesan gw, konser ini sangat intim, dan audiens-nya sangat atentif.

Konser kami buka dengan Jesu, meine Freude (Bach), dengan format lengkap paduan suara dan semua instrumen, tanpa Johannette. Karya monumental Bach yang satu ini adalah motet terpanjang dan paling terkenal dari 6 motet untuk paduan suara yang ditulis Bach untuk 5 suara. I’m a Bach enthusiast, so I find this piece simply irresistible. Apalagi dengan iringan instrumen yang emang berasal dari zamannya Bach. Gw bisa bilang, gw merasa kembali ke Leipzig, tahun 1723, ketika karya ini di-premiere-kan. Tapi yang paling gw suka dari bagian ini adalah bagaimana Sanne, konduktor kami, berhasil mengolah musik Bach yang penuh detail menjadi sebuah penampilan yang mengadiluhungkan presisi dan artistri. Dari sudut penyanyi, gw bisa menyelami bagaimana teks biblikal dalam motet ini diterjemahkan ke dalam musik yang berbicara. Bukan hanya bernyanyi, tapi juga menyampaikan pesan.

IMG_2842

Setelah Bach, paduan suara silam. Kemudian Johannette naik panggung, membawakanDeuxieme Leçons de Tenebres (Couperin). Ini adalah sebuah karya yang menggambarkan refleksi dan kontemplasi atas dosa, seperti dalam cerita di Perjanjian Baru, tentang kehancuran Jerusalem pada abad ke 6 sebelum Masehi. Johannette tampil sangat memukau. Dari kursi penonton paling belakang, gw mencerap keindahan sebuah karya musik Barok Perancis yang memiliki karakteristik berbeda dari musik barok Jerman, macam Bach dan Händel. Pada awal setiap ayat, Couperin menyulap huruf dari abjad Iberani menjadi sebuah melisma yang sangat indah, kemudian diakhiri dengan kalimat Jerusalem, Jerusalem, Dominum Deum tuum ad convert.

Sama sekali berbeda dari dua karya pertama, pada karya ketiga, kami tampil a cappella, membawakan Fünf Gesange (Brahms). Temen-temen angkatan 41 ke atas mungkin ingat AgriaSwara pernah membawakan salah satu dari 5 lagu Brahms ini: Verlorene Jugend. Tadi malam kami menampilkan karya ini secara utuh. Well, biasanya Vocoza memang menampilkan semua nomor dari sebuah opus. Kelima lagu Bramhs ini menggambarkan serbaneka atmosfer musim gugur: dedaunan yang terserak di atas tanah, melankoli bunga-bunga yang layu oleh dinginnya udara, tapi juga pengharapan akan datangnya kedamaian dan sinar matahari. Karya nomor 4, Verlorene Jugend, Brahms membuat lukisan alam dalam musiknya, tentang energi masa muda yang tersisa setelah musim berlalu. Keseluruhan karya ini terkesan melankolis, padahal Brahms menulisnya di musim panas, sekitar tahun 1887.

Tiga karya pertama ternyata memakan waktu cukup panjang, setelah itu kami rehat.

Babak kedua konser dibuka dengan tiga karya epik komponis kontemporer Estonia, Veljo Tormis, yang datang melatih kami awal November lalu, sebagai bagian dari Tormis Festival yang diadakan di Amsterdam, mengumpulkan paduan suara-paduan suara amatir dari seluruh pelosok Belanda. Dalam masterclass bersama Tormis, katanya sih, disamping pengolahan musik yang bagus, pelafalan bahasa Estonia kami nyaris sempuna ^^. Beliau mengundang kami untuk konser di Estonia karenanya. Buat gw, ini pengalaman pertama terlibat dalam sebuah produksi musik di mana komposernya sendiri turun tangan dan melihat sendiri bagaimana musik yang dia tulis diinterpretasikan oleh sebuah paduan suara yang bukan dari negerinya sendiri. Dalam 3 Laulu eeposest Kalevipoeg, Tormis menghidupkan kembali musik rakyat dan sejarah Estonia dalam sebuah kisah tentang kehilangan dan perjuangan. Puisi dalam teks Kalevipoeg bercerita tentang Kalevipoeg (Anak Lelaki Kalev). Salah satu lagu dari Kalevipoeg ditulis Tormis ketika ia kehilangan ibundanya pada sekitar tahun 50an, waktu ia masih menjadi siswa Konservatorium Moskow. Pada lagu terakhir, Tormis membuat lukisan alam tentang ombak di lautan. Pada nomor ini, para bass 2 meluncur ke bawah sampai C2.

IMG_2834

Dari abad kontemporer, kami kembali ke awal zaman Barok, membawakan Lamento d’Ariannabersama Johannette dan instrumen Barok. Sebagai penggemar berat Monteverdi, gw menemukan nuansa baru dalam musik lamento ini. Monteverdi bercerita tentang Ariadna, yang menolong Theseus keluar dari labirin yang dibuat oleh ayahnya, Raja Minos dari Kreta. Setelah Theseus, membantai Minotaur, ia ternyata mengingkari janjinya menikahi Ariadna. Opera ini bercerita tentang kesedihan Ariadna.

Terakhir, kami membawakan Hör mein Bitten (Mendelssohn). Untuk lagu ini, kami turun dari altar dan naik ke mezanin di lantai tiga, di bawah orgel besar yang menutupi nyaris seluruh dinding di bagian façade gereja. Sang musisi kontinuo kali ini mengiringi kami dengan orgel, dengan Johannette sebagai solis. Lagu ini, yang berarti Dengarlah Doaku, adalah salah satu karya favorit sang komposer sendiri yang ia tulis pada zaman Victoria. Selang seling solo dan paduan suara pada karya Mendelssohn ini mengingatkan kita pada lagu-lagu patriotik Inggris. Oleh karena itulah, versi Inggris dari lagu ini, Hear My Prayer, adalah salah satu karya paling terkenal dan paling banyak dinyanyikan yang pernah ditulis Mendelssohn. Efek akustik dengan bernyanyi di atas mezanin ternyata cukup dramatis, karena audiens mendengar suara kami seperti dari langit ^^.

Keseluruhan konser ternyata cukup panjang. Lebih dari 2 jam. Cape juga. Tapi seneeeeng banget. Gw belajar banyak dari pengalaman gw bermusik bersama teman-teman di Vocoza. Salah satu yang gw pelajari adalah, Vocoza tampaknya perencana yang baik. Program konser berikutnya sudah dipublikasikan dari konser kali ini. Bukan hanya publikasi tanggal dan tempat, tapi juga program yang akan kami bawakan berikutnya. Bulan Mei tahun depan. Dan, gw melihat ada Missa for double choir (Frank Martin) yang pernah gw bawakan bersama Twilite Chorus tahun 2005 lalu. ^^

Segitu dulu yah, semoga lapdangmatnya bermanfaat.

Advertisements

Tanggapi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s