Verdi dan “Setannya Misa”

Giuseppe Verdi dikenal sebagai komponis Italia kala Romantik yang banyak sekali menggubah musik opera. Sebut saja judul-judul opera heroik macam Rigoletto dan Aida. Atau yang sangat sensual dan profan macam La Traviata. Kalau judul-judul tersebut terdengar terlalu kolosal, mungkin lagu riang gembira seperti Libiamo ne’ lieti calici atau La donna è mobile setidaknya pernah kita dengar dinyanyikan oleh Aning Katamsi dan Christopher Abimanyu dengan iringan Twilite Orchestra (Addie MS). Verdi dianggap sebagai salah satu komponis opera paling berpengaruh pada abad ke-19. Tidak hanya itu, Verdi juga berperan aktif secara politik dalam penyatuan kembali semenanjung Italia (Risorgimento).

Sebagai seorang agnostik cenderung ateis, Verdi menggubah nyaris hanya musik sekuler saja. Terdapat sangat sedikit referensi religiusitas dalam karya-karyanya. Salah satu dari sedikit gubahan sakral Verdi adalah Messa da Requiem, yang ia tulis untuk mengenang kepergian Alessandro Manzoni, seorang penyair dan politikus Italia yang sangat ia kagumi. Demikianlah, sebuah musik kolosal misa pemakaman sepanjang 1.5 jam lahir dari tangan seorang komponis besar dari kampung Le Roncole ini. Sebuah musik kolosal yang oleh sang komponis sendiri disebut sebagai “that devil of a Mass”.

Premier “Messa da Requiem” di Teater La Scala, 1874, dengan Verdi sendiri sebagai pengaba

Requiem Verdi ditampilkan untuk pertama kalinya di sebuah gereja di Milan pada 22 Mei 1874. Tiga hari kemudian, konser yang sama diulang di Teater La Scala, diaba langsung oleh sang komponis. Setelah itu, komposisi untuk 4 solois, paduan suara dan orkestra ini lebih banyak ditampilkan di teater dan gedung konser ketimbang gereja, sehingga masyarakat musik cenderung menganggap premier Requiem Verdi adalah penampilan di Teater La Scala, yang diabadikan oleh Osvaldo Tofani dalam ilustrasi di atas.

Para terpelajar musik beranggapan bahwa Verdi berniat untuk memperkenalkan musik opera ke dalam musik gereja melalui Messa da Requiem. Lebih dari itu, ia juga membuat semacam pernyataan musikal terhadap rasa kebangsaannya sebagai seorang Italia. Namun, ada semacam pertentangan yang bisa kita telusuri dalam gubahan ini: antara sakrilegi dan profanitas, antara harapan kedamaian abadi khas musik pemakaman dan teror mengerikan Hari Penghakiman dalam Dies Irae. Verdi tampaknya tidak berniat menciptakan suasana wingit penuh janji manis akan kehidupan setelah mati. Alih-alih, ia melukiskan kematian itu sendiri sebagai sesuatu yang sama sekali tidak menenangkan.

(cuplikan dari BBC Proms 2011: Semyon Bychkov mengaba BBC Symphony Chorus, BBC National Chorus of Wales, London Philharmonic Choir, dan BBC Symphony Orchestra)

Verdi tanpa sungkan menggunakan ritmus yang sangat kuat menghentak. Pada bagian lain, kita juga disuguhi garis melodi yang begitu indah. Pertentangan antara dua kekuatan emosi ini menjadi salah satu ciri khas opera Verdi yang juga kita temukan pada Requiem-nya.  Coba simak Lacrimosa dinyanyikan oleh mezzosoprano Fiorenza Cossotto, bass Nikolai Ghiaurov, tenor Luciano Pavarotti, soprano Leontyn Price, dan Chorus of La Scala Milan, di bawah baton konduktor fenomenal Herbert von Karajan pada tahun 1967 berikut.

Pada bagian Sanctus, Verdi mengedepankan hanya paduan suara, dalam larasan kompleks fuga untuk 8 suara. Dirangkai kemudian dengan Agnus Dei yang surgawi. Kedua bagian ini akan sangat kontras jika dibandingkan dengan Libera Me yang menjadi pamungkas keseluruhan gubahan akbar ini. Mereka yang berharap Libera Me menjadi sebuah penutup Requiem yang memerdekakan mungkin akan harus kecewa dengan ambiguitas Verdi. Harapan akan kebebasan dari maut yang menyakitkan mungkin akan menjadi sebuah ilusi kabur ditelan kabut, ketika kita dihadapkan pada komposisi ini. Soprano jelita Angela Gheorghiu membawakan keserbatakpastian ini dengan sangat baik:

Nah, demikianlah. Sebuah gubahan musik yang sama sekali tidak sederhana, tidak biasa, tetapi indah luar biasa. Untuk mereka yang mendalami ilmu vokal atau mengkhususkan diri dalam musik opera, rasanya Messa da Requiem Verdi sangat relevan untuk dimasukkan ke dalam repertoar. Gw seneng banget berkesempatan mengapresiasi gubahan ini bersama Toonkunstkoor Amsterdam dan Philharmonischer Chor Duisburg September mendatang di Jerman, diaba oleh Giordano Bellincampi. Bernyanyi bersama kami empat solis Maria Jose Siri, Susanne Resmark, Antonello Palombi, dan Stephen Milling.

Di YouTube kita bisa menemukan cukup banyak video konser utuh Requiem Verdi. Gw pilihin deh satu ^^ dari sang Herbert von Karajan dan Pavarotti waktu masih muda. Enjoy!

Advertisements

Tanggapi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s