Pak Victor: My First GURU

Dari milis AgriaSwara IPB (22 Juli 2008)

Teman-teman….

Gw mo share sedikit dengan kalian nih, tentang siapa gerangan Pak Victor purba ini. Gw berharap dari tulisan sederhana ini, kalian bisa mengambil yang baik-baik untuk jadi bahan renungan. Kali ini gw akan berusaha untuk melihat lebih dekat dari segala sudut pandang, semoga tidak bias.

Ketika gw pertama kali gabung sama AgriaSwara (bulan Agustus 1998… yeah, 10 taon yang lalu), gw tau kalo gw cuman modal berani ambil risiko doang untuk mencoba sebuah hal baru yang gak pernah gw lakoni sebelumnya. I had never been singing in a choir. I’m not even a Christian (which was a common sense for a choir singer at that time). Tapi waktu itu gw tau kalo gw bakalan sangat mencintai apa yang akan gw geluti sebagai hobi itu. Jadilah gw anggota AgriaSwara kala itu. Gw inget banget, pertama kali gw disuruh nyanyi Nyiur Hijau bareng-bareng. Mbak Mei-Mei yang mimpin. Gw Ge-Er banget waktu Mbak Mei bilang kalo suara gw bagus. Hah? Sumpe lo, Mbak? heheheh…

Padahal belakangan gw tau kalo itu cuman buat ngehibur gw doang. ^-^

Yaiyyaallllaaaah… tau apa gw tentang ilmu vokal? Just because you LIKE singing, doesn’t mean you’re GOOD at it.

Dan dimulailah sebuah perjalanan menakjubkan gw menjadi seorang pembelajar ilmu vokal. Tebak siapa guru pertama gue.

PAK VICTOR PURBA

Tentang Pak Victor:

  • Sudah berumur, mungkin sekitar 50 tahunan
  • Orang Batak (so pasti, gak mungkin dong ah nama belakang Purba ni keturunan Sunda)
  • Vital Stats 165/70 (ini gw sok tau aja, sangat mungkin gw salah)
  • Kadang suka telat dateng, sechara beliau ni berangkat dari Jakarta dengan mobilnya yang sederhana, yang kadang suka ngadat juga. Tapi jangan salah lho, beliau sangat berdedikasi pada pekerjaannya sebagai seorang pelatih, karena jujur saja, kalo mo perhitungan, kita membayar Pak Victor ni dengan rate ‘seikhlasnya’. Pelatih lain mah mana mau. Bogor-Jakarta pula
  • Galak, tapi nggak judes. Kalo udah ngocol suka kocak juga. Gw masih inget tuh beberapa joke yang suka dia lontarkan kalo kita ngumpul-ngumpul santai sehabis latihan

Yang jelas, mau sekarang AgriaSwara menang di Budapest, mau sekarang AgriaSwara dapet emas di Jerman, mau nanti AgriaSwara pergi kompetisi di Rusia (AMININ DOOONG ^-^), yang jelas, AgriaSwara PERNAH melewati masa-masa tersendiri bersama Pak Victor. Gw gak tiba-tiba tau lho, gimana caranya melakukan pernafasan dengan diafragma kalo gak diajarin sama Pak Victor. Gile aje lo! Dulu pan waktu SMP qta mah cuman diajarin teori doang yak? Kagak ada prakteknya sama sekali. Nah, sama beliau lah kemudian sedikit-sedikit mulai ada titik terang. Ooooooh… jadi gini…. Lho? ternyata begitu ya? Baiklaaaah….

Memang benar, selama kepelatihan beliau, AgriaSwara tidak mencetak prestasi yang gilang-gemilang bertaraf internasional. Memang benar, selama kepelatihan beliau, ada banyak kekurangan di sana-sini yang perlu dibenahi…

Tapi mau bagaimana pun… Pak Victor bagian dari sejarah kejayaan kita lho. Sama halnya dengan Ci Ingrid, yang sangat berperan dalam transisi AgriaSwara dari paduan suara biasa menjadi luar biasa seperti sekarang. (You can celebrate your accomplishment, it’s your disposition)

Tanpa kedua GURU kita itu, mungkin nggak akan pernah ada jalan untuk kita bisa dilatih oleh Arvin Zeinullah. Tanpa mereka, mungkin AgriaSwara akan tetap bernasib sama seperti beberapa paduan suara mahasiswa lain yang tidak berkembang karena tidak ada figur kepemimpinan.

Dan, memang benar, Pak Victor suka bawa ‘pager’. Tapi rasanya kita tidak perlu menganggap itu sesuatu yang konyol. Gile aje lo! Waktu itu pan hp juga belom mewabah. Gw juga tau kok, cuman satu dua orang aja di AgriaSwara yang pegang walkie talkie, eh, hp, waktu itu. Tapi, terlepas dari apakah itu ‘pager’, atau ‘handphone’, atau ‘merpati pos’, bukankah fungsi di atas segala pertanyaan apakah itu jadul atau tidak? Silakan dijawab sendiri.

Inti dari tulisan ini, semoga teman-teman bisa dengan bijak menyimpulkan, bahwa kita adalah bagian dari sebuah proses menuju kematangan. Siapa pun yang pernah dan masih terlibat dalam proses itu masing-masing punya peranan. Dan SEMUANYA PENTING. Termasuk juga para mantan presidium, mantan seksi angkat barang tiap kali konser, pelatih tamu (kita pernah mendatangkan Pak Nortier Simanungkalit), kolega penyanyi dan pelatih di paduan suara lain (ingat Bemby dan PSM Maranatha?), seksi tukang tulis partitur (angka maupun balok), seeeemuaaaaaa PENTING.

Jadi, mulai dibudayakan yuk, menghargai jasa orang lain, dan menganggap setiap elemen itu penting dalam sebuah proses menuju kematangan. Gw percaya, itu lebih berharga ketimbang sebuah END PRODUCT yang sempurna sekalipun.

Semoga terinspirasi

Pak Victor ini ada lho di YouTube:

Advertisements

2 thoughts on “Pak Victor: My First GURU

  1. Mas Hendraaaaaa……. pie kabare?
    Selalu penasaran dengan sosok pak Victor Purba. saya memang gak nikmatin dilatih beliau (Pak victor pun ci Inggrid) tapi sangat setuju sama kata2 ini : “Tanpa kedua GURU kita itu, mungkin nggak akan pernah ada jalan untuk kita bisa dilatih oleh Arvin Zeinullah. Tanpa mereka, mungkin AgriaSwara akan tetap bernasib sama seperti beberapa paduan suara mahasiswa lain yang tidak berkembang karena tidak ada figur kepemimpinan.”
    AgriaSwara sekarang jauh berbeda, dari mulai kualitas bernyanyi sampe repertoar lagu yang dibawakan, (dulu bawain jangkrik genggong, skr udah bawain lagu magnificat primi toni) hehehe..
    Semoga masih melekat di diri masing2 sikap menghargai dan rasa terimakasih. haree geneee banyak loh orang yang suka lupa sama jasa guru/pelatih, yaa ibaratnya katjank lupa sama bajunya eh kulitnya. hyuukkkk,,,
    NB: kapan pulang bang Jali? AgriaSwara udah kangen sama sosok mas Hendra 🙂

  2. Imaaaaaaas. Pangestu. Dararamang yeuh?

    Pak Victor dulu kan sempet dateng di konser E-Joy. Dia udah nyaris nggak ngenalin gw lagi saking udah lamanya nggak ketemu ^^. Angkatanmu bahkan nggak sempet dilatih Ingrid ya? Tapi dia nggak lama juga sih megang Agria. Iya, ayo, ayo. Ngucapin terima kasih kan nggak mesti bayar.

    Iya, gw juga kangen pisan sama kalian. Belom tau nih kapan gw bisa pulang. Duh, coba gw punya “Pintu Kemana Saja” yah….

Tanggapi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s