Jurnal Perjalanan BMS 2009 (Austria, Slovenia, Hongaria)

Menikmati lezatnya gado-gado pada malam hari bertabur bintang gemintang di pelataran Neue Hofburg (Imperial Palace), Wina, Austria, bukanlah pengalaman menakjubkan yang bisa kita alami setiap hari. Lezat, tak terkira. Apalagi mengetahui bahwa akhirnya, setelah berhari-hari bergulat dengan kerja keras demi sebuah kesempurnaan artistik, selesailah rangkaian tur konser dan kompetisi Batavia Madrigal Singers di Eropa tahun ini. Tiga program kompetisi, tiga negara, kami – atau paling tidak, aku – belajar banyak hal bagaimana menyatukan visi 35 orang penyanyi dengan isi kepala yang berbeda-beda bukanlah perkara gampang. Ada banyak sekali momen pemacu adrenalin yang kemudian membawaku secara pribadi pada kematangan dan ketercapaian. Inilah sepenggal cerita yang akan menjadi bagian dari ‘buku besar’ perjalananku. Bermula di Jakarta.

400 Hingga 1100 Dollar Amerika … Sanggup?

Rencana BMS mengikuti kompetisi di Eropa tahun 2009 sudah terendus dari tahun lalu. Pascakonser “Eternal Light” di Jakarta pada akhir Oktober 2008, barulah terang bagi kami bahwa Slovenia adalah target BMS tahun ini.

Semangat dan gelegak untuk berkompetisi mulai menyelusup aliran darah kami. Namun, ketika email pertama dating dari project manager kami, aku tidak lantas berjingkrak sambil berteriak “Iya!”. Isinya lumayan jelas, tegas dan ringkas: Program Kompetisi di Slovenia dan Tur Konser di Hongaria dan Austria… total jendral, USD 400-1100 per penyanyi, bergantung pada hasil audisi dan jam terbang menjadi anggota aktif BMS.

Waduh! Cukup nggak ya?

Terdengar agak skeptis pada awalnya, tapi jujur saja, buat aku pada saat ini, dengan rencana dan prioritasku hingga lima bulan ke depan, jumlah sebesar itu agak-agak unaffordable. Apalagi mengingat bahwa seharusnya ada pihak ketiga yang menanggung itu semua (baca: sponsor dan patron). Tapi, mau bagaimana lagi, BMS tidak bisa disamakan dengan AgriaSwara yang secara organisatoris berada di bawah institusi yang lebih punya taring menggigit sponsor. Dan pada saat-saat seperti itulah aku benar-benar merasa betapa kurangnya perhatian pemerintah (secara finansial, tegas saja) pada pekerja-pekerja seni lepasan macam kami. Padahal, judulnya tetap koq, membawa nama Negara Indonesia di kancah antarbangsa, bukan hanya Negara Daksa (tempat kami latihan, di daerah Senopati, Jakarta Selatan). Kelak, dalam nada guyon, kadang kami bilang saja kalau kami adalah perwakilan Negara Daksa, saking sebelnya sama ketidakpedulian orang-orang pemerintahan Negara Indonesia itu. Huh!

Tapi, apalah, aku putuskan juga untuk menjajal kemampuanku di kompetisi ini. Dengan ancer-ancer bayangan uang partisipasi yang harus aku bayar, aku mulai ikut latihan dari bulan Januari. Sangat, sangat mendesak, memang. Aku sampai heran sendiri, apakah BMS selalu seperti ini. Persiapan hanya 3 bulan untuk kompetisi setaraf Slovenia.

10. mednarodno zborovsko tekmovanje maribor 2009 – Apaan tuh?

Inilah nama kompetisi yang kami ikuti tahun ini: 10th International Choir Competition Maribor 2009. Kompetisi ini adalah salah satu dari rangkaian kompetisi paling prestisius di Eropa saat ini, yaitu European Grand Prix for Choral Singing. Bersama kompetisi Maribor, Slovenia, tersebutlah juga Concorso Polifonico Guido d’Arezzo, Arezzo, Italia; Bela Bartok Nemzetkozi Korusverseny, Debrecen, Hongaria; Florilege Vocal de Tours, Tours, Perancis; G. Dimitrov May Choir Competition, Varna, Bulgaria; dan Certamen Coral de Tolosa, Negeri Bask, Spanyol.

10th Maribor International Choir Competition

10th Maribor International Choir Competition

Berbeda dengan kompetisi Musica Mundi yang boleh dibilang tak membatasi jumlah dan kualifikasi peserta, kompetisi-kompetisi European Grand Prix terkenal sangat demanding. Mereka hanya memilih sekitar 8 hingga 12 peserta saja dari seluruh dunia yang  mereka perbolehkan ikut. Untuk kompetisi Maribor Slovenia tahun ini, BMS adalah satu-satunya perwakilan dari negara-negara Asia. Berikut adalah seluruh pesertanya:

  1. Coro feminile EOS (female choir), Italia
  2. Akademiska Sängföringen (male choir), Finlandia
  3. Batavia Madrigal Singers, Indonesia
  4. The Mornington Singers, Irlandia
  5. Sõla, Latvia
  6. Canticum Novum Chamber Choir, Hongaria
  7. Victoria Chamber Choir, Hongaria
  8. The Academic Choir »Divina armonie«, Romania
  9. Komorni zbor AVE, Slovenia
  10. Zbor sv. Nikolaja, Slovenia
  11. KUP Taldea, Spanyol
  12. Falu Kammarkör, Swedia

Melihat profil masing-masing peserta saja, wah! Rasanya sudah membuat keringat dingin. Kebanyakan dari mereka memang sudah sangat established sebagai paduan suara (dengan anggota yang solid, nyaris tidak berganti-ganti) selama bertahun-tahun bahkan lebih dari seratus tahun. Mereka sudah merilis banyak CD rekaman yang dijual secara bebas. Dan tentunya, langganan juara di mana-mana dan tur konser keliling dunia.

Jadi, boleh dibayangkan bagaimana pressure kami selama mengikuti kompetisi ini. Setiap menit adalah siksaan. Siksaan yang nikmat! Sebab begitulah, kami dituntut untuk mencapai kesemperunaan musikal dan artistik dari latihan ke latihan. Tetapi, sekali kesempurnaan itu tercapai, reward-nya tak terkira. Dan terbayarlah seluruh keluh kesah, kerja keras kami untuk mencapai itu.

Kalian harus merasakan sendiri bagaimana ekstasi kosmik itu terjadi. Seperti orgasme! Mungkin lebih dahsyat dari itu. Ah, nikmat sangat lah!

Who’s Who

Ini adalah program BMS untuk kompetisi kali ini:

Konser Pembukaan

  • Pontas Purba (1953) – Sin Sin Sibatu Manikam
  • Avip Priatna (1964) & Ivan Yohan (1975) – Yamko Rambe Yamko

Program Wajib

  • Iacobus Handl-Gallus (1550-1591) – Sancta et immaculata virginitas
  • Josef Rheinberger (1839-1901) – Salve Regina
  • Lojze Lebič (1934) – Vem, da je zopet pomlad

Program Bebas

  • Claudio Monteverdi (1567-1643) – A un giro sol de begl’occhi
  • Eric Whitacre (1970) – Hope, faith, life, love…
  • Ryan Cayabyab (1954) – Gloria

Grand Prix (jika lolos ke lima besar)

  • Johannes Brahms (1933-1897) – Nachtwache II, Op. 104 Nr. 2
  • Claude Debussy (1862-1918) – Dieu! Qu’il la  fait bon regarder
  • Morten Lauridsen (1943) – Ov’e Lass, il bel viso?
  • Paul McCartney (1942) & John Lennon (1940-1980) – Honey Pie
  • Avip Priatna (1964) & A Bambang Jusana (1970) – Janger

Dan ini adalah para penyanyi yang berangkat:

Soprano

  1. Fitri, Obi, Heidy, Tina, Deasy, Jeje
  2. Agnes, Ines, Devi, Christine, Renna

Alto

  1. Lia, Dosma, Tanti, Nuniek
  2. Joyce, Noni, Veby, Stella

Tenor

  1. Ipul, Arvin, Ocep, Hendra, Yosef, Anton
  2. Adri, Cahyo, Michael

Bass

  1. Harry, Adit, Aldy
  2. Pepi, Harland, Charles, Reyhan

Lebih dari setengahnya adalah anak baru (termasuk yang nulis). Semua penyanyi berasal dari latar belakang yang sama sekali beda! Beda alma mater PSM (Unpar, UI, IPB, ITB, UPH, Unpad, Atamajaya, Brawijaya, Binus, Perbanas, Gunadarma, Maranatha), beda usia (20 hingga 40 tahun), hingga beda profesi (dokter, IT, dosen, koordinator Matematika <– narsis, hehehe, guru vokal, pegawai bank swasta, kontraktor, mahasiswa, bahkan ibu rumah tangga). Beda agama dan beda suku mah udah biasa kali ya. Tapi, lihatlah peta kekuatan tim ini. Sangat beragam!

Dan begitulah, dari hari ke hari, kami benar-benar ditempa, persis seperti besi tuang yang sudah berbentuk namun belum halus pahatannya. Seperti batu permata yang sudah berkilauan pada hakikatnya, tapi masih harus digosok… berkali-kali… dan berkali-kali.

Ngamen di Jakarta Demi Sepeser Euro

Perhitungan anggaran menurut manajemen BMS adalah USD 60 000. Sekitar sepertiganya adalah urunan penyanyi dan konduktor, subsidi silang. (Fewwh! Banyak yah?) Sisanya? Patron, sponsor dan donatur. Sekedar mengemis? Tidak juga. Kami ngamen. Dari tempat ke tempat, sekalian uji coba repertoar dan mempertinggi jam terbang manggung tim kompetisi.

Itu penting, sebab seringkali tim kompetisi gagal karena mereka (sebagai tim yang berangkat) jarang memonitor kemajuan tim dengan manggung dan merekam hasil penampilannya. Dari konser-konser prakompetisi inilah kami tahu sejauh apa kami telah mencapai choral soundingbalancing antarsuara, intonasi, keseragaman dinamika, hingga kekompakan koerografi. Tanpa konser-konser prakompetisi, entah apalah jadinya ketika kami harus tampil di depan juri nanti.

Dan, tentunya, ada laaah hasilnya. Lumayan, buat nambah-nambah beliin pisang Cavendish buat tim di Eropa nanti, atau beliin kebab di Slovenia ^-^. Yang jelas, satu konser di gereja Mathias Cinere, satu di GKI Kwitang, satu di Djakarta Theater, satu di mansion mewahnya boss PT Djarum, dan satu di GoetheHaus, telah membantu kami menakar sesiap apa kami untuk kompetisi dan tur konser ini.

Urusan Kecil di Tempat Kerja

Ada banyak pertanyaan mengenai bagaimana para penyanyi yang sebenarnya berprofesi bukan penyanyi ini menyelesaikan urusan kecilnya di tempat kerja, berkaitan dengan 7 hari kerja (atau lebih buat yang extend tinggal lebih lama di Eropa) yang harus mereka tinggalkan.

Aku tidak punya jawaban yang sama untuk setiap penyanyi, karena profesi kami juga tidak sama. Tapi buat aku sendiri, sesederhana ini: potong gaji.

(And yet… another sacrifice.)

Mekanisme ini harus aku tempuh karena di sekolah, aku sebenarnya memiliki jatah 11 hari cuti dalam setahun, tapi alokasinya adalah untuk compassionate leave (sakit, dukacita, dan urusan keluarga). Jadi, terpaksalah, jauh-jauh hari aku harus mengurus hal ini dengan HRD. Dengan mekanisme seperti ini pulalah dulu aku menyelesaikan urusan kecilku dengan Sevilla School waktu pergi dengan AgriaSwara ke Budapest dua tahun yang lalu.

Lucunya, tidak semua orang di sekolahku mengetahui situasi ini. Dan ketika ada omongan-omongan miring nggak penting di belakangku, aku meradang juga.

“Eh, gue pergi ke Eropa bukan buat santai-santai juga, tau? Gue pertaruhin nama baik bangsa! Gue nggak makan gaji buta!”

Agak norak juga memang, orang-orang yang hanya mengetahui cerita dari satu sisi ini saja. Tapi, sudahlah, kadang, dalam situasi seperti inilah kesabaran dan kedewasaan kita diuji.

Tantangan Musikal: Gallus vs Brahms, Cayabyab vs The Beatles

Sebagai penyanyi, anggota BMS dituntut untuk menjadi versatile alias serba bisa. Kendatipun mengusung nama Madrigal Singers, kami tidak hanya menyanyikan madrigal. Repertoar kami juga mencakup motet, misa, oratorio, opera,partsongs kala Romantik, komposisi kontemporer paling menantang, Broadway musicals, lagu-lagu jazz dan blues, gospel dan Negro spiritual, hingga folksong dari berbagai belahan dunia. Oleh sebab itulah, ketika program kompetisi dan tur konser ini diberikan kepada kami, konduktor selalu mengingatkan kami untuk mengetahui lebih dulu konsep vokal yang harus kami capai untuk setiap lagu.

Pada lagu pilihan wajib, Sancta et immaculata virginitas, misalnya. Sebelum mengeluarkan bunyi apa pun, kami sudah harus tahu bahwa pada lagu ini, suara harus terdengar ‘selangsing’ mungkin, sederhana, tanpa vibrato sama sekali. Beberapa penyanyi yang kebanyakan makan ular dan mie keriting agak kesulitan menekan ambisi vibrato mereka, hehehe. Pengalimatan yang sempurna membentuk pola-pola sinusoidal juga merupakan esensi lagu-lagu pada zaman ini. Baru tahu juga, karena Gallus adalah komposer berdarah Jermanik, kami tidak membaca ‘virGInitas’ sebagai‘virJInitas’, tapi tetap ‘virGInitas’, sesuai dengan pelafalan bahasa Jerman. Begitupun vokal oe dibunyikan seperti odengan umlaut dalam bahasa Jerman.

Hal yang sama berlaku pada repertoar Romantik wajib yang kami pilih, yaitu Salve Regina. Meskipun syair berbahasa Latin, tapi karena Rheinberger adalah komposer Jerman, semua sukukata ‘ge’ dan ‘gi’ dibaca seperti tulisannya. Bedanya, pada lagu ini, kontrasnya dinamik khas abad Romantik sangat dikedepankan.

Terlebih lagi di lagu Nachtwache II. Konsep bunyi pada karya-karya Brahms sudah jelas: sangat romantik, tapi tetap mengutamakan karakteristik melodinya yang songful; harmoni kaya gradasi di atas fondasi suara bass yang mapan dan bervolume.

Buat aku, tantangan terberat adalah lagu Gloria. Lagu ini sangat megah, dengan rentang dinamika dari ppp hingga fff. Harmoni merapat pada banyak bagian paling indah dalam lagu ini. Ornamen-ornamen acciacatura menambah ritmus rancak bernuansa Asia yang, celakanya, cenderung rawan labilitas nada. Terlebih pada bagian tengah, solo tenor (dinyanyikan dengan penuh tanggung jawab oleh Farman Purnama), menabrak progresi melodi bass yang berada di tangga nada mayor dengan melodinya sendiri yang meliuk-liuk di tangga nada minor. Seringkali kami gagal mempertahankan nada dasar tetap di tempatnya. Tapi begitulah, BMS memilih lagu ini sebagai highlight untuk program bebas.

Sistem kompetisi ini demikian menantang karena dari awal setiap peserta harus sudah menyiapkan 15 menit program musik a cappella untuk babak Grand Prix. Artinya, masuk atau pun tidak masuk 5 besar (finalis), kami tetap harus melatih repertoar untuk babak ini. Yang tidak masuk 5 besar tentunya akan merasa sedih karena mereka tidak berkesempatan menampilkan lagu-lagu mereka.

Konduktor kami sepertinya cukup adventuresome dalam hal memililh repertoar untuk program Grand Prix. Kelima lagu sama sekali berlainan. Brahms yang sangat romantik, dirangkai dengan Debussy (Dieu! Qu’il la fait bon regarder) yang manis sekali, khas komposisi Perancis akhir abad 19. Kemudian sebuah komposisi modern karya Lauridsen (Ov’e Lass, il bel viso?) yang sangat dramatis dan operatik. Lalu kami harus mengeset vokal kami menjadi jazzy pada lagu Beatles (Honey Pie). Terakhir, mungkin untuk alasan keberagaman repertoar DAN kemudahan latihan, Avip memilih Jangeraransemennya sendiri sebagai finale program ini. Tentu saja dengan koreografi, seperti biasa.

Tantangan berikutnya adalah bahasa. Keseluruhan program kompetisi yang dibawakan BMS mencakup 9 bahasa berbeda. Dan yang paling sulit adalah bahasa Slovenia! Apatah gerangan caranya membaca ‘Vzcve-‘ dalam satu suku kata? Untungnya, salah satu pasien dr Joyce (alto 2), adalah mantan duta besar yang kebetulan pernah tinggal di Slovenia. Dan didaulatlah beliau untuk mengajari kami lafal bahasa yang menarik tapi sulit itu.

Na vr tu je češnja vzcvetela.

Vse žarke je vase ujela.

Vem, da je, vem, prišla pomlad!

Pelacur Seni Berkostum Seksi… Yee-ha!

Malam terakhir sebelum keberangkatan BMS ke Eropa, kami dikumpulkan di negeri Daksa tercinta, untuk mengambil kostum konser dan kompetisi. Ada 3 kostum berbeda yang harus kami bawa dalam kabin, satu kostum ungu rancangan Musa Widyatmoko yang kami pakai untuk Konser Prakompetisi “Sanguinis choraliensis!” di GoetheHaus. Satu kostum Bali. Dan satu kostum Dayak yang… aduh… seksi.

Agak-agak risih juga euy! Secara gue bukan golongan Adonis yang mendevosikan dirinya untuk workout di gym lima kali seminggu; yang suka menciumi lekukan bisep dan trisepnya setiap kali berdiri di depan cermin. Tapi, ya sudahlah, demi kemasan penampilan yang menarik, hajar aja broer!

Yang mengesankan dari proses pembuatan kostum ini adalah, sang konduktor, Avip Priatna, turun tangan susah payah mencarikan kain Bali dan velvet buat kami ke Tanah Abang, mencarikan bulu-bulu (entah ayam atau kalkun) buat hiasan kepala kami. Dengan bantuan Ipul juga, selesailah Mission Impossible membuat kostum etnik penuh detail dalam seminggu terakhir. Konsepnya cukup idealistis: festive, glamour, sexy… low cost.

Buset dah! Toronto Fashion Week lewat tuh!

Entahlah apa idealisme itu tercapai atau tidak, tapi aku sangat menghargai keterlibatan penuh konduktor dalam hal kecil seperti kostum. Bagaimana pun, kita tidak hanya ingin didengar, tapi juga dilihat.

Keberangkatan yang Tergesa-Gesa

Hari terakhir sebelum berangkat pada malam harinya, aku dimarahi di sekolah. Hiks hiks! Tapi, ya udah deh, beberapa orang memang SAMA SEKALI tidak bisa diharapkan dukungannya. Beruntung karena teman-teman dekatku di sekolah bersedia membantu situasiku saat itu. Untuk mereka, biasanya aku menyisihkan beberapa Euro-ku (yang tidak seberapa), untuk kubelikan oleh-oleh.

Pulang dari sekolah, setelah malam sebelumnya baru tidur jam 2 pagi untuk packing semua barang yang harus dibawa, dengan tergesa aku langsung berangkat menuju bandara.

Horee! Naik pesawat lagi!

Kegembiraan kanak-kanak seperti itu masih tak tertahankan meledak begitu saja setiap kali aku tebang dengan pesawat. Rasanya seperti kembali ke dalam ruang dan waktu, seperti ketika da Vinci mencoba mesin terbangnya untuk pertama kali.

Dengan penerbangan Emirates EK 357, berangkatlah tim penyanyi Batavia Madrigal Singers sebanyak 35 orang, plus konduktor, plus project manager, plus wartawan Kompas, plus dua penggembira ^-^ (Binu Sukaman dan A Hwa) menuju Eropa, lewat Dubai (transit selama 5 jam), mendarat di Wina, kemudian langsung berangkat ke Selatan menuju Maribor. Total, 24 jam perjalanan. Cape? Hyaeyyallaaaah!

Untungnya, di pesawat ada sistem ICE (information, communication, entertainment) yang cukup bisa membuat kami terhibur di antara waktu tidur kami yang terampas perbedaan zona waktu. Bisa nonton acara TV favorit, film-film dari zaman kakek-nenek hingga BlockBuster terbaru, mendengarkan musik dari segala genre, sampai telpon-telponan antarseat penumpang. Emirates OKeh banget deh!

Belum lagi perjalanan daratnya!

Somewhere between Vienna and Maribor

Somewhere between Vienna and Maribor

Bepergian di Eropa memang paling seru lewat jalan darat. Aku dengan penuh keingintahuan dan keriangan melewati bukit-bukit hijau dengan menara-menara katedral di kejauhan, melintasi perbatasan antarnegara, jembatan-jembatan dengan jurang dan ngarai yang dalam, melalui ladang gandum dan perkebunan kanola yang menguning. Spektakuler! Sepanjang jalan, theme song kami adalah:

“The hills are alive, with the Sound of Music…”

Kemudian, si kembar Agnes-Ines akan memecah keheningan sakral saat kami mengagumi penciptaan Tuhan itu dengan theme song mereka sendiri:

“Tanah airku Sloveniiiiaaaa, negeri elok amat kuuucintaaa…”

GRRR! Ketawa lagi. Sampai sakit perut menghadapi tingkah polah mereka yang tak pernah ada matinya.

Akan lekat dalam ingatanku seumur hidup, bahwa seringkali ada yang lebih berharga dalam hidup ketimbang pencapaian pribadi: kebersamaan untuk meraih sebuah tujuan.

Tidak setiap saat aku bisa merasakan hal itu. Dan untuk setiap detik yang terasa mencerahkan itu, aku mengucap syukur.

Kota Sepi yang Aneh

Diceritakanlah bahwa Maribor adalah kota terbesar kedua di Slovenia setelah Ljubljana, ibukotanya. Mohon jangan dibandingkan dengan, misalnya, Bandung adalah kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Terdapat hanya sekitar 2 juta populasi penduduk di keseluruhan Slovenia. Jadi, yang namanya kota terbesar kedua di sana lebih tampak seperti Sukabumi, atau, entahlah, mungkin seperti Cipanas, my lovely hometown. ^-^

Menurutku, kota ini aneh, karena semuanya tampak begitu muram. Bangunan-bangunannya banyak yang sudah tua dan kurang terawat. Wajah Eropa yang klasik, genit dan gemar bersolek tak tampak di sini. Dalam desau angin musim semi yang sama sekali tidak hangat, aku menemukan kesedihan dan ketidakpastian pada wajah kota yang menua. Jejak-jejak rejim komunis mengintip di berbagai sudut, dengan tatapan jahat yang seolah ingin bangkit dari tidur panjangnya.

Drava River, Maribor

Drava River, Maribor

Pemandangan cukup impresif dari arah Sungai Drava yang membelah kota. Kami tinggal di penginapan Lizike Jančar di Titova cesta 24a, selatan sungai. Belakangan kami tahu bahwa hostel ini sebenarnya adalah asrama putri salah satu universitas di sana. Maribor terkenal sebagai kota universitas. Di dekat penginapan kami juga terdapat sebuah Klinik Psikiatri. Yang stres karena tidak dapat kursi di DPR dan DPRD mungkin boleh berkunjung ke klinik itu.

Asylum fugitive, hehehe

Asylum fugitive, hehehe

Hari kedua di Maribor, Jumat 17 April 2009, kami mulai cek panggung. Seluruh rangkaian acara berlangsung di Union Hall, sebuah gedung serbaguna dengan akustik yang sangat baik. Disain interiornya ternyata cukup mengesankan, tidak seperti tampilan luarnya yang biasa saja. Dalam ruangan itu, satu penyanyi saja nadanya tidak tepat, langsung ketahuan. Menurut penonton setia kami, Mbak Binu, vibrato berlebihan juga terdengar sangat mengganggu dalam ruangan seperti itu. Kami langsung adjust suara kami di situ. Tapi, Avip sepertinya tidak cukup puas.

Diomelin Habis-Habisan di Maribor

Adik-adikku, teman-temanku, brondong-brondong dan para abege, terutama, ini adalah pelajaran yang sebaiknya kalian kuasai DAN praktikkan ketika kalian ikut kompetisi di luar negeri:

1.    Stick to the main cause you are here!

Banyak yang berpikir bahwa ikut kompetisi di luar negeri berarti kesempatan untuk jalan-jalan. Well, tidak sepenuhnya salah sih. Tapi aku bisa bilang kalau itu tidak benar. Tujuan kita pergi adalah untuk MENANG di kompetisi, bukan cuma ikut, doremifasolasido, haha hihi, terus pulang, nggak dapat juara sama sekali. Untuk mereka yang otaknya hanya berisi acara jalan-jalan, mendingan berangkat tur sendiri saja deh, atau liburan sama keluarga. Jangan nebeng tim kompetisi. Itu tidak adil. Karena kami pergi untuk kompetisi.

2.    Time is of the essence!

Ada waktu buat foto-foto dan jalan-jalan. Ada waktu buat latihan. Sekali kalian melanggar garis demarkasi di antaranya, kalian mencari mati. Apalagi dengan konduktor sekelas Avip Priatna. Apalagi dengan kompetisi setaraf Maribor. Kak Avip tidak pernah tedeng aling-aling menegur nama para pendosa selama waktu kompetisi, dan tidak berkompromi dengan ketidakdisiplinan. Kalimat beliau yang akan selalu aku ingat adalah “Kemenangan tidak dicapai dengan santai-santai. Semua harus kerja keras. Disiplin!” Dan dengan nada tinggi seperti itu, kami tahu bahwa ia benar-benar serius. Itu terjadi ketika latihan ngaret pada hari kedua gara-gara banyak yang kecentilan foto-foto dulu setiap 5 meter sekali dalam perjalanan pulang ke penginapan.

3.    Nobody is perfect, but music HAS TO be perfect, uncompromisingly!

Ini terdengar sangat menuntut, atau menakutkan, tapi demikianlah standar yang harus kami capai untuk sebuah kompetisi. Good enough is never enough. Tapi, kembali lagi, sekali kesempurnaan itu tercapai, reward-nya buat kita juga.

4.    Once everything is sung and done, you may have your yuletide of joyful ride.

Aku selalu membayangkan, betapa sebuah perjalanan menempuh ribuan mil akan terasa sangat berarti jika kita telah menampilkan yang terbaik (dan menang) baru kemudian kita menghabiskan sisa waktu dengan bersenang-senang. Dalam peribahasaku, menang dahulu, bersenang-senang kemudian. Tenang aja, ada koq waktunya buat perayaan, asal menang dulu.

Stres Menjelang Konser Pembukaan

Maka tersebutlah, sesaat setelah kami diomeli habis-habisan itu, sang solis sempat stres sambil melempar bundel partiturnya. Reaksi para pendosa juga beragam. Ada yang ketakutan. Ada yang merasa tidak enak badan. Ada yang tidak terima. Ini biasanya yang jam terbang kompetisinya masih rendah. Kepada mereka biasanya para senior mencoba menyabarkan. Namanya juga kompetisi, pressure-nya memang begitu. Tuntutannya jelas tidak seperti tur konser yang masih mengizinkan penyanyi haha hihi. “So, either you get used to it… or just go home tomorrow first time in the morning!” Setegas itu. Sesederhana itu.

Bukan petarung sejati namanya kalau tidak bangkit dan belajar dari kesalahan. Sebagai penampil terakhir dalam konser pembukaan, penampilan kami dinilai cukup mengejutkan (dalam konotasi positif). Katanya sih, yang lain lagu-lagu rakyatnya semua bertema dan berwujud klasik. Hyaeyyalayyaaah! Namanya juga negara Eropa, yang namanya folk song, pastinya berbau klasik. Sementara kita? Ya owli! Dengan kostum Dayak yang rada-rada seronok itu berjingkrak-jingkrak garang, teriak-teriak menabuh genderang perang, melengking hingga nada C#3. Dari mana lagi kalau bukan dari Indonesia?

Sayangnya, salah satu solis tenor (yang lain) berdosa di lagu ini, dengan melewati dua bar bagiannya, dan salah masuk barisan. Untung babak ini tidak masuk penilaian!

Hari Pembantaian Massal

Sabtu, 18 April 2009, adalah hari pembantaian massal 35 penyanyi BMS dengan cara yang sangat keji. Mereka dibunuh satu persatu hingga otak dan usus mereka terburai…

Woyyy!!! Apaan nih? Koran Lampu Merah?

Ulang!

Sabtu, 18 April 2009, adalah hari-H kompetisi, di mana setiap peserta harus menampilkan dua program sekaligus (compulsory & free programs). Setiap program dibagi ke dalam dua sesi. Waktu antaranya sebisa mungkin kami manfaatkan untuk latihan, memperbaiki kekurangan kami pada setiap lagu, menyempurnakan intonasi dan dinamika, serta mengingatkan semua hal yang sudah diajarkan sang konduktor kepada penyanyi tiga bulan terakhir ini.

Semua peserta ditempatkan dalam ruang-ruang kelas sebuah sekolah (yang sedang libur) di Razlagova ulica. Sebelah-sebelah kami, Zbor sv. Nikolaja (Slovenia) dan Victoria Chamber Choir (Hongaria) saling adu vibrato. Yah, maklum, doyan makan ular dan mie keriting, hehehe…

Saat kami tampil untuk program wajib, lagu pertama aku nilai kurang sempurna. Sancta et immaculata viriginitas, quibus te laudibus, efferam, nescio. Kalimat-kalimat itu. Ahhh! Sebenarnya bisa lebih berbentuk lagi. Waktu latihan, kami sering lebih bagus dari itu. Untungnya, lagu kedua, Salve Regina, yang menjadi andalan kami, sepertinya cukup mulus. Konon kabarnya, ada penonton yang dibuat sangat terharu dengan keindahan lagu ini, sampai menitikkan air mata.Salve regina mater misericordiae, vita dulcedo et spes nostra salve. Itu ia ungkapkan setelah menyaksikan babak ini. Begitu terharunya mungkin, sampai beliau berniat mengundang kami kembali ke Eropa tahun depan. Well, we’ll see lah. *SINGLISH MODE ON*

Nine Tenors, when One is not enough

Nine Tenors, when One is not enough

Dari dulu, aku selalu percaya bahwa untuk sebuah kompetisi (atau sekedar konser biasa) kamu harus siap 150%. Kenapa? Karena yang 50% akan habis untuk stage fright alias demam panggung.

Lagu Gloria pada program bebas kami jelas belum sesiap itu, karena entah bagaimana, pada bagian ketika bass bernyanyi sendiri, sempat terdengar disonansi yang tidak pada tempatnya. Argghh!!! Gemes rasanya, karena dari telingaku sendiri aku bisa menangkap kalau itu nadanya ada yang salah. Kenapa nggak langsung nyetem sih?

Ternyata menurut analisis Harland Hutabarat, yang membantu memperkuat bass 2 di tim konser ini, sangat sulit membuat bass benar-benar menyatu di lagu ini karena nadanya dibuat staccato sepanjang bagian itu, dan hanya dalam dinamika piano. Celakanya, blocking penyanyi pada keseluruhan program dibuat campur baur. Sebelah kiri-kanan, depan-belakang, tidak boleh suara yang sama. Ibaratnya, setiap penyanyi memang harus benar-benar mandiri untuk bersama-sama menjaga nada dan nuansa sepanjang lagu tetap pada kesepakatan semula. Stabil dan serempak.

Benar-benar tidak mudah.

Pada lagu Monteverdi dan Whitacre, untungnya kami lebih bisa menjaga kesempurnaan vokal, meskipun tetap saja, aku merasa lagu Hope, faith, life, love… sedikit turun di bagian akhir.

Setelah selesai dengan kedua program itu, rasanya aku belum bisa bernafas lega. Masih terasa ada banyak kupu-kupu yang mendesak ingin keluar dari dalam perutku. Aduh! Masuk 5 besar gak ya? Perkiraanku, Victoria Chamber Choir dan Mornington Singers pastilah masuk, melihat profil mereka.

Ternyata aku salah besar.

Dua-duanya tidak masuk. Yang masuk adalah KUP Taldea (Spanyol), Sõla (Latvia), Komorni Zbor AVE (Slovenia), Zbor sv. Nikolaja (Slovenia) dan… Batavia Madrigal Singers (Indonesia). Ah, syukurlah.

Berarti kami berkesempatan menyanyikan lagu the Beatles itu.

Esok harinya, kami langsung bekerja keras lagi untuk babak Grand Prix. Avip sempat menegur keras salah seorang sopran karena ketika cek panggung (lagi), matanya belanja ke mana-mana (padahal belum ada penonton juga).

Bolak-balik dari penginapan ke Union Hall ke Dressing Room ke tempat makan membuatku lumayan pegal juga. Tapi, pikirku, mending habis-habisan sekarang daripada menyesal nanti. Sudah bagus kita diberi kesempatan untuk maju ke babak final. Jangan sampai ini semua sia-sia.

Makan Sayuran Basi? Ewwh!!!

Dari dulu, aku kurang bisa beramah tamah dengan yang namanya salad. I mean, I’m fine with salad, but not with that stinky dressing and freaking sour taste. That was just hideous!

Selama aku di Slovenia, rasanya makanan di 3 tempat yang berbeda pada dasarnya sama saja. Diawali dengan ritual salad sayuran berbau dan berasa basi itu, yang pasti langsung aku singkirkan. Kemudian sup (yang aku sebut maggot soup karena tampak seperti ulat-ulat kecil berwarna kuning – sebenarnya cukup enak asal imajinasinya jangan kelewat liar kayak gue aja!). Lalu, biasanya mereka menghidangkan ayam (karena project manager kami meminta panitia menyediakan hidangan ‘no pork & no alcohol’, mengingat cukup banyak di antara kami yang muslim). Biasanya menu ditutup dengan apple strudel atau cake.

Untuk urusan kuliner, maaf-maaf saja, pecel ayam sama tongseng kambing Benhil masih jauh lebih enak. Lebih maknyus! Sambal botolan cap “Dua Iblis” yang aku bawa menjadi tambahan citarasa pelipur lara di sana. Sayang sekali, kelak, petugas airport di Austria merebut saos botolan itu dari tanganku. “Serahkan saos itu padaku, Reynaldo!” “Tidak, Maria Elena. Saos ini adalah hidup dan jiwaku.”

Hallah!

Ngarakijang di Grand Prix

Minggu siang, berbusana Roberto Cavalli dan bersepatu Jimmy Choo (Yea, right! Hehehe), dengan nuansa Bali warna-warni (kuning dan pink buat soprano-alto, ungu dan hijau buat tenor-bass), kami berarak-arak tebar-tebar pesona di sepanjang jalan Partizanska cesta. Setelah sepanjang pagi kami dipingit di hostel demi sebuah kesempatan kedua bernama Grand Prix, dan setelah (aku) hanya menyantap sereal biji-bijian (makanan hamsterku) untuk sarapan pagi, kami menuju Union Hall. Lily, choir guide kami yang bergaya rambut gimbal ala rastafarian itu dengan setia memandu kami dari dan ke tempat latihan, restoran, dan gedung konser.

BMS Maribor

BMS Maribor

Tentunya tidak setiap hari bule-bule itu melihat pemandangan Oriental di jalan raya mereka, dan tentunya tidak setiap hari pula kami dengan tak tahu dirinya bergerombol di pedestrian sambil bernyanyi-nyanyi Honey Pie. Ketika pandangan orang-orang tertuju pada keanehan yang menarik itu, kami tak lupa mengumbar senyum, sambil berharap bahwa mereka menangkap imagi tentang keramahan budaya Timur.

Kami melewati jalan yang sama, dan itu berarti melewati godaan yang sama: ES KRIM! Demi melihat mata para penyanyinya kelap-kelip memandang es krim yang tampak sangat lezat itu, konduktor kami langsung wanti-wanti supaya kami menahan diri. Tidak ada es krim sampai seluruh rangkaian program kompetisi dan tur konser berakhir! Di sebelah tukang es krim itu, ada juga tukang kebab yang tersenyum sumringah sambil menyapa kami saat kami lalu di depannya. Belakangan aku tahu alasan di balik senyuman si tukang kebab itu: Mbak Mita, project manager kami, membeli kebab 3-Euroan sebanyak sekitar 30-an porsi untuk seluruh penyanyi. Mungkin kami dia anggap penglaris jualannya hari itu. Aku ingat, dia bahkan mengucapkan “Good Luck!”

Dengan keberuntungan kebab Slovenia, beserta seluruh kemampuan tim, tampillah Batavia Madrigal Singers sebagai peserta undian pertama siang itu. Selalu ada perasaan gugup bercampur khawatir menjadi peserta pertama, karena biasanya juri belum memiliki standar penilaian yang dapat dijadikan bahan referensi mengenai penampilan seperti apa yang layak mendapatkan nilai, misalnya, 91. Tapi, menurut konduktor kami, ada bagusnya juga menjadi penampil pertama, karena itu berarti kami bisa segera menyelesaikan seluruh babak kompetisi ini. Setelah itu, paling tidak kami bisa sedikit bernafas… (padahal belum bisa lega juga sampai dengan pengumuman pemenang pada malam harinya).

Honey Pie ^-^

Honey Pie ^-^

Dengan nyaris tanpa dosa yang berarti, tiga lagu pertama, Nachtwache II, Dieu! Qu’il la fait bon regarder, dan Ov’e lass, il bel viso? kami tampilkan dengan sebaik-baiknya. Ada bagian di lagu Lauridsen yang sangat memerlukan konsentrasi penuh pada gerakan tangan konduktor, jika tidak ingin ritmus lagu menjadi berantakan. Aku sempat agak khawatir juga, tapi syukurlah seluruh penyanyi kelihatannya memang sudah cukup bisa menghafalkan lagu ini, sehingga mereka tidak terlalu terpaku pada partitur. Dari jauh-jauh hari, Kak Avip meminta kami menghafal seluruh lagu, supaya kami lebih bisa mengikuti arahan beliau.

Dengan blocking yang berbeda, lagu Honey Pie dinyanyikan. Para tenor sudah diperingatkan untuk memperhatikanrelease pada akhir kalimat yang cenderung suka turun. Ya, begitulah, ada tantangan tersendiri menyanyikan lagu-lagujazz, karena alih-alih memperhatikan intonasi, penyanyi lebih sering tergoda pada style bernyanyi, berikut bagian-bagianportamento dan glissando yang bertebaran di sepanjang lagu. Dan dengan rahmat dan berkat merekalah kemudian intonasi lagu suka turun. Sedikit akting di ujung lagu pada bagian ini (kebetulan salah satu penyanyi adalah bintang sinetron juga ^-^ –> bang Harland), membuat lagu ini memberikan nuansa tersendiri di antara program Grand Prix finalis lain yang melenggang dengan repertoar sakral penuh kekhidmatan.

Menutup program kami adalah ‘lagu kebangsaan’ Batavia Madrigal Singers, yaitu Janger, aransemen Avip Priatna dan Bambang Jusana. Dikomisi oleh PSM Universitas Parahyangan pada sekitar tahun 2000 di Linz, lagu ini tampaknya masih menjadi pilihan banyak paduan suara lain untuk mengetalasekan akar budaya Indonesia, khususnya Bali. Mengapa selalu Janger? Karena lagu ini begitu saja memungkinkan banyak variasi koreografi. Dan dengan sendirinya, lagu ini masih memiliki daya tarik audiovisual untuk waktu yang tak terbatas. Di antara seluruh repertoar para finalis Grand Prix, rasanya hanya lagu ini yang secara musikal berbeda sendiri. Unik. Masih menarik.

Kasusnya tentu berbeda seandainya lagu ini ditampilkan di Indonesia, saking sudah terlalu seringnya lagu ini dibawakan oleh paduan suara lokal. Kami, meskipun demikian, tetap membawakan lagu ini dalam nuansa kesalihan para penari Bali yang dengan rendah hati menghibur para penonton. Aku rasa, bagi mereka, lagu ini masih memiliki charm. Timeless beauty!

3: Terbaik untuk Tahun Ini

Menunggu hasil adalah saat-saat paling menyebalkan. Lima tahun terakhir ini, aku tahu benar betapa menunggu hasil adalah saat-saat paling menyebalkan. Kendatipun begitu, para pencari kenikmatan musik ini memang tidak pernah mati gaya mencari cara membunuh waktu. Sambil menunggu hasil pemenang Grand Prix, satu per satu paduan suara memprovokasi anggotanya untuk bernyanyi di Union Hall, di antara wajah-wajah penuh ketegangan para konduktor dan wajah sungguh-enak-dipandang sang Master of Ceremony, hehehehe.

Dari sayap sebelah kiri, terdengar lagu Zum Tanze da geht ein Maedel dalam versi bahasa Swedia dinyanyikan. Dari belakang, terdengar lagu rakyat Slovenia, atau entah dari mana, mungkin dari negeri Genovia ^-^ juga dinyanyikan penuh kecintaan. Dari Batavia Madrigal Singers… ah, kami terlalu pemalu untuk pamer suara :P , atau mungkin memang sudah pada kecapaian. Entahlah, tapi yang jelas, ketika satu per satu konduktor 12 peserta kompetisi dipanggil ke panggung, konduktor kami tampak agak tense. Aku mencoba membayangkan bagaimana rasanya jika aku harus berada di sana. Wah, pasti langsung mencoba mencari perlindungan. God, I don’t wanna be famous! :P

Satu per satu plakat keikutsertaan diumumkan. Menyusul kemudian penghargaan-penghargaan khusus untuk beberapa kategori. Dan, akhirnya, pengumuman untuk kelima finalis Grand Prix.

Ketika nama Sõla dan Zbor sv. Nikolaja meluncur manis dari mulut sang MC, kami langsung tahu bahwa kami masuk tiga besar. Wah! Senangnya. Ekspektasiku sendiri saat itu memang, jujur saja, tidak terlalu tinggi, karena menilai penampilan diri sendiri, aku tahu bahwa BMS bisa tampil lebih baik dari itu. Benar juga. Kami juara 3.

Terbaik untuk tahun ini.

Kami bersyukur bahwa sebagai peserta satu-satunya dari Asia tahun ini, terjauh dan tertampan (hallah!), kami berhasil menaklukkan kompetisi ini. Aku bilang menaklukkan karena kompetisi ini benar-benar tidak mudah. Dengan peta kekuatan tim saat ini, inilah yang terbaik yang bisa kami persembahkan untuk dunia paduan suara tanah air. Dengan prestasi ini, kami berharap yang lain juga tergerak untuk meraih pencapaian yang bahkan lebih baik lagi. Akan sangat membanggakan melihat nama paduan suara dari Indonesia sebagai pemenang salah satu kompetisi European Grand Prix, entah yang diselenggarakan di Perancis, Bulgaria, Italia, Hongaria, Spanyol, atau yang di Slovenia ini. Mari kita gulingkan kekuasaan Filipina sebagai goliath kompetisi Eropa yang berasal dari Asia! *CHE GUEVARA MODE ON*

Singing Gangsta

Desaku yang Kucinta, Ljutomer Namanya

Pulang dari Union Hall, tanpa banyak ba-bi-bu, kami langsung berangkat untuk rangkaian Tur Konser kami. Program pertama adalah konser di sebuah desa kecil bernama Ljutomer, sekitar 2 jam dari Maribor. Desa ini tampak bagi kami seperti tanah yang terlupakan di sisi entah-sebelah-mana dunia. Tapi orang-orang yang kami temui di sana, alamaaak!ramahnya.

Tersebutlah Komorni zbor Orfej, sebuah paduan suara lokal di sana, sedang memperingati 20 tahun berdirinya komunitas musik itu. Kedatangan kami ke sana mungkin sebenarnya dimaksudkan sebagai sebuah wahana studi banding buat mereka. Aku sempat takjub, di desa sekecil itu, apresiasi para penduduknya terhadap paduan suara sangat kentara. Apalagi begitu konser dimulai, dengan program gabungan antara Eternal Light dan Sanguinis choraliensis! mereka benar-benar menunjukkan antusiasme mereka pada musik kami.

Setiap kali lagu selesai dibawakan, tepuk tangan meriah mereka juga sepanjang lagu itu. Kami sampai sempat menyebut mereka audiens yang gemar sekali bertepuk tangan. Lama sekali. Seorang MC, mungkin semacam Pak Lurah di sana, membacakan profil kami, dan pengantar di setiap sekuens konser. Program kami sendiri memang, menurut kodratnya, terbagi ke dalam beberapa kelompok genre: sakral klasik, komposisi kontemporer, lagu pop, jazz, dan folksong.

Dalam ruang gymnasium berakustik indah itu, kami benar-benar merasa bahwa orang-orang ini, dalam kesederhanaan hidup pedesaan ala Eropa timur, sangat menghargai keragaman budaya dalam bentuk paduan suara. Mungkin begitulah, karena musik paduan suara memang lahir dan berakar kuat di Eropa, tampaknya mereka tidak kesusahan mencerna musik kami, kendatipun mereka tidak selalu mengerti bahasanya.

Sangat berkesan.

Ada tapinya lhoo…. Waktu bernyanyi lagu Janger, ada bolpoin salah seorang sopran yang jatuh. Dan kami semua tak sanggup menahan rasa ingin tertawa, sehingga encore yang seharusnya sakral-khidmat itu menjadi agak terlalu ‘riang’.

Habis konser, baru meledaklah tawa kami, berderai tak kunjung henti hingga sekitar 20 menit kemudian.

Pulang konser, kami dijamu di sebuah Rumah Makan “Sederhana”. Yang ini bukan masakan Padang lho yaaa, tapi, memang sebuah rumah makan yang berada dalam setting peternakan yang sederhana dan bersahaja. Begitu turun dari bus, kami langsung disambut aroma kandang. Sampai tidak enak, mau tutup hidung, takut dianggap kurang sopan. Tidak tutup hidung, aduuh, baunya. Salah seorang pemuda berpenampilan hick berkelakar memaklumi kekikukanku. Ini jadinya aku atau dia yang hick?

Midnight dinner at the village

Midnight dinner at the village

Saat ini, suaraku mulai terasa tidak enak. Stamina vokal terasa sekali turun ketika jarum jam mendekat ke angka 12 tengah malam. Ritual makan seperti biasanya juga berlaku di sini, dengan salad sayuran, sup jamur, ayam-ayam, danapple strudel. Tapi aku tidak terlalu berselera, karena rasa ngantuk yang tak tertahankan. Ingin rasanya jatuh ke pelukan bantal-bantal berbulu angsa sambil dinyanyikan lagu Wiegenlied.

Magyarorszag!

Tur konser berlanjut ke kota lain, negara lain, keesokan harinya. Budapest.

Memasuki kota penuh pesona mistis dari arah Buda (belakang Royal Palace), aku merasakan kesan berbeda dibandingkan ketika aku mengunjungi kota ini bersama AgriaSwara 2 tahun yang lalu. Ternyata Budapest tidak seasing yang aku kira. Dulu aku sempat tersesat jam 10 malam sendirian di salah satu lorong gelap kota ini, mencoba mencari penginapan bernama Marcopolo Hostel. Dulu aku tak bisa memindai peta kota ini ke dalam otakku sampai-sampai mencari stasiun Astoria dan Blaha Lujza ada di mana saja butuh waktu. Padahal dua-duanya tepat lurus saja dari Erszebet hid. Kemampuan spasial-direksionalku yang tidak terlalu bagus sering membuatku tidak bisa langsung mengetahui medan tempat aku berada. Gawat juga kalau aku jadi anak milyuner, bisa-bisa setiap saat jadi korban penculikan.

“Jose Fernando, suamiku… anak kita Reynaldo diculik lagi!”

Sesuai jadwal, kami konser di Tivoli Museum tak begitu jauh dari Opera House Budapest. Dengan program konser yang dipilih berdasarkan kesepakatan bersama, atas dasar suka-sama-suka, tampillah kami di sebuah ruangan yang mirip Teater Salihara, Pejaten, dengan akustik yang tidak bagus sama sekali. Aku merasa, banyak lagu gagal kami tampilkan maksimal gara-gara urusan akustik, plus stamina vokal banyak penyanyi, termasuk aku, yang mulai turun. Benar-benar tidak enak bernyanyi saat itu. Sebagai penyanyi di barisan Tenor 1, tersiksa benar rasanya saat suara kamu menjadi parau, sampai nada E saja harus pakai falsetto. Itu pun terdengar kurang bagus. Ah! Rasanya ingin jadi penonton saja.

Bermalam di Metropol Hotel Budapest, para Miss Jinjing dan Miss Shopping mulai tak tahan menyalurkan bakat-bakat terpendam mereka membeli barang-barang bagus dengan harga terbaik. Selama di Slovenia, kami sama sekali tidak diizinkan berbelanja, atau pun jalan-jalan, saking penuhnya jadwal kompetisi. Di Budapest, semuanya membludak begitu saja.

Aku sendiri mencoba untuk tetap waras mengatur budget, karena masih ada satu negara lagi yang harus kami datangi. Dengan anggaran terbatas, tentunya aku lebih tahu diri. Tapi, untuk melewatkan kesempatan menjelajahi sudut-sudut kota ini tentunya tak aku lewatkan.

Aku tidak sempat mendatangi beberapa situs menarik di Budapest tahun 2007, maka kali itu aku bertekad akan menyelesaikan eksplorasi kota yang menggembar-gemborkan julukan “City of Senses” ini.

Tapi, lagi-lagi, karena keterbatasan waktu juga, aku tetap saja tidak sempat mengunjungi Basilika Szent Istvan, tidak sempat menyeberangi Danube untuk melihat Máttyás Templom yang sepertinya sudah selesai direstorasi. Teman sekamarku sepertinya malah lebih beruntung karena dia sempat mengunjungi Gellert Hill. Ketika aku hanya bisa melihat foto-fotonya, aku hanya mengatakan ini pada diriku sendiri. “I’ll sure be back here some other day.”

Stadion Hotel, second entry

Stadion Hotel, second entry

Esok harinya, kami dijadwalkan konser di Istana Ratu Elisabeth di Gödöllö. Seperti ketika tahun 2007 aku konser bersama AgriaSwara di sini, istana ini masih memiliki kecantikan arsitektur Barok yang penuh lekuk sensual, seolah setiap malam ia didandani habis-habisan supaya tetap terlihat… fabulous. Dan ruangan itu pun masih tetap sama. Akustiknya yang indah, ornamennya yang cantik, dan orang-orangnya yang antusias.

Goedoelloe Palace

Goedoelloe Palace

BMS agak kesulitan mengatur formasi lagu Immortal Bach (Knut Nystedt), karena ruangan tidak terlalu besar. Ini adalah lagu di mana 35 penyanyi dibagi ke dalam 5 kelompok kecil yang bernyanyi mengelilingi penonton, membangun efek bunyi diskordan yang agung, masif, dan menggetarkan. Selalu menyenangkan menyanyikan lagu ini, meskipun kami harus susah payah membangun kontinuitas bunyi yang bisa mencapai 24 beat setiap suku kata. 24 ketukan! Yang hamil bisa langsung melahirkan kalau menyanyikan lagu ini. ^-^

Eine schöne Erinnerung

One sweet memory. Dan seperti itulah manisnya es krim Zanoni yang AKHIRNYA kami nikmati juga.

Kami berada di Wina, Austria, menutup perjalanan kami yang penuh petualangan musikal di Eropa. Kami berada di kota tempat konduktor kami menghabiskan waktu sekitar 6 tahun untuk belajar musik dan choir conducting. Di kota ini, beliau dengan antusiasnya menunjukkan pada kami ini dan itu. Gedung rektorat universitasnya, Istana Belvedere yang menawan, Museum Kembar di Maria-Theresien Platz, Gedung Opera, Stephansdom yang tampak bagai katedral raksasa berjelaga, dan tentu saja, Neue Hofburg yang spektakuler.

Kami konser di salah satu bagian Hofburg, yaitu Völkerkunde Museum, sayap sebelah kanan. Duduk di antara kursi penonton adalah profesor kak Avip sendiri, beserta kolega-koleganya di Wina. Gaung ruangan yang agak berlebihan tidak menyurutkan niat kami untuk mengakhiri tur konser ini dengan penampilan terbaik. Aku bersyukur karena suaraku sudah mulai kembali normal. Dan kami dihadiahi makanan yang sudah lama kami nantikan.

Makanan Indonesia!

Tante Lena, salah satu kolega konduktor kami yang tinggal di sana, menjamu kami dengan gado-gado yang, sebenarnya sudah dimodifikasi, namun tetap lezat. Jarang, saya ulangi, jarang, saya menambah porsi makanan. Tapi kali itu dengan malu-malu aku bilang, “Tante, gado-gadonya boleh nambah nggak?” ^-^

Di sini, di antara gemerlap lampu kota, aku menemukan diriku bersenda gurau dengan impian dan masa depan. Aku senang karena aku masih diberi kesempatan untuk menikmati saat-saat seperti ini. Saat dirimu merasa lengkap sebagai manusia. Aku rasa aku akan terus melakukan hal ini untuk waktu yang lama ke depan. Musik membuat segalanya menjadi mungkin!

Meskipun kamera yang aku bawa rusak sehingga aku tidak sempat bergabung dengan proyek Narsis para pelacur seni ini, aku tidak sedih sama sekali. Aku akan kembali lagi ke kota ini, suatu hari nanti. Aku akan menonton salah satu (atau siapa tahu, mungkin beberapa) konser Wiener Saengerknaben yang sejauh ini hanya aku dengarkan dari koleksi CD Boys Choir-ku. Aku akan menonton opera di salah satu gedung opera paling terkenal di dunia ini. Aku akan menghabiskan waktu lebih lama menikmati keindahan kreasi manusia yang tak lekang oleh waktu di Wina. Aku akan berkunjung ke Salzburg, ke kota kelahiran Mozart! Aku akan… wah, banyak deh!

Dan begitulah, seperti sebuah prelude singkat, aku menghabiskan 8 hari di Eropa senilai pengalaman seumur hidup. Menghargai sesama teman, menghargai keragaman, menghargai pencapaian, sekecil apa pun.

Semoga menjadi inspirasi ^-^

Wina, 24 April 2009 

Advertisements

Tanggapi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s