Audisi Toonkunstkoor Amsterdam dan Hollands Vocaal Ensemble

Setelah beberapa bulan absen nyanyi, karena urusan penelitian yang cukup menyita waktu, akhir tahun 2012 ini akhirnya gw memutuskan untuk bernyanyi lagi (dalam paduan suara, bukan di kamar mandi). Setelah penelitian kecil-kecilan padsu mana yang kira-kira mau gw ikuti (di sini gampang, mulai aja dari database semua padsu di Belanda), akhirnya gw memutuskan untuk coba audisi buat sebuah ansambel vokal, namanya Hollands Vocaal EnsembleHVE (Fokko Oldenhuis, pengaba). HVE ini biasanya bawain karya-karya untuk paduan suara kecil dari kala Renaissance sampai kekinian. HVE sering juga dipercaya untuk mempremiérkan komposisi baru.

Ini ada sampel live recording konser HVE, bawain ‘Christus Vincit‘-nya James Macmillan, salah satu komposer favorit gw ^^

Nah, email sudah gw layangin dong untuk ‘melamar’ mau audisi.

Ternyata jawabannya agak lama. Ya udah akhirnya gw juga coba audisi buat padsu lain, namanya Toonkunstkoor (Boudewijn Jansen, pengaba). Ini adalah salah satu paduan suara tertua di Negeri Kumpeni. Kalo AgriaSwara umurnya belum 30 tahun, Toonkunstkoor ini umurnya udah nyaris 200 tahun. Sepuh banget. Kalo ditotal, jumlah penyanyinya ada lebih dari 100 orang, dan nyaris semuanya aktif. Mesti banyak, karena paduan suara ini spesialis bawain karya-karya kolosal macam Gurrelieder-nya Schönberg atau Matthäus Passion-nya Bach. Bahkan, Toonkunstkoor ini dipercaya jadi penampil tetap Matthäus Passion setiap tahun di gedung konser monumental Concertgebouw.

Lamaran gw dijawab dalam minggu yg sama. Jadi, gw harus audisi buat dua-duanya. Gw pikir, aduh, apa gw batalin aja ya yg satu. Tapi dua-duanya bagus. Ah, ya udin lah, karena kebetulan juga penelitian lagi rada-rada luang, akhirnya gw putuskan untuk audisi buat kedua padsu tersebut.

So, minggu ini gw audisi dua kali. Belom pernah seumur-umur gw audisi dua kali dalam seminggu. Tapi karena kerinduan nyanyi udah di ubun-ubun, akhirnya gw jabani.

Audisi pertama dengan HVE gw bawain lieder-nya Schumann (In der Fremde).

Audisi kedua Toonkunstkoor gw bawain aria-nya Händel (Where e’er you walk).

Lolos. ^^

Senangnyaaaaaaaaaaaaaa.

So, here I am again, back into business. Setahun ke depan bakal heboh manggung lagi di 5 konser (setiap konser biasanya dipertunjukkan 2-4 kali di kota yang berbeda). Untuk pertama kalinya gw bakal garap karya Bach yang monumental itu, Matthäus Passion. Lalu juga Symphony of Psalms dan Les Noces-nya Stravinsky. Akhir tahun dengan Toonkunstkoor bawain Requiem-nya Verdi di Duisburg. Sementara dengan HVE bawain repertoar yang lebih ‘ramah’, macam Mendelssohn, Schütz dan Distler.

Nah, sementara kalian juga bakal menyongsong kepengurusan baru, gw juga dengan penuh antusiasme meneruskan perjalanan musikal gw yang sekarang udah masuk tahun ke-14.
Segitu dulu. Salam paduan suara!

Advertisements

Audisi Kamerkoor Vocoza

Dari milis AgriaSwara IPB (11 Oktober 2010)

Hallo.

Pengen sedikit bagi cerita sama kalian. Jadi begini, sambil ngurusin masa transisi gw di sini, gw iseng tuh kirim lamaran gabung paduan suara di sini. Berhubung hampir semua padsu di sini punya website sendiri, dan setiap website itu dikelola dalam sebuah direktori padsu di seluruh negeri kumpeni, nah, mulai lah gw research kecil-kecilan. Kutahu yang kumau:
paduan suara semi profesional, kalo bisa yang penyanyinya gak lebih dari 25 orang (di sini dibilangnya Kamerkoor, alias chamber choir, alias paduan suara ngamar, eh, kamar) jangan jauh-jauh dari rumah, mesti sekitaran lingkar kanal Prinsegracht yang oke punya tentunya ^^

Nah, dapet deh tuh, dua kandidat, Kamerkoor Vocoza dan Lorca Kamerkoor. Berbeda dengan proses rekrutmen di Indonesia, di sini biasanya orang kirim resume (short CV) untuk gabung padsu. Gw kirim lah lamaran gw, beserta resuma musikal gw yang merekam 11 tahun keterlibatan gw dalam dunia musik di Indonesia: 6 kelompok vokal dan paduan suara, sekitar 30 produksi musikal termasuk tur konser dan kompetisi, dan sekitar 50 komposer yang karyanya pernah gw nyanyiin. Buset dah. Gw aja sampe terheran-heran sendiri waktu gw bikin resume musikal gw. Padahal sampe gw SMA, pengalaman musik gw NOL besar. But anyway, choir yg pertama, Kamerkoor Vocoza, merespons.

Dari komunikasi by email, PR Vocoza setuju untuk gw ikut latihan bersama mereka, dan melihat apakah Vocoza sesuai dengan apa yg gw inginkan. Berdasarkan resume gw, mereka tau kalo gw bisa prima vista, jadilah… latihan pertama langsung dikasi Bach (Jesu, meine Freude), Brahms (Fünf Gesange) dan komposisi Estonia Veljo Tormis. Buset! Prima vista si prima vista, tapi komposisi seberat itu? Tapi ya sutralah… gw kunyah juga tuh Bach, Brahms dan Tormis. By the way, dari awal latihan, semua direksi dan interpretasi, semua dalam bahasa Belanda. Yuk mari. Bahasa Belanda gw masih terbata-bata, tapi gw ngerti kalo orang ngomong. Jadi, ya sudah, terima saja. Lagipula, gw sudah mengantisipasi ini dari awal. Unless ada padsu internasional di sini, gw harus siap dengan medium bahasa penjajah. Nasib 😛

Habis latihan, konduktornya (Sanne Nieuwenhuijsen, cantik, masih muda, umur 31) nanya, “Gimana, gimana? Bagus gak? Tertarik untuk audisi?”

Well, gw bisa bilang kalo dari impresi 2 jam latihan bersama Vocoza, dengan sekitar 24 penyanyinya, gw bisa bilang kalo gw suka. Semua penyanyi kentara banget sangat musikal. Hampir semua penyanyi punya pengetahuan baca not. Konduktornya cerdas, menurut gw, karena dia menginterpretasikan musik yang kita nyanyiin sebagaimana mestinya (at least dari sudut pandang gw). Soprannya bagus. Altonya juga. Bassnya sangat berkarakter, meskipun menurut gw masih perlu olah sonoritas. Tenornya OK juga, meskipun ada satu dua yang menurut gw perlu lebih mendengar suara tenor lain. Tapi overall, gw suka banget, dan gw merasa gw bisa fit in di antara mereka (satu-satunya orang Asia di antara bule-bule Belanda, seorang Jerman, seorang Islandia, dan (mungkin) seorang Surinam). Baiklah, mari kita audisi.

Minggu depannya audisi deh tuh. Rada gugup juga. Secara, terakhir latihan nyenyong waktu gw di kampus yang di London, sama Roehampton Chamber Singers, which is sekitar 3 bulan lalu. Sebelum audisi, konduktornya nanya dulu kenapa gw milih Vocoza, dulu sempet belajar vokal di mana sama siapa, di Belanda rencananya buat apa dan berapa lama. Gitu-gitu deh. Nah, format audisinya persis seperti waktu gw audisi BMS dulu:

  • Ambitus atas bawah (karena gw bilang kalo dulu jg gw nyanyi di register countertenor, dicoba juga deh tuh, gw bersolfegio dari bass 1 sampe register alto) –> Menurut konduktornya, timbre alto gw bagus ^^, dia bilang kalo bisa nyanyi di dua register kayak gini, di Belanda itu berarti tambang emas, hehehe… Dia nawarin, mo nyanyi di alto apa di tenor. Gw jawab, tenor aja deh.
  • Ritmik (yg ini lancar, car, carrrr)
  • Sight-singing, lengkap dengan dinamika dan interpretasi frasering (repetisi, echo, crescendo, subito forte, all those stuffs)
  • Nyanyi lagu solo… yg standar aja deh, Caro mio ben (Giordani)…. pake acara lupa syair lagi, wkwkwkwk dan
  • Sense of harmony. Yg ini gw gak pernah sama sekali, makanya gw kaget pas ada bagian ini. Jadi, konduktornya maenin akord di piano…. Jreng! Terus dia minta, nyanyiin nada tengahnya, atau nyanyiin nada keempat (kalo misalkan akornya semacam C7 atau Dmin6). Haduuuuh…. meneketehe? Gw kan nggak punya dasar instrumen. Tapi gw coba juga deh tuh. Konsentrasi, sempet salah-salah, tapi akhirnya ternyata gw bisa juga 😛

Well, setelah mereka meminta gw keluar, diskusi sebentar, terus gw dipanggil lagi.
Daaaan….

Konduktornya nyalamin gw, sambil bilang “Selamat bergabung dengan Vocoza.”

Cihuyyyy! Seneng banget! Akhirnya, gw kembali dalam bisnis pertunjukan 😀 setelah sekitar setahun nyaris absen sama sekali dari dunia musik.

Ya… gitu deh. Sekarang, saban kamis malam, dari jam 8 sampe 10.15 malam, gw latihan paduan suara lagi. ^^

Gitu, ceritanya. ^^ Makasyi dah baca yaaaah. Posting di sini juga dong, atau di Bukuwajah itu, gimana malam pertama bersama 415 bocah-bocah itu 😀

Audisi… oh… Audisi

Dari milis AgriaSwara IPB (10 Februari 2009)

Audition

Membaca peta kekuatan tim konser tahunan AgriaSwara dan KPS Unpar 2009 sepertinya membuat istilah AUDISI menjadi sesuatu yang menakutkan yah. Dari keseluruhan komunitas AgriaSwara disaring lagi menjadi tim konser, kemudian dari tim konser disaring lagi menjadi tim festival KPS Unpar, dan besar kemungkinan dari tim KPS ini akan disaring lagi menjadi tim festival Busan Korea.

Kenapa sih harus ada audisi?

Dan kenapa begitu mesti berlapis-lapisnya itu yang namanya audisi?

Kita ngopi bentar yuk sambil membahas sedikit mengenai esensi dari audisi.

Dalam perjalanan panjang AgriaSwara, gw yakin yang namanya audisi bukan hal baru. Apalagi buat yang udah melewati tiga periode kepelatihan (Victor-Ingrid-Arvin) macem gw ^-^. Tapi, kelihatannya, ada mekanisme avant garde di sini. Kalo dulu audisi nggak dibikin sebegitu banyaknya untuk suatu event, sekarang AgriaSwara lebih demanding dalam hal requirements untuk sebuah tim konser atau festival. Kalo mo ditilik, sebenarnya audisi memang bertujuan pada peningkatan kualitas dan kesiapan tim untuk level kompetisi luar negeri. Tapi lebih dari itu, juga untuk mengukuhkan posisi kita secara global dalam dunia paduan suara yang semakin diminati.

Mari kita menggeser pola pikir kita pada international mindedness [kayak training PYP aja nih, gw???]

Pada zaman dahulu, untuk memenangi sebuah FPS ITB aja kayaknya kita mesti bermimpi-mimpi dulu. Sekarang, lihatlah, jalan menuju puncak prestasi sudah terbuka jauh lebih lebar. Bagaimana bisa? Karena kita menggunakan sistem audisi.

Mengapa harus berlapis?

Karena proses kematangan vokal pada setiap penyanyi itu berbeda-beda. Tetapi, pada dasarnya, proses itu BUTUH WAKTU. Pada beberapa orang, mungkin butuh satu tahun, pada orang lain, butuh hingga empat tahun. Gw sendiri ngerasa, sejak bergabung dengan AgriaSwara sekitar abad ke-19 (barengan Schubert masuk Vienna Boys Choir??? hehehehhe), baru pada tahun 2002 gw ngerasain perkembangan yang pesat dalam hal musikalitas, kemampuan, dan pengetahuan bernyanyi. Itu pun, hingga hari ini, gw masih selalu memposisikan diri gw seperti anak TK yang penuh antusiasme ingin belajar hal-hal baru, repertoar baru dari berbagai genre dan zaman, dan teknik bernyanyi dari orang-orang hebat yang selalu gw kagumi pencapaian musikalnya. Dan, sebisa mungkin, gw masih mengasah kemampuan itu secara konsisten.

Ada yang salah dengan kerangka berpikir kebanyakan anak-anak paduan suara.

Mereka berpikir, ketika mereka telah pernah lulus audisi untuk sebuah kompetisi, misalnya, mereka berpikir mereka sudah mencapai kualifikasi seorang penyanyi yang baik. Mereka berpikir, kualitas yang mereka capai pada audisi itu akan lekat pada mereka selamanya. Nggak heran, setelah itu mereka menghilang dari peredaran. Nggak pernah datang latihan rutin lagi. Kalo ada audisi festival luar negeri lagi aja, baru tuh, kucluk-kucluk, mereka keluar, out of the blue, out of nowhere.

Apa yang terjadi kemudian adalah… kualitas mereka menurun.

Dan ketika ada audisi lagi, anggota-anggota baru yang memang rajin dan rutin latihan dan mengalami perkembangan pesat, kemudian muncul sebagai bakat-bakat baru yang lulus audisi, dan MENGGESER posisi senior-senior mereka yang vakum latihan itu.

Ini gw amati terjadi di AgriaSwara.

Sayang lho, padahal sebenarnya kita juga berharap bahwa yang sudah cukup bagus, akan lebih bagus lagi dengan latihan yang rutin dan konsisten. Bukan hanya rajin kalo ada festival luar negeri doang! Dalam hal inilah, audisi menjadi sebuah barometer yang efektif dalam mengukur perkembangan setiap anggota paduan suara.

Dengan tulisan ini pula, gw pengen menyemangati ade-ade anggota AgriaSwara yang baru setahun, dua tahun, atau bahkan empat tahun bergabung tapi belum pernah bisa dapat kesempatan bergabung dengan tim kompetisi atau konser, kita refleksi yuk. Di mana kekurangan kita, mari kita perbaiki. Jangan dibikin kalah sebelum bertanding dulu sama kakak-kakaknya. MEREKA BELUM TENTU LEBIH BAGUS KOK DARI KALIAN. Pelatih yang jeli akan dengan mudah membedakan suara yang terlatih dengan yang tidak. Kalo seorang anggota berpikir bahwa suara dia sudah bagus tapi kemudian tidak melatihnya secara konsisten, maka pelatih yang jeli akan bisa mendengar itu.

Trust me, even the sharpest knife will turn dull when it’s not used.

Dan, Ef Wai Ai, bahkan dalam sebuah paduan suara yang sudah lebih established seperti Batavia Madrigal Singers pun, sistem audisi ini masih berlaku. Serunya lagi, audisi baru dilakukan di tengah proses menuju konser atau festival. Jadi, kita sudah melatih seluruh repertoar dulu, baru kemudian audisi dilakukan. Dan, kehadiran pada latihan pun menjadi bahan pertimbangan hasil audisi. Selalu ada kemungkinan tidak lolos audisi.

Jadi, apa pun hasil audisi kemarin, ayo kita masing-masing refleksi. Konsep kualitas dalam musik sederhana kok: Practice makes Perfect. Diasah terus, kalo nggak mau pisau kalian menjadi tumpul.

Semoga memberi pencerahan ^-^

Audisi Batavia Madrigal Singers 2007

Dari milis AgriaSwara IPB (24 Juli 2007)

Ini sebenernya udah jadi impian gw sejak dulu kala, sejak zamannya Maureen (Sopran 34) dorong-dorong gw untuk coba audisi BMS. Waktu itu (gw rasa akhir abad 19 geto deh, hehehhe), gw gak berani. Ye… boro-boro mo Batavia Madrigal Singers, pan kala itu jam terbang nyanyi aja masi pas-pasan yak, Bang Jali.

Nah, trus sekitar taon 2004 geto, Kang Arvin juga encourage gw untuk masuk BMS, tapi lagi-lagi gw lom punya nyali. Lagian waktu itu pan gw masih kulz kulz di Bogor. Dan gw tau persis kalo jadwal latian BMS yang di Jakarta itu bisa sampe jam 10.30 malem. Lha gimana gw pulang ke Bogor yak? Secara gw kan gak punya helikopter pribadi bwt antar jemput gw kemana-mana. Deu! Heli… helicak kali.

Akhirnya gw coba Twilite Chorus dulu waktu itu, barengan sama Ewinx, La Nina Bella, Niken (where on earth are you now, Nike?), dan Pe (hehehe). Lumayan lah, ngejajal kemampuan. Eh, masuk juga. Mujur banget gw!

Trus, dah itu, mulai deh, ekspansi kemana-mana, menancapkan panji-panji imperialisme di teritori terlarang komunitas musik Jakarta (buset dah! gw lagi ngebahas apaan si?). Gw masuk ke Magenta Choir (yang entah ada di mana sekarang. Mas Andi! Hello!), Impromptu Singers format besar, NYCI-nya Ivan Yohan (bareng Chibi Maruko Chan dan Asep ^-^), ReChoir-nya Widya Kristanti, dan terakhir Cavallero Male Singers-nya Rainier Revireino. Di Cavallero, Yosi (Tenor-2 BMS) juga nyemangatin gw buat ikut audisi BMS.

Putra udah selangkah lebih maju tentunya dari gw, karena dia dah audisi tunggal duluan sama K’ Yosi (Sanctus Choir) buat konser opera Samson n Delila kemaren. Nah, kan gw kayaknya tipe-tipe pemalu gitu deh… … … (heuh? gak sallah lo? hehehhe)… … … jadi, gw bilang, ah, ntar aja ah, siapa tau ada audisi besar BMS. Jadi kan, kalo audisinya keroyokan, at least, gw gak culun-culun amat diaudisi
sama K Avip.

Eeeeeeeeeeeeeeeh…. tiba juga waktunya. Ya udah lah, gw gak sempet juga ngajak-ngajak kalian, secara kan udah pada jarang ketemuan juga sekarang. Trus, gw liat di milis Ewinx dah forward pengumuman audisi besar BMS ini. Trus, waktu gw di Surabaya, kayaknya waktu itu gw coba posting buat nyemangatin siapa pun dari kalian buat ikut audisi ini. (Waktu itu gw lom kepikiran mo ikut). Tapi ternyata kirim email lewat hape susahnya setengah mati.

Ya udin, gw coba deh, peruntungan gw di Las Vegas, eh, di BMS. Gw tadinya mo ngambil jadwal yg tgl 29 nanti, tapi ternyata gw mesti nyanyi sama Cavallero di Immanuel Jakarta. Trus gw majuin deh jadwalnya.

Dan gw bingung gitu, suruh nyiapin satu lagu klasik. Inget banget, dulu waktu audisi TC, gw nyiapin satu lagu Charles Gounod (Noel), tapi karena pianisnya ngerasa kalo iringan lagu ini susah, ujung-ujungnya gw nyanyi Bagimu Negri juga. Hehehhe…. Mungkin gara-gara itu juga gw lolos TC. Dan kemana kah engkau akan dibawa sekarang, TC? (gw dah gak aktif lagi nih di situ. gimana yaaa… gw kayaknya udah dilupain gitu, hiks hiks). Ya udah lah, gapapa kok. Makanya gw semangat banget buat audisi BMS.

Tau gak? Pas audisi yah… kan seperti biasa gw dites ambitus dulu. Gw gak tau sampe nada apa, yang jelas kayaknya sampe di register falsetto gw deh. Mungkin sampe B2 atau C3. Yang ngaudisi K Avip doang. Trus dah gitu dia nanya dong,”Mo nyanyi lagu apa?” tanya K Avip. —> hehehhehe

“Nina. Giovanni Pergolesi,” jawabku.

Trus gw kasi fotokopian partitur tu lagu yang gw download gretongan dari repertoireonline.com (good source of free solo vocal scores). Karena gw pikir emang biasanya kita mesti sedia copy partitur.

Eh! Dia udah punya sendiri dong, di salah satu buku partiturnya yang tebel itu. Waduh! Berarti dia dah tau banget ni lagu. Pas dia ngasi gw tune chord di G minor, gw tambah yakin kalo dia dah tau ni lagu. Emang Pergolesi ini komposer Italia abad Renaissance gitu sih. Jadinya bukan karya modern. Trus, lagunya banyak acciacaturanya gitu, jadi selama nyanyi, gw mesti ngebayangin Mariah Carey. Huahahahha… Tau gak kenapa? Kan Mariah Carey kalo nyanyi kayak uler. Nadanya keriting gitu.

“Tre giorni son che Nina, che Nina, che Nina…”

Duh. Gw dah gak inget lagi kalo di depan gw itu Avip Priatna. Abis, lagunya bagus. Akku zuqqa zeggalli.

Trus dah itu primavista. Rhythm sama melodi. Lancar car carrrr. Bilang apa? AlhamduliLlaah.

Udah deh. “Pulang sana! Dasar anak tak tau diri!” bentak ibu tiri. — > heheheh

Trus gw pulang. Besok sorenya (so fast!) gw ditelpon sama Resonanz Music Studio tempat latian BMS. “Selamat! Anda memenangkan tiket liburan ke Hawaii selama 5 hari 4 malam, sebuah iPod Nano, satu pak lolipop rasa jahe, dan lolos audisi Batavia Madrigal Singers.”

…. waduh, gw lupa, kayaknya sih redaksi tepatnya nggak kayak gitu deh, heheheh. Bodo ah. Pokoknya gw lolos! Horreeeeey!

Eh, by the way anyway busway, itu kan masih ada lagi sehari jadwal audisi, Minggu besok tanggal 29. Ayo! Semua-muanya ikut audisi juga. Sama kok proses audisinya sama audisi yang selama ini kalian ikuti. Ayo! Ayo! Ararek kabeh! Melu, meluuuu!

Pengumuman Audisi Twilite Chorus 2004

Dari milis AgriaSwara IPB (30 Januari 2004)

hhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh

Banyak nggak tuh, embusan nafas leganya?

Ternyata insomnia gw kemaren ada maksudnya.

Aku iseng2an buka website TO. Aku udah bersiap untuk segala kemungkinan, sambil tetap berharap dan berdoa.

Degh, degh, degh…. DHUERRRRR!!!

Ternyata nggak ada pengumumannya. Kenapa coba? Karena aku tuh yg ngeklik website dlm bhs Inggrisnya. (macem2 sih, lo, Ndrot)

Trus, khan penasaran tuh. Abis di situnya, tertulis, hasilnya bisa dilihat di Performa atau di website ini pd tgl 30 Januari. Ah, coba klik
yg bhs Indonesia ah.

Klik!

Ngek.

Ternyata ada!

Hahahhahah… nggak berani liat.

(stupid banget gak sih, giliran udah ada malah nggak tega ngeliatnya…)

Aku merem, trus, peek-a-boo… buka mata deh.

Eh, ada nama Nieken di Sopran.

“Waaaah, selamat, yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.”

Aku tuh tambah deg-degan aja kan. Trus, cepet2 didrag ke bawah… ada Wildan. Anak Gundar yg sempet kenalan pas audisi. Dia di Bass 1. Trus drag lagi ke atas, di alto ada Ninaaaaaaaaa.

Twing, twing.

Pas tenor, sumpeh deh, awalnya gw gak bisa baca tulisan nama gw, karena gw tuh kayaknya lebih cenderung pengen tau, yg laen masuk apa gak. Eh, ada Ewinx. Trus… di nomor 4 ada gw….

Trus gw diem aja.

Gak tau musti gimana.

Tiba2 gw jadi pengen mandi. heheheheh…. Gubrakkkkk!! gak nyambung yach?

“Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa seneng.”

Tapi itu reaksi spontan gw yg emang rada2 norak. ^-^, udah gitu gw cool down deh. Cool, seperti kulkas. Terus gw sadar, gak ada nama Muhammad Huda di Tenor. yaaa… “Fe, nanti dicoba lagi ya kalo ada audisi lagi. Jangan menyerah. Ayo, kamu bisa.”

Jadi inget kata Mas Budi lagi. “Rajin berlatih dan minum Milo setiap hari.” qeqeqeqeqs

Aku tuh dari awal emang udah wanti-wanti, kalo pun misalkan nggak masuk (aku udah siap lho untuk kemungkinan ini), berarti aku emang masih musti lebih banyak belajar dan berlatih lagi (kayak omongan Kak Seto, ^-^). Masih harus lebih sakti lagi di sight-singing, masih musti lebih bisa ngolah power, sonoritas, choral-sounding. Masih kudu ini dan itu deh. Tapi kalo inget sekarang Agria dilatih sama Arvin, aku jadi PD lho. Pikirku, kalo nanti ada audisi lagi, aku pasti bisa lebih baik dari kemaren. Iya gak, Kang Arvin? …. “What? Barusan lo ngomong apa, Ndra?”

hehehhehe…

Pokoknya, buat semuanya, setuju deh sama yg dibilang Nina. AgriaSwara teh emang cukup layak kok buat diperhitungkan. Iya sih (Panasonic), kita emang masih belum tiba di puncak prestasi, tapi siapa sih yg mau berhenti ngejar prestasi? Anak Unpar aja gak mau prestasi mereka yg kemaren2 di Jerman, Italia atau Austria kemaren dianggap prestasi puncak. Ampe sekarang pun mereka masih tetep pengen ngeraih yg lebih tinggi lagi. Bahkan nggak harus lebih tinggi. Dengan mempertahankan prestasi itu supaya gak jatuh pun, itu udah merupakan sebuah proses pencapaian. Betul, Malih? — betul, Bang Jali….

Yg jelas, jangan pernah berhenti belajar, berlatih, dan minum Milo setiap hari (o’ow… jargon itu lagi).

Buat semuanya. Makasih buat bantuan doanya. Buat Fe, pokoknya, maju terus, coy. Jangan pernah ade matinye dah. (Eh, Fe, jadi ngambil kelas vokal yg seharga spp lo itu gak?). Buat Ewinx, Ninya, Nike, slamet yeee… Mas Slamet selamat tiba di tujuan. Seneng banget, kita latian bareng yach. Buat Mas Budi, makasih buat semuanya, pokoknya banyaaaaaaaak deh (udah kayak foster brother aja deh… heheheh… atau foster father? ^-^)

The Sparx… sampai jumpa lagi di acara… tralaLITE… triliLIIT….

An Evening with Twilite Chorus

An Evening with Twilite Chorus

-HENDRA-