Verdi dan “Setannya Misa”

Giuseppe Verdi dikenal sebagai komponis Italia kala Romantik yang banyak sekali menggubah musik opera. Sebut saja judul-judul opera heroik macam Rigoletto dan Aida. Atau yang sangat sensual dan profan macam La Traviata. Kalau judul-judul tersebut terdengar terlalu kolosal, mungkin lagu riang gembira seperti Libiamo ne’ lieti calici atau La donna è mobile setidaknya pernah kita dengar dinyanyikan oleh Aning Katamsi dan Christopher Abimanyu dengan iringan Twilite Orchestra (Addie MS). Verdi dianggap sebagai salah satu komponis opera paling berpengaruh pada abad ke-19. Tidak hanya itu, Verdi juga berperan aktif secara politik dalam penyatuan kembali semenanjung Italia (Risorgimento).

Sebagai seorang agnostik cenderung ateis, Verdi menggubah nyaris hanya musik sekuler saja. Terdapat sangat sedikit referensi religiusitas dalam karya-karyanya. Salah satu dari sedikit gubahan sakral Verdi adalah Messa da Requiem, yang ia tulis untuk mengenang kepergian Alessandro Manzoni, seorang penyair dan politikus Italia yang sangat ia kagumi. Demikianlah, sebuah musik kolosal misa pemakaman sepanjang 1.5 jam lahir dari tangan seorang komponis besar dari kampung Le Roncole ini. Sebuah musik kolosal yang oleh sang komponis sendiri disebut sebagai “that devil of a Mass”.

Premier “Messa da Requiem” di Teater La Scala, 1874, dengan Verdi sendiri sebagai pengaba

Requiem Verdi ditampilkan untuk pertama kalinya di sebuah gereja di Milan pada 22 Mei 1874. Tiga hari kemudian, konser yang sama diulang di Teater La Scala, diaba langsung oleh sang komponis. Setelah itu, komposisi untuk 4 solois, paduan suara dan orkestra ini lebih banyak ditampilkan di teater dan gedung konser ketimbang gereja, sehingga masyarakat musik cenderung menganggap premier Requiem Verdi adalah penampilan di Teater La Scala, yang diabadikan oleh Osvaldo Tofani dalam ilustrasi di atas.

Para terpelajar musik beranggapan bahwa Verdi berniat untuk memperkenalkan musik opera ke dalam musik gereja melalui Messa da Requiem. Lebih dari itu, ia juga membuat semacam pernyataan musikal terhadap rasa kebangsaannya sebagai seorang Italia. Namun, ada semacam pertentangan yang bisa kita telusuri dalam gubahan ini: antara sakrilegi dan profanitas, antara harapan kedamaian abadi khas musik pemakaman dan teror mengerikan Hari Penghakiman dalam Dies Irae. Verdi tampaknya tidak berniat menciptakan suasana wingit penuh janji manis akan kehidupan setelah mati. Alih-alih, ia melukiskan kematian itu sendiri sebagai sesuatu yang sama sekali tidak menenangkan.

(cuplikan dari BBC Proms 2011: Semyon Bychkov mengaba BBC Symphony Chorus, BBC National Chorus of Wales, London Philharmonic Choir, dan BBC Symphony Orchestra)

Verdi tanpa sungkan menggunakan ritmus yang sangat kuat menghentak. Pada bagian lain, kita juga disuguhi garis melodi yang begitu indah. Pertentangan antara dua kekuatan emosi ini menjadi salah satu ciri khas opera Verdi yang juga kita temukan pada Requiem-nya.  Coba simak Lacrimosa dinyanyikan oleh mezzosoprano Fiorenza Cossotto, bass Nikolai Ghiaurov, tenor Luciano Pavarotti, soprano Leontyn Price, dan Chorus of La Scala Milan, di bawah baton konduktor fenomenal Herbert von Karajan pada tahun 1967 berikut.

Pada bagian Sanctus, Verdi mengedepankan hanya paduan suara, dalam larasan kompleks fuga untuk 8 suara. Dirangkai kemudian dengan Agnus Dei yang surgawi. Kedua bagian ini akan sangat kontras jika dibandingkan dengan Libera Me yang menjadi pamungkas keseluruhan gubahan akbar ini. Mereka yang berharap Libera Me menjadi sebuah penutup Requiem yang memerdekakan mungkin akan harus kecewa dengan ambiguitas Verdi. Harapan akan kebebasan dari maut yang menyakitkan mungkin akan menjadi sebuah ilusi kabur ditelan kabut, ketika kita dihadapkan pada komposisi ini. Soprano jelita Angela Gheorghiu membawakan keserbatakpastian ini dengan sangat baik:

Nah, demikianlah. Sebuah gubahan musik yang sama sekali tidak sederhana, tidak biasa, tetapi indah luar biasa. Untuk mereka yang mendalami ilmu vokal atau mengkhususkan diri dalam musik opera, rasanya Messa da Requiem Verdi sangat relevan untuk dimasukkan ke dalam repertoar. Gw seneng banget berkesempatan mengapresiasi gubahan ini bersama Toonkunstkoor Amsterdam dan Philharmonischer Chor Duisburg September mendatang di Jerman, diaba oleh Giordano Bellincampi. Bernyanyi bersama kami empat solis Maria Jose Siri, Susanne Resmark, Antonello Palombi, dan Stephen Milling.

Di YouTube kita bisa menemukan cukup banyak video konser utuh Requiem Verdi. Gw pilihin deh satu ^^ dari sang Herbert von Karajan dan Pavarotti waktu masih muda. Enjoy!

Advertisements

Gubahan Bach yang Paling Dicintai

Suatu waktu di tahun 2012 silam gw diajak nonton konser di Grote Kerk, Naarden, sekitar 20 menit berkendara dari Amsterdam. Naarden adalah sebuah kotamadya “benteng bintang”. Disebut begitu karena kotamadya ini secara harfiah dikelilingi benteng yang kalau dilihat dari udara berbentuk seperti bintang.

Citra udara Naarden, dengan menara Grote Kerk menjulang di pusatnya, dan Danau Ijssel pada latar belakang.

Setiap tahun di bulan Maret, ketika musim semi mengetuk perlahan, gereja agung di Naarden menjadi tuan rumah sebuah pergelaran mahakarya musik yang paling dicintai di Negeri Kumpeni. Setiap tahun di bulan Maret, para tokoh politik kenamaan, termasuk sang Perdana Menteri, pesohor dan penyair, penguasa dan pengusaha, atau orang biasa, berkumpul di Naarden untuk mengapresiasi gubahan sakral yang paling sering dikonserkan di sini: Matthäus Passion karya Johann Sebastian Bach.

Begitu populernya Matthäus Passion di Belanda, tahun ini ada lebih dari 100 konser digelar di seluruh pelosok negeri, oleh orkestra dan paduan suara amatir maupun profesional. Kadang mereka membuat versi singkat dari keseluruhan musik yang bisa berdurasi lebih dari 3 jam ini. Atau ada juga kursus singkat menyanyikan bagian chorale atau memainkan bagian solo cello pada aria tenor “Geduld, geduld” (Sabarlah, sabarlah). Atau yang minggu kemarin juga sempat gw alami, Meezing Matthäus (Nyanyi-Bareng Matthäus), di mana publik juga boleh ikut bernyanyi pada bagian-bagian tertentu. Apa pun bentuk produksi musikalnya, Matthäus Passion telah menjadi tradisi perayaan Paskah sejak sekitar tahun 1870-an. Konser di Grote Kerk Naarden ini misalnya, telah ditampilkan oleh Nederlandse Bachvereniging (Masyarakat Bach Belanda) setiap tahun sejak 90 tahun yang lalu.

Menurut Jacqueline Oskamp, dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh De Groene Amsterdammer 31 Maret 1999, salah satu alasan mengapa Matthäus Passion begitu terkenal di sini adalah Willem Mengelberg (1871-1951). Selama 45 tahun berturut-turut dalam kariernya sebagai pengaba, Mengelberg menggelar Matthäus Passion, setiap tahun tak pernah terlewatkan. Hanya ketika di tahun 1944 setelah Perang Dunia II, ketika ia dilarang menjadi dirigen, barulah Mengelberg terpaksa harus berhenti. Namun, tradisi tahunan Matthäus Passion diteruskan oleh pengaba-pengaba lainnya, hingga hari ini. Dari sudut-sudut katedral dan gedung konser, di kota maupun di desa, kita  bisa mendengarkan alunan indah suara mezzosopran atau kontratenor menyanyikan “Erbarme dich” (Kasihanilah), atau hentakan mengerikan dalam “Sind Blitze, sind Donner in Wolken verschwunden” (Petir dan halilintar lenyap ditelan awan).

Begitulah, setahun yang lalu untuk pertama kalinya gw menyaksikan sendiri bagaimana masyarakat di sini, Katolik maupun Protestan, teis maupun ateis, dengan penuh apresiasi mengikuti prosesi konser yang penuh kompleksitas ini. Banyak di antara audiens membawa partitur mereka sendiri, yang seringnya sudah lecek saking seringnya dipakai. Sepanjang konser mereka mengikuti teks dan musik dalam partitur yang mereka bawa, atau buku program konser yang selalu menyertakan terjemahan teks Jerman dalam bahasa Belanda. Banyak di antara mereka yang tak kuasa menitikkan air mata, terutama pada bagian ketika Kristus disalibkan dan wafat, atau mungkin hanya karena terenyuh dengan keindahan musik dan suasana wingit yang tercipta sepanjang konser.

Begitu dramatis pengalaman tersebut berbekas dalam psike gw, hingga gw memutuskan untuk mencari paduan suara yang memang secara teratur menggelar gubahan Bach paling dicintai ini. Tahun ini, dengan penuh semangat dan kecintaan pada musik, akhirnya gw ambil bagian dalam produksi Matthäus Passion dengan Combattimento Consort (Jan Willem de Vriend), Toonkunstkoor Amsterdam (Boudewijn Jansen), Roder Boys Choir (Rintje Albert te Wies), dan solis-solis fantastis macam Andreas Weller sebagai Evangelis, Michael Kraus sebagai Yesus, soprano Claron McFadden dan Lenneke Ruiten, mezzosoprano Cécile van de Sant dan Barbara Kozelj, tenor Thomas Michael Allen, dan bariton Maarten Koningsberger. Lima konser di lima tempat: satu konser nyanyi-bareng di Concertgebouw Amsterdam, dua konser di Muziekgebouw aan ‘t Ij Amsterdam dan Philharmonie Haarlem, satu konser yang melibatkan ratusan anak-anak sekolah dasar, dan satu konser tahunan monumental tepat pada hari Jumat Agung di Concertgebouw … nanti malam.

Tahun ini gw satu repertoar Bach lebih kaya ^^. Untuk yang belum pernah mengalami sendiri keajaiban musik Bach paling dicintai yang gw bahas di sini, silakan nikmati interpretasi Philipp Herreweghe yang dinilai banyak kritisi musik sebagai salah satu yang terbaik.

Semoga menginspirasi.

Konser HVE “Ein rein Herz”

HVE Spring Concert 2013

HVE Spring Concert 2013

Sekitar dua bulan setelah lulus audisi menjadi penyanyi sebuah ansambel vokal yang berbasis di Amsterdam, Hollands Vocaal Ensemble (HVE), gw ngamen lagi setelah sekitar setahun absen dari bidikan lampu sorot. Tepat setahun silam gw ngamen keliling Negeri Kumpeni bersama Nederlands Studenten Kamerkoor (NSK), membawakan komposisi dan gubahan a cappella dari abad kekinian. Dua minggu, empat premiér, sepuluh konser, berakhir di Concertgebouw Amsterdam. Tepat setahun kemudian, gw dengan sumringah menampakkan diri lagi. Kali ini di Haarlem dan Amsterdam.

HVE membawakan komposisi a cappella dari komponis Jerman: Hugo Distler, Heinrich Schütz, Felix Mendelssohn, Anton Bruckner, dan Johannes Brahms. Nama-nama yang rasanya sama sekali tidak asing di telinga publik paduan suara di Indonesia. Kecuali mungkin Distler, yang relatif jarang terdengar dinyanyikan di tanah air. Distler adalah seorang komponis, organis, guru, dan pengaba paduan suara yang mati muda: bunuh diri pada usia 34 tahun, di tengah kengerian perang dunia dan kebingungan antara melayani Tuhan atau Nazi. Musik Distler yang sering berbentuk polifoni dan berdasarkan tangga nada pentatonis dianggap sebagai ‘seni yang bobrok’ oleh publik Jerman kala itu. Tetapi justru karena kekhasannya itulah komposisinya menjadi unik. HVE dengan bangga mempersembahkan dua komposisi Distler yang cukup menantang: “Singet dem Herrn ein neues Lied” dan “Fürwahr, er trug unsere Krankheit”.

Janskerk, Haarlem (photo: Rijksmonumenten)

Hari pertama HVE konser di Janskerk, Haarlem, yang dulunya adalah sebuah gereja yang dibangun sekitar awal tahun 1300an. Saat ini fungsinya diubah menjadi Gedung Arsip Provinsi Noord Holland. Begitu kayanya sejarah gedung ini, pemerintah provinsi tidak dengan semena-mena menyulap gereja menjadi gedung arsip begitu saja. Pada beberapa sudut dalam gedung, wajah asal gereja masih bisa kita telusuri, seperti dinding yang sebagian sengaja dibiarkan tanpa semen, seolah mengizinkan wajah tua nan keriput berusia 700 tahun itu ikut mengambil perhatian audiens konser.

Di hari kedua, HVE tampil di Waalse Kerk, Amsterdam, sebuah gereja di pusat kota yang dibangun pada awal abad ke-15. Menurut pengaba kami, gereja kecil ini memiliki salah satu akustik terbaik untuk konser paduan suara dan musik kamar. Itulah sebabnya, live recording dibuat untuk konser hari kedua.

Waalse Kerk, Amsterdam (photo: Reformatorisch Dagblad)

HVE membuka konser dengan motet untuk 8-suara “Mitten wir im Leben sind“, lagu ketiga dari Op.23-nya Felix Mendelssohn. Komposisi ini pertama banget gw denger dulu di Indonesia, dinyanyikan dengan baik oleh PSM Unpad pada salah satu kompetisi paduan suara di Bandung tahun 2002. Tahun 2005, gw berkesempatan menyanyikan komposisi ini dengan National Youth Choir Indonesia. Tapi sayang, Ivan Yohan sang pengaba belakangan memutuskan untuk tidak memasukkan lagu ini ke dalam repertoar konser.

Siapa nyana, tahun 2012 akhirnya gw sempat juga mengapresiasi motet yang penuh kekuatan emosi dan ketelitian musikal ini. Menurut Julian Haylock, motet ini memiliki karakter Bach yang sangat kuat. Tiga ayat yang menjadi tubuh utama lagu selalu diakhiri dengan “Kyrie eleison” dan ditandai dengan tekstur yang bertentangan, antara chorale yang khidmat dan vivace kontrapuntal.

Sebagai rujukan, berikut pranala YouTube St John’s College Choir, Cambridge, membawakan lagu ini.

Dalam komposisi 8 suara divisi, gw biasanya menyanyikan Tenor 1. Tapi, seperti biasanya, gw selalu kedapatan tugas tambahan. Salah satu Tenor 2 tiba-tiba mengundurkan diri dari konser beberapa hari sebelum hari-H. Alhasil, Fokko Oldenhuis sang pengaba meminta gw untuk belajar cepat semua bagian Tenor 2. Yah… gw lagi, gw lagi. Tapi demi keseimbangan suara, gw jabani juga. “Kyyyyrieeee eleisoooon…”

Kemudian HVE merangkai kata terakhir ‘eleison’ pada lagu pembuka dengan salah satu motet Johannes Brahms yang paling indah: “Schaffe in mir Gott, ein rein Herz“, yang juga menjadi judul konser kali ini. Hati yang Bersih. Brahms menulis motet ini berdasarkan teks Mazmur 51. Banyak kritisi musik menilai motet-motet Brahms layak disandingkan dengan motetnya Bach. Nomor kedua dari Op. 29-nya Brahms ini misalnya, mengingatkan kita pada motet “Singet dem Herren ein neues Lied” (Johann Sebastian Bach).

Sebagai rujukan, coba buka Spotify kalian dan dengarkan Norddeutscher Figuralchor membawakan motet Brahms dan Kammerchor Stuttgart membawakan motet Bach yang gw sebutkan di atas.

Selepas Brahms, HVE menyajikan musik Distler yang unik itu, dimulai dengan “Fürwahr, er trug unsere Krankheit” (Dan sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggung-Nya). Motet yang teksnya diambil dari Yesaya 53:4-5 ini adalah komposisi terakhir yang ditulis Distler sebelum dia bunuh diri setahun kemudian. Sepanjang lagu ada banyak sekali bunyi disonan dan harmoni kromatik yang cenderung terdengar putus harapan. Musik Distler yang terdengar sedih dan muram ini memang tidak terlepas dari konteks ruang dan waktu di mana dan ketika komposisi ini ditulis, yaitu ketika Nazi di Jerman semakin mengukuhkan cakar-cakar fasismenya di Jerman dan Eropa. Untuk gambaran, silakan dengar Monteverdi Chor München membawakan motet ini di Spotify.

Alur waktu kemudian sejenak mundur beberapa abad. Giliran komposisi sakralnya Heinrich Schütz, yang dipandang sebagai komponis Jerman paling penting sebelum Bach. Sebagai murid Gabrieli dan pengagum Monteverdi, dia memperkenalkan gagasan musikal baru dari Italia ke dunia musik di Jerman.

HVE bernyanyi dalam seting yang berbeda untuk motet-motet dari zaman Barok ini. Sekitar 30 orang penyanyi dalam ansambel vokal ini dibagi dua. Setengahnya menyanyikan motet “Die Himmel erzählen die Ehre Gottes”, kemudian Claudia Rolando, salah satu soprano kami yang berasal dari Argentina dan sekarang tengah menempuh PhD di Belanda dalam bidang pembelajaran nyanyi klasik membawakan dua motet untuk solo “O misericordissime Jesu” dan “O Jesu nomen dulce” diiringi konduktor Fokko memainkan klavisimbel. Pada saat gw menulis lema blog ini, Claudia sedang berada di Paris dalam tur konsernya keliling Eropa membawakan musik klasik Argentina. Setelah dua lagu solo tersebut, separuh penyanyi yang lain, termasuk gw, membawakan “Unser Wandel ist im Himmel”. Seperti biasa, gw selalu menikmati bernyanyi dalam seting kecil seperti ini. Kami bernyanyi seperti penyanyi madrigal, setengah melingkar dan campur aduk: penyanyi kiri-kanan harus dari suara lain. Gw seneng banget bisa nyanyiin Schütz lagi, setelah terakhir tahun 2009 bawain satu atau dua karyanya yang lain dengan Batavia Madrigal Singers.

Di YouTube bisa kalian dengarkan Collegium Vocale Gent (Philippe Herreweghe) yang spektakuler itu membawakan motet Schütz yang pertama:

dan kedua:

Selepas motet dari zaman Barok, HVE mempersembahkan komposisi lain dari Distler, “Singet dem Herrn ein neues Lied”. Motet yang terdiri atas tiga bagian ini diawali dengan bagian unisono yang dinyanyikan oleh para pria, yang terdengar cenderung resitatif. Badan lagu mengandung banyak sekali pergantian ritmus dan modalitas, sangat energik dan penuh fantasi. Coba lihat pranala YouTube berikut dari Calmus Ensemble Leipzig.

Kemudian konser diakhiri dengan salah satu motet Mendelssohn yang sangat terkenal itu: “Mein Gott, warum hasst du mich verlassen”. Motet ini merupakan nomor terakhir dari Op. 78 Tiga Mazmur untuk Paduan Suara Ganda, dan karya terpanjang di antara ketiga motet dalam opus ini. Mendelssohn menyelesaikan komposisi ini pada tahun 1844, dan dikomisi oleh Berliner Domchor. Di Inggris, motet ini sangat sering dibawakan sebagai repertoar konser. Bagian awal yang mengedepankan efek dramatis pergantian melodi solo tenor dengan harmoni paduan suara menjadi kekuatan motet ini. Kemudian ketika teks memasuki “Ich bin ausgeschüttet wie wasser”, kentara bahwa bentuk dan tekstur lagu berubah dan baru, dengan bersandingnya solokuartet dengan paduan suara. Rendisi HVE untuk motet ini menurut sang pengaba sih sangat meyakinkan. Nah, gw jadi penasaran nunggu hasil rekaman penampilan kami dalam konser ini.

Sebagai tanda cinta gw buat kalian, 😛 silakan nikmati Estonian Philharmonic Chamber Choir (Daniel Reuss) membawakan Op. 78 Nr. 3 mahakarya Mendelssohn ini.

Audisi Toonkunstkoor Amsterdam dan Hollands Vocaal Ensemble

Setelah beberapa bulan absen nyanyi, karena urusan penelitian yang cukup menyita waktu, akhir tahun 2012 ini akhirnya gw memutuskan untuk bernyanyi lagi (dalam paduan suara, bukan di kamar mandi). Setelah penelitian kecil-kecilan padsu mana yang kira-kira mau gw ikuti (di sini gampang, mulai aja dari database semua padsu di Belanda), akhirnya gw memutuskan untuk coba audisi buat sebuah ansambel vokal, namanya Hollands Vocaal EnsembleHVE (Fokko Oldenhuis, pengaba). HVE ini biasanya bawain karya-karya untuk paduan suara kecil dari kala Renaissance sampai kekinian. HVE sering juga dipercaya untuk mempremiérkan komposisi baru.

Ini ada sampel live recording konser HVE, bawain ‘Christus Vincit‘-nya James Macmillan, salah satu komposer favorit gw ^^

Nah, email sudah gw layangin dong untuk ‘melamar’ mau audisi.

Ternyata jawabannya agak lama. Ya udah akhirnya gw juga coba audisi buat padsu lain, namanya Toonkunstkoor (Boudewijn Jansen, pengaba). Ini adalah salah satu paduan suara tertua di Negeri Kumpeni. Kalo AgriaSwara umurnya belum 30 tahun, Toonkunstkoor ini umurnya udah nyaris 200 tahun. Sepuh banget. Kalo ditotal, jumlah penyanyinya ada lebih dari 100 orang, dan nyaris semuanya aktif. Mesti banyak, karena paduan suara ini spesialis bawain karya-karya kolosal macam Gurrelieder-nya Schönberg atau Matthäus Passion-nya Bach. Bahkan, Toonkunstkoor ini dipercaya jadi penampil tetap Matthäus Passion setiap tahun di gedung konser monumental Concertgebouw.

Lamaran gw dijawab dalam minggu yg sama. Jadi, gw harus audisi buat dua-duanya. Gw pikir, aduh, apa gw batalin aja ya yg satu. Tapi dua-duanya bagus. Ah, ya udin lah, karena kebetulan juga penelitian lagi rada-rada luang, akhirnya gw putuskan untuk audisi buat kedua padsu tersebut.

So, minggu ini gw audisi dua kali. Belom pernah seumur-umur gw audisi dua kali dalam seminggu. Tapi karena kerinduan nyanyi udah di ubun-ubun, akhirnya gw jabani.

Audisi pertama dengan HVE gw bawain lieder-nya Schumann (In der Fremde).

Audisi kedua Toonkunstkoor gw bawain aria-nya Händel (Where e’er you walk).

Lolos. ^^

Senangnyaaaaaaaaaaaaaa.

So, here I am again, back into business. Setahun ke depan bakal heboh manggung lagi di 5 konser (setiap konser biasanya dipertunjukkan 2-4 kali di kota yang berbeda). Untuk pertama kalinya gw bakal garap karya Bach yang monumental itu, Matthäus Passion. Lalu juga Symphony of Psalms dan Les Noces-nya Stravinsky. Akhir tahun dengan Toonkunstkoor bawain Requiem-nya Verdi di Duisburg. Sementara dengan HVE bawain repertoar yang lebih ‘ramah’, macam Mendelssohn, Schütz dan Distler.

Nah, sementara kalian juga bakal menyongsong kepengurusan baru, gw juga dengan penuh antusiasme meneruskan perjalanan musikal gw yang sekarang udah masuk tahun ke-14.
Segitu dulu. Salam paduan suara!

PSM Negeri Kumpeni

Dari milis AgriaSwara IPB (9 Januari 2012)

NSK Staircse

Nederlands Studenten Kamerkoor (Maria van Nieukerken)

Apa kabar semuanya? Ade-ade, kakak-kakak, mahasiswa dan alumni? Semoga sehat-sehat ya. Januari biasanya musim hujan, denger kabar Jakarta kemaren sempet banjir juga. Di sini juga lagi musim orang sakit flu. Salju enggan turun tahun ini, yang ada malah katanya tahun ini musim semi udah datang jauh-jauh hari di awal Januari.

Denger dari bisik-bisik tetangga katanya udah mau konser tahunan lagi ya? Ketuanya beberapa kali kontak gw di Kitabmuka, seperti biasa, minta usulan judul konser. Nah lho ^^.

Belum ada kabar-kabar program tur konser atau ikut kompetisi lagi kah setelah Busan kemarin gagal ikut?

Terus program presidium yang baru terpilih apa aja? Maksud gw, program konkretnya.

Nah, seperti biasa, sekali-sekali gw juga update kabar dari sini. Selain untuk menjaga komunikasi, gw juga berharap ada yg bisa kita sama-sama petik dari pengalaman menakjubkan gw (menurut gw sih ^^) hidup di daratan Eropa.

Yg pertama dan utama, gw pengen berbagi cerita musikal kali ya. Oktober tahun lalu gw memutuskan untuk ikut audisi Paduan Suara Kamar Mahasiswa Belanda (Nederlands Studenten Kamerkoor, NSK) di bawah direksi Maria van Nieukerken. Gw udah pengen ikut proyek NSK dari tahun lalu, tapi waktu itu karena belom settled dengan studi dan imigrasi, gw nggak jadi ikutan.

NSK

Cowok-cowok NSK nyanyi Girl from Ipanema (Jobim)

Nah, NSK ini adalah proyek tahunan yg terdiri dari sekitar 35 penyanyi yang diaudisi dari seluruh pelosok Belanda. Para penyanyi ini adalah mahasiswa usia 19-32 tahun (dari S1 sampai pascadoktoral). Dalam periode latihan intensif yang terdiri dari 1 hari, 3 akhir minggu, dan 1 minggu penuh, NSK bekerja sama dengan penuh antusiasme untuk menampilkan sebuah program musik ambisius dan tur konser keliling Belanda. Setiap tahun, NSK menampilkan sekitar 12 lagu, 2-4 di antaranya adalah premiére, artinya NSK adalah yang dipercaya oleh sang komposer untuk menampilkan sebuah komposisi musik untuk pertama kalinya di dunia (atau di Belanda). Tahun ini kita mem-premiér-kan 2 komposisi, satu dari Gijs van der Heijden (komponis Belanda yang juga pernah menjadi salah satu penyanyi NSK), dan Gustavo Trujillo (komponis Spanyol yang bermukim di Belanda, juga pernah bernyanyi di NSK). Dua komposisi lain juga akan ditampilkan untuk pertama kalinya di Belanda. Karena kesempatan latihan yang sangat terbatas dan programnya banyak yang susah, setiap penyanyi dituntut untuk bisa latihan sendiri sebelum datang latihan bersama. Pokoknya begitu latihan bareng, not udah nggak boleh salah-salah lagi.

Nah, di antara kesibukan gw penelitian, terdengarlah interval-interval menakutkan tipikal musik kontemporer dari meja kerja gw. Dengan bantuan Sibelius, online metronome, online tuning fork, dan digital recorder, gw kerja keras berusaha menguasai repertoar konser.

Kita baru tiga kali latihan sejauh ini. Tapi ya itu, sekalinya latihan 12 jam di hari Sabtu dan 7 jam di hari Minggu. Pulang-pulang udah kayak orang hang-over habis mabuk semalaman, hehehehe, dengan kutipan-kutipan melodi yang menghantui pikiran “Daemon, daemon, daemon fraudes inter cantus saltus!”

The tenors

The tenors

Tapi gw sangat menikmati kesibukan baru ini. Seperti juga waktu gw gabung AgriaSwara, dengan NSK gw menemukan dinamika dan keceriaan masa kuliah, karena para penyanyinya praktis mahasiswa semua.

Yang gw cermati dan pelajari dari koor baru ini adalah organisasi dan manajemen koor yang menurut gw … sempurna! Jauuuuuh sebelum proyek ini dimulai (1 tahun sebelumnya), panitia yang hanya terdiri dari 6 panitia harian dan 5 panitia umum bersama konduktor, sudah mulai sibuk menyiapkan konsep konser, tema, program, dan tentunya segala urusan cari dana. Panitianya juga seperti AgriaSwara, mahasiswa semua. Ke-6 org panitia harian juga ikutan nyanyi di batch tahun ini. Mereka dipilih dari batch tahun lalu, dan mereka belajar bagaimana caranya menyukseskan proyek ini dari panitia tahun lalu. Begitu seterusnya. Tidak pernah dalam perjalanan gw bermusik gw menemukan proses regenerasi tahunan sebagus ini. Padahal NSK proyek tahunan. Setiap tahun anggotanya ganti-ganti, mungkin ada beberapa orang yang ikutan lagi di tahun berikutnya. Tapi cuman satu atau dua. Nggak ada istilah generasi yang hilang, atau angkatan yang setelah 1 kali konser atau 1 kali ikut festival nggak pernah kelihatan lagi batang hidungnya.

Bukti dari kesolidan organisasi dan manajemen ini adalah ketika bulan lalu NSK mendapat kabar buruk bahwa salah satu patron NSK yang selama ini menjadi penyandang dana terbesar tiba-tiba mengundurkan diri dari sponsorship, kita nggak lantas kolaps dan membatalkan proyek tahun 2012. Langsung deh tuh jor-joran publikasi di website dan melalui pesan berantai, “Selamatkan NSK!” Ditulis di situ siapa NSK, apa sumbangsih NSK bagi perkembangan musik, berapa yang diperlukan (sekitar 28000 Euro), dan bagaimana orang bisa membantu. Berkat organisasi yang bagus, dapet lho, 28000 Euro (sekitar 320 juta rupiah) dalam satu bulan. Sulit dipercaya, di tengah krisis Euro dan pemotongan anggaran budaya di mana-mana.

Hal lain yang juga gw pelajari adalah proses latihan. Seperti temen-temen mungkin tahu, orang-orang Eropa Utara terkenal sangat disiplin waktu (hal yang juga menentukan keberhasilan ekonomi mereka). Ini tercermin juga dalam latihan. Semua anggota tertib datang 15-5 menit sebelum jam 10 pagi. Setiap 1.5-2 jam selalu ada jeda istirahat minum teh dan meregangkan otot. Waktunya makan ya makan. Dibilang latihan selesai jam 10 malam ya udah, nggak ada ekstra-ekstraan. Setiap anggota yang terlibat menghargai kesepakatan ini.

"Situaties" (Wim de Ruiter) untuk 4 paduan suara (2 di antaranya berperan sebagai aktor)

“Situaties” (Wim de Ruiter) untuk 4 paduan suara (2 di antaranya berperan sebagai aktor)

NSK dilatih oleh tim artistik yang terdiri dari 3 orang: 1 konduktor (Maria), 1 chorus master (Ruben), dan 1 guru vokal (Merel). Konduktor tentunya yang nanti pada akhirnya memimpin kita di konser. Si chorus master nih yang membantu menyempurnakan intonasi, dan memperbaiki kesalahan-kesalahan kecil terutama di modulasi tempo dan birama yang terjadi di mana-mana, macam 3/8 tiba-tiba ke 4/4 terus ke 7/8 terus ke 3/2 dst. Sang guru vokal akan menculik satu per satu penyanyi untuk ia latih selama 15 menit. Kadang-kadang ada juga sesi grup per suara bersama Merel atau Ruben. Tim artistik ini semuanya pemusik dan penyanyi profesional, jadi kalo latihan sama mereka rasanya mantap aja, karena mereka kalo ngasi nada atau ngebimbing kita latihan langsung ngasi untuk semua suara. Persis kayak K Avip kalo ngelatih BMS.

Oh ya, satu hal lagi. NSK hanya membolehkan penggunaan partitur asli. Jadi dari kontribusi yang setiap anggota bayar untuk proyek ini, sebagian untuk membeli partitur asli. Gw sayang-sayang deh tuh partitur asli, karena nggak murah. Di Eropa, terutama mereka yang berlatarbelakang akademik, sangat menghargai hak cipta intelektual. Jadi mereka pake partitur asli. Tapi nggak semua. Koor-koor gereja biasa masih sama kayak di Indonesia kok, potokopian pake p :).

Segitu dulu kali ya, bagi-bagi ceritanya. Kapan-kapan gw sambung lagi. Semoga ada yang relevan untuk temen-temen. Sukses buat konsernya. Ditunggu kabar dan aplotan pidionya di Kamutabung ^^

Konser Kedua bersama Kamerkoor Vocoza

Vocoza

Vocoza

Mo cerita dikit ya. ^^ Jadi, seperti beberapa temen tau, di sini gue gabung sama paduan suara kecil (sekitar 30 penyanyi), namanya Kamerkoor Vocoza (singkatan Vondelpark Concertgebouw Zangers) di bawah direksi Sanne Nieuwenhuijsen. Nah, hari ini kita baru aja selesai Repetitieweekend (Latihan Akhir Minggu). Setiap tahun sekitar awal musim semi, Vocoza sengaja menyewa sebuah hall untuk dipakai latihan seharian selama dua hari berturut-turut. Total jam tatap muka sekitar 15 jam. Kejar tayang deh. Tapi gue suka pisan sama program Latihan Akhir Minggu ini, karena kalau latihan seharian kayak gini, semua repertoar untuk konser kami bulan Mei nanti terbahas.

Tahun ini Vocoza mengadakan Latihan Akhir Minggu di Drommedaris (www.drom.nl), sebuah bangunan monumental dari abad ke 16 di Enkhuizen, kota pelabuhan kecil di tepi IJsselmeer (salah satu danau bikinan orang Belanda, yang sebenarnya bagian dari Laut Utara itu). Beberapa dari kami menginap di Enkhuizen malam ini, tapi gue memilih untuk pulang ke Amsterdam karena Senen gue ada konsultasi riset.

Untuk konser bulan Mei nanti, yang judulnya terdengar sangat manis, “M&M’s” (ya, as in M&M’s chocolate ^^ mmm… yummy). Dinamai begitu karena konser ini menampilkan 4 komposer yang nama (belakang-) nya dimulai dengan huruf M: Frank MARTIN, Gustav MAHLER, Bohuslav MARTINU, dan Felix MENDELSSOHN. (Belakangan judul tersebut diganti menjadi “Tussen mij en God”) Konser kali ini bertema sakral, dengan Misa untuk Paduan Suara Ganda-nya Martin yang spektakuler itu; aransemen Mahler untuk 16 suara; 4 lagu tentang Maria dalam bahasa Ceko; dan 3 mazmur-nya Mendelssohn. Repertoarnya gue banget deh. Tentunya, beberapa lagu pernah gue konserin sama padsu di Indonesia sebelumnya (Twilite Chorus tahun 2005 lalu, sama BMS tahun 2008, dan sama AgriaSwara di Jerman –tapi nggak jadi dinyanyiin karena kita nggak masuk final :P). Ayo, ayo, siapa yang tahu judulnya apa? ^^

Kamerkoor Vocoza: Kyrie (Frank Martin)

Dari konser ke konser, Vocoza gue bilang sangat kreatif, berani bereksperimen, meskipun beberapa orang bilang agak ambisius. Gue sih suka. Terus, yang paling gue suka dari format konser mereka adalah mereka sangat menaruh perhatian pada detail. Setiap lagu dibahas dari sudut pandang filosofis. Konduktornya bercerita tentang sejarah komposer dan komposisi. SEMUA lagu selalu diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, sehingga semua penyanyi tau apa yang dinyanyiin. Sering, terjemahan syair ini juga dinyanyikan dalam latihan. Dalam padsu-padsu yang pernah gue ikutin, detail ini tidak pernah bener-bener digarap. Hal lain yang juga sangat gue suka adalah sang konduktor bener-bener punya konsep yang solid mengenai tema konser. Ia bisa dengan sangat fasih menggambarkan repertoar konser sebagai lukisan; yang kemudian juga ditulis dalam buku program. Jadi, buku program konser Vocoza bukan cuma kasi liat profil paduan suara, judul lagu dan nama-nama penyanyi saja. Tapi juga artikel singkat mengenai keseluruhan program sebagai sebuah cerita yang hidup. Gue sampe nggak habis pikir, kreatif bener ya orang-orang ini berimajinasi.

Vocoza secara rutin mengadakan konser minimal 2 kali setahun. Vocoza, dan juga kebanyakan paduan suara di Belanda, tidak tertarik mengikuti kompetisi paduan suara, seperti yang kita amati di Indonesia. Tema konser berikutnya sudah dipikirkan dari sekarang. Kata sang konduktor sih, akhir tahun nanti kami konser lagi, bawain komposisi kontemporer yang memakai syair-syair Shakespeare dan Goethe. Hmmm… sounds yummy! ^^

Segitu dulu yaaa, ceritanya. Kembali ke proposal penelitian. Yuk mariiii.

Konser Vocoza “Zomer Herfst”

Dari milis AgriaSwara IPB (27 November 2010)

Kamerkoor Vocoza Amsterdam

Kamerkoor Vocoza Amsterdam

Seneeeeeeng banget, akhirnya bisa konser lagi. Diterima jadi anggota sekitar akhir September, tadi malem kami konser di Groenmarktkerk, Haarlem. Seperti biasa, Vocoza menampilkan konser di dua venue. Hari ini kami akan konser lagi di Mozes en Äaronkerk, Amsterdam.

Venue tempat kami konser tadi malam adalah sebuah gereja yang akustiknya, menurut gw, salah satu yang terbaik untuk konser paduan suara dan musik kamar yang pernah gw alami. Kami tampil dalam sebuah format konser bersama empat orang pemusik dengan instrumen autentik zaman Barok: continuo, theorbe, violoncello, dan violon. Bersama kami, juga tampil seorang soprano (mantan penyanyi Vocoza di tahun 80an yang sekarang berkarier internasional), Johannette Zomer. Ini adalah kali pertama gw terlibat dalam konser musik kamar seperti ini. Dan kesan gw, konser ini sangat intim, dan audiens-nya sangat atentif.

Konser kami buka dengan Jesu, meine Freude (Bach), dengan format lengkap paduan suara dan semua instrumen, tanpa Johannette. Karya monumental Bach yang satu ini adalah motet terpanjang dan paling terkenal dari 6 motet untuk paduan suara yang ditulis Bach untuk 5 suara. I’m a Bach enthusiast, so I find this piece simply irresistible. Apalagi dengan iringan instrumen yang emang berasal dari zamannya Bach. Gw bisa bilang, gw merasa kembali ke Leipzig, tahun 1723, ketika karya ini di-premiere-kan. Tapi yang paling gw suka dari bagian ini adalah bagaimana Sanne, konduktor kami, berhasil mengolah musik Bach yang penuh detail menjadi sebuah penampilan yang mengadiluhungkan presisi dan artistri. Dari sudut penyanyi, gw bisa menyelami bagaimana teks biblikal dalam motet ini diterjemahkan ke dalam musik yang berbicara. Bukan hanya bernyanyi, tapi juga menyampaikan pesan.

IMG_2842

Setelah Bach, paduan suara silam. Kemudian Johannette naik panggung, membawakanDeuxieme Leçons de Tenebres (Couperin). Ini adalah sebuah karya yang menggambarkan refleksi dan kontemplasi atas dosa, seperti dalam cerita di Perjanjian Baru, tentang kehancuran Jerusalem pada abad ke 6 sebelum Masehi. Johannette tampil sangat memukau. Dari kursi penonton paling belakang, gw mencerap keindahan sebuah karya musik Barok Perancis yang memiliki karakteristik berbeda dari musik barok Jerman, macam Bach dan Händel. Pada awal setiap ayat, Couperin menyulap huruf dari abjad Iberani menjadi sebuah melisma yang sangat indah, kemudian diakhiri dengan kalimat Jerusalem, Jerusalem, Dominum Deum tuum ad convert.

Sama sekali berbeda dari dua karya pertama, pada karya ketiga, kami tampil a cappella, membawakan Fünf Gesange (Brahms). Temen-temen angkatan 41 ke atas mungkin ingat AgriaSwara pernah membawakan salah satu dari 5 lagu Brahms ini: Verlorene Jugend. Tadi malam kami menampilkan karya ini secara utuh. Well, biasanya Vocoza memang menampilkan semua nomor dari sebuah opus. Kelima lagu Bramhs ini menggambarkan serbaneka atmosfer musim gugur: dedaunan yang terserak di atas tanah, melankoli bunga-bunga yang layu oleh dinginnya udara, tapi juga pengharapan akan datangnya kedamaian dan sinar matahari. Karya nomor 4, Verlorene Jugend, Brahms membuat lukisan alam dalam musiknya, tentang energi masa muda yang tersisa setelah musim berlalu. Keseluruhan karya ini terkesan melankolis, padahal Brahms menulisnya di musim panas, sekitar tahun 1887.

Tiga karya pertama ternyata memakan waktu cukup panjang, setelah itu kami rehat.

Babak kedua konser dibuka dengan tiga karya epik komponis kontemporer Estonia, Veljo Tormis, yang datang melatih kami awal November lalu, sebagai bagian dari Tormis Festival yang diadakan di Amsterdam, mengumpulkan paduan suara-paduan suara amatir dari seluruh pelosok Belanda. Dalam masterclass bersama Tormis, katanya sih, disamping pengolahan musik yang bagus, pelafalan bahasa Estonia kami nyaris sempuna ^^. Beliau mengundang kami untuk konser di Estonia karenanya. Buat gw, ini pengalaman pertama terlibat dalam sebuah produksi musik di mana komposernya sendiri turun tangan dan melihat sendiri bagaimana musik yang dia tulis diinterpretasikan oleh sebuah paduan suara yang bukan dari negerinya sendiri. Dalam 3 Laulu eeposest Kalevipoeg, Tormis menghidupkan kembali musik rakyat dan sejarah Estonia dalam sebuah kisah tentang kehilangan dan perjuangan. Puisi dalam teks Kalevipoeg bercerita tentang Kalevipoeg (Anak Lelaki Kalev). Salah satu lagu dari Kalevipoeg ditulis Tormis ketika ia kehilangan ibundanya pada sekitar tahun 50an, waktu ia masih menjadi siswa Konservatorium Moskow. Pada lagu terakhir, Tormis membuat lukisan alam tentang ombak di lautan. Pada nomor ini, para bass 2 meluncur ke bawah sampai C2.

IMG_2834

Dari abad kontemporer, kami kembali ke awal zaman Barok, membawakan Lamento d’Ariannabersama Johannette dan instrumen Barok. Sebagai penggemar berat Monteverdi, gw menemukan nuansa baru dalam musik lamento ini. Monteverdi bercerita tentang Ariadna, yang menolong Theseus keluar dari labirin yang dibuat oleh ayahnya, Raja Minos dari Kreta. Setelah Theseus, membantai Minotaur, ia ternyata mengingkari janjinya menikahi Ariadna. Opera ini bercerita tentang kesedihan Ariadna.

Terakhir, kami membawakan Hör mein Bitten (Mendelssohn). Untuk lagu ini, kami turun dari altar dan naik ke mezanin di lantai tiga, di bawah orgel besar yang menutupi nyaris seluruh dinding di bagian façade gereja. Sang musisi kontinuo kali ini mengiringi kami dengan orgel, dengan Johannette sebagai solis. Lagu ini, yang berarti Dengarlah Doaku, adalah salah satu karya favorit sang komposer sendiri yang ia tulis pada zaman Victoria. Selang seling solo dan paduan suara pada karya Mendelssohn ini mengingatkan kita pada lagu-lagu patriotik Inggris. Oleh karena itulah, versi Inggris dari lagu ini, Hear My Prayer, adalah salah satu karya paling terkenal dan paling banyak dinyanyikan yang pernah ditulis Mendelssohn. Efek akustik dengan bernyanyi di atas mezanin ternyata cukup dramatis, karena audiens mendengar suara kami seperti dari langit ^^.

Keseluruhan konser ternyata cukup panjang. Lebih dari 2 jam. Cape juga. Tapi seneeeeng banget. Gw belajar banyak dari pengalaman gw bermusik bersama teman-teman di Vocoza. Salah satu yang gw pelajari adalah, Vocoza tampaknya perencana yang baik. Program konser berikutnya sudah dipublikasikan dari konser kali ini. Bukan hanya publikasi tanggal dan tempat, tapi juga program yang akan kami bawakan berikutnya. Bulan Mei tahun depan. Dan, gw melihat ada Missa for double choir (Frank Martin) yang pernah gw bawakan bersama Twilite Chorus tahun 2005 lalu. ^^

Segitu dulu yah, semoga lapdangmatnya bermanfaat.