Resital Vokal dan Kendali Mutu

“Kalo nyanyi keroyokan di paduan suara kayak gitu, lu nggak perlu punya suara bagus-bagus amat dong. Kan keroyokan…”

Kira-kira begitulah seorang kenalan gw waktu kuliah sarjana dulu pernah berkomentar mengenai paduan suara. Terdengar dangkal dan agak melecehkan, mungkin. Tapi kalau dipikir, komentar ini mau tidak mau membuat gw duduk sejenak dan berpikir: sejauh apa kita dituntut untuk bisa bernyanyi sebagai seorang penyanyi paduan suara? Atau mungkin lebih tepatnya, setinggi apa ekspektasi paduan suara tentang kualitas individual setiap penyanyinya?

Setiap paduan suara mungkin memiliki ekspektasi yang berbeda-beda dalam hal kualitas individual penyanyinya. Hal ini semata-mata disebabkan oleh sumberdaya yang tersedia, kemampuan musikal para penyanyi (dan juga pengaba), dan tujuan pendirian serta sasaran audiens paduan suara. Kategorisasi amatir dan profesional juga secara otomatis memetakan ekspektasi tersebut ke dalam semacam spektrum. Ada paduan suara yang sangat teliti dalam mengaudisi dan menyeleksi penyanyinya, ada juga yang cukup bergembira-ambil-hikmahnya dengan apa yang ada dan mencoba membangun kualitas nyaris dari titik nadir. Di antara kedua ekstrem tersebut, paduan suara mana pun boleh menentukan sendiri tingkat kualitas yang mereka ingin capai. Hanya saja, kualitas dalam musik adalah sesuatu yang kadang abstrak dan subjektif, sehingga kita kadang suka bingung sendiri di mana paduan suara yang kita geluti sekarang berada dalam spektrum tersebut. Namun, satu hal rasanya dapat dipastikan, bahwa setiap paduan suara ingin terus menjadi lebih baik. Bukankah begitu, Bu Dewi? ^-^

Spektrum kualitas

Dalam kurun waktu 2004 hingga 2009 dulu, ketika gw mulai merambah dunia musik di Jakarta dan sekitarnya, gw mengamati beberapa paduan suara independen (biasanya tidak terikat dengan institusi tertentu, macam gereja atau lembaga pendidikan) yang pada suatu hari didirikan, kemudian menggelar satu atau dua konser, atau mengikuti sebuah kompetisi, kemudian tidak terdengar lagi keberadaannya. Tentunya sah-sah saja untuk mengambil inisiatif mendirikan sebuah paduan suara, entah itu untuk sekedar mengumpulkan orang-orang yang sama-sama memiliki hobi bernyanyi atau serius ingin membentuk sebuah paduan suara yang layak konser. Pun tidak ada yang melarang kalau ada yang mengambil inisiatif mendirikan sebuah paduan suara sekadar untuk mencoba peruntungan dalam sebuah kompetisi (dengan catatan kaki: kalau menang paduan suara jalan terus, kalau nggak yo wis bubar jalan). Dunia musik selalu dengan tangan terbuka menyambut suara baru, genre musik baru, produksi musikal baru, wajah-wajah imut dan menggemaskan baru, dan seterusnya. Tapi lantas kita dihadapkan pada pertanyaan: apakah paduan suara dibentuk untuk lestari selama mungkin, ataukah hanya untuk semusim belaka? Semacam pertanyaan klisé long term relationship atau no strings attached? Bagaimana kita memastikan bahwa paduan suara yang kita miliki bertahan lama dan tetap merangkul audiens dari konser ke konser? Bagaimana caranya kita menjaga mutu paduan suara kita?

Dalam lema kali ini gw akan mencoba melempar satu atau dua gagasan mengenai kendali mutu dalam paduan suara.

Resital vokal dalam dunia musik klasik sudah lama dikenal dan dipraktikkan oleh para penyanyi, baik yang sudah berstatus profesional maupun yang masih mengikuti pendidikan. Batasan sederhana resital vokal adalah penampilan vokal solo, duo, atau hingga ansambel vokal kecil, biasanya diiringi satu atau dua instrumentalis. Pada dasarnya resital vokal adalah juga konser, tapi biasanya resital vokal merupakan produksi musikal berskala kecil yang sering diprakarsai oleh sang penyanyi sendiri sebagai penampil utama. Resital vokal adalah “momen sang penyanyi” untuk menunjukkan pada khalayak musik sejauh mana kemampuan dan apresiasi vokalnya berkembang dari waktu ke waktu. Makanya gw harus menggarisbawahi kata “secara teratur” karena inti dari penyelenggaraan resital vokal adalah kendali mutu, selain juga tentunya perayaan atas pembelajaran musikal yang dialami oleh sang penyanyi sejauh ini.

Nah, apakah resital vokal ini juga penting (dan berguna) diterapkan dalam sebuah paduan suara? Ya.

Komentar yang bilang kalo di paduan suara kita nggak perlu bagus-bagus amat nyanyi mungkin sedikit banyak membuat kita harus menata ulang sistem latihan dan program paduan suara kita setahun ke depan, misalnya. Konser tahunan gw rasa memang sudah jadi hajatan tetap banyak sekali paduan suara. Kalau kita tengok grup paduan suara di Facebook, kadang dalam seminggu ada lebih dari satu “annual concert” inilah, “newcomers in concert” itulah. Kita sebagai konsumen musik lalu harus memilih mau nonton konser yang mana. Pertanyaannya, apakan konser tahunan saja cukup?

Konser tahunan sejatinya diselenggarakan dengan tujuan menampilkan sebuah produksi musikal untuk publik, audiens, fans sebuah paduan suara. Sedikit-sedikit boleh lah ada pemasukan dari penjualan tiket konser, tapi utamanya sebuah konser tahunan dipersembahkan untuk dunia musik secara luas. Resital vokal, di pihak lain, ditujukan utamanya untuk kalangan sendiri. Karena skalanya yang lebih kecil dari konser, seperti gw sebut di atas, resital vokal lebih bersifat intim dan tidak terlalu formal. Tetapi ini sama sekali tidak mengurangi nilai pentingnya sebagai strategi kendali mutu paduan suara, tentunya.

Dengan menetapkan standar kualitas tinggi (alih-alih sekadar “nyanyi keroyokan, senang-senang, sudah makan pulang”), gw pikir sebaiknya paduan suara tidak hanya mengandalkan konser tahunan. Resital vokal juga sebaiknya diadakan, paling tidak setahun sekali.

Kalau ada 100 orang anggota penyanyi, apa nggak kebanyakan tuh resital satu-satu, Bang Jali?

Seting penyanyi dalam resital

Yang ini mungkin lebih bersifat teknis. Paduan suara bisa mengatur sebuah resital sedemikian hingga semua penyanyi kebagian tampil tanpa harus menunggu giliran semalaman. Caranya, buat kombinasi penampilan. Yang cukup berani dan percaya diri tampil solo boleh tampil solo. Mungkin dibatasi hingga beberapa orang saja. Sisanya, ada yang tampil duet, trio, kuartet, atau hingga ansambel vokal kecil. Yang penting adalah, semua penyanyi beroleh kesempatan untuk uji kemampuan bernyanyi dalam seting kecil.

Resital vokal, sekali lagi, adalah ajang uji kemampuan sekaligus perayaan. Semua penyanyi memiliki kesempatan yang setara untuk boleh sejenak menjadi diva dan/atau divo. Ekspektasi untuk tampil dalam resital berbeda dari konser pada umumnya. Hal ini lebih dikarenakan dalam resital, kita nggak nyanyi keroyokan, seperti kata temen gw yang nyebelin itu. Meskipun setiap penyanyi mungkin hanya kebagian menampilkan satu lagu, tapi mereka akan bekerja ekstra keras untuk bisa menampilkan yang terbaik, karena resital adalah “momen mereka”. Audiens mungkin akan mendengarkan suara mereka untuk pertama kalinya.

Nah, selamat berlatih menjadi diva/o ^^

 

Advertisements

Tanggapi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s