The New Black: Ngefans sama James MacMillan

Ketika gw pertama kali menemukan musik James MacMillan di Spotify, yang dibawakan dengan penuh presisi dan keanggunan oleh The Sixteen (Harry Christopher) dalam album James MacMillan: Miserere mereka, gw langsung berpikir “This dude’s genius!”. Ada semacam pesona kebaruan dalam musik a cappella MacMillan yang ia sembunyikan dalam ornamen musikal kaya akan acciaccatura rancak dan melisma lincah. Kumpulan Strathclyde Motets-nya sangat eksperimental dan imajinatif, sementara Miserere-nya penuh perenungan dan meditatif, dan Tenebrae Responsories-nya yang ia gubah dalam kerangka modus novus menjadi ladang garapan paduan suara yang benar-benar bersahabat dengan interval-interval diabolik.

James MacMillan: Miserere

Dalam konteks lain, Stuttgart Vokalensemble (Marcus Creed) juga menunjukkan virtuositas mereka dalam album Vaughan Williams & James MacMillan, dengan O bone Jesu dan Mairi-nya yang kompleks, sulit, tapi … hhh … indah, hampir menyihir. Paduan suara mana pun yang cukup percaya diri dengan kemampuan musikalnya menurut gw seharusnya (pernah) menyertakan MacMillan dalam repertoar mereka. Sofia Vokalensemble (Bengt Ollen), yang juara European Grand Prix for Choral Singing tahun 2012 silam, Netherlands Radio Choir (Gijs Leenaars), London Symphony Chorus (Sir Collin Davis), dan BBC Singers adalah beberapa kelompok musik yang pernah menjawab tantangan musikal MacMillan.

Data est mihi omnis potestas

James MacMillan (*1959) yang lahir dan besar di Skotlandia adalah seorang komponis yang gubahannya banyak dipengaruhi oleh Katolisisme. Ia sering merujuk pada kesederhanaan bahasa musik kala Gregorian ketika menggubah. Pada saat yang sama, ia juga tidak sungkan bereksperimen dengan paradigma komposisi musik kontemporer, termasuk ya itu tadi, modus novus yang menakutkan itu. Tentang filosofinya dalam menulis musik dan kaitannya dengan keyakinan, ia berkata bahwa karena ia memiliki latar belakang keluarga Katolik kelas pekerja yang sangat tradisional, ia sulit membedakan apakah gubahannya memang secara sengaja bermuatan agama atau memang ia secara tidak sadar selalu mengacu pada nilai-nilai sakral. MacMillan tidak hanya menulis musik dengan tingkat kesulitan dan virtuositas tinggi untuk paduan suara profesional, tapi juga gubahan-gubahan sederhana tapi khas buat jemaat gereja biasa. Silakan simak apa katanya lebih lanjut di sini.

Factus est repente

Komponis yang juga konduktor ini menyelesaikan PhD-nya dari Universitas Durham pada tahun 1987, dan sejak itu banyak sekali paduan suara profesional yang memperdanakan karya-karyanya. Kalau ada yang juga tertarik untuk mengapresiasi musiknya, silakan kunjungi katalog karya MacMillan untuk paduan suara dari situs Boosey & Hawkes, lengkap dengan deskripsi mengenai setiap komposisi. Dalam katalog Boosey & Hawkes, terdapat kode tingkat kesulitan 1 – 5 dengan 5 sebagai yang tersulit. Nah, teman-teman bisa lihat kalau MacMillan menulis musik untuk tingkat kesulitan termudah (1) hingga tersulit (5), jadi rasanya paduan suara mana pun semestinya bisa. Oh ya, partiturnya beli yang asli yaaa, jangan bajakan ^^.

Di YouTube kalian bisa menemukan beberapa rekaman musik MacMillan, seperti “Dominus dabit benignitatem” dari Strathclyde Motets yang dibawakan oleh Sirventes Berlin berikut:

atau “Data est mihi omnis potestas” yang dibawakan oleh Westminster Choir College (Joe Miller) berikut:

Nah, jadi sebagai fans MacMillan, gw nih ceritanya pengeeeen banget bawain musiknya. Dalam kuesioner anggota baru Toonkunstkoor Amsterdam, gw juga sempat menyampaikan keinginan ini, ketika gw harus menjawab pertanyaan musik siapa dan yang manakah yang ingin gw nyanyikan. Gw jawab dong, Strathclyde Motets-nya MacMillan, St Luke Passion-nya Krzyszstof Penderecki, dan Path of Miracles-nya Joby Talbot.

Ternyata eh ternyata … beberapa bulan kemudian, Vrije Universiteit Kamerkoor yang dikomandani oleh Boudewijn Jansen (juga konduktor Toonkunstkoor Amsterdam) membuka lowongan untuk tenor buat program konser mereka bulan November nanti, dalam rangka memperingati hari kelahiran Benjamin Britten. Dalam program mereka gw lihat ada Strathclyde Motets. Haha! Gw langsung deh tuh sumringah. “You, milord, are mine!” VU Kamerkoor latihan Selasa malam, sementara Senen sama Rabu malam gw udah ada jadwal tetap latihan buat dua paduan suara lain. Tapi demi Pakde MacMillan, gw jabanin dah, Bang Jali. ^^

Advertisements

Pusaka Musik Kontemporer Stravinsky

Stravinsky

Igor Stravinsky (1882-1971) dipandang sebagai komponis paling orisinil dan berpengaruh abad ke-20. Ia belajar musik di bawah bimbingan Rimsky Korsakov di St Petersburg. Beberapa gubahannya untuk musik balet, yaitu The Firebird, Petrushka dan The Rite of Spring memperlihatkan bagaimana Stravinsky berevolusi secara musikal dari nasionalis menjadi modernis. Stravinsky lahir di Rusia, kemudian beremigrasi ke Perancis, kemudian ke Amerika. Hidupnya yang kosmopolitan dan mendunia tercermin dalam gubahan-gubahannya. Ia menulis musik liturgi gereja ortodoks Rusia, tapi juga musik balet dalam bahasa Perancis, dan belakangan mengangkat banyak teks puisi berbahasa Inggris.

Musik Stravinsky pertama kali gw dengar pada tahun 2011, dalam sebuah konser kelulusan MaNOj Kamps, seorang mahasiswa Konservatorium Den Haag asal Sri Lanka. Sebagai syarat memperoleh gelar Sarjana Musik dalam bidang conducting, MaNOj menggelar sebuah program konser berjudul “Liberté” (kebebasan). Untuk hari yang sangat menentukan itu, MaNOj secara cerdas dan teliti memilih repertoar konser yang ia aba sendiri. Tersebutlah, Glaubst du an die Unsterblichkeit der Seele (Claude Vivier, 1948-1984), In Memoriam Dylan Thomas (Igor Stravinsky, 1882-1971), Nach dir, Herr, verlanget mich (Johann Sebastian Bach, 1685-1750), Figure Humaine (Francis Poulenc, 1899-1963), dan perdana dunia Libera Me yang digubah sendiri oleh MaNOj (*1988). Sebuah program yang sangat ambisius. Gw sendiri ambil bagian dalam konser tersebut sebagai salah satu penyanyi paduan suara. Kita kebagian mengeksekusi gubahan Poulenc untuk paduan suara ganda yang sangat menantang itu, Figure Humaine (1943)

Sementara itu, Marcel Beekman, seorang tenor mapan menyanyikan gubahan Stravinsky untuk solo tenor, kuartet musik gesek dan kuartet trombon, In Memoriam Dylan Thomas (1954). Gubahan sepanjang lebih dari 6 menit ini ia abdikan sepenuhnya kepada Dylan Thomas sendiri, yang mangkat secara mengejutkan, padahal Stravinsky berniat bekerja sama dengan Thomas untuk menulis sebuah opera. Dengan penuh intensitas emosi, Stravinsky merangkai puisi Thomas “Do not go gentle into that good night” dengan “Rage, rage against the dying of the light”. Kelak, Eric Walter White memuji gubahan ini sebagai salah satu gubahan paling mengharukan yang ditulis Stravinsky sepanjang kariernya.

Persepsi gw ketika mendengarkan musik Stravinsky untuk pertama kali mungkin terlalu rendah hati. Ada semacam keindahan misterius dalam progresi harmoni yang diawali dirge 4 trombon ini. Dan gw yang nggak terlalu cerdas musik modern ini tidak serta-merta menangkap esensi musikal yang ia gubah dalam bingkai teknik komposisi duabelas-nada (dodekafoni), yaitu metode komposisi musik yang memastikan bahwa seluruh 12 nada kromatik digunakan secara merata.

Tangga nada dodekafonik

Tapi begitulah, musik Stravinsky ternyata sangat adiktif. Sekalinya kita bisa menangkap esensi musikal tersebut, keindahan musik Stravinsky barulah mengemuka. Mereka yang terbiasa mendengarkan, menyanyikan atau memainkan musik konvensional dalam tangga nada diatonik (do-re-mi-fa-so-la-si-do) akan harus mengerutkan dahi berkali-kali untuk bisa mengapresiasi musik dodekafonik. Dan itulah yang terjadi pada gw.

Tapi mungkin gw berjodoh dengan Stravinsky. Dua tahun kemudian, gw berkesempatan menyanyikan sendiri musiknya yang fenomenal itu. Dalam sebuah festival musik kontemporer di Den Haag, gw bersama Toonkunstkoor Amsterdam membawakan Symphony of Psalms yang dilaras ulang untuk dua piano, dirangkai kemudian dengan tiga gubahan liturgi Rusia akapela Bogoroditse Djevo, Veruyudan Otche Nash.

Gubahan dan larasan yang mengangkat teks mazmur mungkin sering sekali kita dengar. Tapi Simfoni Mazmur-nya Stravinsky sama sekali lain. Ia mengaku bahwa ia tidak berniat menggubah musik simfonik dengan menyertakan teks mazmur di dalamnya. Alih-alih, gubahan ini adalah nyanyian mazmur yang ia simfonikan. Coba dengarkan Monteverdi Choir (John Gardiner) dan London Symphony Orchestra dengan sempurna mengeksekusi Symphony of Psalms di Spotify (track nomor 5-7). Gubahan ini ia bingkai dalam sistem oktatonik (nah lho, apaan lagi tuh?), yaitu tangga nada yang terdiri atas 8 nada, tapi biasanya merupakan pergantian interval penuh dan paruh. Nah, gw nggak berniat membahas teori musik, tapi rasanya teks mazmur yang diangkat Stravinsky dalam gubahan ini menarik untuk gw sarikan.

Dari bagian pertama:

Exaudi orationem meam, Domine, et deprecationem meam. Auribus percipe lacrimas meas. Ne sileas.
Quoniam advena ego sum apud te et peregrinus, sicut omnes patres mei.
Remitte mihi, ut refrigerer prius quam abeam et amplius non ero.

Dengarkanlah doaku, ya TUHAN, dan berilah telinga kepada teriakku minta tolong, janganlah berdiam diri melihat air mataku!
Sebab aku menumpang pada-Mu, aku pendatang seperti semua nenek moyangku.
Alihkanlah pandangan-Mu dari padaku, supaya aku bersukacita sebelum aku pergi dan tidak ada lagi!

(Mazmur 39:12-14)

Musik oktatonik ini akan terdengar sama sekali berbeda dengan gubahan liturgi Rusia berikut. Stravinsky menulis 3 gubahan sakral pendek yang dianggap oleh para terpelajar musik sebagai manifestasi spiritualitas Stravinsky yang sempat pudar pada usia mudanya. Ketiga karya pendek ini, yaitu Doa Bapa Kami, Salam Maria, dan Kredo, digubah dalam kerangka musik yang lebih konvensional dan ‘ramah-penyanyi’. Selain pelafalan bahasa Rusia dalam Kredo yang rancak, tidak ada kesulitan berarti dalam mengolah lagu-lagu ini. Coba simak The Gregg Smith Singers (Robert Craft) membawakan 3 Russian Sacred Choruses.

Selain komposisi di atas, akhir tahun ini, sebagai bagian dari program musik Rusia, Toonkunstkoor Amsterdam juga akan membawakan gubahan Stravinsky yang sama sekali lain, Les Noces, sebuah musik balet yang berkisah seputar pesta pernikahan a la  Rusia. Yang ini lain kali deh gw bahas. Musik balet yang ajaib ini bisa kalian lihat di YouTube. TKA akan menyanyikannya dalam bahasa Perancis.

In Stravinsky’s words:

‘Music is given to us specifically to make order of things, to move from an anarchic, individualistic state to a regulated, perfectly conscious one, which alone ensures vitality and durability.’

— Igor Stravinsky