Ode kepada Musik: BMS, Kamēr, dan Pengabdian

Di tengah banjir notifikasi jejaring sosial mengenai hajatan musik paling bergengsi European Grand Prix for Choral Singing 2013, gw mengamati, menandai, dan mempelajari beberapa hal yang menarik untuk kita diskusikan. Tapi sebelumnya, dengan segala kerinduan pada musik paduan suara di Indonesia, gw ingin mengucapkan selamat atas penampilan Batavia Madrigal Singers yang sangat memukau. I’m rather shy to admit it, but I really got tears in my eyes having watched BMS perform. Sejak terakhir kali bernyanyi bersama mereka di tahun 2009, ansambel vokal yang dinilai paling berdedikasi pada artistri dan musikalitas ini sudah mengalami kemajuan yang sangat pesat. Pemilihan repertoar yang inovatif dan memperlihatkan virtuositas dan versatilitas paduan suara, perhatian nyata pada presisi (intonasi, interpretasi musik, sonoritas, olah dinamika, ritmus, dan unsur rinci lainnya), dedikasi mereka pada latihan untuk mempersiapkan lomba (yang kadang-kadang gw ikuti di mailing list BMS), semuanya membuat gw menahan napas berkali-kali dalam keterpukauan.

Di tengah kesibukan sehari-hari, senang rasanya gw sempat menyaksikan live streaming Guidoneum Festival EGP edisi ke-25 dari Arezzo. Karena keterbatasan waktu gw hanya sempat menonton penampilan BMS. Sejujurnya, gw juga tidak terlalu tertarik untuk melihat penampilan 4 peserta lain. Gw pikir, “Ah, yang lain mah paling juga ntar nongol di YouTube.” Tapi begitulah, sebagai spektator kali ini, gw menyaksikan betapa Avip Priatna, sang pengaba yang sejak tahun 1996 setia mengomandani BMS, telah menunjukkan pengabdiannya pada artistri dan musikalitas. Gw angkat topi untuk kerja keras mereka mengolah musik. Gw tahu persis betapa penampilan sekelas mereka bukanlah hasil dari santai-santai bergembira. Sekitar 2 tahun keterlibatan gw dalam BMS, gw mencermati dinamika kelompok dan hasrat bermusik yang selalu kental melayang-layang di udara ketika berlatih: Kak Avip di depan piano (waktu itu di Jalan Daksa), dan para penyanyi mengelilinginya dengan secarik partitur di tangan. Dari tahun ke tahun sejak itu, BMS semakin matang secara musikal. Mereka sama sekali tidak menunjukkan gejala ‘anget-anget t**i ayam’  seperti yang gw amati pada banyak paduan suara lain. Kontinuitas dan komitmen mereka seperti tak berujung. Untuk itu semua, gw mengangkat topi dalam kekaguman. Salut.

Lalu apatah gerangan hiruk-pikuk ‘kemenangan’ dan ‘kekalahan’ ini?

Ah, seperti Bela Bartok (1881-1945) pernah berkata, “Competitions are for horses, not artists.” Gw selalu skeptis pada nosi ‘menang’ dan ‘kalah’ dalam sebuah perlombaan artistik, baik itu musik maupun seni rupa. Keindahan dalam seni adalah sesuatu yang sangat subyektif. Pada akhirnya, akan sangat sulit membedakan mana yang lebih indah dari dua karya seni atau dua penampilan musikal ketika keduanya memang merupakan hasil dari dedikasi dan passion. Ketika gw kadang membaca papan nilai hasil perlombaan sebuah paduan suara, gw kadang suka bertanya-tanya, apalah bedanya 85 dan 87 dalam skala 0-100 ketika kita tidak membicarakan statistika dan ilmu pasti? Apalah bedanya sang juara, misalnya, yang meraih nilai 87 dari yang meraih nilai 85? Apakah selisih nilai itu berasal dari satu not yang salah dinyanyikan? Atau sekadar preferensi pribadi? Atau karena kostum yang nggak matching? … I mean, it’s not Candy Crush Saga we’re dealing with. 

Tapi baiklah, gw mengerti bahwa supremasi (lagi-lagi) yang ingin diraih melalui jalur kompetisi paduan suara memang suka tidak suka melibatkan euforia dan kekecewaan. Seandainya gw produser musik, BMS sudah dari dulu gw tawari album rekaman, biar musik mereka bisa dinikmati oleh khalayak yang lebih luas di seluruh dunia, tidak terbatas pada dinding gedung konser; supaya musik mereka bisa diakses dengan mudah di Spotify atau Deezer, sejajar dengan paduan suara hebat yang lain seperti The Sixteen, Nederlands Kamerkoor, atau Kammerchor Stuttgart. Supaya musik mereka abadi. Tapi sayangnya produser musik di Indonesia tidak ada yang segitu jatuh cintanya pada musik paduan suara sehingga dia akan dengan penuh antusiasme mempromosikan musik yang jelas-jelas lebih berkelas dan lebih bermanfaat ketimbang musik komersial. Sayangnya masyarakat kita belum menempatkan musik paduan suara pada relung budaya yang berakar kuat. Masyarakat musik di Indonesia masih lebih menyukai musik gampangcerna, daripada mencoba mengapresiasi harmoni njlimet dalam musiknya Max Reger, atau jangan jauh-jauh, ritmus rancak dalam komposisi terbaru penggubah muda kita seperti Ivan Yohan atau Budi Susanto Yohanes. Sayang seribu sayang.

Buat gw pribadi, European Grand Prix for Choral Singing bukan sebuah ajang mengenai siapa yang ‘menang’ dan ‘kalah’. (I just despise those words that I have to use quotation marks all the time.) Bahkan, gw sebenarnya tidak terlalu peduli siapa yang keluar sebagai juara. Gw mengikuti perkembangan dan perjalanan musikal peserta lain dalam EGP dari tahun ke tahun, dan gw sangat terinspirasi oleh pengabdian mereka semua pada musik. Tentu saja tingkat kemajuan mereka berbeda-beda. Ada juara EGP yang memang berasal dari budaya di mana masyarakatnya sangat mencintai paduan suara. Hal ini bisa dilihat dari sejarah musik paduan suara di negara asal mereka, jumlah komponis yang lahir dan musiknya diapresiasi di sana, pendidikan musik yang menjadi bagian integral dari kurikulum sekolah, dan lain-lain. Ada juga yang tidak.

Kalau kita berbicara mengenai juara EGP tahun ini, Youth Choir Kamēr, misalnya, kita bisa melihat bagaimana para remaja ini beruntung bisa tumbuh dan berkembang dalam tradisi bernyanyi paduan suara. Sejak usia dini, mereka sudah tidak asing lagi dengan musik paduan suara, entah itu dari liturgi gereja, atau kurikulum sekolah yang menyertakan musik klasik di dalamnya. Banyak paduan suara di Latvia, baik amatir maupun profesional, menganggap premiere (perdana) sebuah komposisi yang ditulis oleh seorang komponis Latvia sebagai sebuah hari raya. Itu sebabnya komponis demi komponis lahir dan menjadi selebritis di sana. Sebutlah Ēriks Ešenvalds, Rihards Dubra, dan Pēteris Vasks. Kalau itu tidak cukup, mereka juga beruntung dikelilingi negara-negara yang juga mencintai paduan suara, seperti Lithuania dengan Vytautas Miškinis-nya, Estonia dengan Veljo Tormis-nya, dan negara-negara Skandinavia. Tidak mengherankan, kemudian, ketika paduan suara non-profesional macam Youth Choir Kamēr pun berkesempatan masuk ke dapur rekaman. Musik mereka bisa diakses gratis di sini dan di sini. Di pihak lain, ada juga juara EGP yang tidak berasal dari budaya paduan suara yang dominan, seperti Jepang.

Tapi, rasanya terlalu menarik untuk tidak disebutkan bahwa selain budaya paduan suara yang kuat di negaranya, Youth Choir Kamēr sepertinya juga memiliki struktur organisasi yang sangat suportif bagi pencapaian musikal mereka dari waktu ke waktu. Mereka memiliki dua guru vokal tetap yang memang dibayar untuk melatih vokal setiap penyanyinya secara terpisah. Urusan dasar-dasar teknik vokal tidak dipegang oleh sang konduktor. Mereka juga memiliki departemen marketing dan PR tersendiri. Jadi urusan dana yang selalu menjadi masalah utama keberlangsungan hidup paduan suara tidak lagi membuat sang konduktor sakit kepala. Ia cukup berkonsentrasi pada musik dan para penyanyi. Berkat tim yang kuat, mereka memiliki banyak sekali patron dan sponsor tetap.

Dari sudut pandang paduan suara, Indonesia berbeda dengan Latvia, atau negara-negara lain di Eropa. Dalam hal musikalitas berpaduan suara, kita terbilang masih muda. Baru pada sekitar akhir tahun 90-an paduan suara di Indonesia, dirintis oleh Paduan Suara Universitas Parahyangan (Avip Priatna) pada waktu itu, mulai menggiatkan musik paduan suara dalam format klasik, dengan menyertakan repertoar zamani. Sejak saat itu, perlahan tapi pasti, satu persatu paduan suara lain juga mulai menunjukkan pencapaiannya, entah dari keikutsertaan dalam lomba atau konser reguler. Kita mulai bangun dari tidur panjang. Berkat kegigihan para konduktor dan para penyanyi, Indonesia mulai terdengar di panggung internasional, bukan melulu karena eksotisme musik oriental macam angklung dan gamelan Jawa, tapi benar-benar musik paduan suara yang layak disandingkan dengan paduan suara internasional. Jika budaya musik paduan suara dipertahankan seperti ini, jika gedung-gedung konser penuh dengan jadwal penampilan paduan suara, jika sekolah-sekolah dipenuhi dengan alunan harmoni musik paduan suara di samping musik populer, maka gw rasa, dalam beberapa tahun, kita juga akan memiliki budaya paduan suara tersendiri, khas Indonesia. 

Lalu, buat apa sih semua ini? Cuman buat kebanggaan menjadi bangsa Indonesia?

Well, I wonder.

Gw cenderung lebih suka meneguhkan idealisme gw murni pada perayaan musikal. Dalam dunia yang semakin mengglobal dan interkultural, rasanya jargon-jargon nasionalisme sudah tidak terlalu relevan, apalagi dalam musik. Tapi baiklah, jika itu yang menjadi opini publik, gw tidak menyalahkan. Yang jelas, musisi terbaik, pada akhirnya, adalah mereka yang mencintai musik atas nama keindahan musik itu sendiri, bukan karena tuntutan sektarianisme yang cenderung membelah bukannya menyatukan.

Untuk Batavia Madrigal Singers dan semua penggiat paduan suara, cheers!

Artistri Menurut The Sixteen dan Harry Christophers

The Sixteen dan Harry Christophers

Saat ini, tidak ada paduan suara lain yang lebih sering gw dengarkan selain The Sixteen. Berkat media penyedia musik cuma-cuma macam Spotify dan Deezer, dengan penuh ketertarikan dan keingintahuan gw menjelajahi satu per satu album rekaman ansambel vokal profesional yang dikomandoi oleh Harry Christophers ini. Sejak tahun 1979 hingga 2013, The Sixteen sudah memproduksi lebih dari 100 album rekaman musik paduan suara 600 tahun terakhir. Fantastis! Gw rasa belum ada ansambel vokal lain yang menandingi mereka. Bukan hanya kuantitas, tapi setiap album yang mereka rilis dipuji oleh banyak kritisi musik sebagai hasil seni berstandar tinggi. Mereka telah memenangi begitu banyak penghargaan tertinggi seperti Grand Prix du Disque dan Schallplattenkritik. Album “Renaissance: Music for Inner Peace” mereka memenangi Gramophone Award, sementara  album “Ikon” mereka dinominasikan untuk Grammy Award pada tahun 2007, dan album rekaman “Messiah” yang kedua mendapat penghargaan MIDEM Classical Award 2009 yang prestisius. Gw dengan penuh antusiasme mengundang teman-teman semua untuk mengapresiasi musikalitas mereka di sini.

Salah satu lagu dari album yang memenangi Gramophone Award tersebut bisa kalian nikmati di YouTube: Libera Nos gubahan komponis zaman Tudor John Sheppard. Simak bagaimana warna vokal soprano mereka yang sangat terang dan sama sekali tak bervibrato. Lalu coba juga dengarkan suara alto mereka yang seluruhnya dinyanyikan oleh para pria! Tenornya yang sorgawi, dan bassnya yang beresonansi. Ah, dengerin sendiri deh!

Dalam lema blog mengenai supremasi paduan suara, gw sempat menyebut nama The Sixteen, dalam bahasan mengenai pelbagai cara mencapai kejayaan dan nama besar paduan suara. Nah, senada dengan lema tersebut, The Sixteen juga dikenal oleh masyarakat paduan suara dunia lewat konser-konser mereka yang berkualitas. Mereka tampil di gedung-gedung konser terkemuka di pelosok Eropa, Jepang, Australia, dan benua Amerika. Gw cukup beruntung sempat menonton salah satu konser mereka di Queen Elizabeth Hall, London, pada tahun 2010. Mereka telah dengan sangat berbaik hati menjual tiket konser seharga £10. Selain menjadi bintang konser, mereka juga menjadi bintang program serial televisi Sacred Music di BBC 4, yang beberapa episodenya bisa kalian lihat di YouTube. Gw mengumpulkan beberapa episode lengkapnya di sini.

Sacred Music BBC

Ada banyak hal yang gw rasa bisa kita pelajari dari The Sixteen. Selama lebih dari 33 tahun keberadaannya, The Sixteen dikenal masyarakat paduan suara di seluruh dunia karena komitmennya pada musik. Mereka memegang reputasi untuk karya polifoni Inggris kuno, mahakarya kala Renaissance, interpretasi baru untuk musik zaman Barok dan Klasik, dan tentunya juga pelbagai gubahan musik modern dan kekinian. Pada jantung segala pencapaian ini adalah Harry Christophers, sang pendiri The Sixteen yang hingga kini masih berkomitmen pada artistri dan musikalitas ansambel yang ia pimpin.

Harry Christophers

Harry Christophers (*1953) mengawali perjalanan musikalnya sebagai anak paduan suara di Katedral Canterbury dan pemain klarinet dalam orkestra sekolahnya di King’s School, Canterbury. Segera setelah ia belajar Studi Peradaban Klasik di Universitas Oxford selama 2 tahun, Christophers langsung memulai karier musiknya. Adalah sekitar waktu itu ia mendirikan The Sixteen pada tahun 1979. Sejak itu, bersama ansambel vokal dan ansambel instrumentalis musik zamani The Sixteen, Christophers memproduksi musik berkualitas tinggi. Coba dengarkan interpretasi mereka terhadap gubahan Gregorio Allegri Miserere yang diambil dari salah satu episode Sacred Music.

Filosofi Christophers mengenai perannya sebagai pengaba menurut gw menarik. Ia bilang, sebagai konduktor, ia bertanggung jawab untuk ‘memberi makan’ para musisi yang ia aba, baik itu vokalis maupun instrumentalis, sedemikian hingga energi musik yang dibangun sampai ke audiens. Tentang rekrutmen penyanyi, ia juga memiliki pandangan tersendiri. Ia percaya bahwa selain kualitas individual para penyanyinya (kemampuan prima vista, musikalitas tinggi dan daya tanggap yang cepat, intonasi sempurna dan perasaan ritmis yang tajam), 50% sisanya adalah bahwa setiap penyanyi harus memiliki karakter yang baik. Pada akhirnya, adalah kerjasama tim yang menentukan keberhasilan mereka sebagai paduan suara. Kesediaan untuk mendengarkan satu sama lain menjadi syarat wajib.

Nah, di atas segalanya, menurut gw hal yang paling penting yang dapat kita tiru dari para musisi sejati ini adalah komitmen. Banyak penyanyi The Sixteen yang masih bernyanyi sejak grup ini didirikan. Bayangkan, lebih dari 30 tahun bernyanyi bersama. 30 tahun yang penuh musik.  Ambil contoh salah seorang kontratenornya, Chris Royall, yang bernyanyi dalam arahan Christophers sejak 1979. Atau Sally Dunkley, salah satu soprano The Sixteen, yang juga setia sejak konser pertama, sambil juga memperkuat the Tallis Scholars dan Gabrielli Consort yang mengkhususkan diri pada musik kuno dan kala Renaissance. Sally mengaku bahwa salah satu hal yang membuatnya betah bernyanyi dalam ansambel vokal ini adalah atmosfer kerjasama dalam tim yang selalu hangat dan penuh keramahan. Sang konduktor, menurut Sally, juga selalu memberi kesempatan para penyanyinya menjelajahi berbagai kemungkinan, termasuk mengembangkan karier sebagai penyanyi solo. Salah satu sopranonya yang lain, Elin Manahan Thomas, hingga kini telah mengukir karier solo tersendiri.

Nah, The Sixteen mungkin memang berada dalam tingkat musikalitas yang berbeda dari kebanyakan paduan suara, karena mereka profesional. Setiap penyanyinya menempuh pendidikan musik formal dan menjadikan musik sebagai mata pencaharian hidup. Tapi, coba renungkan, kecintaan dan komitmen mereka pada musiklah yang pada akhirnya membedakan mereka dari yang lain. Dan itu dengan mudah bisa kita dengarkan ketika mereka bernyanyi. Untuk para penyanyi paduan suara amatir seperti gw, rasanya kecintaan dan komitmen ini juga penting, karena hanya dengan itulah sebagai musisi kita terus mempertajam dan mengembangkan artistri dan musikalitas kita.

Semoga menginspirasi.

Mengapa semua orang seharusnya berpaduan suara, kata ilmuwan

Sejatinya, blog ini ditulis untuk berbagi pengalaman, wawasan, gagasan, dan keberagaman musik paduan suara. Tetapi lebih dari itu, juga supaya semua orang tertarik untuk bernyanyi di paduan suara. Mengapa? Ini argumentasinya.

Pada tahun 2010, sebagai bagian dari mata kuliah Akreditasi Pembelajaran Eksperiensial Lampau (Accreditation of Prior Experiential Learning, APEL), gw menulis portofolio akademik mengenai musik paduan suara dalam kaitannya dengan pencapaian ilmiah. Esai sepanjang 5000 kata ini memuat analisis biografis gw sendiri, sejak masa kecil yang gw habiskan di Tanah Parahyangan hingga masa tinggal sebagai mahasiswa pascasarjana di Negeri Antah Berantah pada waktu itu. Pertanyaan inti yang ingin gw selidiki dalam tulisan tersebut adalah: Bagaimana musik memberi pengaruh positif dalam pencapaian ilmiah? Nah, sebagai bagian dari proses tinjauan pustaka, gw menemukan banyak sekali kajian, penelitian, dan penemuan saintifik yang ternyata menjelaskan mengapa selama ini gw hanya merasakan manfaat dari musik paduan suara. Gw pengen banget berbagi hasil kajian ini karena gw rasa ini penting dan sangat menarik.

Bernyanyi dalam paduan suara itu menyehatkan

Sebuah studi oleh sekelompok ilmuwan dari Inggris dan Australia (Clift et al., 2007) menunjukkan bagaimana nyanyi paduan suara berdampak positif terhadap kualitas hidup, kesejahteraan, dan kesehatan. Riset yang melibatkan lebih dari 600 penyanyi paduan suara dari seantero Inggris tersebut memberikan akun empiris bagaimana mereka yang kesehatan psikologisnya relatif rendah memperoleh manfaat dari nyanyi paduan suara. Secara spesifik, empat kelompok berikut memperoleh manfaat paling besar dari nyanyi paduan suara:

  1. Mereka yang memiliki masalah kesehatan mental berkepanjangan
  2. Mereka yang memiliki masalah signifikan dalam hubungan/keluarga
  3. Mereka yang memiliki masalah kesehatan fisik
  4. Mereka yang sedang berduka karena kematian seseorang

Lebih jauh, penelitian ini juga menjelaskan bagaimana persisnya manfaat ini bekerja pada penyanyi. Para ilmuwan dari Universitas Canterbury Christ Church, Kolese Musik Royal Northern dan Universitas Griffith ini mengungkap enam “mekanisme membangun” dalam proses nyanyi paduan suara, yaitu:

  • efek positif
  • perhatian yang terfokus
  • pernapasan mendalam
  • dukungan sosial
  • rangsangan kognitif
  • komitmen teratur

Bernyanyi dalam paduan suara itu bermanfaat untuk kestabilan emosi

Dalam konteks yang berbeda, lima ilmuwan dari Jurusan Pendidikan Musik dan Jurusan Psikologi Universitas Johann Wolfgang Goethe di Jerman (Kreutz et al., 2004) juga mengungkap manfaat nyanyi paduan suara bagi kestabilan emosi. Berbeda dengan studi di atas yang lebih mengandalkan pengalaman anekdotal, studi para ilmuwan Jerman ini juga menyelidiki mekanisme fisiologis tubuh manusia dalam hubungannya dengan nyanyi paduan suara. Secara terperinci dan meyakinkan, para peneliti ini memaparkan bagaimana sekresi hormon Imunoglobulin A dan kortisol yang bertanggung jawab untuk kestabilan emosi bekerja ketika kita bernyanyi dalam paduan suara. Klaim mereka adalah berikut:

Nyanyi paduan suara menyebabkan peningkatan sekresi hormon S-Ig A, sementara efek negatif berkurang.

Menarik untuk diketahui, Kreutz dan rekan juga meneliti bagaimana mendengarkan musik paduan suara juga memberikan manfaat positif, yang ditunjukkan oleh menurunnya sekresi hormon kortisol, yang diproduksi oleh tubuh ketika kita mengalami stres. Secara konklusif, penelitian ini menemukan hubungan antara nyanyi paduan suara dengan kesehatan emosional dan kekebalan tubuh, yang ditandai oleh perubahan sekresi hormonal.

Bernyanyi paduan suara itu meningkatkan kecerdasan interpersonal

Kita mungkin pernah mendengar istilah kecerdasan majemuk (multiple intelligence) yang digagas oleh Howard Gardner pada tahun 1980-an. Dalam argumennya, Gardner menantang kepercayaan lama yang cenderung menyederhanakan istilah kecerdasan hanya berdasarkan IQ saja. Ia menegaskan bahwa kecerdasan seyogyanya ditinjau dari pelbagai sudut pandang, yaitu: linguistik, logis-matematis, spasial, kinestetik, musikal, interpersonal, intrapersonal and naturalis. Gw tentunya tidak berniat menjabarkan teori ini satu per satu, tetapi kita dengan segera dapat mengenali kecerdasan musikal dan berasumsi bahwa nyanyi paduan suara tentunya berhubungan langsung dengan salah satu dimensi tersebut. Tetapi ada yang lain.

Pada tahun 2005, Bailey & Davidson dari Jurusan Musik Universitas Sheffield di Inggris menerbitkan hasil penelitian mereka. Kedua ilmuwan ini memfokuskan diri pada sekelompok tuna wisma terpinggirkan dan sekelompok penyanyi dari masyarakat kelas menengah. Seperti kedua hasil penelitian di atas, studi ini juga mengkonfirmasi efek positif nyanyi paduan suara terhadap kestabilan emosi. Tapi lebih dari itu, kelompok pertama menganggap bahwa bernyanyi dalam paduan suara telah membantu mereka dalam berhubungan sosial dan interpersonal. Hasil penelitian ini menyiratkan bahwa musik paduan suara, yang mungkin oleh beberapa orang dianggap sebagai musik elitis dan eksklusif, yang hanya bisa dinikmati dan digeluti oleh orang-orang tertentu saja (masyarakat gereja? mahasiswa? murid-murid sekolah vokal? orang kota? orang Eropa? dsb.), sejatinya juga bermanfaat untuk semua orang, tak terkecuali.

Dalam untaian kata sendiri:

When all of them seemed to turn out uneventful, I fell into the depth of despair. Fortunately enough for me, all through those uncertain times, music had always been my way of seeking refuge from the pressure of my goals and, thus, resuming the balance, the equilibrium. (Agustian 2010)

Kutipan tersebut diambil dari portofolio yang gw sebutkan di atas. Diawali dengan beberapa kali tatapmuka dengan Anz Buzzoni, dosen di universitas yang di Belanda, dimatangkan selama masa tinggal singkat di Republik Ceko, esai ini baru selesai ketika gw kembali ke Inggris tahun 2010. Dr Sulochini Pather, programme convener gw dari Roehampton University, memberi gw nilai A gendut untuk esai ini ^^. Dia membacakan sepenggal esai ini pada malam terakhir konferensi internasional mengenai pendidikan inklusif di Grove House, gedung yang sama tempat gw ujian sidang disertasi. Tiap kali gw mengingat momen ini, gw selalu terharu, karena musik telah menjadi bagian yang sangat penting dalam hidup gw. Meskipun gw nggak pernah berniat mengambil pendidikan formal dalam bidang musik, atau menjadikan musik sebagai mata pencaharian, gw tahu bahwa kecintaan gw pada musik paduan suara menjadi alasan yang cukup untuk gw meluangkan waktu ekstra di luar pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Dalam untaian kata Paul McCartney:

I love to hear a choir. I love the humanity to see the faces of real people devoting themselves to a piece of music. I like the teamwork. It makes me feel optimistic about the human race when I see them cooperating like that.

-Paul McCartney

Nah, silakan sebarkan kabar gembira ini: nyanyi di paduan suara yuuuuuuuu.

Shakespeare, tergubah dan terlaras

Musik dan sastra adalah dua matra seni yang sering tak terpisahkan. Ada lebih dari cukup komposisi musik yang mengangkat teks sastra sebagai medium penyampaian makna. Pula sebaliknya, ada lebih dari cukup karya sastra yang merajut musik sebagai ornamen cerita. Dalam salah satu mahakaryanya, sastrawan terbesar Inggris, Shakespeare, melukiskan dengan penuh sensualitas bagaimana Orpheus, seorang nabi dari mitologi Yunani, berdaya menaklukkan gunung dan pepohonan ketika ia bernyanyi dan memainkan kecapinya. 

Orpheus with his lute made trees,
And the mountain tops that freeze,
Bow themselves, when he did sing:
To his music plants and flowers
Ever sprung; as sun and showers
There had made a lasting spring.

(cuplikan dari Henry VIII, 3.1.4-15)

Dunia paduan suara tentunya juga sangat erat hubungannya dengan dunia sastra. Banyak sekali komposisi paduan suara, terutama dari genre sekular, yang mengadaptasi teks sastra, baik dari puisi maupun cuplikan prosa. Komponis supratenar macam Eric Whitacre, misalnya, beberapa kali mengadaptasi teks karya Octavio Paz. Karya-karya sekular Johannes Brahms dan Felix Mendelssohn juga banyak yang mengangkat teks karya Johann Wolfgang von Goethe. Dari negeri sendiri, komponis dan pianis Ananda Sukarlan bahkan secara struktural memperkenalkan apa yang ia sebut sebagai ‘musik sastra’. Ananda mengangkat beberapa teks karya pujangga tanah air, seperti Sapardi Djoko Damono dan Seno Gumira Ajidarma. Selain itu, komponis avant garde Tony Prabowo juga menulis dua opera, King’s Witch dan Kali, yang teksnya diadaptasi dari karya Goenawan Mohamad.

Mengapa para komponis memiliki ketertarikan yang sangat besar untuk mengangkat teks sastra dalam komposisinya?

Tentang ini, komponis dan konduktor produktif Kirke Mechem memiliki pandangan yang menarik. Menurut Mechem, sebuah komposisi paduan suara dipahat oleh teksnya. Teks sekular pada khususnya, baik berbentuk puisi maupun prosa, lebih beragam dan berkarakter, dibandingkan teks sakral. Hal ini memungkinkan komponis berkreasi lebih bebas. Ada banyak hal menarik lain yang berhubungan dengan kepekaan terhadap kohesi dalam penggunaan teks sastra. Tapi, lema blog kali ini tidak akan membahas tentang itu.Kita akan menyempitkan fokus ke salah satu pujangga agung dalam sejarah, Shakespeare, yang gw kutip di atas.

Shakespeare

Kebesaran nama Shakespeare telah mengilhami banyak komponis paduan suara dalam musik yang mereka gubah. Keindahan dan kedalaman makna teks Shakespeare mendapatkan jiwa baru ketika ia digubah dan dilaras. Sayangnya, meskipun kajian tentang karya-karya Shakespeare dapat dengan mudah kita temukan di perpustakaan, studi mengenai teks Shakespeare dalam musik masih sangat jarang. Gw agak kesulitan mengumpulkan referensi yang relevan oleh karenanya. Studi oleh Mike Ingham berikut mewakili kelangkaan ini. Berikut ini gw akan mencoba menyenarai beberapa gubahan paduan suara yang mengangkat teks Shakespeare.

  1. Robert ApplebaumShall I Compare Thee to a Summer’s Day? – 2006
  2. Jean Berger3 Roundelays – 1965
  3. Benjamin Britten5 Flower Songs (To Daffodils; The Succession of the Four Sweet Months; Marsh Flowers; The Evening Primrose; Ballad of Green Broom) – 1950
  4. George Chadwick4 Choruses (Inconstancy; It was a Lover and His Lass; Mary’s Lullaby; Miss Nancy’s Gown) – 1910
  5. Frederick Delius4 Old English Lyrics (It was a Lover and His Lass; So White, so Soft, so Sweet is She; Spring, the Sweet Spring; To Daffodils) – 1916
  6. David Dickau3 from Shakespeare (O Mistress Mine; Sylvia; Sweet Lovers Love the Spring) – 2010
  7. Emma Lou Diemer3 Madrigals (Twelfth Night; Measure for Measure; Much Ado about Nothing) – 1962
  8. Matthew HarrisBook I – 1989; Book II – 1990; Book III – 1992; Book IV – 1995; Book V – 2002
  9. Knud Jeppesen, 4 Shakespeare Songs (Blow, Blow Thou Winter Wind; Winter; Spring; Under the Greenwood Tree) – 1940
  10. Sven-Eric JohansonFancies I+11 (Sylvia; Under the Greenwood Tree; Blow, Blow Thou Winter Wind; Fancy; O Mistress Mine; Lovers Love the Spring; Winter; Dirge; Hark! Hark! The Lark) – 1974
  11. Juhani Komulainen4 Ballads of Shakespeare (To Be, or Not to Be; O Weary Night; Three Words; Tomorrow and Tomorrow)
  12. Nils LindbergO Mistress Mine (Carpe Diem; A Madrigal; Shall I Compare Thee to a Summer’s Day) -1990
  13. George Macfarren7 Shakespeare Songs (Orpheus with His Lute; When Icicles Hang by the Wall; Come Away, Come Away, Death; When Daisies Pied; Who Is Silvia; Fear No More the Heat o’ th’ Sun; Blow, Blow, Thou Winter Wind) – 1860-4
  14. Jaakko Mäntyjärvi4 Shakespeare Songs (Come away, Death; Lullaby; Double, Double Toil and Trouble; Full Fathom Five) – 1984
  15. Frank MartinSongs of Ariel (Come unto These Yellow Sands; Full Fathom Five; Before You Can Say; You Are Three Men of Sin; Where the Bee Sucks) – 1950
  16. Gyorgy OrbanOrpheus with His Lute – 2000; O Mistress Mine – 2002
  17. Häkan Parkman3 Shakespeare Songs (Sonnet 76; Madrigal; Sonnet 147) – 1996
  18. Ernest RobertsonChoruses, Op. 16 (Music has Charms; Orpheus and His Lute; To Music, to Becalm His Fever) – 1985
  19. John RutterSongs and Sonnets from Shakespeare (Live with Me and Be My Love; When Daffodils Being to Peer; It was a Lover and His Lass; Spring; Who is Sylvia; Fie on Singul Fantasy; Hey, Ho, the Wind and the Rain) – 1975; Birthday Madrigals (It was a Lover and His Lass; Draw on, Sweet Night; Come Live with Me; My True Love Bath My Heart; When Daisies Pied) – 1975
  20. Nancy WertschShakespeare Suite (It was a Lover and His Lass; Oh Mistress Mine; Daffodils) – 2006
  21. Ralph Vaughan Williams3 Shakespeare Songs (Full Fathom Five; The Cloud-Capp’d Towers; Over Hill, over Dale) – 1951

Masih ada banyak lagi komposisi berdasarkan teks Shakespeare yang bisa kita temukan dalam pustaka musik. Kalau ada yang mau menambahkan, silakan. Daya tarik karya sastra dalam musik paduan suara, apalagi sekaliber Shakespeare, rasanya terlalu menarik untuk tidak kita jelajahi. Seperti yang Mechem kemukakan di atas, teks sekular semacam ini membuka segala kemungkinan interpretasi dan eksplorasi musikal. Senarai di atas sudah lebih dari cukup untuk sebuah program konser yang ‘menggigit’, ketimbang melulu menyajikan program konser paduan suara gado-gado yang umumnya kita ketahui.

Nah, selamat bereksplorasi dengan Shakespeare.

Sebagai pamungkas, silakan nikmati rendisi RIAS Kammerchor (Daniel Reuss) untuk Songs of Ariel (Frank Martin), yang juga akan menjadi salah satu repertoar konser Hollands Vocaal Ensemble bulan depan, bersama dengan Britten, Williams, Delius, dan Glass.

Resital Vokal dan Kendali Mutu

“Kalo nyanyi keroyokan di paduan suara kayak gitu, lu nggak perlu punya suara bagus-bagus amat dong. Kan keroyokan…”

Kira-kira begitulah seorang kenalan gw waktu kuliah sarjana dulu pernah berkomentar mengenai paduan suara. Terdengar dangkal dan agak melecehkan, mungkin. Tapi kalau dipikir, komentar ini mau tidak mau membuat gw duduk sejenak dan berpikir: sejauh apa kita dituntut untuk bisa bernyanyi sebagai seorang penyanyi paduan suara? Atau mungkin lebih tepatnya, setinggi apa ekspektasi paduan suara tentang kualitas individual setiap penyanyinya?

Setiap paduan suara mungkin memiliki ekspektasi yang berbeda-beda dalam hal kualitas individual penyanyinya. Hal ini semata-mata disebabkan oleh sumberdaya yang tersedia, kemampuan musikal para penyanyi (dan juga pengaba), dan tujuan pendirian serta sasaran audiens paduan suara. Kategorisasi amatir dan profesional juga secara otomatis memetakan ekspektasi tersebut ke dalam semacam spektrum. Ada paduan suara yang sangat teliti dalam mengaudisi dan menyeleksi penyanyinya, ada juga yang cukup bergembira-ambil-hikmahnya dengan apa yang ada dan mencoba membangun kualitas nyaris dari titik nadir. Di antara kedua ekstrem tersebut, paduan suara mana pun boleh menentukan sendiri tingkat kualitas yang mereka ingin capai. Hanya saja, kualitas dalam musik adalah sesuatu yang kadang abstrak dan subjektif, sehingga kita kadang suka bingung sendiri di mana paduan suara yang kita geluti sekarang berada dalam spektrum tersebut. Namun, satu hal rasanya dapat dipastikan, bahwa setiap paduan suara ingin terus menjadi lebih baik. Bukankah begitu, Bu Dewi? ^-^

Spektrum kualitas

Dalam kurun waktu 2004 hingga 2009 dulu, ketika gw mulai merambah dunia musik di Jakarta dan sekitarnya, gw mengamati beberapa paduan suara independen (biasanya tidak terikat dengan institusi tertentu, macam gereja atau lembaga pendidikan) yang pada suatu hari didirikan, kemudian menggelar satu atau dua konser, atau mengikuti sebuah kompetisi, kemudian tidak terdengar lagi keberadaannya. Tentunya sah-sah saja untuk mengambil inisiatif mendirikan sebuah paduan suara, entah itu untuk sekedar mengumpulkan orang-orang yang sama-sama memiliki hobi bernyanyi atau serius ingin membentuk sebuah paduan suara yang layak konser. Pun tidak ada yang melarang kalau ada yang mengambil inisiatif mendirikan sebuah paduan suara sekadar untuk mencoba peruntungan dalam sebuah kompetisi (dengan catatan kaki: kalau menang paduan suara jalan terus, kalau nggak yo wis bubar jalan). Dunia musik selalu dengan tangan terbuka menyambut suara baru, genre musik baru, produksi musikal baru, wajah-wajah imut dan menggemaskan baru, dan seterusnya. Tapi lantas kita dihadapkan pada pertanyaan: apakah paduan suara dibentuk untuk lestari selama mungkin, ataukah hanya untuk semusim belaka? Semacam pertanyaan klisé long term relationship atau no strings attached? Bagaimana kita memastikan bahwa paduan suara yang kita miliki bertahan lama dan tetap merangkul audiens dari konser ke konser? Bagaimana caranya kita menjaga mutu paduan suara kita?

Dalam lema kali ini gw akan mencoba melempar satu atau dua gagasan mengenai kendali mutu dalam paduan suara.

Resital vokal dalam dunia musik klasik sudah lama dikenal dan dipraktikkan oleh para penyanyi, baik yang sudah berstatus profesional maupun yang masih mengikuti pendidikan. Batasan sederhana resital vokal adalah penampilan vokal solo, duo, atau hingga ansambel vokal kecil, biasanya diiringi satu atau dua instrumentalis. Pada dasarnya resital vokal adalah juga konser, tapi biasanya resital vokal merupakan produksi musikal berskala kecil yang sering diprakarsai oleh sang penyanyi sendiri sebagai penampil utama. Resital vokal adalah “momen sang penyanyi” untuk menunjukkan pada khalayak musik sejauh mana kemampuan dan apresiasi vokalnya berkembang dari waktu ke waktu. Makanya gw harus menggarisbawahi kata “secara teratur” karena inti dari penyelenggaraan resital vokal adalah kendali mutu, selain juga tentunya perayaan atas pembelajaran musikal yang dialami oleh sang penyanyi sejauh ini.

Nah, apakah resital vokal ini juga penting (dan berguna) diterapkan dalam sebuah paduan suara? Ya.

Komentar yang bilang kalo di paduan suara kita nggak perlu bagus-bagus amat nyanyi mungkin sedikit banyak membuat kita harus menata ulang sistem latihan dan program paduan suara kita setahun ke depan, misalnya. Konser tahunan gw rasa memang sudah jadi hajatan tetap banyak sekali paduan suara. Kalau kita tengok grup paduan suara di Facebook, kadang dalam seminggu ada lebih dari satu “annual concert” inilah, “newcomers in concert” itulah. Kita sebagai konsumen musik lalu harus memilih mau nonton konser yang mana. Pertanyaannya, apakan konser tahunan saja cukup?

Konser tahunan sejatinya diselenggarakan dengan tujuan menampilkan sebuah produksi musikal untuk publik, audiens, fans sebuah paduan suara. Sedikit-sedikit boleh lah ada pemasukan dari penjualan tiket konser, tapi utamanya sebuah konser tahunan dipersembahkan untuk dunia musik secara luas. Resital vokal, di pihak lain, ditujukan utamanya untuk kalangan sendiri. Karena skalanya yang lebih kecil dari konser, seperti gw sebut di atas, resital vokal lebih bersifat intim dan tidak terlalu formal. Tetapi ini sama sekali tidak mengurangi nilai pentingnya sebagai strategi kendali mutu paduan suara, tentunya.

Dengan menetapkan standar kualitas tinggi (alih-alih sekadar “nyanyi keroyokan, senang-senang, sudah makan pulang”), gw pikir sebaiknya paduan suara tidak hanya mengandalkan konser tahunan. Resital vokal juga sebaiknya diadakan, paling tidak setahun sekali.

Kalau ada 100 orang anggota penyanyi, apa nggak kebanyakan tuh resital satu-satu, Bang Jali?

Seting penyanyi dalam resital

Yang ini mungkin lebih bersifat teknis. Paduan suara bisa mengatur sebuah resital sedemikian hingga semua penyanyi kebagian tampil tanpa harus menunggu giliran semalaman. Caranya, buat kombinasi penampilan. Yang cukup berani dan percaya diri tampil solo boleh tampil solo. Mungkin dibatasi hingga beberapa orang saja. Sisanya, ada yang tampil duet, trio, kuartet, atau hingga ansambel vokal kecil. Yang penting adalah, semua penyanyi beroleh kesempatan untuk uji kemampuan bernyanyi dalam seting kecil.

Resital vokal, sekali lagi, adalah ajang uji kemampuan sekaligus perayaan. Semua penyanyi memiliki kesempatan yang setara untuk boleh sejenak menjadi diva dan/atau divo. Ekspektasi untuk tampil dalam resital berbeda dari konser pada umumnya. Hal ini lebih dikarenakan dalam resital, kita nggak nyanyi keroyokan, seperti kata temen gw yang nyebelin itu. Meskipun setiap penyanyi mungkin hanya kebagian menampilkan satu lagu, tapi mereka akan bekerja ekstra keras untuk bisa menampilkan yang terbaik, karena resital adalah “momen mereka”. Audiens mungkin akan mendengarkan suara mereka untuk pertama kalinya.

Nah, selamat berlatih menjadi diva/o ^^

 

Gubahan Bach yang Paling Dicintai

Suatu waktu di tahun 2012 silam gw diajak nonton konser di Grote Kerk, Naarden, sekitar 20 menit berkendara dari Amsterdam. Naarden adalah sebuah kotamadya “benteng bintang”. Disebut begitu karena kotamadya ini secara harfiah dikelilingi benteng yang kalau dilihat dari udara berbentuk seperti bintang.

Citra udara Naarden, dengan menara Grote Kerk menjulang di pusatnya, dan Danau Ijssel pada latar belakang.

Setiap tahun di bulan Maret, ketika musim semi mengetuk perlahan, gereja agung di Naarden menjadi tuan rumah sebuah pergelaran mahakarya musik yang paling dicintai di Negeri Kumpeni. Setiap tahun di bulan Maret, para tokoh politik kenamaan, termasuk sang Perdana Menteri, pesohor dan penyair, penguasa dan pengusaha, atau orang biasa, berkumpul di Naarden untuk mengapresiasi gubahan sakral yang paling sering dikonserkan di sini: Matthäus Passion karya Johann Sebastian Bach.

Begitu populernya Matthäus Passion di Belanda, tahun ini ada lebih dari 100 konser digelar di seluruh pelosok negeri, oleh orkestra dan paduan suara amatir maupun profesional. Kadang mereka membuat versi singkat dari keseluruhan musik yang bisa berdurasi lebih dari 3 jam ini. Atau ada juga kursus singkat menyanyikan bagian chorale atau memainkan bagian solo cello pada aria tenor “Geduld, geduld” (Sabarlah, sabarlah). Atau yang minggu kemarin juga sempat gw alami, Meezing Matthäus (Nyanyi-Bareng Matthäus), di mana publik juga boleh ikut bernyanyi pada bagian-bagian tertentu. Apa pun bentuk produksi musikalnya, Matthäus Passion telah menjadi tradisi perayaan Paskah sejak sekitar tahun 1870-an. Konser di Grote Kerk Naarden ini misalnya, telah ditampilkan oleh Nederlandse Bachvereniging (Masyarakat Bach Belanda) setiap tahun sejak 90 tahun yang lalu.

Menurut Jacqueline Oskamp, dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh De Groene Amsterdammer 31 Maret 1999, salah satu alasan mengapa Matthäus Passion begitu terkenal di sini adalah Willem Mengelberg (1871-1951). Selama 45 tahun berturut-turut dalam kariernya sebagai pengaba, Mengelberg menggelar Matthäus Passion, setiap tahun tak pernah terlewatkan. Hanya ketika di tahun 1944 setelah Perang Dunia II, ketika ia dilarang menjadi dirigen, barulah Mengelberg terpaksa harus berhenti. Namun, tradisi tahunan Matthäus Passion diteruskan oleh pengaba-pengaba lainnya, hingga hari ini. Dari sudut-sudut katedral dan gedung konser, di kota maupun di desa, kita  bisa mendengarkan alunan indah suara mezzosopran atau kontratenor menyanyikan “Erbarme dich” (Kasihanilah), atau hentakan mengerikan dalam “Sind Blitze, sind Donner in Wolken verschwunden” (Petir dan halilintar lenyap ditelan awan).

Begitulah, setahun yang lalu untuk pertama kalinya gw menyaksikan sendiri bagaimana masyarakat di sini, Katolik maupun Protestan, teis maupun ateis, dengan penuh apresiasi mengikuti prosesi konser yang penuh kompleksitas ini. Banyak di antara audiens membawa partitur mereka sendiri, yang seringnya sudah lecek saking seringnya dipakai. Sepanjang konser mereka mengikuti teks dan musik dalam partitur yang mereka bawa, atau buku program konser yang selalu menyertakan terjemahan teks Jerman dalam bahasa Belanda. Banyak di antara mereka yang tak kuasa menitikkan air mata, terutama pada bagian ketika Kristus disalibkan dan wafat, atau mungkin hanya karena terenyuh dengan keindahan musik dan suasana wingit yang tercipta sepanjang konser.

Begitu dramatis pengalaman tersebut berbekas dalam psike gw, hingga gw memutuskan untuk mencari paduan suara yang memang secara teratur menggelar gubahan Bach paling dicintai ini. Tahun ini, dengan penuh semangat dan kecintaan pada musik, akhirnya gw ambil bagian dalam produksi Matthäus Passion dengan Combattimento Consort (Jan Willem de Vriend), Toonkunstkoor Amsterdam (Boudewijn Jansen), Roder Boys Choir (Rintje Albert te Wies), dan solis-solis fantastis macam Andreas Weller sebagai Evangelis, Michael Kraus sebagai Yesus, soprano Claron McFadden dan Lenneke Ruiten, mezzosoprano Cécile van de Sant dan Barbara Kozelj, tenor Thomas Michael Allen, dan bariton Maarten Koningsberger. Lima konser di lima tempat: satu konser nyanyi-bareng di Concertgebouw Amsterdam, dua konser di Muziekgebouw aan ‘t Ij Amsterdam dan Philharmonie Haarlem, satu konser yang melibatkan ratusan anak-anak sekolah dasar, dan satu konser tahunan monumental tepat pada hari Jumat Agung di Concertgebouw … nanti malam.

Tahun ini gw satu repertoar Bach lebih kaya ^^. Untuk yang belum pernah mengalami sendiri keajaiban musik Bach paling dicintai yang gw bahas di sini, silakan nikmati interpretasi Philipp Herreweghe yang dinilai banyak kritisi musik sebagai salah satu yang terbaik.

Semoga menginspirasi.

Partitur: Provisi, Legalitas, dan Hak Cipta

Organ Vokal

Kalau kita ditanya apa yang paling berharga buat seorang penyanyi paduan suara, mungkin kita akan menjawab, tentunya organ vokal. Itu adalah kapital terbesar kita sebagai seorang penyanyi. Segala cara, segala daya dan upaya kita lakukan untuk membentuk, membangun, dan menjaga organ vokal kita. Kita ingin organ vokal kita juga tetap sehat, dengan hanya bernyanyi menurut teknik vokal yang sehat. Dulu gw nggak ngerti apa maksud dari pernyataan ‘bernyanyi dengan sehat’. Bernyanyi sambil makan buah-buahan gitu? Atau sambil olahraga? Belakangan gw mulai memahami bahwa teknik vokal yang sehat adalah cara bernyanyi yang sebenarnya sederhana: tidak merusak organ vokal. Apakah kemudian teknik tersebut membuat kita terdengar seperti Joan Sutherland atau malah terdengar seperti Miley Cyrus, itu bisa diperdebatkan. Tapi yang jelas, kalau kita bernyanyi dengan sehat, maka kita bisa tetap bernyanyi dengan kualitas vokal yang sama atau bertahap membaik untuk puluhan tahun ke depan. Coba lihat Edita Gruberova, seorang soprano asal Slovakia yang hingga usianya yang 66 tahun sekarang masih bernyanyi dengan indah. Lalu coba bandingkan dengan beberapa penyanyi pop yang kualitas vokalnya memudar ketika mereka mulai memasuki usia 40-50 tahun.

Lalu apa lagi dong, yang paling berharga buat seorang penyanyi paduan suara?

Buat gw, partitur adalah harta paling berharga setelah organ vokal. Mengapa? Karena dengan medium itulah gw menjelajahi segala kemungkinan dalam bermusik. Pada partiturlah segala rambu-rambu musik, ekspektasi komponis, dan proses kreatif bermusik tercetak. Kita mungkin bisa saja belajar sebuah komposisi sepenuhnya dari mendengarkan dan meniru apa yang kita dengarkan. Tapi coba bayangkan kalau sebuah paduan suara harus belajar motet “Spem in alium” (Thomas Tallis) yang ditulis untuk 8 paduan suara, masing-masing terdiri atas 5 suara. Sebuah motet untuk 40 suara! Nah lho, mungkin akan butuh waktu 40 tahun untuk bisa menyanyikan musik seekspansif itu.

Setiap kali gw dapet partitur baru, pasti itu partitur gw sayang-sayang. Apalagi kalo partiturnya berbentuk buku, macam kompilasi “Madrigals” (Claudio Monteverdi) atau “Messa de Requiem” (Giuseppe Verdi) yang nangkring di rak buku gw. Segitu sayangnya gw sama partitur, kadang-kadang gw kasi sampul. Partitur harus kita jaga dengan baik karena dua alasan:

  1. Selalu ada kemungkinan kita menyanyikan sebuah komposisi lebih dari satu kali. Mungkin dengan paduan suara yang sama, atau mungkin dengan paduan suara lain. Buku partitur “Matthäuspassion” (Johann Sebastian Bach) misalnya, gw jaga dengan baik karena setiap tahun di bulan Maret gw akan menyanyikan karya monumental ini. Atau, siapa tahu, “Vinamintra Elitavi” (Thomas Jennefelt) yang gw nyanyikan tahun lalu dengan Nederlands Studenten Kamerkoor juga akan gw nyanyikan dengen Hollands Vocaal Ensemble.
  2. Partitur itu nggak murah, dan gw berbicara tentang partitur asli, yang biasanya gw beli sendiri di toko musik, atau dikoordinasi oleh seksi repertoar TKA.

Oh… partitur mesti beli yah?

Ada terlalu banyak paduan suara yang tidak memakai partitur asli dalam latihan. Biasanya seksi latihan membagikan fotokopian partitur lagu baru pada waktu latihan. Di Indonesia mungkin seringnya partitur not angka. Kadang-kadang mungkin fotokopi partitur yang dibagikan sebelumnya sudah difotokopi beberapa kali. Tulisannya sudah nggak jelas, nggak karu-karuan. Kadang mungkin sang seksi latihan yang malang tersebut mesti nulis ulang keseluruhan partitur atau transkripsi dari not balok ke not angka sebelum difotokopi. Atau belakangan ini pada sibuk tukar-menukar partitur lewat email atau Facebook. Apa pun prosesnya, biasanya penyanyi mendapatkan partitur secara cuma-cuma.

Kita lalu dihadapkan pada dilema para penyanyi dan pelatih paduan suara yang sering kita dengar, belakangan kemudian dikeluhkan para komponis dan penggubah: boleh nggak sih pake partitur fotokopian?

Kalau gw harus membahas masalah ini hanya dari sudut pandang hukum, jawabannya jelas dan ringkas: NGGAK BOLEH.

Tapi toh, ini terjadi juga. Bahkan ketika gw sibuk menulis lema blog ini, ada bejibun-jibun paduan suara di luar sana yang sedang memfotokopi partitur baru untuk latihan nanti malam, misalnya. Ini, harus diakui, juga sangat banyak terjadi di tanah air.

Terus gimana dong Bang Jali?

Nah, gw akan mencoba sebijak mungkin membahas persoalan ini.

Gw akan harus membuat pernyataan ini dulu:

Setiap penyanyi paduan suara seharusnya hanya menggunakan partitur asli yang diperoleh secara legal dari sebuah penerbit musik, toko partitur, situs di internet, atau langsung dari sang komponis.

Hendra Agustian (2013)

Seperti halnya dengan isu hak cipta lain dalam dunia musik, hal ini penting supaya para komponis paduan suara yang sudah bekerja keras pontang-panting menulis musik juga bisa terus menulis musik. Jika para komponis menerima upah dari usahanya menulis musik sebagaimana mestinya, maka proses kreatif mereka akan terus berjalan. Mungkin ada saja orang yang memang iseng menulis lagu lalu membagi-bagikan karyanya secara cuma-cuma, tapi untuk kebanyakan komponis profesional, ini adalah sumber mata pencaharian mereka. Seluruh pelaku paduan suara yang bijak seharusnya mengetahui hal ini.

Strathclyde Motets (James MacMillan)

Apa yang terjadi kalau kerja keras para komponis ini tidak dihargai sebagaimana mestinya? Mereka akan berhenti menulis musik. Kalau mereka berhenti menulis musik, tidak ada lagi perkembangan baru dalam dunia paduan suara. Tidak ada premiér karya barunya Ronald Pohan, misalnya. Atau yang juga sekarang terjadi (dan sebenarnya sangat memalukan) adalah, seorang komponis Filipina, John Pamintuan, tidak mengizinkan pembelian partitur yang ia komposisi oleh siapa pun dari Indonesia. Ia berargumen bahwa ada terlalu banyak paduan suara di Indonesia yang telah memakai musiknya secara ilegal. Nah, kalau sudah begini kan repot.

Lalu bagaimana dong? Kita pengen tetep nyanyi paduan suara, tapi kita hanya memiliki dana yang terbatas?

BISA.

Ada banyak cara untuk melakukan hal ini. Yang paling mudah dan murah tentunya mengunduh langsung dari internet. Beberapa situs di internet memang dibuat sebagai open source. Coba kunjungi beberapa situs berikut. Kalau ada yang juga memiliki informasi lain, gw mengundang teman-teman semua untuk juga berbagi di sini.

  1. Petrucci Music Library
  2. ChoralWiki
  3. Choralnet
  4. Free Scores
  5. Hear Choirs
  6. Cipoo
  7. Werner Icking

Perlu diketahui, ada lebih dari cukup koleksi musik yang bisa kita nyanyikan dalam situs-situs gratis tersebut. Kalau memang dana untuk membeli partitur asli tidak ada, ya sudah, berkreasilah dengan yang gratis-gratis saja. Gw dulu suka iseng membuat semacam program konser hanya dengan memanfaatkan partitur gratis yang ada di CPDL. Kenapa nggak?

Cara lain, yang baru gw alami selama bergabung di Belanda sini, adalah dengan menyewa partitur. Ini juga legal. Di Belanda ada beberapa perpustakaan musik dan perpustakaan umum yang menyewakan partitur untuk paduan suara. Misalnya untuk program konser bulan Juni nanti, Hollands Vocaal Ensemble (HVE) menyewa partitur “Five Flower Songs” (Benjamin Britten) dari Bibliotheek KCZB di Voorschoten. Sementara itu, rupanya HVE memiliki sekitar 30 partitur asli “Songs of Ariel” (Frank Martin) yang dipinjamkan kepada penyanyi. Nah, ini dulu gw alami juga dengan BMS. Gw inget dulu gw dipinjami BMS partitur “Vem da je zopet” (Lojze Lebič). Begitu program konser selesai, partitur diserahkan kembali dalam keadaan masih bagus, bersih dari coretan.

Nah, menjadi masalah besar kemudian, ketika sebuah paduan suara keukeuh alias bersikeras ingin menggarap sebuah komposisi paduan suara karya seorang komponis (yang seringnya masih hidup), tapi tidak mau berinvestasi dalam partitur asli. Ini biasanya karena mereka latah “pengen bawain Whitacre”, misalnya. Atau karena paduan suara yang baru pulang kompetisi di luar negeri bawain sebuah komposisi baru dari Budi Susanto Yohanes. Lalu pada sibuk minta fotokopian partitur itu.

Menurut gw ini seharusnya tidak terjadi. Kita ingin para komponis, terutama yang masih mengawali karier mereka, terus berkarya. Kita ingin mereka mendapatkan kompensasi yang semestinya untuk apa yang telah mereka usahakan. Kreativitas dalam seni tidak ada batasnya, dan kita ingin mendengarkan karya baru dari para komponis, baik yang muda maupun yang sudah mapan. Kalau gw memperoleh kesempatan, gw akan dengan senang hati mempremiérkan sebuah komposisi Budi Susanto Yohanes, misalnya, di Belanda. Mengapa tidak? Publik paduan suara di sini rasanya masih rada awam dengan musik paduan suara dari Indonesia.

Demi kejayaan musik, mulai sekarang, mari kita lebih menghargai hak cipta dalam dunia paduan suara.