Ada Apa dengan Kompetisi dan Supremasi?

Belakangan ini di Indonesia ada semakin banyak paduan suara yang rame-rame ikutan lomba paduan suara tingkat internasional. Nyaris semuanya pulang membawa predikat kemenangan, baik dalam bentuk diploma, medali, maupun peringkat. Semuanya sepertinya sepakat bahwa kemenangan dalam kompetisi internasional menjadi syarat mutlak untuk sebuah paduan suara diperhitungkan dalam dunia musik. Gw punya pandangan yang sedikit berbeda mengenai ini. Menurut gw, supremasi paduan suara itu bisa dicapai dengan berbagai cara.

Pertama, paduan suara (kebanyakan profesional) meraih supremasi mereka dengan merilis album rekaman yang mereka jual. Contohnya adalah nama-nama besar macam The Sixteen (Harry Christopher), Polyphony (Stephen Layton), dan Tenebrae (Nigel Shorts), yang semuanya berbasis di Inggris. The Sixteen yang didirikan tahun 1979 sampai sekarang sudah merilis lebih dari 90 album rekaman. Kalian bisa cek (nyaris) semua album ini gratis di Spotify. Apa mereka pernah ikut kompetisi? Nggak pernah sama sekali. Tapi mereka punya jadwal konser, rekaman, dan program edukatif yang sangat padat. Begitu pun Polyphony, yang diklaim sebagai ansambel vokal dengan musikalitas terbaik di dunia (menurut Encore Magazine, USA). Menurut gw sejauh ini belum ada yang menandingi kejernihan vokal dan intonasi mereka.

The Sixteen: Miserere mei Deus (Gregorio Allegri)

Polyphony: Les chansons des roses (Morten Lauridsen)

Tenebrae: Après un Rêve (Gabriel Fauré; arr. Alexander L’Estrange)

Kedua, paduan suara juga bisa meraih supremasi dengan menggelar konser berkualitas secara berkala. Kebanyakan paduan suara profesional menempuh cara ini, di samping merilis album rekaman. Nederlands Kamerkoor (Risto Joost) contohnya, mereka bisa sampai 10 kali per bulan gelar konser, di samping lebih dari 80 album rekaman). Banyak paduan suara yang menggelar konser tematis, misalnya membawakan komposisi sakral karya Poulenc, itu sudah bisa jadi satu konser. Atau membawakan komposisi tentang Perang Dunia II (misalnya bawain Penderecki). Atau tentu saja berdasarkan periode musik (Renaissance, zaman Tudor di Inggris, atau kontemporer).

Nederlands Kamerkoor: Curse upon Iron (Veljo Tormis)

Ketiga, paduan suara bisa meraih ketenaran di mata publik yang lebih luas dengan mengikuti festival non kompetitif. Di Indonesia nggak banyak event semacam ini, tapi di luar negeri ada banyak kesempatan untuk menggelar konser sebagai bagian dari sebuah festival. Polyfollia Festival di Normandia dan Europa Cantat adalah contohnya. BMS pernah 2 x ikut Polyfollia, sementara proyek tahunan Nederlands Studenten Kamerkoor (Kurt Bikkembergs) yang gw ikuti tahun lalu juga udah 2 x ikutan Europa Cantat. Yang kalian sebut-sebut sebagai FLN (festival luar negeri) menurut hemat gw, seharusnya mengacu pada festival non kompetitif, karena festival paduan suara lebih bermuatan perayaan ketimbang pertandingan.

Nederlands Studenten Kamerkoor: Tempus Fugit (Edwig Abrath)

Batavia Madrigal Singers: Salve Regina (Josef Rheinberger)

Keempat, supremasi paduan suara bisa juga diraih dengan menjuarai kompetisi. Nah, ini yang gw amati belakangan menjadi tren di Indonesia dan Asia secara umum. Kalau kompetisi nasional dulu menjadi hajatan besar paduan suara, sekarang kompetisi internasional seperti menjadi proyek wajib, mulai yang berbasis perguruan tinggi sampai paduan suara rohani. Salah satu pionirnya siapa lagi kalo bukan Philippine Madrigal Singers (Marc Anthony Carpio). Di Indonesia PSM Unpar menjadi salah satu paduan suara Indonesia pertama yang menjuarai kompetisi internasional tahun 1995 dulu. Sejak awal 2000an, tiba-tiba semua paduan suara pada latah ikutan kompetisi internasional. Rasanya kalo belum jadi juara, atau merebut diploma tertentu, pada sebuah kompetisi internasional di negara anu, kayaknya tuh belum lengkap aja. Dan orang biasanya akan bertanya, “Udah menang di mana aja mereka?” atau kadang dengan nada agak sinis “Oh, juara, dapet urutan berapa?” atau “Medali perunggu doang?”. (I actually read these sort of nasty comments on several online choral forums.)

Philippine Madrigal Singers: We beheld once again the stars (Randall Stroope)

Paduan Suara Mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan: Luk Luk Lumbu (arr. Budi Yohanes)

Nah, gw sendiri berpendapat sebenarnya paduan suara nggak perlu ikutan kompetisi untuk membuktikan diri kalau mereka bisa dan luar biasa. Kebesaran nama bisa juga kok ditempuh dengan menempuh tiga cara pertama di atas.

Kalau memang sebuah paduan suara memutuskan untuk mengikuti sebuah kompetisi, gw cenderung berpikir, ya udah, “If you want to do it, make sure you do it right.”

Yang namanya kompetisi, aturan mainnya pasti sama: ada yang menang, ada yang kalah. Kita tentu saja bisa selalu beranggapan, yang penting pengalaman, menang atau kalah nomor sekian. Well, siapa pun tentu boleh berpendapat begitu. Tapi menurut gw, sponsor, donatur, dan publik secara umum tentunya tetap berharap tim pulang dengan membawa kemenangan. Nah, di sinilah titik di mana kompetisi menjadi sebuah ‘tugas’ yang nggak bisa dianggap sembarangan. Kenapa? Karena keberangkatan tim ke sebuah kompetisi melibatkan banyak kepentingan, yang seringnya berbentuk materi (baca: duit). Belum lagi pengorbanan waktu, tenaga, dan pikiran, yang semuanya bermuara pada sebuah tujuan: “Kita harus menang.”

Terus gimana dong?

Setelah sekitar 14 tahun aktif ikut ambil bagian dalam dunia padsu, gw sedikit banyak mengerti bagaimana  kualitas padsu ditentukan oleh banyak faktor: penyanyi, pelatih, dan sistem latihan. Dalam kasus padsu profesional, mereka tentunya memang dituntut untuk selalu memberikan performa terbaik, karena mereka dibayar. Setiap penyanyinya hampir bisa dipastikan memang menempuh pendidikan musik formal, dan memiliki jejak rekam karier tersendiri sebagai seorang solo. Siapa pun pelatihnya, seperti Nederlands Kamerkoor yang gw sebut tadi, padsu profesional biasanya tetap bagus, karena mereka tidak berkutat dengan ‘pembinaan’ anggota. Pelatih dan/atau konduktor cuma tinggal nyamain interpretasi dan mastiin kalo sonoritas tercapai. Ini juga kadang nggak mudah karena penyanyi profesional cenderung berjiwa solo, jadinya butuh waktu dan usaha juga untuk mencapai sonoritas (keseragaman vokal). Sistem latihan juga pastinya padsu profesional lebih established. Buat mereka, kalo anggotanya madol latihan, ya udah, pecat aja, buka audisi buat anggota baru.

Nah, kalo PSM (dan padsu amatir pada umumnya) gimana tuh ceritanya?

Suka atau tidak suka, kita tentunya nggak bisa disamain sama padsu profesional. Dari segi anggota, kita terdiri dari mahasiswa yang mungkin sama sekali nggak berlatar belakang musikal. Gw sendiri waktu masuk Agria dulu punya pengalaman nol besar dalam musik klasik, apalagi paduan suara. Belum lagi masalah regenerasi anggota yang pastinya berkisar setiap 1-4 tahun. Yang masih aktif mahasiswa juga belum tentu aktif selama masa kuliah di IPB. Yang sudah alumni pasti punya komitmen lain, belum lagi yang udah berkeluarga dan punya anak. Ini pada akhirnya juga mempengaruhi sistem latihan yang ujung-ujungnya berpengaruh besar pada kualitas padsu.

Kenyataan yang kita hadapi adalah, formasi dan komposisi tim (inti) padsu yang berangkat kompetisi itu selalu berubah, sehingga kualitas padsu nggak pernah sama. Setiap kali harus mulai dari awal, atau paling tidak, mundur beberapa langkah lalu maju lagi. Nah, karena keadaannya seperti ini, padsu harus memiliki pertimbangan yang sangat matang dalam mengikuti kompetisi.

Mungkin sebaiknya gw bikin statement aja kali ya, “Ikut kompetisi untuk menang, ikut festival untuk pengalaman.”

Apa saja yg perlu dipertimbangkan sebelum ikut kompetisi?

1. Menyadari dan melihat dengan kritis sebaik apa kualitas paduan suara kalian sekarang.

Segera setelah setiap konser (juga kalo bisa setiap latihan dengan pelatih di BS misalnya), dengerin live recordingnya, lalu nilai sama-sama. Bisa pake game kayak di American Idol, kalian yg jadi juri penampilan kalian sendiri. Abis itu terus bandingkan sama rekaman repertoar yang sama dari padsu lain (kalo bisa yg emang bener2 bagus) yg bisa kalian temukan di YouTube atau Spotify. Jadilah pendengar yg kritis. Menjadi kritis terhadap performance diri sendiri itu penting, karena hanya dengan cara itulah kita bisa terus menjadi lebih baik.

2. Mengetahui peta kesulitan kompetisi yang akan diikuti.

Anggaplah dari hasil pertimbangan pertama, kita berpikir, “Hmm… Agria masih harus banyak belajar, tapi kita pengen banget ikut kompetisi tahun ini/tahun depan.” Nah, selanjutnya yg sebaiknya kita lakukan adalah mencari kompetisi yang kira-kira berada dalam level kita.

Apa semua kompetisi padsu (internasional) itu sama?

Sama sekali nggak. Perbedaan ini bisa kita lihat dari tuntutan artistik kompetisi, kompetitor yang biasanya ikutan, dan sistem kejuaraan. Sejauh ini menurut gw yg berada di level paling sulit adalah European Grand Prix for Choral Singing. Why? Karena untuk jadi juara EGP, sebuah padsu harus jadi juara 1 (grand prix) pada kompetisi setahun sebelumnya. Ada 6 kompetisi yg termasuk dalam EGP, kalian bisa lihat di websitenya. Tahun ini BMS akhirnya jadi juara 1 salah satu kompetisi tersebut (Varna). Artinya, tahun depan mereka tanding lagi untuk memperebutkan gelar juara EGP. Padsu yang sekelas BMS pun (sepengamatan gw mereka adalah yang terbaik di Indonesia saat ini), nggak langsung berhasil jadi juara 1. Dulu tahun 2001 di Tours, mereka belum berhasil juara umum, tapi tentunya dapet gelar juara lainnya. Tahun 2006 di Tolosa, baru sempet jadi finalis. Tahun 2009 di Maribor, baru sempet jadi juara 3. Tahun 2010 di Arezzo juga belum berhasil juara 1. Baru tahun ini akhirnya mereka menang. Tahun yg sama Paragita UI dan Gracioso Sonora juga mencoba kompetisi EGP (Debrecen), tapi dua2nya juga belum berhasil.

Di bawah EGP, menurut gw yang juga sangat menantang adalah kompetisi-kompetisi berikut:

  • Llangollen International Musical Eisteddfod, UK. Kalo juara, gelarnya juga nggak tanggung2, Choir of the World. Univ. of Santo Tomas Singers dari Filipina udah pernah 2x merebut gelar tertingggi ini. Unpar nyoba tanding tahun 2010, tapi sayang belum berhasil.
  • Cork International Choral Festival, Irlandia, juga sangat sulit. Kompetisi ini merupakan salah satu kompetisi internasional tertua di dunia. Tuntutan artistiknya sangat tinggi. Tapi selain gelar juara 1,2,3, ada juga tropi2 tertentu. Istilahnya, kalo nggak juara, mungkin salah satu tropi ini bisa dibawa pulang.
  • The International Harald Andersén Chamber Choir Competition , Finlandia. Yes, ini juga merupakan salah satu kompetisi tersulit selain EGP. Selain karena tuntutan artistik yang sangat tinggi (mereka nggak mau kasi juara 1 kalo emang padsu yang menang nggak memenuhi standar artistik mereka), kompetisi ini juga digelar 3 tahun sekali. Artinya, semua kompetitor hanya punya kesempatan setiap 3 tahun untuk mencoba.

Selain kompetisi2 tersebut, International Chamber Choir Competition Marktoberdorf, Jerman dan International Competition for Choirs, Spittal an der Drau, Austria juga terkenal sulit.

University of Santo Tomas Singers: Gabaq An

Nah, di bawah kompetisi-kompetisi tersebut, ada juga kompetisi yang relatif belum begitu dikenal, tapi juga memakai sistem kejuaraan 1,2,3, macam kompetisi di Internationaler Chorwettbewerb Miltenberg, Jerman, dan Festival Internacional de Musica Cantonigros, Spanyol. Ini juga dianggap sulit karena hanya 3 paduan suara yang pulang membawa gelar juara.

Yang relatif mudah tentunya kompetisi-kompetisi Musica Mundi (Interkultur Foundation). Di antaranya adalah yang kita ikuti dulu di Jerman dan di Hongaria. Semua padsu pasti pulang bawa gelar. Kalo pun nggak juara 1, 2 atau 3, paling nggak bawa pulang diploma (Emas, Perak, Perunggu). Kompetisi-kompetisi Musica Mundi dianggap cetek, tapi menurut gw, masih lebih baik mengumpulkan juara-juara 1 dari kompetisi tersebut, daripada ikut kompetisi tapi sama sekali nggak dapet predikat. Boleh lihat Elfa’s Singers. Mereka nyaris eksklusif hanya ikut World Choir Games, salah satu kompetisi Musica Mundi, tapi mereka menjadi legenda di sana, karena setiap kali ikut kompetisi, pasti gemilang: selalu jadi juara 1, dengan nilai nyaris sempurna. Kompetisi Rimini, Italia, yg kalian ikuti tahun 2009 dulu juga memakai sistem juara dan diploma.

Elfa’s Singers: Medley (arr. Elfa Secioria)

Nah, itu kira-kira gambaran peta kesulitan kompetisi internasional. Ini tentunya pengamatan gw, dan setiap tahun, profil kompetisi internasional berubah dan berkembang. Jadi sebelum memutuskan ikut kompetisi yang mana, peta kesulitan ini harus dipertimbangkan. Kita nih sebagai PSM yang formasi, komposisi, dan kualitasnya nggak pernah konsisten, sebaiknya nggak langsung milih ikut kompetisi di kelompok pertama atau kedua. Coba jajali dulu kompetisi-kompetisi di level ketiga dan keempat. Jadi juara 1 dulu berturut-turut di situ, sampai kita menemukan ‘ritme prestasi’ kita. Maksud gw, sampai Agria secara artistik terbiasa dengan tuntutan sebuah kompetisi internasional. Setelah itu baru coba yg lebih sulit.

Tapi kan yang penting pengalaman bertanding?

Iya dan tidak. Seperti tadi gw bilang, kalo cuma mau cari pengalaman, mendingan ikut festival non kompetitif aja. Nggak ada ekspektasi menang dari sponsor, nggak ada beban harus juara dari kampus.

Yang penting kan tampil yang terbaik?

Iya. Tentu saja. Tapi ya itu dia, terbaiknya kita berbeda dengan terbaiknya kompetitor lain, dan berbeda dengan terbaiknya tuntutan artistik juri. Jadi, ungkapan tampil yang terbaik ini menurut gw sering disalahgunakan. Kalo kalian ikut festival non kompetitif, statement ini tentu masih sah-sah saja.

Setelah pertimbangan ini diambil dan sebuah kompetisi diputuskan untuk diikuti, barulah perjuangan sebenarnya dimulai. Saran dari gw, sesuai dengan yang gw denger dari padsu-padsu yang langganan menang kompetisi internasional, adalah:

  • Tim kompetisi harus sudah jadi paling lambat setahun sebelumnya. Artinya, padsu punya ruang yang cukup untuk membentuk karakter suara, musikalitas, dan artistri yang benar-benar mantap. Persiapan setahun juga tentunya untuk mengumpulkan dana yang nggak sedikit. Akan terdengar sangat naif kalo padsu berharap menang, apalagi pada kompetisi-kompetisi sulit, kalo mereka baru mulai audisi untuk tim 6-7 bulan sebelumnya.
  • Pemilihan repertoar juga sangat penting. Untuk sebuah kompetisi internasional, sebaiknya padsu (utamanya pelatih) selalu berpikir inovatif. Tampilkan program yang baru (biasanya kontemporer lebih disukai), yang jarang didengar publik, beragam (genre? periode musik? negara asal komposer? dll), dan repertoar yang bisa menunjukkan versatilitas atau kesegalabisaan padsu dalam mengolah musik.
  • Interpretasi yang benar. Setiap periode musik, setiap komposer, bahkan setiap karya paduan suara, memiliki tuntutan interpretasi yang berbeda-beda. Musiknya Monteverdi beda sama musiknya Wylkynson, meskipun mereka berasal dari periode yang sama. Interpretasi musik semacam ini sebaiknya dikonsultasikan dengan musikolog, karena para juri kompetisi adalah orang-orangyang memang punya pengetahuan formal mengenai ini. Jadi sebisa mungkin, kita harus berpikir bagaimana juri kira-kira nanti menginterpretasi repertoar kompetisi yang kita pilih.
  • Sepengamatan gw, adalah lebih baik kalo tim padsu menghafal semua repertoar yang ditandingkan. Boleh coba amati juara2 EGP pas tampil. Nyaris semuanya lepas partitur. Kenapa ini penting? Karena disadari atau tidak, setiap penyanyi akan lebih fokus ke musik dan ke konduktor kalo mereka nggak memegang partitur. Juri juga tentunya akan melihat kalo tim benar-benar menguasai musik secara utuh.
  • Jam terbang, jam terbang, jam terbang. Ini sangat penting, karena keterbiasaan tampil membawakan program kompetisi dengan tim yang sama akan membantu internalisasi musik dalam setiap penyanyi. Kalo kalian dengar The Madz nyanyi, kentara banget kalo mereka udah sangat terbiasa dengan ‘cue’ musik, meskipun konduktornya cuma kasi aba-aba dengan mata, anggukan wajah, dan gerakan bahu.
  • Penampilan pada kompetisi, yang biasanya nggak lebih dari 15 menit, tentunya menjadi ultimatum segala usaha dan kerja keras semua pihak. Nah, yg ini si rasanya gw nggak perlu banyak komentar. Gw pikir semua juga udah pada tahu harus ngapain. Tapi yang sering dilupakan adalah kesehatan. Stamina fisik, mental, dan terutama vokal, harus maksimal dalam 15 menit ini yang nggak bisa diulang atau diperbaiki ini.

Wow! Jadi panjang banget ya. Nggak apa-apa deh. Gw pikir, ini penting. Semoga bisa menjadi ‘food for thought’ buat semuanya lain kali kalian memutuskan pengen ikut kompetisi lagi.

Salam Musikal,

Hendra

twitter: @HendraAgustian

Advertisements

One thought on “Ada Apa dengan Kompetisi dan Supremasi?

  1. Pingback: Artistri Menurut The Sixteen dan Harry Christophers | Sanguinis choraliensis

Tanggapi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s