Filosofi Musik Paduan Suara dan Stephen Layton

Beberapa waktu yang lalu gw nonton sebuah program televisi lokal mengenai tradisi musik paduan suara di Inggris, khususnya Cambridge. Dalam program tersebut, Stephen Layton, pengaba ansambel vokal profesional Polyphony dan Trinity College Choir, memaparkan dengan jelas bagaimana musik paduan suara begitu kuat berakar dalam ranah budaya masyarakat Inggris. Menjadi penyanyi paduan suara sejak usia dini, Layton mengalami sendiri bagaimana musik paduan suara menjadi sebuah ‘way of life’ dan memberinya begitu banyak pengalaman berharga. Pranala program televisi ini bisa dilihat di akhir lema, tetapi gw tertarik banget membahas beberapa poin penting yang disinggung Layton yang gw pikir juga relevan untuk publik paduan suara yang lebih luas.

Stephen Layton

Stephen Layton adalah salah satu pengaba paduan suara yang dinilai memiliki autentisitas mengagumkan (The Times, 2008). Dua kelompok paduan suara tersebut di atas yang diaba Layton terkenal dengan kejernihan vokal dan intonasinya, dengan penggunaan vibrato yang sangat minimal, mengedepankan kemurnian suara ‘choirboy’ yang menjadi ciri khas musik vokal Inggris. Layton memproduksi lebih dari 70 album rekaman, berkolaborasi dengan para komponis musik kontemporer dan mempremiérkan karya mereka, termasuk di antaranya Eriks Esenvalds, Arvo Pärt, Morten Lauridsen, dan Sir John Tavener. Konduktor paduan suara paling dicari di Eropa saat ini, Layton juga bekerjasama dengan orkestra London Philharmonic, Philadelphia Orchestra, dan the Orchestra of the Age of Englightenment. Sebagai konduktor tamu, ia juga memproduksi rekaman dan tur konser Nederlands Kamerkoor, Danish National Vocal Ensemble, Die Konzertisten Hong Kong, dan banyak lagi. Dalam program NTR Podium yang ditayangkan pada salah satu saluran televisi di Belanda ini, Layton mengemukakan pandangannya mengenai musik paduan suara yang ia geluti sejak berusia 8 tahun, sewaktu dia masih menjadi salah satu ‘boy chorister’ di Pilgrims’ School Winchester Cathedral. Berikut adalah beberapa poin penting yang rasanya sangat relevan baik untuk penyanyi maupun pelatih paduan suara.

Tentang komposisi penyanyi

Layton menggunakan konsep piramid dalam merekrut penyanyinya. Bass harus lebih banyak dari tenor; tenor lebih banyak dari alto; dan tentunya alto lebih banyak dari sopran. Layton tertarik pada tekstur musik, di mana harmoni dan dinamika dibangun dari fondasi nada-nada terendah menuju nada-nada stratosferik para soprano. Skemanya kira-kira seperti berikut:

SSSSSSSS

AAAAAAAA

TTTTTTTTTTT

BBBBBBBBBBBBBBB

Menarik untuk diketahui, bahwa Layton merekrut alto perempuan dan juga laki-laki. Hal yang sama juga dilakukan oleh Harry Christopher dan ansambel vokalnya, The Sixteen. Christopher bahkan hanya merekrut alto laki-laki. Warna vokal para kontratenor ini dengan mudah bisa kita kenali pada rekaman The Sixteen, terutama ketika mereka membawakan musik dari zaman Barok, ketika alto memang lebih banyak dinyanyikan oleh para pria pada zaman tersebut.

Tentang intonasi, harmoni, dan dinamika

Dalam bahasa apa pun, intonasi dan harmoni yang sempurna bisa dicapai dengan penyeragaman bunyi vokal (a, i, u, ü, dsb.). Hasilnya bisa kita dengar sendiri misalnya dari album America: The Prophecy (Thomas Adés) oleh Polyphony. Setiap bagian (sopran, alto, tenor, dan bass) terdengar begitu padu, seolah hanya ada satu orang yang menyanyikan setiap bagian tersebut. Atau coba dengarkan bagaimana mereka mengeksekusi salah satu motetnya Poulenc berikut:

Harmoni pada musik Poulenc yang terkenal non-konvensional dan kontras pada dinamika yang menjadi ciri khasnya diolah dengan begitu teliti oleh Layton. Pada bagian akhir program televisi ini, ketelitian Layton dalam mengolah musik juga diakui oleh seorang penyanyinya.

Layton berargumen bahwa sebuah paduan suara tidak bisa lebih indah dari penyanyi-penyanyinya (ketika mereka bernyanyi sebagai solo). Setiap penyanyi harus bisa bernyanyi dengan baik sebagai solo, kemudian ketika mereka bernyanyi bersama, mereka harus memiliki kesamaan intensi musikal. Ini sebagian besar memang ditentukan oleh sang pengaba, tetapi pada akhirnya, setiap penyanyilah yang bertanggung jawab untuk bernyanyi sesuai dengan kesepakatan: pada ketukan ke berapa konsonan ‘s’ pada kata ‘capitatis’, misalnya, harus dibunyikan.

Tentang Cambridge dan musik paduan suara secara umum

Ada satu kutipan Layton yang menurut gw sangat menarik: “Tidak ada tempat lain [di dunia] di mana kamu bisa menemukan begitu banyak musik paduan suara per meter persegi [selain Cambridge]”. Melodi dan harmoni dari abad ke 15 hingga kekinian terdengar dari seluruh sudut kota, dari balik relung-relung katedral dan kapel-kapel kecil. Anak-anak, para manula, amatir maupun profesional. Semua seolah bernapas dalam musik paduan suara. Kentalnya budaya paduan suara di Cambridge (dan di Inggris pada umumnya) dimotori oleh gereja-gereja Anglikan yang tersebar di seluruh penjuru. Menjadi pertanyaan gw kemudian, bagaimana jika argumen ini kemudian dibandingkan dengan negara-negara yang mayoritas Katolik di Eropa Selatan, atau mayoritas Protestan di Eropa Utara. Well, itu sudah bisa jadi topik PhD tuh! ^^

Menutup program yang sangat menarik ini, Layton berfilosofi, seandainya setiap orang bernyanyi, dalam kapasitas dan tingkat apapun, dunia ini akan menjadi jauh lebih baik dari keadaannya sekarang. Pernyataan ini menurut gw mengandung nilai-nilai humanistis yang menjadi salah satu alasan gw betah berpaduan suara: musik sebagai instrumen perdamaian. Selain tentunya juga efek terapeutik yang selama ini gw rasakan sendiri. Belakangan anekdot-anekdot semacam ini harus gw selidiki secara ilmiah sewaktu gw menulis akreditasi formal pembelajaran eksperiensial gw dalam bidang musik dan pencapaian sains. But that’s another story. Lain kali kita bahas sedikit mengenai itu.

Nah, begitu kira-kira ‘isi kepala’ seorang konduktor sekelas Stephen Layton. Semoga menjadi inspirasi.

Oh ya, ini pranala program televisi yang dimaksud.

Advertisements

Tanggapi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s