Kok ya bisa, Filipina?

Dari milis AgriaSwara IPB (21 Juli 2010)

Dear Choral Lovers,
Mengamati dan mengikuti perkembangan dunia paduan suara membuat saya berpikir mengenai banyak hal, dan di antara kesibukan studi, saya cukup senang menjadikan dunia paduan suara sebagai hiburan yang mencerdaskan ^^. Sekedar ingin berbagi dan tukar pikiran dengan teman-teman semua.

Tahun ini sepertinya dunia kompetisi internasional paduan suara menjadi semakin populer dengan diselenggarakannya banyak sekali kompetisi pada waktu yang hampir bersamaan. Indonesia juga tampaknya meraup banyak medali emas dan kemenangan di berbagai negara. Paduan Suara Universitas Parahyangan di Inggris, PSM Maranatha di Austria, Gracioso Sonora di Jerman dan Spanyol, Voca Erudita dan beberapa paduan suara dari Indonesia di China. (Mungkin ada lagi yang saya lewatkan.) Tentunya semua prestasi yang membanggakan ini layak kita apresiasi setinggi-tingginya sebagai bentuk sumbangsih kita untuk kejayaan musik. Saya lebih suka mengacu pada kejayaan musik sebagai sebuah nilai universal ketimbang nilai-nilai nasionalistik. Tentunya saya juga yakin bahwa pencapaian kolektif ini pada hakikatnya juga merupakan bentuk rasa cinta tanah air. Jika kita amati, semua tim paduan suara yang maju ke ‘medan laga’ ini dengan bangganya memaparkan kekayaan budaya Indonesia. Dan saya sangat menghargai itu.

Yang menarik untuk dibahas di sini adalah: tampaknya paduan suara dari Filipina, University of Santo Tomas Singers, menjadi fenomena yang mendunia. Saya mengikuti berita keterlibatan mereka dalam banyak kompetisi dan tur konser langlang buana sejak mereka didirikan (belum lama) pada tahun 1993. Saya terhenyak demi mengetahui bahwa mereka memenangi kompetisi paduan suara tertua di dunia Llangollen Eisteddfod Music Festival pada tahun 1995. Hanya 2 tahun sejak mereka didirikan, dan mereka langsung meraih titik kulminasi setinggi itu. Saya jadi berpikir, dengan membuat semacam ekstrapolasi pada konteks paduan suara Filipina, kita mungkin bisa mempelajari sesuatu yang boleh jadi memberikan kita wahana baru untuk juga mencapai tingkat artistri setinggi itu. Ambil contoh, Philippine Madrigal Singers, yang akan keliling Indonesia menemui para audiens mereka. Seperti UST Singers, the Madz juga kelihatannya menjadi sebuah ikon yang begitu solid. Dua kali kemenangan di European Grand Prix for Choral Singing mengukuhkan posisi mereka sebagai ikon paduan suara Filipina. Belakangan saya lihat mulai ada gontok-gontokan antara fans Madz versus fans UST Singers, meributkan siapa yang lebih baik. Ini tentunya tampak bodoh untuk diperdebatkan, tapi, bagi saya, ada sesuatu yang lebih menarik untuk menjadi bahan diskusi: Kok bisa ya mereka sebagus itu?

Mari kita bicara. ^^

Advertisements

Tanggapi

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s