Polifoni dari Negeri Kumpeni

Suatu waktu di sekitar tahun 2009, AgriaSwara beroleh kesempatan menggarap sebuah komposisi polifoni dari abad XVI berjudul “Ik zeg adieu” (Kuucapkan selamat tinggal), atau dalam ejaan purbanya “Ick seg adieu”, karya Gherardus Mes, seorang komponis asal Burgundi (sekarang Belanda-Belgia). Lagu ini diambil dari buku kumpulan lagu-lagu sekular rakyat Belanda yang ia gubah ke dalam empat suara.

Ick seg adieu,
wy twee wi moeten sceiden,
tot op een nyeu;
so wil ick troost verbeyden.
Ic late bi u dat herte mijn,
want waer ghi zijt, daer sal ic zijn.
Tsi vruecht oft pijn,
altoos sal ic u vry eygen zijn.

Terjemahan

Kuucapkan selamat tinggal,
kita berdua harus berpisah,
sampai kita berjumpa lagi;
aku akan merindukan kedamaianmu.
kutinggalkan hatiku padamu,
karena di mana pun engkau, aku akan ada di situ.
Dalam suka dan luka,
aku akan selalu bersamamu.

Stanza pertama dari lagu tersebut dinyanyikan dengan baik oleh Camerata Trajectina berikut:

Sepanjang sejarah keterlibatan gw dalam paduan suara di Indonesia dari tahun 1998 hingga 2009, hanya itu komposisi berbahasa Belanda yang pernah gw nyanyikan. Paduan suara lain di Indonesia pun setahu gw sangat jarang (atau belum pernah) membawakan komposisi dari negeri kumpeni. Di antara nama-nama komponis Eropa macam Brahms, Kodaly, Elgar, Monteverdi, Poulenc, atau yang lebih modern macam Tormis, Miškinis, Tavener, dan Ešenvalds, musik paduan suara dari Belanda tampaknya belum banyak dikenal di Indonesia. 

Gw sendiri baru akhir tahun 2011 mendapat kesempatan lagi menggarap komposisi yang ditulis oleh komponis Belanda. Bersama Nederlands Studenten Kamerkoor (NSK), waktu itu kita menyanyikan “In Despair” karya Joost Kleppe (*1963), yang diangkat dari puisi Kafavis asal Yunani tentang kisah cinta antara dua lelaki, “Woord-jazz op russies gegevens” karya Jeff Hamburg (*1956) untuk paduan suara berbicara (speaking choir), dan “Situaties” karya Wim de Ruiter (*1943) untuk 16 suara yang sangat eksperimental:

NSK juga memperdanakan komposisi avant garde karya Gijs van der Heijden (*1982), “A Collapsing Wavefunction of Violence” untuk gitar listrik, tiga paduan suara, dan soundtrack, yang ajaib dan susahnya bikin pengen bunuh diri.

Sejak itu, baru dengan Hollands Vocaal Ensemble (HVE) sekitar dua tahun kemudian, gw berkesempatan lagi mendalami komposisi dari negeri sepatu kayu. Tersebutlah nama Gerard Beljon, seorang komponis kontemporer yang cukup produktif. HVE membawakan “En wat dan” yang ia tulis untuk SSAATTBB, klarinet, kuintet musik gesek dan perkusi. Beljon mempublikasikan rekaman langsung dari konser HVE di Waalse Kerk Amsterdam tersebut (dan seperti biasa, gw nggak kelihatan di situ :P).

Pengalaman gw membawakan karya-karya komponis yang masih hidup tersebut adalah sang komponis diundang datang dalam latihan untuk memberikan semacam feedback. Bagaimanapun, sang komponis lah yang paling tahu seperti apa musik yang ia tulis seharusnya berbunyi. Mereka kemudian juga diundang menonton konser dan tentunya mendapat penghormatan yang layak. Menjadi sangat spesial ketika karya mereka diperdanakan oleh paduan suara. Seperti pernah gw bahas sebelumnya di sini, premiére sebuah karya musik (paduan suara) di Eropa adalah sebuah perayaan musikal yang dinantikan banyak orang. Momen ini menjadi batu loncatan karier yang penting buat sang komponis, daya tarik konser buat publik, mendongkrak reputasi paduan suara yang memperdanakan karya tersebut, dan juga tentunya memperkaya pustaka musik paduan suara. Tidak murah meminta seorang komponis menulis musik untuk kita perdanakan.

Di Belanda, biaya penulisan sebuah komposisi baru terdiri atas honor buat penulis teks (misalnya diangkat dari puisi) atau libretis dan komponis, serta biaya pembuatan material untuk penampilan (misalnya penerbitan partitur). Tawar-menawar antara komponis dan paduan suara diizinkan, tetapi Perkumpulan Komponis Belanda (GeNeCo) memberikan kerangka dan beberapa ketentuan. Tujuannya tentunya supaya terjadi win-win situation.

Sebagai gambaran untuk tahun 2011, sebuah komposisi untuk paduan suara berdurasi sekitar 10 menit biasanya dihargai sekitar €6000 (Rp 96 juta). Kalau ditambah instrumen biaya ini akan bertambah lagi. Semakin kompleks pembagian suara, semakin tinggi harga sebuah komposisi. Bayangkan kalau untuk satu konser saja NSK memperdanakan hingga empat komposisi! Peran sponsor dan patron tetap menjadi tidak tergantikan di sini. Lebih jauh mengenai peraturan dan prosedur subsidi bisa dibaca di sini (dalam bahasa Belanda).

Gijs van der Heijden (*1982)

Musik kontemporer dari Negeri Kumpeni, sepanjang pengalaman gw, sangat eklektik. Para komponis mengambil inspirasi untuk musik mereka dari berbagai sumber: teks sastra, Google, pidato politik, bahkan perbincangan informal dua ibu-ibu di pasar ikan. Secara musikal, mereka juga sangat liberal. Mereka tidak takut membangkang, menentang kaidah-kaidah musik. Hasilnya, musik mereka sangat personal dan unik. Sejak berkenalan dengan musik atonal dan dodekafonik, gw mulai bisa mengapresiasi keindahan musik eksperimental. Atau mungkin lebih tepatnya, keunikan musik eksperimental. Sebagai penyanyi, gw dituntut sangat peka nada dan tajam intonasi (karena seringnya musik yang kita nyanyikan tidak berada dalam referensi konvensional, atau harmoni yang dinyanyikan paduan suara bertabrakan dengan harmoni musik pengiring). Modus novus harus sudah khatam deh pokoknya.

Nah, akhir bulan depan HVE akan menggelar konser yang mengangkat musik paduan suara Belanda dari awal abad XX. Kita akan membawakan beberapa karya monumental dari Jan Koetsier (1911-2006), Julius Röntgen (1855-1932), Henk Badings (1907-1987, yang lahir di Bandung), Rudolf Escher (1912-1980), Ton de Leeuw (1926-1996), dan Géza Frid (1904-1989).

Musik paduan suara Belanda dari abad ini juga memiliki karakteristik tersendiri. Escher, misalnya menulis musik dengan bahasa, tata bahasa dan bunyi yang begitu pribadi sedemikian hingga menurut Leo Samama semua pernyataan tentang pengaruh Jerman dan Perancis, tentang musik lama dan baru, tentang ruang dan waktu menjadi sia-sia dan tak berarti. Coba simak karya Escher yang sangat musikal berikut, dinyanyikan dengan penuh presisi oleh Nederlands Kamerkoor:

Atau musik Badings, sang pionir musik elektroakustik di Belanda berikut:

Dua komposisi berbahasa Perancis di atas, yang juga kental dengan pengaruh chansons Perancis, akan terdengar berbeda dengan “Concerto pour piano et choeur” yang ditulis oleh Frid, atau musik de Leeuw yang meditatif berikut:

Menarik untuk diketahui, komponis Belanda biasanya memilih untuk tidak menulis musik dengan teks berbahasa Belanda. Teks berbahasa Perancis, seperti beberapa komposisi yang baru gw sebutkan, atau berbahasa Jerman, seperti komposisi yang ditulis Koetsier dan Röntgen, biasanya lebih banyak digunakan. Dalam kasus komponis kontemporer, tentunya ada pergeseran, tapi biasanya pelaku musik di Belanda setuju kalau bahasa Belanda bukan bahasa yang sangat musikal. Pengalaman gw menyanyikan dan merekamstudio sebuah komposisi dalam bahasa Belanda, “Requiem voor de mens” (Rob Goorhuis, *1948), dengan NSK juga sepertinya mengkonfirmasi anggapan umum tersebut.

Meskipun demikian, satu hal yang menurut gw sangat bagus untuk kita pelajari adalah musik paduan suara di Belanda sangat dihargai oleh masyarakat. Tidak hanya dengan penghargaan simbolis atau retoris, tapi juga dihargai dengan uang yang layak. Selain penghargaan untuk komposisi baru seperti yang gw jelaskan di atas, partitur paduan suara, baik yang sudah diterbitkan maupun belum, juga dilindungi oleh hak cipta (dan ini bukan hanya tulisan di atas partitur yang kemudian difotokopi juga), tapi memang dipatuhi.

Sebagai pamungkas lema kali ini, silakan simak “Hymne aan Rembrandt” yang ditulis oleh Alphons Diepenbrock (1862-1921) untuk solo sopran, paduan suara perempuan dan orkestra berikut:

Advertisements