Buklet Konser VS Undangan Pernikahan

Musik yang baru saja kalian nyanyikan telah menyentuh rasa kemanusiaan saya. Terutama yang ini. (Ia menunjuk salah satu repertoar dalam buklet program konser) Saya menyimak dengan seksama pernyataan musikal yang kalian nyanyikan. Saya membaca dan menyelami setiap kalimat dan makna di balik bahasa yang  tidak selalu saya pahami. Sepanjang konser, saya seperti sedang trance. Saya akan menyimpan buklet ini baik-baik.

Testimonial ini gw dengar dari salah satu audiens di Waalse Kerk, Amsterdam, usai konser “Shakespeare and Songs” bersama Hollands Vocaal Ensemble beberapa waktu silam. Ia secara spesifik menunjuk pada bagian buklet konser, yaitu teks puisi Raymond Lévesque yang digubah oleh Philip Glass untuk SATB, Quand les hommes vivront d’amouryang tercetak dalam teks asli berbahasa Perancis dan terjemahannya dalam bahasa Inggris:

When men live in brotherly love
There will be no more misery
And the good days will begin
But as for us, we shall be long gone,
my brother
When men live in brotherly love
There will be peace on Earth
Soldiers will be troubadours
But as for us, we shall be long gone,
my brother

Dari sudut pandang penyanyi di atas panggung, tampak jelas bagaimana penonton yang hadir menjadikan buklet konser sebagai panduan mengapresiasi musik yang kami nyanyikan. Kekhususan tema konser kali ini, mengetengahkan syair sastra sekaliber Shakespeare, membuat buklet konser sebagai alat bantu yang sangat penting. Sebagai pelaku musik, HVE ingin agar pesan sang komponis lewat komposisinya sampai ke publik.

Empat tahun malang melintang di dunia paduan suara di sini, gw mengamati beberapa hal yang kayaknya menarik untuk kita diskusikan.

Buklet konser sebagai media pendidikan musik

Koor-koor di Belanda menganggap penting buklet konser, karena lewat buklet lah segala informasi mengenai konser dapat dibaca. Bukan hanya urutan repertoar, profil pengaba, pemusik dan penyanyi saja, tapi juga informasi terperinci mengenai setiap komponis, setiap lagu yang dinyanyikan, dan teks beserta terjemahannya. Buklet konser Kamerkoor Vocoza “Tussen mij en God” (Antara aku dan Tuhan) tahun 2011 ini misalnya. Setiap komposisi dibahas, dari sudut pandang latar belakang penciptaan dan apa relevansinya dengan tema konser yang diangkat kali itu. Entitas Tuhan menjadi tema sentral dalam konser tersebut, dan audiens bisa dengan mudah bergabung dalam proses kreatif-musikal yang kami lalui sebagai pemusik. Bahkan diskursus filosofis mengenai “Seperti apakah wujud Tuhan yang Anda percayai?” juga tertulis dalam buklet ini. Mayoritas masyarakat Belanda yang agnostik sekular sudah meninggalkan pandangan tradisional agama dan ketuhanan, tetapi spiritualitas tampaknya tetap menjadi bagian dari hidup mereka.

Kenapa sih segitu ribetnya bikin buklet konser seterperinci itu?

Konser paduan suara, menurut komunitas musik di Eropa (paling tidak yang sejauh ini gw amati), bertujuan tidak hanya sebagai ajang rekreasi dan apresiasi seni, tapi juga pendidikan musik. Di benua di mana musik paduan suara sudah mengakar dalam budaya mereka sejak ratusan tahun yang lalu, orang datang menonton konser paduan suara biasanya bukan sekedar duduk manis pasang telinga hip hip hura, tapi juga mereka biasanya ingin belajar hal baru, menemukan inspirasi musik baru, mengenal komponis dan komposisinya.

Beberapa tahun silam, Michael Allsen, seorang profesor dari sebuah universitas di AS menggagas semacam petunjuk pelaksanaan membuat buklet konser. Ia menekankan bahwa sebuah buklet konser yang bagus memiliki dua fungsi: memberikan gambaran latar belakang dan sejarah komposisi dan memberikan gambaran tentang apa yang bisa diharapkan oleh publik ketika mereka mendengarkan komposisi tersebut.

Bagian-bagian penting dalam sebuah buklet konser

Sebagai contoh, gw pake buklet konser Hollands Vocaal Ensemble yang gw bahas di awal tadi. (I know it’s in Dutch, but you can get an idea of how it looks.) Dalam buklet ini, yang seluruh isi dan layout-nya dikerjakan dengan rapi dan komprehensif oleh Marieke, salah satu penyanyi alto, penonton konser mendapatkan informasi lengkap tentang musik yang kami persembahkan. Buklet diawali dengan pengantar singkat, semacam benang merah, repertoar yang kami nyanyikan. Tidak ada basa-basi ucapan terima kasih di sini, hanya inti tema konser yang dikemas dalam semacam narasi singkat.

Kemudian dalam buklet konser ini para komponis dibahas satu persatu. Sekilas mungkin tampak seperti copy-paste dari Wikipedia, tapi kalo dibaca dengan teliti, tampak jelas kalau teks Shakespeare yang menjadi tema konser ini diberikan penekanan. Dari sekian banyak komposisi Britten, misalnya, hanya “Five Flower Songs” yang mengangkat teks penyair paling terkenal sepanjang masa ini. Dalam artikel yang ditulis Allsen tadi, dia juga mengetengahkan isu plagiarisme dalam buklet konser. Menurut dia, hal ini terjadi karena penulis buklet sekadar menyomot alias copy-paste dari sumber di internet.

Ringkasnya, sebuah buklet program yang bagus sebaiknya memuat:

  • Daftar repertoar
  • Latar belakang pemilihan repertoar dan judul konser
  • Sekilas tentang komponis dan komposisi dalam program (dan kaitannya dengan tema konser)
  • Teks lagu dan terjemahan
  • Profil pengaba dan paduan suara
  • Rencana konser berikutnya

Akhirnya, pilihan menyajikan buklet konser yang bagus (atau tidak) ada di tangan paduan suara. Kadang sumberdaya yang terbatas (baca: nggak ada yang cukup rajin meramu informasi dan menyajikannya) menjadi alasan audiens memperoleh buklet konser yang tampak seperti undangan pernikahan: mentereng, dicetak di atas kertas tebal dan mahal dengan disain menarik dan penuh warna… tapi miskin informasi. Atau mungkin konduktornya yang sekadar mencomot lagu ini dan itu tanpa ada benang merah atau tema yang jelas, sehingga sangat sulit membuat narasi yang koheren.

Jadi, pertanyaannya, lebih pilih mana? Fancy tapi miskin informasi, atau sederhana tapi kaya akan relevansi?

Perlu diingat, audiens membayar tiket bukan hanya untuk menikmati musik per se, tapi juga memperoleh informasi baru tentang musik yang mereka tonton. Selain tentunya musik dengan kualitas konser, informasi tentang musik yang dibawakan juga hak mereka.

Konser Jakarta Conservatory Vocal Ensemble “English Songbook”

Dari milis AgriaSwara IPB (27 April 2004)

Lapdangmat Konser JCVE “English Songbook”

Erasmus Huis, 22 April 2004

(Pranala YouTube hanya sebagai rujukan)

Menonton sebuah konser yang digarap dengan sofistikasi, perfeksionisme, dan keadiluhungan selalu menarik buat pengapresiasi seni kayak gw. Pulang dari concert hall, selalu ada kesenangan sederhana yang melekat terus di ujung-ujung akson sel saraf. Seperti kelembutan tiramisu yang masih terasa di ujung lidah setelah keluar dari restoran Italia. Atau kelezatan bumbu pecel Pok Minah di sudut terminal Kampung Rambutan?

Kira-kira, begitulah rasanya. Terdengar dramatis? Emang! ^-^ Gue Banget!

Tapi, menonton konser JCVE dijamin gak bikin nyesel deh. Apalagi, kalo tiketnya gratisan… 😀 qeqeqeqs (Sorry ya, Nina… salah gue?)

Aku juga seneng banget karena tadi malem rombongan penonton dari komunitas paduan suara Agirakultura… oops… Agriaswara, gak cuman daku seorang diri. Ada Ewinx (hah, dia lagi?), Nina (o my God), juga ada Maz Budi, Dayen, Mbak Eno, Mbak Moyin dan Mas Agus. Yang terakhir ini mengaku orang Bina Vokalia. Dasar pembohong! Pergi kau dari sini! hehehehhe…. Eh, ada Mas Yan (Wibisono) juga. Mas? Minta Lapdangmat? Neeeeeh…. tak kasse.

Konser JCVE kali ini sama sekali lain dengan format konser yang selama ini sering aku tonton. 80% repertoar konser dinyanyikan secara solo, dua di antaranya dinyanyikan duet. Di konser tadi malem aku ngeliat banget bagaimana seorang penyanyi yang bertahun-tahun menceburkan diri (basah-basahan pula) di dunia paduan suara dituntut untuk menjadi seorang solis. Ya. Solis sebener-benarnya. Just you and the piano… well, of course with two agile hands playing on it. Gak ada siapa pun di belakang lu untuk mengalihkan perhatian audiens kalo… misalnya… oops, ada satu nada fals. Atau… ngek, kodoknya keluar. Gak ada. Absobloodylutely singin’ in solo.

Kalo umpamanya aku dulu pernah ‘mencoba’ menyanyikan BAGIAN SOLO dari sebuah lagu, aku masih bisa bertenang-tenang hati karena di sebelah kiri-kanan-depan-belakangku ada temen-temen (luv ya, folks!) yang paling nggak… bisa sedikit mengurangi ketegangan. Ow, OK, gw nyanyi sendiri, tapi temen-temen gue masih ada di sekitar gw kok. Berkurang dikit tuh nervousnya.

The last night concert was quite a different story.

Sesi 1 dibuka dengan 4 karya Henry Purcell yang luar biasa itu. Masih ingat Dido & Aeneas? Nah, Bang Henry inilah biang keroknya.

Solis-solis yang dipasang di awal sesi antara lain adalah Ineke Corebima, Desilea Santoso, dan Ros Laura. Ineke membawakan repertoar yang memang untuk registrasi alto. She was the lucky number one to perform. Dan karena itu pulalah mungkin dia terdengar agak-agak nervous. Belum panas, kayaknya sih. Nada-nada tinggi Ineke, mungkin di E atau F, terdengar kurang meyakinkan. Tapi di bagian-bagian nada register dada, Ineke sangat mantap. Thank’s to the tattoo? heheheh…..

Desi dan Ros duet di lagu Two Daughters of This Aged Stream. Aduuuuh… Desi cantik… frase pertamanya kenapa nyaris tak terdengar? Ros lagi. Dengan refleks, dia ngelirik Desi. Kentara deh, salahnya. Hehehe

Setelah threesome Ineke, Ros, dan Desi tampil, dan sempat gonta-ganti pasangan (Baby Jim lagi konseling? ^-^), datanglah…. eng ing eeeeng, Yosefin Emilia Tirtowidjojo.

Fren (kartu sel ularku), si Yosefin alias Lia ini, asal tau aja, baru kelas 2 es em u. Anak Tarkit. Gila, man. Suaranya udah kaliber Aning
Katamsi tuh. Gimana nggak? Lia, menurutku, berhasil membawakan 2 karya Mervyn Horder dengan sangat apik. Tiga unsur penyanyi (musician, technician, actor) lengkap ada dalam penampilannya tadi malam. Di lagu When Daisies Pied, keceriaan burung cuckoo di musim semi ia ceritakan dengan gaya giacoso — bercanda. Very entertaining. Di lagu kedua, Blow, Blow, Thou Winter Wind, dia juga berhasil membedakan mood lagu di bagian minor, ke mayor, lalu ke minor lagi. Orang awam musik pun kayaknya bisa menangkap pesan lagu itu hanya dengan menyimak dan memperhatikan bahasa tubuhnya ketika bernyanyi.

Elle est treeees jolie.

Lepas Lia… guess who? BOJEL! ^-^ alias Lucy (ato kebalik?). Aku dan Ewinx spakats kalo artikulasi Lucy dalam bernyanyi emang paling bagus. Dibanding yang lain, aksennya paling British. Konsonan-konsonan di akhir kata, fonem ‘a’ British, dan frasering yang tepat. Telinga yang terbiasa mendengarkan pelafalan nyanyi-seni dalam bahasa Inggris pasti bisa mengikuti alir lirik lagu. Dan, seperti Lucy yang kita kenal, suaranya selalu terdengar full, tak kenal istilah tipis-tipis keripik kentang. Bahkan pada dinamika piano, mungkin pianissimo, suara Lucy tetap terdengar forward. Di ujung lagu Silent Noon-nya Vaughan Williams, aku sampai menahan nafas menunggu bagian piano ke diminuendonya dinyanyikan sampe benar-benar selesai di denting terakhir piano. Setelah selesai… ahhh… legaaaa (kayak apaan aja). Dan andai temen-temen semua liat langsung, Lucy bernyanyi dengan olah nafas yang sangat prima. Kita bisa ngeliat bagaimana dia mengoptimalkan teknik pernafasan diafragma. Take a look at those abdominal muscles…. Very obvious.

And then… Ladies… you may dismiss. Here come THE GENTS.

Ivan Yohan on stage. Dia bawain 2 karya Armstrong Gibbs. Beberapa kali aku dengerin dia nyanyi sebagai solis, aku mulai bisa menemukan ciri alias karakter vokalnya: bright, light, but fabulously full. Dalam format nyanyi solo, suara Ivan sangat berkarakter. Tapi, jangan salah, ketika dia bernyanyi dalam padsu, dia tidak menonjokan diri dari yang lain. Hmmm… that’s how a singer should sing, I suppose. Yang menarik dari cara bernyanyi Ivan adalah fonem ‘r’ Inggrisnya yang ia bikin sangat jelas. Jadi, kata Cherry Tree di lagunya yang pertama terdengar jelas: Cherry Tree, bukan Chewy Twee, atau Cheyi Tyee, apalagi Chelly Tlee ^-^. Memang ‘r’nya jadi terdengar Italia, tapi setauku, teori-teori vokal memang ngajarin begitu. Pernah denger bagaimana David Wigram, boy chorister dari Inggris, menanyikan lagu All Things Bright and Beautiful? Lafal ‘bright’-nya akan terdengar sangat Italia.

Setelah Ivan, ada Farman Purnama, alias Ipul. Lalu ada Daniel Beddingfield. Oh, salah, Daniel Christianto. Anak BMS lulusan UPH ini ‘look’nya emang meyakinkan banget… Daniel bawain 2 lagu Quilter. Suaranya bagus, enak didengar, meskipun masih belum terlihat benar-benar rileks. Pada lagu In the Bud of the Morning O, gestural Daniel masuk banget di keriangan lagu. Matanya quizzical banget…. lucu.

Lepas Daniel, datanglah… ccp-nya siapa tuh? Huhahahahah…. Tante Mirta. Iiii…. gaunnya lutcu. Hijau muda, berpayet bunga. Wah,
Frühlingsstimmen banget dah. Agria lucu kali kalo kostum konser ntar Mei pake itu. Gw kenal Ita sebagai penyanyi paduan suara. Kalo kalian udah pernah denger Ita nyanyi dari deket, baru deh kalian bakal bener-bener tau… how light, bright, her voice is. Ennak banget didenger. Gak ada gelap-gelap alam gaib apalagi serak-serak sember Macy Gray di suaranya Ita. Ato dibikin-bikin biar jadi terdengar
tebel kayaaak….(capa tuuuh?) Ringan aja. Dan, kurang ajarnya, dia bahkan tidak perlu membuka mulut lebar-lebar untuk menyanyikan nada B tinggi dengan ekspresi seperti gak ngeluarin usaha. Wah, Ita, Ita…. Girl power dah!!! Sebagai solis, mungkin powernya bisa lebih ditambah satu level dinamika lagi.

Setelah Ita, datanglah… Prince Charmingnya JCVE. Siapa lagi kalo bukan Rainier “Pepi” Revireino. Repertoar yg dia nyanyiin, dua karya Gerald Finzi, Proud Songsters dan Rollicum Rorum, emang untuk registrasi bariton sih. Tapi, audiens dengan mudah bisa membedakan warna vokal Pepi dan Daniel. Sama-sama register bariton, tapi karena pada dasarnya materi vokal mereka memang berbeda (di BMS, Daniel anak tenor), hasilnya juga emang beda. Pepi berjaya di nada-nada register dada, tapi begitu dia
menyanyikan nada tinggi, dengan kurang ajarnya dia terlihat nyantai, gak berngotot2 ria kaya bass di Agria yaach? Produksi vokal penyanyi bass itu emang terdengar tetep nge-body yach meskipun di nada yg lumayan tinggi. Jadi, kayaknya emang gak bisa sih ngebikin… katakanlah… nada E tenor dibikin sama persis dengan bass. Meskipun di oktaf yang sama, emang kayaknya nggak akan pernah bisa sama persis. Tenor tuh yang seharusnya emang ringan dan terang, sementara bassnya lebih berisi, lebih berat, dan lebih dalem. (Apaan tuh, berisi, berat, dalem…?)

Setelah Pepi, inilah dia, Rozana Unsulangi, alias Ona. Fren, Ona sama Pepi ini pernah diliput sama sebuah tabloid, kalo nggak salah sih Aura. Topiknya tentang orang-orang muda yang berkecimpung di dunia musik klasik. Aku belum pernah denger Ona nyanyi sebelumnya. Tapi, begitu denger suaranya…. aaaah…. aku langsung jatuh cinta. Soprannya dia tuh… duh… gurih banget deh. Ringan, tapi powerful banget. Orientasinya juga ke depan banget. Jadi, istilahnya, dia tuh emang nyanyi buat audiens, bukan buat diri sendiri. Fren, ada sebuah kalimat yg sering diucapkan sama vocal tutor penyanyi2 terkenal. “Bernyanyilah buat penonton, dan ambil kesenangannya buat dirimu sendiri.” Artinya, kira-kira, sebagai penampil, kita emang dituntut untuk menyampaikan ‘sesuatu’ pada audiens yang mendengarkan kita. Ketika apa yang kita sampaikan kena di mereka, kesenangan dan kepuasannya akan kembali dengan sendirinya. Kadang (sejujurnya sih, sering) aku masih suka ngeliat di basecamp kita sendiri, penyanyinya tuh nyanyinya kayak bisik- bisik tetangga. Bahkan di dinamika forte pun, yaaah… segitu aja? Suruh crescendo ke fortissimo…. tetep aja suaranya sayup-sayup nggak sampai. Sebenernya sih, seringkali penyebabnya memang teknik yang belum paripurna, tapi sering juga penyebabnya sederhana saja: usahanya kurang. Energinya masih setengah-setengah. Belum full.

Di akhir konser, barulah JCVE secara koral nyanyi. Ada tambahan beberapa orang yang bukan JCVE juga, antara lain, si kembar Ines dan Agnes, cewek bule Elizabeth Ashford (yang ini penyanyi JCVE pengganti Stefanini), kang Arvin (baru deh Bapak kita yang satu ini unjuk suara), Benny (salah gue?), Yossy (hah, Project Pop?). Ipul dan Ona gak nyanyi di padsu. Yang sampai sekarang selalu menjadi bahan decakan kagum adalah… ya itu.

Fren, dari awal konser mulai sesi satu sampai sesi dua, kita tuh yang udah dengerin suara asli masing-masing penyanyi. Si Ivan begini, Ros begitu, Ita begini, Daniel begitu…. masing-masing karakternya unik dan tipikal. Begitu bernyanyi sebagai koor…. Jdugh! Mereka  langsung blend. Keunikan vokal masing-masing penyanyi seperti lebur jadi satu warna yang lain dari warna sebelumnya. Choral sound. Di lagu My Soul There is a Country-nya Parry, aku nikmati banget perpindahan dinamika lagu, mulai dari piano (mungkin malah pianissimo) ke mezzoforte, terus ke forte, balik lagi ke piano. Bener-bener manjain telinga. Di lagu Music, when Soft Voices Die (kebetulan kita punya partiturnya!), mereka juga membuat bagian-bagian nada yang legato seperti mengalir begitu saja. Padahal intervalnya rada susah juga tuh, lagu itu. Lalu di Death on the Hills-nya Elgar, wuiiih…. BRAVO buat bassnya JCVE deh. Kick ass! Di bagian terakhir lagu, SAT-nya nyanyi kayak hantu. Bener-bener bikin merinding. Sementara bass-nya leading. Bass juga bikin mood lagu itu tambah serem. Padahal itu bass cuman 3 orang doang. Tapi energinya… FULL.

Secara keseluruhan, konser tadi malem sangat mengenyangkan. (Lho? konsernya sambil makan malem? ^-^). Yeah, maksudku, pulang dari gedung konser, ada banyak deh yang dibawa pulang. Sekali lagi, dijamin nggak rugi nonton konse JCVE. Lain kali ada lagi, ayo dong…. lebih banyak lagi anak-anak Agria yang nonton. Biar tau, kayak ono noh mustinya. Githu lho, Malih.

Sampe ketemu di Konser Apapun-Yang-Bagus-Yang-Kebetulan-Gw-Tonton
HENDRA