Mengapa semua orang seharusnya berpaduan suara, kata ilmuwan

Sejatinya, blog ini ditulis untuk berbagi pengalaman, wawasan, gagasan, dan keberagaman musik paduan suara. Tetapi lebih dari itu, juga supaya semua orang tertarik untuk bernyanyi di paduan suara. Mengapa? Ini argumentasinya.

Pada tahun 2010, sebagai bagian dari mata kuliah Akreditasi Pembelajaran Eksperiensial Lampau (Accreditation of Prior Experiential Learning, APEL), gw menulis portofolio akademik mengenai musik paduan suara dalam kaitannya dengan pencapaian ilmiah. Esai sepanjang 5000 kata ini memuat analisis biografis gw sendiri, sejak masa kecil yang gw habiskan di Tanah Parahyangan hingga masa tinggal sebagai mahasiswa pascasarjana di Negeri Antah Berantah pada waktu itu. Pertanyaan inti yang ingin gw selidiki dalam tulisan tersebut adalah: Bagaimana musik memberi pengaruh positif dalam pencapaian ilmiah? Nah, sebagai bagian dari proses tinjauan pustaka, gw menemukan banyak sekali kajian, penelitian, dan penemuan saintifik yang ternyata menjelaskan mengapa selama ini gw hanya merasakan manfaat dari musik paduan suara. Gw pengen banget berbagi hasil kajian ini karena gw rasa ini penting dan sangat menarik.

Bernyanyi dalam paduan suara itu menyehatkan

Sebuah studi oleh sekelompok ilmuwan dari Inggris dan Australia (Clift et al., 2007) menunjukkan bagaimana nyanyi paduan suara berdampak positif terhadap kualitas hidup, kesejahteraan, dan kesehatan. Riset yang melibatkan lebih dari 600 penyanyi paduan suara dari seantero Inggris tersebut memberikan akun empiris bagaimana mereka yang kesehatan psikologisnya relatif rendah memperoleh manfaat dari nyanyi paduan suara. Secara spesifik, empat kelompok berikut memperoleh manfaat paling besar dari nyanyi paduan suara:

  1. Mereka yang memiliki masalah kesehatan mental berkepanjangan
  2. Mereka yang memiliki masalah signifikan dalam hubungan/keluarga
  3. Mereka yang memiliki masalah kesehatan fisik
  4. Mereka yang sedang berduka karena kematian seseorang

Lebih jauh, penelitian ini juga menjelaskan bagaimana persisnya manfaat ini bekerja pada penyanyi. Para ilmuwan dari Universitas Canterbury Christ Church, Kolese Musik Royal Northern dan Universitas Griffith ini mengungkap enam “mekanisme membangun” dalam proses nyanyi paduan suara, yaitu:

  • efek positif
  • perhatian yang terfokus
  • pernapasan mendalam
  • dukungan sosial
  • rangsangan kognitif
  • komitmen teratur

Bernyanyi dalam paduan suara itu bermanfaat untuk kestabilan emosi

Dalam konteks yang berbeda, lima ilmuwan dari Jurusan Pendidikan Musik dan Jurusan Psikologi Universitas Johann Wolfgang Goethe di Jerman (Kreutz et al., 2004) juga mengungkap manfaat nyanyi paduan suara bagi kestabilan emosi. Berbeda dengan studi di atas yang lebih mengandalkan pengalaman anekdotal, studi para ilmuwan Jerman ini juga menyelidiki mekanisme fisiologis tubuh manusia dalam hubungannya dengan nyanyi paduan suara. Secara terperinci dan meyakinkan, para peneliti ini memaparkan bagaimana sekresi hormon Imunoglobulin A dan kortisol yang bertanggung jawab untuk kestabilan emosi bekerja ketika kita bernyanyi dalam paduan suara. Klaim mereka adalah berikut:

Nyanyi paduan suara menyebabkan peningkatan sekresi hormon S-Ig A, sementara efek negatif berkurang.

Menarik untuk diketahui, Kreutz dan rekan juga meneliti bagaimana mendengarkan musik paduan suara juga memberikan manfaat positif, yang ditunjukkan oleh menurunnya sekresi hormon kortisol, yang diproduksi oleh tubuh ketika kita mengalami stres. Secara konklusif, penelitian ini menemukan hubungan antara nyanyi paduan suara dengan kesehatan emosional dan kekebalan tubuh, yang ditandai oleh perubahan sekresi hormonal.

Bernyanyi paduan suara itu meningkatkan kecerdasan interpersonal

Kita mungkin pernah mendengar istilah kecerdasan majemuk (multiple intelligence) yang digagas oleh Howard Gardner pada tahun 1980-an. Dalam argumennya, Gardner menantang kepercayaan lama yang cenderung menyederhanakan istilah kecerdasan hanya berdasarkan IQ saja. Ia menegaskan bahwa kecerdasan seyogyanya ditinjau dari pelbagai sudut pandang, yaitu: linguistik, logis-matematis, spasial, kinestetik, musikal, interpersonal, intrapersonal and naturalis. Gw tentunya tidak berniat menjabarkan teori ini satu per satu, tetapi kita dengan segera dapat mengenali kecerdasan musikal dan berasumsi bahwa nyanyi paduan suara tentunya berhubungan langsung dengan salah satu dimensi tersebut. Tetapi ada yang lain.

Pada tahun 2005, Bailey & Davidson dari Jurusan Musik Universitas Sheffield di Inggris menerbitkan hasil penelitian mereka. Kedua ilmuwan ini memfokuskan diri pada sekelompok tuna wisma terpinggirkan dan sekelompok penyanyi dari masyarakat kelas menengah. Seperti kedua hasil penelitian di atas, studi ini juga mengkonfirmasi efek positif nyanyi paduan suara terhadap kestabilan emosi. Tapi lebih dari itu, kelompok pertama menganggap bahwa bernyanyi dalam paduan suara telah membantu mereka dalam berhubungan sosial dan interpersonal. Hasil penelitian ini menyiratkan bahwa musik paduan suara, yang mungkin oleh beberapa orang dianggap sebagai musik elitis dan eksklusif, yang hanya bisa dinikmati dan digeluti oleh orang-orang tertentu saja (masyarakat gereja? mahasiswa? murid-murid sekolah vokal? orang kota? orang Eropa? dsb.), sejatinya juga bermanfaat untuk semua orang, tak terkecuali.

Dalam untaian kata sendiri:

When all of them seemed to turn out uneventful, I fell into the depth of despair. Fortunately enough for me, all through those uncertain times, music had always been my way of seeking refuge from the pressure of my goals and, thus, resuming the balance, the equilibrium. (Agustian 2010)

Kutipan tersebut diambil dari portofolio yang gw sebutkan di atas. Diawali dengan beberapa kali tatapmuka dengan Anz Buzzoni, dosen di universitas yang di Belanda, dimatangkan selama masa tinggal singkat di Republik Ceko, esai ini baru selesai ketika gw kembali ke Inggris tahun 2010. Dr Sulochini Pather, programme convener gw dari Roehampton University, memberi gw nilai A gendut untuk esai ini ^^. Dia membacakan sepenggal esai ini pada malam terakhir konferensi internasional mengenai pendidikan inklusif di Grove House, gedung yang sama tempat gw ujian sidang disertasi. Tiap kali gw mengingat momen ini, gw selalu terharu, karena musik telah menjadi bagian yang sangat penting dalam hidup gw. Meskipun gw nggak pernah berniat mengambil pendidikan formal dalam bidang musik, atau menjadikan musik sebagai mata pencaharian, gw tahu bahwa kecintaan gw pada musik paduan suara menjadi alasan yang cukup untuk gw meluangkan waktu ekstra di luar pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Dalam untaian kata Paul McCartney:

I love to hear a choir. I love the humanity to see the faces of real people devoting themselves to a piece of music. I like the teamwork. It makes me feel optimistic about the human race when I see them cooperating like that.

-Paul McCartney

Nah, silakan sebarkan kabar gembira ini: nyanyi di paduan suara yuuuuuuuu.

Verdi dan “Setannya Misa”

Giuseppe Verdi dikenal sebagai komponis Italia kala Romantik yang banyak sekali menggubah musik opera. Sebut saja judul-judul opera heroik macam Rigoletto dan Aida. Atau yang sangat sensual dan profan macam La Traviata. Kalau judul-judul tersebut terdengar terlalu kolosal, mungkin lagu riang gembira seperti Libiamo ne’ lieti calici atau La donna è mobile setidaknya pernah kita dengar dinyanyikan oleh Aning Katamsi dan Christopher Abimanyu dengan iringan Twilite Orchestra (Addie MS). Verdi dianggap sebagai salah satu komponis opera paling berpengaruh pada abad ke-19. Tidak hanya itu, Verdi juga berperan aktif secara politik dalam penyatuan kembali semenanjung Italia (Risorgimento).

Sebagai seorang agnostik cenderung ateis, Verdi menggubah nyaris hanya musik sekuler saja. Terdapat sangat sedikit referensi religiusitas dalam karya-karyanya. Salah satu dari sedikit gubahan sakral Verdi adalah Messa da Requiem, yang ia tulis untuk mengenang kepergian Alessandro Manzoni, seorang penyair dan politikus Italia yang sangat ia kagumi. Demikianlah, sebuah musik kolosal misa pemakaman sepanjang 1.5 jam lahir dari tangan seorang komponis besar dari kampung Le Roncole ini. Sebuah musik kolosal yang oleh sang komponis sendiri disebut sebagai “that devil of a Mass”.

Premier “Messa da Requiem” di Teater La Scala, 1874, dengan Verdi sendiri sebagai pengaba

Requiem Verdi ditampilkan untuk pertama kalinya di sebuah gereja di Milan pada 22 Mei 1874. Tiga hari kemudian, konser yang sama diulang di Teater La Scala, diaba langsung oleh sang komponis. Setelah itu, komposisi untuk 4 solois, paduan suara dan orkestra ini lebih banyak ditampilkan di teater dan gedung konser ketimbang gereja, sehingga masyarakat musik cenderung menganggap premier Requiem Verdi adalah penampilan di Teater La Scala, yang diabadikan oleh Osvaldo Tofani dalam ilustrasi di atas.

Para terpelajar musik beranggapan bahwa Verdi berniat untuk memperkenalkan musik opera ke dalam musik gereja melalui Messa da Requiem. Lebih dari itu, ia juga membuat semacam pernyataan musikal terhadap rasa kebangsaannya sebagai seorang Italia. Namun, ada semacam pertentangan yang bisa kita telusuri dalam gubahan ini: antara sakrilegi dan profanitas, antara harapan kedamaian abadi khas musik pemakaman dan teror mengerikan Hari Penghakiman dalam Dies Irae. Verdi tampaknya tidak berniat menciptakan suasana wingit penuh janji manis akan kehidupan setelah mati. Alih-alih, ia melukiskan kematian itu sendiri sebagai sesuatu yang sama sekali tidak menenangkan.

(cuplikan dari BBC Proms 2011: Semyon Bychkov mengaba BBC Symphony Chorus, BBC National Chorus of Wales, London Philharmonic Choir, dan BBC Symphony Orchestra)

Verdi tanpa sungkan menggunakan ritmus yang sangat kuat menghentak. Pada bagian lain, kita juga disuguhi garis melodi yang begitu indah. Pertentangan antara dua kekuatan emosi ini menjadi salah satu ciri khas opera Verdi yang juga kita temukan pada Requiem-nya.  Coba simak Lacrimosa dinyanyikan oleh mezzosoprano Fiorenza Cossotto, bass Nikolai Ghiaurov, tenor Luciano Pavarotti, soprano Leontyn Price, dan Chorus of La Scala Milan, di bawah baton konduktor fenomenal Herbert von Karajan pada tahun 1967 berikut.

Pada bagian Sanctus, Verdi mengedepankan hanya paduan suara, dalam larasan kompleks fuga untuk 8 suara. Dirangkai kemudian dengan Agnus Dei yang surgawi. Kedua bagian ini akan sangat kontras jika dibandingkan dengan Libera Me yang menjadi pamungkas keseluruhan gubahan akbar ini. Mereka yang berharap Libera Me menjadi sebuah penutup Requiem yang memerdekakan mungkin akan harus kecewa dengan ambiguitas Verdi. Harapan akan kebebasan dari maut yang menyakitkan mungkin akan menjadi sebuah ilusi kabur ditelan kabut, ketika kita dihadapkan pada komposisi ini. Soprano jelita Angela Gheorghiu membawakan keserbatakpastian ini dengan sangat baik:

Nah, demikianlah. Sebuah gubahan musik yang sama sekali tidak sederhana, tidak biasa, tetapi indah luar biasa. Untuk mereka yang mendalami ilmu vokal atau mengkhususkan diri dalam musik opera, rasanya Messa da Requiem Verdi sangat relevan untuk dimasukkan ke dalam repertoar. Gw seneng banget berkesempatan mengapresiasi gubahan ini bersama Toonkunstkoor Amsterdam dan Philharmonischer Chor Duisburg September mendatang di Jerman, diaba oleh Giordano Bellincampi. Bernyanyi bersama kami empat solis Maria Jose Siri, Susanne Resmark, Antonello Palombi, dan Stephen Milling.

Di YouTube kita bisa menemukan cukup banyak video konser utuh Requiem Verdi. Gw pilihin deh satu ^^ dari sang Herbert von Karajan dan Pavarotti waktu masih muda. Enjoy!

Shakespeare, tergubah dan terlaras

Musik dan sastra adalah dua matra seni yang sering tak terpisahkan. Ada lebih dari cukup komposisi musik yang mengangkat teks sastra sebagai medium penyampaian makna. Pula sebaliknya, ada lebih dari cukup karya sastra yang merajut musik sebagai ornamen cerita. Dalam salah satu mahakaryanya, sastrawan terbesar Inggris, Shakespeare, melukiskan dengan penuh sensualitas bagaimana Orpheus, seorang nabi dari mitologi Yunani, berdaya menaklukkan gunung dan pepohonan ketika ia bernyanyi dan memainkan kecapinya. 

Orpheus with his lute made trees,
And the mountain tops that freeze,
Bow themselves, when he did sing:
To his music plants and flowers
Ever sprung; as sun and showers
There had made a lasting spring.

(cuplikan dari Henry VIII, 3.1.4-15)

Dunia paduan suara tentunya juga sangat erat hubungannya dengan dunia sastra. Banyak sekali komposisi paduan suara, terutama dari genre sekular, yang mengadaptasi teks sastra, baik dari puisi maupun cuplikan prosa. Komponis supratenar macam Eric Whitacre, misalnya, beberapa kali mengadaptasi teks karya Octavio Paz. Karya-karya sekular Johannes Brahms dan Felix Mendelssohn juga banyak yang mengangkat teks karya Johann Wolfgang von Goethe. Dari negeri sendiri, komponis dan pianis Ananda Sukarlan bahkan secara struktural memperkenalkan apa yang ia sebut sebagai ‘musik sastra’. Ananda mengangkat beberapa teks karya pujangga tanah air, seperti Sapardi Djoko Damono dan Seno Gumira Ajidarma. Selain itu, komponis avant garde Tony Prabowo juga menulis dua opera, King’s Witch dan Kali, yang teksnya diadaptasi dari karya Goenawan Mohamad.

Mengapa para komponis memiliki ketertarikan yang sangat besar untuk mengangkat teks sastra dalam komposisinya?

Tentang ini, komponis dan konduktor produktif Kirke Mechem memiliki pandangan yang menarik. Menurut Mechem, sebuah komposisi paduan suara dipahat oleh teksnya. Teks sekular pada khususnya, baik berbentuk puisi maupun prosa, lebih beragam dan berkarakter, dibandingkan teks sakral. Hal ini memungkinkan komponis berkreasi lebih bebas. Ada banyak hal menarik lain yang berhubungan dengan kepekaan terhadap kohesi dalam penggunaan teks sastra. Tapi, lema blog kali ini tidak akan membahas tentang itu.Kita akan menyempitkan fokus ke salah satu pujangga agung dalam sejarah, Shakespeare, yang gw kutip di atas.

Shakespeare

Kebesaran nama Shakespeare telah mengilhami banyak komponis paduan suara dalam musik yang mereka gubah. Keindahan dan kedalaman makna teks Shakespeare mendapatkan jiwa baru ketika ia digubah dan dilaras. Sayangnya, meskipun kajian tentang karya-karya Shakespeare dapat dengan mudah kita temukan di perpustakaan, studi mengenai teks Shakespeare dalam musik masih sangat jarang. Gw agak kesulitan mengumpulkan referensi yang relevan oleh karenanya. Studi oleh Mike Ingham berikut mewakili kelangkaan ini. Berikut ini gw akan mencoba menyenarai beberapa gubahan paduan suara yang mengangkat teks Shakespeare.

  1. Robert ApplebaumShall I Compare Thee to a Summer’s Day? – 2006
  2. Jean Berger3 Roundelays – 1965
  3. Benjamin Britten5 Flower Songs (To Daffodils; The Succession of the Four Sweet Months; Marsh Flowers; The Evening Primrose; Ballad of Green Broom) – 1950
  4. George Chadwick4 Choruses (Inconstancy; It was a Lover and His Lass; Mary’s Lullaby; Miss Nancy’s Gown) – 1910
  5. Frederick Delius4 Old English Lyrics (It was a Lover and His Lass; So White, so Soft, so Sweet is She; Spring, the Sweet Spring; To Daffodils) – 1916
  6. David Dickau3 from Shakespeare (O Mistress Mine; Sylvia; Sweet Lovers Love the Spring) – 2010
  7. Emma Lou Diemer3 Madrigals (Twelfth Night; Measure for Measure; Much Ado about Nothing) – 1962
  8. Matthew HarrisBook I – 1989; Book II – 1990; Book III – 1992; Book IV – 1995; Book V – 2002
  9. Knud Jeppesen, 4 Shakespeare Songs (Blow, Blow Thou Winter Wind; Winter; Spring; Under the Greenwood Tree) – 1940
  10. Sven-Eric JohansonFancies I+11 (Sylvia; Under the Greenwood Tree; Blow, Blow Thou Winter Wind; Fancy; O Mistress Mine; Lovers Love the Spring; Winter; Dirge; Hark! Hark! The Lark) – 1974
  11. Juhani Komulainen4 Ballads of Shakespeare (To Be, or Not to Be; O Weary Night; Three Words; Tomorrow and Tomorrow)
  12. Nils LindbergO Mistress Mine (Carpe Diem; A Madrigal; Shall I Compare Thee to a Summer’s Day) -1990
  13. George Macfarren7 Shakespeare Songs (Orpheus with His Lute; When Icicles Hang by the Wall; Come Away, Come Away, Death; When Daisies Pied; Who Is Silvia; Fear No More the Heat o’ th’ Sun; Blow, Blow, Thou Winter Wind) – 1860-4
  14. Jaakko Mäntyjärvi4 Shakespeare Songs (Come away, Death; Lullaby; Double, Double Toil and Trouble; Full Fathom Five) – 1984
  15. Frank MartinSongs of Ariel (Come unto These Yellow Sands; Full Fathom Five; Before You Can Say; You Are Three Men of Sin; Where the Bee Sucks) – 1950
  16. Gyorgy OrbanOrpheus with His Lute – 2000; O Mistress Mine – 2002
  17. Häkan Parkman3 Shakespeare Songs (Sonnet 76; Madrigal; Sonnet 147) – 1996
  18. Ernest RobertsonChoruses, Op. 16 (Music has Charms; Orpheus and His Lute; To Music, to Becalm His Fever) – 1985
  19. John RutterSongs and Sonnets from Shakespeare (Live with Me and Be My Love; When Daffodils Being to Peer; It was a Lover and His Lass; Spring; Who is Sylvia; Fie on Singul Fantasy; Hey, Ho, the Wind and the Rain) – 1975; Birthday Madrigals (It was a Lover and His Lass; Draw on, Sweet Night; Come Live with Me; My True Love Bath My Heart; When Daisies Pied) – 1975
  20. Nancy WertschShakespeare Suite (It was a Lover and His Lass; Oh Mistress Mine; Daffodils) – 2006
  21. Ralph Vaughan Williams3 Shakespeare Songs (Full Fathom Five; The Cloud-Capp’d Towers; Over Hill, over Dale) – 1951

Masih ada banyak lagi komposisi berdasarkan teks Shakespeare yang bisa kita temukan dalam pustaka musik. Kalau ada yang mau menambahkan, silakan. Daya tarik karya sastra dalam musik paduan suara, apalagi sekaliber Shakespeare, rasanya terlalu menarik untuk tidak kita jelajahi. Seperti yang Mechem kemukakan di atas, teks sekular semacam ini membuka segala kemungkinan interpretasi dan eksplorasi musikal. Senarai di atas sudah lebih dari cukup untuk sebuah program konser yang ‘menggigit’, ketimbang melulu menyajikan program konser paduan suara gado-gado yang umumnya kita ketahui.

Nah, selamat bereksplorasi dengan Shakespeare.

Sebagai pamungkas, silakan nikmati rendisi RIAS Kammerchor (Daniel Reuss) untuk Songs of Ariel (Frank Martin), yang juga akan menjadi salah satu repertoar konser Hollands Vocaal Ensemble bulan depan, bersama dengan Britten, Williams, Delius, dan Glass.

Reuni Musikal dengan Ivan Yohan

Ivan Yohan

Nama Ivan Yohan mungkin tidak begitu asing lagi di telinga masyarakat paduan suara tanah air. Selain dikenal sebagai penyanyi paduan suara lulusan Universitas Parahyangan Bandung, Ivan juga terlibat dalam banyak produksi musikal sebagai pengaba. Nama-nama seperti Musicanova Chamber Choir, Jakarta Conservatory Vocal Ensemble, Keeva Consort, National Youth Choir Indonesia, dan banyak lagi, lekat dengan predikatnya sebagai konduktor muda yang potensial. Belakangan, Ivan juga mulai dikenal sebagai pengubah. Gw berkesempatan membawakan beberapa karyanya, termasuk Pentatonic Hallelujah dan gubahan lagu rakyat Riau, Soleram, yang dipremiérkan di Eropa pada tahun 2007 oleh PSM AgriaSwara IPB.

Saat ini Ivan tengah mengambil studi pascasarjana di Konservatorium Musik Utrecht, Belanda, dalam bidang choir conducting, di bawah bimbingan Rob Vermeulen, segera setelah ia lulus sarjana musik dalam bidang nyanyi klasik. Dedikasi Ivan pada musik paduan suara tentunya berawal dari Paduan Suara Universitas Katolik Parahyangan, di bawah baton kepemimpinan Avip Priatna pada waktu itu. Bertahun-tahun keterlibatannya dalam konser, festival dan kompetisi bersama PSM Unpar, membuatnya begitu betah bermusik sehingga ia kemudian memutuskan untuk menimba ilmu lebih mendalam di Eropa. Gw mengikuti perjalanan musikalnya dari waktu ke waktu, dengan menghadiri konser-konsernya, atau sekadar mengapresiasi karya-karyanya yang terakses di dunia maya. Suatu waktu di tahun 2005, dengan sumringah gw sempat bekerja sama dengan Ivan dalam konser perdana (yang sayang oh sayang juga menjadi konser satu-satunya) National Youth Choir Indonesia. Seminggu penuh para penyanyi NYCI menyibukkan diri dalam musik dari pagi hingga malam, di sebuah wisma retret di Lembang, Bandung. Dengan bekal pengalaman berpaduan suara yang masih terbatas waktu itu, gw dengan antusias menyelami ‘musical mind‘ sang konduktor melalui interpretasinya terhadap komposisi abad Renaissance, modern, hingga gubahan lagu-lagu rakyat dari pelbagai pelosok Asia.

Tahun ini, gw reuni musikal dengan Ivan Yohan.

Jadi, ceritanya, sebagai salah satu prasyarat lulus dalam bidang studi yang sedang ia dalami, Ivan harus menyajikan rangkaian program paduan suara di mana ia sendiri melatih dan mengaba. Tercetuslah kemudian nama Traiectum Vocale, sebuah ansambel vokal yang utamanya terdiri atas mahasiswa-mahasiswa musik di Konservatorium Utrecht yang hampir semuanya mengambil bidang selain nyanyi.  Jadi, meskipun para penyanyinya sangat musikal, mereka pada umumnya tidak memiliki banyak pengalaman bernyanyi. Ivan bertanggung jawab untuk membentuk karakter vokal paduan suara secara keseluruhan; hal yang sama sekali tidak mudah, mengingat sangat terbatasnya jumlah latihan. Traiectum Vocale menampilkan konser perdananya Desember tahun 2012.

Segera setelah itu, Ivan harus menyiapkan program yang berbeda. Nah, beberapa minggu sebelum konser, salah satu tenornya mengundurkan diri. Alhasil, diselundupkanlah Hendra Agustian sebagai tenor ‘cabutan’ :).

Untuk konser keduanya di bulan Mei dan Juni ini, Ivan menyiapkan sebuah program musik paduan suara yang menggunakan teks berbahasa Spanyol. Secara hampil kebetulan, beberapa penyanyi Traiectum Vocale adalah mahasiswa asal Spanyol. Demikianlah, sebuah komposisi Mateo Flecha dan Oscar Escalada, dua dari Francisco Guerrero, dua gubahan Carlos Guastavino, dan satu siklus Einojuhanni Rautavaara, menjadi bahan ujian Ivan. Sang guru, Rob, tentunya hadir dalam konser dan pada satu atau dua kali latihan. Sangat menarik untuk disimak bagaimana didaktika dalam choir conducting berlangsung ketika pada suatu latihan Rob datang dan memberikan masukan ini dan itu pada Ivan. Secara khusus Ivan juga mendatangkan seorang ahli early music untuk juga memberikan arahan mengenai interpretasi musik Renaissance dari Spanyol.

Traiectum Vocale (Ivan Yohan)

Traiectum Vocale (Ivan Yohan)

Sebagai tenor selundupan, gw seneng banget bisa melibatkan diri dalam produksi musikal berskala kecil seperti ini. Selalu ada kesenangan lebih ketika bernyanyi dalam seting kecil. Tentunya juga sangat menyenangkan bisa reunian dengan Ivan. Ada banyak sekali perkembangan yang bisa gw amati dari konduktor muda ini sejak terakhir kali gw bekerja sama dengannya delapan tahun silam. Publik paduan suara tentunya akan dengan senang hati menanti karya cipta Ivan Yohan berikutnya.

Resital Vokal dan Kendali Mutu

“Kalo nyanyi keroyokan di paduan suara kayak gitu, lu nggak perlu punya suara bagus-bagus amat dong. Kan keroyokan…”

Kira-kira begitulah seorang kenalan gw waktu kuliah sarjana dulu pernah berkomentar mengenai paduan suara. Terdengar dangkal dan agak melecehkan, mungkin. Tapi kalau dipikir, komentar ini mau tidak mau membuat gw duduk sejenak dan berpikir: sejauh apa kita dituntut untuk bisa bernyanyi sebagai seorang penyanyi paduan suara? Atau mungkin lebih tepatnya, setinggi apa ekspektasi paduan suara tentang kualitas individual setiap penyanyinya?

Setiap paduan suara mungkin memiliki ekspektasi yang berbeda-beda dalam hal kualitas individual penyanyinya. Hal ini semata-mata disebabkan oleh sumberdaya yang tersedia, kemampuan musikal para penyanyi (dan juga pengaba), dan tujuan pendirian serta sasaran audiens paduan suara. Kategorisasi amatir dan profesional juga secara otomatis memetakan ekspektasi tersebut ke dalam semacam spektrum. Ada paduan suara yang sangat teliti dalam mengaudisi dan menyeleksi penyanyinya, ada juga yang cukup bergembira-ambil-hikmahnya dengan apa yang ada dan mencoba membangun kualitas nyaris dari titik nadir. Di antara kedua ekstrem tersebut, paduan suara mana pun boleh menentukan sendiri tingkat kualitas yang mereka ingin capai. Hanya saja, kualitas dalam musik adalah sesuatu yang kadang abstrak dan subjektif, sehingga kita kadang suka bingung sendiri di mana paduan suara yang kita geluti sekarang berada dalam spektrum tersebut. Namun, satu hal rasanya dapat dipastikan, bahwa setiap paduan suara ingin terus menjadi lebih baik. Bukankah begitu, Bu Dewi? ^-^

Spektrum kualitas

Dalam kurun waktu 2004 hingga 2009 dulu, ketika gw mulai merambah dunia musik di Jakarta dan sekitarnya, gw mengamati beberapa paduan suara independen (biasanya tidak terikat dengan institusi tertentu, macam gereja atau lembaga pendidikan) yang pada suatu hari didirikan, kemudian menggelar satu atau dua konser, atau mengikuti sebuah kompetisi, kemudian tidak terdengar lagi keberadaannya. Tentunya sah-sah saja untuk mengambil inisiatif mendirikan sebuah paduan suara, entah itu untuk sekedar mengumpulkan orang-orang yang sama-sama memiliki hobi bernyanyi atau serius ingin membentuk sebuah paduan suara yang layak konser. Pun tidak ada yang melarang kalau ada yang mengambil inisiatif mendirikan sebuah paduan suara sekadar untuk mencoba peruntungan dalam sebuah kompetisi (dengan catatan kaki: kalau menang paduan suara jalan terus, kalau nggak yo wis bubar jalan). Dunia musik selalu dengan tangan terbuka menyambut suara baru, genre musik baru, produksi musikal baru, wajah-wajah imut dan menggemaskan baru, dan seterusnya. Tapi lantas kita dihadapkan pada pertanyaan: apakah paduan suara dibentuk untuk lestari selama mungkin, ataukah hanya untuk semusim belaka? Semacam pertanyaan klisé long term relationship atau no strings attached? Bagaimana kita memastikan bahwa paduan suara yang kita miliki bertahan lama dan tetap merangkul audiens dari konser ke konser? Bagaimana caranya kita menjaga mutu paduan suara kita?

Dalam lema kali ini gw akan mencoba melempar satu atau dua gagasan mengenai kendali mutu dalam paduan suara.

Resital vokal dalam dunia musik klasik sudah lama dikenal dan dipraktikkan oleh para penyanyi, baik yang sudah berstatus profesional maupun yang masih mengikuti pendidikan. Batasan sederhana resital vokal adalah penampilan vokal solo, duo, atau hingga ansambel vokal kecil, biasanya diiringi satu atau dua instrumentalis. Pada dasarnya resital vokal adalah juga konser, tapi biasanya resital vokal merupakan produksi musikal berskala kecil yang sering diprakarsai oleh sang penyanyi sendiri sebagai penampil utama. Resital vokal adalah “momen sang penyanyi” untuk menunjukkan pada khalayak musik sejauh mana kemampuan dan apresiasi vokalnya berkembang dari waktu ke waktu. Makanya gw harus menggarisbawahi kata “secara teratur” karena inti dari penyelenggaraan resital vokal adalah kendali mutu, selain juga tentunya perayaan atas pembelajaran musikal yang dialami oleh sang penyanyi sejauh ini.

Nah, apakah resital vokal ini juga penting (dan berguna) diterapkan dalam sebuah paduan suara? Ya.

Komentar yang bilang kalo di paduan suara kita nggak perlu bagus-bagus amat nyanyi mungkin sedikit banyak membuat kita harus menata ulang sistem latihan dan program paduan suara kita setahun ke depan, misalnya. Konser tahunan gw rasa memang sudah jadi hajatan tetap banyak sekali paduan suara. Kalau kita tengok grup paduan suara di Facebook, kadang dalam seminggu ada lebih dari satu “annual concert” inilah, “newcomers in concert” itulah. Kita sebagai konsumen musik lalu harus memilih mau nonton konser yang mana. Pertanyaannya, apakan konser tahunan saja cukup?

Konser tahunan sejatinya diselenggarakan dengan tujuan menampilkan sebuah produksi musikal untuk publik, audiens, fans sebuah paduan suara. Sedikit-sedikit boleh lah ada pemasukan dari penjualan tiket konser, tapi utamanya sebuah konser tahunan dipersembahkan untuk dunia musik secara luas. Resital vokal, di pihak lain, ditujukan utamanya untuk kalangan sendiri. Karena skalanya yang lebih kecil dari konser, seperti gw sebut di atas, resital vokal lebih bersifat intim dan tidak terlalu formal. Tetapi ini sama sekali tidak mengurangi nilai pentingnya sebagai strategi kendali mutu paduan suara, tentunya.

Dengan menetapkan standar kualitas tinggi (alih-alih sekadar “nyanyi keroyokan, senang-senang, sudah makan pulang”), gw pikir sebaiknya paduan suara tidak hanya mengandalkan konser tahunan. Resital vokal juga sebaiknya diadakan, paling tidak setahun sekali.

Kalau ada 100 orang anggota penyanyi, apa nggak kebanyakan tuh resital satu-satu, Bang Jali?

Seting penyanyi dalam resital

Yang ini mungkin lebih bersifat teknis. Paduan suara bisa mengatur sebuah resital sedemikian hingga semua penyanyi kebagian tampil tanpa harus menunggu giliran semalaman. Caranya, buat kombinasi penampilan. Yang cukup berani dan percaya diri tampil solo boleh tampil solo. Mungkin dibatasi hingga beberapa orang saja. Sisanya, ada yang tampil duet, trio, kuartet, atau hingga ansambel vokal kecil. Yang penting adalah, semua penyanyi beroleh kesempatan untuk uji kemampuan bernyanyi dalam seting kecil.

Resital vokal, sekali lagi, adalah ajang uji kemampuan sekaligus perayaan. Semua penyanyi memiliki kesempatan yang setara untuk boleh sejenak menjadi diva dan/atau divo. Ekspektasi untuk tampil dalam resital berbeda dari konser pada umumnya. Hal ini lebih dikarenakan dalam resital, kita nggak nyanyi keroyokan, seperti kata temen gw yang nyebelin itu. Meskipun setiap penyanyi mungkin hanya kebagian menampilkan satu lagu, tapi mereka akan bekerja ekstra keras untuk bisa menampilkan yang terbaik, karena resital adalah “momen mereka”. Audiens mungkin akan mendengarkan suara mereka untuk pertama kalinya.

Nah, selamat berlatih menjadi diva/o ^^

 

Gubahan Bach yang Paling Dicintai

Suatu waktu di tahun 2012 silam gw diajak nonton konser di Grote Kerk, Naarden, sekitar 20 menit berkendara dari Amsterdam. Naarden adalah sebuah kotamadya “benteng bintang”. Disebut begitu karena kotamadya ini secara harfiah dikelilingi benteng yang kalau dilihat dari udara berbentuk seperti bintang.

Citra udara Naarden, dengan menara Grote Kerk menjulang di pusatnya, dan Danau Ijssel pada latar belakang.

Setiap tahun di bulan Maret, ketika musim semi mengetuk perlahan, gereja agung di Naarden menjadi tuan rumah sebuah pergelaran mahakarya musik yang paling dicintai di Negeri Kumpeni. Setiap tahun di bulan Maret, para tokoh politik kenamaan, termasuk sang Perdana Menteri, pesohor dan penyair, penguasa dan pengusaha, atau orang biasa, berkumpul di Naarden untuk mengapresiasi gubahan sakral yang paling sering dikonserkan di sini: Matthäus Passion karya Johann Sebastian Bach.

Begitu populernya Matthäus Passion di Belanda, tahun ini ada lebih dari 100 konser digelar di seluruh pelosok negeri, oleh orkestra dan paduan suara amatir maupun profesional. Kadang mereka membuat versi singkat dari keseluruhan musik yang bisa berdurasi lebih dari 3 jam ini. Atau ada juga kursus singkat menyanyikan bagian chorale atau memainkan bagian solo cello pada aria tenor “Geduld, geduld” (Sabarlah, sabarlah). Atau yang minggu kemarin juga sempat gw alami, Meezing Matthäus (Nyanyi-Bareng Matthäus), di mana publik juga boleh ikut bernyanyi pada bagian-bagian tertentu. Apa pun bentuk produksi musikalnya, Matthäus Passion telah menjadi tradisi perayaan Paskah sejak sekitar tahun 1870-an. Konser di Grote Kerk Naarden ini misalnya, telah ditampilkan oleh Nederlandse Bachvereniging (Masyarakat Bach Belanda) setiap tahun sejak 90 tahun yang lalu.

Menurut Jacqueline Oskamp, dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh De Groene Amsterdammer 31 Maret 1999, salah satu alasan mengapa Matthäus Passion begitu terkenal di sini adalah Willem Mengelberg (1871-1951). Selama 45 tahun berturut-turut dalam kariernya sebagai pengaba, Mengelberg menggelar Matthäus Passion, setiap tahun tak pernah terlewatkan. Hanya ketika di tahun 1944 setelah Perang Dunia II, ketika ia dilarang menjadi dirigen, barulah Mengelberg terpaksa harus berhenti. Namun, tradisi tahunan Matthäus Passion diteruskan oleh pengaba-pengaba lainnya, hingga hari ini. Dari sudut-sudut katedral dan gedung konser, di kota maupun di desa, kita  bisa mendengarkan alunan indah suara mezzosopran atau kontratenor menyanyikan “Erbarme dich” (Kasihanilah), atau hentakan mengerikan dalam “Sind Blitze, sind Donner in Wolken verschwunden” (Petir dan halilintar lenyap ditelan awan).

Begitulah, setahun yang lalu untuk pertama kalinya gw menyaksikan sendiri bagaimana masyarakat di sini, Katolik maupun Protestan, teis maupun ateis, dengan penuh apresiasi mengikuti prosesi konser yang penuh kompleksitas ini. Banyak di antara audiens membawa partitur mereka sendiri, yang seringnya sudah lecek saking seringnya dipakai. Sepanjang konser mereka mengikuti teks dan musik dalam partitur yang mereka bawa, atau buku program konser yang selalu menyertakan terjemahan teks Jerman dalam bahasa Belanda. Banyak di antara mereka yang tak kuasa menitikkan air mata, terutama pada bagian ketika Kristus disalibkan dan wafat, atau mungkin hanya karena terenyuh dengan keindahan musik dan suasana wingit yang tercipta sepanjang konser.

Begitu dramatis pengalaman tersebut berbekas dalam psike gw, hingga gw memutuskan untuk mencari paduan suara yang memang secara teratur menggelar gubahan Bach paling dicintai ini. Tahun ini, dengan penuh semangat dan kecintaan pada musik, akhirnya gw ambil bagian dalam produksi Matthäus Passion dengan Combattimento Consort (Jan Willem de Vriend), Toonkunstkoor Amsterdam (Boudewijn Jansen), Roder Boys Choir (Rintje Albert te Wies), dan solis-solis fantastis macam Andreas Weller sebagai Evangelis, Michael Kraus sebagai Yesus, soprano Claron McFadden dan Lenneke Ruiten, mezzosoprano Cécile van de Sant dan Barbara Kozelj, tenor Thomas Michael Allen, dan bariton Maarten Koningsberger. Lima konser di lima tempat: satu konser nyanyi-bareng di Concertgebouw Amsterdam, dua konser di Muziekgebouw aan ‘t Ij Amsterdam dan Philharmonie Haarlem, satu konser yang melibatkan ratusan anak-anak sekolah dasar, dan satu konser tahunan monumental tepat pada hari Jumat Agung di Concertgebouw … nanti malam.

Tahun ini gw satu repertoar Bach lebih kaya ^^. Untuk yang belum pernah mengalami sendiri keajaiban musik Bach paling dicintai yang gw bahas di sini, silakan nikmati interpretasi Philipp Herreweghe yang dinilai banyak kritisi musik sebagai salah satu yang terbaik.

Semoga menginspirasi.

Konser HVE “Ein rein Herz”

HVE Spring Concert 2013

HVE Spring Concert 2013

Sekitar dua bulan setelah lulus audisi menjadi penyanyi sebuah ansambel vokal yang berbasis di Amsterdam, Hollands Vocaal Ensemble (HVE), gw ngamen lagi setelah sekitar setahun absen dari bidikan lampu sorot. Tepat setahun silam gw ngamen keliling Negeri Kumpeni bersama Nederlands Studenten Kamerkoor (NSK), membawakan komposisi dan gubahan a cappella dari abad kekinian. Dua minggu, empat premiér, sepuluh konser, berakhir di Concertgebouw Amsterdam. Tepat setahun kemudian, gw dengan sumringah menampakkan diri lagi. Kali ini di Haarlem dan Amsterdam.

HVE membawakan komposisi a cappella dari komponis Jerman: Hugo Distler, Heinrich Schütz, Felix Mendelssohn, Anton Bruckner, dan Johannes Brahms. Nama-nama yang rasanya sama sekali tidak asing di telinga publik paduan suara di Indonesia. Kecuali mungkin Distler, yang relatif jarang terdengar dinyanyikan di tanah air. Distler adalah seorang komponis, organis, guru, dan pengaba paduan suara yang mati muda: bunuh diri pada usia 34 tahun, di tengah kengerian perang dunia dan kebingungan antara melayani Tuhan atau Nazi. Musik Distler yang sering berbentuk polifoni dan berdasarkan tangga nada pentatonis dianggap sebagai ‘seni yang bobrok’ oleh publik Jerman kala itu. Tetapi justru karena kekhasannya itulah komposisinya menjadi unik. HVE dengan bangga mempersembahkan dua komposisi Distler yang cukup menantang: “Singet dem Herrn ein neues Lied” dan “Fürwahr, er trug unsere Krankheit”.

Janskerk, Haarlem (photo: Rijksmonumenten)

Hari pertama HVE konser di Janskerk, Haarlem, yang dulunya adalah sebuah gereja yang dibangun sekitar awal tahun 1300an. Saat ini fungsinya diubah menjadi Gedung Arsip Provinsi Noord Holland. Begitu kayanya sejarah gedung ini, pemerintah provinsi tidak dengan semena-mena menyulap gereja menjadi gedung arsip begitu saja. Pada beberapa sudut dalam gedung, wajah asal gereja masih bisa kita telusuri, seperti dinding yang sebagian sengaja dibiarkan tanpa semen, seolah mengizinkan wajah tua nan keriput berusia 700 tahun itu ikut mengambil perhatian audiens konser.

Di hari kedua, HVE tampil di Waalse Kerk, Amsterdam, sebuah gereja di pusat kota yang dibangun pada awal abad ke-15. Menurut pengaba kami, gereja kecil ini memiliki salah satu akustik terbaik untuk konser paduan suara dan musik kamar. Itulah sebabnya, live recording dibuat untuk konser hari kedua.

Waalse Kerk, Amsterdam (photo: Reformatorisch Dagblad)

HVE membuka konser dengan motet untuk 8-suara “Mitten wir im Leben sind“, lagu ketiga dari Op.23-nya Felix Mendelssohn. Komposisi ini pertama banget gw denger dulu di Indonesia, dinyanyikan dengan baik oleh PSM Unpad pada salah satu kompetisi paduan suara di Bandung tahun 2002. Tahun 2005, gw berkesempatan menyanyikan komposisi ini dengan National Youth Choir Indonesia. Tapi sayang, Ivan Yohan sang pengaba belakangan memutuskan untuk tidak memasukkan lagu ini ke dalam repertoar konser.

Siapa nyana, tahun 2012 akhirnya gw sempat juga mengapresiasi motet yang penuh kekuatan emosi dan ketelitian musikal ini. Menurut Julian Haylock, motet ini memiliki karakter Bach yang sangat kuat. Tiga ayat yang menjadi tubuh utama lagu selalu diakhiri dengan “Kyrie eleison” dan ditandai dengan tekstur yang bertentangan, antara chorale yang khidmat dan vivace kontrapuntal.

Sebagai rujukan, berikut pranala YouTube St John’s College Choir, Cambridge, membawakan lagu ini.

Dalam komposisi 8 suara divisi, gw biasanya menyanyikan Tenor 1. Tapi, seperti biasanya, gw selalu kedapatan tugas tambahan. Salah satu Tenor 2 tiba-tiba mengundurkan diri dari konser beberapa hari sebelum hari-H. Alhasil, Fokko Oldenhuis sang pengaba meminta gw untuk belajar cepat semua bagian Tenor 2. Yah… gw lagi, gw lagi. Tapi demi keseimbangan suara, gw jabani juga. “Kyyyyrieeee eleisoooon…”

Kemudian HVE merangkai kata terakhir ‘eleison’ pada lagu pembuka dengan salah satu motet Johannes Brahms yang paling indah: “Schaffe in mir Gott, ein rein Herz“, yang juga menjadi judul konser kali ini. Hati yang Bersih. Brahms menulis motet ini berdasarkan teks Mazmur 51. Banyak kritisi musik menilai motet-motet Brahms layak disandingkan dengan motetnya Bach. Nomor kedua dari Op. 29-nya Brahms ini misalnya, mengingatkan kita pada motet “Singet dem Herren ein neues Lied” (Johann Sebastian Bach).

Sebagai rujukan, coba buka Spotify kalian dan dengarkan Norddeutscher Figuralchor membawakan motet Brahms dan Kammerchor Stuttgart membawakan motet Bach yang gw sebutkan di atas.

Selepas Brahms, HVE menyajikan musik Distler yang unik itu, dimulai dengan “Fürwahr, er trug unsere Krankheit” (Dan sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggung-Nya). Motet yang teksnya diambil dari Yesaya 53:4-5 ini adalah komposisi terakhir yang ditulis Distler sebelum dia bunuh diri setahun kemudian. Sepanjang lagu ada banyak sekali bunyi disonan dan harmoni kromatik yang cenderung terdengar putus harapan. Musik Distler yang terdengar sedih dan muram ini memang tidak terlepas dari konteks ruang dan waktu di mana dan ketika komposisi ini ditulis, yaitu ketika Nazi di Jerman semakin mengukuhkan cakar-cakar fasismenya di Jerman dan Eropa. Untuk gambaran, silakan dengar Monteverdi Chor München membawakan motet ini di Spotify.

Alur waktu kemudian sejenak mundur beberapa abad. Giliran komposisi sakralnya Heinrich Schütz, yang dipandang sebagai komponis Jerman paling penting sebelum Bach. Sebagai murid Gabrieli dan pengagum Monteverdi, dia memperkenalkan gagasan musikal baru dari Italia ke dunia musik di Jerman.

HVE bernyanyi dalam seting yang berbeda untuk motet-motet dari zaman Barok ini. Sekitar 30 orang penyanyi dalam ansambel vokal ini dibagi dua. Setengahnya menyanyikan motet “Die Himmel erzählen die Ehre Gottes”, kemudian Claudia Rolando, salah satu soprano kami yang berasal dari Argentina dan sekarang tengah menempuh PhD di Belanda dalam bidang pembelajaran nyanyi klasik membawakan dua motet untuk solo “O misericordissime Jesu” dan “O Jesu nomen dulce” diiringi konduktor Fokko memainkan klavisimbel. Pada saat gw menulis lema blog ini, Claudia sedang berada di Paris dalam tur konsernya keliling Eropa membawakan musik klasik Argentina. Setelah dua lagu solo tersebut, separuh penyanyi yang lain, termasuk gw, membawakan “Unser Wandel ist im Himmel”. Seperti biasa, gw selalu menikmati bernyanyi dalam seting kecil seperti ini. Kami bernyanyi seperti penyanyi madrigal, setengah melingkar dan campur aduk: penyanyi kiri-kanan harus dari suara lain. Gw seneng banget bisa nyanyiin Schütz lagi, setelah terakhir tahun 2009 bawain satu atau dua karyanya yang lain dengan Batavia Madrigal Singers.

Di YouTube bisa kalian dengarkan Collegium Vocale Gent (Philippe Herreweghe) yang spektakuler itu membawakan motet Schütz yang pertama:

dan kedua:

Selepas motet dari zaman Barok, HVE mempersembahkan komposisi lain dari Distler, “Singet dem Herrn ein neues Lied”. Motet yang terdiri atas tiga bagian ini diawali dengan bagian unisono yang dinyanyikan oleh para pria, yang terdengar cenderung resitatif. Badan lagu mengandung banyak sekali pergantian ritmus dan modalitas, sangat energik dan penuh fantasi. Coba lihat pranala YouTube berikut dari Calmus Ensemble Leipzig.

Kemudian konser diakhiri dengan salah satu motet Mendelssohn yang sangat terkenal itu: “Mein Gott, warum hasst du mich verlassen”. Motet ini merupakan nomor terakhir dari Op. 78 Tiga Mazmur untuk Paduan Suara Ganda, dan karya terpanjang di antara ketiga motet dalam opus ini. Mendelssohn menyelesaikan komposisi ini pada tahun 1844, dan dikomisi oleh Berliner Domchor. Di Inggris, motet ini sangat sering dibawakan sebagai repertoar konser. Bagian awal yang mengedepankan efek dramatis pergantian melodi solo tenor dengan harmoni paduan suara menjadi kekuatan motet ini. Kemudian ketika teks memasuki “Ich bin ausgeschüttet wie wasser”, kentara bahwa bentuk dan tekstur lagu berubah dan baru, dengan bersandingnya solokuartet dengan paduan suara. Rendisi HVE untuk motet ini menurut sang pengaba sih sangat meyakinkan. Nah, gw jadi penasaran nunggu hasil rekaman penampilan kami dalam konser ini.

Sebagai tanda cinta gw buat kalian, 😛 silakan nikmati Estonian Philharmonic Chamber Choir (Daniel Reuss) membawakan Op. 78 Nr. 3 mahakarya Mendelssohn ini.