Buklet Konser VS Undangan Pernikahan

Musik yang baru saja kalian nyanyikan telah menyentuh rasa kemanusiaan saya. Terutama yang ini. (Ia menunjuk salah satu repertoar dalam buklet program konser) Saya menyimak dengan seksama pernyataan musikal yang kalian nyanyikan. Saya membaca dan menyelami setiap kalimat dan makna di balik bahasa yang  tidak selalu saya pahami. Sepanjang konser, saya seperti sedang trance. Saya akan menyimpan buklet ini baik-baik.

Testimonial ini gw dengar dari salah satu audiens di Waalse Kerk, Amsterdam, usai konser “Shakespeare and Songs” bersama Hollands Vocaal Ensemble beberapa waktu silam. Ia secara spesifik menunjuk pada bagian buklet konser, yaitu teks puisi Raymond Lévesque yang digubah oleh Philip Glass untuk SATB, Quand les hommes vivront d’amouryang tercetak dalam teks asli berbahasa Perancis dan terjemahannya dalam bahasa Inggris:

When men live in brotherly love
There will be no more misery
And the good days will begin
But as for us, we shall be long gone,
my brother
When men live in brotherly love
There will be peace on Earth
Soldiers will be troubadours
But as for us, we shall be long gone,
my brother

Dari sudut pandang penyanyi di atas panggung, tampak jelas bagaimana penonton yang hadir menjadikan buklet konser sebagai panduan mengapresiasi musik yang kami nyanyikan. Kekhususan tema konser kali ini, mengetengahkan syair sastra sekaliber Shakespeare, membuat buklet konser sebagai alat bantu yang sangat penting. Sebagai pelaku musik, HVE ingin agar pesan sang komponis lewat komposisinya sampai ke publik.

Empat tahun malang melintang di dunia paduan suara di sini, gw mengamati beberapa hal yang kayaknya menarik untuk kita diskusikan.

Buklet konser sebagai media pendidikan musik

Koor-koor di Belanda menganggap penting buklet konser, karena lewat buklet lah segala informasi mengenai konser dapat dibaca. Bukan hanya urutan repertoar, profil pengaba, pemusik dan penyanyi saja, tapi juga informasi terperinci mengenai setiap komponis, setiap lagu yang dinyanyikan, dan teks beserta terjemahannya. Buklet konser Kamerkoor Vocoza “Tussen mij en God” (Antara aku dan Tuhan) tahun 2011 ini misalnya. Setiap komposisi dibahas, dari sudut pandang latar belakang penciptaan dan apa relevansinya dengan tema konser yang diangkat kali itu. Entitas Tuhan menjadi tema sentral dalam konser tersebut, dan audiens bisa dengan mudah bergabung dalam proses kreatif-musikal yang kami lalui sebagai pemusik. Bahkan diskursus filosofis mengenai “Seperti apakah wujud Tuhan yang Anda percayai?” juga tertulis dalam buklet ini. Mayoritas masyarakat Belanda yang agnostik sekular sudah meninggalkan pandangan tradisional agama dan ketuhanan, tetapi spiritualitas tampaknya tetap menjadi bagian dari hidup mereka.

Kenapa sih segitu ribetnya bikin buklet konser seterperinci itu?

Konser paduan suara, menurut komunitas musik di Eropa (paling tidak yang sejauh ini gw amati), bertujuan tidak hanya sebagai ajang rekreasi dan apresiasi seni, tapi juga pendidikan musik. Di benua di mana musik paduan suara sudah mengakar dalam budaya mereka sejak ratusan tahun yang lalu, orang datang menonton konser paduan suara biasanya bukan sekedar duduk manis pasang telinga hip hip hura, tapi juga mereka biasanya ingin belajar hal baru, menemukan inspirasi musik baru, mengenal komponis dan komposisinya.

Beberapa tahun silam, Michael Allsen, seorang profesor dari sebuah universitas di AS menggagas semacam petunjuk pelaksanaan membuat buklet konser. Ia menekankan bahwa sebuah buklet konser yang bagus memiliki dua fungsi: memberikan gambaran latar belakang dan sejarah komposisi dan memberikan gambaran tentang apa yang bisa diharapkan oleh publik ketika mereka mendengarkan komposisi tersebut.

Bagian-bagian penting dalam sebuah buklet konser

Sebagai contoh, gw pake buklet konser Hollands Vocaal Ensemble yang gw bahas di awal tadi. (I know it’s in Dutch, but you can get an idea of how it looks.) Dalam buklet ini, yang seluruh isi dan layout-nya dikerjakan dengan rapi dan komprehensif oleh Marieke, salah satu penyanyi alto, penonton konser mendapatkan informasi lengkap tentang musik yang kami persembahkan. Buklet diawali dengan pengantar singkat, semacam benang merah, repertoar yang kami nyanyikan. Tidak ada basa-basi ucapan terima kasih di sini, hanya inti tema konser yang dikemas dalam semacam narasi singkat.

Kemudian dalam buklet konser ini para komponis dibahas satu persatu. Sekilas mungkin tampak seperti copy-paste dari Wikipedia, tapi kalo dibaca dengan teliti, tampak jelas kalau teks Shakespeare yang menjadi tema konser ini diberikan penekanan. Dari sekian banyak komposisi Britten, misalnya, hanya “Five Flower Songs” yang mengangkat teks penyair paling terkenal sepanjang masa ini. Dalam artikel yang ditulis Allsen tadi, dia juga mengetengahkan isu plagiarisme dalam buklet konser. Menurut dia, hal ini terjadi karena penulis buklet sekadar menyomot alias copy-paste dari sumber di internet.

Ringkasnya, sebuah buklet program yang bagus sebaiknya memuat:

  • Daftar repertoar
  • Latar belakang pemilihan repertoar dan judul konser
  • Sekilas tentang komponis dan komposisi dalam program (dan kaitannya dengan tema konser)
  • Teks lagu dan terjemahan
  • Profil pengaba dan paduan suara
  • Rencana konser berikutnya

Akhirnya, pilihan menyajikan buklet konser yang bagus (atau tidak) ada di tangan paduan suara. Kadang sumberdaya yang terbatas (baca: nggak ada yang cukup rajin meramu informasi dan menyajikannya) menjadi alasan audiens memperoleh buklet konser yang tampak seperti undangan pernikahan: mentereng, dicetak di atas kertas tebal dan mahal dengan disain menarik dan penuh warna… tapi miskin informasi. Atau mungkin konduktornya yang sekadar mencomot lagu ini dan itu tanpa ada benang merah atau tema yang jelas, sehingga sangat sulit membuat narasi yang koheren.

Jadi, pertanyaannya, lebih pilih mana? Fancy tapi miskin informasi, atau sederhana tapi kaya akan relevansi?

Perlu diingat, audiens membayar tiket bukan hanya untuk menikmati musik per se, tapi juga memperoleh informasi baru tentang musik yang mereka tonton. Selain tentunya musik dengan kualitas konser, informasi tentang musik yang dibawakan juga hak mereka.

Advertisements

Konser Kedua bersama Kamerkoor Vocoza

Vocoza

Vocoza

Mo cerita dikit ya. ^^ Jadi, seperti beberapa temen tau, di sini gue gabung sama paduan suara kecil (sekitar 30 penyanyi), namanya Kamerkoor Vocoza (singkatan Vondelpark Concertgebouw Zangers) di bawah direksi Sanne Nieuwenhuijsen. Nah, hari ini kita baru aja selesai Repetitieweekend (Latihan Akhir Minggu). Setiap tahun sekitar awal musim semi, Vocoza sengaja menyewa sebuah hall untuk dipakai latihan seharian selama dua hari berturut-turut. Total jam tatap muka sekitar 15 jam. Kejar tayang deh. Tapi gue suka pisan sama program Latihan Akhir Minggu ini, karena kalau latihan seharian kayak gini, semua repertoar untuk konser kami bulan Mei nanti terbahas.

Tahun ini Vocoza mengadakan Latihan Akhir Minggu di Drommedaris (www.drom.nl), sebuah bangunan monumental dari abad ke 16 di Enkhuizen, kota pelabuhan kecil di tepi IJsselmeer (salah satu danau bikinan orang Belanda, yang sebenarnya bagian dari Laut Utara itu). Beberapa dari kami menginap di Enkhuizen malam ini, tapi gue memilih untuk pulang ke Amsterdam karena Senen gue ada konsultasi riset.

Untuk konser bulan Mei nanti, yang judulnya terdengar sangat manis, “M&M’s” (ya, as in M&M’s chocolate ^^ mmm… yummy). Dinamai begitu karena konser ini menampilkan 4 komposer yang nama (belakang-) nya dimulai dengan huruf M: Frank MARTIN, Gustav MAHLER, Bohuslav MARTINU, dan Felix MENDELSSOHN. (Belakangan judul tersebut diganti menjadi “Tussen mij en God”) Konser kali ini bertema sakral, dengan Misa untuk Paduan Suara Ganda-nya Martin yang spektakuler itu; aransemen Mahler untuk 16 suara; 4 lagu tentang Maria dalam bahasa Ceko; dan 3 mazmur-nya Mendelssohn. Repertoarnya gue banget deh. Tentunya, beberapa lagu pernah gue konserin sama padsu di Indonesia sebelumnya (Twilite Chorus tahun 2005 lalu, sama BMS tahun 2008, dan sama AgriaSwara di Jerman –tapi nggak jadi dinyanyiin karena kita nggak masuk final :P). Ayo, ayo, siapa yang tahu judulnya apa? ^^

Kamerkoor Vocoza: Kyrie (Frank Martin)

Dari konser ke konser, Vocoza gue bilang sangat kreatif, berani bereksperimen, meskipun beberapa orang bilang agak ambisius. Gue sih suka. Terus, yang paling gue suka dari format konser mereka adalah mereka sangat menaruh perhatian pada detail. Setiap lagu dibahas dari sudut pandang filosofis. Konduktornya bercerita tentang sejarah komposer dan komposisi. SEMUA lagu selalu diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, sehingga semua penyanyi tau apa yang dinyanyiin. Sering, terjemahan syair ini juga dinyanyikan dalam latihan. Dalam padsu-padsu yang pernah gue ikutin, detail ini tidak pernah bener-bener digarap. Hal lain yang juga sangat gue suka adalah sang konduktor bener-bener punya konsep yang solid mengenai tema konser. Ia bisa dengan sangat fasih menggambarkan repertoar konser sebagai lukisan; yang kemudian juga ditulis dalam buku program. Jadi, buku program konser Vocoza bukan cuma kasi liat profil paduan suara, judul lagu dan nama-nama penyanyi saja. Tapi juga artikel singkat mengenai keseluruhan program sebagai sebuah cerita yang hidup. Gue sampe nggak habis pikir, kreatif bener ya orang-orang ini berimajinasi.

Vocoza secara rutin mengadakan konser minimal 2 kali setahun. Vocoza, dan juga kebanyakan paduan suara di Belanda, tidak tertarik mengikuti kompetisi paduan suara, seperti yang kita amati di Indonesia. Tema konser berikutnya sudah dipikirkan dari sekarang. Kata sang konduktor sih, akhir tahun nanti kami konser lagi, bawain komposisi kontemporer yang memakai syair-syair Shakespeare dan Goethe. Hmmm… sounds yummy! ^^

Segitu dulu yaaa, ceritanya. Kembali ke proposal penelitian. Yuk mariiii.

Konser Vocoza “Zomer Herfst”

Dari milis AgriaSwara IPB (27 November 2010)

Kamerkoor Vocoza Amsterdam

Kamerkoor Vocoza Amsterdam

Seneeeeeeng banget, akhirnya bisa konser lagi. Diterima jadi anggota sekitar akhir September, tadi malem kami konser di Groenmarktkerk, Haarlem. Seperti biasa, Vocoza menampilkan konser di dua venue. Hari ini kami akan konser lagi di Mozes en Äaronkerk, Amsterdam.

Venue tempat kami konser tadi malam adalah sebuah gereja yang akustiknya, menurut gw, salah satu yang terbaik untuk konser paduan suara dan musik kamar yang pernah gw alami. Kami tampil dalam sebuah format konser bersama empat orang pemusik dengan instrumen autentik zaman Barok: continuo, theorbe, violoncello, dan violon. Bersama kami, juga tampil seorang soprano (mantan penyanyi Vocoza di tahun 80an yang sekarang berkarier internasional), Johannette Zomer. Ini adalah kali pertama gw terlibat dalam konser musik kamar seperti ini. Dan kesan gw, konser ini sangat intim, dan audiens-nya sangat atentif.

Konser kami buka dengan Jesu, meine Freude (Bach), dengan format lengkap paduan suara dan semua instrumen, tanpa Johannette. Karya monumental Bach yang satu ini adalah motet terpanjang dan paling terkenal dari 6 motet untuk paduan suara yang ditulis Bach untuk 5 suara. I’m a Bach enthusiast, so I find this piece simply irresistible. Apalagi dengan iringan instrumen yang emang berasal dari zamannya Bach. Gw bisa bilang, gw merasa kembali ke Leipzig, tahun 1723, ketika karya ini di-premiere-kan. Tapi yang paling gw suka dari bagian ini adalah bagaimana Sanne, konduktor kami, berhasil mengolah musik Bach yang penuh detail menjadi sebuah penampilan yang mengadiluhungkan presisi dan artistri. Dari sudut penyanyi, gw bisa menyelami bagaimana teks biblikal dalam motet ini diterjemahkan ke dalam musik yang berbicara. Bukan hanya bernyanyi, tapi juga menyampaikan pesan.

IMG_2842

Setelah Bach, paduan suara silam. Kemudian Johannette naik panggung, membawakanDeuxieme Leçons de Tenebres (Couperin). Ini adalah sebuah karya yang menggambarkan refleksi dan kontemplasi atas dosa, seperti dalam cerita di Perjanjian Baru, tentang kehancuran Jerusalem pada abad ke 6 sebelum Masehi. Johannette tampil sangat memukau. Dari kursi penonton paling belakang, gw mencerap keindahan sebuah karya musik Barok Perancis yang memiliki karakteristik berbeda dari musik barok Jerman, macam Bach dan Händel. Pada awal setiap ayat, Couperin menyulap huruf dari abjad Iberani menjadi sebuah melisma yang sangat indah, kemudian diakhiri dengan kalimat Jerusalem, Jerusalem, Dominum Deum tuum ad convert.

Sama sekali berbeda dari dua karya pertama, pada karya ketiga, kami tampil a cappella, membawakan Fünf Gesange (Brahms). Temen-temen angkatan 41 ke atas mungkin ingat AgriaSwara pernah membawakan salah satu dari 5 lagu Brahms ini: Verlorene Jugend. Tadi malam kami menampilkan karya ini secara utuh. Well, biasanya Vocoza memang menampilkan semua nomor dari sebuah opus. Kelima lagu Bramhs ini menggambarkan serbaneka atmosfer musim gugur: dedaunan yang terserak di atas tanah, melankoli bunga-bunga yang layu oleh dinginnya udara, tapi juga pengharapan akan datangnya kedamaian dan sinar matahari. Karya nomor 4, Verlorene Jugend, Brahms membuat lukisan alam dalam musiknya, tentang energi masa muda yang tersisa setelah musim berlalu. Keseluruhan karya ini terkesan melankolis, padahal Brahms menulisnya di musim panas, sekitar tahun 1887.

Tiga karya pertama ternyata memakan waktu cukup panjang, setelah itu kami rehat.

Babak kedua konser dibuka dengan tiga karya epik komponis kontemporer Estonia, Veljo Tormis, yang datang melatih kami awal November lalu, sebagai bagian dari Tormis Festival yang diadakan di Amsterdam, mengumpulkan paduan suara-paduan suara amatir dari seluruh pelosok Belanda. Dalam masterclass bersama Tormis, katanya sih, disamping pengolahan musik yang bagus, pelafalan bahasa Estonia kami nyaris sempuna ^^. Beliau mengundang kami untuk konser di Estonia karenanya. Buat gw, ini pengalaman pertama terlibat dalam sebuah produksi musik di mana komposernya sendiri turun tangan dan melihat sendiri bagaimana musik yang dia tulis diinterpretasikan oleh sebuah paduan suara yang bukan dari negerinya sendiri. Dalam 3 Laulu eeposest Kalevipoeg, Tormis menghidupkan kembali musik rakyat dan sejarah Estonia dalam sebuah kisah tentang kehilangan dan perjuangan. Puisi dalam teks Kalevipoeg bercerita tentang Kalevipoeg (Anak Lelaki Kalev). Salah satu lagu dari Kalevipoeg ditulis Tormis ketika ia kehilangan ibundanya pada sekitar tahun 50an, waktu ia masih menjadi siswa Konservatorium Moskow. Pada lagu terakhir, Tormis membuat lukisan alam tentang ombak di lautan. Pada nomor ini, para bass 2 meluncur ke bawah sampai C2.

IMG_2834

Dari abad kontemporer, kami kembali ke awal zaman Barok, membawakan Lamento d’Ariannabersama Johannette dan instrumen Barok. Sebagai penggemar berat Monteverdi, gw menemukan nuansa baru dalam musik lamento ini. Monteverdi bercerita tentang Ariadna, yang menolong Theseus keluar dari labirin yang dibuat oleh ayahnya, Raja Minos dari Kreta. Setelah Theseus, membantai Minotaur, ia ternyata mengingkari janjinya menikahi Ariadna. Opera ini bercerita tentang kesedihan Ariadna.

Terakhir, kami membawakan Hör mein Bitten (Mendelssohn). Untuk lagu ini, kami turun dari altar dan naik ke mezanin di lantai tiga, di bawah orgel besar yang menutupi nyaris seluruh dinding di bagian façade gereja. Sang musisi kontinuo kali ini mengiringi kami dengan orgel, dengan Johannette sebagai solis. Lagu ini, yang berarti Dengarlah Doaku, adalah salah satu karya favorit sang komposer sendiri yang ia tulis pada zaman Victoria. Selang seling solo dan paduan suara pada karya Mendelssohn ini mengingatkan kita pada lagu-lagu patriotik Inggris. Oleh karena itulah, versi Inggris dari lagu ini, Hear My Prayer, adalah salah satu karya paling terkenal dan paling banyak dinyanyikan yang pernah ditulis Mendelssohn. Efek akustik dengan bernyanyi di atas mezanin ternyata cukup dramatis, karena audiens mendengar suara kami seperti dari langit ^^.

Keseluruhan konser ternyata cukup panjang. Lebih dari 2 jam. Cape juga. Tapi seneeeeng banget. Gw belajar banyak dari pengalaman gw bermusik bersama teman-teman di Vocoza. Salah satu yang gw pelajari adalah, Vocoza tampaknya perencana yang baik. Program konser berikutnya sudah dipublikasikan dari konser kali ini. Bukan hanya publikasi tanggal dan tempat, tapi juga program yang akan kami bawakan berikutnya. Bulan Mei tahun depan. Dan, gw melihat ada Missa for double choir (Frank Martin) yang pernah gw bawakan bersama Twilite Chorus tahun 2005 lalu. ^^

Segitu dulu yah, semoga lapdangmatnya bermanfaat.

Audisi Kamerkoor Vocoza

Dari milis AgriaSwara IPB (11 Oktober 2010)

Hallo.

Pengen sedikit bagi cerita sama kalian. Jadi begini, sambil ngurusin masa transisi gw di sini, gw iseng tuh kirim lamaran gabung paduan suara di sini. Berhubung hampir semua padsu di sini punya website sendiri, dan setiap website itu dikelola dalam sebuah direktori padsu di seluruh negeri kumpeni, nah, mulai lah gw research kecil-kecilan. Kutahu yang kumau:
paduan suara semi profesional, kalo bisa yang penyanyinya gak lebih dari 25 orang (di sini dibilangnya Kamerkoor, alias chamber choir, alias paduan suara ngamar, eh, kamar) jangan jauh-jauh dari rumah, mesti sekitaran lingkar kanal Prinsegracht yang oke punya tentunya ^^

Nah, dapet deh tuh, dua kandidat, Kamerkoor Vocoza dan Lorca Kamerkoor. Berbeda dengan proses rekrutmen di Indonesia, di sini biasanya orang kirim resume (short CV) untuk gabung padsu. Gw kirim lah lamaran gw, beserta resuma musikal gw yang merekam 11 tahun keterlibatan gw dalam dunia musik di Indonesia: 6 kelompok vokal dan paduan suara, sekitar 30 produksi musikal termasuk tur konser dan kompetisi, dan sekitar 50 komposer yang karyanya pernah gw nyanyiin. Buset dah. Gw aja sampe terheran-heran sendiri waktu gw bikin resume musikal gw. Padahal sampe gw SMA, pengalaman musik gw NOL besar. But anyway, choir yg pertama, Kamerkoor Vocoza, merespons.

Dari komunikasi by email, PR Vocoza setuju untuk gw ikut latihan bersama mereka, dan melihat apakah Vocoza sesuai dengan apa yg gw inginkan. Berdasarkan resume gw, mereka tau kalo gw bisa prima vista, jadilah… latihan pertama langsung dikasi Bach (Jesu, meine Freude), Brahms (Fünf Gesange) dan komposisi Estonia Veljo Tormis. Buset! Prima vista si prima vista, tapi komposisi seberat itu? Tapi ya sutralah… gw kunyah juga tuh Bach, Brahms dan Tormis. By the way, dari awal latihan, semua direksi dan interpretasi, semua dalam bahasa Belanda. Yuk mari. Bahasa Belanda gw masih terbata-bata, tapi gw ngerti kalo orang ngomong. Jadi, ya sudah, terima saja. Lagipula, gw sudah mengantisipasi ini dari awal. Unless ada padsu internasional di sini, gw harus siap dengan medium bahasa penjajah. Nasib 😛

Habis latihan, konduktornya (Sanne Nieuwenhuijsen, cantik, masih muda, umur 31) nanya, “Gimana, gimana? Bagus gak? Tertarik untuk audisi?”

Well, gw bisa bilang kalo dari impresi 2 jam latihan bersama Vocoza, dengan sekitar 24 penyanyinya, gw bisa bilang kalo gw suka. Semua penyanyi kentara banget sangat musikal. Hampir semua penyanyi punya pengetahuan baca not. Konduktornya cerdas, menurut gw, karena dia menginterpretasikan musik yang kita nyanyiin sebagaimana mestinya (at least dari sudut pandang gw). Soprannya bagus. Altonya juga. Bassnya sangat berkarakter, meskipun menurut gw masih perlu olah sonoritas. Tenornya OK juga, meskipun ada satu dua yang menurut gw perlu lebih mendengar suara tenor lain. Tapi overall, gw suka banget, dan gw merasa gw bisa fit in di antara mereka (satu-satunya orang Asia di antara bule-bule Belanda, seorang Jerman, seorang Islandia, dan (mungkin) seorang Surinam). Baiklah, mari kita audisi.

Minggu depannya audisi deh tuh. Rada gugup juga. Secara, terakhir latihan nyenyong waktu gw di kampus yang di London, sama Roehampton Chamber Singers, which is sekitar 3 bulan lalu. Sebelum audisi, konduktornya nanya dulu kenapa gw milih Vocoza, dulu sempet belajar vokal di mana sama siapa, di Belanda rencananya buat apa dan berapa lama. Gitu-gitu deh. Nah, format audisinya persis seperti waktu gw audisi BMS dulu:

  • Ambitus atas bawah (karena gw bilang kalo dulu jg gw nyanyi di register countertenor, dicoba juga deh tuh, gw bersolfegio dari bass 1 sampe register alto) –> Menurut konduktornya, timbre alto gw bagus ^^, dia bilang kalo bisa nyanyi di dua register kayak gini, di Belanda itu berarti tambang emas, hehehe… Dia nawarin, mo nyanyi di alto apa di tenor. Gw jawab, tenor aja deh.
  • Ritmik (yg ini lancar, car, carrrr)
  • Sight-singing, lengkap dengan dinamika dan interpretasi frasering (repetisi, echo, crescendo, subito forte, all those stuffs)
  • Nyanyi lagu solo… yg standar aja deh, Caro mio ben (Giordani)…. pake acara lupa syair lagi, wkwkwkwk dan
  • Sense of harmony. Yg ini gw gak pernah sama sekali, makanya gw kaget pas ada bagian ini. Jadi, konduktornya maenin akord di piano…. Jreng! Terus dia minta, nyanyiin nada tengahnya, atau nyanyiin nada keempat (kalo misalkan akornya semacam C7 atau Dmin6). Haduuuuh…. meneketehe? Gw kan nggak punya dasar instrumen. Tapi gw coba juga deh tuh. Konsentrasi, sempet salah-salah, tapi akhirnya ternyata gw bisa juga 😛

Well, setelah mereka meminta gw keluar, diskusi sebentar, terus gw dipanggil lagi.
Daaaan….

Konduktornya nyalamin gw, sambil bilang “Selamat bergabung dengan Vocoza.”

Cihuyyyy! Seneng banget! Akhirnya, gw kembali dalam bisnis pertunjukan 😀 setelah sekitar setahun nyaris absen sama sekali dari dunia musik.

Ya… gitu deh. Sekarang, saban kamis malam, dari jam 8 sampe 10.15 malam, gw latihan paduan suara lagi. ^^

Gitu, ceritanya. ^^ Makasyi dah baca yaaaah. Posting di sini juga dong, atau di Bukuwajah itu, gimana malam pertama bersama 415 bocah-bocah itu 😀