Reuni Musikal dengan Ivan Yohan

Ivan Yohan

Nama Ivan Yohan mungkin tidak begitu asing lagi di telinga masyarakat paduan suara tanah air. Selain dikenal sebagai penyanyi paduan suara lulusan Universitas Parahyangan Bandung, Ivan juga terlibat dalam banyak produksi musikal sebagai pengaba. Nama-nama seperti Musicanova Chamber Choir, Jakarta Conservatory Vocal Ensemble, Keeva Consort, National Youth Choir Indonesia, dan banyak lagi, lekat dengan predikatnya sebagai konduktor muda yang potensial. Belakangan, Ivan juga mulai dikenal sebagai pengubah. Gw berkesempatan membawakan beberapa karyanya, termasuk Pentatonic Hallelujah dan gubahan lagu rakyat Riau, Soleram, yang dipremiérkan di Eropa pada tahun 2007 oleh PSM AgriaSwara IPB.

Saat ini Ivan tengah mengambil studi pascasarjana di Konservatorium Musik Utrecht, Belanda, dalam bidang choir conducting, di bawah bimbingan Rob Vermeulen, segera setelah ia lulus sarjana musik dalam bidang nyanyi klasik. Dedikasi Ivan pada musik paduan suara tentunya berawal dari Paduan Suara Universitas Katolik Parahyangan, di bawah baton kepemimpinan Avip Priatna pada waktu itu. Bertahun-tahun keterlibatannya dalam konser, festival dan kompetisi bersama PSM Unpar, membuatnya begitu betah bermusik sehingga ia kemudian memutuskan untuk menimba ilmu lebih mendalam di Eropa. Gw mengikuti perjalanan musikalnya dari waktu ke waktu, dengan menghadiri konser-konsernya, atau sekadar mengapresiasi karya-karyanya yang terakses di dunia maya. Suatu waktu di tahun 2005, dengan sumringah gw sempat bekerja sama dengan Ivan dalam konser perdana (yang sayang oh sayang juga menjadi konser satu-satunya) National Youth Choir Indonesia. Seminggu penuh para penyanyi NYCI menyibukkan diri dalam musik dari pagi hingga malam, di sebuah wisma retret di Lembang, Bandung. Dengan bekal pengalaman berpaduan suara yang masih terbatas waktu itu, gw dengan antusias menyelami ‘musical mind‘ sang konduktor melalui interpretasinya terhadap komposisi abad Renaissance, modern, hingga gubahan lagu-lagu rakyat dari pelbagai pelosok Asia.

Tahun ini, gw reuni musikal dengan Ivan Yohan.

Jadi, ceritanya, sebagai salah satu prasyarat lulus dalam bidang studi yang sedang ia dalami, Ivan harus menyajikan rangkaian program paduan suara di mana ia sendiri melatih dan mengaba. Tercetuslah kemudian nama Traiectum Vocale, sebuah ansambel vokal yang utamanya terdiri atas mahasiswa-mahasiswa musik di Konservatorium Utrecht yang hampir semuanya mengambil bidang selain nyanyi.  Jadi, meskipun para penyanyinya sangat musikal, mereka pada umumnya tidak memiliki banyak pengalaman bernyanyi. Ivan bertanggung jawab untuk membentuk karakter vokal paduan suara secara keseluruhan; hal yang sama sekali tidak mudah, mengingat sangat terbatasnya jumlah latihan. Traiectum Vocale menampilkan konser perdananya Desember tahun 2012.

Segera setelah itu, Ivan harus menyiapkan program yang berbeda. Nah, beberapa minggu sebelum konser, salah satu tenornya mengundurkan diri. Alhasil, diselundupkanlah Hendra Agustian sebagai tenor ‘cabutan’ :).

Untuk konser keduanya di bulan Mei dan Juni ini, Ivan menyiapkan sebuah program musik paduan suara yang menggunakan teks berbahasa Spanyol. Secara hampil kebetulan, beberapa penyanyi Traiectum Vocale adalah mahasiswa asal Spanyol. Demikianlah, sebuah komposisi Mateo Flecha dan Oscar Escalada, dua dari Francisco Guerrero, dua gubahan Carlos Guastavino, dan satu siklus Einojuhanni Rautavaara, menjadi bahan ujian Ivan. Sang guru, Rob, tentunya hadir dalam konser dan pada satu atau dua kali latihan. Sangat menarik untuk disimak bagaimana didaktika dalam choir conducting berlangsung ketika pada suatu latihan Rob datang dan memberikan masukan ini dan itu pada Ivan. Secara khusus Ivan juga mendatangkan seorang ahli early music untuk juga memberikan arahan mengenai interpretasi musik Renaissance dari Spanyol.

Traiectum Vocale (Ivan Yohan)

Traiectum Vocale (Ivan Yohan)

Sebagai tenor selundupan, gw seneng banget bisa melibatkan diri dalam produksi musikal berskala kecil seperti ini. Selalu ada kesenangan lebih ketika bernyanyi dalam seting kecil. Tentunya juga sangat menyenangkan bisa reunian dengan Ivan. Ada banyak sekali perkembangan yang bisa gw amati dari konduktor muda ini sejak terakhir kali gw bekerja sama dengannya delapan tahun silam. Publik paduan suara tentunya akan dengan senang hati menanti karya cipta Ivan Yohan berikutnya.

Advertisements

Konser HVE “Ein rein Herz”

HVE Spring Concert 2013

HVE Spring Concert 2013

Sekitar dua bulan setelah lulus audisi menjadi penyanyi sebuah ansambel vokal yang berbasis di Amsterdam, Hollands Vocaal Ensemble (HVE), gw ngamen lagi setelah sekitar setahun absen dari bidikan lampu sorot. Tepat setahun silam gw ngamen keliling Negeri Kumpeni bersama Nederlands Studenten Kamerkoor (NSK), membawakan komposisi dan gubahan a cappella dari abad kekinian. Dua minggu, empat premiér, sepuluh konser, berakhir di Concertgebouw Amsterdam. Tepat setahun kemudian, gw dengan sumringah menampakkan diri lagi. Kali ini di Haarlem dan Amsterdam.

HVE membawakan komposisi a cappella dari komponis Jerman: Hugo Distler, Heinrich Schütz, Felix Mendelssohn, Anton Bruckner, dan Johannes Brahms. Nama-nama yang rasanya sama sekali tidak asing di telinga publik paduan suara di Indonesia. Kecuali mungkin Distler, yang relatif jarang terdengar dinyanyikan di tanah air. Distler adalah seorang komponis, organis, guru, dan pengaba paduan suara yang mati muda: bunuh diri pada usia 34 tahun, di tengah kengerian perang dunia dan kebingungan antara melayani Tuhan atau Nazi. Musik Distler yang sering berbentuk polifoni dan berdasarkan tangga nada pentatonis dianggap sebagai ‘seni yang bobrok’ oleh publik Jerman kala itu. Tetapi justru karena kekhasannya itulah komposisinya menjadi unik. HVE dengan bangga mempersembahkan dua komposisi Distler yang cukup menantang: “Singet dem Herrn ein neues Lied” dan “Fürwahr, er trug unsere Krankheit”.

Janskerk, Haarlem (photo: Rijksmonumenten)

Hari pertama HVE konser di Janskerk, Haarlem, yang dulunya adalah sebuah gereja yang dibangun sekitar awal tahun 1300an. Saat ini fungsinya diubah menjadi Gedung Arsip Provinsi Noord Holland. Begitu kayanya sejarah gedung ini, pemerintah provinsi tidak dengan semena-mena menyulap gereja menjadi gedung arsip begitu saja. Pada beberapa sudut dalam gedung, wajah asal gereja masih bisa kita telusuri, seperti dinding yang sebagian sengaja dibiarkan tanpa semen, seolah mengizinkan wajah tua nan keriput berusia 700 tahun itu ikut mengambil perhatian audiens konser.

Di hari kedua, HVE tampil di Waalse Kerk, Amsterdam, sebuah gereja di pusat kota yang dibangun pada awal abad ke-15. Menurut pengaba kami, gereja kecil ini memiliki salah satu akustik terbaik untuk konser paduan suara dan musik kamar. Itulah sebabnya, live recording dibuat untuk konser hari kedua.

Waalse Kerk, Amsterdam (photo: Reformatorisch Dagblad)

HVE membuka konser dengan motet untuk 8-suara “Mitten wir im Leben sind“, lagu ketiga dari Op.23-nya Felix Mendelssohn. Komposisi ini pertama banget gw denger dulu di Indonesia, dinyanyikan dengan baik oleh PSM Unpad pada salah satu kompetisi paduan suara di Bandung tahun 2002. Tahun 2005, gw berkesempatan menyanyikan komposisi ini dengan National Youth Choir Indonesia. Tapi sayang, Ivan Yohan sang pengaba belakangan memutuskan untuk tidak memasukkan lagu ini ke dalam repertoar konser.

Siapa nyana, tahun 2012 akhirnya gw sempat juga mengapresiasi motet yang penuh kekuatan emosi dan ketelitian musikal ini. Menurut Julian Haylock, motet ini memiliki karakter Bach yang sangat kuat. Tiga ayat yang menjadi tubuh utama lagu selalu diakhiri dengan “Kyrie eleison” dan ditandai dengan tekstur yang bertentangan, antara chorale yang khidmat dan vivace kontrapuntal.

Sebagai rujukan, berikut pranala YouTube St John’s College Choir, Cambridge, membawakan lagu ini.

Dalam komposisi 8 suara divisi, gw biasanya menyanyikan Tenor 1. Tapi, seperti biasanya, gw selalu kedapatan tugas tambahan. Salah satu Tenor 2 tiba-tiba mengundurkan diri dari konser beberapa hari sebelum hari-H. Alhasil, Fokko Oldenhuis sang pengaba meminta gw untuk belajar cepat semua bagian Tenor 2. Yah… gw lagi, gw lagi. Tapi demi keseimbangan suara, gw jabani juga. “Kyyyyrieeee eleisoooon…”

Kemudian HVE merangkai kata terakhir ‘eleison’ pada lagu pembuka dengan salah satu motet Johannes Brahms yang paling indah: “Schaffe in mir Gott, ein rein Herz“, yang juga menjadi judul konser kali ini. Hati yang Bersih. Brahms menulis motet ini berdasarkan teks Mazmur 51. Banyak kritisi musik menilai motet-motet Brahms layak disandingkan dengan motetnya Bach. Nomor kedua dari Op. 29-nya Brahms ini misalnya, mengingatkan kita pada motet “Singet dem Herren ein neues Lied” (Johann Sebastian Bach).

Sebagai rujukan, coba buka Spotify kalian dan dengarkan Norddeutscher Figuralchor membawakan motet Brahms dan Kammerchor Stuttgart membawakan motet Bach yang gw sebutkan di atas.

Selepas Brahms, HVE menyajikan musik Distler yang unik itu, dimulai dengan “Fürwahr, er trug unsere Krankheit” (Dan sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggung-Nya). Motet yang teksnya diambil dari Yesaya 53:4-5 ini adalah komposisi terakhir yang ditulis Distler sebelum dia bunuh diri setahun kemudian. Sepanjang lagu ada banyak sekali bunyi disonan dan harmoni kromatik yang cenderung terdengar putus harapan. Musik Distler yang terdengar sedih dan muram ini memang tidak terlepas dari konteks ruang dan waktu di mana dan ketika komposisi ini ditulis, yaitu ketika Nazi di Jerman semakin mengukuhkan cakar-cakar fasismenya di Jerman dan Eropa. Untuk gambaran, silakan dengar Monteverdi Chor München membawakan motet ini di Spotify.

Alur waktu kemudian sejenak mundur beberapa abad. Giliran komposisi sakralnya Heinrich Schütz, yang dipandang sebagai komponis Jerman paling penting sebelum Bach. Sebagai murid Gabrieli dan pengagum Monteverdi, dia memperkenalkan gagasan musikal baru dari Italia ke dunia musik di Jerman.

HVE bernyanyi dalam seting yang berbeda untuk motet-motet dari zaman Barok ini. Sekitar 30 orang penyanyi dalam ansambel vokal ini dibagi dua. Setengahnya menyanyikan motet “Die Himmel erzählen die Ehre Gottes”, kemudian Claudia Rolando, salah satu soprano kami yang berasal dari Argentina dan sekarang tengah menempuh PhD di Belanda dalam bidang pembelajaran nyanyi klasik membawakan dua motet untuk solo “O misericordissime Jesu” dan “O Jesu nomen dulce” diiringi konduktor Fokko memainkan klavisimbel. Pada saat gw menulis lema blog ini, Claudia sedang berada di Paris dalam tur konsernya keliling Eropa membawakan musik klasik Argentina. Setelah dua lagu solo tersebut, separuh penyanyi yang lain, termasuk gw, membawakan “Unser Wandel ist im Himmel”. Seperti biasa, gw selalu menikmati bernyanyi dalam seting kecil seperti ini. Kami bernyanyi seperti penyanyi madrigal, setengah melingkar dan campur aduk: penyanyi kiri-kanan harus dari suara lain. Gw seneng banget bisa nyanyiin Schütz lagi, setelah terakhir tahun 2009 bawain satu atau dua karyanya yang lain dengan Batavia Madrigal Singers.

Di YouTube bisa kalian dengarkan Collegium Vocale Gent (Philippe Herreweghe) yang spektakuler itu membawakan motet Schütz yang pertama:

dan kedua:

Selepas motet dari zaman Barok, HVE mempersembahkan komposisi lain dari Distler, “Singet dem Herrn ein neues Lied”. Motet yang terdiri atas tiga bagian ini diawali dengan bagian unisono yang dinyanyikan oleh para pria, yang terdengar cenderung resitatif. Badan lagu mengandung banyak sekali pergantian ritmus dan modalitas, sangat energik dan penuh fantasi. Coba lihat pranala YouTube berikut dari Calmus Ensemble Leipzig.

Kemudian konser diakhiri dengan salah satu motet Mendelssohn yang sangat terkenal itu: “Mein Gott, warum hasst du mich verlassen”. Motet ini merupakan nomor terakhir dari Op. 78 Tiga Mazmur untuk Paduan Suara Ganda, dan karya terpanjang di antara ketiga motet dalam opus ini. Mendelssohn menyelesaikan komposisi ini pada tahun 1844, dan dikomisi oleh Berliner Domchor. Di Inggris, motet ini sangat sering dibawakan sebagai repertoar konser. Bagian awal yang mengedepankan efek dramatis pergantian melodi solo tenor dengan harmoni paduan suara menjadi kekuatan motet ini. Kemudian ketika teks memasuki “Ich bin ausgeschüttet wie wasser”, kentara bahwa bentuk dan tekstur lagu berubah dan baru, dengan bersandingnya solokuartet dengan paduan suara. Rendisi HVE untuk motet ini menurut sang pengaba sih sangat meyakinkan. Nah, gw jadi penasaran nunggu hasil rekaman penampilan kami dalam konser ini.

Sebagai tanda cinta gw buat kalian, 😛 silakan nikmati Estonian Philharmonic Chamber Choir (Daniel Reuss) membawakan Op. 78 Nr. 3 mahakarya Mendelssohn ini.

Konser Vocoza “Zomer Herfst”

Dari milis AgriaSwara IPB (27 November 2010)

Kamerkoor Vocoza Amsterdam

Kamerkoor Vocoza Amsterdam

Seneeeeeeng banget, akhirnya bisa konser lagi. Diterima jadi anggota sekitar akhir September, tadi malem kami konser di Groenmarktkerk, Haarlem. Seperti biasa, Vocoza menampilkan konser di dua venue. Hari ini kami akan konser lagi di Mozes en Äaronkerk, Amsterdam.

Venue tempat kami konser tadi malam adalah sebuah gereja yang akustiknya, menurut gw, salah satu yang terbaik untuk konser paduan suara dan musik kamar yang pernah gw alami. Kami tampil dalam sebuah format konser bersama empat orang pemusik dengan instrumen autentik zaman Barok: continuo, theorbe, violoncello, dan violon. Bersama kami, juga tampil seorang soprano (mantan penyanyi Vocoza di tahun 80an yang sekarang berkarier internasional), Johannette Zomer. Ini adalah kali pertama gw terlibat dalam konser musik kamar seperti ini. Dan kesan gw, konser ini sangat intim, dan audiens-nya sangat atentif.

Konser kami buka dengan Jesu, meine Freude (Bach), dengan format lengkap paduan suara dan semua instrumen, tanpa Johannette. Karya monumental Bach yang satu ini adalah motet terpanjang dan paling terkenal dari 6 motet untuk paduan suara yang ditulis Bach untuk 5 suara. I’m a Bach enthusiast, so I find this piece simply irresistible. Apalagi dengan iringan instrumen yang emang berasal dari zamannya Bach. Gw bisa bilang, gw merasa kembali ke Leipzig, tahun 1723, ketika karya ini di-premiere-kan. Tapi yang paling gw suka dari bagian ini adalah bagaimana Sanne, konduktor kami, berhasil mengolah musik Bach yang penuh detail menjadi sebuah penampilan yang mengadiluhungkan presisi dan artistri. Dari sudut penyanyi, gw bisa menyelami bagaimana teks biblikal dalam motet ini diterjemahkan ke dalam musik yang berbicara. Bukan hanya bernyanyi, tapi juga menyampaikan pesan.

IMG_2842

Setelah Bach, paduan suara silam. Kemudian Johannette naik panggung, membawakanDeuxieme Leçons de Tenebres (Couperin). Ini adalah sebuah karya yang menggambarkan refleksi dan kontemplasi atas dosa, seperti dalam cerita di Perjanjian Baru, tentang kehancuran Jerusalem pada abad ke 6 sebelum Masehi. Johannette tampil sangat memukau. Dari kursi penonton paling belakang, gw mencerap keindahan sebuah karya musik Barok Perancis yang memiliki karakteristik berbeda dari musik barok Jerman, macam Bach dan Händel. Pada awal setiap ayat, Couperin menyulap huruf dari abjad Iberani menjadi sebuah melisma yang sangat indah, kemudian diakhiri dengan kalimat Jerusalem, Jerusalem, Dominum Deum tuum ad convert.

Sama sekali berbeda dari dua karya pertama, pada karya ketiga, kami tampil a cappella, membawakan Fünf Gesange (Brahms). Temen-temen angkatan 41 ke atas mungkin ingat AgriaSwara pernah membawakan salah satu dari 5 lagu Brahms ini: Verlorene Jugend. Tadi malam kami menampilkan karya ini secara utuh. Well, biasanya Vocoza memang menampilkan semua nomor dari sebuah opus. Kelima lagu Bramhs ini menggambarkan serbaneka atmosfer musim gugur: dedaunan yang terserak di atas tanah, melankoli bunga-bunga yang layu oleh dinginnya udara, tapi juga pengharapan akan datangnya kedamaian dan sinar matahari. Karya nomor 4, Verlorene Jugend, Brahms membuat lukisan alam dalam musiknya, tentang energi masa muda yang tersisa setelah musim berlalu. Keseluruhan karya ini terkesan melankolis, padahal Brahms menulisnya di musim panas, sekitar tahun 1887.

Tiga karya pertama ternyata memakan waktu cukup panjang, setelah itu kami rehat.

Babak kedua konser dibuka dengan tiga karya epik komponis kontemporer Estonia, Veljo Tormis, yang datang melatih kami awal November lalu, sebagai bagian dari Tormis Festival yang diadakan di Amsterdam, mengumpulkan paduan suara-paduan suara amatir dari seluruh pelosok Belanda. Dalam masterclass bersama Tormis, katanya sih, disamping pengolahan musik yang bagus, pelafalan bahasa Estonia kami nyaris sempuna ^^. Beliau mengundang kami untuk konser di Estonia karenanya. Buat gw, ini pengalaman pertama terlibat dalam sebuah produksi musik di mana komposernya sendiri turun tangan dan melihat sendiri bagaimana musik yang dia tulis diinterpretasikan oleh sebuah paduan suara yang bukan dari negerinya sendiri. Dalam 3 Laulu eeposest Kalevipoeg, Tormis menghidupkan kembali musik rakyat dan sejarah Estonia dalam sebuah kisah tentang kehilangan dan perjuangan. Puisi dalam teks Kalevipoeg bercerita tentang Kalevipoeg (Anak Lelaki Kalev). Salah satu lagu dari Kalevipoeg ditulis Tormis ketika ia kehilangan ibundanya pada sekitar tahun 50an, waktu ia masih menjadi siswa Konservatorium Moskow. Pada lagu terakhir, Tormis membuat lukisan alam tentang ombak di lautan. Pada nomor ini, para bass 2 meluncur ke bawah sampai C2.

IMG_2834

Dari abad kontemporer, kami kembali ke awal zaman Barok, membawakan Lamento d’Ariannabersama Johannette dan instrumen Barok. Sebagai penggemar berat Monteverdi, gw menemukan nuansa baru dalam musik lamento ini. Monteverdi bercerita tentang Ariadna, yang menolong Theseus keluar dari labirin yang dibuat oleh ayahnya, Raja Minos dari Kreta. Setelah Theseus, membantai Minotaur, ia ternyata mengingkari janjinya menikahi Ariadna. Opera ini bercerita tentang kesedihan Ariadna.

Terakhir, kami membawakan Hör mein Bitten (Mendelssohn). Untuk lagu ini, kami turun dari altar dan naik ke mezanin di lantai tiga, di bawah orgel besar yang menutupi nyaris seluruh dinding di bagian façade gereja. Sang musisi kontinuo kali ini mengiringi kami dengan orgel, dengan Johannette sebagai solis. Lagu ini, yang berarti Dengarlah Doaku, adalah salah satu karya favorit sang komposer sendiri yang ia tulis pada zaman Victoria. Selang seling solo dan paduan suara pada karya Mendelssohn ini mengingatkan kita pada lagu-lagu patriotik Inggris. Oleh karena itulah, versi Inggris dari lagu ini, Hear My Prayer, adalah salah satu karya paling terkenal dan paling banyak dinyanyikan yang pernah ditulis Mendelssohn. Efek akustik dengan bernyanyi di atas mezanin ternyata cukup dramatis, karena audiens mendengar suara kami seperti dari langit ^^.

Keseluruhan konser ternyata cukup panjang. Lebih dari 2 jam. Cape juga. Tapi seneeeeng banget. Gw belajar banyak dari pengalaman gw bermusik bersama teman-teman di Vocoza. Salah satu yang gw pelajari adalah, Vocoza tampaknya perencana yang baik. Program konser berikutnya sudah dipublikasikan dari konser kali ini. Bukan hanya publikasi tanggal dan tempat, tapi juga program yang akan kami bawakan berikutnya. Bulan Mei tahun depan. Dan, gw melihat ada Missa for double choir (Frank Martin) yang pernah gw bawakan bersama Twilite Chorus tahun 2005 lalu. ^^

Segitu dulu yah, semoga lapdangmatnya bermanfaat.

Konser Twilite Chorus “Musical Moment”

Dari milis AgriaSwara IPB (9 Agustus 2006)

(Pranala YouTube hanya sebagai referensi)

Sabtu malam kemarin, untuk keempat kalinya konser Musical Moment kembali ditampilkan oleh Twilite Chorus. Mengusung spirit hingar-bingar panggung Broadway, paduan suara profesional (so called, so claimed) ini mencoba menampilkan yang terbaik sebuah paket konser yang menempatkan paduan suara (tim penuh) pada babak kedua (saja). Babak pertama melulu solis dan duet.

Berbicara tentang Twilite Chorus, hampir bisa dipastikan bahwa dalam beberapa hal, komunitas musik paduan suara ini memang ‘berbeda’. Repertoar yang menjadi andalan mereka memang cenderung berasal dari musik pertunjukan (opera, broadway, film). Tidak heran, kali ini mereka (baca: para penyanyi bermarga Twilite) pun menawarkan excerpts musik Broadway yang tersohor, mulai dari Jekyll and Hyde, Les Miserables, Phantom of the Opera, sampai Joseph and The Amazing Color Coat. Mencoba tampil beda, mereka mengemas konser dalam sebuah pertunjukan akustik dan visual, dengan koreografi dan sedikit dramatisasi.

Apa yang menarik dari konser ini (saya tahu persis karena saya pernah ikut latihan untuk konser ini di awal, tapi kemudian resign karena satu dan sejuta hal ^-^), TC tidak sekedar membawakan musik secara asali. Terdapat banyak modifikasi dan rearansemen pada repertoarnya, terutama yang dinyanyi-tari-dramakan oleh tim penuh. Sang penggubah, siapa lagi kalo bukan Benjamin Manumpil himself, sang konduktor. This way, musik TC pada konser kemarin boleh dibilang merupakan premier aransemen lagu-lagu programnya. Sempat beberapa kali menyanyikan aransemen Benny, saya mulai bisa mencerapi kekhasan gubahannya: tidak pernah biasa-biasa saja. Entah itu pada progresi harmoni, atau permainan nilai nada dan aksentuasi. Musik Benny itu… Benny banget.

Babak 1, yang dibuka dengan penampilan solo sang konduktor, membuka konser ini. Dengan timbre vokalnya yang memang seperti itu, Benny membawakan lagu This is the Moment. Teridentifikasi sebagai seorang penyanyi Bass, nada tingginya terdengar kurang santai. Toh, lagu itu berhasil membuka konser malam itu dengan spirit Broadway yang penuh kebancitampilan.

Susul-menyusul kemudian, duet-duet antara Dosma (alto) dan Brigitta (soprano) dengan In His Eyes, Benny dan Brigitta dengan Take Me as I am, Benny dan Dosma dengan One Hand One Heart dari West Side Story, Daniel (baritone) dan Imed (soprano) dengan Sun & Moon dari Miss Saigon, dan penampilan solis Dani (tenor) dengan Maria dari West Side Story, Meta (alto) dengan On My Own dari Les Miserables, Daniel dengan On This Night of a Thousand Star, dan Meta dengan Don’t Cry for Me Argentina; keduanya dari Evita, dan ditutup dengan ansambel vocal para solis menyanyikan Tomorrow dari Annie.

Secara keseluruhan, penampilan paling menonjol pada babak pertama ini adalah duet Daniel dan Imet, who have been unintentionally not worrying about reaction possibly coming from we-know-what religious organization in IPB. Maksud saya, dengan acara pegang2an dan peluk-pelukan itu­. Hehehehhe. Tapi, it’s OK lah, mungkin BKIM juga nggak kepikiran nonton konser Broadway. Otherwise they’ll have to compromise with so many things. Warna dan teknik Imet terdengar matang dan jernih, mengimbangi kapasitas Daniel yang memang sudah level solis opera.

Babak dua, baru deeeeeh. Medley Phantom of The Opera secara atraktif membuka babak ini. Waktu gw sempet latihan lagu ini, nggak nyangka lho, jadinya kayak gini. Lutchu. Hehehehhe­. Sayang disayang, solo Christine yang dinyanyikan Dian selalu terdengar under-pitched. Sepanjang lagu, saya mengerutkan dahi. “Aduuuuuh,­ kurang tinggi”. Tapi, bagian choir-nya OK lho. Apalagi waktu digabung sama tarian-tariannya. Beberapa orang kentara banget kurang latihan, tapi, boleh lah ya. Cukup inovatif. Jadi terprovokasi nih, pengen konser Broadway di Albert Hall. Hyuuuk. Season of Love-nya cukup bagus. Tapi, masih belum cukup terdengar jazzy. I loved this song the most. Yang paling memukau dari babak ini mungkin adalah medley lagu ketiga, diambil dari Joseph and The Amazing Technicolor Dreamcoat. Ide slayer warna-warninya bolsjug. We like that.

Overall, konser ini sangat provokatif. In a sense that…. choral concert can INDEED take this form. Nggak mesti kali yah, setiap konser view-nya selalu seperti orang lagi upacara bendera. Berdiriiiiii… melulu. Udah gitu nggak ada motion-nya sama sekali. Terus lagi. SINGLE THEME. Agria sendiri udah berkali-kali konser dan temanya masih selalu gado-gado. Ke depan, rasanya kita sudah harus mulai memikirkan konser bertema tunggal. Kalo mo jazz, yaaa… jazz semua. Kalo mo madrigal, mendingan madrigal semua. Kalo mo karyanya Schubert aja, yo wis, lagu2nya Schubert aja. Yeah… mudah2an aspirasi bawah tanah ini sampai ke konduktor yah… ^-^

I’m outta here.
Class dismiss.
H

Review Konser “Meet the Choirs!”

Dari milis AgriaSwara IPB (20 Februari 2004)

 

(Link YouTube hanya sebagai referensi)

 

Dengan ‘perjuangan’ dan sedikit ‘kenekatan’, akhirnya los muchachos-duo AgriaSwara berhasil juga mendapatkan reservasi di konser Meet the Choirs! yg kabarnya udah out of ticket itu. Posting el primo yang bilang bahwa tiket udah abis pada awalnya bener-bener bikin el secondo bete banget, soalnya, semanget buat nonton udah kadung berkobar-kobar. Trus pas el primo nelpon el secondo bahwa kata sang shahibul hajat sebenernya tanpa tiket pun kita (note: kita = nggak lebih dari 2 org) masih bisa nonton… berdiri (hiks hiks)… dan ada kemungkinan nontonnya di luar (hiks hiks lagi ah), el secondo bilang, “Udah, tancep aja. Berdiri juga kagak nape. Nyang penting bisa nonton, man.”

Dan berangkatlah los muchachos-duo ke Jakarta.

Eeeeeeeh, di bis kita ketemu Paul (terlahir dengan nama: Paulina Rosari, entah kenapa jadi mendapat gelar kehormatan Paul McCartney, heheheheheh….). Doi mo balik ke Jakarte. Nah, ini org yg di posting bilang kalo rumah die tuh di daerah venue konser juga. Ya udin… kita yg tadinya bedua ngajak dia. “Paul, ikut nyok. Tapi berdiri, ghimana?”

Saat itu Paul membawa pulang gaun dan busana haute coutoure-nya yg udah pada kotor, musti dicuci di Jakarta (qeqeqeqeqs….)

Eh, dienye mau dah.

Seneng dong kita, karena pada dasarnya kita kan emang pengen ngajak az many az pozzible buat nongkrong di MTC (Music Telecision, ^-^… bukan deng, Meet the Choirs).

Di venue konser, ternyata udah banyak banggets org yg dateng. Padahal dibilangnya kan konser jam ½ 8 malem. Kita tuh nyampe di situ baru jam 7 kurang ¼ gitu kali. Trus, gate controlnya periksa tiket tuh. Naaah… pas giliran kita, 😦 “Nggak ada tikeeeet, Pak” (mukanya kayak Shinchan lagi memelas). Bapak sama Ibunya nanya, “Kalian dari mana?”. Trus, begitu denger kita tuh dateng jauh-jauh dari Bogor, plus liat tampang kita yg emang dibikin sememelas mungkin, hehhehhe… rada didramatisir gitu, Bos. Eh, Ibunya bilang, “Berapa orang? Oh, tiga, tunggu, kayaknya saya masih ada dua tiket lagi deh.” Bapaknya ngasih satu dulu. “Ini saya punya satu. Mau dipegang dulu?”

Langsung deh disamber sama Ewinx.

Beberapa saat kemudian, Ibu itu juga balik lagi bawa dua tiket. Aaaah… leganya. Nggak jadi dong, standing party-nya, ^-^

Yeaah… now, ‘tis the time for… BRINGIN’ DOWN DA HOUZ.

GLEK! Nunggu konsernya lama. Trus gitu, emsinya rada-rada ca-ur, hehehehhe…. Tapi ya udin lah. Pokoke…. here comes the first
contestant…. MISS ATMAJAYA…. Atmajaya nyanyiin 4 lagu. Yg conduct namanya Paulus Chandra. Masih muda.

Mungkin seangkatannya Arvin juga. Kalo ketawa, matanya ilang ^-^.

Dibuka dengan lagu Many Gifts One Spirit-nya Allen Pote, Alleluia-nya entah siapa (di program salah tulis), dan Tuhan adalah Gembalaku-nya Ronald Pohan. Menurut gw (Agustian 2004 ;), choral sounding mereka udah cukup bagus, meskipun tenornya kadang masih terdengar ngeleher. (tau banget deh, soalnya diriku pun kadang masih suka begitu). Soprannya cukup bright, clear. Hanya mungkin terkesan kekuatan soprannya terpusat di beberapa org cewek ‘based on’ di baris dua aja (‘based on’ itu istilah Agria, definisi bisa dikonfirmasi di nomor 0856… ayyakh!). Basnya bagus! Sebagai fondasi di sebuah padsu, mereka sudah memadai. Mungkin altonya saja yang rasanya masih biasa-biasa aja. Tapi, kalo dilihat secara keseluruhan, interpretasi tiga lagu pertama bagus kok.

Udah gitu, entah emang karena format konsernya yang dibikin edukatif-interaktif atau apa, udah itu ada sesi tanya jawab segala.
Agak-agak mengganggu enjoyment sih, tapi, ya udin lah, mungkin emang begitu formatnya.

Yang jawab ketua PS-nya, ngerangkap pianis juga. Paulus malu-malu. Dan mulailah mata sang konduktor ilang lagi. Lagi, lagi, dan laaaaagi.

Penampilan Atmajaya ditutup dengan Thanks be to God-nya Noble Cain. Kalo diliat sih, repertoar yang mereka pilih belon ada yang bikin gw bener-bener stunned. Bikin gw terengah-engah (ngapain?) nahan nafas buat ngedengerin setiap nada, saking terpukaunya. Belon.

NEXT.

Proudly presents… Penabur Children Chorus.

Iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii temen-temen kok nggak ngajak aku?

GUBRAK!

heheheheh….

Ya ampuuuun… lucu-lucu banget. Ada yang mukanya kayak Sadako, ada yang kayak Daveigh Chase di film the Ring, ada yang kayak Tsubasa, ada yang kayak Nikita ;), (kecengan Ewinx, qeqeqeqeqs). Pokoknya kalo liat mereka, jadi inget cinta pertama di kelas 3 SD deh. huhahahahhahahah…. It’s my first luv….

Trusnya lagi, mereka tuh ternyata segambreng-gambreng gitu. Ada kali 70-an anak. Cuman, mereka teh ganti-ganti pormasi terus, nya? Kunaon eta geura?

Lagu pertama yang mereka tampilin adalah Burket (no, no, not THAT burket) alias Burung Ketilang, trus dilanjutin sama Burkat alias Burung Kakaktua ^-^. Formasi penyanyinya dikitan, cuman sekitar 20 anak, trus ada dua solis maju. Hehehehhehe…. temen-temen pada grogi semua ya? Suaranya nyaris nggak keluar. Udah gitu beberapa nada kentara banget nggak nyampe, karena takut. “Mama, Mama… kok di sini banyak orang ya, Mama.”

Sepanjang lagu pertama, los muchachos-duo + Paul McCartney merhatiin si Nikita kecil. Imuuut banget. Eh, fssssst…. anak cowok paling kiri kayaknya nggak nyanyi tuh. Takut banget kali ya?

Udah dua lagu itu, terus lagu ketiga Sekuntum Bunga-nya Ronald Pohan, dan As Long As I Have Music-nya Besig & Price. Lagu yg terakhir bagus banget. Formasinya juga formasi (nyaris) penuh, jadinya lebih gede lah powernya. Syair lagu As Long … itu aku bilang bagus banget, boleh tuh dicari partiturnya, ntar diadaptasi ke aransemen SATB. The music will set my spirit FREE…. Duh, suara-suara bening anak-anak kecil itu baru bener-bener kerasa di lagu itu. Jadi terharu dengerinnya. Jadi pengen mandi. (what?)

Lagu mereka yang kelima adalah lagu yg di FPS ITB kemaren dinyanyiin juga. Solfa Calypso. Tiga cewek di lagu ini harus rela nyambi dulu jadi tukang siomay sama pengamen jalanan, soale ketiganya musti pegang perkusi sederhana. Yang satu kayak kentongan gitu kali ya (tanyalah Nina, ahlinya, ^-^), yang satu kayak double stick (mo duel?), yang satu lagi ya… yang kayak pengamen jalanan itu, cuman yg semalem isinya bukan beras. Do mi sol do mi sol laaaa sol. (Solfanya sebelah mana yak?)

Trus, masuklah ke lagu sakral mereka. Tk tk tk… satu orang solis cewek maju ke depan kiri koor. Nyolo beneran, man. Lagunya Laudate Dominum-nya Mozart (TE-O-PE BE-GE-TE). Seperti kebanyakan karya Mozart yg laen, gw suka banget musiknya. Nah, ada yang menarik banget di lagu ini. Si solis soprano yang gw bilang tadi tuh nyanyi sendirian (utterly alone) di bagian awal lagu. Hhhhh…. di sini gw musti bilang kalo suara si solis emang clear&bright buanget. Nada-nada rendah pertamanya sih memang masih kurang sokongan power, tapi begitu mulai naek ke bagian-bagian nada register kepala, telinga gw seperti dimanjain gitu. Enaaaak banget, kedengerannya. Terus lagi, yang penting juga, sikap bernyanyi si solis kayaknya tenang banget. Pun begitu, dia bernyanyi juga dengan body and facial language. Seluruh badannya seperti ikut bernyanyi. Jadi inget Charlotte Church. Seneng deh mengetahui di Indonesia juga ada potensi kayak dia.

Udah itu, mereka nyanyiin lagu Indonesia, Tanah Pusaka Nusantara. No comment ah. Nothing’s particularly astonishing.

Baru deh, di lagu selanjutnya. From the Lion King, nicely composed by Elton John, Can You Feel the Love Tonight. Si solis soprano tadi nyolo lagi, bedua sih, sama temennya yg tampangnya kayak nerd girl di film Jepang gitu. Di lagu ini, si solis di Laudate Dominum berjaya lagi. Gw gak ngerti, kenapa juga Rizal Tandrio si konduktor mesti bikin solisnya jadi dua. Soalnya si solo yg satu lagi itu gw bilang nyanyinya kurang stylish. Kurang ngepop. Beda banget sama yg pertama. Aransemen koornya agak-agak dibikin minimalis (lebih seperti backing choir), tapi te-o-pe deh. A cappella pula. Siiip tenan.

Trus, lagu sebelum sesi tanya jawab adalah Rasa Sayange. No comment.

Di sesi tanya jawab, Rizal lebih banyak memberikan jawaban yang singkat, padat, … nggak jelas, hehehehe. Nggak ding. Cuman di pertanyaan terakhir aja dia jawab panjang lebar. “Mas Rizal, Mas Rizal. Itu gimana ya prosesnya ngelatih anak-anak seumuran gitu, yg buandelnya minta ampun itu, biar bisa jadi paduan suara yg bagus seperti ini?” Dengan suaranya yang ngebas –Rizal banget– dia jawab. Keluar deh, kocaknya Rizal. ^-^ Dia bilang, “Ya… namanya juga ngelatih anak-anak, mesti banyak sabarnya. Awal-awal mungkin anaknya masih buta nada, tapi terus dilatih, seminggu, sebulan, setahun, baru bisa keliatan. Udah gitu, mereka emang musti dibudayain disiplin latian. Libur sekolah berarti latihan. Dan itu bener-bener bukan proses yang instan. Kalo ada Bapak-Bapak pengen masukin anaknya, ‘Mas Rizal, tolong ini anak saya dibimbing, besok musti udah bisa nyanyi [Rizal menyanyikan sampel vokal sopran ‘uuu’] kayak gitu.’ Lha, ya nggak bisa tho.”

Penampilan PCC ditutup dengan I Will Follow Him. Atraktif, pake gerakan segala. Meskipun agak-agak nyelip-nyelip di antara. Abis, bocahnya banyak bener yak. Tempatnya gak semua mua muaaaat.

Terus mereka pun off stage. Daaaaag temen-temen, besok ketemu yach di sekolah. (kata Nikita kecil, yeee… sekolah eyang lo? hehehehheeh)

Trus, penampil ketiga adalah Caecilia Chorus. Kali ini Caecilia tidak didampingi Tuan de Larios dan si imut Dulce Maria. Juga tidak ada Tante Rambut Palsu… (ya iya laaah…)

Lagu pertama mereka A Prayer of St. Patrick-nya Rutter. No comment. Gw gak tau lagunya soale. Sorry, coy.

Tau gak sih lo, lagu kedua apa?

Irreprehensibilis est…

Yak! Anda benaaar. Locus Iste-nya Anton Bruckner. Ehem, ehem, pada zaman dahulu Agria pernah nyanyiin lagu ini, dan … uhuk, uhuk, bagian tengahnya soprannya …. TIIIIIT (censored).

Sumpeh deh. Gw jadi keder dengerin mereka nyanyiin lagu ini. Akang-akang di bass Agria Swara, bas-nya Caecilia top lho. Bagus! Bagian-bagian yg mereka kedengeran sendirian itu bener-bener bisa cover koor secara keseluruhan. Juga di seluruh badan lagu. Dulu waktu kita nyanyi ini, basnya masih kurang banget yach? Kurang power dan kurang sonoritas. Trus, karakter profound bassnya juga yg semalem gw dengerin keluar banget. Ah, jadi penasaran pengen nyanyiin lagu itu lagi. Tapi, kumaha atuh, kalo bass di Agria masih seuprit-uprit kayak sekarang mah, go to sea dah. Kelelep aja di Atlantik.

Soprannya cukup bagus, meskipun di bagian piano Locus Iste, mereka terkesan sedikit desperado karena musti nahan power di nada tinggi. Secara keseluruhan, pengolahan dinamikanya lebih berani. Range dari pp ke ff beda banget. Kalo kita? 😉 masih nanya, lagi.

Selanjutnya masih dari Bruckner. Ave Maria. Nah, yg ini gw suka banget. Dulu konser Unpad yg A Touch of Melody, lagu ini dibawain juga. Nada A sopran-sopran Caecilia berjaya di sini. Powernya juga gak tanggung-tanggung. Yg bikin kesel apa coba? Itu penonton… tepuk tangan di tengah-tengah lagu. Ca-ur gak tuh? Semalem tuh penontonnya emang mungkin terlalu serbaneka. Jadinya, yg baru pertama nonton konser padsu juga banyak kali. Jadinya, tiap-tiap lagu terdengar berhenti, prok-prok. Kontan aja penonton laen pada ketawa. (Gw juga sih, abis, konyol banget.) Akhirnya itu konser kan jadi kayak konser parodi. Emangnya Patrio in Concert?

Penampilan mereka ditutup dengan satu karya Beethoven.

Tet tereeereet…

Finally, the Choir of the Night, is about to give you the best of their performance tonight. Ladies and Gentlemen……………….. tepuk
tangannya manna? ^-^ ( kok emsinya jadi Cucu Cahyati? hehehheeh…. ) Emangya Cabidut?

BATAVIA MADRIGAL SINGERSSSSSSS (s-nya ber-echo)

Wuih, heboh dah. Avip jadi syah alam tadi malam. Dielu-elu (maksudnya ngomong elu-gue, gitu ^-^).

Ada Arviiiiin, di barisan depan paling kanan. Bawa chandelier. Trus ada Ivan Yohan. Ada Pepi juga. Ada Henri juga (anak TC), ada Harry (TC), ada si Gadis Bertato, ada Mirta Hartono (who looked pretty much like her idol, Suzanna ^^), ada Stefani, ada Ros (keempatnya anak JCVE juga). Semalem rambut si Ivan dibikin kayak Won Bin, nggak kayak waktu konser JCVE kemaren, dibikin kayak Indy Barends. Pepi masih dengan Prince-Charming smiley-nya. Mirta masih dengan tatapan sadisnya. Nggak ada yang berbeda.

Lagu pertama mereka adalah Geistlieche Lied (Brahms). Sebelum nyanyi, seorang anak alto bacain terjemahan syair itu dalam Bahasa Indonesia. Di lagu ini, Avip nggak conduct, bahkan emang tanpa konduktor. Avip di piano. Duh, selalu deh. Kalo gw dengerin padsu yg udah mapan kayak BMS, gw suka terengah-engah. Waiting in exhale. Intonasinya, harmoninya, mmmm…. Delicate. Kalo soal interpretasi, apalagi karya-karya macam Brahms, BMS mah udah gak usah didebat lagi deh. Lagu kedua mereka adalah Blazhen muzh karya Sergei Rachmaninoff. Sebelumnya juga dibacain terjemahan syair dalam Bahasa Indonesia. Di lagu ini, kentara banget ciri karya Rachmaninoff yg (seperti yg dibilang Ci Ingrid) menonjolkan alto dan tenor. Selama lagu dinyanyiin, semua suara seperti saling berkomunikasi. Maksudnya, si sopran tau kapan tenor dan alto musti ‘muncul’. Begitu juga bas. Padahal, kecuali Pepi yg sepertinya  memilih menghafal lagu, penyanyinya nggak selalu ngelihat ke konduktor. Udah canggih kali ya, hearing dan feeling mereka. Atau pake telepati lagi jangan-jangan. Dari ujung kiri, Mirta tetap dengan ekspresinya yang seperti orang yg cuman mangap-mangap doang. Abis, kayaknya tuh, nyanyinya bener-bener tanpa beban. Tadi malem, Arvin nggak seperti waktu di konser JCVE kemaren. Dia lebih banyak berkomunikasi dengan konduktor.

Seneng banget deh ngeliat bahasa wajah mereka ketika nyanyi. Kesannya tuh emang profesional banget. Udah nggak ada kerut-kerut di wajah (kecuali yg emang bermasalah dengan penuaan dini, ^-^). Produksi vokal tiap suara juga sangat seragam. Kata Ewinx sih di lagu pertama Ivan terdengar agak dominan. Tapi, di telinga gw sih, gw udah nggak kenal lagi suara Ivan sama Arvin yg mana. Trus, suara Stefani sama Mirta yg mana. Mungkin karena posisi beberapa penyanyi juga yang lebih deket ke kita sehingga kita berpikiran bahwa suara yg keluar itu adalah suara si A atau si B.

BMS menutup penampilan luar biasa mereka tadi malam dengan satu karya lagi dari Rachmaninoff. I love this work! Tenor dan alto berjaya lagi di sini. Intonasinya nyaris sempurna. Flawless.

Oh ya, info. Pas sesi tanya jawab, Avip bilang kalo dalam satu atau dua bulan ini, Avip bakalan buka tempat les vokal dan conducting juga di Jakarta. Konfirmasi musti ke dia langsung. Ayo, buat yang berminat.

Panjang yach, Lapdangmatnya. Edan gak tuuuh?

Pokoke, nggak nyesel deh, nekat-nekatin diri pegi ke Jakarta dengan risiko gak dapet tempat duduk. Paul, kebetulan yang menyenangkan yach?

Udin ah. Belon mandi neh, Malih. (mandi ono, Bang Jali….)

Sabtu depan, konser Paragita di BPPT, apa kabar? Ada yg mo nonton juga? Ayo, dua kali nonton di Galaxy ditangguhin dulu deeeh. C’m oooooon. Taun depan Arvin udah mo fasilitasin kita lho buat yg mo audisi AYC. Banyak-banyak liat yg bagus dulu dong. Biar termotivasi terus. OK, coy?

Salam Anget Banget,
HENDRA

Konser PSM Universitas Parahyangan “Serenade from England”

Dari milis AgriaSwara IPB (24 September 2004)
Lapdangmat Konser PSM Unpar

Serenade from England

Auditorium BPPT, 17 September 2004

Dari Facebook PSM Unpar

Dari Facebook PSM Unpar

Nonton konser semalem? Perjuangannya, man. Jam 5 sore, Bogor ujan. Guedhe buanggetz. Pokoknya, jalan Malabar beralih fungsi jadi sungai Malabar, deh… (melebih-lebihkan ). Tapi, bener, lho, gw sampe berpikir… berangkat nggak ya? Ah, tiketnya udah di tangan, gimana duonx? Ya udin lah, berbekal payung yang … sialnya, ternyata rada-rada bochor … berangkatlah daku seorang diri, dengan Ekspres Pukul Lima (kayak di novel Dokter Zhivago-nya Boris Pasternak ^-^). Dari kota, nge-busway ke Sarinah, beli filet-o-fish di McD, trus langsung ke BPPT. Eh, iya, ketemu Daniel Agria 33 di kereta terus ketemu Harry BMS di seberang Sarinah, mo nonton juga.

Nyampe BPPT, sepatu masih basah tuh.

Konser mulai tepat pukul 20.00, seperti ditulis di publikasi. Dekor stage-nya sangat minimalis. Nggak ada apa-apa selain tulisan Serenade from England. Ada satu grand piano di sebelah kiri. Thatfs all. Tapi, dari sudut pandang penonton, kesannya elegan banget. Apalagi ketika kemudian para chorister masuk. Aduuuuuh…. bagus banget. Kostumnya juga simpel. Yang cewek nggak berseksi-seksi ria kayak….(siapa ya? ) Mereka cuman pake two-pieces outfit gitu. Atasannya loose blouse warna biru, bawahnya rok item panjang. Yang keren adalah, warna biru kostum mereka dibikin gradasi. Cewek paling kanan birunya paling tua, tapi nggak lebih tua dari biru Microsoft (nah lho? Heheheh… yg pertama kali kepikiran, org ngetiknya pake Word). Makin ke tengah makin pudar sampe baby blue di paling tengah. Cewek di kubu kiri birunya lebih tua juga, cuman hue-nya agak lain. Jadinya… aaah… jatuh cinta deh ama mereka. Cowoknya cuman pake jas item, kemeja item, trus di dalem kerahnya, leher mereka dibalut skarf biru. Sama. Gradasi juga. Simply saying, KEWL!

Enough about the look.

Here come the voices.

Temen-temen… pernah denger mereka di CD atau kaset dong (yg belon denger, aduh… cucian deh, lo, di 5 a sec). Kalo kalian denger mereka LIVE, hmmm…. gw yakin kalian akan lebih terpesona lagi. Bayangkan… (posisinya kayak patung Rodin dulu dong…. yak…. pose! Click!)… audit BPPT itu gedenya kan amit-amit (ya… ya… jauh lebih gede dari auditorium rektorat Institut Persawahan Bogor), mereka nyanyi tanpa bantuan sound system. Gila, ya? Iri banget, gw. Bahkan di 5 lagu pertama, mereka nyanyi cuman ber-18, tapi tetep kedengeran jelas, bahkan di dinamika piano.

Sopran mereka itu…. legit banget. Ringan, dan… wah… bersih banget (kayaknya mereka nyanyi pake Sunlight cair deh). Nih, ya… kalo mereka nyanyi di G# tinggi, semuanya nyanyi di G# tinggi, nggak yang… G# tinggi kurang dikit, ato malah, G# tinggi lewat beberapa Hz. Bersih banget.

Altonya juga empuk, nggak dikaku-kakuin sampe jadi bantat (kue bolu dong?). Tapi, neng altonya Unpar teh… fleksibel pisan. Kadang-kadang dibikin tebel, kadang-kadang dibikin tipis… sesuai permintaan konduktor.

Kalo tenornya… aduh, bikin gw iri banget. FYI, alumni angkatan 95 berinisial IY masih nyanyi tuh. Dan, beliau beserta bala tentara tenor bener-bener bikin gw bertanya-tanya…. Itu tadi… itu tadi… nyanyinya gimana yah?h. Abis, kayaknya mereka tuh sama sekali nggak kesulitan nyanyiin nada-nada di atas garis teratas paranada gitu. Ibaratnya, semua nada dilalap abis. Blend pula. Aaaah… pengen bisa kayak gitu. Delon, ajarin dong. (Lho? Kok Delon? Maap…. heheheheh…..)

Bass Unpar? (sambil pasang tampang sok cool gituh…) MANTEBH!!! Iya sih, di lagu Corydon, Arise-nya Stanford, bassnya agak-agak keteteran tempo, tapi, secara keseluruhan, kita boleh jadiin bass Unpar role model. (Apa? Foto model? :D). Yang wajib dicatat adalah, bass mereka itu terdengar enak di nada-nada tinggi. Jadi, ada beberapa lagu yang bassnya nyanyiin nada-nada tinggi (mungkin registernya Tenor 2), tapi, suara mereka nggak terdengar maksa bin ngotot bin ngeleher. Enak aja, kedengerennya. Leon di sebelah gw malah sempet ngira itu Tenor 2. Gw bilang… itu bass. Percaya gw deh. Jadi, gimana nih, Ronald, Arie, dan rengrengannya? Ketantang bisa kayak gitu nggak?

Secara keseluruhan, ada beberapa hal yang pengen banget gw share sama temen2.

Satu. Unpar itu rapi banget yah, nyanyinya. Dinamikanya terjaga dan uniform. Kalo Avip maunya crescendonya cuman seuprit, mereka bikin cuman segitu, kalo bikinnya pengen lebih dramatis, mereka juga bikin kayak gitu. Kompak! Pianonya sama, Fortissimonya sama. Dan, di beberapa lagu, release sopran ke diminuendo mereka bener-bener bikin gw pengen standing ovation. Cuman malu aja, nggak jadi deh.

Dua. Artikulasi dan intonasi mereka jelas banget. Konser itu kan ceritanya emang Serenade from England, nah, itu bener-bener mereka bikin British, mulai dari lafal, sampai warna vokal. Gw juga baru tau kalo Sweet Honey-Sucking Bees itu bacanya ’sooking’ (pake u), bukan ’sucking’ (pake a). Nah, belajar bahasa deh. Trus, bunyi-bunyi konsonan mereka terdengar cerdas. Ada beberapa koor yang menurut gw konsonannya dibego-begoin. Udah jelas di akhir kata itu ada fonem ’tsch’ misalnya, tapi mereka cuman bikin ’sh’, atau malah cuman ’s’. Kayak-kayak gitu deh.

Tiga. Frasering bin pernafasan, satu keluarga sama pengalimatan dan penceritaan lagu. Gw sampe berpikir, mereka nih kalo nyanyi nafas nggak sih? Grrrr…. kedengerannya kayak nggak nafas gitu. Nafas mereka bener-bener terolah baik. OK. Mungkin nggak sepanjang yang gw kira, tapi, ketika mereka bernyanyi dalam format full choir, kalimat lagu mereka nggak terdengar terpotong-potong gara-gara kehabisan nafas di tengah-tengah. Gw pikir sih, mereka mengatur nafas mereka sehingga setiap kali diperlukan sustain sekian bar, mereka terdengar satu nafas. Yeah…. temen-temen tau dong, caranya. Gantian nafas itu lho. Cuman kenapa ya, kalo di kita teh, selalu ketauan kalo kita tuh Curi-curi Nafas Choir (CNC)? Gimana tuh?

Empat. Musikalitas. Above everything else ini mah. Jadi, yang namanya portamento, legato, legatissimo, dolce, staccato, sforzando, forte-pianoc. Kayaknya SETIAP penyanyi Unpar udah ngelotok di luar kepala deh. Kayaknya tuh, mereka nyanyi merem juga udah jadi. Bener lho, soalnya, nggak setiap penyanyi selalu panteng ngeliatin konduktor. Tapi, mungkin karena memang musikalitasnya sudah terasah, mereka tau di mana harus gimana. Yeah… itu mah emang pastinya tak terlepas dari latian yg terus-menerus.

Kesimpulan, gw nggak rugi dateng jauh-jauh…. kehujanan…. sendirian…. nonton Unpar tadi malem.

Lagu favorit gw tadi malem adalah The Blue Bird-nya Stanford, Ballad of Green Broom-nya Britten, dan The Love-Sick Boy-nya Gilbert&Sullivan. Sedikit cela cuman di lagu Corydon, Arise!-nya Stanford. Oh ya, mereka bawain 26 repertoar, plus 1 encore. Gila ya! Repertoar sejibun-jibun gitu latiannya kayak apa? (Seperti bisa ditebakc tiap ari!). Aje gile emang, mereka mah.

Tapi, gw pikir mah, it was all worth it. Gimana nggak? Mereka tuh latian buat satu titik fokus yang jelas (banget). Taun depan, mereka udah dibooking tur konser di Asia (Singapore, Taiwan, dan Jepun).

Segitu aje Lapdangmatnye. Ane kagak tau dah, ni tulisan dibace ape kagak, tapi ane cuman mo bagi-bagi aje. Sape tau ade yang tergugah hatinye (ca’ileee udah kayak Pa ErTe aje ane). Gitu lho, Bang Jali.

Mangga ah,

HENDRA

PS. Oh iye, Buat Ewinx, lu cerita2 ye, kalo nemu koor yg bagus di sono, trus, lu ada waktu buat jadi anggotanya…. heheheh…. itu mah emang kudu niat. Mungkin cerita lo di sono melulu laboratorium dan perpustakaan yah? Ya udin lah. Yang giat ya…. Sapa tau pulang ke Indo lu bawa Nobel (apa? bawa Togel? :D). Winx, tau gak si loh? Gloria 1,2,3-nya Hyo-Woon itu emang susaaaaaahnya minta ampun. Itu partitur, keritingnya udah kayak rambut Macy Gray dah (yg ini gw serius!). Masa partitur ada gambar rambut kusutnya gitu? Trus, di bagian syairnya cuman ada tulisan Christe, Christe doang. Mana beatnya 8/8 aksen di tempat fyang tak biasaf pula. Sayang yah, lu gak ikut latiannya. Ntar lo nonton pake itu ajah…. tele-concert (saingannya tele-conference…. qeqeqeqs)

Konser PSM Maranatha “Colour of Voices”

Dari milis AgriaSwara IPB (7 Juni 2004)

LapDangMat Konser “Colour of Voices”
PSM UK Maranatha
Goethe Haus, 6 Juni 2004

(Link YouTube hanya sebagai referensi)

Dari Facebook PSM Maranatha

Dari Facebook PSM Maranatha

Senang rasanya menyaksikan sebuah konser paduan suara yang dikemas dalam ‘look’ yang elegan dan ‘chic’. Paling tidak, untuk kepuasan visual.

Seperti tadi malam.

Tadi malam adalah pertama kalinya (Malam Pertama ^-^) aku nonton konser di Goethe Haus. Dan aku bisa bilang, “I love the place!” Sangat cozy. Desain interior concert hall-nya juga unik. Tipikal. Tidak seperti di Erasmus, view ke panggung dibuatsatu arah. Jadi formasi penonton tidak menyudut. Lalu ada semacam balkon (atau mezanin?) di belakang. Kira-kira sih, kayak di bioskop deh.

Above all, akustiknya BAGUS. FYI, sepertinya ada kecenderungan orang mulai berpaling dari Erasmus Huis untuk menggelar sebuah konser yang butuh akustik kelas Mercy. Penyebabnya apa lagi kalau bukan penurunan ‘kemampuan akustik’ Erasmus. Katanya sih, gara-gara auditorium Erasmus sempat ‘diapa-apain’.

Choir notes konsernya juga lucu. Bentuknya kayak CD (compact disc, Red.). Menariknya lagi, ada slide show. Ide bagus tuh, soalnya Maranatha dengan cerdasnya membuat slide show tersebut jadi sebuah media iklan dan semacam ‘panduan program’ selama konser berlangsung. Dan, untuk Anda ketahui, sponsornya banyak. Ampir sebanyak Unpad kemaren. Gile, ye, kapan dong Agrie bise dapet gebetan sejibun-jibun kayak ntu?

Warna kostumnya (ladies) anak Maranatha mengingatkan daku pada kenangan pesona jumbai-jumbai Maghenta choir kemaren! Lucu sih, two-piece gitu. Tapi beberapa orang sepertinya kurang begitu memperhatikan estetika. Masak ada yang pake sendal teplek??? Aturan mah, gaun cantik, sepatu atau sandal juga cantik dong…. Dugh! Sedikit sih, tapi tetep aja mengganggu. Udah gitu, ada yang gaunnya ngatung pula. Tapi ya udinlah, that’s not so essential. Kostum cowoknya lucu juga. Jas potongan one-chest hitam-hitam. Dalemannya juga hitam. Dasinya putih.

Kalau tentang segi musikalnya sendiri…. gw cuman bisa bilang…. GOSH! What an effort! Frenz… buku partiturnya… itu kira-kira setebel bahan kuliah satu semester. Gw jadi inget waktu TPB, diktat Kimia Dasar kayaknya masihkalah tebel tuh. Jujur, menurut gw, repertoar mereka sangat berat. Kira-kira… begini ceritanya… (duduk yang manis ya…..)

Repertoar mereka meliputi zaman Renaissance sampai Modern. Dari Monteverdi sampai Beatles-nya King’s Singers. Sesi I semuanya sacred, semua zaman tercakup kecuali klasik. Sesi II semuanya English, secular.

In my opinion, pemilihan repertoar seperti itu berat lho. Artinya adalah kita harus menguasai teknik dan karakteristik lagu per zaman, bahkan per komposer, karena teknik dan karakteristik lagu zaman Renaissance itu beda dengan zaman Klasik atau Barok, apalagi dengan zaman Romantik, let’s not mention Modern Age. Ciri vokal yang tipis dan terang di lagu Renaissance NGGAK bisa masuk di lagu romantik, dan sebaliknya.

To be honest, humbly saying, Maranatha belum terdengar ‘peka zaman’ dalam hal ini. Monteverdi dan Brahms-nya (Renaissance VS Romantik) masih terdengar satu warna. Aku gak bisa bilang vokal mereka lebih ke Renaissance atau Romantik, tapi lagu-lagu dari kedua zaman yang berbeda itu terdengar sama.

Dua lagu pertama mereka, Beatus Vir dan Cantate Domino langsung familiar di telinga karena JCVE bawain itu di konser O Magnum Mysterium.

Lagu Brahms mereka juga membawa ingatan ke zaman baheula (ck… ck… ck… kesannya gw udah idup 100 taun gitulloh!). Waktu Stuband ke UI, Paragita nyanyiin lagu ini, Schaffe in mir Gott-nya Brahms. No comment ah, gw kan belon ngerti begitu-begituan waktu itu (emang sekarang udah?). Tapi, gw bisa bilang, Unpad masih lebih unggul di lagu-lagu romantik.

Tapi, menariknya, lagu Lotti Vere Languores Nostros yang dibawain sama male choir-nya bagus. Tiba-tiba mood gw beralih ke zaman Gregorian gitu. Female choirnya juga bagus pas lagu Nigra Sum. Tapi di Sesi I, lagu favorit gw adalah Arma Lucis. Meskipun sempet ada yang kurang beres di bagian tengahnya, tapi dasar lagunya emang bagus, gw suka.

Secara keseluruhan sih, sesi I bagus. Meskipun attack dan release-nya kadang masih belum kompak, tapi gw salut sama kesisiplinan mereka sama conductor. Itu tuh bener-bener yang gw bilang di Lapdangmat JCVE, seolah-olah mereka menyerahkan seluruh jiwa dan nyawanya di tangan konduktor. Disuruh kenceng, keras, nurut. Disuruh lemes, kecil, nurut. Disuruh piano, tiba-tiba forte, lalu perlahan diminuendo… nurut. Beda yah, sama AquaSwara (bukan, bukan PSM IPB kok… ), yang masih suka ngeyel. Suruh pelan, kegedean, terlalu semangat, giliran crescendo, kagak ade tenage. Susye ye, nyanyi? Hehehehe… tapi, percaya deh, kata Kang Arvin juga: “Kalian bisa bagus kok.”

Duh, senengnya daku (dan qta semua kan?) dikatain gitu sama Kang Arvin kemaren pas latian. C’m on, guyz, let’s get it ON. Pelatih qta bilang, kemajuan qta, individual maupun keseluruhan, keliatan koq. Meskipun… tetep…

WE ARE STILL CRAVING FOR BASSES and sopranos.

Ayo dong, Bass-nya masih kurang buanget neeeh.

Back to the show, ah. Sesi II-nya kebanyakan lagu-lagu yang udah pernah aku denger dan nyanyiin. Ada Lay a Garland (Mbak Maureen, Mbak Eno, inget gak sih?), ada 2 lagu Parry yang dibawain JCVE kemaren, ada As Torrents in Summer, dan satu lagu Bennet. Well, karena pernah denger Impromptu nyanyiin Lay a Garland, jadi bisa bandingin deh. Lagu ini dinyanyiin dalam formasi small choir. Cukup bagus kok, meskipun kadang suara Tenor II atau Bass I-nya… lho? As Torrents in Summer-nya lebih bagus dari Agria :).

Setelah lagu-lagu Inggris itu…. e-e-e-ee… ada Teddy Panelewen. Ta’ pikir yang namanya Teddy itu orangnya ‘besar’. Eh, ternyata… (kostumnya…  Hehehehe… ). Habis, di CD Unpar Around The World, suara dia kan terdengar sangat berat dan penuh. Pokoknya suaranya GENDUT deh. Ternyata Teddy tuh mirip-mirip sama Ivan gitu deh.

Tapi, Bang, suaranya… mmm… Tasty! Luv it, luv it, luv it.

Teddy dan koor bawain 3 lagu Beatles plus encore dari koleksi King’s Singers. Ada And I Love Her, Michelle, dan Yesterday (sounds familiar, huh?). Lalu satu encore manis Here, There, and Everywhere. I always love this one, howsoever arranged. Apalagi seandainya yang tadi malem itu aransemen yang dibawain sama Neri Per Caso… wah… gw bakal jatuh cinta dah.

OKs deh. Secara keseluruhan, gw mah sebisa mungkin tetap bisa menikmati konser. Ada sih, saat-saat di mana dahi gw secara refleks (bawah sadar lho) berkerut… “Itu tadi ada nada yang aneh deh.” atau “Yah, lagu Beatles-nya padahal bisa dibikin lebih stylish lagi tuh.” Tapi, ya… Maranatha juga kan bilang ke qta waktu Stuband dulu, mereka juga masih belajar. Sama lah, kayak qta (PD banget, gw).

Trus, sekedar saran buat diri sendiri, sebenernya kalo bikin konser itu repertoarnya gak usah banyak-banyak kok. Gak perlu kallle bahan kuliah satu semester DIKONSERIN. Ada 3 alasan:

  1. Berat bhuanggheutdzh!
  2. Konsernya jadi kayak choky choky, panjang dan lama. OMG, siapa itu yang tertidur dengan pulasnya di bangku kiri atas?
  3. Penonton biasanya menilai konser bukan dari lamanya, tapi dari kesan yang dibawa pulang ke rumah. Dan penilaian akhirnya sih sama: panjang-pendek, lama-singkat, yang penting kebutuhan artistik terpenuhi.

Terus juga, menampilkan lagu dari zaman yang berbeda-beda juga gak gampang lho. Bukan sekedar menyanyikan SATB, tapi yang penting adalah CIRI yang membedakan tiap zaman, lebih jauh lagi, tiap genre, bahkan tiap komposer.

So, BERANIKAH ANDA MENANTANG DIRI SENDIRI UNTUK MENJADI LEBIH BAIK DARI MEREKA?

(Provokatif banget gak tuh? heheheh… habis…)

Dari rumah sendiri dilaporkan, WE ARE GETTING BETTER (and better). Kalau dulu tenornya… Allamaaak… gelapnya (Cidangiang jam 12malem aja kalah gelap tuh, hehehehe….), sekarang Kang Arvin bilang sih lebih terang. Bright gitulloh…bercahaya (Apa coba?). Lebih rileks, meskipun belum benar-benar rileks, dan belum semuanya. Altonya jauh lebih bagus. Kata pelatih qta sih, warnanya nge-fit banget buat lagu-lagu Romantik. Nanti qta bikin konser ini aja: Romantik Asyik qeqeqeqeqs…