Ada Apa dengan Kompetisi dan Supremasi?

Belakangan ini di Indonesia ada semakin banyak paduan suara yang rame-rame ikutan lomba paduan suara tingkat internasional. Nyaris semuanya pulang membawa predikat kemenangan, baik dalam bentuk diploma, medali, maupun peringkat. Semuanya sepertinya sepakat bahwa kemenangan dalam kompetisi internasional menjadi syarat mutlak untuk sebuah paduan suara diperhitungkan dalam dunia musik. Gw punya pandangan yang sedikit berbeda mengenai ini. Menurut gw, supremasi paduan suara itu bisa dicapai dengan berbagai cara.

Pertama, paduan suara (kebanyakan profesional) meraih supremasi mereka dengan merilis album rekaman yang mereka jual. Contohnya adalah nama-nama besar macam The Sixteen (Harry Christopher), Polyphony (Stephen Layton), dan Tenebrae (Nigel Shorts), yang semuanya berbasis di Inggris. The Sixteen yang didirikan tahun 1979 sampai sekarang sudah merilis lebih dari 90 album rekaman. Kalian bisa cek (nyaris) semua album ini gratis di Spotify. Apa mereka pernah ikut kompetisi? Nggak pernah sama sekali. Tapi mereka punya jadwal konser, rekaman, dan program edukatif yang sangat padat. Begitu pun Polyphony, yang diklaim sebagai ansambel vokal dengan musikalitas terbaik di dunia (menurut Encore Magazine, USA). Menurut gw sejauh ini belum ada yang menandingi kejernihan vokal dan intonasi mereka.

The Sixteen: Miserere mei Deus (Gregorio Allegri)

Polyphony: Les chansons des roses (Morten Lauridsen)

Tenebrae: Après un Rêve (Gabriel Fauré; arr. Alexander L’Estrange)

Kedua, paduan suara juga bisa meraih supremasi dengan menggelar konser berkualitas secara berkala. Kebanyakan paduan suara profesional menempuh cara ini, di samping merilis album rekaman. Nederlands Kamerkoor (Risto Joost) contohnya, mereka bisa sampai 10 kali per bulan gelar konser, di samping lebih dari 80 album rekaman). Banyak paduan suara yang menggelar konser tematis, misalnya membawakan komposisi sakral karya Poulenc, itu sudah bisa jadi satu konser. Atau membawakan komposisi tentang Perang Dunia II (misalnya bawain Penderecki). Atau tentu saja berdasarkan periode musik (Renaissance, zaman Tudor di Inggris, atau kontemporer).

Nederlands Kamerkoor: Curse upon Iron (Veljo Tormis)

Ketiga, paduan suara bisa meraih ketenaran di mata publik yang lebih luas dengan mengikuti festival non kompetitif. Di Indonesia nggak banyak event semacam ini, tapi di luar negeri ada banyak kesempatan untuk menggelar konser sebagai bagian dari sebuah festival. Polyfollia Festival di Normandia dan Europa Cantat adalah contohnya. BMS pernah 2 x ikut Polyfollia, sementara proyek tahunan Nederlands Studenten Kamerkoor (Kurt Bikkembergs) yang gw ikuti tahun lalu juga udah 2 x ikutan Europa Cantat. Yang kalian sebut-sebut sebagai FLN (festival luar negeri) menurut hemat gw, seharusnya mengacu pada festival non kompetitif, karena festival paduan suara lebih bermuatan perayaan ketimbang pertandingan.

Nederlands Studenten Kamerkoor: Tempus Fugit (Edwig Abrath)

Batavia Madrigal Singers: Salve Regina (Josef Rheinberger)

Keempat, supremasi paduan suara bisa juga diraih dengan menjuarai kompetisi. Nah, ini yang gw amati belakangan menjadi tren di Indonesia dan Asia secara umum. Kalau kompetisi nasional dulu menjadi hajatan besar paduan suara, sekarang kompetisi internasional seperti menjadi proyek wajib, mulai yang berbasis perguruan tinggi sampai paduan suara rohani. Salah satu pionirnya siapa lagi kalo bukan Philippine Madrigal Singers (Marc Anthony Carpio). Di Indonesia PSM Unpar menjadi salah satu paduan suara Indonesia pertama yang menjuarai kompetisi internasional tahun 1995 dulu. Sejak awal 2000an, tiba-tiba semua paduan suara pada latah ikutan kompetisi internasional. Rasanya kalo belum jadi juara, atau merebut diploma tertentu, pada sebuah kompetisi internasional di negara anu, kayaknya tuh belum lengkap aja. Dan orang biasanya akan bertanya, “Udah menang di mana aja mereka?” atau kadang dengan nada agak sinis “Oh, juara, dapet urutan berapa?” atau “Medali perunggu doang?”. (I actually read these sort of nasty comments on several online choral forums.)

Philippine Madrigal Singers: We beheld once again the stars (Randall Stroope)

Paduan Suara Mahasiswa Universitas Katolik Parahyangan: Luk Luk Lumbu (arr. Budi Yohanes)

Nah, gw sendiri berpendapat sebenarnya paduan suara nggak perlu ikutan kompetisi untuk membuktikan diri kalau mereka bisa dan luar biasa. Kebesaran nama bisa juga kok ditempuh dengan menempuh tiga cara pertama di atas.

Kalau memang sebuah paduan suara memutuskan untuk mengikuti sebuah kompetisi, gw cenderung berpikir, ya udah, “If you want to do it, make sure you do it right.”

Yang namanya kompetisi, aturan mainnya pasti sama: ada yang menang, ada yang kalah. Kita tentu saja bisa selalu beranggapan, yang penting pengalaman, menang atau kalah nomor sekian. Well, siapa pun tentu boleh berpendapat begitu. Tapi menurut gw, sponsor, donatur, dan publik secara umum tentunya tetap berharap tim pulang dengan membawa kemenangan. Nah, di sinilah titik di mana kompetisi menjadi sebuah ‘tugas’ yang nggak bisa dianggap sembarangan. Kenapa? Karena keberangkatan tim ke sebuah kompetisi melibatkan banyak kepentingan, yang seringnya berbentuk materi (baca: duit). Belum lagi pengorbanan waktu, tenaga, dan pikiran, yang semuanya bermuara pada sebuah tujuan: “Kita harus menang.”

Terus gimana dong?

Setelah sekitar 14 tahun aktif ikut ambil bagian dalam dunia padsu, gw sedikit banyak mengerti bagaimana  kualitas padsu ditentukan oleh banyak faktor: penyanyi, pelatih, dan sistem latihan. Dalam kasus padsu profesional, mereka tentunya memang dituntut untuk selalu memberikan performa terbaik, karena mereka dibayar. Setiap penyanyinya hampir bisa dipastikan memang menempuh pendidikan musik formal, dan memiliki jejak rekam karier tersendiri sebagai seorang solo. Siapa pun pelatihnya, seperti Nederlands Kamerkoor yang gw sebut tadi, padsu profesional biasanya tetap bagus, karena mereka tidak berkutat dengan ‘pembinaan’ anggota. Pelatih dan/atau konduktor cuma tinggal nyamain interpretasi dan mastiin kalo sonoritas tercapai. Ini juga kadang nggak mudah karena penyanyi profesional cenderung berjiwa solo, jadinya butuh waktu dan usaha juga untuk mencapai sonoritas (keseragaman vokal). Sistem latihan juga pastinya padsu profesional lebih established. Buat mereka, kalo anggotanya madol latihan, ya udah, pecat aja, buka audisi buat anggota baru.

Nah, kalo PSM (dan padsu amatir pada umumnya) gimana tuh ceritanya?

Suka atau tidak suka, kita tentunya nggak bisa disamain sama padsu profesional. Dari segi anggota, kita terdiri dari mahasiswa yang mungkin sama sekali nggak berlatar belakang musikal. Gw sendiri waktu masuk Agria dulu punya pengalaman nol besar dalam musik klasik, apalagi paduan suara. Belum lagi masalah regenerasi anggota yang pastinya berkisar setiap 1-4 tahun. Yang masih aktif mahasiswa juga belum tentu aktif selama masa kuliah di IPB. Yang sudah alumni pasti punya komitmen lain, belum lagi yang udah berkeluarga dan punya anak. Ini pada akhirnya juga mempengaruhi sistem latihan yang ujung-ujungnya berpengaruh besar pada kualitas padsu.

Kenyataan yang kita hadapi adalah, formasi dan komposisi tim (inti) padsu yang berangkat kompetisi itu selalu berubah, sehingga kualitas padsu nggak pernah sama. Setiap kali harus mulai dari awal, atau paling tidak, mundur beberapa langkah lalu maju lagi. Nah, karena keadaannya seperti ini, padsu harus memiliki pertimbangan yang sangat matang dalam mengikuti kompetisi.

Mungkin sebaiknya gw bikin statement aja kali ya, “Ikut kompetisi untuk menang, ikut festival untuk pengalaman.”

Apa saja yg perlu dipertimbangkan sebelum ikut kompetisi?

1. Menyadari dan melihat dengan kritis sebaik apa kualitas paduan suara kalian sekarang.

Segera setelah setiap konser (juga kalo bisa setiap latihan dengan pelatih di BS misalnya), dengerin live recordingnya, lalu nilai sama-sama. Bisa pake game kayak di American Idol, kalian yg jadi juri penampilan kalian sendiri. Abis itu terus bandingkan sama rekaman repertoar yang sama dari padsu lain (kalo bisa yg emang bener2 bagus) yg bisa kalian temukan di YouTube atau Spotify. Jadilah pendengar yg kritis. Menjadi kritis terhadap performance diri sendiri itu penting, karena hanya dengan cara itulah kita bisa terus menjadi lebih baik.

2. Mengetahui peta kesulitan kompetisi yang akan diikuti.

Anggaplah dari hasil pertimbangan pertama, kita berpikir, “Hmm… Agria masih harus banyak belajar, tapi kita pengen banget ikut kompetisi tahun ini/tahun depan.” Nah, selanjutnya yg sebaiknya kita lakukan adalah mencari kompetisi yang kira-kira berada dalam level kita.

Apa semua kompetisi padsu (internasional) itu sama?

Sama sekali nggak. Perbedaan ini bisa kita lihat dari tuntutan artistik kompetisi, kompetitor yang biasanya ikutan, dan sistem kejuaraan. Sejauh ini menurut gw yg berada di level paling sulit adalah European Grand Prix for Choral Singing. Why? Karena untuk jadi juara EGP, sebuah padsu harus jadi juara 1 (grand prix) pada kompetisi setahun sebelumnya. Ada 6 kompetisi yg termasuk dalam EGP, kalian bisa lihat di websitenya. Tahun ini BMS akhirnya jadi juara 1 salah satu kompetisi tersebut (Varna). Artinya, tahun depan mereka tanding lagi untuk memperebutkan gelar juara EGP. Padsu yang sekelas BMS pun (sepengamatan gw mereka adalah yang terbaik di Indonesia saat ini), nggak langsung berhasil jadi juara 1. Dulu tahun 2001 di Tours, mereka belum berhasil juara umum, tapi tentunya dapet gelar juara lainnya. Tahun 2006 di Tolosa, baru sempet jadi finalis. Tahun 2009 di Maribor, baru sempet jadi juara 3. Tahun 2010 di Arezzo juga belum berhasil juara 1. Baru tahun ini akhirnya mereka menang. Tahun yg sama Paragita UI dan Gracioso Sonora juga mencoba kompetisi EGP (Debrecen), tapi dua2nya juga belum berhasil.

Di bawah EGP, menurut gw yang juga sangat menantang adalah kompetisi-kompetisi berikut:

  • Llangollen International Musical Eisteddfod, UK. Kalo juara, gelarnya juga nggak tanggung2, Choir of the World. Univ. of Santo Tomas Singers dari Filipina udah pernah 2x merebut gelar tertingggi ini. Unpar nyoba tanding tahun 2010, tapi sayang belum berhasil.
  • Cork International Choral Festival, Irlandia, juga sangat sulit. Kompetisi ini merupakan salah satu kompetisi internasional tertua di dunia. Tuntutan artistiknya sangat tinggi. Tapi selain gelar juara 1,2,3, ada juga tropi2 tertentu. Istilahnya, kalo nggak juara, mungkin salah satu tropi ini bisa dibawa pulang.
  • The International Harald Andersén Chamber Choir Competition , Finlandia. Yes, ini juga merupakan salah satu kompetisi tersulit selain EGP. Selain karena tuntutan artistik yang sangat tinggi (mereka nggak mau kasi juara 1 kalo emang padsu yang menang nggak memenuhi standar artistik mereka), kompetisi ini juga digelar 3 tahun sekali. Artinya, semua kompetitor hanya punya kesempatan setiap 3 tahun untuk mencoba.

Selain kompetisi2 tersebut, International Chamber Choir Competition Marktoberdorf, Jerman dan International Competition for Choirs, Spittal an der Drau, Austria juga terkenal sulit.

University of Santo Tomas Singers: Gabaq An

Nah, di bawah kompetisi-kompetisi tersebut, ada juga kompetisi yang relatif belum begitu dikenal, tapi juga memakai sistem kejuaraan 1,2,3, macam kompetisi di Internationaler Chorwettbewerb Miltenberg, Jerman, dan Festival Internacional de Musica Cantonigros, Spanyol. Ini juga dianggap sulit karena hanya 3 paduan suara yang pulang membawa gelar juara.

Yang relatif mudah tentunya kompetisi-kompetisi Musica Mundi (Interkultur Foundation). Di antaranya adalah yang kita ikuti dulu di Jerman dan di Hongaria. Semua padsu pasti pulang bawa gelar. Kalo pun nggak juara 1, 2 atau 3, paling nggak bawa pulang diploma (Emas, Perak, Perunggu). Kompetisi-kompetisi Musica Mundi dianggap cetek, tapi menurut gw, masih lebih baik mengumpulkan juara-juara 1 dari kompetisi tersebut, daripada ikut kompetisi tapi sama sekali nggak dapet predikat. Boleh lihat Elfa’s Singers. Mereka nyaris eksklusif hanya ikut World Choir Games, salah satu kompetisi Musica Mundi, tapi mereka menjadi legenda di sana, karena setiap kali ikut kompetisi, pasti gemilang: selalu jadi juara 1, dengan nilai nyaris sempurna. Kompetisi Rimini, Italia, yg kalian ikuti tahun 2009 dulu juga memakai sistem juara dan diploma.

Elfa’s Singers: Medley (arr. Elfa Secioria)

Nah, itu kira-kira gambaran peta kesulitan kompetisi internasional. Ini tentunya pengamatan gw, dan setiap tahun, profil kompetisi internasional berubah dan berkembang. Jadi sebelum memutuskan ikut kompetisi yang mana, peta kesulitan ini harus dipertimbangkan. Kita nih sebagai PSM yang formasi, komposisi, dan kualitasnya nggak pernah konsisten, sebaiknya nggak langsung milih ikut kompetisi di kelompok pertama atau kedua. Coba jajali dulu kompetisi-kompetisi di level ketiga dan keempat. Jadi juara 1 dulu berturut-turut di situ, sampai kita menemukan ‘ritme prestasi’ kita. Maksud gw, sampai Agria secara artistik terbiasa dengan tuntutan sebuah kompetisi internasional. Setelah itu baru coba yg lebih sulit.

Tapi kan yang penting pengalaman bertanding?

Iya dan tidak. Seperti tadi gw bilang, kalo cuma mau cari pengalaman, mendingan ikut festival non kompetitif aja. Nggak ada ekspektasi menang dari sponsor, nggak ada beban harus juara dari kampus.

Yang penting kan tampil yang terbaik?

Iya. Tentu saja. Tapi ya itu dia, terbaiknya kita berbeda dengan terbaiknya kompetitor lain, dan berbeda dengan terbaiknya tuntutan artistik juri. Jadi, ungkapan tampil yang terbaik ini menurut gw sering disalahgunakan. Kalo kalian ikut festival non kompetitif, statement ini tentu masih sah-sah saja.

Setelah pertimbangan ini diambil dan sebuah kompetisi diputuskan untuk diikuti, barulah perjuangan sebenarnya dimulai. Saran dari gw, sesuai dengan yang gw denger dari padsu-padsu yang langganan menang kompetisi internasional, adalah:

  • Tim kompetisi harus sudah jadi paling lambat setahun sebelumnya. Artinya, padsu punya ruang yang cukup untuk membentuk karakter suara, musikalitas, dan artistri yang benar-benar mantap. Persiapan setahun juga tentunya untuk mengumpulkan dana yang nggak sedikit. Akan terdengar sangat naif kalo padsu berharap menang, apalagi pada kompetisi-kompetisi sulit, kalo mereka baru mulai audisi untuk tim 6-7 bulan sebelumnya.
  • Pemilihan repertoar juga sangat penting. Untuk sebuah kompetisi internasional, sebaiknya padsu (utamanya pelatih) selalu berpikir inovatif. Tampilkan program yang baru (biasanya kontemporer lebih disukai), yang jarang didengar publik, beragam (genre? periode musik? negara asal komposer? dll), dan repertoar yang bisa menunjukkan versatilitas atau kesegalabisaan padsu dalam mengolah musik.
  • Interpretasi yang benar. Setiap periode musik, setiap komposer, bahkan setiap karya paduan suara, memiliki tuntutan interpretasi yang berbeda-beda. Musiknya Monteverdi beda sama musiknya Wylkynson, meskipun mereka berasal dari periode yang sama. Interpretasi musik semacam ini sebaiknya dikonsultasikan dengan musikolog, karena para juri kompetisi adalah orang-orangyang memang punya pengetahuan formal mengenai ini. Jadi sebisa mungkin, kita harus berpikir bagaimana juri kira-kira nanti menginterpretasi repertoar kompetisi yang kita pilih.
  • Sepengamatan gw, adalah lebih baik kalo tim padsu menghafal semua repertoar yang ditandingkan. Boleh coba amati juara2 EGP pas tampil. Nyaris semuanya lepas partitur. Kenapa ini penting? Karena disadari atau tidak, setiap penyanyi akan lebih fokus ke musik dan ke konduktor kalo mereka nggak memegang partitur. Juri juga tentunya akan melihat kalo tim benar-benar menguasai musik secara utuh.
  • Jam terbang, jam terbang, jam terbang. Ini sangat penting, karena keterbiasaan tampil membawakan program kompetisi dengan tim yang sama akan membantu internalisasi musik dalam setiap penyanyi. Kalo kalian dengar The Madz nyanyi, kentara banget kalo mereka udah sangat terbiasa dengan ‘cue’ musik, meskipun konduktornya cuma kasi aba-aba dengan mata, anggukan wajah, dan gerakan bahu.
  • Penampilan pada kompetisi, yang biasanya nggak lebih dari 15 menit, tentunya menjadi ultimatum segala usaha dan kerja keras semua pihak. Nah, yg ini si rasanya gw nggak perlu banyak komentar. Gw pikir semua juga udah pada tahu harus ngapain. Tapi yang sering dilupakan adalah kesehatan. Stamina fisik, mental, dan terutama vokal, harus maksimal dalam 15 menit ini yang nggak bisa diulang atau diperbaiki ini.

Wow! Jadi panjang banget ya. Nggak apa-apa deh. Gw pikir, ini penting. Semoga bisa menjadi ‘food for thought’ buat semuanya lain kali kalian memutuskan pengen ikut kompetisi lagi.

Salam Musikal,

Hendra

twitter: @HendraAgustian

Advertisements

Konser Kedua bersama Kamerkoor Vocoza

Vocoza

Vocoza

Mo cerita dikit ya. ^^ Jadi, seperti beberapa temen tau, di sini gue gabung sama paduan suara kecil (sekitar 30 penyanyi), namanya Kamerkoor Vocoza (singkatan Vondelpark Concertgebouw Zangers) di bawah direksi Sanne Nieuwenhuijsen. Nah, hari ini kita baru aja selesai Repetitieweekend (Latihan Akhir Minggu). Setiap tahun sekitar awal musim semi, Vocoza sengaja menyewa sebuah hall untuk dipakai latihan seharian selama dua hari berturut-turut. Total jam tatap muka sekitar 15 jam. Kejar tayang deh. Tapi gue suka pisan sama program Latihan Akhir Minggu ini, karena kalau latihan seharian kayak gini, semua repertoar untuk konser kami bulan Mei nanti terbahas.

Tahun ini Vocoza mengadakan Latihan Akhir Minggu di Drommedaris (www.drom.nl), sebuah bangunan monumental dari abad ke 16 di Enkhuizen, kota pelabuhan kecil di tepi IJsselmeer (salah satu danau bikinan orang Belanda, yang sebenarnya bagian dari Laut Utara itu). Beberapa dari kami menginap di Enkhuizen malam ini, tapi gue memilih untuk pulang ke Amsterdam karena Senen gue ada konsultasi riset.

Untuk konser bulan Mei nanti, yang judulnya terdengar sangat manis, “M&M’s” (ya, as in M&M’s chocolate ^^ mmm… yummy). Dinamai begitu karena konser ini menampilkan 4 komposer yang nama (belakang-) nya dimulai dengan huruf M: Frank MARTIN, Gustav MAHLER, Bohuslav MARTINU, dan Felix MENDELSSOHN. (Belakangan judul tersebut diganti menjadi “Tussen mij en God”) Konser kali ini bertema sakral, dengan Misa untuk Paduan Suara Ganda-nya Martin yang spektakuler itu; aransemen Mahler untuk 16 suara; 4 lagu tentang Maria dalam bahasa Ceko; dan 3 mazmur-nya Mendelssohn. Repertoarnya gue banget deh. Tentunya, beberapa lagu pernah gue konserin sama padsu di Indonesia sebelumnya (Twilite Chorus tahun 2005 lalu, sama BMS tahun 2008, dan sama AgriaSwara di Jerman –tapi nggak jadi dinyanyiin karena kita nggak masuk final :P). Ayo, ayo, siapa yang tahu judulnya apa? ^^

Kamerkoor Vocoza: Kyrie (Frank Martin)

Dari konser ke konser, Vocoza gue bilang sangat kreatif, berani bereksperimen, meskipun beberapa orang bilang agak ambisius. Gue sih suka. Terus, yang paling gue suka dari format konser mereka adalah mereka sangat menaruh perhatian pada detail. Setiap lagu dibahas dari sudut pandang filosofis. Konduktornya bercerita tentang sejarah komposer dan komposisi. SEMUA lagu selalu diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda, sehingga semua penyanyi tau apa yang dinyanyiin. Sering, terjemahan syair ini juga dinyanyikan dalam latihan. Dalam padsu-padsu yang pernah gue ikutin, detail ini tidak pernah bener-bener digarap. Hal lain yang juga sangat gue suka adalah sang konduktor bener-bener punya konsep yang solid mengenai tema konser. Ia bisa dengan sangat fasih menggambarkan repertoar konser sebagai lukisan; yang kemudian juga ditulis dalam buku program. Jadi, buku program konser Vocoza bukan cuma kasi liat profil paduan suara, judul lagu dan nama-nama penyanyi saja. Tapi juga artikel singkat mengenai keseluruhan program sebagai sebuah cerita yang hidup. Gue sampe nggak habis pikir, kreatif bener ya orang-orang ini berimajinasi.

Vocoza secara rutin mengadakan konser minimal 2 kali setahun. Vocoza, dan juga kebanyakan paduan suara di Belanda, tidak tertarik mengikuti kompetisi paduan suara, seperti yang kita amati di Indonesia. Tema konser berikutnya sudah dipikirkan dari sekarang. Kata sang konduktor sih, akhir tahun nanti kami konser lagi, bawain komposisi kontemporer yang memakai syair-syair Shakespeare dan Goethe. Hmmm… sounds yummy! ^^

Segitu dulu yaaa, ceritanya. Kembali ke proposal penelitian. Yuk mariiii.

Pamit

Dari milis AgriaSwara IPB (18 Juni 2009)

Until we meet again

Until we meet again

Dear Folks,

Senang yaaah, Konser Tahunan 2009 “Eulogy to the Joy of Singing” udah kita tampilkan dengan cukup baik. Pastinya masih ada kurang di sana-sini. Tapi, jangan khawatir, kesenangan bernyanyi gak akan berkurang kok selama kalian terus menjaga antusiasme kalian untuk terus memperbaiki diri. Selama kalian mencintai apa yang kalian lakukan, kekurangan dari setiap penampilan akan jadi pelajaran berharga buat penampilan berikutnya kok. Kan masih ada konser tahun depan. Masih ada kompetisi di Italia. Masih ada konser tahun depannya lagi. Mungkin masih ada konser di luar negeri yang lainnya. Hawaii mungkin? ^-^

Kemaren malem Pak Victor dateng. Senangnya bertemu dia lagi setelah sekitar 7 tahun gak pernah ketemu. Dia agak ragu mengenali gw. Tapi, ternyata dia masih inget, gw pernah menjadi DIVO tenor pada zamannya. Hehehehehe.

Hingga konser kemaren, gw gak pernah sekalipun melewatkan konser tahunan AgriaSwara. Mulai dengan proyek rintisan konser paduan suara berformat klasik pada tahun 2002 (The Odyssey) bersama Ingrid, lalu secara anual, kita mulai menyelenggarakan konser yang boleh dibilang mengikuti format yang bisa dibandingkan dengan paduan suara lain. Tersebutlah kemudian Chantelier Charms (2003), by Courtesy of… (2003), Fruehlingsstimmen (2004), Euphony (2004), A Souvenir from Germany (2005), Vox Versatilus (2006), GOLDen Journey (2007), Rhine-Danubian Cruise (2008). Wah! Gw bisa bilang, gw bangga bertumbuh dan berkembang bersama AgriaSwara. Gw belajar dari NOL. Dari gak bisa baca not angka sama sekali, lalu mulai belajar baca not balok dari dasar, sampai bisa prima vista sekarang ini. Wah! Perjalanan musikal yang sangat membebaskan. Gw sebut membebaskan, karena gw nih tipe orang yang menjadikan musik (dan seni pada umumnya) sebagai alat bantu menyeimbangkan psike gw.

Musik adalah homeostasis gw.

Untuk semua ini, gw berterima kasih pada musik. Rasanya, untuk sekitar 50 tahun ke depan, gw akan terus melakukan ini.

Tapi, untuk sementara, gw mo off dulu nih dari hingar bingar dunia pertunjukan.

Jadi, ceritanya mo pamitan.

Beberapa temen-temen mungkin dah tahu. Selama setahun ke depan, mulai Agustus 2009, gw akan kembali menjadi mahasiswa lagi, duduk di bangku kuliah, memegang catatan dan menyimak kuliah seorang profesor dengan penuh perhatian. [emang iya? hehehe]

AlhamduliLlah, tahun ini, aplikasi beasiswa gw lolos juga. Dengan semangat 45, gw akan mendalami bidang Pendidikan Kebutuhan Khusus (spesialisasi untuk anak-anak yang mengalami kesulitan belajar dan bersosialisasi, termasuk anak-anak autis, ADHD, penyandang cacat, dan teman-temannya) . Gw akan sekolah pada konsorsium universitas- universitas di London, Inggris (Roehampton University), Tilburg, Belanda (Fontys Hogescholen) dan Praha, Republik Ceko (Univerzita Karlova). Penyandang dana adalah Erasmus Mundus (Komisi Uni Eropa).

Sekarang lagi riweuh ngurus dokumen perjalanan dan persiapan sebelum keberangkatan. Mohon doa dari teman-teman semuanya yaaaah.

Sudah dulu. Lain kali disambung lagi.

Sukses buat kompetisi di Italia. Tahun ini Hendra absen dulu yah. [Seneng dooong, jatah tenor 1 lowong 1, hehehehhe… . Becanda ding. Gw belum tentu lolos audisi juga kok 😉 ]

Udah ah, mo ngeprint Accomodation Form dulu.

Daaaag

3: Terbaik untuk Tahun Ini

Dari milis AgriaSwara IPB (20 April 2009)

Dear Choristers,

 

Aku mau bawa berita baik dulu yaaah. Kami berhasil meraih posisi 3 pada 10. mednarodno zborovska tekmovanje maribor (10th International Choir Competition Maribor) 2009. AlhamduliLlah. Berkat kerja keras dan disiplin (mengutip jargon konduktor kami), inilah hasil terbaik yang bisa kami persembahkan tahun ini.

Sedikit mengenai hasil kompetisi, sebenarnya juara satunya ada dua, karena nilai mereka sama, yaitu Komorni Zbor Ave (tuan rumah) dan KUP Taldea dari Tolosa, Basque (Spanyol). Dari kedua padsu itu, langsung ke BMS. Jadi, secara hierarki, yaaah… boleh dibilang BMS juara 2 juga sih sebenernya. Tapi, terserah panitia lah, itu toh hanya sekedar label, karena bagaimana pun, akhirnya BMS berhasil menaklukkan salah satu kompetisi paling sulit pada level internasional saat ini di Eropa. Pada level yang sama, kompetisi-kompetisi lain di Tours (Perancis), Debrecen (Hongaria), Arezzo (Italia), Tolosa (Spanyol), dan Varna (Bulgaria) bergabung bersama Maribor (Slovenia) dalam The European Grand Prix for Choral Singing, kompetisi paduan suara paling prestisius saat ini di Eropa. Untuk bisa ikut kompetisi ini aja susah banget, karena setiap tahun, panitia hanya memilih sedikit paduan suara dari seluruh dunia yang bisa bertanding, berdasarkan audisi rekaman dan profil paduan suara. Untuk ikut dalam Grand Prix sendiri, hanya juara satunya saja yang bisa ikut. Boleh dibayangkan (dan dibaca) bagaimana profil setiap paduan suara yang ikut dalam kompetisi-kompetisi tersebut.

Lawan kami kali ini, buset dah! Bukan main kuatnya!!! Dari Slovenia sendiri (Komorni Zbor Ave), emang langganan menang di mana-mana. Langganan tur konser keliling dunia. Lalu dari Irlandia (Mornington Singers), juga langganan menang Cork Competition. Belum lagi Victoria Chamber Choir dari Hongaria. Pernah menang juara satu dalam Harald Andersen Choir Competition (Finlandia) yang diklaim sebagai kompetisi paduan suara paling menantang saat ini.

Komorni zbor AVE: Ich bin der Welt abhanden gekommen (Gustav Mahler) ditata untuk 16 suara oleh Clytus Gottwald

KUP Taldea

Dugh! Mau nulis lebih panjang, tapi jatah internet di Metropol Hotel Budapest ini cuman 20 menit. Nanti deh sambung lagi yah, detail perjalanan hari ke hari kompetisi plus intrik-intrik spionase penuh konspirasi (hallah!) selama kami di sini. Mo bobo dulu ah. Udah tengah malam nih. Oh ya, barusan pulang ngamen di Tivoli Museum, kita diajak sightseeing Budapest di malam hari yang tidak pernah kehilangan pesona mistis eksotisnya. I so love this city!

Besok rekaman, terus konser, terus sightseeing lagi bentar, terus ciao ke Wina. Sampe ketemu di sana yaaaah.

Btw, pantengin KOMPAS dalam minggu ini yah, ada wartawan kompas yang menemani perjalanan kami selama di Eropa. Gak tau beritanya udah turun apa belum.

3 Hari Hitung Mundur Menuju Slovenia

Dari milis AgriaSwara IPB (12 April 2009)

3 hari lagi….

Seminggu terakhir ini stripping latihan kejar tayang setiap hari, bolak-balik Jakarta-Bekasi, kepala jadi kaki, kaki jadi kepala….

Ffffhhhhh…..

Cape juga yah.

Tapi adaaaa saja saat-saat yang bikin gw gak pernah merasa salah mengambil keputusan ketika gw ikut audisi untuk kompetisi ini. Kak Avip yang selama ini orang pikir galak, ternyata paling bisa bikin suasana latihan tetap terjaga keseriusannya, tanpa mengurangi kesempatan penyanyi untuk bernafas dengan banyolan-banyolan spontannya, plus ditingkahi candaan lucu-lucu-nyinyir khas si kembar Inez-Anyes, plus candid moments yang tak pernah direncanakan terjadi, namun begitu renyah tergigit.

Adaaaa saja saat ketika gw ngerasa bahwa ketidakpercayaan diri gw selama ini [bahwa gw gak bisa mencapai nada Bes pada dinamika forte]… ternyata tidak beralasan. Gw bisa! Dengan support teknik maksimal dan stabilitas fokus terjaga, tentunya. Dan akhirnya lagu GLORIA (Cayabyab) yang meliuk-liuk, melengking-lengking, serta menggelegar itu bukan lagi jadi mimpi buruk setiap kali latihan.

Dan ketika gw melihat ke belakang, rasanya gw bisa bilang kalo… mungkin ini kali yah yang menjadi alasan mengapa gw masih bela-belain, toh-tohan ngeluarin energi ekstra, ngurangin jatah berleha-leha di waktu luang, ngalokasiin dana buat transpor Jakarta-Bekasi yang tidak sedikit. Dan gw masih bisa bilang kalo… gw mencintai apa yang gw lakukan.

3 hari lagi…

Lagi-lagi membawa dan mempertaruhkan nama baik bangsa di ajang dunia, tanpa banyak propaganda politis berbau kepentingan pribadi. Dan lihatlah sudah sebesar apa dukungan dan perhatian pemerintah sama pelacur-pelacur seni macam kami… [sambil memandang iri para olahragawan yang dimanjakan dengan ini dan itu asal berprestasi].

Tapi, gak apa-apalah. Dari dulu gw percaya bahwa pengalaman seperti ini gak semua orang bisa dapet. Bahwa pengalaman seperti ini memperkaya gw secara personal, bahkan ketika gw harus merogoh kantong dalam-dalam untuk partisipasi keberangkatan ke luar negeri kali ini. Gw pikir, gapapa lah, pada waktunya, ini semua akan kembali ke gw dalam bentuk lain. Dan, pada waktunya juga, ternyata pemburuan beasiswa gw goal juga, mungkin salah satunya karena keterlibatan gw dalam aktivitas macam gini 😛 –> tapi yang ini mah lain cerita, hehehe.

Sekarang, gw akan menikmati saja detik-detik melelahkan menjadi seorang pelacur seni di negeri orang. Dan gw cuman akan berharap bahwa apa pun hasilnya, menang (semoga) atau pun tidak menang (gak mau ah), gw sudah selangkah lebih maju dari mereka yang hanya bisa bilang “Ngapain si lo bela-belain ikut kayak begituan, udah bayar, cape, ngabisin waktu, diomelin melulu, kurang kerjaan lo!”

Gw selangkah lebih maju dari mereka, karena mereka masih di situ aja tuh dari dulu.

La vita e bella!
Life’s beautiful!
(termasuk nangis-nangis darahnya)

Pak Victor: My First GURU

Dari milis AgriaSwara IPB (22 Juli 2008)

Teman-teman….

Gw mo share sedikit dengan kalian nih, tentang siapa gerangan Pak Victor purba ini. Gw berharap dari tulisan sederhana ini, kalian bisa mengambil yang baik-baik untuk jadi bahan renungan. Kali ini gw akan berusaha untuk melihat lebih dekat dari segala sudut pandang, semoga tidak bias.

Ketika gw pertama kali gabung sama AgriaSwara (bulan Agustus 1998… yeah, 10 taon yang lalu), gw tau kalo gw cuman modal berani ambil risiko doang untuk mencoba sebuah hal baru yang gak pernah gw lakoni sebelumnya. I had never been singing in a choir. I’m not even a Christian (which was a common sense for a choir singer at that time). Tapi waktu itu gw tau kalo gw bakalan sangat mencintai apa yang akan gw geluti sebagai hobi itu. Jadilah gw anggota AgriaSwara kala itu. Gw inget banget, pertama kali gw disuruh nyanyi Nyiur Hijau bareng-bareng. Mbak Mei-Mei yang mimpin. Gw Ge-Er banget waktu Mbak Mei bilang kalo suara gw bagus. Hah? Sumpe lo, Mbak? heheheh…

Padahal belakangan gw tau kalo itu cuman buat ngehibur gw doang. ^-^

Yaiyyaallllaaaah… tau apa gw tentang ilmu vokal? Just because you LIKE singing, doesn’t mean you’re GOOD at it.

Dan dimulailah sebuah perjalanan menakjubkan gw menjadi seorang pembelajar ilmu vokal. Tebak siapa guru pertama gue.

PAK VICTOR PURBA

Tentang Pak Victor:

  • Sudah berumur, mungkin sekitar 50 tahunan
  • Orang Batak (so pasti, gak mungkin dong ah nama belakang Purba ni keturunan Sunda)
  • Vital Stats 165/70 (ini gw sok tau aja, sangat mungkin gw salah)
  • Kadang suka telat dateng, sechara beliau ni berangkat dari Jakarta dengan mobilnya yang sederhana, yang kadang suka ngadat juga. Tapi jangan salah lho, beliau sangat berdedikasi pada pekerjaannya sebagai seorang pelatih, karena jujur saja, kalo mo perhitungan, kita membayar Pak Victor ni dengan rate ‘seikhlasnya’. Pelatih lain mah mana mau. Bogor-Jakarta pula
  • Galak, tapi nggak judes. Kalo udah ngocol suka kocak juga. Gw masih inget tuh beberapa joke yang suka dia lontarkan kalo kita ngumpul-ngumpul santai sehabis latihan

Yang jelas, mau sekarang AgriaSwara menang di Budapest, mau sekarang AgriaSwara dapet emas di Jerman, mau nanti AgriaSwara pergi kompetisi di Rusia (AMININ DOOONG ^-^), yang jelas, AgriaSwara PERNAH melewati masa-masa tersendiri bersama Pak Victor. Gw gak tiba-tiba tau lho, gimana caranya melakukan pernafasan dengan diafragma kalo gak diajarin sama Pak Victor. Gile aje lo! Dulu pan waktu SMP qta mah cuman diajarin teori doang yak? Kagak ada prakteknya sama sekali. Nah, sama beliau lah kemudian sedikit-sedikit mulai ada titik terang. Ooooooh… jadi gini…. Lho? ternyata begitu ya? Baiklaaaah….

Memang benar, selama kepelatihan beliau, AgriaSwara tidak mencetak prestasi yang gilang-gemilang bertaraf internasional. Memang benar, selama kepelatihan beliau, ada banyak kekurangan di sana-sini yang perlu dibenahi…

Tapi mau bagaimana pun… Pak Victor bagian dari sejarah kejayaan kita lho. Sama halnya dengan Ci Ingrid, yang sangat berperan dalam transisi AgriaSwara dari paduan suara biasa menjadi luar biasa seperti sekarang. (You can celebrate your accomplishment, it’s your disposition)

Tanpa kedua GURU kita itu, mungkin nggak akan pernah ada jalan untuk kita bisa dilatih oleh Arvin Zeinullah. Tanpa mereka, mungkin AgriaSwara akan tetap bernasib sama seperti beberapa paduan suara mahasiswa lain yang tidak berkembang karena tidak ada figur kepemimpinan.

Dan, memang benar, Pak Victor suka bawa ‘pager’. Tapi rasanya kita tidak perlu menganggap itu sesuatu yang konyol. Gile aje lo! Waktu itu pan hp juga belom mewabah. Gw juga tau kok, cuman satu dua orang aja di AgriaSwara yang pegang walkie talkie, eh, hp, waktu itu. Tapi, terlepas dari apakah itu ‘pager’, atau ‘handphone’, atau ‘merpati pos’, bukankah fungsi di atas segala pertanyaan apakah itu jadul atau tidak? Silakan dijawab sendiri.

Inti dari tulisan ini, semoga teman-teman bisa dengan bijak menyimpulkan, bahwa kita adalah bagian dari sebuah proses menuju kematangan. Siapa pun yang pernah dan masih terlibat dalam proses itu masing-masing punya peranan. Dan SEMUANYA PENTING. Termasuk juga para mantan presidium, mantan seksi angkat barang tiap kali konser, pelatih tamu (kita pernah mendatangkan Pak Nortier Simanungkalit), kolega penyanyi dan pelatih di paduan suara lain (ingat Bemby dan PSM Maranatha?), seksi tukang tulis partitur (angka maupun balok), seeeemuaaaaaa PENTING.

Jadi, mulai dibudayakan yuk, menghargai jasa orang lain, dan menganggap setiap elemen itu penting dalam sebuah proses menuju kematangan. Gw percaya, itu lebih berharga ketimbang sebuah END PRODUCT yang sempurna sekalipun.

Semoga terinspirasi

Pak Victor ini ada lho di YouTube: