Reuni Musikal dengan Ivan Yohan

Ivan Yohan

Nama Ivan Yohan mungkin tidak begitu asing lagi di telinga masyarakat paduan suara tanah air. Selain dikenal sebagai penyanyi paduan suara lulusan Universitas Parahyangan Bandung, Ivan juga terlibat dalam banyak produksi musikal sebagai pengaba. Nama-nama seperti Musicanova Chamber Choir, Jakarta Conservatory Vocal Ensemble, Keeva Consort, National Youth Choir Indonesia, dan banyak lagi, lekat dengan predikatnya sebagai konduktor muda yang potensial. Belakangan, Ivan juga mulai dikenal sebagai pengubah. Gw berkesempatan membawakan beberapa karyanya, termasuk Pentatonic Hallelujah dan gubahan lagu rakyat Riau, Soleram, yang dipremiérkan di Eropa pada tahun 2007 oleh PSM AgriaSwara IPB.

Saat ini Ivan tengah mengambil studi pascasarjana di Konservatorium Musik Utrecht, Belanda, dalam bidang choir conducting, di bawah bimbingan Rob Vermeulen, segera setelah ia lulus sarjana musik dalam bidang nyanyi klasik. Dedikasi Ivan pada musik paduan suara tentunya berawal dari Paduan Suara Universitas Katolik Parahyangan, di bawah baton kepemimpinan Avip Priatna pada waktu itu. Bertahun-tahun keterlibatannya dalam konser, festival dan kompetisi bersama PSM Unpar, membuatnya begitu betah bermusik sehingga ia kemudian memutuskan untuk menimba ilmu lebih mendalam di Eropa. Gw mengikuti perjalanan musikalnya dari waktu ke waktu, dengan menghadiri konser-konsernya, atau sekadar mengapresiasi karya-karyanya yang terakses di dunia maya. Suatu waktu di tahun 2005, dengan sumringah gw sempat bekerja sama dengan Ivan dalam konser perdana (yang sayang oh sayang juga menjadi konser satu-satunya) National Youth Choir Indonesia. Seminggu penuh para penyanyi NYCI menyibukkan diri dalam musik dari pagi hingga malam, di sebuah wisma retret di Lembang, Bandung. Dengan bekal pengalaman berpaduan suara yang masih terbatas waktu itu, gw dengan antusias menyelami ‘musical mind‘ sang konduktor melalui interpretasinya terhadap komposisi abad Renaissance, modern, hingga gubahan lagu-lagu rakyat dari pelbagai pelosok Asia.

Tahun ini, gw reuni musikal dengan Ivan Yohan.

Jadi, ceritanya, sebagai salah satu prasyarat lulus dalam bidang studi yang sedang ia dalami, Ivan harus menyajikan rangkaian program paduan suara di mana ia sendiri melatih dan mengaba. Tercetuslah kemudian nama Traiectum Vocale, sebuah ansambel vokal yang utamanya terdiri atas mahasiswa-mahasiswa musik di Konservatorium Utrecht yang hampir semuanya mengambil bidang selain nyanyi.  Jadi, meskipun para penyanyinya sangat musikal, mereka pada umumnya tidak memiliki banyak pengalaman bernyanyi. Ivan bertanggung jawab untuk membentuk karakter vokal paduan suara secara keseluruhan; hal yang sama sekali tidak mudah, mengingat sangat terbatasnya jumlah latihan. Traiectum Vocale menampilkan konser perdananya Desember tahun 2012.

Segera setelah itu, Ivan harus menyiapkan program yang berbeda. Nah, beberapa minggu sebelum konser, salah satu tenornya mengundurkan diri. Alhasil, diselundupkanlah Hendra Agustian sebagai tenor ‘cabutan’ :).

Untuk konser keduanya di bulan Mei dan Juni ini, Ivan menyiapkan sebuah program musik paduan suara yang menggunakan teks berbahasa Spanyol. Secara hampil kebetulan, beberapa penyanyi Traiectum Vocale adalah mahasiswa asal Spanyol. Demikianlah, sebuah komposisi Mateo Flecha dan Oscar Escalada, dua dari Francisco Guerrero, dua gubahan Carlos Guastavino, dan satu siklus Einojuhanni Rautavaara, menjadi bahan ujian Ivan. Sang guru, Rob, tentunya hadir dalam konser dan pada satu atau dua kali latihan. Sangat menarik untuk disimak bagaimana didaktika dalam choir conducting berlangsung ketika pada suatu latihan Rob datang dan memberikan masukan ini dan itu pada Ivan. Secara khusus Ivan juga mendatangkan seorang ahli early music untuk juga memberikan arahan mengenai interpretasi musik Renaissance dari Spanyol.

Traiectum Vocale (Ivan Yohan)

Traiectum Vocale (Ivan Yohan)

Sebagai tenor selundupan, gw seneng banget bisa melibatkan diri dalam produksi musikal berskala kecil seperti ini. Selalu ada kesenangan lebih ketika bernyanyi dalam seting kecil. Tentunya juga sangat menyenangkan bisa reunian dengan Ivan. Ada banyak sekali perkembangan yang bisa gw amati dari konduktor muda ini sejak terakhir kali gw bekerja sama dengannya delapan tahun silam. Publik paduan suara tentunya akan dengan senang hati menanti karya cipta Ivan Yohan berikutnya.

Advertisements

Resital Vokal dan Kendali Mutu

“Kalo nyanyi keroyokan di paduan suara kayak gitu, lu nggak perlu punya suara bagus-bagus amat dong. Kan keroyokan…”

Kira-kira begitulah seorang kenalan gw waktu kuliah sarjana dulu pernah berkomentar mengenai paduan suara. Terdengar dangkal dan agak melecehkan, mungkin. Tapi kalau dipikir, komentar ini mau tidak mau membuat gw duduk sejenak dan berpikir: sejauh apa kita dituntut untuk bisa bernyanyi sebagai seorang penyanyi paduan suara? Atau mungkin lebih tepatnya, setinggi apa ekspektasi paduan suara tentang kualitas individual setiap penyanyinya?

Setiap paduan suara mungkin memiliki ekspektasi yang berbeda-beda dalam hal kualitas individual penyanyinya. Hal ini semata-mata disebabkan oleh sumberdaya yang tersedia, kemampuan musikal para penyanyi (dan juga pengaba), dan tujuan pendirian serta sasaran audiens paduan suara. Kategorisasi amatir dan profesional juga secara otomatis memetakan ekspektasi tersebut ke dalam semacam spektrum. Ada paduan suara yang sangat teliti dalam mengaudisi dan menyeleksi penyanyinya, ada juga yang cukup bergembira-ambil-hikmahnya dengan apa yang ada dan mencoba membangun kualitas nyaris dari titik nadir. Di antara kedua ekstrem tersebut, paduan suara mana pun boleh menentukan sendiri tingkat kualitas yang mereka ingin capai. Hanya saja, kualitas dalam musik adalah sesuatu yang kadang abstrak dan subjektif, sehingga kita kadang suka bingung sendiri di mana paduan suara yang kita geluti sekarang berada dalam spektrum tersebut. Namun, satu hal rasanya dapat dipastikan, bahwa setiap paduan suara ingin terus menjadi lebih baik. Bukankah begitu, Bu Dewi? ^-^

Spektrum kualitas

Dalam kurun waktu 2004 hingga 2009 dulu, ketika gw mulai merambah dunia musik di Jakarta dan sekitarnya, gw mengamati beberapa paduan suara independen (biasanya tidak terikat dengan institusi tertentu, macam gereja atau lembaga pendidikan) yang pada suatu hari didirikan, kemudian menggelar satu atau dua konser, atau mengikuti sebuah kompetisi, kemudian tidak terdengar lagi keberadaannya. Tentunya sah-sah saja untuk mengambil inisiatif mendirikan sebuah paduan suara, entah itu untuk sekedar mengumpulkan orang-orang yang sama-sama memiliki hobi bernyanyi atau serius ingin membentuk sebuah paduan suara yang layak konser. Pun tidak ada yang melarang kalau ada yang mengambil inisiatif mendirikan sebuah paduan suara sekadar untuk mencoba peruntungan dalam sebuah kompetisi (dengan catatan kaki: kalau menang paduan suara jalan terus, kalau nggak yo wis bubar jalan). Dunia musik selalu dengan tangan terbuka menyambut suara baru, genre musik baru, produksi musikal baru, wajah-wajah imut dan menggemaskan baru, dan seterusnya. Tapi lantas kita dihadapkan pada pertanyaan: apakah paduan suara dibentuk untuk lestari selama mungkin, ataukah hanya untuk semusim belaka? Semacam pertanyaan klisé long term relationship atau no strings attached? Bagaimana kita memastikan bahwa paduan suara yang kita miliki bertahan lama dan tetap merangkul audiens dari konser ke konser? Bagaimana caranya kita menjaga mutu paduan suara kita?

Dalam lema kali ini gw akan mencoba melempar satu atau dua gagasan mengenai kendali mutu dalam paduan suara.

Resital vokal dalam dunia musik klasik sudah lama dikenal dan dipraktikkan oleh para penyanyi, baik yang sudah berstatus profesional maupun yang masih mengikuti pendidikan. Batasan sederhana resital vokal adalah penampilan vokal solo, duo, atau hingga ansambel vokal kecil, biasanya diiringi satu atau dua instrumentalis. Pada dasarnya resital vokal adalah juga konser, tapi biasanya resital vokal merupakan produksi musikal berskala kecil yang sering diprakarsai oleh sang penyanyi sendiri sebagai penampil utama. Resital vokal adalah “momen sang penyanyi” untuk menunjukkan pada khalayak musik sejauh mana kemampuan dan apresiasi vokalnya berkembang dari waktu ke waktu. Makanya gw harus menggarisbawahi kata “secara teratur” karena inti dari penyelenggaraan resital vokal adalah kendali mutu, selain juga tentunya perayaan atas pembelajaran musikal yang dialami oleh sang penyanyi sejauh ini.

Nah, apakah resital vokal ini juga penting (dan berguna) diterapkan dalam sebuah paduan suara? Ya.

Komentar yang bilang kalo di paduan suara kita nggak perlu bagus-bagus amat nyanyi mungkin sedikit banyak membuat kita harus menata ulang sistem latihan dan program paduan suara kita setahun ke depan, misalnya. Konser tahunan gw rasa memang sudah jadi hajatan tetap banyak sekali paduan suara. Kalau kita tengok grup paduan suara di Facebook, kadang dalam seminggu ada lebih dari satu “annual concert” inilah, “newcomers in concert” itulah. Kita sebagai konsumen musik lalu harus memilih mau nonton konser yang mana. Pertanyaannya, apakan konser tahunan saja cukup?

Konser tahunan sejatinya diselenggarakan dengan tujuan menampilkan sebuah produksi musikal untuk publik, audiens, fans sebuah paduan suara. Sedikit-sedikit boleh lah ada pemasukan dari penjualan tiket konser, tapi utamanya sebuah konser tahunan dipersembahkan untuk dunia musik secara luas. Resital vokal, di pihak lain, ditujukan utamanya untuk kalangan sendiri. Karena skalanya yang lebih kecil dari konser, seperti gw sebut di atas, resital vokal lebih bersifat intim dan tidak terlalu formal. Tetapi ini sama sekali tidak mengurangi nilai pentingnya sebagai strategi kendali mutu paduan suara, tentunya.

Dengan menetapkan standar kualitas tinggi (alih-alih sekadar “nyanyi keroyokan, senang-senang, sudah makan pulang”), gw pikir sebaiknya paduan suara tidak hanya mengandalkan konser tahunan. Resital vokal juga sebaiknya diadakan, paling tidak setahun sekali.

Kalau ada 100 orang anggota penyanyi, apa nggak kebanyakan tuh resital satu-satu, Bang Jali?

Seting penyanyi dalam resital

Yang ini mungkin lebih bersifat teknis. Paduan suara bisa mengatur sebuah resital sedemikian hingga semua penyanyi kebagian tampil tanpa harus menunggu giliran semalaman. Caranya, buat kombinasi penampilan. Yang cukup berani dan percaya diri tampil solo boleh tampil solo. Mungkin dibatasi hingga beberapa orang saja. Sisanya, ada yang tampil duet, trio, kuartet, atau hingga ansambel vokal kecil. Yang penting adalah, semua penyanyi beroleh kesempatan untuk uji kemampuan bernyanyi dalam seting kecil.

Resital vokal, sekali lagi, adalah ajang uji kemampuan sekaligus perayaan. Semua penyanyi memiliki kesempatan yang setara untuk boleh sejenak menjadi diva dan/atau divo. Ekspektasi untuk tampil dalam resital berbeda dari konser pada umumnya. Hal ini lebih dikarenakan dalam resital, kita nggak nyanyi keroyokan, seperti kata temen gw yang nyebelin itu. Meskipun setiap penyanyi mungkin hanya kebagian menampilkan satu lagu, tapi mereka akan bekerja ekstra keras untuk bisa menampilkan yang terbaik, karena resital adalah “momen mereka”. Audiens mungkin akan mendengarkan suara mereka untuk pertama kalinya.

Nah, selamat berlatih menjadi diva/o ^^

 

Gubahan Bach yang Paling Dicintai

Suatu waktu di tahun 2012 silam gw diajak nonton konser di Grote Kerk, Naarden, sekitar 20 menit berkendara dari Amsterdam. Naarden adalah sebuah kotamadya “benteng bintang”. Disebut begitu karena kotamadya ini secara harfiah dikelilingi benteng yang kalau dilihat dari udara berbentuk seperti bintang.

Citra udara Naarden, dengan menara Grote Kerk menjulang di pusatnya, dan Danau Ijssel pada latar belakang.

Setiap tahun di bulan Maret, ketika musim semi mengetuk perlahan, gereja agung di Naarden menjadi tuan rumah sebuah pergelaran mahakarya musik yang paling dicintai di Negeri Kumpeni. Setiap tahun di bulan Maret, para tokoh politik kenamaan, termasuk sang Perdana Menteri, pesohor dan penyair, penguasa dan pengusaha, atau orang biasa, berkumpul di Naarden untuk mengapresiasi gubahan sakral yang paling sering dikonserkan di sini: Matthäus Passion karya Johann Sebastian Bach.

Begitu populernya Matthäus Passion di Belanda, tahun ini ada lebih dari 100 konser digelar di seluruh pelosok negeri, oleh orkestra dan paduan suara amatir maupun profesional. Kadang mereka membuat versi singkat dari keseluruhan musik yang bisa berdurasi lebih dari 3 jam ini. Atau ada juga kursus singkat menyanyikan bagian chorale atau memainkan bagian solo cello pada aria tenor “Geduld, geduld” (Sabarlah, sabarlah). Atau yang minggu kemarin juga sempat gw alami, Meezing Matthäus (Nyanyi-Bareng Matthäus), di mana publik juga boleh ikut bernyanyi pada bagian-bagian tertentu. Apa pun bentuk produksi musikalnya, Matthäus Passion telah menjadi tradisi perayaan Paskah sejak sekitar tahun 1870-an. Konser di Grote Kerk Naarden ini misalnya, telah ditampilkan oleh Nederlandse Bachvereniging (Masyarakat Bach Belanda) setiap tahun sejak 90 tahun yang lalu.

Menurut Jacqueline Oskamp, dalam sebuah artikel yang diterbitkan oleh De Groene Amsterdammer 31 Maret 1999, salah satu alasan mengapa Matthäus Passion begitu terkenal di sini adalah Willem Mengelberg (1871-1951). Selama 45 tahun berturut-turut dalam kariernya sebagai pengaba, Mengelberg menggelar Matthäus Passion, setiap tahun tak pernah terlewatkan. Hanya ketika di tahun 1944 setelah Perang Dunia II, ketika ia dilarang menjadi dirigen, barulah Mengelberg terpaksa harus berhenti. Namun, tradisi tahunan Matthäus Passion diteruskan oleh pengaba-pengaba lainnya, hingga hari ini. Dari sudut-sudut katedral dan gedung konser, di kota maupun di desa, kita  bisa mendengarkan alunan indah suara mezzosopran atau kontratenor menyanyikan “Erbarme dich” (Kasihanilah), atau hentakan mengerikan dalam “Sind Blitze, sind Donner in Wolken verschwunden” (Petir dan halilintar lenyap ditelan awan).

Begitulah, setahun yang lalu untuk pertama kalinya gw menyaksikan sendiri bagaimana masyarakat di sini, Katolik maupun Protestan, teis maupun ateis, dengan penuh apresiasi mengikuti prosesi konser yang penuh kompleksitas ini. Banyak di antara audiens membawa partitur mereka sendiri, yang seringnya sudah lecek saking seringnya dipakai. Sepanjang konser mereka mengikuti teks dan musik dalam partitur yang mereka bawa, atau buku program konser yang selalu menyertakan terjemahan teks Jerman dalam bahasa Belanda. Banyak di antara mereka yang tak kuasa menitikkan air mata, terutama pada bagian ketika Kristus disalibkan dan wafat, atau mungkin hanya karena terenyuh dengan keindahan musik dan suasana wingit yang tercipta sepanjang konser.

Begitu dramatis pengalaman tersebut berbekas dalam psike gw, hingga gw memutuskan untuk mencari paduan suara yang memang secara teratur menggelar gubahan Bach paling dicintai ini. Tahun ini, dengan penuh semangat dan kecintaan pada musik, akhirnya gw ambil bagian dalam produksi Matthäus Passion dengan Combattimento Consort (Jan Willem de Vriend), Toonkunstkoor Amsterdam (Boudewijn Jansen), Roder Boys Choir (Rintje Albert te Wies), dan solis-solis fantastis macam Andreas Weller sebagai Evangelis, Michael Kraus sebagai Yesus, soprano Claron McFadden dan Lenneke Ruiten, mezzosoprano Cécile van de Sant dan Barbara Kozelj, tenor Thomas Michael Allen, dan bariton Maarten Koningsberger. Lima konser di lima tempat: satu konser nyanyi-bareng di Concertgebouw Amsterdam, dua konser di Muziekgebouw aan ‘t Ij Amsterdam dan Philharmonie Haarlem, satu konser yang melibatkan ratusan anak-anak sekolah dasar, dan satu konser tahunan monumental tepat pada hari Jumat Agung di Concertgebouw … nanti malam.

Tahun ini gw satu repertoar Bach lebih kaya ^^. Untuk yang belum pernah mengalami sendiri keajaiban musik Bach paling dicintai yang gw bahas di sini, silakan nikmati interpretasi Philipp Herreweghe yang dinilai banyak kritisi musik sebagai salah satu yang terbaik.

Semoga menginspirasi.