Konser HVE “Ein rein Herz”

HVE Spring Concert 2013

HVE Spring Concert 2013

Sekitar dua bulan setelah lulus audisi menjadi penyanyi sebuah ansambel vokal yang berbasis di Amsterdam, Hollands Vocaal Ensemble (HVE), gw ngamen lagi setelah sekitar setahun absen dari bidikan lampu sorot. Tepat setahun silam gw ngamen keliling Negeri Kumpeni bersama Nederlands Studenten Kamerkoor (NSK), membawakan komposisi dan gubahan a cappella dari abad kekinian. Dua minggu, empat premiér, sepuluh konser, berakhir di Concertgebouw Amsterdam. Tepat setahun kemudian, gw dengan sumringah menampakkan diri lagi. Kali ini di Haarlem dan Amsterdam.

HVE membawakan komposisi a cappella dari komponis Jerman: Hugo Distler, Heinrich Schütz, Felix Mendelssohn, Anton Bruckner, dan Johannes Brahms. Nama-nama yang rasanya sama sekali tidak asing di telinga publik paduan suara di Indonesia. Kecuali mungkin Distler, yang relatif jarang terdengar dinyanyikan di tanah air. Distler adalah seorang komponis, organis, guru, dan pengaba paduan suara yang mati muda: bunuh diri pada usia 34 tahun, di tengah kengerian perang dunia dan kebingungan antara melayani Tuhan atau Nazi. Musik Distler yang sering berbentuk polifoni dan berdasarkan tangga nada pentatonis dianggap sebagai ‘seni yang bobrok’ oleh publik Jerman kala itu. Tetapi justru karena kekhasannya itulah komposisinya menjadi unik. HVE dengan bangga mempersembahkan dua komposisi Distler yang cukup menantang: “Singet dem Herrn ein neues Lied” dan “Fürwahr, er trug unsere Krankheit”.

Janskerk, Haarlem (photo: Rijksmonumenten)

Hari pertama HVE konser di Janskerk, Haarlem, yang dulunya adalah sebuah gereja yang dibangun sekitar awal tahun 1300an. Saat ini fungsinya diubah menjadi Gedung Arsip Provinsi Noord Holland. Begitu kayanya sejarah gedung ini, pemerintah provinsi tidak dengan semena-mena menyulap gereja menjadi gedung arsip begitu saja. Pada beberapa sudut dalam gedung, wajah asal gereja masih bisa kita telusuri, seperti dinding yang sebagian sengaja dibiarkan tanpa semen, seolah mengizinkan wajah tua nan keriput berusia 700 tahun itu ikut mengambil perhatian audiens konser.

Di hari kedua, HVE tampil di Waalse Kerk, Amsterdam, sebuah gereja di pusat kota yang dibangun pada awal abad ke-15. Menurut pengaba kami, gereja kecil ini memiliki salah satu akustik terbaik untuk konser paduan suara dan musik kamar. Itulah sebabnya, live recording dibuat untuk konser hari kedua.

Waalse Kerk, Amsterdam (photo: Reformatorisch Dagblad)

HVE membuka konser dengan motet untuk 8-suara “Mitten wir im Leben sind“, lagu ketiga dari Op.23-nya Felix Mendelssohn. Komposisi ini pertama banget gw denger dulu di Indonesia, dinyanyikan dengan baik oleh PSM Unpad pada salah satu kompetisi paduan suara di Bandung tahun 2002. Tahun 2005, gw berkesempatan menyanyikan komposisi ini dengan National Youth Choir Indonesia. Tapi sayang, Ivan Yohan sang pengaba belakangan memutuskan untuk tidak memasukkan lagu ini ke dalam repertoar konser.

Siapa nyana, tahun 2012 akhirnya gw sempat juga mengapresiasi motet yang penuh kekuatan emosi dan ketelitian musikal ini. Menurut Julian Haylock, motet ini memiliki karakter Bach yang sangat kuat. Tiga ayat yang menjadi tubuh utama lagu selalu diakhiri dengan “Kyrie eleison” dan ditandai dengan tekstur yang bertentangan, antara chorale yang khidmat dan vivace kontrapuntal.

Sebagai rujukan, berikut pranala YouTube St John’s College Choir, Cambridge, membawakan lagu ini.

Dalam komposisi 8 suara divisi, gw biasanya menyanyikan Tenor 1. Tapi, seperti biasanya, gw selalu kedapatan tugas tambahan. Salah satu Tenor 2 tiba-tiba mengundurkan diri dari konser beberapa hari sebelum hari-H. Alhasil, Fokko Oldenhuis sang pengaba meminta gw untuk belajar cepat semua bagian Tenor 2. Yah… gw lagi, gw lagi. Tapi demi keseimbangan suara, gw jabani juga. “Kyyyyrieeee eleisoooon…”

Kemudian HVE merangkai kata terakhir ‘eleison’ pada lagu pembuka dengan salah satu motet Johannes Brahms yang paling indah: “Schaffe in mir Gott, ein rein Herz“, yang juga menjadi judul konser kali ini. Hati yang Bersih. Brahms menulis motet ini berdasarkan teks Mazmur 51. Banyak kritisi musik menilai motet-motet Brahms layak disandingkan dengan motetnya Bach. Nomor kedua dari Op. 29-nya Brahms ini misalnya, mengingatkan kita pada motet “Singet dem Herren ein neues Lied” (Johann Sebastian Bach).

Sebagai rujukan, coba buka Spotify kalian dan dengarkan Norddeutscher Figuralchor membawakan motet Brahms dan Kammerchor Stuttgart membawakan motet Bach yang gw sebutkan di atas.

Selepas Brahms, HVE menyajikan musik Distler yang unik itu, dimulai dengan “Fürwahr, er trug unsere Krankheit” (Dan sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggung-Nya). Motet yang teksnya diambil dari Yesaya 53:4-5 ini adalah komposisi terakhir yang ditulis Distler sebelum dia bunuh diri setahun kemudian. Sepanjang lagu ada banyak sekali bunyi disonan dan harmoni kromatik yang cenderung terdengar putus harapan. Musik Distler yang terdengar sedih dan muram ini memang tidak terlepas dari konteks ruang dan waktu di mana dan ketika komposisi ini ditulis, yaitu ketika Nazi di Jerman semakin mengukuhkan cakar-cakar fasismenya di Jerman dan Eropa. Untuk gambaran, silakan dengar Monteverdi Chor München membawakan motet ini di Spotify.

Alur waktu kemudian sejenak mundur beberapa abad. Giliran komposisi sakralnya Heinrich Schütz, yang dipandang sebagai komponis Jerman paling penting sebelum Bach. Sebagai murid Gabrieli dan pengagum Monteverdi, dia memperkenalkan gagasan musikal baru dari Italia ke dunia musik di Jerman.

HVE bernyanyi dalam seting yang berbeda untuk motet-motet dari zaman Barok ini. Sekitar 30 orang penyanyi dalam ansambel vokal ini dibagi dua. Setengahnya menyanyikan motet “Die Himmel erzählen die Ehre Gottes”, kemudian Claudia Rolando, salah satu soprano kami yang berasal dari Argentina dan sekarang tengah menempuh PhD di Belanda dalam bidang pembelajaran nyanyi klasik membawakan dua motet untuk solo “O misericordissime Jesu” dan “O Jesu nomen dulce” diiringi konduktor Fokko memainkan klavisimbel. Pada saat gw menulis lema blog ini, Claudia sedang berada di Paris dalam tur konsernya keliling Eropa membawakan musik klasik Argentina. Setelah dua lagu solo tersebut, separuh penyanyi yang lain, termasuk gw, membawakan “Unser Wandel ist im Himmel”. Seperti biasa, gw selalu menikmati bernyanyi dalam seting kecil seperti ini. Kami bernyanyi seperti penyanyi madrigal, setengah melingkar dan campur aduk: penyanyi kiri-kanan harus dari suara lain. Gw seneng banget bisa nyanyiin Schütz lagi, setelah terakhir tahun 2009 bawain satu atau dua karyanya yang lain dengan Batavia Madrigal Singers.

Di YouTube bisa kalian dengarkan Collegium Vocale Gent (Philippe Herreweghe) yang spektakuler itu membawakan motet Schütz yang pertama:

dan kedua:

Selepas motet dari zaman Barok, HVE mempersembahkan komposisi lain dari Distler, “Singet dem Herrn ein neues Lied”. Motet yang terdiri atas tiga bagian ini diawali dengan bagian unisono yang dinyanyikan oleh para pria, yang terdengar cenderung resitatif. Badan lagu mengandung banyak sekali pergantian ritmus dan modalitas, sangat energik dan penuh fantasi. Coba lihat pranala YouTube berikut dari Calmus Ensemble Leipzig.

Kemudian konser diakhiri dengan salah satu motet Mendelssohn yang sangat terkenal itu: “Mein Gott, warum hasst du mich verlassen”. Motet ini merupakan nomor terakhir dari Op. 78 Tiga Mazmur untuk Paduan Suara Ganda, dan karya terpanjang di antara ketiga motet dalam opus ini. Mendelssohn menyelesaikan komposisi ini pada tahun 1844, dan dikomisi oleh Berliner Domchor. Di Inggris, motet ini sangat sering dibawakan sebagai repertoar konser. Bagian awal yang mengedepankan efek dramatis pergantian melodi solo tenor dengan harmoni paduan suara menjadi kekuatan motet ini. Kemudian ketika teks memasuki “Ich bin ausgeschüttet wie wasser”, kentara bahwa bentuk dan tekstur lagu berubah dan baru, dengan bersandingnya solokuartet dengan paduan suara. Rendisi HVE untuk motet ini menurut sang pengaba sih sangat meyakinkan. Nah, gw jadi penasaran nunggu hasil rekaman penampilan kami dalam konser ini.

Sebagai tanda cinta gw buat kalian, :P silakan nikmati Estonian Philharmonic Chamber Choir (Daniel Reuss) membawakan Op. 78 Nr. 3 mahakarya Mendelssohn ini.

Konser Vocoza “Zomer Herfst”

Dari milis AgriaSwara IPB (27 November 2010)

Kamerkoor Vocoza Amsterdam

Kamerkoor Vocoza Amsterdam

Seneeeeeeng banget, akhirnya bisa konser lagi. Diterima jadi anggota sekitar akhir September, tadi malem kami konser di Groenmarktkerk, Haarlem. Seperti biasa, Vocoza menampilkan konser di dua venue. Hari ini kami akan konser lagi di Mozes en Äaronkerk, Amsterdam.

Venue tempat kami konser tadi malam adalah sebuah gereja yang akustiknya, menurut gw, salah satu yang terbaik untuk konser paduan suara dan musik kamar yang pernah gw alami. Kami tampil dalam sebuah format konser bersama empat orang pemusik dengan instrumen autentik zaman Barok: continuo, theorbe, violoncello, dan violon. Bersama kami, juga tampil seorang soprano (mantan penyanyi Vocoza di tahun 80an yang sekarang berkarier internasional), Johannette Zomer. Ini adalah kali pertama gw terlibat dalam konser musik kamar seperti ini. Dan kesan gw, konser ini sangat intim, dan audiens-nya sangat atentif.

Konser kami buka dengan Jesu, meine Freude (Bach), dengan format lengkap paduan suara dan semua instrumen, tanpa Johannette. Karya monumental Bach yang satu ini adalah motet terpanjang dan paling terkenal dari 6 motet untuk paduan suara yang ditulis Bach untuk 5 suara. I’m a Bach enthusiast, so I find this piece simply irresistible. Apalagi dengan iringan instrumen yang emang berasal dari zamannya Bach. Gw bisa bilang, gw merasa kembali ke Leipzig, tahun 1723, ketika karya ini di-premiere-kan. Tapi yang paling gw suka dari bagian ini adalah bagaimana Sanne, konduktor kami, berhasil mengolah musik Bach yang penuh detail menjadi sebuah penampilan yang mengadiluhungkan presisi dan artistri. Dari sudut penyanyi, gw bisa menyelami bagaimana teks biblikal dalam motet ini diterjemahkan ke dalam musik yang berbicara. Bukan hanya bernyanyi, tapi juga menyampaikan pesan.

IMG_2842

Setelah Bach, paduan suara silam. Kemudian Johannette naik panggung, membawakanDeuxieme Leçons de Tenebres (Couperin). Ini adalah sebuah karya yang menggambarkan refleksi dan kontemplasi atas dosa, seperti dalam cerita di Perjanjian Baru, tentang kehancuran Jerusalem pada abad ke 6 sebelum Masehi. Johannette tampil sangat memukau. Dari kursi penonton paling belakang, gw mencerap keindahan sebuah karya musik Barok Perancis yang memiliki karakteristik berbeda dari musik barok Jerman, macam Bach dan Händel. Pada awal setiap ayat, Couperin menyulap huruf dari abjad Iberani menjadi sebuah melisma yang sangat indah, kemudian diakhiri dengan kalimat Jerusalem, Jerusalem, Dominum Deum tuum ad convert.

Sama sekali berbeda dari dua karya pertama, pada karya ketiga, kami tampil a cappella, membawakan Fünf Gesange (Brahms). Temen-temen angkatan 41 ke atas mungkin ingat AgriaSwara pernah membawakan salah satu dari 5 lagu Brahms ini: Verlorene Jugend. Tadi malam kami menampilkan karya ini secara utuh. Well, biasanya Vocoza memang menampilkan semua nomor dari sebuah opus. Kelima lagu Bramhs ini menggambarkan serbaneka atmosfer musim gugur: dedaunan yang terserak di atas tanah, melankoli bunga-bunga yang layu oleh dinginnya udara, tapi juga pengharapan akan datangnya kedamaian dan sinar matahari. Karya nomor 4, Verlorene Jugend, Brahms membuat lukisan alam dalam musiknya, tentang energi masa muda yang tersisa setelah musim berlalu. Keseluruhan karya ini terkesan melankolis, padahal Brahms menulisnya di musim panas, sekitar tahun 1887.

Tiga karya pertama ternyata memakan waktu cukup panjang, setelah itu kami rehat.

Babak kedua konser dibuka dengan tiga karya epik komponis kontemporer Estonia, Veljo Tormis, yang datang melatih kami awal November lalu, sebagai bagian dari Tormis Festival yang diadakan di Amsterdam, mengumpulkan paduan suara-paduan suara amatir dari seluruh pelosok Belanda. Dalam masterclass bersama Tormis, katanya sih, disamping pengolahan musik yang bagus, pelafalan bahasa Estonia kami nyaris sempuna ^^. Beliau mengundang kami untuk konser di Estonia karenanya. Buat gw, ini pengalaman pertama terlibat dalam sebuah produksi musik di mana komposernya sendiri turun tangan dan melihat sendiri bagaimana musik yang dia tulis diinterpretasikan oleh sebuah paduan suara yang bukan dari negerinya sendiri. Dalam 3 Laulu eeposest Kalevipoeg, Tormis menghidupkan kembali musik rakyat dan sejarah Estonia dalam sebuah kisah tentang kehilangan dan perjuangan. Puisi dalam teks Kalevipoeg bercerita tentang Kalevipoeg (Anak Lelaki Kalev). Salah satu lagu dari Kalevipoeg ditulis Tormis ketika ia kehilangan ibundanya pada sekitar tahun 50an, waktu ia masih menjadi siswa Konservatorium Moskow. Pada lagu terakhir, Tormis membuat lukisan alam tentang ombak di lautan. Pada nomor ini, para bass 2 meluncur ke bawah sampai C2.

IMG_2834

Dari abad kontemporer, kami kembali ke awal zaman Barok, membawakan Lamento d’Ariannabersama Johannette dan instrumen Barok. Sebagai penggemar berat Monteverdi, gw menemukan nuansa baru dalam musik lamento ini. Monteverdi bercerita tentang Ariadna, yang menolong Theseus keluar dari labirin yang dibuat oleh ayahnya, Raja Minos dari Kreta. Setelah Theseus, membantai Minotaur, ia ternyata mengingkari janjinya menikahi Ariadna. Opera ini bercerita tentang kesedihan Ariadna.

Terakhir, kami membawakan Hör mein Bitten (Mendelssohn). Untuk lagu ini, kami turun dari altar dan naik ke mezanin di lantai tiga, di bawah orgel besar yang menutupi nyaris seluruh dinding di bagian façade gereja. Sang musisi kontinuo kali ini mengiringi kami dengan orgel, dengan Johannette sebagai solis. Lagu ini, yang berarti Dengarlah Doaku, adalah salah satu karya favorit sang komposer sendiri yang ia tulis pada zaman Victoria. Selang seling solo dan paduan suara pada karya Mendelssohn ini mengingatkan kita pada lagu-lagu patriotik Inggris. Oleh karena itulah, versi Inggris dari lagu ini, Hear My Prayer, adalah salah satu karya paling terkenal dan paling banyak dinyanyikan yang pernah ditulis Mendelssohn. Efek akustik dengan bernyanyi di atas mezanin ternyata cukup dramatis, karena audiens mendengar suara kami seperti dari langit ^^.

Keseluruhan konser ternyata cukup panjang. Lebih dari 2 jam. Cape juga. Tapi seneeeeng banget. Gw belajar banyak dari pengalaman gw bermusik bersama teman-teman di Vocoza. Salah satu yang gw pelajari adalah, Vocoza tampaknya perencana yang baik. Program konser berikutnya sudah dipublikasikan dari konser kali ini. Bukan hanya publikasi tanggal dan tempat, tapi juga program yang akan kami bawakan berikutnya. Bulan Mei tahun depan. Dan, gw melihat ada Missa for double choir (Frank Martin) yang pernah gw bawakan bersama Twilite Chorus tahun 2005 lalu. ^^

Segitu dulu yah, semoga lapdangmatnya bermanfaat.

Jurnal Perjalanan BMS 2009 (Austria, Slovenia, Hongaria)

Menikmati lezatnya gado-gado pada malam hari bertabur bintang gemintang di pelataran Neue Hofburg (Imperial Palace), Wina, Austria, bukanlah pengalaman menakjubkan yang bisa kita alami setiap hari. Lezat, tak terkira. Apalagi mengetahui bahwa akhirnya, setelah berhari-hari bergulat dengan kerja keras demi sebuah kesempurnaan artistik, selesailah rangkaian tur konser dan kompetisi Batavia Madrigal Singers di Eropa tahun ini. Tiga program kompetisi, tiga negara, kami – atau paling tidak, aku – belajar banyak hal bagaimana menyatukan visi 35 orang penyanyi dengan isi kepala yang berbeda-beda bukanlah perkara gampang. Ada banyak sekali momen pemacu adrenalin yang kemudian membawaku secara pribadi pada kematangan dan ketercapaian. Inilah sepenggal cerita yang akan menjadi bagian dari ‘buku besar’ perjalananku. Bermula di Jakarta.

400 Hingga 1100 Dollar Amerika … Sanggup?

Rencana BMS mengikuti kompetisi di Eropa tahun 2009 sudah terendus dari tahun lalu. Pascakonser “Eternal Light” di Jakarta pada akhir Oktober 2008, barulah terang bagi kami bahwa Slovenia adalah target BMS tahun ini.

Semangat dan gelegak untuk berkompetisi mulai menyelusup aliran darah kami. Namun, ketika email pertama dating dari project manager kami, aku tidak lantas berjingkrak sambil berteriak “Iya!”. Isinya lumayan jelas, tegas dan ringkas: Program Kompetisi di Slovenia dan Tur Konser di Hongaria dan Austria… total jendral, USD 400-1100 per penyanyi, bergantung pada hasil audisi dan jam terbang menjadi anggota aktif BMS.

Waduh! Cukup nggak ya?

Terdengar agak skeptis pada awalnya, tapi jujur saja, buat aku pada saat ini, dengan rencana dan prioritasku hingga lima bulan ke depan, jumlah sebesar itu agak-agak unaffordable. Apalagi mengingat bahwa seharusnya ada pihak ketiga yang menanggung itu semua (baca: sponsor dan patron). Tapi, mau bagaimana lagi, BMS tidak bisa disamakan dengan AgriaSwara yang secara organisatoris berada di bawah institusi yang lebih punya taring menggigit sponsor. Dan pada saat-saat seperti itulah aku benar-benar merasa betapa kurangnya perhatian pemerintah (secara finansial, tegas saja) pada pekerja-pekerja seni lepasan macam kami. Padahal, judulnya tetap koq, membawa nama Negara Indonesia di kancah antarbangsa, bukan hanya Negara Daksa (tempat kami latihan, di daerah Senopati, Jakarta Selatan). Kelak, dalam nada guyon, kadang kami bilang saja kalau kami adalah perwakilan Negara Daksa, saking sebelnya sama ketidakpedulian orang-orang pemerintahan Negara Indonesia itu. Huh!

Tapi, apalah, aku putuskan juga untuk menjajal kemampuanku di kompetisi ini. Dengan ancer-ancer bayangan uang partisipasi yang harus aku bayar, aku mulai ikut latihan dari bulan Januari. Sangat, sangat mendesak, memang. Aku sampai heran sendiri, apakah BMS selalu seperti ini. Persiapan hanya 3 bulan untuk kompetisi setaraf Slovenia.

10. mednarodno zborovsko tekmovanje maribor 2009 – Apaan tuh?

Inilah nama kompetisi yang kami ikuti tahun ini: 10th International Choir Competition Maribor 2009. Kompetisi ini adalah salah satu dari rangkaian kompetisi paling prestisius di Eropa saat ini, yaitu European Grand Prix for Choral Singing. Bersama kompetisi Maribor, Slovenia, tersebutlah juga Concorso Polifonico Guido d’Arezzo, Arezzo, Italia; Bela Bartok Nemzetkozi Korusverseny, Debrecen, Hongaria; Florilege Vocal de Tours, Tours, Perancis; G. Dimitrov May Choir Competition, Varna, Bulgaria; dan Certamen Coral de Tolosa, Negeri Bask, Spanyol.

10th Maribor International Choir Competition

10th Maribor International Choir Competition

Berbeda dengan kompetisi Musica Mundi yang boleh dibilang tak membatasi jumlah dan kualifikasi peserta, kompetisi-kompetisi European Grand Prix terkenal sangat demanding. Mereka hanya memilih sekitar 8 hingga 12 peserta saja dari seluruh dunia yang  mereka perbolehkan ikut. Untuk kompetisi Maribor Slovenia tahun ini, BMS adalah satu-satunya perwakilan dari negara-negara Asia. Berikut adalah seluruh pesertanya:

  1. Coro feminile EOS (female choir), Italia
  2. Akademiska Sängföringen (male choir), Finlandia
  3. Batavia Madrigal Singers, Indonesia
  4. The Mornington Singers, Irlandia
  5. Sõla, Latvia
  6. Canticum Novum Chamber Choir, Hongaria
  7. Victoria Chamber Choir, Hongaria
  8. The Academic Choir »Divina armonie«, Romania
  9. Komorni zbor AVE, Slovenia
  10. Zbor sv. Nikolaja, Slovenia
  11. KUP Taldea, Spanyol
  12. Falu Kammarkör, Swedia

Melihat profil masing-masing peserta saja, wah! Rasanya sudah membuat keringat dingin. Kebanyakan dari mereka memang sudah sangat established sebagai paduan suara (dengan anggota yang solid, nyaris tidak berganti-ganti) selama bertahun-tahun bahkan lebih dari seratus tahun. Mereka sudah merilis banyak CD rekaman yang dijual secara bebas. Dan tentunya, langganan juara di mana-mana dan tur konser keliling dunia.

Jadi, boleh dibayangkan bagaimana pressure kami selama mengikuti kompetisi ini. Setiap menit adalah siksaan. Siksaan yang nikmat! Sebab begitulah, kami dituntut untuk mencapai kesemperunaan musikal dan artistik dari latihan ke latihan. Tetapi, sekali kesempurnaan itu tercapai, reward-nya tak terkira. Dan terbayarlah seluruh keluh kesah, kerja keras kami untuk mencapai itu.

Kalian harus merasakan sendiri bagaimana ekstasi kosmik itu terjadi. Seperti orgasme! Mungkin lebih dahsyat dari itu. Ah, nikmat sangat lah!

Who’s Who

Ini adalah program BMS untuk kompetisi kali ini:

Konser Pembukaan

  • Pontas Purba (1953) – Sin Sin Sibatu Manikam
  • Avip Priatna (1964) & Ivan Yohan (1975) – Yamko Rambe Yamko

Program Wajib

  • Iacobus Handl-Gallus (1550-1591) – Sancta et immaculata virginitas
  • Josef Rheinberger (1839-1901) – Salve Regina
  • Lojze Lebič (1934) – Vem, da je zopet pomlad

Program Bebas

  • Claudio Monteverdi (1567-1643) – A un giro sol de begl’occhi
  • Eric Whitacre (1970) – Hope, faith, life, love…
  • Ryan Cayabyab (1954) – Gloria

Grand Prix (jika lolos ke lima besar)

  • Johannes Brahms (1933-1897) – Nachtwache II, Op. 104 Nr. 2
  • Claude Debussy (1862-1918) – Dieu! Qu’il la  fait bon regarder
  • Morten Lauridsen (1943) – Ov’e Lass, il bel viso?
  • Paul McCartney (1942) & John Lennon (1940-1980) – Honey Pie
  • Avip Priatna (1964) & A Bambang Jusana (1970) – Janger

Dan ini adalah para penyanyi yang berangkat:

Soprano

  1. Fitri, Obi, Heidy, Tina, Deasy, Jeje
  2. Agnes, Ines, Devi, Christine, Renna

Alto

  1. Lia, Dosma, Tanti, Nuniek
  2. Joyce, Noni, Veby, Stella

Tenor

  1. Ipul, Arvin, Ocep, Hendra, Yosef, Anton
  2. Adri, Cahyo, Michael

Bass

  1. Harry, Adit, Aldy
  2. Pepi, Harland, Charles, Reyhan

Lebih dari setengahnya adalah anak baru (termasuk yang nulis). Semua penyanyi berasal dari latar belakang yang sama sekali beda! Beda alma mater PSM (Unpar, UI, IPB, ITB, UPH, Unpad, Atamajaya, Brawijaya, Binus, Perbanas, Gunadarma, Maranatha), beda usia (20 hingga 40 tahun), hingga beda profesi (dokter, IT, dosen, koordinator Matematika <– narsis, hehehe, guru vokal, pegawai bank swasta, kontraktor, mahasiswa, bahkan ibu rumah tangga). Beda agama dan beda suku mah udah biasa kali ya. Tapi, lihatlah peta kekuatan tim ini. Sangat beragam!

Dan begitulah, dari hari ke hari, kami benar-benar ditempa, persis seperti besi tuang yang sudah berbentuk namun belum halus pahatannya. Seperti batu permata yang sudah berkilauan pada hakikatnya, tapi masih harus digosok… berkali-kali… dan berkali-kali.

Ngamen di Jakarta Demi Sepeser Euro

Perhitungan anggaran menurut manajemen BMS adalah USD 60 000. Sekitar sepertiganya adalah urunan penyanyi dan konduktor, subsidi silang. (Fewwh! Banyak yah?) Sisanya? Patron, sponsor dan donatur. Sekedar mengemis? Tidak juga. Kami ngamen. Dari tempat ke tempat, sekalian uji coba repertoar dan mempertinggi jam terbang manggung tim kompetisi.

Itu penting, sebab seringkali tim kompetisi gagal karena mereka (sebagai tim yang berangkat) jarang memonitor kemajuan tim dengan manggung dan merekam hasil penampilannya. Dari konser-konser prakompetisi inilah kami tahu sejauh apa kami telah mencapai choral soundingbalancing antarsuara, intonasi, keseragaman dinamika, hingga kekompakan koerografi. Tanpa konser-konser prakompetisi, entah apalah jadinya ketika kami harus tampil di depan juri nanti.

Dan, tentunya, ada laaah hasilnya. Lumayan, buat nambah-nambah beliin pisang Cavendish buat tim di Eropa nanti, atau beliin kebab di Slovenia ^-^. Yang jelas, satu konser di gereja Mathias Cinere, satu di GKI Kwitang, satu di Djakarta Theater, satu di mansion mewahnya boss PT Djarum, dan satu di GoetheHaus, telah membantu kami menakar sesiap apa kami untuk kompetisi dan tur konser ini.

Urusan Kecil di Tempat Kerja

Ada banyak pertanyaan mengenai bagaimana para penyanyi yang sebenarnya berprofesi bukan penyanyi ini menyelesaikan urusan kecilnya di tempat kerja, berkaitan dengan 7 hari kerja (atau lebih buat yang extend tinggal lebih lama di Eropa) yang harus mereka tinggalkan.

Aku tidak punya jawaban yang sama untuk setiap penyanyi, karena profesi kami juga tidak sama. Tapi buat aku sendiri, sesederhana ini: potong gaji.

(And yet… another sacrifice.)

Mekanisme ini harus aku tempuh karena di sekolah, aku sebenarnya memiliki jatah 11 hari cuti dalam setahun, tapi alokasinya adalah untuk compassionate leave (sakit, dukacita, dan urusan keluarga). Jadi, terpaksalah, jauh-jauh hari aku harus mengurus hal ini dengan HRD. Dengan mekanisme seperti ini pulalah dulu aku menyelesaikan urusan kecilku dengan Sevilla School waktu pergi dengan AgriaSwara ke Budapest dua tahun yang lalu.

Lucunya, tidak semua orang di sekolahku mengetahui situasi ini. Dan ketika ada omongan-omongan miring nggak penting di belakangku, aku meradang juga.

“Eh, gue pergi ke Eropa bukan buat santai-santai juga, tau? Gue pertaruhin nama baik bangsa! Gue nggak makan gaji buta!”

Agak norak juga memang, orang-orang yang hanya mengetahui cerita dari satu sisi ini saja. Tapi, sudahlah, kadang, dalam situasi seperti inilah kesabaran dan kedewasaan kita diuji.

Tantangan Musikal: Gallus vs Brahms, Cayabyab vs The Beatles

Sebagai penyanyi, anggota BMS dituntut untuk menjadi versatile alias serba bisa. Kendatipun mengusung nama Madrigal Singers, kami tidak hanya menyanyikan madrigal. Repertoar kami juga mencakup motet, misa, oratorio, opera,partsongs kala Romantik, komposisi kontemporer paling menantang, Broadway musicals, lagu-lagu jazz dan blues, gospel dan Negro spiritual, hingga folksong dari berbagai belahan dunia. Oleh sebab itulah, ketika program kompetisi dan tur konser ini diberikan kepada kami, konduktor selalu mengingatkan kami untuk mengetahui lebih dulu konsep vokal yang harus kami capai untuk setiap lagu.

Pada lagu pilihan wajib, Sancta et immaculata virginitas, misalnya. Sebelum mengeluarkan bunyi apa pun, kami sudah harus tahu bahwa pada lagu ini, suara harus terdengar ‘selangsing’ mungkin, sederhana, tanpa vibrato sama sekali. Beberapa penyanyi yang kebanyakan makan ular dan mie keriting agak kesulitan menekan ambisi vibrato mereka, hehehe. Pengalimatan yang sempurna membentuk pola-pola sinusoidal juga merupakan esensi lagu-lagu pada zaman ini. Baru tahu juga, karena Gallus adalah komposer berdarah Jermanik, kami tidak membaca ‘virGInitas’ sebagai‘virJInitas’, tapi tetap ‘virGInitas’, sesuai dengan pelafalan bahasa Jerman. Begitupun vokal oe dibunyikan seperti odengan umlaut dalam bahasa Jerman.

Hal yang sama berlaku pada repertoar Romantik wajib yang kami pilih, yaitu Salve Regina. Meskipun syair berbahasa Latin, tapi karena Rheinberger adalah komposer Jerman, semua sukukata ‘ge’ dan ‘gi’ dibaca seperti tulisannya. Bedanya, pada lagu ini, kontrasnya dinamik khas abad Romantik sangat dikedepankan.

Terlebih lagi di lagu Nachtwache II. Konsep bunyi pada karya-karya Brahms sudah jelas: sangat romantik, tapi tetap mengutamakan karakteristik melodinya yang songful; harmoni kaya gradasi di atas fondasi suara bass yang mapan dan bervolume.

Buat aku, tantangan terberat adalah lagu Gloria. Lagu ini sangat megah, dengan rentang dinamika dari ppp hingga fff. Harmoni merapat pada banyak bagian paling indah dalam lagu ini. Ornamen-ornamen acciacatura menambah ritmus rancak bernuansa Asia yang, celakanya, cenderung rawan labilitas nada. Terlebih pada bagian tengah, solo tenor (dinyanyikan dengan penuh tanggung jawab oleh Farman Purnama), menabrak progresi melodi bass yang berada di tangga nada mayor dengan melodinya sendiri yang meliuk-liuk di tangga nada minor. Seringkali kami gagal mempertahankan nada dasar tetap di tempatnya. Tapi begitulah, BMS memilih lagu ini sebagai highlight untuk program bebas.

Sistem kompetisi ini demikian menantang karena dari awal setiap peserta harus sudah menyiapkan 15 menit program musik a cappella untuk babak Grand Prix. Artinya, masuk atau pun tidak masuk 5 besar (finalis), kami tetap harus melatih repertoar untuk babak ini. Yang tidak masuk 5 besar tentunya akan merasa sedih karena mereka tidak berkesempatan menampilkan lagu-lagu mereka.

Konduktor kami sepertinya cukup adventuresome dalam hal memililh repertoar untuk program Grand Prix. Kelima lagu sama sekali berlainan. Brahms yang sangat romantik, dirangkai dengan Debussy (Dieu! Qu’il la fait bon regarder) yang manis sekali, khas komposisi Perancis akhir abad 19. Kemudian sebuah komposisi modern karya Lauridsen (Ov’e Lass, il bel viso?) yang sangat dramatis dan operatik. Lalu kami harus mengeset vokal kami menjadi jazzy pada lagu Beatles (Honey Pie). Terakhir, mungkin untuk alasan keberagaman repertoar DAN kemudahan latihan, Avip memilih Jangeraransemennya sendiri sebagai finale program ini. Tentu saja dengan koreografi, seperti biasa.

Tantangan berikutnya adalah bahasa. Keseluruhan program kompetisi yang dibawakan BMS mencakup 9 bahasa berbeda. Dan yang paling sulit adalah bahasa Slovenia! Apatah gerangan caranya membaca ‘Vzcve-‘ dalam satu suku kata? Untungnya, salah satu pasien dr Joyce (alto 2), adalah mantan duta besar yang kebetulan pernah tinggal di Slovenia. Dan didaulatlah beliau untuk mengajari kami lafal bahasa yang menarik tapi sulit itu.

Na vr tu je češnja vzcvetela.

Vse žarke je vase ujela.

Vem, da je, vem, prišla pomlad!

Pelacur Seni Berkostum Seksi… Yee-ha!

Malam terakhir sebelum keberangkatan BMS ke Eropa, kami dikumpulkan di negeri Daksa tercinta, untuk mengambil kostum konser dan kompetisi. Ada 3 kostum berbeda yang harus kami bawa dalam kabin, satu kostum ungu rancangan Musa Widyatmoko yang kami pakai untuk Konser Prakompetisi “Sanguinis choraliensis!” di GoetheHaus. Satu kostum Bali. Dan satu kostum Dayak yang… aduh… seksi.

Agak-agak risih juga euy! Secara gue bukan golongan Adonis yang mendevosikan dirinya untuk workout di gym lima kali seminggu; yang suka menciumi lekukan bisep dan trisepnya setiap kali berdiri di depan cermin. Tapi, ya sudahlah, demi kemasan penampilan yang menarik, hajar aja broer!

Yang mengesankan dari proses pembuatan kostum ini adalah, sang konduktor, Avip Priatna, turun tangan susah payah mencarikan kain Bali dan velvet buat kami ke Tanah Abang, mencarikan bulu-bulu (entah ayam atau kalkun) buat hiasan kepala kami. Dengan bantuan Ipul juga, selesailah Mission Impossible membuat kostum etnik penuh detail dalam seminggu terakhir. Konsepnya cukup idealistis: festive, glamour, sexy… low cost.

Buset dah! Toronto Fashion Week lewat tuh!

Entahlah apa idealisme itu tercapai atau tidak, tapi aku sangat menghargai keterlibatan penuh konduktor dalam hal kecil seperti kostum. Bagaimana pun, kita tidak hanya ingin didengar, tapi juga dilihat.

Keberangkatan yang Tergesa-Gesa

Hari terakhir sebelum berangkat pada malam harinya, aku dimarahi di sekolah. Hiks hiks! Tapi, ya udah deh, beberapa orang memang SAMA SEKALI tidak bisa diharapkan dukungannya. Beruntung karena teman-teman dekatku di sekolah bersedia membantu situasiku saat itu. Untuk mereka, biasanya aku menyisihkan beberapa Euro-ku (yang tidak seberapa), untuk kubelikan oleh-oleh.

Pulang dari sekolah, setelah malam sebelumnya baru tidur jam 2 pagi untuk packing semua barang yang harus dibawa, dengan tergesa aku langsung berangkat menuju bandara.

Horee! Naik pesawat lagi!

Kegembiraan kanak-kanak seperti itu masih tak tertahankan meledak begitu saja setiap kali aku tebang dengan pesawat. Rasanya seperti kembali ke dalam ruang dan waktu, seperti ketika da Vinci mencoba mesin terbangnya untuk pertama kali.

Dengan penerbangan Emirates EK 357, berangkatlah tim penyanyi Batavia Madrigal Singers sebanyak 35 orang, plus konduktor, plus project manager, plus wartawan Kompas, plus dua penggembira ^-^ (Binu Sukaman dan A Hwa) menuju Eropa, lewat Dubai (transit selama 5 jam), mendarat di Wina, kemudian langsung berangkat ke Selatan menuju Maribor. Total, 24 jam perjalanan. Cape? Hyaeyyallaaaah!

Untungnya, di pesawat ada sistem ICE (information, communication, entertainment) yang cukup bisa membuat kami terhibur di antara waktu tidur kami yang terampas perbedaan zona waktu. Bisa nonton acara TV favorit, film-film dari zaman kakek-nenek hingga BlockBuster terbaru, mendengarkan musik dari segala genre, sampai telpon-telponan antarseat penumpang. Emirates OKeh banget deh!

Belum lagi perjalanan daratnya!

Somewhere between Vienna and Maribor

Somewhere between Vienna and Maribor

Bepergian di Eropa memang paling seru lewat jalan darat. Aku dengan penuh keingintahuan dan keriangan melewati bukit-bukit hijau dengan menara-menara katedral di kejauhan, melintasi perbatasan antarnegara, jembatan-jembatan dengan jurang dan ngarai yang dalam, melalui ladang gandum dan perkebunan kanola yang menguning. Spektakuler! Sepanjang jalan, theme song kami adalah:

“The hills are alive, with the Sound of Music…”

Kemudian, si kembar Agnes-Ines akan memecah keheningan sakral saat kami mengagumi penciptaan Tuhan itu dengan theme song mereka sendiri:

“Tanah airku Sloveniiiiaaaa, negeri elok amat kuuucintaaa…”

GRRR! Ketawa lagi. Sampai sakit perut menghadapi tingkah polah mereka yang tak pernah ada matinya.

Akan lekat dalam ingatanku seumur hidup, bahwa seringkali ada yang lebih berharga dalam hidup ketimbang pencapaian pribadi: kebersamaan untuk meraih sebuah tujuan.

Tidak setiap saat aku bisa merasakan hal itu. Dan untuk setiap detik yang terasa mencerahkan itu, aku mengucap syukur.

Kota Sepi yang Aneh

Diceritakanlah bahwa Maribor adalah kota terbesar kedua di Slovenia setelah Ljubljana, ibukotanya. Mohon jangan dibandingkan dengan, misalnya, Bandung adalah kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta. Terdapat hanya sekitar 2 juta populasi penduduk di keseluruhan Slovenia. Jadi, yang namanya kota terbesar kedua di sana lebih tampak seperti Sukabumi, atau, entahlah, mungkin seperti Cipanas, my lovely hometown. ^-^

Menurutku, kota ini aneh, karena semuanya tampak begitu muram. Bangunan-bangunannya banyak yang sudah tua dan kurang terawat. Wajah Eropa yang klasik, genit dan gemar bersolek tak tampak di sini. Dalam desau angin musim semi yang sama sekali tidak hangat, aku menemukan kesedihan dan ketidakpastian pada wajah kota yang menua. Jejak-jejak rejim komunis mengintip di berbagai sudut, dengan tatapan jahat yang seolah ingin bangkit dari tidur panjangnya.

Drava River, Maribor

Drava River, Maribor

Pemandangan cukup impresif dari arah Sungai Drava yang membelah kota. Kami tinggal di penginapan Lizike Jančar di Titova cesta 24a, selatan sungai. Belakangan kami tahu bahwa hostel ini sebenarnya adalah asrama putri salah satu universitas di sana. Maribor terkenal sebagai kota universitas. Di dekat penginapan kami juga terdapat sebuah Klinik Psikiatri. Yang stres karena tidak dapat kursi di DPR dan DPRD mungkin boleh berkunjung ke klinik itu.

Asylum fugitive, hehehe

Asylum fugitive, hehehe

Hari kedua di Maribor, Jumat 17 April 2009, kami mulai cek panggung. Seluruh rangkaian acara berlangsung di Union Hall, sebuah gedung serbaguna dengan akustik yang sangat baik. Disain interiornya ternyata cukup mengesankan, tidak seperti tampilan luarnya yang biasa saja. Dalam ruangan itu, satu penyanyi saja nadanya tidak tepat, langsung ketahuan. Menurut penonton setia kami, Mbak Binu, vibrato berlebihan juga terdengar sangat mengganggu dalam ruangan seperti itu. Kami langsung adjust suara kami di situ. Tapi, Avip sepertinya tidak cukup puas.

Diomelin Habis-Habisan di Maribor

Adik-adikku, teman-temanku, brondong-brondong dan para abege, terutama, ini adalah pelajaran yang sebaiknya kalian kuasai DAN praktikkan ketika kalian ikut kompetisi di luar negeri:

1.    Stick to the main cause you are here!

Banyak yang berpikir bahwa ikut kompetisi di luar negeri berarti kesempatan untuk jalan-jalan. Well, tidak sepenuhnya salah sih. Tapi aku bisa bilang kalau itu tidak benar. Tujuan kita pergi adalah untuk MENANG di kompetisi, bukan cuma ikut, doremifasolasido, haha hihi, terus pulang, nggak dapat juara sama sekali. Untuk mereka yang otaknya hanya berisi acara jalan-jalan, mendingan berangkat tur sendiri saja deh, atau liburan sama keluarga. Jangan nebeng tim kompetisi. Itu tidak adil. Karena kami pergi untuk kompetisi.

2.    Time is of the essence!

Ada waktu buat foto-foto dan jalan-jalan. Ada waktu buat latihan. Sekali kalian melanggar garis demarkasi di antaranya, kalian mencari mati. Apalagi dengan konduktor sekelas Avip Priatna. Apalagi dengan kompetisi setaraf Maribor. Kak Avip tidak pernah tedeng aling-aling menegur nama para pendosa selama waktu kompetisi, dan tidak berkompromi dengan ketidakdisiplinan. Kalimat beliau yang akan selalu aku ingat adalah “Kemenangan tidak dicapai dengan santai-santai. Semua harus kerja keras. Disiplin!” Dan dengan nada tinggi seperti itu, kami tahu bahwa ia benar-benar serius. Itu terjadi ketika latihan ngaret pada hari kedua gara-gara banyak yang kecentilan foto-foto dulu setiap 5 meter sekali dalam perjalanan pulang ke penginapan.

3.    Nobody is perfect, but music HAS TO be perfect, uncompromisingly!

Ini terdengar sangat menuntut, atau menakutkan, tapi demikianlah standar yang harus kami capai untuk sebuah kompetisi. Good enough is never enough. Tapi, kembali lagi, sekali kesempurnaan itu tercapai, reward-nya buat kita juga.

4.    Once everything is sung and done, you may have your yuletide of joyful ride.

Aku selalu membayangkan, betapa sebuah perjalanan menempuh ribuan mil akan terasa sangat berarti jika kita telah menampilkan yang terbaik (dan menang) baru kemudian kita menghabiskan sisa waktu dengan bersenang-senang. Dalam peribahasaku, menang dahulu, bersenang-senang kemudian. Tenang aja, ada koq waktunya buat perayaan, asal menang dulu.

Stres Menjelang Konser Pembukaan

Maka tersebutlah, sesaat setelah kami diomeli habis-habisan itu, sang solis sempat stres sambil melempar bundel partiturnya. Reaksi para pendosa juga beragam. Ada yang ketakutan. Ada yang merasa tidak enak badan. Ada yang tidak terima. Ini biasanya yang jam terbang kompetisinya masih rendah. Kepada mereka biasanya para senior mencoba menyabarkan. Namanya juga kompetisi, pressure-nya memang begitu. Tuntutannya jelas tidak seperti tur konser yang masih mengizinkan penyanyi haha hihi. “So, either you get used to it… or just go home tomorrow first time in the morning!” Setegas itu. Sesederhana itu.

Bukan petarung sejati namanya kalau tidak bangkit dan belajar dari kesalahan. Sebagai penampil terakhir dalam konser pembukaan, penampilan kami dinilai cukup mengejutkan (dalam konotasi positif). Katanya sih, yang lain lagu-lagu rakyatnya semua bertema dan berwujud klasik. Hyaeyyalayyaaah! Namanya juga negara Eropa, yang namanya folk song, pastinya berbau klasik. Sementara kita? Ya owli! Dengan kostum Dayak yang rada-rada seronok itu berjingkrak-jingkrak garang, teriak-teriak menabuh genderang perang, melengking hingga nada C#3. Dari mana lagi kalau bukan dari Indonesia?

Sayangnya, salah satu solis tenor (yang lain) berdosa di lagu ini, dengan melewati dua bar bagiannya, dan salah masuk barisan. Untung babak ini tidak masuk penilaian!

Hari Pembantaian Massal

Sabtu, 18 April 2009, adalah hari pembantaian massal 35 penyanyi BMS dengan cara yang sangat keji. Mereka dibunuh satu persatu hingga otak dan usus mereka terburai…

Woyyy!!! Apaan nih? Koran Lampu Merah?

Ulang!

Sabtu, 18 April 2009, adalah hari-H kompetisi, di mana setiap peserta harus menampilkan dua program sekaligus (compulsory & free programs). Setiap program dibagi ke dalam dua sesi. Waktu antaranya sebisa mungkin kami manfaatkan untuk latihan, memperbaiki kekurangan kami pada setiap lagu, menyempurnakan intonasi dan dinamika, serta mengingatkan semua hal yang sudah diajarkan sang konduktor kepada penyanyi tiga bulan terakhir ini.

Semua peserta ditempatkan dalam ruang-ruang kelas sebuah sekolah (yang sedang libur) di Razlagova ulica. Sebelah-sebelah kami, Zbor sv. Nikolaja (Slovenia) dan Victoria Chamber Choir (Hongaria) saling adu vibrato. Yah, maklum, doyan makan ular dan mie keriting, hehehe…

Saat kami tampil untuk program wajib, lagu pertama aku nilai kurang sempurna. Sancta et immaculata viriginitas, quibus te laudibus, efferam, nescio. Kalimat-kalimat itu. Ahhh! Sebenarnya bisa lebih berbentuk lagi. Waktu latihan, kami sering lebih bagus dari itu. Untungnya, lagu kedua, Salve Regina, yang menjadi andalan kami, sepertinya cukup mulus. Konon kabarnya, ada penonton yang dibuat sangat terharu dengan keindahan lagu ini, sampai menitikkan air mata.Salve regina mater misericordiae, vita dulcedo et spes nostra salve. Itu ia ungkapkan setelah menyaksikan babak ini. Begitu terharunya mungkin, sampai beliau berniat mengundang kami kembali ke Eropa tahun depan. Well, we’ll see lah. *SINGLISH MODE ON*

Nine Tenors, when One is not enough

Nine Tenors, when One is not enough

Dari dulu, aku selalu percaya bahwa untuk sebuah kompetisi (atau sekedar konser biasa) kamu harus siap 150%. Kenapa? Karena yang 50% akan habis untuk stage fright alias demam panggung.

Lagu Gloria pada program bebas kami jelas belum sesiap itu, karena entah bagaimana, pada bagian ketika bass bernyanyi sendiri, sempat terdengar disonansi yang tidak pada tempatnya. Argghh!!! Gemes rasanya, karena dari telingaku sendiri aku bisa menangkap kalau itu nadanya ada yang salah. Kenapa nggak langsung nyetem sih?

Ternyata menurut analisis Harland Hutabarat, yang membantu memperkuat bass 2 di tim konser ini, sangat sulit membuat bass benar-benar menyatu di lagu ini karena nadanya dibuat staccato sepanjang bagian itu, dan hanya dalam dinamika piano. Celakanya, blocking penyanyi pada keseluruhan program dibuat campur baur. Sebelah kiri-kanan, depan-belakang, tidak boleh suara yang sama. Ibaratnya, setiap penyanyi memang harus benar-benar mandiri untuk bersama-sama menjaga nada dan nuansa sepanjang lagu tetap pada kesepakatan semula. Stabil dan serempak.

Benar-benar tidak mudah.

Pada lagu Monteverdi dan Whitacre, untungnya kami lebih bisa menjaga kesempurnaan vokal, meskipun tetap saja, aku merasa lagu Hope, faith, life, love… sedikit turun di bagian akhir.

Setelah selesai dengan kedua program itu, rasanya aku belum bisa bernafas lega. Masih terasa ada banyak kupu-kupu yang mendesak ingin keluar dari dalam perutku. Aduh! Masuk 5 besar gak ya? Perkiraanku, Victoria Chamber Choir dan Mornington Singers pastilah masuk, melihat profil mereka.

Ternyata aku salah besar.

Dua-duanya tidak masuk. Yang masuk adalah KUP Taldea (Spanyol), Sõla (Latvia), Komorni Zbor AVE (Slovenia), Zbor sv. Nikolaja (Slovenia) dan… Batavia Madrigal Singers (Indonesia). Ah, syukurlah.

Berarti kami berkesempatan menyanyikan lagu the Beatles itu.

Esok harinya, kami langsung bekerja keras lagi untuk babak Grand Prix. Avip sempat menegur keras salah seorang sopran karena ketika cek panggung (lagi), matanya belanja ke mana-mana (padahal belum ada penonton juga).

Bolak-balik dari penginapan ke Union Hall ke Dressing Room ke tempat makan membuatku lumayan pegal juga. Tapi, pikirku, mending habis-habisan sekarang daripada menyesal nanti. Sudah bagus kita diberi kesempatan untuk maju ke babak final. Jangan sampai ini semua sia-sia.

Makan Sayuran Basi? Ewwh!!!

Dari dulu, aku kurang bisa beramah tamah dengan yang namanya salad. I mean, I’m fine with salad, but not with that stinky dressing and freaking sour taste. That was just hideous!

Selama aku di Slovenia, rasanya makanan di 3 tempat yang berbeda pada dasarnya sama saja. Diawali dengan ritual salad sayuran berbau dan berasa basi itu, yang pasti langsung aku singkirkan. Kemudian sup (yang aku sebut maggot soup karena tampak seperti ulat-ulat kecil berwarna kuning – sebenarnya cukup enak asal imajinasinya jangan kelewat liar kayak gue aja!). Lalu, biasanya mereka menghidangkan ayam (karena project manager kami meminta panitia menyediakan hidangan ‘no pork & no alcohol’, mengingat cukup banyak di antara kami yang muslim). Biasanya menu ditutup dengan apple strudel atau cake.

Untuk urusan kuliner, maaf-maaf saja, pecel ayam sama tongseng kambing Benhil masih jauh lebih enak. Lebih maknyus! Sambal botolan cap “Dua Iblis” yang aku bawa menjadi tambahan citarasa pelipur lara di sana. Sayang sekali, kelak, petugas airport di Austria merebut saos botolan itu dari tanganku. “Serahkan saos itu padaku, Reynaldo!” “Tidak, Maria Elena. Saos ini adalah hidup dan jiwaku.”

Hallah!

Ngarakijang di Grand Prix

Minggu siang, berbusana Roberto Cavalli dan bersepatu Jimmy Choo (Yea, right! Hehehe), dengan nuansa Bali warna-warni (kuning dan pink buat soprano-alto, ungu dan hijau buat tenor-bass), kami berarak-arak tebar-tebar pesona di sepanjang jalan Partizanska cesta. Setelah sepanjang pagi kami dipingit di hostel demi sebuah kesempatan kedua bernama Grand Prix, dan setelah (aku) hanya menyantap sereal biji-bijian (makanan hamsterku) untuk sarapan pagi, kami menuju Union Hall. Lily, choir guide kami yang bergaya rambut gimbal ala rastafarian itu dengan setia memandu kami dari dan ke tempat latihan, restoran, dan gedung konser.

BMS Maribor

BMS Maribor

Tentunya tidak setiap hari bule-bule itu melihat pemandangan Oriental di jalan raya mereka, dan tentunya tidak setiap hari pula kami dengan tak tahu dirinya bergerombol di pedestrian sambil bernyanyi-nyanyi Honey Pie. Ketika pandangan orang-orang tertuju pada keanehan yang menarik itu, kami tak lupa mengumbar senyum, sambil berharap bahwa mereka menangkap imagi tentang keramahan budaya Timur.

Kami melewati jalan yang sama, dan itu berarti melewati godaan yang sama: ES KRIM! Demi melihat mata para penyanyinya kelap-kelip memandang es krim yang tampak sangat lezat itu, konduktor kami langsung wanti-wanti supaya kami menahan diri. Tidak ada es krim sampai seluruh rangkaian program kompetisi dan tur konser berakhir! Di sebelah tukang es krim itu, ada juga tukang kebab yang tersenyum sumringah sambil menyapa kami saat kami lalu di depannya. Belakangan aku tahu alasan di balik senyuman si tukang kebab itu: Mbak Mita, project manager kami, membeli kebab 3-Euroan sebanyak sekitar 30-an porsi untuk seluruh penyanyi. Mungkin kami dia anggap penglaris jualannya hari itu. Aku ingat, dia bahkan mengucapkan “Good Luck!”

Dengan keberuntungan kebab Slovenia, beserta seluruh kemampuan tim, tampillah Batavia Madrigal Singers sebagai peserta undian pertama siang itu. Selalu ada perasaan gugup bercampur khawatir menjadi peserta pertama, karena biasanya juri belum memiliki standar penilaian yang dapat dijadikan bahan referensi mengenai penampilan seperti apa yang layak mendapatkan nilai, misalnya, 91. Tapi, menurut konduktor kami, ada bagusnya juga menjadi penampil pertama, karena itu berarti kami bisa segera menyelesaikan seluruh babak kompetisi ini. Setelah itu, paling tidak kami bisa sedikit bernafas… (padahal belum bisa lega juga sampai dengan pengumuman pemenang pada malam harinya).

Honey Pie ^-^

Honey Pie ^-^

Dengan nyaris tanpa dosa yang berarti, tiga lagu pertama, Nachtwache II, Dieu! Qu’il la fait bon regarder, dan Ov’e lass, il bel viso? kami tampilkan dengan sebaik-baiknya. Ada bagian di lagu Lauridsen yang sangat memerlukan konsentrasi penuh pada gerakan tangan konduktor, jika tidak ingin ritmus lagu menjadi berantakan. Aku sempat agak khawatir juga, tapi syukurlah seluruh penyanyi kelihatannya memang sudah cukup bisa menghafalkan lagu ini, sehingga mereka tidak terlalu terpaku pada partitur. Dari jauh-jauh hari, Kak Avip meminta kami menghafal seluruh lagu, supaya kami lebih bisa mengikuti arahan beliau.

Dengan blocking yang berbeda, lagu Honey Pie dinyanyikan. Para tenor sudah diperingatkan untuk memperhatikanrelease pada akhir kalimat yang cenderung suka turun. Ya, begitulah, ada tantangan tersendiri menyanyikan lagu-lagujazz, karena alih-alih memperhatikan intonasi, penyanyi lebih sering tergoda pada style bernyanyi, berikut bagian-bagianportamento dan glissando yang bertebaran di sepanjang lagu. Dan dengan rahmat dan berkat merekalah kemudian intonasi lagu suka turun. Sedikit akting di ujung lagu pada bagian ini (kebetulan salah satu penyanyi adalah bintang sinetron juga ^-^ –> bang Harland), membuat lagu ini memberikan nuansa tersendiri di antara program Grand Prix finalis lain yang melenggang dengan repertoar sakral penuh kekhidmatan.

Menutup program kami adalah ‘lagu kebangsaan’ Batavia Madrigal Singers, yaitu Janger, aransemen Avip Priatna dan Bambang Jusana. Dikomisi oleh PSM Universitas Parahyangan pada sekitar tahun 2000 di Linz, lagu ini tampaknya masih menjadi pilihan banyak paduan suara lain untuk mengetalasekan akar budaya Indonesia, khususnya Bali. Mengapa selalu Janger? Karena lagu ini begitu saja memungkinkan banyak variasi koreografi. Dan dengan sendirinya, lagu ini masih memiliki daya tarik audiovisual untuk waktu yang tak terbatas. Di antara seluruh repertoar para finalis Grand Prix, rasanya hanya lagu ini yang secara musikal berbeda sendiri. Unik. Masih menarik.

Kasusnya tentu berbeda seandainya lagu ini ditampilkan di Indonesia, saking sudah terlalu seringnya lagu ini dibawakan oleh paduan suara lokal. Kami, meskipun demikian, tetap membawakan lagu ini dalam nuansa kesalihan para penari Bali yang dengan rendah hati menghibur para penonton. Aku rasa, bagi mereka, lagu ini masih memiliki charm. Timeless beauty!

3: Terbaik untuk Tahun Ini

Menunggu hasil adalah saat-saat paling menyebalkan. Lima tahun terakhir ini, aku tahu benar betapa menunggu hasil adalah saat-saat paling menyebalkan. Kendatipun begitu, para pencari kenikmatan musik ini memang tidak pernah mati gaya mencari cara membunuh waktu. Sambil menunggu hasil pemenang Grand Prix, satu per satu paduan suara memprovokasi anggotanya untuk bernyanyi di Union Hall, di antara wajah-wajah penuh ketegangan para konduktor dan wajah sungguh-enak-dipandang sang Master of Ceremony, hehehehe.

Dari sayap sebelah kiri, terdengar lagu Zum Tanze da geht ein Maedel dalam versi bahasa Swedia dinyanyikan. Dari belakang, terdengar lagu rakyat Slovenia, atau entah dari mana, mungkin dari negeri Genovia ^-^ juga dinyanyikan penuh kecintaan. Dari Batavia Madrigal Singers… ah, kami terlalu pemalu untuk pamer suara :P , atau mungkin memang sudah pada kecapaian. Entahlah, tapi yang jelas, ketika satu per satu konduktor 12 peserta kompetisi dipanggil ke panggung, konduktor kami tampak agak tense. Aku mencoba membayangkan bagaimana rasanya jika aku harus berada di sana. Wah, pasti langsung mencoba mencari perlindungan. God, I don’t wanna be famous! :P

Satu per satu plakat keikutsertaan diumumkan. Menyusul kemudian penghargaan-penghargaan khusus untuk beberapa kategori. Dan, akhirnya, pengumuman untuk kelima finalis Grand Prix.

Ketika nama Sõla dan Zbor sv. Nikolaja meluncur manis dari mulut sang MC, kami langsung tahu bahwa kami masuk tiga besar. Wah! Senangnya. Ekspektasiku sendiri saat itu memang, jujur saja, tidak terlalu tinggi, karena menilai penampilan diri sendiri, aku tahu bahwa BMS bisa tampil lebih baik dari itu. Benar juga. Kami juara 3.

Terbaik untuk tahun ini.

Kami bersyukur bahwa sebagai peserta satu-satunya dari Asia tahun ini, terjauh dan tertampan (hallah!), kami berhasil menaklukkan kompetisi ini. Aku bilang menaklukkan karena kompetisi ini benar-benar tidak mudah. Dengan peta kekuatan tim saat ini, inilah yang terbaik yang bisa kami persembahkan untuk dunia paduan suara tanah air. Dengan prestasi ini, kami berharap yang lain juga tergerak untuk meraih pencapaian yang bahkan lebih baik lagi. Akan sangat membanggakan melihat nama paduan suara dari Indonesia sebagai pemenang salah satu kompetisi European Grand Prix, entah yang diselenggarakan di Perancis, Bulgaria, Italia, Hongaria, Spanyol, atau yang di Slovenia ini. Mari kita gulingkan kekuasaan Filipina sebagai goliath kompetisi Eropa yang berasal dari Asia! *CHE GUEVARA MODE ON*

Singing Gangsta

Desaku yang Kucinta, Ljutomer Namanya

Pulang dari Union Hall, tanpa banyak ba-bi-bu, kami langsung berangkat untuk rangkaian Tur Konser kami. Program pertama adalah konser di sebuah desa kecil bernama Ljutomer, sekitar 2 jam dari Maribor. Desa ini tampak bagi kami seperti tanah yang terlupakan di sisi entah-sebelah-mana dunia. Tapi orang-orang yang kami temui di sana, alamaaak!ramahnya.

Tersebutlah Komorni zbor Orfej, sebuah paduan suara lokal di sana, sedang memperingati 20 tahun berdirinya komunitas musik itu. Kedatangan kami ke sana mungkin sebenarnya dimaksudkan sebagai sebuah wahana studi banding buat mereka. Aku sempat takjub, di desa sekecil itu, apresiasi para penduduknya terhadap paduan suara sangat kentara. Apalagi begitu konser dimulai, dengan program gabungan antara Eternal Light dan Sanguinis choraliensis! mereka benar-benar menunjukkan antusiasme mereka pada musik kami.

Setiap kali lagu selesai dibawakan, tepuk tangan meriah mereka juga sepanjang lagu itu. Kami sampai sempat menyebut mereka audiens yang gemar sekali bertepuk tangan. Lama sekali. Seorang MC, mungkin semacam Pak Lurah di sana, membacakan profil kami, dan pengantar di setiap sekuens konser. Program kami sendiri memang, menurut kodratnya, terbagi ke dalam beberapa kelompok genre: sakral klasik, komposisi kontemporer, lagu pop, jazz, dan folksong.

Dalam ruang gymnasium berakustik indah itu, kami benar-benar merasa bahwa orang-orang ini, dalam kesederhanaan hidup pedesaan ala Eropa timur, sangat menghargai keragaman budaya dalam bentuk paduan suara. Mungkin begitulah, karena musik paduan suara memang lahir dan berakar kuat di Eropa, tampaknya mereka tidak kesusahan mencerna musik kami, kendatipun mereka tidak selalu mengerti bahasanya.

Sangat berkesan.

Ada tapinya lhoo…. Waktu bernyanyi lagu Janger, ada bolpoin salah seorang sopran yang jatuh. Dan kami semua tak sanggup menahan rasa ingin tertawa, sehingga encore yang seharusnya sakral-khidmat itu menjadi agak terlalu ‘riang’.

Habis konser, baru meledaklah tawa kami, berderai tak kunjung henti hingga sekitar 20 menit kemudian.

Pulang konser, kami dijamu di sebuah Rumah Makan “Sederhana”. Yang ini bukan masakan Padang lho yaaa, tapi, memang sebuah rumah makan yang berada dalam setting peternakan yang sederhana dan bersahaja. Begitu turun dari bus, kami langsung disambut aroma kandang. Sampai tidak enak, mau tutup hidung, takut dianggap kurang sopan. Tidak tutup hidung, aduuh, baunya. Salah seorang pemuda berpenampilan hick berkelakar memaklumi kekikukanku. Ini jadinya aku atau dia yang hick?

Midnight dinner at the village

Midnight dinner at the village

Saat ini, suaraku mulai terasa tidak enak. Stamina vokal terasa sekali turun ketika jarum jam mendekat ke angka 12 tengah malam. Ritual makan seperti biasanya juga berlaku di sini, dengan salad sayuran, sup jamur, ayam-ayam, danapple strudel. Tapi aku tidak terlalu berselera, karena rasa ngantuk yang tak tertahankan. Ingin rasanya jatuh ke pelukan bantal-bantal berbulu angsa sambil dinyanyikan lagu Wiegenlied.

Magyarorszag!

Tur konser berlanjut ke kota lain, negara lain, keesokan harinya. Budapest.

Memasuki kota penuh pesona mistis dari arah Buda (belakang Royal Palace), aku merasakan kesan berbeda dibandingkan ketika aku mengunjungi kota ini bersama AgriaSwara 2 tahun yang lalu. Ternyata Budapest tidak seasing yang aku kira. Dulu aku sempat tersesat jam 10 malam sendirian di salah satu lorong gelap kota ini, mencoba mencari penginapan bernama Marcopolo Hostel. Dulu aku tak bisa memindai peta kota ini ke dalam otakku sampai-sampai mencari stasiun Astoria dan Blaha Lujza ada di mana saja butuh waktu. Padahal dua-duanya tepat lurus saja dari Erszebet hid. Kemampuan spasial-direksionalku yang tidak terlalu bagus sering membuatku tidak bisa langsung mengetahui medan tempat aku berada. Gawat juga kalau aku jadi anak milyuner, bisa-bisa setiap saat jadi korban penculikan.

“Jose Fernando, suamiku… anak kita Reynaldo diculik lagi!”

Sesuai jadwal, kami konser di Tivoli Museum tak begitu jauh dari Opera House Budapest. Dengan program konser yang dipilih berdasarkan kesepakatan bersama, atas dasar suka-sama-suka, tampillah kami di sebuah ruangan yang mirip Teater Salihara, Pejaten, dengan akustik yang tidak bagus sama sekali. Aku merasa, banyak lagu gagal kami tampilkan maksimal gara-gara urusan akustik, plus stamina vokal banyak penyanyi, termasuk aku, yang mulai turun. Benar-benar tidak enak bernyanyi saat itu. Sebagai penyanyi di barisan Tenor 1, tersiksa benar rasanya saat suara kamu menjadi parau, sampai nada E saja harus pakai falsetto. Itu pun terdengar kurang bagus. Ah! Rasanya ingin jadi penonton saja.

Bermalam di Metropol Hotel Budapest, para Miss Jinjing dan Miss Shopping mulai tak tahan menyalurkan bakat-bakat terpendam mereka membeli barang-barang bagus dengan harga terbaik. Selama di Slovenia, kami sama sekali tidak diizinkan berbelanja, atau pun jalan-jalan, saking penuhnya jadwal kompetisi. Di Budapest, semuanya membludak begitu saja.

Aku sendiri mencoba untuk tetap waras mengatur budget, karena masih ada satu negara lagi yang harus kami datangi. Dengan anggaran terbatas, tentunya aku lebih tahu diri. Tapi, untuk melewatkan kesempatan menjelajahi sudut-sudut kota ini tentunya tak aku lewatkan.

Aku tidak sempat mendatangi beberapa situs menarik di Budapest tahun 2007, maka kali itu aku bertekad akan menyelesaikan eksplorasi kota yang menggembar-gemborkan julukan “City of Senses” ini.

Tapi, lagi-lagi, karena keterbatasan waktu juga, aku tetap saja tidak sempat mengunjungi Basilika Szent Istvan, tidak sempat menyeberangi Danube untuk melihat Máttyás Templom yang sepertinya sudah selesai direstorasi. Teman sekamarku sepertinya malah lebih beruntung karena dia sempat mengunjungi Gellert Hill. Ketika aku hanya bisa melihat foto-fotonya, aku hanya mengatakan ini pada diriku sendiri. “I’ll sure be back here some other day.”

Stadion Hotel, second entry

Stadion Hotel, second entry

Esok harinya, kami dijadwalkan konser di Istana Ratu Elisabeth di Gödöllö. Seperti ketika tahun 2007 aku konser bersama AgriaSwara di sini, istana ini masih memiliki kecantikan arsitektur Barok yang penuh lekuk sensual, seolah setiap malam ia didandani habis-habisan supaya tetap terlihat… fabulous. Dan ruangan itu pun masih tetap sama. Akustiknya yang indah, ornamennya yang cantik, dan orang-orangnya yang antusias.

Goedoelloe Palace

Goedoelloe Palace

BMS agak kesulitan mengatur formasi lagu Immortal Bach (Knut Nystedt), karena ruangan tidak terlalu besar. Ini adalah lagu di mana 35 penyanyi dibagi ke dalam 5 kelompok kecil yang bernyanyi mengelilingi penonton, membangun efek bunyi diskordan yang agung, masif, dan menggetarkan. Selalu menyenangkan menyanyikan lagu ini, meskipun kami harus susah payah membangun kontinuitas bunyi yang bisa mencapai 24 beat setiap suku kata. 24 ketukan! Yang hamil bisa langsung melahirkan kalau menyanyikan lagu ini. ^-^

Eine schöne Erinnerung

One sweet memory. Dan seperti itulah manisnya es krim Zanoni yang AKHIRNYA kami nikmati juga.

Kami berada di Wina, Austria, menutup perjalanan kami yang penuh petualangan musikal di Eropa. Kami berada di kota tempat konduktor kami menghabiskan waktu sekitar 6 tahun untuk belajar musik dan choir conducting. Di kota ini, beliau dengan antusiasnya menunjukkan pada kami ini dan itu. Gedung rektorat universitasnya, Istana Belvedere yang menawan, Museum Kembar di Maria-Theresien Platz, Gedung Opera, Stephansdom yang tampak bagai katedral raksasa berjelaga, dan tentu saja, Neue Hofburg yang spektakuler.

Kami konser di salah satu bagian Hofburg, yaitu Völkerkunde Museum, sayap sebelah kanan. Duduk di antara kursi penonton adalah profesor kak Avip sendiri, beserta kolega-koleganya di Wina. Gaung ruangan yang agak berlebihan tidak menyurutkan niat kami untuk mengakhiri tur konser ini dengan penampilan terbaik. Aku bersyukur karena suaraku sudah mulai kembali normal. Dan kami dihadiahi makanan yang sudah lama kami nantikan.

Makanan Indonesia!

Tante Lena, salah satu kolega konduktor kami yang tinggal di sana, menjamu kami dengan gado-gado yang, sebenarnya sudah dimodifikasi, namun tetap lezat. Jarang, saya ulangi, jarang, saya menambah porsi makanan. Tapi kali itu dengan malu-malu aku bilang, “Tante, gado-gadonya boleh nambah nggak?” ^-^

Di sini, di antara gemerlap lampu kota, aku menemukan diriku bersenda gurau dengan impian dan masa depan. Aku senang karena aku masih diberi kesempatan untuk menikmati saat-saat seperti ini. Saat dirimu merasa lengkap sebagai manusia. Aku rasa aku akan terus melakukan hal ini untuk waktu yang lama ke depan. Musik membuat segalanya menjadi mungkin!

Meskipun kamera yang aku bawa rusak sehingga aku tidak sempat bergabung dengan proyek Narsis para pelacur seni ini, aku tidak sedih sama sekali. Aku akan kembali lagi ke kota ini, suatu hari nanti. Aku akan menonton salah satu (atau siapa tahu, mungkin beberapa) konser Wiener Saengerknaben yang sejauh ini hanya aku dengarkan dari koleksi CD Boys Choir-ku. Aku akan menonton opera di salah satu gedung opera paling terkenal di dunia ini. Aku akan menghabiskan waktu lebih lama menikmati keindahan kreasi manusia yang tak lekang oleh waktu di Wina. Aku akan berkunjung ke Salzburg, ke kota kelahiran Mozart! Aku akan… wah, banyak deh!

Dan begitulah, seperti sebuah prelude singkat, aku menghabiskan 8 hari di Eropa senilai pengalaman seumur hidup. Menghargai sesama teman, menghargai keragaman, menghargai pencapaian, sekecil apa pun.

Semoga menjadi inspirasi ^-^

Wina, 24 April 2009 

Konser Musicanova “Odyssey”

Dari milis AgriaSwara IPB (23 Oktober 2007)

Laporan Pandangan Mata
Konser ODYSSEY
Musicanova Chamber Choir
Ivan Yohan, pengaba
GoetheHaus, 21 October 2007

(Link YouTube hanya sebagai referensi)

Musicanova

Musicanova

Rindu akan keajaiban penciptaan suara manusia yang paripurna, gw nengokin concert hall lagi. Kapan yah terakhir nonton konser paduan suara? Hmmm… udah lupa. Berarti udah cukup lama. Nah, konser yang semalem gw nonton jelas bukan sembarang konser, secara gw bela-belain datang padahal sebenernya hari Senen besoknya, hari pertama kerja, gw juga mesti presentasi buat sebuah tawaran kerja part time di salah satu kantor di Slipi. Nah, berarti kesibukan baru tuh. Tapi, demi kesenangan satu malam, gw tonton juga tuh ODYSSEY Concert, Musicanova Chamber Choir.

Ngomong-ngomong, judul konsernya sama yah sama judul konser AgriaSwara 2002 dulu ^^.

Konser dibuka dengan lagu pertama Gloria In Excelsis Deo (Thomas Weelkes), yang gw lewatin karena gw masih di taksi dari Harmoni menuju GoetheHaus. Tapi gw tau banget lagu ini karena pernah juga nyanyiin lagu ini sama NYCI dulu. Jadi, ya udin lah, gapapa.

King’s College Choir Cambridge: Gloria in excelsis Deo (Thomas Weelkes)

Pas lagu kedua, gw masuk. Exultate Iusti in Domino (Andreas Hakenberger). Dan kenangan tentang kejernihan vokal para penyanyi Musicanova kembali ke ingatan gw. Sopran-soprannya yang begitu rileks bernyanyi di semua register dan pitch, di semua dinamika khas lagu Renaissance. Tenor-tenornya yang sangat resonan. Basnya yang begitu profound dan bervolume. Juga altonya yang terdengar sangat alami tanpa banyak mengandalkan register dada.

Salt Lake Vocal Artists: Exultate Iusti in Domino (Andreas Hakenberger)

Kemudian ketika lagu berikutnya Voi Pur Da Me Excite (Claudio Monteverdi) terdengar, semakin jelas deh virtuosity para penyanyinya ketika bagian-bagian leggiero dari lagu-lagu khas abad Renaissance dinyanyikan. Their legato passagio was awesome. Dan semua penyanyi secara berimbang melakukan hal yang sama. Ketika menembak sebuah nada, ketika menyanyikan interval yang lebar, semuanya terdengar mantap. Mezza di voce yang mereka nyanyikan sangat rapi dan seragam. Warna vokal mereka juga sempurna mewakili zaman lagu ini.

Lagu yang mereka nyanyikan berikutnya, adalah sebuah karya awal abad modern dari Hubert Parry, O Lord, They Wrong Thee Much. Secara musikal, Musicanova terdengar tanpa cela, tapi sayangnya, pelafalan British English mereka (dalam pendengaran gw) masih kurang kental. Kayaknya sih perlu pembahasan tambahan dalam hal linguistik dan fonetik ketika mereka berlatih lagu ini. Dua lagu pendek dari “Figure Humaine” komposisi Francis Poulenc menyambung lagu Parry: Riant Du Ciel Et Des Planettes & Le Jour M’Etonne. Ada yang salah mengucapkan ‘ciel’ seperti kata yang sama dalam bahasa Italia. (Aduh! Sebenernya ini sih sama sekali nggak berdampak besar pada kenikmatan mendengarkan mereka bernyanyi, tapi nggak tau kenapa, bagi gw itu… mengusik ^-^) Gapapa lah, kan yang menyanyi juga bukan orang Perancis. Bahasa Perancis memang salah satu bahasa yang paling sulit dilafalkan dalam nyanyian. Gw sendiri berpikir kalo bahasa ini lebih mudah digunakan dalam percakapan ketimbang dalam syair musik.

Estudio Coral de Buenos Aires: Riant du ciel et des planétes (Francis Poulenc)

Sesi satu mengemukakan tiga komposisi sang konduktor, yaitu Kyrie dan Agnus Dei (dari “Indonesian Mass”, Ivan Yohan) dan Ave Maria. Dua lagu Ivan yang pertama kentara sekali berusaha untuk menggelar nuansa tradisional pentatonis sebagai setting musik dari syair “Kyrie eleison, Christe eleison” dan “Agnus Dei qui tollis peccata mundi, Miserere nobis, dona nobis pacem”. Acciaccatura pada beberapa bagian di lagu ini dinyanyikan dengan ‘gurih’ oleh Musicanova, meskipun teknik acciaccatura tenor dan soprannya sedikit berbeda. (Gw lebih prefer cara tenor menyanyikan ornamen musik itu ketimbang sopran). Sebagai catatan, Ave Maria-nya Ivan juga pernah dinyanyiin sama Maranatha di Kompetisi Padsu Unpar 2007 kemaren. Dan gw bisa bilang Musicanova menyanyikannya dengan berbeda. Dan gw lebih suka bagaimana lagu ini dinyanyikan oleh Musicanova. Karena jumlah mereka sedikit, pertama, lagu ini jadi terdengar lebih `bersahabat’ dengan telinga. Dinamika piano ke fortenya memang tidak sedramatis Maranatha. Tapi itu cuma karena mereka cuma ber-26 sementara Maranatha bergambreng-gambreng. Kedua, gw sangaaaat suka bagaimana diva-diva sopran itu
bernyanyi dengan muka seperti tanpa usaha sama sekali sementara nadanya setinggi langit. Aduuuh… apa mungkin mereka lip synch? (nggak mungkin banget dong)

Maranatha Christian University Choir: Ave Maria (Ivan Yohan)

Pamungkas sesi satu, Musicanova nyanyiin Suscepit Israel (Einojuhanni Rautavaara), sebuah karya kontemporer dari seorang komposer asal Eropa Timur. Dan… ya… harmoni rapat khas karya kontemporer mereka nyanyikan dengan akurat. Trus bagian chant dari lagu ini juga bikin bulu kuduk merinding, serem-serem enak gitu. Heheheheh… apaan coba.

Vox Animae: Suscepit Israel (Einojuhanni Rautavaara)

Waktu intermisi, gw baru tau kalo ada dua anak AgriaSwara yang nonton juga. Bhaskoro sama Imam. Tapi kok… cuman 2? Yang lain mana? Gw pengen bahas sedikit tentang ini, tapi ntar ya, di ujung tulisan ini. Ada banyak anak-anak paduan suara lain yang datang. Gw ketemu anak-anak Unpad (ada Iko), anak-anak Maranatha (ada Patty), Terra Voce (Astri, yang kebetulan kemaren nyanyi bareng gw juga di Sanctus pas KPS), Unpar tentunya, anak-anak Binus, dan BMS. Ada Ocep TC yang nanyain apa gw ikut konser Gloria Poulenc bareng TC apa nggak. Gw bilang gw gak diajak tuh. Tapi gw juga belum tentu bisa ikut ding. BMS aja jadwalnya udah cukup bikin gw occupied. Blm lagi Cavallero yg mo konser lagi bulan Desember dan Januari. Udah lah, satu-satu aja. Lagian gw mesti mikirin kerjaan paruh waktu tambahan gw. Hhhh… kapan gw bisa nafas ya?

Membuka sesi 2, Musicanova nyanyiin lagu yang sudah sangat tidak asing lagi: Soleram-nya Ivan Yohan. Yuk mari. Tau dong gimana kita pernah nyanyiin lagu yang sama di Budapest kemaren. Nah, Musicanova punya interpretasi yang beda tentang lagu ini di banyak bagian. Bagian “Oh aduhai!!!” yang tiba-tiba fortissimo itu mereka bikin tak banyak berbeda dengan keseluruhan lagu. Artinya, aksentuasinya nggak dibikin ekstrem kayak Agria. Gw gak bilang satu lebih baik dari yang lain sih. Sah-sah aja kok Arvin menginterpretasikan lagu ini beda dari Ivan. Pada akhirnya, justru itu memperkaya pendengar dengan interpretasi lagu yang berbeda.

Terus mereka nyanyiin Arirang (lagu Korea). Kitty (anak Maranatha) jadi solis di lagu ini. Gw suka suara altonya Kitty. Empuk dan ringan, tapi tetep tebel. Timbre alto Kitty beda sama… Paulina, diva altonya AgriaSwara, hehehhe…. Dan dua-duanya menurut gw si punya taring masing-masing. Taring… serigalaaaa kali.

Berikutnya Musicanova nyanyiin lagu Jepang yang gak terlalu gw tau. Gw gak punya catatan khusus tentang lagu ini. Gak terlalu suka juga. Terus mereka nyanyiin Sakura aransemen Ivan Yohan lagi. Nah, gw sukaaa banget lagu ini. Lagu ini bener-bener memamerkan lebarnya register vokal penyanyi Musicanova. Kayaknya tuh dari C bawah Bass 2 sampe C6 Sopran 1 semuanya dilahap dengan entengnya. Dan tiga diva sopran satu lagi-lagi bikin gw iri. Bukannya pengen bisa nyanyi setinggi itu si, hehehe… (Secara gw nyadar kalo pun gw ambil part kontratenor di Cavallero Male Singers, palingan cuman sampe G5. Ya iyyaalaaaah… orang gw tenor.) Mereka menutup bagian folklorik dari sesi dua dengan Dravidian Dithyramb, sebuah lagu rakyat India. Gw inget banget lagu ini waktu konser sama NYCI 2005 dulu. Waaah… lagu yang sangat dangdut.

Berikutnya Musicanova nyanyiin tiga lagu negro spiritual: Deep River, Ev’rytime I Feel The Spirit, dan Go Tell It On The Mountain. Tiga lagu ini diiringi piano Yohanes Siem dengan nyaris tanpa cacat musikal. Musicanova mungkin tidak begitu mengesankan dalam lagu-lagu gospel seperti ini. Timbrenya menurut gw sih masih terlalu rapi, masih terlalu Renaissance. Trus dinamika fortenya kurang menggerakkan hati. Padahal lagu-lagu gospel macem gini, yang biasa dinyanyiin sama gospel choir penyanyi-penyanyi kulit hitam gitu, mestinya terdengar lebih powerful, lebih banyak improvisasi dengan melodi dan teknik. Seringkali mereka harus menggunakan suara-suara leher yang tetap terdengar ‘cerdas’. Coba aja dengerin Take 6 nyanyiin O Thou Who Tellest Good Tidings, atau Moses Hogan Choir nyanyiin My Soul’s Been Anchored In The Lord. But anyway, it’s nice to hear their rendition.

Trus, encorenya… yahhh… negro spiritual lagi, Elijah Rock. Begitulah.

Baiklah. Overall, gw puas dengan konser Musicanova kemaren malem. Meskipun setelah pulang dari konser gw masih harus lembur sampe jam 12 malem buat ngerjain presentasi, tapi it was worth all the rain.

Nah, seperti gw bilang tadi, gw pengen bahas sedikit topik mengenai Perlu Tidaknya Menonton Konser Bagi Penyanyi Paduan Suara: Studi Kasus Paduan Suara Mahasiswa AgriaSwara IPB Hyuk Mari. Gw mungkin akan mengalamatkan ini buat anak baru, tapi sebenernya sih buat semua anggota yang masih pengen mempertahankan bahkan membuat kualitas paduan suara ini lebih baik lagi.

Menonton konser (paduan suara) itu perlu.

Gw bisa bilang, itu tidak terbantahkan. Temen-temen boleh nanya pelatih mana pun pasti bilang begitu. Yaa… kecuali yang gak berniat membuat paduan suaranya lebih baik dalam hal kualitas.

Terutama untuk anggota aktif Agria, gw rasa ini perlu dijadiin sebuah kultur bahwa nonton konser paduan suara itu adalah sebuah rekreasi yang menyenangkan sekaligus mendidik. Gw bilang menyenangkan, memang iya. Gak tau deh kalo seorang penyanyi paduan suara yang gak bisa menemukan kesenangan itu mungkin dia perlu mempertimbangkan lagi keberadaan dia di dunia paduan suara. Mungkin mestinya berada di dunia yang lain saja. Dunia gaib boleh juga tuh. Atau Dunia Fantasi mungkin yah, sambil naek Tornado. Hehehehe…

Nah, konkretnya adalah, gw saranin pengurus aktif sekarang bikin semacam program WAJIB NONTON KONSER PADUAN SUARA buat anggotanya. Paling tidak satu semester sekali lah. Atau mungkin setaon sekali…. which is very minimalist. Sebagai perbandingan, di UPH ada kewajiban nonton konser musik (gak hanya padsu) 6 kali satu semester. Setiap nonton konser, mereka mesti dapet tanda tangan salah satu penyanyi atau pemusiknya, plus laporan singkat apa yang mereka pelajari dari konser tersebut. Nah, kalo 6 kali mungkin kebanyakan, karena tentunya mesti dipertimbangkan biaya yang harus dikeluarkan untuk itu. Tapi kan konser paduan suara juga tidak selalu mesti bayar. Ada aja kok yang gratis. Tapi biasanya yang gratis tuh konsernya di gereja. Nah, itu balik ke pilihan masing-masing. Yang jelas, cukup banyak konser paduan suara yang `layak-tonton’. Kalo bisa kalian memang selektif dalam memilih paduan suara mana yang mau kalian tonton. Tapi YANG PENTING NONTON. Itu aja dulu. Lainnya menyusul.

Gw sempet ngobrol sama Kang Arvin tentang soal ini. Menurutnya, wawasan (terutama anak baru) anggota AgriaSwara masih sangat terbatas. Itu sebagian besar disebabkan oleh `kurang gaulnya’ Agria di dunia paduan suara. Kita memang di Bogor sih, bukan di Jakarta atau di Bandung yang jadi pusat perkembangan paduan suara di bagian barat Pulau Jawa ini. Tapi kan bukan berarti itu tidak bisa diusahakan. Nah, gaulnya anak-anak paduan suara tuh yaaaa… di mana lagi kalo bukan di konser paduan suara lain. Selain wawasan, nonton konser juga tentunya bermanfaat sebagai bahan studi banding kalian dalam menilai dan menerapkan apa yang baik dari sebuah paduan suara. Trus kalian pakai di paduan suara sendiri. Bukan berarti kita ngekor atau imitasi paduan suara, tapi bagaimana kita tau kalo yang benar itu benar kalo kita tidak punya pembanding. Iya gak? Seseorang bisa aja bilang kalo cara nyanyi yang seperti ini benar untuk lagu tertentu. Tapi mana kita tahu kalo nggak ada contoh?

Gitu lho, jadi ini jadi concern gw sebagai anggota yang setengah- aktif di AgriaSwara. Ini buat kita juga kok. Bukan berarti gw propose kalian untuk spend money buat hal-hal yang gak berguna. Ini berguna. You can rest assure.

Tolong yaaah… ini dipikirkan. Trus direalisasikan. Inget, HARUS ADA KONTINUITAS dalam hal KUALITAS di AgriaSwara. Kita udah dapet dua medali emas di Budapest kemaren. Trus mo berhenti di situ doang? We haven’t even won the Grand Prix. Kita bahkan belom coba kompetisi lain selain Musica Mundi yang pastinya lebih sulit dan lebih menantang. Kita belum sampai di sana. Dan jangan pernah bilang kalo Agria mo berhenti di dua medali emas. Kita yang sudah pernah bekerja keras untuk itu tidak berniat untuk membuat prestasi terakhir kemarin sebagai prestasi puncak. Masih harus ada prestasi lain yang lebih tinggi ditulis dengan tinta emas dalam sejarah AgriaSwara. Dan kalian (terutama) yang mendapat tanggung jawab itu. Tanggung jawab.

Berat nggak? Nggak kok. Kita bisa menjalani semua itu dengan KECINTAAN. Itu aja kok kuncinya. Kalo itu udah kalian temukan dulu. Semua usaha, semua kerja keras, semua pengorbanan kalian untuk AgriaSwara akan berbuah manis.

Gw sudah merasakan itu. Dan gw percaya, setiap orang juga mestinya bisa. Terakhir, gw pengen encourage kalian juga untuk tidak pernah berpikir bahwa kalian berada di bawah bayang-bayang senior kalian. Kalian juga bisa mencapai keberhasilan yang kalian ukir sendiri. Asal: Lakukan dengan kecintaan.

Oke, Bang Jali?

Konser Twilite Chorus “Musical Moment”

Dari milis AgriaSwara IPB (9 Agustus 2006)

(Pranala YouTube hanya sebagai referensi)

Sabtu malam kemarin, untuk keempat kalinya konser Musical Moment kembali ditampilkan oleh Twilite Chorus. Mengusung spirit hingar-bingar panggung Broadway, paduan suara profesional (so called, so claimed) ini mencoba menampilkan yang terbaik sebuah paket konser yang menempatkan paduan suara (tim penuh) pada babak kedua (saja). Babak pertama melulu solis dan duet.

Berbicara tentang Twilite Chorus, hampir bisa dipastikan bahwa dalam beberapa hal, komunitas musik paduan suara ini memang ‘berbeda’. Repertoar yang menjadi andalan mereka memang cenderung berasal dari musik pertunjukan (opera, broadway, film). Tidak heran, kali ini mereka (baca: para penyanyi bermarga Twilite) pun menawarkan excerpts musik Broadway yang tersohor, mulai dari Jekyll and Hyde, Les Miserables, Phantom of the Opera, sampai Joseph and The Amazing Color Coat. Mencoba tampil beda, mereka mengemas konser dalam sebuah pertunjukan akustik dan visual, dengan koreografi dan sedikit dramatisasi.

Apa yang menarik dari konser ini (saya tahu persis karena saya pernah ikut latihan untuk konser ini di awal, tapi kemudian resign karena satu dan sejuta hal ^-^), TC tidak sekedar membawakan musik secara asali. Terdapat banyak modifikasi dan rearansemen pada repertoarnya, terutama yang dinyanyi-tari-dramakan oleh tim penuh. Sang penggubah, siapa lagi kalo bukan Benjamin Manumpil himself, sang konduktor. This way, musik TC pada konser kemarin boleh dibilang merupakan premier aransemen lagu-lagu programnya. Sempat beberapa kali menyanyikan aransemen Benny, saya mulai bisa mencerapi kekhasan gubahannya: tidak pernah biasa-biasa saja. Entah itu pada progresi harmoni, atau permainan nilai nada dan aksentuasi. Musik Benny itu… Benny banget.

Babak 1, yang dibuka dengan penampilan solo sang konduktor, membuka konser ini. Dengan timbre vokalnya yang memang seperti itu, Benny membawakan lagu This is the Moment. Teridentifikasi sebagai seorang penyanyi Bass, nada tingginya terdengar kurang santai. Toh, lagu itu berhasil membuka konser malam itu dengan spirit Broadway yang penuh kebancitampilan.

Susul-menyusul kemudian, duet-duet antara Dosma (alto) dan Brigitta (soprano) dengan In His Eyes, Benny dan Brigitta dengan Take Me as I am, Benny dan Dosma dengan One Hand One Heart dari West Side Story, Daniel (baritone) dan Imed (soprano) dengan Sun & Moon dari Miss Saigon, dan penampilan solis Dani (tenor) dengan Maria dari West Side Story, Meta (alto) dengan On My Own dari Les Miserables, Daniel dengan On This Night of a Thousand Star, dan Meta dengan Don’t Cry for Me Argentina; keduanya dari Evita, dan ditutup dengan ansambel vocal para solis menyanyikan Tomorrow dari Annie.

Secara keseluruhan, penampilan paling menonjol pada babak pertama ini adalah duet Daniel dan Imet, who have been unintentionally not worrying about reaction possibly coming from we-know-what religious organization in IPB. Maksud saya, dengan acara pegang2an dan peluk-pelukan itu­. Hehehehhe. Tapi, it’s OK lah, mungkin BKIM juga nggak kepikiran nonton konser Broadway. Otherwise they’ll have to compromise with so many things. Warna dan teknik Imet terdengar matang dan jernih, mengimbangi kapasitas Daniel yang memang sudah level solis opera.

Babak dua, baru deeeeeh. Medley Phantom of The Opera secara atraktif membuka babak ini. Waktu gw sempet latihan lagu ini, nggak nyangka lho, jadinya kayak gini. Lutchu. Hehehehhe­. Sayang disayang, solo Christine yang dinyanyikan Dian selalu terdengar under-pitched. Sepanjang lagu, saya mengerutkan dahi. “Aduuuuuh,­ kurang tinggi”. Tapi, bagian choir-nya OK lho. Apalagi waktu digabung sama tarian-tariannya. Beberapa orang kentara banget kurang latihan, tapi, boleh lah ya. Cukup inovatif. Jadi terprovokasi nih, pengen konser Broadway di Albert Hall. Hyuuuk. Season of Love-nya cukup bagus. Tapi, masih belum cukup terdengar jazzy. I loved this song the most. Yang paling memukau dari babak ini mungkin adalah medley lagu ketiga, diambil dari Joseph and The Amazing Technicolor Dreamcoat. Ide slayer warna-warninya bolsjug. We like that.

Overall, konser ini sangat provokatif. In a sense that…. choral concert can INDEED take this form. Nggak mesti kali yah, setiap konser view-nya selalu seperti orang lagi upacara bendera. Berdiriiiiii… melulu. Udah gitu nggak ada motion-nya sama sekali. Terus lagi. SINGLE THEME. Agria sendiri udah berkali-kali konser dan temanya masih selalu gado-gado. Ke depan, rasanya kita sudah harus mulai memikirkan konser bertema tunggal. Kalo mo jazz, yaaa… jazz semua. Kalo mo madrigal, mendingan madrigal semua. Kalo mo karyanya Schubert aja, yo wis, lagu2nya Schubert aja. Yeah… mudah2an aspirasi bawah tanah ini sampai ke konduktor yah… ^-^

I’m outta here.
Class dismiss.
H

Konser PSM Universitas Parahyangan “Serenade from England”

Dari milis AgriaSwara IPB (24 September 2004)
Lapdangmat Konser PSM Unpar

Serenade from England

Auditorium BPPT, 17 September 2004

Dari Facebook PSM Unpar

Dari Facebook PSM Unpar

Nonton konser semalem? Perjuangannya, man. Jam 5 sore, Bogor ujan. Guedhe buanggetz. Pokoknya, jalan Malabar beralih fungsi jadi sungai Malabar, deh… (melebih-lebihkan ). Tapi, bener, lho, gw sampe berpikir… berangkat nggak ya? Ah, tiketnya udah di tangan, gimana duonx? Ya udin lah, berbekal payung yang … sialnya, ternyata rada-rada bochor … berangkatlah daku seorang diri, dengan Ekspres Pukul Lima (kayak di novel Dokter Zhivago-nya Boris Pasternak ^-^). Dari kota, nge-busway ke Sarinah, beli filet-o-fish di McD, trus langsung ke BPPT. Eh, iya, ketemu Daniel Agria 33 di kereta terus ketemu Harry BMS di seberang Sarinah, mo nonton juga.

Nyampe BPPT, sepatu masih basah tuh.

Konser mulai tepat pukul 20.00, seperti ditulis di publikasi. Dekor stage-nya sangat minimalis. Nggak ada apa-apa selain tulisan Serenade from England. Ada satu grand piano di sebelah kiri. Thatfs all. Tapi, dari sudut pandang penonton, kesannya elegan banget. Apalagi ketika kemudian para chorister masuk. Aduuuuuh…. bagus banget. Kostumnya juga simpel. Yang cewek nggak berseksi-seksi ria kayak….(siapa ya? ) Mereka cuman pake two-pieces outfit gitu. Atasannya loose blouse warna biru, bawahnya rok item panjang. Yang keren adalah, warna biru kostum mereka dibikin gradasi. Cewek paling kanan birunya paling tua, tapi nggak lebih tua dari biru Microsoft (nah lho? Heheheh… yg pertama kali kepikiran, org ngetiknya pake Word). Makin ke tengah makin pudar sampe baby blue di paling tengah. Cewek di kubu kiri birunya lebih tua juga, cuman hue-nya agak lain. Jadinya… aaah… jatuh cinta deh ama mereka. Cowoknya cuman pake jas item, kemeja item, trus di dalem kerahnya, leher mereka dibalut skarf biru. Sama. Gradasi juga. Simply saying, KEWL!

Enough about the look.

Here come the voices.

Temen-temen… pernah denger mereka di CD atau kaset dong (yg belon denger, aduh… cucian deh, lo, di 5 a sec). Kalo kalian denger mereka LIVE, hmmm…. gw yakin kalian akan lebih terpesona lagi. Bayangkan… (posisinya kayak patung Rodin dulu dong…. yak…. pose! Click!)… audit BPPT itu gedenya kan amit-amit (ya… ya… jauh lebih gede dari auditorium rektorat Institut Persawahan Bogor), mereka nyanyi tanpa bantuan sound system. Gila, ya? Iri banget, gw. Bahkan di 5 lagu pertama, mereka nyanyi cuman ber-18, tapi tetep kedengeran jelas, bahkan di dinamika piano.

Sopran mereka itu…. legit banget. Ringan, dan… wah… bersih banget (kayaknya mereka nyanyi pake Sunlight cair deh). Nih, ya… kalo mereka nyanyi di G# tinggi, semuanya nyanyi di G# tinggi, nggak yang… G# tinggi kurang dikit, ato malah, G# tinggi lewat beberapa Hz. Bersih banget.

Altonya juga empuk, nggak dikaku-kakuin sampe jadi bantat (kue bolu dong?). Tapi, neng altonya Unpar teh… fleksibel pisan. Kadang-kadang dibikin tebel, kadang-kadang dibikin tipis… sesuai permintaan konduktor.

Kalo tenornya… aduh, bikin gw iri banget. FYI, alumni angkatan 95 berinisial IY masih nyanyi tuh. Dan, beliau beserta bala tentara tenor bener-bener bikin gw bertanya-tanya…. Itu tadi… itu tadi… nyanyinya gimana yah?h. Abis, kayaknya mereka tuh sama sekali nggak kesulitan nyanyiin nada-nada di atas garis teratas paranada gitu. Ibaratnya, semua nada dilalap abis. Blend pula. Aaaah… pengen bisa kayak gitu. Delon, ajarin dong. (Lho? Kok Delon? Maap…. heheheheh…..)

Bass Unpar? (sambil pasang tampang sok cool gituh…) MANTEBH!!! Iya sih, di lagu Corydon, Arise-nya Stanford, bassnya agak-agak keteteran tempo, tapi, secara keseluruhan, kita boleh jadiin bass Unpar role model. (Apa? Foto model? :D). Yang wajib dicatat adalah, bass mereka itu terdengar enak di nada-nada tinggi. Jadi, ada beberapa lagu yang bassnya nyanyiin nada-nada tinggi (mungkin registernya Tenor 2), tapi, suara mereka nggak terdengar maksa bin ngotot bin ngeleher. Enak aja, kedengerennya. Leon di sebelah gw malah sempet ngira itu Tenor 2. Gw bilang… itu bass. Percaya gw deh. Jadi, gimana nih, Ronald, Arie, dan rengrengannya? Ketantang bisa kayak gitu nggak?

Secara keseluruhan, ada beberapa hal yang pengen banget gw share sama temen2.

Satu. Unpar itu rapi banget yah, nyanyinya. Dinamikanya terjaga dan uniform. Kalo Avip maunya crescendonya cuman seuprit, mereka bikin cuman segitu, kalo bikinnya pengen lebih dramatis, mereka juga bikin kayak gitu. Kompak! Pianonya sama, Fortissimonya sama. Dan, di beberapa lagu, release sopran ke diminuendo mereka bener-bener bikin gw pengen standing ovation. Cuman malu aja, nggak jadi deh.

Dua. Artikulasi dan intonasi mereka jelas banget. Konser itu kan ceritanya emang Serenade from England, nah, itu bener-bener mereka bikin British, mulai dari lafal, sampai warna vokal. Gw juga baru tau kalo Sweet Honey-Sucking Bees itu bacanya ’sooking’ (pake u), bukan ’sucking’ (pake a). Nah, belajar bahasa deh. Trus, bunyi-bunyi konsonan mereka terdengar cerdas. Ada beberapa koor yang menurut gw konsonannya dibego-begoin. Udah jelas di akhir kata itu ada fonem ’tsch’ misalnya, tapi mereka cuman bikin ’sh’, atau malah cuman ’s’. Kayak-kayak gitu deh.

Tiga. Frasering bin pernafasan, satu keluarga sama pengalimatan dan penceritaan lagu. Gw sampe berpikir, mereka nih kalo nyanyi nafas nggak sih? Grrrr…. kedengerannya kayak nggak nafas gitu. Nafas mereka bener-bener terolah baik. OK. Mungkin nggak sepanjang yang gw kira, tapi, ketika mereka bernyanyi dalam format full choir, kalimat lagu mereka nggak terdengar terpotong-potong gara-gara kehabisan nafas di tengah-tengah. Gw pikir sih, mereka mengatur nafas mereka sehingga setiap kali diperlukan sustain sekian bar, mereka terdengar satu nafas. Yeah…. temen-temen tau dong, caranya. Gantian nafas itu lho. Cuman kenapa ya, kalo di kita teh, selalu ketauan kalo kita tuh Curi-curi Nafas Choir (CNC)? Gimana tuh?

Empat. Musikalitas. Above everything else ini mah. Jadi, yang namanya portamento, legato, legatissimo, dolce, staccato, sforzando, forte-pianoc. Kayaknya SETIAP penyanyi Unpar udah ngelotok di luar kepala deh. Kayaknya tuh, mereka nyanyi merem juga udah jadi. Bener lho, soalnya, nggak setiap penyanyi selalu panteng ngeliatin konduktor. Tapi, mungkin karena memang musikalitasnya sudah terasah, mereka tau di mana harus gimana. Yeah… itu mah emang pastinya tak terlepas dari latian yg terus-menerus.

Kesimpulan, gw nggak rugi dateng jauh-jauh…. kehujanan…. sendirian…. nonton Unpar tadi malem.

Lagu favorit gw tadi malem adalah The Blue Bird-nya Stanford, Ballad of Green Broom-nya Britten, dan The Love-Sick Boy-nya Gilbert&Sullivan. Sedikit cela cuman di lagu Corydon, Arise!-nya Stanford. Oh ya, mereka bawain 26 repertoar, plus 1 encore. Gila ya! Repertoar sejibun-jibun gitu latiannya kayak apa? (Seperti bisa ditebakc tiap ari!). Aje gile emang, mereka mah.

Tapi, gw pikir mah, it was all worth it. Gimana nggak? Mereka tuh latian buat satu titik fokus yang jelas (banget). Taun depan, mereka udah dibooking tur konser di Asia (Singapore, Taiwan, dan Jepun).

Segitu aje Lapdangmatnye. Ane kagak tau dah, ni tulisan dibace ape kagak, tapi ane cuman mo bagi-bagi aje. Sape tau ade yang tergugah hatinye (ca’ileee udah kayak Pa ErTe aje ane). Gitu lho, Bang Jali.

Mangga ah,

HENDRA

PS. Oh iye, Buat Ewinx, lu cerita2 ye, kalo nemu koor yg bagus di sono, trus, lu ada waktu buat jadi anggotanya…. heheheh…. itu mah emang kudu niat. Mungkin cerita lo di sono melulu laboratorium dan perpustakaan yah? Ya udin lah. Yang giat ya…. Sapa tau pulang ke Indo lu bawa Nobel (apa? bawa Togel? :D). Winx, tau gak si loh? Gloria 1,2,3-nya Hyo-Woon itu emang susaaaaaahnya minta ampun. Itu partitur, keritingnya udah kayak rambut Macy Gray dah (yg ini gw serius!). Masa partitur ada gambar rambut kusutnya gitu? Trus, di bagian syairnya cuman ada tulisan Christe, Christe doang. Mana beatnya 8/8 aksen di tempat fyang tak biasaf pula. Sayang yah, lu gak ikut latiannya. Ntar lo nonton pake itu ajah…. tele-concert (saingannya tele-conference…. qeqeqeqs)

Konser PSM Maranatha “Colour of Voices”

Dari milis AgriaSwara IPB (7 Juni 2004)

LapDangMat Konser “Colour of Voices”
PSM UK Maranatha
Goethe Haus, 6 Juni 2004

(Link YouTube hanya sebagai referensi)

Dari Facebook PSM Maranatha

Dari Facebook PSM Maranatha

Senang rasanya menyaksikan sebuah konser paduan suara yang dikemas dalam ‘look’ yang elegan dan ‘chic’. Paling tidak, untuk kepuasan visual.

Seperti tadi malam.

Tadi malam adalah pertama kalinya (Malam Pertama ^-^) aku nonton konser di Goethe Haus. Dan aku bisa bilang, “I love the place!” Sangat cozy. Desain interior concert hall-nya juga unik. Tipikal. Tidak seperti di Erasmus, view ke panggung dibuatsatu arah. Jadi formasi penonton tidak menyudut. Lalu ada semacam balkon (atau mezanin?) di belakang. Kira-kira sih, kayak di bioskop deh.

Above all, akustiknya BAGUS. FYI, sepertinya ada kecenderungan orang mulai berpaling dari Erasmus Huis untuk menggelar sebuah konser yang butuh akustik kelas Mercy. Penyebabnya apa lagi kalau bukan penurunan ‘kemampuan akustik’ Erasmus. Katanya sih, gara-gara auditorium Erasmus sempat ‘diapa-apain’.

Choir notes konsernya juga lucu. Bentuknya kayak CD (compact disc, Red.). Menariknya lagi, ada slide show. Ide bagus tuh, soalnya Maranatha dengan cerdasnya membuat slide show tersebut jadi sebuah media iklan dan semacam ‘panduan program’ selama konser berlangsung. Dan, untuk Anda ketahui, sponsornya banyak. Ampir sebanyak Unpad kemaren. Gile, ye, kapan dong Agrie bise dapet gebetan sejibun-jibun kayak ntu?

Warna kostumnya (ladies) anak Maranatha mengingatkan daku pada kenangan pesona jumbai-jumbai Maghenta choir kemaren! Lucu sih, two-piece gitu. Tapi beberapa orang sepertinya kurang begitu memperhatikan estetika. Masak ada yang pake sendal teplek??? Aturan mah, gaun cantik, sepatu atau sandal juga cantik dong…. Dugh! Sedikit sih, tapi tetep aja mengganggu. Udah gitu, ada yang gaunnya ngatung pula. Tapi ya udinlah, that’s not so essential. Kostum cowoknya lucu juga. Jas potongan one-chest hitam-hitam. Dalemannya juga hitam. Dasinya putih.

Kalau tentang segi musikalnya sendiri…. gw cuman bisa bilang…. GOSH! What an effort! Frenz… buku partiturnya… itu kira-kira setebel bahan kuliah satu semester. Gw jadi inget waktu TPB, diktat Kimia Dasar kayaknya masihkalah tebel tuh. Jujur, menurut gw, repertoar mereka sangat berat. Kira-kira… begini ceritanya… (duduk yang manis ya…..)

Repertoar mereka meliputi zaman Renaissance sampai Modern. Dari Monteverdi sampai Beatles-nya King’s Singers. Sesi I semuanya sacred, semua zaman tercakup kecuali klasik. Sesi II semuanya English, secular.

In my opinion, pemilihan repertoar seperti itu berat lho. Artinya adalah kita harus menguasai teknik dan karakteristik lagu per zaman, bahkan per komposer, karena teknik dan karakteristik lagu zaman Renaissance itu beda dengan zaman Klasik atau Barok, apalagi dengan zaman Romantik, let’s not mention Modern Age. Ciri vokal yang tipis dan terang di lagu Renaissance NGGAK bisa masuk di lagu romantik, dan sebaliknya.

To be honest, humbly saying, Maranatha belum terdengar ‘peka zaman’ dalam hal ini. Monteverdi dan Brahms-nya (Renaissance VS Romantik) masih terdengar satu warna. Aku gak bisa bilang vokal mereka lebih ke Renaissance atau Romantik, tapi lagu-lagu dari kedua zaman yang berbeda itu terdengar sama.

Dua lagu pertama mereka, Beatus Vir dan Cantate Domino langsung familiar di telinga karena JCVE bawain itu di konser O Magnum Mysterium.

Lagu Brahms mereka juga membawa ingatan ke zaman baheula (ck… ck… ck… kesannya gw udah idup 100 taun gitulloh!). Waktu Stuband ke UI, Paragita nyanyiin lagu ini, Schaffe in mir Gott-nya Brahms. No comment ah, gw kan belon ngerti begitu-begituan waktu itu (emang sekarang udah?). Tapi, gw bisa bilang, Unpad masih lebih unggul di lagu-lagu romantik.

Tapi, menariknya, lagu Lotti Vere Languores Nostros yang dibawain sama male choir-nya bagus. Tiba-tiba mood gw beralih ke zaman Gregorian gitu. Female choirnya juga bagus pas lagu Nigra Sum. Tapi di Sesi I, lagu favorit gw adalah Arma Lucis. Meskipun sempet ada yang kurang beres di bagian tengahnya, tapi dasar lagunya emang bagus, gw suka.

Secara keseluruhan sih, sesi I bagus. Meskipun attack dan release-nya kadang masih belum kompak, tapi gw salut sama kesisiplinan mereka sama conductor. Itu tuh bener-bener yang gw bilang di Lapdangmat JCVE, seolah-olah mereka menyerahkan seluruh jiwa dan nyawanya di tangan konduktor. Disuruh kenceng, keras, nurut. Disuruh lemes, kecil, nurut. Disuruh piano, tiba-tiba forte, lalu perlahan diminuendo… nurut. Beda yah, sama AquaSwara (bukan, bukan PSM IPB kok… ), yang masih suka ngeyel. Suruh pelan, kegedean, terlalu semangat, giliran crescendo, kagak ade tenage. Susye ye, nyanyi? Hehehehe… tapi, percaya deh, kata Kang Arvin juga: “Kalian bisa bagus kok.”

Duh, senengnya daku (dan qta semua kan?) dikatain gitu sama Kang Arvin kemaren pas latian. C’m on, guyz, let’s get it ON. Pelatih qta bilang, kemajuan qta, individual maupun keseluruhan, keliatan koq. Meskipun… tetep…

WE ARE STILL CRAVING FOR BASSES and sopranos.

Ayo dong, Bass-nya masih kurang buanget neeeh.

Back to the show, ah. Sesi II-nya kebanyakan lagu-lagu yang udah pernah aku denger dan nyanyiin. Ada Lay a Garland (Mbak Maureen, Mbak Eno, inget gak sih?), ada 2 lagu Parry yang dibawain JCVE kemaren, ada As Torrents in Summer, dan satu lagu Bennet. Well, karena pernah denger Impromptu nyanyiin Lay a Garland, jadi bisa bandingin deh. Lagu ini dinyanyiin dalam formasi small choir. Cukup bagus kok, meskipun kadang suara Tenor II atau Bass I-nya… lho? As Torrents in Summer-nya lebih bagus dari Agria :).

Setelah lagu-lagu Inggris itu…. e-e-e-ee… ada Teddy Panelewen. Ta’ pikir yang namanya Teddy itu orangnya ‘besar’. Eh, ternyata… (kostumnya…  Hehehehe… ). Habis, di CD Unpar Around The World, suara dia kan terdengar sangat berat dan penuh. Pokoknya suaranya GENDUT deh. Ternyata Teddy tuh mirip-mirip sama Ivan gitu deh.

Tapi, Bang, suaranya… mmm… Tasty! Luv it, luv it, luv it.

Teddy dan koor bawain 3 lagu Beatles plus encore dari koleksi King’s Singers. Ada And I Love Her, Michelle, dan Yesterday (sounds familiar, huh?). Lalu satu encore manis Here, There, and Everywhere. I always love this one, howsoever arranged. Apalagi seandainya yang tadi malem itu aransemen yang dibawain sama Neri Per Caso… wah… gw bakal jatuh cinta dah.

OKs deh. Secara keseluruhan, gw mah sebisa mungkin tetap bisa menikmati konser. Ada sih, saat-saat di mana dahi gw secara refleks (bawah sadar lho) berkerut… “Itu tadi ada nada yang aneh deh.” atau “Yah, lagu Beatles-nya padahal bisa dibikin lebih stylish lagi tuh.” Tapi, ya… Maranatha juga kan bilang ke qta waktu Stuband dulu, mereka juga masih belajar. Sama lah, kayak qta (PD banget, gw).

Trus, sekedar saran buat diri sendiri, sebenernya kalo bikin konser itu repertoarnya gak usah banyak-banyak kok. Gak perlu kallle bahan kuliah satu semester DIKONSERIN. Ada 3 alasan:

  1. Berat bhuanggheutdzh!
  2. Konsernya jadi kayak choky choky, panjang dan lama. OMG, siapa itu yang tertidur dengan pulasnya di bangku kiri atas?
  3. Penonton biasanya menilai konser bukan dari lamanya, tapi dari kesan yang dibawa pulang ke rumah. Dan penilaian akhirnya sih sama: panjang-pendek, lama-singkat, yang penting kebutuhan artistik terpenuhi.

Terus juga, menampilkan lagu dari zaman yang berbeda-beda juga gak gampang lho. Bukan sekedar menyanyikan SATB, tapi yang penting adalah CIRI yang membedakan tiap zaman, lebih jauh lagi, tiap genre, bahkan tiap komposer.

So, BERANIKAH ANDA MENANTANG DIRI SENDIRI UNTUK MENJADI LEBIH BAIK DARI MEREKA?

(Provokatif banget gak tuh? heheheh… habis…)

Dari rumah sendiri dilaporkan, WE ARE GETTING BETTER (and better). Kalau dulu tenornya… Allamaaak… gelapnya (Cidangiang jam 12malem aja kalah gelap tuh, hehehehe….), sekarang Kang Arvin bilang sih lebih terang. Bright gitulloh…bercahaya (Apa coba?). Lebih rileks, meskipun belum benar-benar rileks, dan belum semuanya. Altonya jauh lebih bagus. Kata pelatih qta sih, warnanya nge-fit banget buat lagu-lagu Romantik. Nanti qta bikin konser ini aja: Romantik Asyik qeqeqeqeqs…